Ya, memang judul artikel ini pelesetan dari sebuah film Hollywood bertajuk “Bad Times at the El Royale”. Walaupun kurang berhasil secara revenue, film yang menghadirkan aktor Australia pemeran si Thor a.k.a Chris Hemsworth ini menampilkan cerita krimininalitas yang unik, dengan alur yang maju-mundur, dan berganti-ganti pemeran utama. Sesuai judulnya, semua adegan di film ini pun berlangsung di sebuah hotel yang mungkin hanya sekelas hotel melati bernama El Royale. Lain halnya dengan hotel eL Royale yang akan saya ceritakan di sini. Di Bandung, eL Royale Bandung atau eL Hotel Royale Bandung merupakan hotel bintang empat yang bersejarah, sebelum menjadi eL Royale, hotel ini lama dikenal dengan nama Hotel Panghegar, dan sebelumnya lagi, hotel ini bernama Pension Van Hengel. Nama Panghegar pun diambil dari pelafalan yang salah dari tentara Jepang yang menyebut ‘Van Hengel’ menjadi ‘Pang Hegaro’.
Ayah dan Ibu berfoto di samping kolam renang eLRoyale Bandung

Tak hanya Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger, hotel yang didirikan pada tahun 1922 oleh seorang Italia bernama Anna Meister ini menjadi tempat menginapnya beberapa perwakilan negara yang menghadiri Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Setelah 38 tahun berdiri, Nyonya Meister yang sakit kemudian memutuskan untuk menjual hotelnya kepada salah satu karyawan terbaiknya, yaitu H. E. K Ruhiyat. Selain Hotel Panghegar, namanya pun pernah tercatat sebagai pemilik dari Hotel Savoy Homann pada medio tahun 90-an.

Bagi saya, nama H. E. K Ruhiyat ini sangat tidak asing. Namanya pernah saya lihat bertengger di urutan pertama daftar nama buku telepon saku milik ayah saya. Namanya pun sering diperbincangkan saat ayah berada di rumah. Itu karena, ayah saya pernah bekerja di Hotel Panghegar selama kurang lebih 30 tahun, hingga akhirnya pensiun pada tahun 2010 lalu. Seluruh biaya pendidikan saya hingga lulus S1 dibiayainya dengan bekerja di hotel ini. Oleh karena itulah, saat bulan lalu saya mendapatkan voucher bermalam di hotel ini dari undian acara media gathering, saya memutuskan untuk memberikannya kepada ayah (padahal asalnya mau dijual :D). Bila sebelumnya dia yang melayani tamu di sini, sekarang dia yang dilayani sebagai tamu.
Suasana living room Condotel Loft eLRoyale Bandung
Kamis, 13 Juni 2019 sore, saya pun mengantarkan kedua orang tua saya untuk check-in di eL Royale Bandung yang pada zaman bernama Panghegar dulu, terkenal dengan restoran yang dapat berputar 360 derajat menyajikan pemandangan Kota Bandung. Namun sayangnya, restoran tersebut kini sudah tak berfungsi lagi. Kalaupun masih berfungsi, akan ada banyak bangunan tinggi yang sekarang sudah menghalangi view dari restoran ini.

Dengan raut wajah berseri-seri dan terlihat manglingi dengan suasana di sekitarnya, Ayah dan Ibu berjalan pelan menuju front desk untuk mengambil kunci, yang dilanjutkan dengan berjalan menuju lift dan menekan tombol angka 19, yang merupakan tempat kamar yang akan mereka tempati berada. Dari sejak ayah saya pensiun dari hotel ini, memang sudah banyak sekali hal yang berubah. Kini sudah ada mini market, apartemen, serta kolam renang yang jauh lebih luas.
Kamar tidur Condotel Loft di eL Royale Bandung
Kamar mereka di eL Royale Bandung ini bertipe condotel loft, sebuah kamar bertingkat dua yang memiliki living room dan mini kitchenette, serta pemandangan jendela yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Dari jendela kamar, dapat terlihat Sky Lounge Restaurant yang berada di lantai teratas bangunan ini yaitu di lantai 20, yang bentuk arsitekturnya kini menjadi icon dari eL Royale Bandung. Bila melihat lurus langsung ke depan, tampak ada gedung Center Point yang lekat dengan Jl. Braga. Lalu ada juga menara kembar Masjid Raya Bandung (Masjid Agung Bandung) di sudut kiri jendela. Sementara saat menunduk ke bawah, kita dapat melihat bangunan lama hotel Panghegar, serta keceriaan dari tamu yang berenang di kolamnya.
View dari jendela kamar condotel loft, eL Royale Bandung
Karena saya sudah ada janji malam harinya, saya pun mengajak kedua orang tua saya untuk bersantai dan berfoto-foto menjelang senja di area kolam renang. Matahari yang mulai tenggelam, memberikan refleksi warna jingga yang sangat indah, dan menarik saat diabadikan dalam kamera.

Setelah salat maghrib, saya pun meninggalkan mereka berdua di eL Royale Bandung untuk kemudian pulang, dan menjemput mereka keesokan paginya. Saya pribadi pun sebetulnya cukup memiliki kedekatan emosional dengan hotel ini. Dulu, ketika sedang waktunya pembagian gaji, dan kebetulan sedang libur bekerja, Ayah selalu mengajak saya mengunjungi tempat bekerjanya. Beberapa kawannya yang sama-sama sudah pensiun pun sampai mengenali saya. Setelahnya, biasanya saya kemudian diajak bermain di arena permainan Kings Shopping Center, atau membeli komik di lapak komik bekas di sebelah Palaguna. Selain itu, setiap tahunnya, manajemen hotel ini tak pernah absen mengundang kami, keluarga para karyawan, untuk berhalal bihalal setelah lebaran di ballroom hotel.
Ibu dan Ayah saya
Begitulah sedikit cerita saya saat membawa orang tua saya menginap di eL Royale Bandung. Bagi kami, hotel ini tak hanya memberikan kenyamanan dan hospitality, tapi juga memberikan kehidupan, serta membangkitkan sekelumit memori dari masa lampau.

eL Hotel Royale Bandung
Jl. Merdeka No.2, Bandung
(022) 423 2286


Sebagai warga negara +62 yang dari lahir sudah merasakan cuaca beriklim tropis, melihat dan merasakan dinginnya salju dapat menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Berlari-lari, melompat, berseluncur, berswafoto, dan ber-boomerang ria di Instastory tentu menjadi hal-hal mandatory yang dilakukan. Setidaknya, itulah potret yang berhasil saya tangkap dari para pengunjung Panama Park 825 Bandung. Snow Park memang menjadi wahana andalan dari tempat yang mengusung tagline sebagai “The Biggest Indoor Playground in Bandung”. Uniknya lagi, taman bermain ini berlokasi di dekat Batas Kota Kembang, Bandung, dengan Kota Cimahi, daerah yang sebelumnya sama sekali tak dikenal sebagai tempat hiburan apalagi wisata.

Pengunjung anak-anak sedang mencoba seluncuran salju di Panama Park 825, Bandung.
Ingatan saya tentang kawasan yang lebih sering disebut orang dengan nama ”Batas” ini cukup lekat. Karena selama tiga tahun mengenyam pendidikan di SMA, saya selalu bulak-balik melintasi jalur ini, dari Senin hingga Sabtu. Sepanjang jalan ini hanya dihiasi beberapa rumah toko, kios kecil dan jajanan kaki lima gerobakan, serta bangunan pabrik garmen yang setiap bubaran kerja langsung membuat macet lalu lintas. Nah, Panama Park 825 sendiri pun menempati bangunan bekas salah satu pabrik. Hal inilah yang menjadikan Panama Park memiliki area yang sangat luas dan memanjang.

