Semenjak mulai populer empat tahun lalu, terhitung sudah tiga kali saya mengunjungi Curug Cisanggarung atau yang lebih dikenal dengan Batu Templek. Padahal Batu Templek itu adalah nama jenis batuan yang banyak ditemukan di kawasan wisata alam tersebut. Mungkin karena itulah, pengelola dan warga sekitar mulai mengedukasi melalui plank penunjuk lokasi bahwa nama tempat ini adalah Curug Cisanggarung.
Jembatan gantung menjadi atraksi baru di Curug Cisanggarung Batu Templek
Selain beberapa plank bertuliskan Curug Cisanggarung yang mulai dapat terlihat di sekitar lokasi, rupanya tempat ini mengalami banyak perubahan lain dari sejak saya mampir untuk menyaksikan acara penutupan Bandung International Art Festival (BIAF) yang digelar di sini tahun lalu.
 
Curug Cisanggarung Batu Templek menjadi venue penutupan Bandung International Art Festival 2018
Untungnya, Curug Cisanggarung tidak didandani sampai terlalu menor. Setidaknya, tidak ada ornamen berbentuk jantung hati, ataupun dekorasi warna-warni yang justru dapat merusak wajahnya. Spot selfie sih ada, tapi tidak berlebihan. Hanya sebuah papan kayu bergambar tubuh manusia purba, patung dinosaurus, dan sebuah jembatan gantung yang panjangnya mungkin tak lebih dari 300 meter.

Keberadaan jembatan gantung tentu paling menarik perhatian saya. Mungkin idenya dari Jembatan Situ Gunung, Sukabumi, yang sedang hits belakangan. Saya pun mencoba menyeberangi jembatan ini dengan perasaan sedikit was-was, terutama saat mencapai kayu di bagian tengah jembatan yang mengeluarkan bunyi cukup nyaring saat diinjak. Memang keberadaan tanda di mulut jembatan yang mengatakan “untuk keselamatan bersama, gunakan 3 orang” cukup menjadi sebuah peringatan. Akhirnya ketika kembali menuju ke tempat parkir motor pun, saya lebih memilih untuk menyeberangi sungai saja.

Sama seperti saat pertama kali mampir ke sini tiga tahun silam, sungainya kotor bak bajigur. Tapi saya rasa warna air sungai yang kecoklatan ini dihasilkan oleh kandungan warna batuan di sini. Karena bila melihat air yang mengalir di atas curug, warnanya lebih bening. By the way, Curug Cisanggarung ini memang tidak seperti Curug Cimahi, atau Curug Malela yang berarus deras. Air yang jatuh dari puncak lebih tepat disebut percikan. Apalagi bila saat dulu mampir ketika musim kemarau, air terjun ini menjadi tetesan.
Curug Cisanggarung Batu Templek Bandung

Batu Templek di Curug Cisanggarung ini dikenal sebagai jenis batuan yang sering dipakai untuk dekorasi rumah. Selain karena kekuatannya, teksturnya pun sangat unik. Bahkan menurut Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung dalam salah satu bukunya, Batu Templek inilah salah satu material yang digunakan untuk membangun Gedung Sate pada masa pemerintahan Kolonial Belanda.

Untuk ukuran tempat wisata, Curug Cisanggarung ini memang terbilang sangat sepi. Dari beberapa kali kunjungan saya ke tempat ini, saya tidak pernah bertemu dengan pengunjung lainnya. Tempat parkir dan pos ticketing­-nya pun tak pernah ada yang menjaga, meski ada harga tertera. Alhasil, kunjungan saya ke tempat ini selalu haratis.
 
Salah satu gimmick yang ditambahkan di kawasan wisata Curug Cisanggarung Batu Tempkek Bandung
Bagi yang ingin mengunjungi Curug Cisanggarung Batu Templek Bandung ini, sebaiknya menggunakan kendaraan roda dua yang kondisinya cukup prima. Selain karena banyak jalan yang menanjak, lebar jalan pun agak sempit untuk menampung kendaraan roda empat. Jalan menuju lokasi cukup mudah ditemukan di seberang Lapas Sukamiskin. Namun pastikan untuk mengikuti plank petunjuk arah yang baru, karena ia akan mengarahkan akses jalan yang lebih aman untuk dilintasi. Karena sebelum ada plank-plank tersebut, saya selalu mengikuti jalur lurus melewati jalanan berbatu  dengan turunan tajam.


