'Panas', mungkin ada sekitar 20 kali saya ucapkan kata-kata itu sepanjang hari. Ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Cirebon, dan tentu pamornya sebagai kota bersuhu panas sudah saya ketahui sebelumnya, namun tetap saja hal itu tak membuat saya menjadi kemudian langsung terbiasa. Saya dan kawan-kawan hanya mempersiapkan beberapa kaos ganti, karena dapat dipastikan keringat akan lebih cepat membasahi tubuh, apalagi memang kunjungan kami pada hari tersebut akan lebih banyak berada di jalan.
Peserta Festival Keraton Nusantara menggoda petugas polisi yang mengamankan acara.

Yak, jauh-jauh kami berangkat ratusan kilometer dari Kota Bandung adalah untuk menyalurkan hobi kami dalam memotret aktivitas manusia di ruang publik atau dikenal juga dengan istilah 'nyetrit'. Dan bukan tanpa sebab kami kemudian memilih hari tersebut untuk menjelajah Cirebon jeh. Hal itu dikarenakan pada waktu itu, Kota Cirebon sedang menggelar event akbar bertajuk Festival Keraton Nusantara.

Cirebon ini sudah cukup lama tak menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara sejak penyelenggaraannya pada tahun 1997. Oleh karena itu, event ini benar-benar disambut meriah oleh warga Kota Udang tersebut ataupun warga kota lainnya seperti kami ini.

Pukul delapan pagi, saya dan tiga kawan sehobi pun sudah nangkring di sebuah warteg dekat Keraton Kasepuhan. Saat kami berjalan kaki menuju keraton, akses sekitarnya ternyata sudah ditutup untuk kendaraan. Seperti biasa, kami pun mulai keasyikan sendiri mencari posisi tepat yang kemudian dapat menghadirkan prestasi dalam hal karya foto. Beberapa kendaraan hias yang sedang parkir tentu menjadi target utama kami. Namun ada hal berbeda yang saya sadari dari peserta pawai ini dibandingkan peserta pawai-pawai yang diselenggarakan di Bandung. Peserta pawai di sini gesturnya nampak sangat rileks dan enggan bertingkah jaim. Dengan santainya mereka duduk-duduk dan ngemil sambil memanggul tandu atau mengendarai mobil hias yang menjadi tugasnya masing-masing.
Salah satu kendaraan pawai berbentuk Paksi Naga Liman di acara Festival Keraton Nusantara

Tak beberapa lama kemudian iring-iringan pawai mulai bergerak memasuki lapangan Keraton Kasepuhan. Segerombol anak yang masih lengkap berseragam putih merah pun nampak kompak memanjat dinding pembatas demi melihat langsung Presiden Jokowi. Di rundown festival yang tersebar lewat group-group chat memang menyantumkan kehadiran Pakde Jokowi membuka gelaran akbar tersebut, namun ternyata beliau urung hadir karena kesibukan lain, dan memindahkan jadwal kedatangannya pada upacara penutupan.
Beberapa anak sekolah dasar tampak antusias menyambut kedatangan Presiden Jokowi (yang akhirnya tidak jadi datang pada hari pertama)

Satu hal yang pasti terlihat pada event-event bertemakan budaya yang diselenggarakan di Cirebon adalah kehadiran Paksi Naga Liman dalam berbagai bentuk, mulai dari kostum hingga tentu saja kendaraan replikanya. Paksi Naga Liman sendiri merupakan Kereta Kencana milik Keraton Kanoman Cirebon yang memiliki bentuk sangat unik, kepala kereta tersebut menyerupai perpaduan antara gajah, burung paksi dan seekor naga. Konon katanya, perpaduan bentuk ini melambangkan akulturasi yang terjadi di Cirebon antara budaya Arab, Tionghoa dan India (Hindu).

Karena barikade penjagaan yang ternyata tak begitu ketat, saya pun berhasil menerobos masuk ke dalam lapangan Keraton Kasepuhan menyusul kawan-kawan saya yang sudah terlebih dulu berada di dalam sejak awal acara. Saya kemudian melihat sebuah menara temporer di salah satu sisi lapangan terdapat yang sepertinya diperuntukkan bagi awak media untuk meliput acara. Saya menyebut sepertinya, karena menara tersebut juga dipenuhi oleh masyarakat umum yang mencari tempat menonton.

Menara 2 lantai tersebut memiliki ukuran sekitar 3x3 meter dengan tanpa dilindungi pagar pembatas. Bisa dibayangkan, sungguh riskan sekali meliput dari tempat tersebut sambil berdesakan dengan penonton lainnya, bisa-bisa jatuh dari ketinggian yang lumayan bisa membuat gegar kepala.
Menara yang disediakan penyelenggara untuk mendokumentasikan acara

Setelah puas mengambil foto-foto pada upacara pembukaan, saya pun bertemu kembali dengan kawan-kawan di sebuah masjid berdinding merah besar di seberang keraton. Bagian terasnya cukup luas dan terlihat klasik, namun nampak tak begitu tua. Hal ini sangat berbeda dengan bangunan masjid utama yang rancangannya menampakan kesan budaya yang kuat dan kuno. Sebuah plakat di salah satu sudutnya bertuliskan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Plakat tersebut tidak memberikan informasi mengenai tahun berdirinya, hanya saja tertulis bahwa telah dilakukan pemugaran pada tahun 1978. Namun, karena penasaran dengan arsitekturnya yang luar biasa, saya pun mencarinya di internet dan mendapatkan angka tahun pendirian 1480. Ini berarti, bangunan utama masjid ini sudah sangat tua.