Sebetulnya, selain Snow Park, Panama Park 825 juga memiliki area permainan lainnya yang dikerjasamakan dengan Game Master, sebuah brand arena permainan terbesar di Jawa Barat. Namun bila dibandingkan dengan arena Game Master yang biasa ada di pusat-pusat perbelanjaan, Game Master di Panama Park 825 ini memiliki wahana-wahana yang lebih beragam, dan dengan ukuran yang lebih besar. Selain itu, ada juga Joy n Fun Playground yang berisikan arena role play, LED Interactive Room, Sand Pool, Wall Climbing, dan Music Box.
LED Interactive Room di Panama Park 825, Bandung
Untuk dapat bermain, pengunjung diharuskan membeli tap card terlebih dahulu yang dapat diisi saldo mulai dari Rp10.000. Setiap mesin permainannya memiliki harga yang berbeda-beda. Contohnya saja untuk dapat bermain di arena Snow Park saat akhir pekan, setidaknya harus ada saldo Rp50.000 di dalam kartu, sedangkan untuk weekdays, kartu cukup terisi saldo Rp35.000. Harga tersebut berlaku untuk anak-anak dan orang dewasa.

Saldo yang didebit dari tap card untuk bermain di Snow Park ini sudah termasuk fasilitas jaket, sarung tangan, dan sepatu boots yang dipinjamkan selama durasi 30 menit bermain di dalam arena. Lalu ada juga fasilitas loker yang bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang pribadi.
Pengunjung Panama Park 825 Bandung akan dipinjamkan jaket, sarung tangan, dan sepatu boots sebelum masuk ke dalam arena Snow Park.
Saat pintu dibuka, udara dingin pun langsung menyeruak, dan mulai menyentuh permukaan kulit muka. Tak perlu menunggu waktu lama, nafas yang keluar pun mulai berasap, tanda tubuh sudah bereaksi dengan udara sekitar yang dingin. Tak heran memang, karena udara di sini bisa mencapai suhu -7 derajat celcius, lho. Untuk semakin menambah suasana bersalju, di beberapa titik pun terdapat sebuah mesin yang dipasang di langit-langit yang secara konsisten mengeluarkan butiran-butiran salju. Kemudian ada juga beberapa ornamen seperti igloo, rumah kayu, serta patung beruang kutub yang bisa dijadikan properti dan latar berfoto pengunjung. Namun, tentu yang paling menjadi pusat perhatian adalah dua seluncuran salju yang mengasyikkan.
Beberapa pengunjung berswafoto di dalam Snow Park, Panama Park 825, Bandung
Untuk menjajal seluncuran salju, pengunjung tentunya diharuskan menggunakan papan seluncur yang tersedia. Namun, karena jumlah papan yang terbatas, pengunjung pun tentu saling bergantian untuk menggunakannya. Tak perlu khawatir ataupun malu bila ingin mencoba seluncuran ini, karena Anak kecil maupun orang dewasa tetap bisa mencoba berseluncur di sini.

Setelah puas bermain dengan seluruh wahana yang ada, kita juga tentunya bisa beristirahat sambal menyantap beberapa makanan dan minuman yang dijual di sini. Mulai dari aneka gorengan tradisional, sampai menu fast food ada di sini.
Area makan berkonsep food court di Panama Park 825, Bandung
By the way, nama Panama yang disematkan di tempat ini sempat menggelitik rasa ingin tahu saya, karena sepengatahuan saya, Panama merupakan nama sebuah negara di Amerika Tengah. Pada akhir kunjungan, saya pun berkesempatan untuk menanyakan hal tersebut kepada Bapak Manuel yang merupakan Direktur dari Panama Park 825. Rupanya, nama Panama itu diambil dari singkatan delaPAN duA liMA. Angka 825 sendiri merupakan nomor dari alamat Panama Park 825 yang berada di Jl. Jenderal Sudirman No. 825, Bandung. Nah, buat yang penasaran dengan serunya bermain salju saat jalan-jalan di Bandung, bisa mampir ke sini bersama keluarga.


Sedia Kopi, memang nama yang cukup sederhana untuk nama sebuah coffee shop. Mudah melekat di benak, namun agak sulit terindeks google karena namanya menggunakan istilah umum. Tapi saya rasa itu bukan masalah. Karena bagi saya, sebuah produk yang baik, akan dapat menjual dirinya sendiri. Termasuk dengan Sedia Kopi.
Suasana Hangat di Kedai Sedia Kopi
By the way, sama seperti banyak kedai kopi lainnya saat ini, Sedia Kopi juga menawarkan konsep tempat yang dapat menjadi ruang bicara dan cerita antar satu sama lain. Bedanya, Ibeng sang pemilik usaha ini benar-benar serius menerapkan idealisme yang coba ia bangun. Bahkan, ia selalu berinisiatif mengajak berkenalan dan berbincang kepada para pengunjung ­Sedia Kopi. Oleh karena itu, tak perlu malu datang sendirian ke Sedia Kopi, karena selain dapat menikmati kopi yang enak, pengunjungnya juga bisa mendapat relasi.

Untuk mewujudkan visinya dalam membangun kedai kopi yang dapat menjadi ruang bicara, Ibeng pun menerapkan sebuah keputusan yang cukup berani untuk tidak menggunakan jasa food delivery yang sedang ramai belakangan ini. Padahal menurut pengalaman saya berbincang dengan banyak pemilik coffee shop di Bandung, 70-90% omzet mereka itu bisa didapat dengan berjualan menu es kopi susu dengan pengiriman melaui ojek online. Karena memang ide awal pemuda berusia 23 tahun ini untuk membuat kedai kopi itu sebenarnya simple. Ia hanya ingin membuat sebuah tempat ngumpul yang nyaman untuk siapapun. Tapi, jangan salah, walaupun strateginya terbilang anti-mainstream, Ia mengaku tetap mendapat keuntungan yang lumayan. Bila kebanyakan coffee shop mendulang rupiah pada akhir pekan, Sedia Kopi justru ramai pada saat weekdays.

Walaupun Sedia Kopi mengangkat konsep tempat yang dapat menjadi ruang bicara, bukan berarti kopi yang dijualnya tidak istimewa. Ibeng dan kawan-kawan juga punya dua menu affogato yang menjadi andalan. Pemilihan menu tersebut pun cukup unik, karena affogato itu terbilang jarang diangkat sebagai signature menu.