Tanda dari Wildan untuk saya bergerak sudah muncul melalui pesan singkat di whatsapp, padahal angka di sudut layar gawai sudah menunjukkan pukul 22.30. Saya ragu, masih adakah tempat makan yang buka pada jam tersebut. Tak berapa lama kemudian, Wildan pun membagikan lokasi tempat tujuan wisata kuliner mala mini yang ternyata tak jauh dari rumah saya, yaitu di kawasan Cibadak. Ya, pantas saja kalau Cibadak, jalanan yang dikemas sebagai wisata Pecinan di Kota Bandung ini memang masih sangat hidup bahkan hingga lewat tengah malam nanti.
Kobe Teppanyaki Cibadak yang selalu ramai pengunjung.
Kobe Teppanyaki adalah tujuan kami malam itu. Ironisnya, saya yang notabene merupakan penduduk setempat, belum pernah mendengar nama tersebut, sehingga saya sempat meragukan kualitas menu yang akan dihidangkannya. Apalagi, kawasan Cibadak ini juga dikenal juga sebagai kawasan wisata kuliner yang banyak menyajikan makanan non-halal. Kekhawatiran tersebut dengan segera ditepis Wildan ketika bertemu di pertigaan Jl. Cibadak dan Jl. Pajagalan yang merupakan lokasi dari lapak Kobe Teppanyaki. Ia mengaku sudah memastikannya sebelumnya, karena ia sendiri pun cukup sering mampir ke tempat tersebut bersama kawan-kawan Muslim lainnya.

Setelah sampai di Kobe Teppanyaki, barulah saya langsung mengenali tempat ini. Tempatnya sebetulnya cukup menyolok karena keramaian pengunjungnya, namun plank namanya sendiri kurang dapat terlihat karena posisinya terlalu tinggi dengan kondisi penerangan yang lebih condong ke gelap. Saya sendiri hampir setiap hari selalu melewatinya saat pulang kerja.

Dapur Kobe Teppanyaki ini bisa dibilang dapur tersibuk sepanjang kawasan kuliner Jl. Cibadak. Lima sampai enam pegawai hampir selalu terlihat non-stop memasak di dapur yang sepertinya sengaja ditaruh di luar. Pelayan yang hilir mudik, pengunjung yang keluar masuk, serta atraksi api yang sesekali muncul dari penggorengan, seolah semakin ingin mendapat kepastian lirikan setiap pejalan kaki, serta pengguna kendaraan yang melintas.

Satu jam setengah menjelang pergantian hari, namun nampaknya tempat ini enggan dikalahkan waktu. Suasana keramaiannya masih sama seperti pukul 8 malam. Karena kali ini saya dijanjikan traktir oleh Wildan, maka saya hanya memindai buku menu hanya sekilas mata. Cukup banyak, dan lengkap sepertinya hidangan Jepang yang disajikan di sini. Mulai dari sushi, sukiyaki, ramen, dan tentu saja teppanyaki yang kemudian dipilh Wildan untuk kami bertiga, termasuk salah seorang rekan kantornya yang ikut serta. Selain masakan Jepang, Kobe Teppanyaki juga menyediakan aneka menu-menu Asia lainnya. Harganya kebanyakan berkisar di antara Rp40.000-Rp60.000-an. Cukup tinggi memang harganya. Tapi itu hanya  kesan pertama saja, hingga tiga porsi teppanyaki mendarat di meja kami.

Porsi teppanyaki yang dihidangkan sangat banyak dengan komponen yang lengkap. Ada udang, cumi, daging sapi, daging ayam, jamur, dan aneka sayur. Penyajiannya yang menggunakan hotplate juga menjadi daya tarik tersendiri. Tadi kami sempat melihat kobaran api yang sangat besar, hingga seolah akan membakar habis tempat ini. Namun rupanya, atraksi kobaran api tersebut adalah finishing movement dari proses masak teppanyaki, sekaligus sebagai tanda bahwa harus ada pelayan yang segera membawakan hidangan tersebut ke meja sang pemesan. Hal ini untuk menjaga kehadiran asap, aroma, serta gelembung-gelembung didih yang masih muncul di permukaan pada lima menit pertama setelah dihidangkan. Secara visual, hal ini memang menjadi sasaran para pengabdi instastory yang tentu juga merupakan sebuah promosi cuma-cuma bagi restoran.
Satu porsi teppanyaki di Kobe Teppanyaki
Tentunya, bukan cuma soal tampilan. Karena dari segi rasa pun, saya rasa Kobe Teppannyaki ini masakan Jepang terenak yang pernah saya makan. Racikan bumbu, serta kuahnya menjadi pembeda. Rasanya tidak terlalu asin, ataupun kemanisan. Pas. Kuahnya tidak encer, dan tidak terlalu kental, tapi bisa membuat seluruh komponen makanan di dalamnya terasa lezat. Bahkan saat hotplate sudah hampir kosong pun, saya masih mengumpulkan sedikit kuah yang masih tersisa untuk disuapkan ke mulut.