Kami pun berjalan mendekat untuk dapat melihat langsung bagian dalamnya. Akan tetapi, adzan dzuhur terlebih dahulu berkumandang, saya pun mengajak Arif, Algi, dan Kang Tirta yang menjadi kawan perjalanan saya hari ini untuk mengambil air wudhu. Namun, setelah selesai mengambil wudhu dan bergerak memasuki bangunan masjid utama, kami dicegat pengurus DKM Masjid. Katanya, kalau kami salat di dalam, ibaratnya akan seperti disalatkan jamaah lain yang salat di luar. Pernyataannya tentu membuat kami bingung, karena bukankah sudah umum bila salat berjamaah ada yang mendapat tempat di dalam masjid, dan ada yang mendapat tempat di teras, tanpa harus menjadikan orang yang salat di dalam disalatkan oleh yang berada di luar.
Bagian luar bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Karena sudah terdengar suara iqamah, kami pun langsung saja bergerak ikut ke dalam shaf yang telah terbentuk rapi di teras luar. Kami sedikit terkejut ketika melihat ke sekitar dan menemukan shaf untuk akhwat yang dibuat sejajar dengan ikhwan. Selain itu, saat salat berjamaah dimulai, semua langdung melakukan gerakan takbiratul ihram, padahal kami tidak mendengar suara takbir dari imam. Kami yang sempat kebingungan kemudian langsung mengikuti saja gerakan jamaah yang lain.

Perlahan-lahan kami pun sadar bahwa imam tidak menggunakan pengeras suara saat memimpin salatnya. Akhirnya kami pun bergerak dengan melihat jamaah lain di sekitar. Karena hal ini, setiap akan bangkit dari sujud, kami harus sedikit melirik apakah sudah bangkit dari sujud atau belum.

Seusai salat berjamaah, kami yang penasaran kemudian beranjak masuk ke dalam bangunan masjid utama melalui sebuah pintu kecil yang berukuran hanya sekitar 2/3 tinggi manusia pada umumnya. Untuk dapat masuk, kami harus membungkukan badan, dan menjumpai orang-orang berpakaian mewah sedang salat dan berdoa di dalam. Rupanya saat salat berjamaah hanya sultan yang diperbolehkan salat di ruangan tersebut. Menurut warga sekitar, selain kebiasaannya ini, ada juga kebiasaan unik lainnya yang terjadi pada momen adzan salat Jumat yang dikumandangkan oleh 7 orang muadzin.
Arsitektur bagian dalam dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Di dalam ruangan utama, kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang didapat dengan mengambil foto interiornya yang ternyata sangat keren! Langit-langit ruangan ini dibuat tinggi dan luas, namun tidak kosong. Ada palang-palang kayu yang saling bertautan memenuhi bagian atasnya. Baru kali ini saya menemukan rancangan interior masjid serumit ini. Dari informasi pengurus DKM, palang-palang kayu ini bernama Saka Tatal yang memiliki filosofis persatuan bangsa. Bangunan masjid ini dibangun oleh 500 orang pekerja hanya dalam waktu semalam. Palang-palang kayu tersebut ditempelkan dan hanya disambung-sambungkan dengan sebuah plat besi pada titik pertemuannya.

Keunikan masjid ini tak berhenti sampai di situ. Di sebelah kanan masjid terdapat dua buah lubang yang terisi air seperti sumur. Awalnya, saya kira di sinilah tempat wudhu orang-orang bila hendak salat. Namun pada waktu salat tadi, para Jemaah bergerak ke arah lain. Sumur tersebut rupanya adalah tempat minumnya para Wali Songo dulu. Mata airnya sendiri berjarak sekitar 50 meter dari kedua sumur tersebut. Sumur ini dikenal kemudian dengan nama Banyu Cis Sang Cipta Rasa, atau ada yang menyebut sumur tersebut sebagai Zam-zamnya Cirebon. Disebut demikia karena air sumur ini dipercaya memiliki khasiat. Saat saya bertanya perihal khasiatnya kepada bapak penjaga, beliau hanya menjawab, 'Khasiat tergantung niat orangnya ingin apa dulu. Ada yang ingin sembuh dari penyakit, atau ada juga yang ingin dilancarkan segala urusannya. Mereka di sini ada yang mandi, wudhu, ataupun minum sambil berdoa sama Allah'.
Sumur Banyu Cis Sang Cipta Rasa

Bagi yang ingin mengambil airnya untuk dibawa pulang ke rumah pun bisa. Ia pun menawarkan sebotol airnya kepada saya. 'Bayarnya seikhlasnya aja, bebas mau berapa juga,' tawar bapak itu. Akhirnya saya pun membawa pulang sebotol air tersebut ke Bandung. Warna airnya memang tidak seperti air mineral, ada bau tanah juga yang tercium saat botol didekatkan ke mulut.

Waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Riuh keramaian yang tadi menyemarakkan jalan di antara keraton dan masjid pun sudah mulai bubar. Masih ada waktu panjang untuk mengejar kereta malam ke Bandung yang berangkat pukul 9 malam, kami pun mengisinya dengan berjalan-jalan di sekitar keraton dan berkunjung ke Goa Sunyaragi yang dikenal sebagai tempat meditasinya Wali Songo. Bukan tak ingin mengejar berbagai destinasi wisata lainnya, terik udara di Cirebon yang bagaikan memiliki dua matahari ini benar-benar membuat kami tak berkutik.

Tak jauh dari Keraton Kasepuhan, terdapat sebuah jalan bernama Jl. Lemah Wungkuk yang cukup membuat saya teringat dengan Jl Cibadak di Bandung. Sama halnya dengan Jl. Cibadak di Bandung, Jl. Lemah Wungkuk di Cirebon juga merupakan kawasan pecinan. Lebar jalan, gaya bangunan, serta konsep trotoarnya sangat serupa. Kawasan ini juga dikenal sebagai pusat oleh-oleh di Cirebon. Berbagai souvenir serta cemilan dapat dibeli di sini.
Jl. Lemah Wungkuk di Cirebon yang suasananya menyerupai Jl. Cibadak di Bandung