Menu affogato yang pertama adalah Red Affogato yang menggunakan red velvet powder di atas scoop ice cream-nya. Lalu ada juga Green Affogato yang menggunakan green tea powder. Kedua menu tersebut dapat dinikmati dengan espresso maupun flat white yang disajikan terpisah. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung dapat menakar sendiri kadar kopi yang digunakan. Bila menggunakan flat white, rasa affogato-nya akan lebih creamy, namun bila menggunakan espresso, maka tentu rasanya akan sedikit pahit, tapi akan sangat strong di rasa kopinya. Dua affogato ini juga dapat dinikmati dengan pilihan topping yang tersedia, mulai dari krimer kental manis, taburan coklat meses, serta irisan keju cheddar. Yang mengejutkan lagi adalah harganya. Saya sempat mengira menu ini berkisar sebesar Rp25.000. Namun ternyata, satu porsi minuman ini dibandrol hanya dengan harga Rp15.000. Untuk menu lainnya pun ternyata memang sangat terjangkau dari segi harga. Menu yang paling mahal pun adalah Cappuccino yang dijual Rp20.000.
Red Affogato, signature menu dari Kedai Sedia Kopi

Nah, buat yang penasaran dengan suasana ngopi di Sedia Kopi bisa langsung saja mampir ke Jl. Ir. H. Djuanda (Dago) No. 450, Bandung. Lokasinya persis di depan Dago Tea House, sehingga tidak akan sulit menemukannya. Sedangkan untuk waktu operasionalnya dimulai dari pukul 5 sore hingga pukul 11 malam. Cocok untuk dijadikan tempat nongkrong dengan kawan sepulang kerja dan setelah aktivitas lainnya.


Iga itu adalah salah satu bagian dari daging sapi yang paling banyak dicari. Selain memang karena teksturnya yang empuk, rasanya pun terkenal lebih gurih. Oleh karena itulah, harga hidangan iga selalu cukup mahal di daftar menu. Namun ternyata, tak semua daging iga itu berharga tinggi, seperti menu iga yang saya temukan di Iga Bakar Merapi di Bandung yang hanya dibanderol Rp29.000/porsi. Harga tersebut berlaku untuk iga yang disajikan bertulang maupun yang tanpa tulang. Uniknya lagi, menu iganya tersebut dimasak langsung di atas cobek.
Iga Bakar Merapi yang dimasak langsung di atas cobek berapi.

Sebelum diolah di cobek, daging iga terlebih dahulu akan dimasukan ke dalam presto bersama aneka rempah-rempah, seperti bunga lawang, cengkeh, dan pala. Maka dari itu, saat disajikan, tekstur dagingnya pun sangat empuk, dan kaya akan berbagai aroma. Selain itu, penggunaan cobeknya pun ternyata tak asal-asalan. Cobek yang digunakan oleh Iga Bakar Merapi ini menggunakan cobek yang berasal dari Desa Siti Winangun Cirebon yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Menurut cerita Kang Arief Hidayat sebagai owner dari Iga Bakar Merapi, Cobek Tanah Liat Desa Siti Winangun tersebut dipilihnya karena memberikan sentuhan aroma dan rasa juga ketika memasak hidangan iganya di atas api.

Di samping menu iga, kedai Iga Bakar Merapi ini juga memiliki menu-menu lainnya seperti nasi goreng, ayam kuluyuk, ayam bistik, dan ayam cobek. Nantinya malah si menu ayam ini akan berdiri sendiri dengan brand Ayam Cobek Merapi.
Ayam Cobek Merapi, menu lain di Iga Bakar Merapi

Untuk minuman, Iga Bakar Merapi ini bekerja sama dengan kedai Sedia Kopi untuk penyajiannya. Mereka pun saling berbagi tempat di Jl. Ir. H. Djuanda (Dago) No. 450. Tempatnya memang tak begitu besar, namun terkesan sangat intim. Di salah satu sudutnya pun terdapat panggung kecil yang disediakan untuk performer atau pengunjung menunjukkan bakatnya bermusik, berpuisi, atau bahkan ber-stand up comedy.



Pekerjaan saya selama 3 tahun terakhir di sebuah media pariwisata, memang membuat saya dapat mengenal dan menjelajahi hotel-hotel, terutama yang berada di Bandung. Di antara banyak hotel yang pernah saya datangi, Zest Hotel Sukajadi Bandung ini merupakan salah satu yang paling unik visualnya. Selain karena penggunaan warna-warna hijau lime­-nya yang fresh, rancangan hotel ini juga sangat instagrammable.
Rancangan Citruz Cafe di Zest Hotel Sukajadi Bandung yang instagrammable dengan nuansa warna lime

Pada pertengahan bulan Ramadan lalu, saya pun berkesempatan menginap satu malam di Zest Hotel Sukajadi Bandung. Hotel ini letaknya terbilang cukup strategis karena berada di pusat kota, tak begitu jauh dari pusat perbelanjaan Paris Van Java (PVJ). Hotel ini juga mendapat kemudahan akses dari Gerbang Tol Pasteur, Stasiun Bandung, ataupun Bandara Husein Sastranegara, cukup dekat bagi para wisatawan yang hendak masuk ke Bandung melalui jalur ini.

Saat menginap kemarin, rupanya ada sedikit perubahan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang pernah mengunjunginya lebih dari sekali seperti saya. Seperti adanya sebuah freezer yang menyediakan es potong, sebuah bar di teras luar hotel, dan koridor di lantai 1 yang bertambah luas. Setelah bertemu dengan Teh Tria yang merupakan Public Relation (PR) hotel ini, ia bercerita bahwa ternyata hotel ini telah meraih kenaikan status dari hotel budget ke hotel bintang tiga sejak awal tahun ini. Koridor yang semakin besar pun dikarenakan adanya penambahan kamar tipe executive dan family. Sehingga total terdapat 149 kamar yang berada di Zest Hotel Sukajadi Bandung. Selain itu terdapat pula penambahan amenities seperti water kettle, mini bar, dan hair dryer.

Fasilitas di Family Room Zest Hotel Sukajadi Bandung (model diperankan oleh kawan :D)

Kali ini saya menempati kamar tipe executive bernomor 103. Btw, kamu tidak akan menemukan foto diri saya di postingan ini. Saya memang bukan tipe blogger yang senang dipotret, senangnya motret, hehe.

Sama seperti warna dominan yang mendominasi hotel ini, kamar yang saya isi juga memiliki aksen warna hijau segar. Minimalis dan juga homey. Sementara di bagian belakang tempat tidurnya terdapat sebuah dinding abu yang bata-batanya terlihat sengaja dibuat menonjol. Di permukaan dinding tersebut kemudian terdapat mural yang nampak sekali merupakan buatan tangan. Bagian inilah yang sepertinya jadi spot favorit tamu untuk berfoto. Btw, kamar 103 ini menghadap ke utara, sehingga dari pagi hingga sore akan mendapatkan cahaya matahari yang cukup.

Suasana kamar tipe Executive Room di Zest Hotel Sukajadi Bandung

Jelang berbuka puasa, saya menyempatkan diri untuk berkeliling terlebih dahulu ke beberapa titik di hotel ini dengan diantar oleh Teh Tria. Tentu saja, salah satunya untuk melihat kamar lainnya yang bertipe family room dengan ukuran yang jauh lebih besar dari executive. Tipe ini memiliki dua queen size bed, dan sebuah sofa besar. Setidaknya cukup untuk menginap satu keluarga besar berisikan sepasang suami istri dan 2-3 orang anak-anak. Sebetulnya yang mengejutkan adalah dari segi harganya yang super terjangkau. Untuk harga promo Ramadan kemarin saja, tipe family room sudah bisa dinikmati dengan harga di bawah 1 Juta/malam melalui aplikasi booking.
Kamar mandi di kamar executive room Zest Hotel Sukajadi Bandung

Nah, untuk area makannya sendiri terdapat dua tempat, yakni Citruz Café dan Citruz Kitchen & Bar yang baru saja dibuat. Nama Citruz sendiri memang menjadi ciri khas tersendiri untuk seluruh cabang Zest Hotel untuk merepresentasikan warna dan dekorasinya yang banyak menggambarkan buah lemon yang segar. Walaupun sama-sama area makan, namun kedua tempat tersebut memiliki fungsi yang berbeda, Bila Citruz Café digunakan untuk sarapan dan makan siang, Citruz Kitchen & Bar lebih cocok menjadi tempat nongkrong sambil ngemil. Eit, tapi jangan salah, walaupun namanya bar, di sini nggak ada minuman-minuman beralkohol lho, daftar menu minuman di sini didominasi oleh beragam jenis kopi.