Pengalaman kuliner yang berkesan di Kobe Teppannyaki ini cukup menjadi alasan untuk mampir beberapa kali ke tempat ini dengan sobat lainnya, keluarga, dan si calon istri. Dalam total empat kali kunjungan berikutnya ke sini, saya tetap memilih Teppanyaki, sementara orang-orang yang saya ajak kemari direkomendasikan untuk menyicipi menu yang lain. Tentu saja hal ini agar saya bisa menjajal rasa menu yang lain, tanpa harus kehilangan kenikmatan menyantap teppanyaki yang segera sudah langsung menjadi salah satu hidangan paling digemari.

Sama seperti teppanyaki, menu-menu lainnya seperti nasi goreng, kwetiauw, sukiyaki, tomyam, dan steamboat juga memiliki ukuran porsi yang sangat besar. Bahkan saat saya membawa kedua orang tua untuk makan di sini, keduanya hanya mampu makan sepertiga dari makanan yang mereka pesan. Untung saja, sisa makanannya dapat mereka diminta untuk dibawa pulang. Tak butuh waktu lama untuk ibu mencintai makanan di sini. Hanya selang hitungan beberapa hari, Ia sudah minta untuk diantar ke Kobe Teppanyaki untuk membeli Tomyam secara take away, dengan alasan sedang malas masak. Satu porsi Tomyam tersebut sudah bisa dibagi ke dalam empat porsi untuk makan malam.

Bila mencari makanan enak di Bandung, saya tentu akan merekomendasikan Kobe Teppannyaki sebagai salah satu tempat tujuan rekomendasi di Bandung. Walaupun memang dari segi tempat agak kurang nyaman. Tempatnya sebetulnya luas, namun selalu dipadati oleh pengunjung. Hal ini membuat udara di dalamnya terasa sangat gerah. Antrian yang selalu terlihat mengular, membuat kita merasa tidak enak kalau harus terlalu lama diam di sana. Anyway, poin plus lainnya adalah pelayanan yang tidak hanya cepat, tapi juga sangat ramah. Di tengah ke-hectic-an suasana di Kobe Teppannyaki, kita dapat melihat seorang ibu yang dapat mengatur flow pelayanan dengan sigap, serta memberikan semangat, dan senyuman yang menular.
 
Suasana di Kobe Teppanyaki
Kobe Teppanyaki
Jl. Cibadak No. 101
Bandung


Ini kali kedua saya mendapatkan privilege untuk bermalam di Verona Palace Bandung. Bila tiga tahun lalu saya datang dengan status sebagai peliput newbie di sebuah media, kali ini kesempatan itu datang saat saya telah ‘lulus’, dan tengah gencar membangkitkan nyawa laman pribadi yang sempat tertidur lama.

Selang tiga tahun, Verona Palace Bandung masih sama seperti yang dulu saya ingat ketika menginjakkan kaki pertama kali di ­lobby. Kesan tentram, dan elegan, masih melekat pada desain dan dekorasi ruangannya. Tidak ada yang berkurang, namun bertambah dengan kehadiran beberapa hiasan, seperti miniatur kapal phinisi yang sebetulnya ukurannya tidak mini-mini amat yang berada di lantai M. Lalu ada Venesia Restaurant dengan open barnya, serta Sugarush CafĂ© yang intim, dengan warnanya yang masih identik dengan merah menyala.
Sugarush Cafe di Verona Palace