Dari Jl. Lemah Wungkuk, kami meneruskan perjalanan ke Keraton Kanoman yang sedang menyelenggarakan pameran benda-benda pusaka selama festival berlangsung. Saat mampir ke salah satu booth, sepertinya si penjaganya langsung menangkap minat kami melalui arah tatapan yang tertuju ke bentuk patung giok Dewi Kwan Im. 'Kalau mau, itu yang Dewi Kwan Im bisa dipakai jadi mahar,' tunjuknya sambil menyesap cangkir kopinya di tangan kanan. 'Cuma itu saja, yang lain tidak bisa,'lanjutnya. Harganya di tujuh. Itu angka bukan dari saya, tapi langsung dari dia yang bisikin ke telinga saya. Yang dimaksud dengan âdia oleh  bapak ini adalah patung Dewi Kwan Im setinggi 30 cm tersebut. Kami tahu karena sambil bicara soal harga bisikan, gestur dagu dan matanya menunjuk ke patung ini. Entah berapa banyak angka nol yang ia maksud setelah angka tujuh tersebut, saya pun tak bertanya, karena tak tertarik membeli. Pertemuan kami dengan bapak ini, meneruskan cerita unik yang terjadi selama seharian itu.
Seorang bapak yang menawarkan pusaka Dewi Kwan Im untuk mahar di Keraton Kanoman

Sesuai rencana, sebelum pulang kami menghabiskan sore dengan meluncur ke kawasan wisata Goa Sunyaragi. Cukup banyak pengunjung yang hadir karena pada saat itu, Goa Sunyaragi juga menjadi venue perayaan Festival Keraton Nusantara. Saya rasa hampir seluruh penjuru kota sedang bersemangat menyemarakkan acara ini.

Bentuk Goa Sunyaragi ini sangat unik. Mungkin ini sudah kesekian kalinya saya menyebut kata unik. Tapi memang inilah hal yang saya dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bentuk goanya bagaikan sebuah istana yang ditempeli terumbu karang, ibarat sebuah kerajaan dasar laut yang muncul ke bumi. Selain itu, jalur-jalur di bagian dalamnya sangatlah rumit sepeti labirin besar.
Goa Sunyaragi

Setelah senja menutup kerja dari mentari, kami pun bergegas berangkat ke Stasiun Cirebon untuk merampungkan petualangan hari ini. Penjelajahan Cirebon ini terasa sangat mengasyikan, dan rasanya sangat worth it untuk dilakukan kembali. Terlebih saat tiba di Bandung, beberapa kawan lain yang melihat postingan Instagram saya kemudian memberikan banyak komentar tentang berbagai tempat yang tak sempat kami datangi. Btw, kata 'jeh' yang tertulis di judul tulisan ini adalah imbuhan yang sering ditambahkan pada kalimat yang diucapkan di bahasa Indramayu/Cirebon. Mungkin seperti 'mah' dan 'teh' ya kalau dalam bahasa Sunda. 



Pagi hari kedua, kami pun merasa cukup beruntung karena mendapat kesempatan untuk melihat proses pembuatan rumah salah satu warga yang hanya membutuhkan waktu 1-2 hari saja untuk selesai. Walaupun kelihatannya sederhana, tapi untuk membangun sebuah rumah perlu uang sampai puluhan juta, setidaknya begitu yang diceritakan A Kasim, salah seorang warga Kampung Gajeboh yang rumahnya kami tinggali semalam.
Salah seorang warga Baduy menyeberangi jembatan bambu di kawasan Kampung Gajeboh

Dia pun melanjutkan bahwa biasanya, rumah adat yang terbuat dari potongan bambu, kayu, dan bilik ini dapat bertahan hingga 5-6 tahun. Setelah melewati setengah dekade, biasanya ada beberapa bagian rumah yang harus direnovasi. Namun, hal yang cukup mengagumkan dari pembangunan rumah ini adalah ketika warga ada yang membangun rumah, tanpa harus diminta, seluruh warga pun akan membantu. Kebiasaan inilah yang mungkin sudah sulit ditemukan di lingkungan sekitar kita sehari-hari.
Pembangunan rumah adat di Baduy Luar yang dilakukan secara gotong royong


Di kawasan pembangunan rumah, kami lalu bertemu dengan Mbah Nasinah. Sosok ini menarik perhatian kami karena dari wajahnya ia nampak yang dituakan di kampung. Tetapi, kami tak pernah membayangkan kalau usianya telah mencapai 100 tahun. Berjalannya masih tegak, giginya masih rapih dan lengkap. Tak sulit juga berkomunikasi dengan beliau ini, pendengarannya baik, bicara pun lantang. Dengan bahasa Sunda, saya coba bertanya mengenai rahasianya memiliki umur awet muda.

Ia pun menjawab, "banyak ketemu yang cantik-cantik aja," jawabannya pun cukup membuat kami tertawa lepas.

Rupanya ia lancar juga diajak bercana. Saat ini Mbah Nasinah telah memiliki tiga orang anak yang semuanya telah menikah dan memberikan cucu untuknya. Salah satunya kini tinggal di Cicaheum, Bandung, bersama suaminya. Namun tentunya, karena sudah tinggal di kota, anaknya itu sudah bukan menjadi bagian dari orang Baduy.
Mbah Nasinah, salah seorang warga Baduy Luar yang dituakan di kampung


Jelang siang hari, sinar mentari pun terasa semakin terik, beberapa kawan memilih untuk stay di tempat pembangunan rumah adat untuk mengambil beberapa foto, sementara saya dan sebagian kawan lainnya mencoba menjelajahi perbukitan sekitar.

Seusai mandi dan bersantap siang, akhirnya kami harus mengucapkan sampai jumpa kepada A Kasim, Mbah Nasinah, dan Kampung Gajeboh. Sesampainya nanti di Ciboleger, mungkin kami memang akan kembali menemukan sinyal, listrik, dan berbagai hal yang terpaksa kami tinggalkan. Akan tetapi, kampung ini dan segala kearifan lokalnya akan selalu membuat kami rindu.