Untuk sahur dan berbuka, tentunya paketnya sendiri sudah disiapkan secara khusus dengan konsep buffet di Citruz Café. Saat bulan Ramadan lalu, Zest Hotel Sukajadi Bandung ini merupakan hotel bintang tiga yang menyediakan paket berbuka puasa all-you-can-eat paling terjangkau di Bandung. Di luar waktu berbuka puasa, Citruz Café akan menyediakan makanan-makanan dan minuman dengan cita rasa Nusantara maupun ala western yang unik. Contohnya saja ada Spaghetti Pink Seafood, dan Nasi Campur Ijo. Harga-harga menunya ini sudah bisa disantap dimulai dengan uang Rp22.000 saja lho.

So, kesimpulannya, bagi kamu yang berencana menginap hemat saat traveling sendiri ataupun berlibur bersama keluarga, Zest Hotel Sukajadi Bandung dapat menjadi alternatif pilihan. Mau jalan-jalan ke area Pasirkaliki dekat, ke Dago dekat, ke Setiabudhi juga dekat. Buat yang perlu contact lengkap Zest Hotel Sukajadi Bandung cek info di bawah ini ya:

Zest Hotel Sukajadi Bandung
Jl. Sukajadi No. 16, Bandung
(022) 8260 2060




Dunia kuliner Nusantara itu sangat kaya. Mulai dari Sabang hingga Merauke memiliki kuliner khasnya sendiri yang mungkin belum kita ketahui. Salah satunya adalah Se’i Sapi yang kian populer belakangan ini. Kuliner khas NTT (Nusa Tenggara Timur) ini mulai menginvasi ke berbagai daerah di barat Indonesia, tak terkecuali Bandung.



Awal pertama saya mengetahui Se’i Sapi ini saat tahun lalu saya melihat booth Se’i Sapi Lamalera pada acara Gedung Sate Festival 2018. Sejujurnya pada momen itu saya tak begitu tertarik dengan hidangan tersebut. Saya pikir apa bedanya dengan kuliner daging lainnya, pasti rasanya seperti itu-itu saja.

Saya baru berkesempatan mencoba Se’i Sapi ini saat mendapat tugas dari kantor untuk meliput sebuah café di kawasan Ciumbuleuit. Ya memang rasanya tidak begitu istimewa. Perbedaan rasanya hanya terletak pada bumbu dan aneka sambal yang melumuri bagian atasnya. Hanya memang se’i ini disajikan dengan irisan tipis-tipis, cocok juga bila disantap menggunakan sumpit. Sama seperti saat kita menyantap sashimi.

Pada se’i, daging yang telah diiris tipis dan dibumbui, kemudian diasapi dengan pembakaran kayu kosambi, dan daunnya digunakan untuk menutupi daging tersebut, sehingga menghadirkan aroma yang berbeda saat disajikan. Biasanya, proses pengasapan ini dapat berlangsung sangat lama hingga mencapai durasi 9 jam.

Pendapat saya mengenai rasa dari Se’i Sapi lalu seketika berubah saat menyicipi rasa dari Se’i Sapi Lamalera bulan Ramadan kemarin. Sejak melihat booth-nya pada event Gedung Sate Festival 2018 lalu, brand ini menjadi melejit di Bandung. Bahkan sekarang, Se’i Sapi Lamalera telah memiliki dua cabang yang terletak di Jl. Bagus Rangin No. 24A, dan Jl. Emong No. 9. Saya dan beberapa mantan rekan kerja di kantor pun tertarik untuk menggelar acara buka puasa di sini karena tempat ini banyak sekali diperbincangkan. Bahkan saking banyaknya antusiasme pengunjung, mereka tak menerima early reservation untuk buka puasa bersama, karena customer walk-in mereka selalu dapat memenuhi area makannya.

Berbeda dengan daging se’i yang pernah saya coba sebelumnya, Se’i Sapi Lamalera memiliki tekstur yang super lembut, dengan bumbu rempah-rempah yang jauh lebih terasa di lidah. Hidangan ini disajikan dengan sebuah nampan persegi yang sering digunakan oleh banyak restoran sushi. Se’i Sapi Lamalera menawarkan hidangan se’I dengan dua pilihan porsi penyajian, yakni reguler dan jumbo. Awalnya, saya memesan Se’i Iga dengan ukuran reguler yang ternyata porsinya tak cukup memuaskan, sehingga saya langsung memesan kembali porsi se’i jumbo. Selain karena porsinya kurang banyak, ya rasanya yang enak pun memang bikin nagih. Bahkan porsi kedua habis dilahap pun, lidah saya masih menginginkan porsi-porsi berikutnya.

Setiap satu porsi se’i baik yang berukuran reguler ataupun jumbo, dihidangkan dengan tumis daun singkong, sambal, dan semangkuk kuah kaldu. Ketiga elemen pendukung ini pun rasanya sangat lezat. Saya bahkan menghabiskan kuah kaldunya hingga benar-benar tak bersisa. Rasanya begitu gurih, dan bumbunya begitu terasa.

Se’i Sapi Lamalera ini menawarkan cukup banyak pilihan jenis daging dan sambal untuk dijajal rasanya. Di samping Se’i Sapi ada juga lidah sapi dan iga yang harganya tentu sedikit lebih mahal dari yang Se’i Sapi biasa, serta ada juga Se’I Ayam. Sedangkan untuk pilihan sambalnya ada sambal matah, sambal rica-rica, sambal ijo, lada hitam, dan sambal lu’at. Sambal lu’at ini merupakan satu-satunya pilihan sambal asli dari NTT yang ada di daftar menu. Rasanya sedikit asam karena mengandung tomat dan jeruk nipis, lalu ada juga aroma khas yang dapat tercium dari daun kemangi yang ditambahkan di dalamnya.

Untuk harganya, menu-menu di Se’i Sapi Lamalera ini terbilang sangat murah, yang tentunya disesuaikan juga dengan jenis daging dan porsinya. Contohnya saja Se’i Ayam porsi reguler yang dibandroll hanya dengan harga Rp15.000, hingga Se’i Iga Sapi Jumbo yang dijual dengan harga Rp55.000. Harga tersebut tentunya belum termasuk nasi putih dan minuman.

Secara keseluruhan, Se’i Sapi Lamalera ini sangat recommended buat kamu yang mencari tempat makan daging yang enak di Bandung. Tapi, jangan lupa juga untuk menyantapnya saat masih panas, agar bisa mendapatkan rasa terbaiknya, dijamin bikin nagih, dan tak cukup pesan satu kali.


Bagi saya, wajah sebuah kota dibentuk oleh berbagai komponen yang berada di dalamnya, mulai dari sejarah, budaya, hingga manusianya. Oleh karena itu, untuk benar-benar dapat mengenal tempat yang kita kunjungi saat berwisata, ada baiknya hal-hal yang melekat bersamanya pun harus diakrabi.