Selain Venesia, Verona Palace Bandung juga menggunakan nama-nama kota di Italia lainnya, seperti Florence, dan Milan sebagai nama meeting room yang mereka tawarkan kepada customer-nya. Mulai dari yang berukuran 10, hingga 300 orang. Dengan keragaman fasilitas meeting yang dimiliki, mereka bisa dikategorikan juga ke dalam conventions hotel. Lokasinya yang strategis yang dekat dengan pintu keluar Tol Pasteur, saya rasa membuat mereka kemudian menjadi salah satu hotel favorit untuk melakukan perjalanan bisnis.
Florence meeting room di Verona Palace
Bila dulu saya mendapatkan kamar tipe superior, kali ini saya berkesempatan mencoba bermalam di tipe kamar executive-nya. Tipe kamar ini tentu lebih luas. Apalagi ada beberapa cermin besar yang menempel di sisi-sisinya yang makin menambah kesan luas pada kamar. Istimewanya lagi, kamar ini memiliki ruang baca yang menjorok ke luar. Bila malam suasananya akan terasa temaram, dan saat pagi akan sangat terasa hangatnya mentari. Di dalam ruangan ini juga terdapat peralatan untuk membuat kopi, dan teh, yang rasanya menjadi pelengkap sejati kualitas waktu saat sedang ingin menyendiri.
Executive Room di Verona Palace Bandung

Dari keseluruhan hal yang ditawarkan oleh Verona Palace Bandung, sebetulnya sejak dulu saya paling menyenangi cita rasa makanannya. Walau Verona Palace Bandung adalah hotel bernuansa Italia, namun hidangan lokal tak luput menjadi perhatiannya. Pilihannya sederhana, namun terasa istimewa. Seperti saat sarapan pagi, ada dua makanan yang menjadi favorit saya, yaitu cap cay dan bakso. Padahal dua masakan ini dapat dengan mudah saya jumpai di luar, tapi rasa keduanya belum ada yang seenak ini.

Pada malam sebelumnya, saya juga berkesempatan mencoba sebuah hidangan yang bahkan baru akan diperkenalkan pada bulan depan. Hidangan tersebut diberi nama Grilled Chicken with Heavenly Angel Sauce. Nama Heavenly Angel ditambahkan sebagai tema yang diangkat oleh Verona Palace Bandung untuk merayakan hari jadinya yang jatuh pada setiap bulan November. Menu ini dapat dihidangkan pula dengan pilihan telur setengah matang yang memang saya sukai. Mungkin telur inilah yang digambarkan sebagai angel pada hidangan ini. Kuning telur ini kemudian melebur dengan saus racikan khusus yang dibuat tim dapur Verona, sehingga menjadi rasa saus yang benar-benar terasa baru di lidah. Sangat cocok dengan potongan fillet ayam, sayur, dan jamur yang menjadi pemain utama di menu ini.
 
Grilled Chicken with Heavenly Angel Sauce ala Verona Palace
Buat yang penasaran dengan rasa Grilled Chicken with Heavenly Angel Sauce ini, kalian bisa datang langsung ke Verona Palace Bandung pada bulan November mendatang. Verona Palace Bandung juga dapat menjadi tujuan staycation untuk kalian yang ingin berlibur bersama keluarga, tapi tidak ingin pergi terlalu jauh dari pusat Kota Bandung. Harga kamarnya pun sangat terjangkau, lho.

Undangan dari Verona Palace ini terasa sangat istimewa, karena ini merupakan salah satu bentuk apresiasi Verona Palace Bandung kepada blogger dalam rangka perayaan Hari Blogger Nasional. Artinya, walaupun titel blogger yang saya pegang terbilang masih bersifat sampingan suka-suka, tetapi ternyata saya telah mendapatkan sebuah apresiasi yang luar biasa dari Verona. Oleh karena itu, saya berterima kasih sekali pada Verona Palace atas undangan ini, dan saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Verona Palace Bandung. Semoga semakin jaya, dan tetap menjadi favorit wisatawan saat singgah di Bandung.

Verona Palace
Jl. Surya Sumantri No. 36 Bandung
(022) 2020 825

Tujuan terakhir saya di Tasik ini paling tak lazim dibandingkan dengan tempat-tempat yang sebelumnya dikunjungi. Mentari Hati bukanlah sebuah kedai kopi, ataupun taman kanak-kanak, apalagi judul lagu ciptaan Bung Fiersa. Nama tersebut melekat kepada sebuah yayasan yang berfungsi sebagai mental hospital bagi para penderita gangguan kejiwaan yang terlantar di Tasikmalaya. Dan tempat inilah yang kemudian direkomendasikan Wildan untuk saya datangi pada hari pamungkas liburan saya April tahun lalu.
Mentari Hati didirikan lebih dari satu dekade lalu oleh Pak Dadang Heryadi yang merupakan mantan pegawai PLN. Melihat wajah dan perawakannya, ia masih terlihat cukup muda, mungkin masih sekitar 40 tahunan. Itu artinya, saat dia memutuskan untuk resign dari PLN, usianya sangatlah muda. Pagi itu pun kami berbincang, berkenalan, sekaligus mendapat banyak insight baru dari beliau.