Saya pun jadi kembali mengingat wajah Mbah Nasinah yang tertawa bahagia dengan usianya yang telah mencapai seabad lebih. Sepertinya, rahasia kebahagiaan dan panjang umurnya ini berasal dari kebiasaan warga Baduy yang jauh dari modernisasi. Tak ada Instagram dan televisi, yang berarti tak banyak kemewahan yang kemudian harus diamati dan dicari. Inilah oleh-oleh yang kemudian kami bawa pulang ke rumah masing-masing.
Ciri khas berpakaian warga Baduy Dalam 


Perjalanan pulang ke Ciboleger dari Gajeboh tentu kami tempuh kembali dengan berjalan kaki, melalui jalur yang sama, namun dengan cerita yang berbeda. Di tengah jalanan sepi yang rimbun dengan pepohonan, kami bertemu dengan seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Saat itu, kami tak menyangka bahwa ibu tersebut akan mengikuti kami hingga Ciboleger yang kemudian memberikan sebuah ingatan yang tak mungkin kami lupakan dalam perjalanan ini.

"Ayo ikut, ayo ikut!!" Tiba-tiba saja ibu yang dari tadi ikut berjalan bersama kami dari Kampung Gajeboh Baduy menarik kencang tangan Imam yang baru saja memberikannya sebungkus roti dan sekaleng susu dari mini market.

Sontak saja, Imam yang terkejut pun langsung berlari ketakutan dan mencari tempat bersembunyi yang aman. Warga sekitar yang membantu menjauhkan ibu itu dari rombongan kami pun memberi tanda kepada kami dengan memutar telunjuk di samping kepalanya, mengisyaratkan ketidakwarasan. Melihat kejadian tersebut terjadi pada salah satu anggota kami, kami yang tadinya hendak menghabiskan waktu lebih lama untuk bersantai di Kampung Ciboleger pun segera bergegas naik ke kendaraan microbus yang akan membawa kami pulang ke rumah.
Pintu masuk menuju area Baduy di Kampung Ciboleger


Beberapa teman mulai menaikkan barang bawaan ke atas atap, sementara saya mencari Imam yang ternyata sudah lari jauh menunggu di jalan raya. Kejadian tersebut tentunya tak akan pernah bisa kami bertujuhbelas lupakan dalam pengalaman traveling kali ini.

Awal ketertarikan saya untuk melakukan perjalanan ke Baduy sebenarnya sudah sejak lama, namun baru awal Agustus 2018 lalu, kesempatan itu datang. Sebuah jasa open trip bernama Rumah Jauh Project yang dipromosikan seorang kawan di Instagram dengan judul 'One Day Offline', cukup mencuri perhatian saya, hingga kemudian berpikir bahwa saya harus mencoba pengalaman traveling ke Baduy. Bagi saya yang sehari-harinya bekerja dengan sosial media, perjalanan ini dapat menjadi sebuah short getaway.

Tak ingin sendirian, saya pun mengajak beberapa orang kawan untuk ikut serta. Manda dan Nurul adalah dua orang kawan yang kemudian menyanggupi untuk berpartisipasi setelah broadcast di berbagai chat group sana sini. Karena Manda sudah tinggal di Jakarta, saya dan Nurul yang berada di Bandung yang kemudian harus mengatur perjalanan tambahan untuk dapat sampai tepat pada waktunya di Stasiun Tanah Abang yang menjadi meeting point kami.


Setibanya kami berdua di Stasiun Tanah Abang pada waktu yang dijanjikan, kami pun bertemu dengan Manda yang rupanya telah bersama kawan-kawan baru dalam open trip ini. Ada Imam yang rupanya teman kuliah Nurul, lalu ada Acing, Mas Daud, Ryan, Om Edoth, Bunda Dita, Adi, Acha, Endar, Ivan, dan dua orang yang menjadi host kami yakni Uda Yogi dan Ucky Wildan.

Setelah berkumpul semua, kami pun langsung naik commuter ke Stasiun Rangkasbitung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menggunakan commuter, dan rasanya cukup takjub melihat bagaimana penumpang KRL itu selalu terlihat sangat terburu-buru, baik saat masuk, maupun saat keluar, sebuah pemandangan yang tak pernah saya lihat sebelumnya ketika berada di Bandung.
Suasana di dalam KRL menuju Rangkasbitung

Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan microbus yang mengantarkan kami langsung ke Kampung Ciboleger yang merupakan kampung terluar dari kawasan Baduy. Namun, sedikit kaget rasanya ketika melihat sebuah minimarket berdiri di salah satu pojok area ini. Ditambah saat di dalamnya, kami berpapasan dengan orang Baduy Dalam (cirinya menggunakan baju putih) yang membeli beberapa cemilan dan membayarnya ke kasir tanpa mengantre.

Tak mau berlama-lama, kami pun langsung tancap gas menuju Kampung Gajeboh yang menjadi tempat menginap kami selama di Baduy. Awalnya sih memang tancap gas, namun mesin pada tubuh dan kaki kami yang lama sudah tak digunakan berjalan jauh pun sering ngadat selama di perjalanan, terutama setelah melewati tanjakan curam. Akan tetapi, bagaikan sudah tahu dengan kondisi kami, setiap tanjakan yang dilewati selalu saja terdapat penjual air kelapa di puncaknya. Perjalanan penuh perjuangan kami ini menghabiskan waktu sekitar 3 jam.
Rute perjalanan menuju Kampung Gajeboh di area Baduy Luar


Sebelum sampai Gajeboh, kami melintasi empat kampung lainnya yang juga cukup menarik. Karena masih di kawasan Baduy Luar, beberapa warga masih terlihat berjalan menggunakan sandal, serta pakaian di luar pakaian adat. Beberapa rumah pun tampak menjual produk-produk makanan dan minuman branded yang umumnya dapat kami temukan di warung-warung dekat rumah. Namun, pemandangan istimewa yang kami temukan selama perjalanan adalah para perempuan yang bekerja menenun kain untuk dijual sebagai souvenir.