Dari berbagai daerah di Indonesia, Bandung tentu menjadi kota yang paling akrab dengan diri saya. Pengalaman hidup di dalamnya selama lebih dari tiga dekade menjadi alasannya. Saya pun sadar betul, seiring hidup yang terus bergerak, maka ada bagian dari kota ini yang juga harus berubah. Ada tempat yang harus berganti peran, lalu ada juga kebiasaan manusianya yang perlahan mulai ditinggalkan. Walaupun begitu, banyak juga bagian lain dari kota ini yang tak hanya mampu bertahan, tapi juga telah menjadi incaran banyak wisatawan. Bagian-bagian tersebut hadir melalui cita rasa yang menyusup ke dalam cerita nama-nama besar kuliner yang bertahan menembus zaman.

Dalam tulisan ini, saya mencoba menceritakan kembali pengalaman berkunjung ke 10 tujuan wisata kuliner legendaris di Bandung. Lewat perbincangan hangat dengan para pemerannya, hidangan yang disajikan di atas meja pun tak sekedar menghadirkan cita rasa, namun juga berhasil melarutkan suasana ke dalam berbagai kisah luar biasa.

Pak Aldi dan Lontong Kari Kebon Karet

  1. Lontong Kari Kebon Karet
Bila ada satu kuliner di Bandung yang namanya dapat mem-branding keseluruhan kawasan, Lontong Kari Kebon Karet lah jawabannya. Dari sejak saya melintas di depan mulut Gg. Kebon Karet, aroma khasnya pun sudah tercium. Bahkan warga yang kebetulan melihat saya ataupun wajah asing lainnya di sekitaran gang sudah langsung sigap mempersilakan dan menunjukan arah tempat Lontong Kari Kebon Karet berjualan, seolah, setiap tamu yang masuk ke gang sudah pasti mencari kuliner legendaris yang satu ini.

Di dalam area makannya, sang pemilik yakni Pak Aldy memajang beberapa foto pejabat dan selebritis ternama yang pernah mampir untuk menyantap menu lontong kari yang dihidangkan. Lalu ada juga beberapa halaman harian surat kabar berisikan mengenai pemberitaan bisnis kulinernya ini yang telah dibingkai dan dipajang di salah satu sudutnya. Pada salah satu halaman surat kabar tersebut, terdapat foto almarhum ayahnya yang mendirikan Lontong Kari Kebon Karet pada tahun 1966. Sambil menunggu pesanan Lontong Kari Special tiba, saya pun bisa sekaligus mendalami cerita yang coba disampaikan melalui berbagai hal di ruang makannya itu.

Obrolan dengan Pak Aldy pun berlangsung seru. Ia terlihat memiliki antusias tinggi dalam menceritakan kisah di balik bisnis kuliner yang dikelola keluarganya, termasuk soal keistimewaan makanan yang dijual. Ia lalu menjelaskan bahwa kenikmatan cita rasa yang dihadirkan oleh Lontong Kari Kebun Karet ini berasal dari kombinasi 14 macam rempah-rempah. Beberapa di antaranya cukup special, karena termasuk jarang digunakan untuk hidangan ini, seperti cengkeh, kayu manis, dan pala. Sementara untuk topping-nya, terdapat taburan kacang kedelai, emping, potongan kentang, telur ayam, dan telur puyuh. Daging yang digunakan pun merupakan kualitas terbaik yang diambil dari bagian sengkel, sehingga tak ada lemak yang menempel pada dagingnya.

Untuk menikmati porsi dengan topping lengkap, kita dapat memesan Lontong Kari Special yang dijual dengan harga Rp24.000/porsi. Selain itu, tempat ini juga menawarkan Es Campur yang diracik secara istimewa dengan menggunakan lumeran dark chocolate.

Tertarik mencicipi Lontong Kari Special dan Es Campurnya? Langsung saja meluncur ke Jl. Oto Iskandar di Nata, Gg. Kebon Karet No. 28/5c pada pukul 7 pagi hingga pukul 7 malam setiap harinya.

Abdul dan Bubur Ayam PR


  1. Bubur Ayam PR
Bagi para wisatawan, kawasan Jl. Asia Afrika memang menjadi tempat yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Bandung. Lokasinya yang berada di pusat kota, serta bangunan heritage yang berderet di sekitarnya menjadi beberapa alasannya. Tak jauh dari salah satu bangunan heritage ternama yakni Hotel Savoy Homann, terdapat sebuah kuliner legendaris yang dikenal dengan nama Bubur Ayam PR. Namanya tersebut diambil dari sebuah nama harian surat kabar yang menjadi tempat gerobaknya mangkal saat pertama kali berjualan dulu. Karena sudah dilarang berjualan di trotoar, penjualnya yang merupakan generasi ke-2 pemilik bisnis ini, yaitu Pak Abdul Rojak, memindahkan tempat berjualannya ke Jl. Homann yang berada di seberang tempat sebelumnya.

Sama seperti bubur ayam pada umumnya, semangkuk Bubur Ayam PR yang dihargai Rp20.000 ditaburi suwiran daging ayam, ati ampela, irisan telur, dan potongan cakue. Hal yang membedakannya terletak pada krupuk yang diganti oleh emping, serta penggunaan bumbu kaldu yang diracik sendiri.

Bubur Ayam PR mulai berjualan di lokasinya yang berada di Jl. Homann pada pukul setengah 6 sore hingga pukul 2 pagi.

Tante Gwat dan Ronde Jahe Alkateri

  1. Ronde Alkateri
Ronde adalah makanan tradisional berbentuk bola-bola yang dibuat dari tepung ketan. Cara penyajiannya yang disiram menggunakan kuah jahe menjadikan ronde lebih enak disantap hangat-hangat saat udara sedang dingin pada malam hari. Di Bandung, warung ronde yang paling terkenal adalah Ronde Alkateri. Sesuai dengan namanya, warung ronde ini berjualan di Jl. Alkateri No. 1, mulai pukul 6 sore hingga pukul 10 malam.

Sejak berdiri pada tahun 1984, Ronde Alkateri ini telah memiliki beberapa cabang yang tersebar di seluruh Bandung. Namun bila ingin bertemu langsung dengan sang pendiri bisnis ini, maka datanglah ke warung pertamanya yang ada di Jl. Alkateri. Oleh para pelanggan setianya, ia akrab dipanggil dengan sebutan Tante Gwat. Pada usianya yang tahun ini telah menginjak angka 86 tahun, pendengarannya masih sangat baik, dan suaranya masih sangat lantang. Saat saya berkesempatan berbincang dengannya beberapa waktu lalu, ia sendiri yang turun langsung membantu pekerjanya dalam menyiapkan bermangkuk-mangkuk ronde jahe untuk pelanggan.

Dalam semangkuk ronde jahe porsi reguler yang disajikan, terdapat tiga buah ronde berukuran besar, dan beberapa ronde ukuran kecil sebagai pendamping. Namun, porsi ini juga dapat disesuaikan dengan keinginan bila ingin mendapat porsi ronde besarnya lebih banyak. Istimewanya Ronde Alkateri ini dapat terasa dari teksturnya yang sangat lembut dengan rasa kuah jahe yang pas. Khusus untuk ronde berukuran besar, ada kacang yang ditumbuk halus sebagai isiannya. Untuk harganya, satu porsi Ronde Alkateri ini dijual Rp18.000.
Aldi Yonas dan Warung Kopi Purnama

  1. Warung Kopi Purnama
Jauh sebelum nongkrong di coffee shop menjadi sebuah trend yang digemari dalam beberapa tahun ke belakang, Warung Kopi Purnama telah terlebih dahulu mempopulerkannya. Warung kopi yang usianya hampir seabad ini kini dijalankan oleh Aldi Yonas yang merupakan pemilik generasi ke-4. Dari tampilannya saat bertemu, saya langsung tahu bahwa umur kami tak terpaut begitu jauh. Melalui sentuhan tangannya, Warung Kopi Purnama tak hanya didatangi oleh generasi usia di atasnya, tapi juga oleh kaum millennial yang sepantaran dengannya. Walaupun begitu, jati diri yang melekat pada warung yang awalnya bernama Chang Chong Shi ini tetap ia pertahankan, mulai dari cita rasa menu-menunya, sampai arsitektur asli bangunannya.