Jangan bayangkan sebuah rumah sakit layaknya seperti yang kalian lihat di film Joker. Karena Yayasan Mentari Hati hanyalah sebuah rumah berukuran sedang, dengan halaman yang sangat luas. Semua pasien di sini sama sekali tidak diketahui keberadaan keluarganya, sehingga tidak memungkinkan bagi Pak Dadang sebagai pengelola mendapatkan biaya perawatan. Ia mengaku bahwa pengelolaan yayasannya tersebut betul-betul mengandalkan donasi dari relawan.
 
Pak Dadang Heryadi, Founder, dan Pengelola Yayasan Mentari Hati
Setelah sowan, kami pun diizinkan untuk masuk ke dalam lapangan. Dari gesturnya yang santuy, nampaknya ini bukan kali pertama bagi Wildan berkunjung kemari. Sedangkan saya. Saya berjalan mengendap dengan perasaan was-was, layaknya maling yang hendak menggondol perhiasan emas dari lemari rumah orang. Ya, mau gimana lagi, ketemu satu orang di jalan pun sudah ngeper duluan. Nah ini harus berhadapan dengan 120 orang sekaligus dalam satu tempat yang dibatasi pagar. 

Tapi rupanya, perasaan hati dag dig dug itu hanya muncul 30 menit pertama saja. Detik, dan langkah selanjutnya yang ditempuh kemudian terasa lebih lepas, ketika saya menyadari bahwa tak ada hal yang perlu ditakuti dari mereka. Mereka pun manusia biasa. Awalnya, memang mungkin saya takut akan ada tindakan-tindakan yang tak diduga. Tapi justru, tindakan yang diduga dari mereka itu sangatlah hangat, dan manis. Saat mereka melihat kamera yang dikalungkan di leher saya, dengan spontan mereka meminta foto, sambil saling berlomba berpose dengan gaya paling gokil. Semakin lama saya berdiri di sana, saya semakin merasa biasa saja, dan sedikit lebih bisa mendalami apa yang mereka rasakan. Walau kadang, gerakan mereka tuh aneh, bagai hidup masing-masing, seperti terlihat tidak terkoneksi satu sama lain dengan orang, ataupun benda di sekelilingnya.

Suasana sarapan di Yayasan Mentari Hati

Dari seluruh kawan-kawan Mentari Hati, tentu tingkah polahnya tak semuanya sama. Sama saja seperti kita di dalam sebuah lingkungan sekolah atau kantor. Ada yang bawel, lincah,  pendiam, atau bahkan terlihat seperti seorang pemimpin bagi kawan-kawannya yang lain. Tapi memang, beberapa di antaranya ada yang terlihat agak lebih parah sakitnya, sehingga ketika ia diberi makan di atas piring plastik, ia sengaja menumpahkannya ke tanah, lalu memungut butiran-butiran nasi tersebut dari tanah untuk baru kemudian ia makan. Foto-foto yang saya pilih untuk ditampilkan di sini memang lebih memperlihatkan kawan-kawan yang secara gaya berpakaian, dan aktivitas, tampak lebih sehat. Tak tega rasanya untuk menampilkan foto yang terlalu ekstrim.

Setelah hampir dua jam berada di area lapangan, saya dan Wildan pun keluar pagar. Setelah saya keluar, ada seorang bapak dari dalam yang memanggil saya kembali. Rupanya ia meminta diambilkan beberapa puntung rokok yang berada di sekitar kaki saya. Padahal dia sendiri sedang merokok. Pak Dadang yang melihat kejadian tersebut, melarang saya untuk memberikannya. Sepertinya bapak tadi mencoba untuk memperpanjang kenikmatan dari menyesap rokok yang sebetulnya sudah sangat pendek pula di jarinya. Namun, saya heran juga, kenapa ada banyak sekali puntung rokok di sini. Apakah kawan-kawan Mentari Hati ini memang diizinkan ke warung untuk beli garfit? Pak Dadang pun berkilah mendengar dugaan saya. Ia bercerita hal ini dikarenakan banyak supir-supir truk antar kota yang mangkal tepat di belakang yayasan ini. Saat malam, mereka sering sekali menjadikan area depan yayasan ini untuk merokok, dan mabuk-mabukan. Ia pun kemudian menunjukkan beberapa botol kaca yang tergeletak beberapa meter dari tempat kita berbincang.
 