Belakangan, saya menyadari bahwa perempuan ini tak hanya sekedar menenun, namun juga memang telah diatur agar menjadi atraksi wisata dan objek fotografi wisatawan yang berkunjung. Karena saat saya mampir ke Kampung Cicakal (masih Baduy Luar) yang notabenenya bukan merupakan jalur wisatawan, aktivitas seperti ini tidak ditemukan.
Aktivitas menenun banyak dijumpai dalam jalur menuju Kampung Gajeboh

Akhirnya kami pun tiba di Kampung Gajeboh pada sekitar pukul 4 sore dengan sebuah tanda silang di layar kanan atas smartphone. Ya, setidaknya gadget kami masih dapat berfungsi sebagai penunjuk waktu. Di Kampung Gajeboh, kami pun langsung dibuat kaget dengan pedagang bakso dan cincau keliling yang ternyata mangkal di depan homestay. Mereka sendiri bukan warga Baduy, namun saat akhir pekan tiba, mereka mengikuti jalur perjalanan wisatawan yang melelahkan untuk menambah penghasilan.
Pedagang bakso keliling yang berjualan sampai Kampung Gajeboh


Sama halnya dengan kami, beberapa warga Kampung Gajeboh pun memiliki telepon seluler untuk berkomunikasi dengan dunia luar, namun untuk dapat mengirimkan pesan, mereka harus mendaki bukit terdekat agar sinyal operator telepon dapat dicapai. Sedangkan untuk mengisi daya baterai, mereka harus pergi ke kampung terluar, karena di sini sama sekali tak ada aliran listrik.

Tak jauh dari tempat kami tinggal, ada sungai yang digunakan warga untuk melakukan kegiatan Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Ya, salah satu tantangan besar kami di sini adalah kami pun harus melakukan hal yang sama dengan mereka. Namun untuk mandi, buang air, ataupun sekedar bermain air, kami dilarang untuk menggunakan area sungai yang ada setelah melewati sebuah jembatan. Alasan utamanya adalah agar air yang kami pakai tidak mengalir ke tempat di mana warga kampung melakukan aktivitasnya.
Jembatan bambu menjadi penyambung akses warga dari kampung ke kampung

Saat mentari mulai berganti peran dengan rembulan, kampung ini pun memperlihatkan wajahnya yang lain, gelap total, dan hanya mengandalkan benda-benda langit sebagai alat penerangannya. Mayoritas warga pun sudah tak berkeliaran di luar rumah. Awalnya, saya dan kawan-kawan lain yang sudah sangat terbiasa dengan teknologi dibuat mati gaya. Terkadang, jari-jari kami tak kuasa menahan gerak refleks untuk membuka layar smartphone dan mengharapkan ada beberapa notifikasi yang masuk.

Berbincang menjadi jalan keluar satu-satunya agar kami tetap berkutik menghadapi malam. Cerita akrab yang diselingi kelakar hangat, menambah sedap macaroni goreng yang digilir tangan-tangan lapar. Sesi tersebut membawa kami untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Mas Daud yang ternyata merupakan seorang fotografer National Geographic Asia. Ia juga terlahir sebagai orang Pakistan tulen. Karena sudah lama tinggal di Indonesia, hal tersebut sama sekali tidak tercermin dari cara bicaranya, sementara wajahnya pun tak begitu mencirikan tempat ia berasal.

Usai puas meleburkan hasrat berbicara, berburu “Bima Sakti”menjadi aktivitas lanjutan kami untuk menutup malam. Langit musim panas pun tampak sangat mendukung dengan menelanjangi gugusan bintang tersebut di tengah hitamnya angkasa Baduy saat itu. Bagi saya sendiri, inilah pertama kalinya saya dapat melihat dan mengabadikan langsung galaxy yang mempunyai alias Milky Way tersebut.
Milky Way terlihat jelas di atas rumah adat di tanah Baduy


Tak terasa, angka digital pada gawai telah menunjukkan waktu yang cukup larut. Masing-masing dari kami pun mulai memasuki rumah tinggal, meraba sedikit ruang untuk mengamankan tempat berbaring, lalu terbangun dengan cahaya subuh yang jatuh menembus celah bilik. Setelah satu per satu dari kami berhasil menuntaskan perjuangan menghapus rasa kantuk dan malas, kami pun beranjak untuk menghabiskan pagi di seberang sungai dengan mengambil beberapa foto dan berbincang, karena hanya di kawasan Baduy Luar inilah kami dapat merekam ingatan melalui kamera. 


Baca lanjutannya di: Catatan Ingatan dari Tanah Baduy | Part 2

Poster film 27 Steps of May, Courtesy of Green Glow Pictures


Setelah dianggurin selama hampir 1, 5 tahun lamanya, akhirnya saya mengapeli blog ini kembali. Karena domainnya sendiri sudah dibayar hingga 2021 nanti. Sungguh sayang bila blog ini lantas berkarat, padahal brand Elekesekeng sedang saya tumbuhkan dengan gencar di kanal YouTube.

Episode comeback ini akan saya isi dengan ulasan film 27 Steps of May yang digadang-gadang oleh para pengamat sebagai calon film Indonesia terbaik tahun ini. Sama halnya dengan saya dengan blog ini, Raihaanun pun melakukan epic comeback dengan berperan sebagai May yang menjadi pemeran utama film tersebut. Sebetulnya ia pernah juga muncul sebagai pemeran pendamping di film Salawaku (2016). Namun saya rasa, satu-satunya tempat yang cocok untuknya hanyalah dengan menjadi pemeran utama wanita.

Dalam Salawaku, Raihaanun berperan sebagai Binaiya, seorang wanita yang tengah menunggu kekasihnya untuk bertanggung jawab karena telah menghamilinya. Meskipun hanya muncul sebentar, aktingnya memang langsung mencuri perhatian, bahkan menjadikannya menonjol dibanding para pemeran utamanya sekalipun. Sebelumnya yang saya ingat dari Raihaanun adalah akting debutnya saat membintangi remake film Badai Pasti Berlalu 12 tahun silam.

Bak bangun dari tidur panjang, tiba-tiba saja sosok wanita ini kembali muncul setengah tahun lalu dalam teaser sebuah poster film yang cukup membuat orang bertanya-tanya, “film tentang apakah ini?” Dalam poster tersebut,  Raihaanun berdiri menghadap dinding berlubang yang terdapat sebuah tangan berkaus menjulurkan bunga kepadanya. Rasanya, hanya orang yang sudah menonton filmnya yang nanti akan mengerti adegan dalam poster tersebut.