Tak seperti daftar menu kopi yang ditawarkan di tempat-tempat ngopi kekinian zaman now, menu kopi di Warung Kopi Purnama tetap sederhana dengan menyajikan pilihan secangkir kopi hitam atau kopi susu. Untuk biji kopinya sendiri, Aldi menggunakan kombinasi antara biji kopi arabika dengan robusta. Rasa yang dihasilkan racikannya pun sangat khas, tak terlalu asam, tapi juga tak terlalu pahit. Sebagai pendampingnya, satu porsi roti selai srikaya akan melengkapi waktu santai di sini. Tak kalah istimewa dengan kopinya, roti dan selai srikaya yang dihidangkan juga merupakan produk orisinil dari Warung Kopi Purnama. Saya pribadi pun belum pernah menemukan rasa yang serupa dengan menu roti selainya tersebut.

Tak hanya kopi dan roti yang menjadi ciri khas Warung Kopi Purnama, ada berbagai menu lainnya seperti Nasi Goreng Purnama, Sarsaparilla, Es Kolang-Kaling dan menu lainnya yang dapat dijajal dengan rata-rata harga di bawah Rp30.000. Namun di luar menu-menu tersebut, ada juga beberapa menu non-halal yang dihidangkan. Bagi kawan-kawan muslim, memang disarankan untuk bertanya terlebih dahulu mengenai kehalalan menu makanan yang akan dipesan kepada waiter.

Kopi Susu, Roti Selai Srikaya, serta menu-menu lainnya dari Warung Kopi Purnama dapat mulai dinikmati setiap harinya pada pukul setengah 7 pagi hingga pukul 10 malam di Jl. Alkateri No. 22.

Ibu Rosy dan Warung Sate Hadori

  1. Sate Hadori
Sate Hadori bukanlah nama yang asing di telinga warga maupun wisatawan yang datang ke Bandung. Restoran sate yang didirikan Ibu Hj. Hadori pada 1952 ini memang sudah lama populer karena daging satenya yang dikenal sangat empuk. Selain itu, Sate Hadori juga dikenal sebagai tujuan rutin wisata kulinernya Presiden RI. Hampir di setiap kunjungannya, beliau selalu menyempatkan untuk mampir dan menyantap hidangan yang satu ini.

Untuk menunya sendiri, Sate Hadori tak menyediakan banyak menu, hanya menu sate dan gulai yang terdiri dari pilihan daging ayam, sapi, dan kambing. Namun, di antara daftar menu tersebut, Sate Kambing lah yang paling disukai. Lebih istimewanya lagi, karena Sate Hadori khusus menyajikan daging sineureut dari kambing. Sineureut itu merupakan daging bagian dalam kambing yang berada di area sekitar perut dan paha atas. Daging bagian ini tak begitu besar, namun memang sangat terkenal karena kelezatan rasanya. Maka dari itu, dari satu ekor kambing hanya dapat dibuat sepuluh tusuk sate sineureut yang dihargai Rp60.000 di restoran Sate Hadori.

Kunjungan saya beberapa waktu lalu tak berhasil mempertemukan saya dengan Ibu Hj. Hadori. Namun, saya berkesempatan mendengarkan cerita dari Ibu Rosy yang telah dipercayai langsung mengelola cabang utamanya tersebut oleh sang empunya selama lebih dari 30 tahun. Kini Sate Hadori telah memiliki hingga 4 cabang di Bandung yang buka mulai pukul 10 pagi hingga pukul 3 pagi.

Kang Deni dan Mie Kocok Mang Dadeng

  1. Mie Kocok Bandung Mang Dadeng
Mie Kocok merupakan salah satu kuliner tradisional khas Bandung yang cukup banyak digemari. Perbedaannya dengan kuliner mie lainnya terletak pada jenis mie, serta penyajiannya yang menggunakan kuah kaldu yang ditaburi tauge dan irisan tendon kaki sapi. Sebagai finishing, perasan jeruk purut ditambahkan, sehingga memberikan sensasi rasa yang sedikit agak kecut.

Dari cukup banyak pedagang mie kocok di Bandung, nama Mie Kocok Bandung Mang Dadeng merupakan yang paling terkenal. Walaupun kini Mang Dadeng sudah tiada, bisnisnya tersebut masih terus berkembang hingga memiliki tujuh cabang yang dikelola oleh anak dan saudaranya. Awalnya, ia berdagang dengan mengandalkan sebuah gerobak yang ia dorong mengelilingi Bandung pada tahun 1958. Barulah pada tahun 1965, ia membuka kedai di Jl. Banteng (sekarang namanya Jl. Kyai Haji Ahmad Dahlan) No. 67. Di cabang utamanya tersebut, kini operasionalnya dipimpin oleh salah satu anaknya yaitu Kang Deni.

Dalam sebuah obrolan santai saya dengan Kang Deni, ia menuturkan proses pengolahan tendon dan sumsum sapi yang dimasak di kedainya tersebut melalui durasi yang cukup lama dan hati-hati. Tentunya, proses pun takkan menghianati hasil, metode yang diwariskan dari ayahnya tersebut membuat mie kocok yang dihasilkan terasa lebih gurih dan terbukti disukai banyak pelanggan.

Kedai Mie Kocok Bandung Mang Dadeng buka setiap harinya mulai pukul 9 pagi hingga pukul 10 malam. Selain di kawasan Jl. Banteng, kedai ini juga beroperasi di Jl. Citarum, Jl. Wastukencana, Jl. Pelajar Pejuang 45, Kopo, Arcamanik, dan satu cabang di luar Bandung, yakni di Bintaro. Satu porsi Mie Kocok Bandung Mang Dadeng sudah bisa dinikmati dengan harga Rp37.000.

Bu Lidya dan Lotek Kalipah Apo 42

  1. Lotek Kalipah Apo 42
“Legit!” Itulah satu kata yang teman dan keluarga saya katakan saat ditanya komentarnya mengenai rasa Lotek Kalipah Apo 42 yang kebetulan sebelumnya belum pernah saya cicipi. Kata itu pula yang disampaikan Ibu Lidya yang merupakan pengelola tempat kuliner legendaris tersebut ketika ditanya soal keistimewaan hidangan lotek yang dibuat pertama kali oleh neneknya itu pada tahun 1953. Saya pun kemudian menyetujui “legit” sebagai kata yang dapat menggambarkan rasa lotek ini ketika berkesempatan mencobanya. Bumbu kacangnya sendiri memang terlihat jauh lebih kental dibandingkan lotek yang pernah saya makan. Rupanya, dalam proses pembuatan loteknya, ia tetap memegang teguh resep yang diturunkan keluarganya untuk membuat sebuah bumbu kacang yang istimewa. Selain itu, sayur yang terdapat pada loteknya tersebut ia kukus menggunakan alat masak yang terbuat dari bambu, sehingga mengeluarkan rasa dan aroma yang berbeda.