Beberapa Kawan Mentari Hati berpose dan minta untuk dipotret
Karena matahari sudah semakin tinggi, dan udara semakin panas, saya dan Wildan pun kemudian mengucapkan terima kasih, dan berpamitan dengan Pak Dadang. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa bagi  saya  pribadi. Kunjungan saya ke Mentari Hati berhasil mengubah stigma yang saya pendam terhadap kawan-kawan dengan gangguan kejiwaan, bahwa mereka sebetulnya bukan untuk ditakuti, tapi untuk dibantu. Sebetulnya, saya sempat diberi saran oleh seorang kawan di komunitas street photography di Bandung, untuk membuat sebuah project foto mengenai hal ini. Dengan tujuan, dapat menularkan stigma saya yang sudah berubah terhadap mereka ke lebih banyak orang. Namun hal ini, belum dapat terwujud, dikarenakan keterbatasan waktu, energi, dan biaya. Mau bagaimanapun, memang fotografi bukan pekerjaan utama saya. Tapi, semoga suatu saat nanti, ide yang disarankan ini bisa saya perjuangkan.


Baca juga: Explore Tasikmalaya Part 2: Santri, Masjid, dan Cirahong

Yayasan Mentari Hati
Jl. K. H. E. Z. Muttaqin, Mangkubumi
Tasikmalaya
Donasi:
Bank Mandiri a/n Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya 131.00.1199.7642
Contact Person: 0852 2322 3239 / 0852 2236 6615 (Dadang Heryadi)


Kebetulan saya menulis artikel ini di peringatan Hari Santri. Iya, Tasikmalaya yang tahun lalu saya kunjungi ini memang dikenal pula sebagai Kota Santri. Lagu “Suasana di Kota Santri” yang versi GIGI pun mengalun di kepala saat mencoba mengingatnya. Setidaknya saat mampir ke daerah Manonjaya, suasana tersebut terasa dengan pasti. Banyak sekali pemuda berkopiah, dan bersarung yang saya jumpai di sekitar sini, termasuk ketika mengisi bensin, membeli pulsa, dan jajan di Indomaret. Pun ketika sedang hunting foto di Jembatan Cirahong. Hampir dalam setiap gilir lalu lintasnya, terdapat kolbak berisikan santriwan atau santriwati. Baik yang menuju dari Ciamis ke Tasik, ataupun sebaliknya.

Para Santri menyeberangi Jembatan Cirahong 
Anyway, Jembatan Cirahong ini merupakan salah satu bucket list tempat yang ingin saya kunjungi sejak lama. Bukan hanya karena popularitas visualnya di Instagram, tetapi juga karena ia memiliki pesona Intrinsik yang sangat kuat. Jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan kereta api Indonesia bertingkat, yang di bagian bawah relnya sekaligus digunakan oleh kendaraan roda dua dan roda empat.

Saat pertama kali melintasi jembatan yang didominasi warna biru ini, rasanya cukup deg-degan, mengingat bagian bawahnya hanya menggunakan kayu sebagai jalur kendaraan. Suara kayu yang berderit tiap kali ban mobil melaju satu putaran memang menjadi sensasi tersendiri. Ketegangan bisa bertambah berkali-kali lipat bila pada saat yang bersamaan, ada juga kereta yang melintas.
Kereta dan kendaraan roda melintasi Jembatan Cirahong.
Lebar Jembatan Cirahong ini hanya cukup untuk satu mobil, sehingga setiap beberapa menit sekali, arah laju kendaraan akan bergantian. Pergantian laju kendaraan diatur oleh petugas (yang saya rasa bukan petugas resmi) di dua ujung mulut jembatan. Tapi keberadaan mereka sangat membantu. Hingga setiap kendaraan yang melintas rasanya wajar saja untuk membayar biaya jalan ke petugas tersebut, tanpa ada standar nominal.