Akhirnya saya berkesempatan menonton 27 Steps of May satu hari setelah penayangan perdananya di bioskop yang diputar dengan sangat terbatas. Saya tak mau ambil risiko menunggu terlalu lama untuk menonton film ini di tengah himpitan pertempuran Tony Stark, dkk, menyelamatkan semesta dari ambisi gila Thanos. Terbukti Ave Maryam dan Kucumbu Tubuh Indahku saja hanya mampu bertahan kurang dari seminggu di dua layar sinema yang disediakan di Bandung. Di luar dua nama film tersebut, cukup banyak film-film ‘bergizi’ yang akhirnya saya lewatkan, dan sulit saya dapatkan kesempatan untuk menonton film-film tersebut, dikarenakan televisi pun mempertimbangkan nilai komersil dari penayangannya yang mungkin tak akan begitu tinggi.

Selembar tiket 27 Steps of May yang sudah dalam genggaman kemudian membawa langkah saya masuk ke dalam studio 4 XXI Cihampelas Walk yang lebih banyak diisi oleh sepi. Mungkin hanya ada sekitar 30 kepala saja yang sudah pasang mata dengan posisi menghadap layar. Tak seperti menyaksikan para pahlawan super beraksi, kali ini saya memilih ditemani pikiran sendiri, karena memang sulit mencari teman nonton untuk film seperti ini. Kursi yang saya pilih pun sengaja sedikit jauh dari penonton yang lain untuk memberi sedikit ruang kontemplasi.

Sebelumnya saya sudah membaca sedikit beberapa ulasan non-spoiler yang mengatakan bahwa belasan menit akan berlalu tanpa dialog. Namun yang tak saya sangka adalah suasananya akan seintens ini, menguras energi, rasa, dan pikiran. Saya dipaksa merasakan trauma berat yang dialami oleh May pasca tragedi kekerasan seksual yang menimpa dirinya saat SMP, sekaligus memikirkan apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya hingga membuat ia mengisolasi diri selama delapan tahun lamanya, tanpa bicara. Setiap harinya ia hanya memakai baju yang sama, dan mengerjakan rutinitas kegiatan yang sama, hingga pada suatu hari, hadirnya sebuah lubang kecil di dinding kamarnya mengubah hidupnya secara perlahan.

Di samping Raihaanun, akting sang ayah yang diperankan oleh Lukman Sardi juga sangatlah memukau. Mungkin sudah lama sekali saya tak melihat aktingnya yang sedalam ini semenjak ia berperan sebagai penyandang autis di Rectoverso tahun 2013 silam.

Untuk mendapat penghasilan sekaligus melampiaskan kekesalannya terhadap dirinya sendiri yang tak mampu mengembalikan keadaan May seperti semula, ia kemudian bertinju. Sungguh pekerjaan yang cukup jarang diangkat dalam film-flm Indonesia, rasanya seperti melihat Jake Gyllenhaal di film Southpaw.

Pada dasarnya saya melihat 27 Steps of May yang dibuat oleh Ravi Bharwani ini bersifat timeless dan placeless. Artinya, seluruh adegan di film tersebut tak menunjukan latar waktu dan tempat dari kejadian tersebut. Tak ada adegan membuka handphone atau menonton televisi. Mode pakaian yang dikenakan May pun tak menunjukan hal tersebut. Kejadian ini bisa saja terjadi pada tahun 70-an, 80-an, 90-an, atau bahkan tahun-tahun sekarang. Untuk latar tempatnya sendiri mungkin baru sedikit tergambar jelang film berakhir, yakni kota dengan gedung-gedung tinggi besar. Namun saya rasa Ravi di sini menunjukan hal tersebut bukan untuk menunjukan tempat, tapi sebagai simbol mengenai dunia luar yang selama ini tak terjamah oleh May. Setting cerita seperti ini, saya rasa dapat dengan mudah diadaptasi oleh pembuat film di belahan bumi manapun untuk dibuat di negaranya sendiri tanpa mengubah konten, dan konteks.

Tour Kit dari Susur Jejak Spoorwegen

Manghev, jadi ayeuna teh moal tumpak kareta?” tanya saya kepada Mang Hevi.“Kumaha carana? Jalurna ge geus euweuh,” jawab Mang Hevi sambil tertawa geli. “Tong boro ka Ciwidey, nepi ka Kordon ge geus moal bisa atuh,” samber Mang Irfan yang juga ikut seuri. Dan saya baru sadar begitu bodohnya saya menyadari hal itu, seumur hidup di Bandung, mana ada orang ke Ciwidey naik kereta api, padahal bukan satu-dua kali saya ke daerah selatan Bandung. Anggap saja kelinglungan saya pagi itu disebabkan oleh pekerjaan yang super padat belakangan hari. Pantas saja titik kumpul tour kali ini bukan di stasiun kereta. By the way, dua orang yang berbincang dengan saya ini merupakan kawan saya dari Komunitas Aleut yang terlibat dalam “Susur Jejak Spoorwegen” yang diselenggarakan oleh MooiBandoeng. Imbuhan “mang” pada nama panggilan saya kepada mereka menandakan perbedaan usia yang harus dijaga.