Sesuai dengan namanya, Lotek Kalipah Apo 42 beralamat d Jl. Kalipah Apo No. 42. Akan tetapi, lokasi yang ditempatinya saat ini merupakan pindahan dari lokasi awalnya yang sebenarnya masih di kawasan Jl. Kalipah Apo juga. Bedanya, tempat yang ditempati sekarang jauh lebih luas untuk mengembangkan bisnis. Hal ini pun dibuktikan dengan lebih banyaknya variasi menu yang dijual, mulai dari kolak campur, aneka rujak, gado-gado, laksa, nasi timbel, hingga berbagai jenis masakan rumah lainnya. Harga menu-menunya ini cukup bervariasi, namun tergolong sangat terjangkau. Misalkan saja, untuk dapat menyantap satu porsi lotek yang disajikan dengan lontong di Lotek Kalipah Apo 42 ini, cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp21.000.
Kang Gugun dan Aa Bistik Astana Anyar


  1. Aa Bistik
Karena letaknya yang berada di kawasan Astana Anyar, saya, dan beberapa kawan yang beranggapan bahwa nama Aa pada brand “Aa Bistik” merupakan singkatan dari nama daerah tersebut. Namun nyatanya, setelah bertanya langsung dengan Kang Gugun yang merupakan pewaris bisnis tersebut, saya akhirnya mengetahui bahwa Aa merupakan nama sang ayah yang bernama lengkap Aa Sukardi. Hingga sekarang, Aa Bistik ini sangat dikenal dengan menu nasi goreng bistiknya.

Pada tahun 1989, Bapak Aa Sukardi mulai merintis bisnis nasi goreng bistiknya tersebut dengan mendorong gerobak dari kawasan Panjunan hingga Cibadak. Tapi uniknya, dagangannya tersebut lebih sering laris terjual ketika ia baru berjalan sampai Jl. Astana Anyar. Oleh karena itulah, mulai tahun 1992, ia kemudian memilih untuk membuka kedai semi permanen di titik yang jualannya paling laku dibeli orang. Sampai sekarang, kedai nasi goreng bistiknya nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Saya pun yang beberapa kali pernah membeli nasi goreng di sini tak jarang harus menunggu pesanan hingga setengah jam lamanya.

Nasi goreng Aa Bistik ini banyak disukai karena teksturnya yang sangat crispy. Demikian pula irisan kentang yang menjadi komponen pelengkap menu ini. Tak lupa, saus yang disiramkan di atas hangatnya nasi goreng dapat membangkitkan selera makan. Satu porsi Nasi Goreng Aa Bistik ini sudah bisa dinikmati dengan harga Rp20.000. Di samping menu Nasi Goreng Bistik, ada juga beberapa pilihan menu lainnya seperti Ayam Kluyuk yang tak kalah digemari.

Penasaran dengan rasa menu Nasi Goreng Aa Bistik ini? Cobalah mampir ke Jl. Astana Anyar No. 264, pada pukul setengah 6 sore, hingga pukul 12 malam.
Yusuf dan Martabak Capitol

  1. Martabak Capitol
Sebelum bioskop dikelola dengan sistem chain-business seperti sekarang ini, Bandung memiliki banyak bioskop yang dikelola secara perorangan. Salah satu bioskop yang populer pada masanya adalah bioskop Capitol yang berada di kawasan Jl. Jenderal Sudirman. Untuk menemani aktivitas menontonnya, biasanya para pengunjung bioskop membeli martabak yang dijual tak jauh dari lokasi bioskop. Senada dengan nama bioskop di dekatnya, Amos Gunawan sang pendiri bisnis martabak tersebut pun memberi nama usahanya dengan nama “Martabak Capitol”. Walaupun kini bioskopnya sendiri sudah tak ada, namun nama Capitol tetap melekat kuat dengan brand kedai martabak yang masih berdiri tegak di Jl. Jenderal Sudirman No. 101.

Selang 41 tahun setelah mulai berjualan, Pak Amos masih sering terlihat memantau dan membantu penjualan martabak di kedainya. Namun tentunya, intensitas aktivitasnya sudah tak seperti dulu. Kali ini giliran anaknya yaitu Yusuf yang lebih aktif melayani para pembeli.

Walaupun pilihan topping yang ditawarkan Martabak Capitol sama dengan kebanyakan penjual martabak lainnya, tapi ada keistimewaan yang dapat terasa saat potongan martabaknya meluncur masuk ke mulut. Keistimewaan tersebut terletak pada kualitas cita rasanya yang dipertahankan melalui bahan-bahan terbaik. Selain itu, Martabak Capitol juga menawarkan pilihan menu khusus yang menggunakan mentega wijsman untuk menambahkan rasa gurih pada martabaknya. Bertambahnya rasa gurih tersebut dikarenakan komposisi mentega wijsman sendiri terbuat dari 99% susu sapi. Harga setiap type menu martabaknya pun cukup bervariasi, dimulai dari sekitaran harga Rp50.000 hingga di atas kisaran Rp100.000.
Karena martabak merupakan jenis makanan yang lebih enak disantap saat udara sedang dingin, maka kedai Martabak Capitol pun baru buka menjelang sore hari dari pukul 2 siang hingga pukul 12 malam.
Ibu Susi dan Es Sekoteng Bungsu 29

  1. Es Sekoteng Bungsu 29
Dari keseluruhan tempat kuliner legendaris yang saya kunjungi. Kedai Es Sekoteng Bungsu 29 ini paling memiliki daya tarik dari segi visual. Hampir seluruh dindingnya dipenuhi oleh foto-foto bintang rock ternama, seperti Freddy Mercury, Mick Jagger, dan John Lennon. Bukan tanpa alasan wajah-wajah mereka menghiasi kedai ini. Ibu Susi yang menjalankan bisnis warisan orang tuanya ini memang sangat menggemari musik rock. Bahkan pada waktu senggangnya, ia terkadang masih menyanyikan lagu dari para idolanya di berbagai event tertentu.

Setelah puas memperlihatkan dan bercerita mengenai koleksi foto-foto idolanya kepada saya, Bu Susi pun melanjutkan kisahnya dengan bisnis dessert yang digelutinya saat ini, mulai dari kedainya yang dibangun pada tahun 1962, hingga kelebihan produk Es Sekoteng yang ia buat. Ia berani menjamin bahwa Es Sekoteng Bungsu 29 tidak akan menyebabkan batuk. Hal ini dikarenakan proses khusus yang dilakukannya saat masa produksi. Rasa manis dan kesegarannya akan sangat terasa perbedaannya di mulut. Selain sekoteng, tentunya ada beberapa komponen lainnya seperti kelapa muda, alpukat, dan kolang-kaling, yang melengkapi setiap porsinya. Untuk satu mangkuk Es Sekotengnya ia kenakan harga Rp18.000.

Perihal nama “bungsu” yang tercantum di brand-nya itu berasal dari nama jalan tempat kedai itu berada sebelum kini berganti menjadi Jl. Veteran. Sedangkan angka “29” menandai nomor alamat kedai tersebut. Setiap harinya, Ibu Susi berjualan mulai pukul 8 pagi, hingga pukul 6 sore.