Perjalanan baru, tentunya menghasilkan pengalaman dan perjumpaan dengan orang baru pula. Beberapa peminat sejarah, travel blogger, dan tanpa diduga seorang kawan yang sebelumnya hanya saya kenal melalui instagram dengan akun @chubycheek. Hari itu saya baru tahu kalau nama aslinya Retno. Itupun karena Bang Ridwan dari MooiBandoeng memperkenalkan akun instagram saya kepada peserta tour lainnya di mobil elf. Retno datang bersama kawannya Juan,seorang travel blogger yang dipanggil sesuai pelafalan Bahasa Indonesia yaitu “Juan”, bukan “Yuan” ataupun “Khuan.”
Sesi perkenalan hangat dan sedikit cerita dari Bang Ridwan tentang kawasan Buah Batu era 80-an membuat perjalanan kami tak begitu terasa, hingga kendaraan berhenti di sebuah area lapang dengan bangunan hijau bertuliskan Stasiun Barat Desa Banjaran. Stasiun yang tentunya kini sudah tak terlihat kereta api terparkir di pelatarannya. Di dekatnya hanya ada sebuah gudang tua dengan besi-besi yang menonjol dari balik jalan, menandakan jalan di kampung ini dibangun di atas rel. Yak, semenjak jalur kereta ke arah selatan Bandung mati, orang-orang pun mulai mendirikan peradaban di atasnya.
Bangunan Stasiun Banjaran yang Kini Menjadi Balai RW

Rintik hujan mulai turun seiring dengan penjelasan Manghev yang bertindak sebagai pemandu bersama Manglex pada tour kali ini. Kami pun enggan berlama-lama  berdiri di stasiun Banjaran, karena masih banyak titik tujuan yang harus kami datangi. Dan destinasi ke-2 adalah Jembatan Kereta Api Sadu yang cukup populer dijadikan sebagai tempat berfoto karena dapat terlihat langsung dari jalan yang menuju ke Ciwidey. Kedatangan saya ke Jembatan Sadu bukan yang pertama, karena sebelumnya, saya pun pernah mengunjungi jembatan ini bersama Komunitas Aleut pada tahun 2016, persis dengan nuansa cuaca yang sama, yaitu hujan ringan disertai kenangan. Yak, maksudnya  kenangan saat berkunjung ke mari.

Jembatan Sadu ini tak begitu lebar, dan tak memiliki besi pengaman di sampingnya. Bagi yang takut ketinggian, mungkin akan merasa “degdegser” saat berjalan melintasinya. Beberapa kawan pun lebih memilih untuk menikmati gorengan dan secangkir kopi di warung. Tentunya berbeda dengan penduduk sekitar yang dapat menaklukan jembatan ini dengan mudahnya, bahkan dapat sambil mengendarai kendaraan roda dua. Kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama di jembatan ini untuk memberi waktu bagi yang ingin berfoto, melihat-lihat kode yang tertera di rangka besi jembatan, serta menghabiskan gehu di tangan kanan.

Setelah dari Jembatan Sadu, kami bergerak menuju Jembatan Kereta selanjutnya, yaitu Jembatan Rancagoong. Desain bagian rangka besinya sama persis dengan Jembatan Sadu. Namun yang membedakannya adalah sebuah jembatan batu yang dibangun di sebelahnya. Pemandangan yang dapat dilihat di sini pun cukup memanjakan mata. Ada sebuah terasering di salah satu sisinya dengan hanya satu petak sawah yang ditanami. Karena penasaran dengan bagaimana bentuk jembatan ini secara utuh, maka kami pun turun ke bawah jembatan, mendengar cerita dari Manghev, mengambil beberapa foto, dan berbincang dengan petani yang sedang bekerja di bawahnya.

“Tos aya genep mah ti luhur dieu,” celetuk seorang petani saat saya meminta izin melintas. Saya pun menghentikan langkah dan bertanya balik karena penasaran, “ Genep naon bu? Jalmi? Luncat?” “Muhun, mineng di dieu mah,” jawabnya. Mendengar cerita beliau, saya pun sedikit bergidik. Rupanya jembatan ini tak kalah pamornya dengan Rooftop Pasar Baru di Bandung sebagai tempat mengakhiri hidup. Saat akan kembali naik, Manghev menunjukkan desain jembatan batu yang dibuat sangat rapi untuk ukuran konstruksi zaman dulu. Dari garis yang membentuknya memang sangat berbeda bila dibandingkan dengan konstruksi batu zaman sekarang, garisnya terlihat dikerjakan dengan detail dan sangat estetis.

Untuk ukuran pegawai korporat yang sudah jarang berolahraga, naik kembali ke atas jembatan Rancagoong ini sudah dapat dihitung sebuah aktivitas hiking yang cukup membuat bunyi nafas layaknya motor yang 6 bulan belum di-service, begitu kepayahan. Kami pun bergegas pergi ke titik berikutnya, namun kali ini bukan karena hujan yang turun, namun karena perut yang sudah meraung. Kami berhenti sejenak untuk men-charge daya gadget dan tubuh, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke bekas Stasiun Ciwidey yang memiliki sebuah turn table yang masih dapat dijumpai di tengah perkampungan. Awalnya saya agak bingung saat diceritakan ada turn table di sini, dikarenakan turn table dalam imajinasi saya merupakan sebuah alat yang digunakan DJ untuk memutar piringan. Dan rupanya turn table ini merupakan sebuah alat untuk memutar balik kepala kereta api.

Saat akan beranjak ke lokasi terakhir yaitu Jembatan Kereta Kabuyutan, kami ditawari untuk berkunjung sejenak di Perkebunan Teh Rancabali yang pada kesempatan tersebut luar biasa berkabut. Perkebunan teh ini merupakan salah satu atraksi wisata yang digemari wisatawan dikarenakan polanya yang dibuat unik dan tentu menjadi  objek yang instagrammable. Setelah mengambil beberapa foto, kios jagung bakar di samping jalan raya pun menjadi pilihan untuk menghangatkan diri. Hujan yang kembali turun dengan lebih deras dari sebelumnya seolah menjadi tambahan kenikmatan sendiri saat menyantap jagung yang fresh diangkat dari panggangan arang.

Hujan reda, kami pun berangkat ke lokasi Jembatan Kabuyutan berada. Selain Jembatan Sadu, Jembatan Kabuyutan ini juga cukup populer di jagad instagram. Hanya saja sedikit lebih menyeramkan untuk berfoto di sini, karena bagian tengah jalannya tak dibangun apa-apa, masih dibiarkan seperti aslinya.  Namun tetap saja, beberapa kawan rela menguji nyalinya untuk berfoto di sini.


Dari perjalanan ini, saya jadi membayangkan, andai saja jalur kereta ini benar-benar masih aktif, perjalanan wisata ke Ciwidey tentu tidak akan semacet seperti yang banyak dikeluhkan wisatawan. Daripada bermacet ria di jalan, tentu para wisatawan akan lebih banyak memilih naik kereta. Bagi saya pribadi, perjalanan berkereta selalu lebih menyenangkan. Duduk di samping jendela sambil melihat bagaimana pemandangan dengan cepat terus berganti, sungguh dapat menjadi kegembiraan tersendiri. Namun tentunya yang sudah lama hilang akan sulit untuk kembali, tapi bukan berarti tak dapat direnungi. Karena masa sekarang ada karena masa lalu, dan tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa lalu.

Kopi Toko Djawa
Dari pakaiannya, jelas ia seorang siswi sekolah menengah atas. Dengan sedikit ragu, ia kemudian berjalan mendekati dan menyapa seorang pria yang sedang berdiri di sebuah toko buku. Dari raut wajah keduanya yang tersipu, tersirat ada sebuah rasa yang lama tertimbun telah melampaui batas waktu. Begitulah salah satu cuplikan adegan populer yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta SCTV, tiap kali akan menayangkan sebuah program bertemakan keluarga. Toko buku yang menjadi latar dari adegan tersebut adalah Toko Buku Djawa yang terletak di Jalan Braga, Bandung. Namun, menjadi tontonan keluarga Indonesia selama-bertahun-tahun tak menjamin toko buku tersebut kemudian menjadi laris manis diserbu para turis. Karena yang diburu orang yakni hanya bagian luar toko bukunya saja yang lalu banyak dijadikan latar untuk tempat berfoto. Toko Buku Djawa pun resmi tutup usia pada tahun 2015 silam, sampai akhirnya bereinkarnasi menjadi Kopi Toko Djawa. Dari yang menjual aksara, kini menawarkan cita rasa.

Dari tampilan luar, nyaris tak ada yang berubah dari saat sebelumnya menjadi Toko Buku Djawa. Bangunan yang sama, jenis font nama yang sama, jendela dan pintu yang sama, hanya saja aktivitas di dalamnya yang berbeda. Gaya interior ala coffee shop modern nampak sangat terasa di setiap sudutnya. Namun, ukuran ruangannya sendiri tak begitu besar. Untuk dapat menikmati secangkir kopi sambil larut dalam sebuah perbincangan, hanya tersedia sebuah meja panjang untuk 10 orang di pojok ruangan dan sebuah meja kecil di sampingnya khusus untuk yang berpasangan. Adapun spot lainnya hanya tersedia dua bangku panjang yang sebenarnya cukup nyaman untuk duduk santai, tapi tidak memiliki meja terpisah untuk menyimpan kopi dan cemilan. Beberapa buku dan majalah tersedia di setiap tempat duduk, namun saya rasa bukan tipe-tipe buku ideal untuk dibaca, tapi tipe buku yang cukup manis untuk dibingkai dalam feed instagram bersama secangkir kopi.
Suasana di dalam Kopi Toko Djawa

Menu yang ditawarkannya pun sebenarnya tak begitu jauh berbeda dari coffee shop yang lain, masih seputar espresso,  cappuccino, serta latte dan beragam modifikasi rasanya. Kopi Toko Djawa mengklasifikasikan jenis-jenis kopi tersebut masuk ke dalam “Kopi Mewah,” dengan harga yang sebenarnya cukup wajar. Justru menu yang menarik perhatian saya ada di dalam kolom “Kopi Biasa.” Ada menu Es Kopi Susu dan Es Kopi Susu Toko Djawa. Karena memang cuaca Bandung yang belakangan hari sedang panas-panasnya, saya rasa menu-menu minuman dingin ini akan sangat tepat. Es Kopi Susu Toko Djawa kemudian menjadi pilihan saya, sebab biasanya menu dengan embel-embel nama toko selalu memiliki racikan yang istimewa. Selain Es Kopi Susu Toko Djawa, menu unik lainnya ada kopi yang dicampur dengan air kelapa. Saya pun sebenarnya sempat ingin memilih menu tersebut, namun sayangnya material air kelapanya sedang tidak ada.
Pembuatan Kopi di Kopi Toko Djawa

Tak lama kemudian, Es Kopi Susu Toko Djawa pun telah hadir di meja bersama sebuah cheese croissant hangat yang saya pilih sebagai pendamping. Jadi, alasan mengapa nama menu ini disebut Es Kopi Susu Toko Djawa, dikarenakan gulanya sendiri menggunakan gula Jawa yang telah dicairkan, sama seperti yang digunakan pada cendol. Kemasannya pun menggunakan gelas plastik yang sering digunakan oleh minuman-minuman yang dijual di mall, lengkap dengan label nama Kopi Toko Djawa yang berkesan vintage. Bagi saya, minuman ini cukup berkesan. Rasa gula Jawa cairnya memberikan kesan tradisional pada kopi ini. Sedangkan untuk cheese croissant-nya sangat renyah namun berisi, tak hanya sekedar croissant yang kalau dalam bahasa Sundanya itu ngeprul. Apalagi harga croissant ini hanya Rp.15.000 saja, cukup murah bila dibandingkan dengan cemilan pendamping kopi yang biasanya mencapai harga di atas Rp. 20.000.
Es Kopi Toko Djawa dan Cheese Croissant


Secara keseluruhan, konsep yang disajikan oleh Toko Kopi Djawa ini cukup menarik. Karena tempatnya yang tak terlalu besar, maka ia menawarkan konsep coffee shop on the go. Jadi, walaupun tersedia beberapa kursi dan cangkir untuk dine in, Toko Kopi Djawa menyediakan juga kemasan-kemasan yang mudah dibawa jalan-jalan. Selain itu, penggunaan atribut yang masih memiliki kesan yang lekat dekat Toko Buku Djawa memberikan perasaan yang menyenangkan bagi saya yang sebelumnya cukup akrab dengan Jalan Braga.
Kopi Toko Djawa