“Malam di Araaab, seperti siaangnyaaa
Menggoda hati, melompat dan terbang
Hati berdebaar..”
Ilustrasi adegan karpet terbang Aladdin & Princess Jasmine di film live action Aladdin.
Picture courtesy of Disney
Begitu bunyi lirik yang terngiang di kepala saat menyaksikan dan mendengar intro adegan film live action Aladdin yang tayang mulai bulan Mei lalu (kalau nadanya nggak kebayang, coba cari lagunya di youtube). Saya baru sadar kalau lagu “Malam di Arab” yang diputar di seri kartun Aladdin pada program TV Klab Disney Indonesia dulu merupakan lagu terjemahan langsung dari lagu “Arabian Nights” yang juga menjadi lagu pembuka di film versi sinemanya.

Film animasi Aladdin ini memang sangat berkesan buat saya, karena merupakan film kedua setelah Home Alone 2 yang saya tonton langsung di bioskop setelah lahir ke dunia. Padahal kata orang, ingatan semasa balita itu terbilang sulit diingat. Namun saya mampu membayangkan dengan baik saat-saat di mana saya duduk di kursi Bioskop Galaxy 21 bersama ayah saya, dan melihat bagaimana adegan fenomenal Aladdin dan Jasmine mengendarai karpet terbang keluar dari kerajaan Agrabah. Mungkin itu salah satu alasan saya menjadi orang yang berkarakter sangat visual hingga sekarang. Setelah menonton film tersebut pun saya dibelikan komik yang dibuat berdasarkan persis adegan-adegan filmnya di Toko Buku Gunung Agung, Kings Shopping Center.

Dalam ingatan saya, Kings Shopping Center, Bioskop Galaxy, Aladdin, dan pengalaman nonton film secara sinematik itu merupakan satu kesatuan. Mulai dari ­live action Casper, hingga film Avengers pertama yang tayang tahun 2012 pun masih saya tonton di bioskop ini. Selain karena lokasinya dekat, harga tiketnya pun hanya Rp13.000 untuk akhir pekan. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan bioskop-bioskop lain yang kala itu sudah memasang tarif Rp25.000/seat. Walaupun memang potongan tiket yang diberikan agak sedikit “antik” untuk brand sekelas 21. Potongan tiket tersebut layaknya sebuah karcis bus atau karcis parkir pinggir jalan. Nomor tempat duduknya pun ditulis dengan spidol. Sementara nominal harga tiketnya dicap tinta. Namun, kebiasaan nonton di Galaxy pun kemudian terhenti sejak bangunan Kings Shopping Center terbakar pada tahun 2014 silam.
Potongan tiket nonton di Bioskop Galaxy tahun 2012.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada pertengahan April 2019, bangunan mall berlogo mahkota ini mulai menunjukan pertanda kebangkitannya. Dari arah pusat perbelanjaan Yogya Kepatihan, logo brand CGV, sebuah perusahaan cinema yang menjadi kompetitor XXI mulai nampak di bangunan Kings Shopping Center yang sudah terlihat bentuknya. Hal itulah yang kemudian mendorong saya menonton live action Aladdin di Kings Shopping Center sebulan setelah mall ini diresmikan, walaupun tentunya dengan sebuah kesan yang jauh berbeda.

Entah kenapa, hal-hal bernuansa nostalgia memang selalu menarik hati manusia. Begitu pulalah cara Disney memasarkan film yang satu ini, dengan menjual nostalgia. Setelah melewati lebih dari 1001 malam, lagu “A whole new world” kembali menyentuh telinga dan ingatan pendengarnya di seluruh platform audio, dan social media, serta di­-cover oleh banyak pembuat konten musik. Performa lagu ini dalam mempromosikan film Aladdin justru lebih baik dari trailer filmnya sendiri yang dianggap banyak orang tak semenarik film animasinya dulu. Anggapan tersebut tentu bukan tanpa alasan, dalam beberapa tahun ke belakang Disney cukup banyak menghidupkan karakter film animasinya menjadi tayangan live action, namun hanya Beauty and the Beast yang mendapat respon cukup baik dari penggemarnya. Di samping itu padahal ada Dumbo, Alice in Wonderland, the Jungle Book, Cinderella, dan Christopher Robin.

Dalam tayangan trailernya, sosok jin lampu a.k.a Genie yang kini diperankan oleh Will Smith dinilai sangat aneh penampilannya, terutama saat ia berwarna biru, dan berukuran raksasa. Hal ini tentu berbeda dengan saat Robin Williams mengisi suara Genie pada film Aladdin tahun 1992, saat itu sosoknya dapat diganti wujud animasi. Sama halnya dengan suara-suara sumbang netizen di social media, saya pun berpikir demikian. Namun ternyata, prediksi publik dapat ditepis dengan baik ketika film berlatar Timur Tengah ini mulai tayang. Beragam komentar positif pun kian memperkuat niat saya membeli tiket film ini.
Bagi saya pribadi, Agrabah versi live action seperti layaknya Wakanda dan dunianya Avatar yang dibuat oleh James Cameron dulu, indah dan menakjubkan. Kalau memang negeri-negeri tersebut ada di dunia nyata, mungkin bisa menjadi tujuan wisata populer. Tingkah lincah Mena Massoud sebagai Aladdin saat beraksi di dalam kota pun sangat memukau. Aksi dan pengambilan gambarnya bahkan lebih baik dari aksi Dastan yang diperankan oleh Jake Gylenhaal di Prince of Persia.

Penampilan Naomi Scott yang memerankan Princess Jasmine pun tak kalah apik, dan sepertinya akan sangat memorable hingga bertahun-tahun ke depan. Lebih memorable tentunya dibandingkan dengan perannya sebagai Kimberly di film Power Rangers tahun 2017 lalu. Dan sekaligus menjadi sebuah promosi yang baik untuk reboot film Charlie’s Angels akhir tahun ini yang juga diperankan olehnya. Saya yang awalnya tak tertarik pun memastikan niat untuk menonton film ini nantinya.

Hal menarik lainnya ada di sisi Genie. Will Smith dengan aksen nigger-nya cukup berhasil keluar dari bayang-bayang Genie versi Robin Williams. Ia tidak berusaha menjadi Genie-nya Robin Williams, namun berhasil menyiptakan Genie versinya sendiri yang lebih hip hop, tapi tetap ikonik. Dalam sebuah sesi talk show bersama Ellen Degeneres, ia mengatakan bahwa ia memasukan personanya saat bermain dalam “The Fresh Prince of Bel-Air” ke dalam karakter Genie. Alhasil, lahirlah sosok Genie baru yang tak kalah kocak dari sebelumnya.
Di samping penampilan para pemerannya, secara keseluruhan, live action Aladdin ini juga berhasil mewujudkan efek-efek kartun ke dalam filmnya dengan sangat baik dan menyenangkan. Mungkin hal yang kurang buat saya hanya karakter Jafar yang terasa kurang evil, dan Iago, burung Macaw kesayangannya yang kurang cerewet dibanding di film animasinya. Entahlah apa jadinya bila Tom Hardy yang sempat diisukan memerankan tokoh Jafar jadi melaju.

Satu hal yang pasti, film Aladdin ini sangat berhasil memicu sisi kenangan personal saya pada romansa era tahun 90-an, meskipun tidak berhubungan langsung. Pengalaman pertama nonton di bioskop Kings Shopping Center, kegemaran dengan beragam buku komik dan tokoh kartun, serta ingatan akan jalan-jalan dan belanja bersama keluarga setiap bapak gajian.