Dari segi bentuk geometrisnya, Jembatan Cirahong ini memang terlihat amat menakjubkan. Teralis yang saling bertautan sepanjang jembatan, menjadi daya tarik visual dari jembatan ini. Maka tak heran, banyak orang yang berburu untuk berfoto di tengah-tengah jembatan ini. Apalagi pada waktu pagi, dan sore hari, cahaya yang jatuh di sela-sela teralis tersebut membentuk bayangan yang sangat indah. Namun sayangnya, saat saya datang kemari, waktu sudah terlalu siang, sehingga cahaya matahari sudah berada di atas kepala.

Selain desain bagian sampingnya yang menarik, ada hal unik yang saya temukan dalam rancangan Jembatan Cirahong. Hal itu adalah bentuk busur yang melengkung di bagian bawah jembatan. Karena dari banyak jembatan kereta yang pernah saya lihat, biasanya busur ini selalu ditempatkan di atas jembatan. Entah apa fungsinya, mungkin teman-teman teknik sipil, atau arsitektur bisa menjelaskan?

Jembatan Cirahong ini terletak di Kecamatan Manonjaya, tak begitu jauh dari Masjid Agung Manonjaya yang tak kalah atraktif. Saya pun meminta Wildan untuk memarkirkan mobil sejenak sebelum pulang di pelataran masjid ini. Masjid yang disebut-sebut sebagai salah satu Masjid Tertua di Tasikmalaya ini punya bentuk yang sangat unik. Bangunan utamanya sangat menonjolkan gaya masjid-masjid di Nusantara. Atapnya bertingkat, dan runcing, sama seperti desain pertama Masjid Agung Bandung sebelum kemudian dirombak oleh Bung Karno, ataupun Masjid Cipaganti. Sementara berdiri tegak mengapitnya, terdapat dua bangunan menara yang saya rasa sangat menunjukkan ciri bangunan-bangunan peninggalan Kolonial Belanda, terutama dari jendela, pilar, serta sudutnya. Terlihat seperti menara De Vries, atau Gedung Pensil kalau di Bandung. Tapi yang menariknya lagi, atap kedua menara ini sedikit beraksen Tionghoa, sehingga agak nampak seperti pagoda. Cukup mirip dengan menara eks Hotel Surabaya Bandung yang menjadi latar cerita roman Rasia Bandoeng.

Masjid Agung Manonjaya

Di samping Masjid Manonjaya, saya juga berkesempatan mampir sekaligus Salat Jumat di Masjid Agung Tasikmalaya. Berbeda dengan Masjid Manonjaya yang klasik, Masjid Agung Tasikmalaya sangat terlihat modern. Dengan warnanya yang didominasi emas, dan putih, masjid ini terlihat sangat megah, dan mewah. Ukurannya saya rasa lebih besar bila dibandingkan dengan Masjid Raya Bandung (Masjid Agung Bandung). Ia memiliki empat kubah berbentuk limas, serta empat buah menara yang mengelilinginya.

Walaupun begitu, dari cerita sejarah yang saya dengar dari Wildan, sebetulnya masjid ini juga adalah masjid bersejarah. Namun memang bangunan aslinya sendiri sudah tidak ada, karena rusak parah. Maka dibangunlah bangunan masjid yang sekarang sebagai penggantinya.
 
Masjid Agung Tasikmalaya
Sama seperti konsep tata letak perkotaan di kebanyakan kota di Indonesia. Masjid agung atau masjid yang paling besar, selalu berdampingan dengan alun-alun kota yang menjadi jantung aktivitas warganya. Masjid Agung Tasikmalaya pun begitu. Tasik memiliki alun-alun yang tak kalah indah dari Bandung, malah mungkin bisa jadi lebih indah (karena lebih sedikit sampah berserakan). Pedagang asongan pun seolah menjadi pelengkap, bahkan lebih seru.

Begitu selesai Jumatan, beberapa pedagang, dan penjual jasa pun terlihat bergerak aktif mendekat. Ada yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, alat pijat yang boleh langsung dipraktekkan ke badan, hingga yang paling menarik adalah tukang obat sakit gigi dan pemutih gigi.

Suaranya yang lantang dengan nada cepat, tapi jelas, cukup menjadikan ia pusat perhatian oleh hampir semua orang di pelataran masjid. Kata-katanya yang mantap, dan penuh dengan keyakinan, cukup bisa membujuk orang lain menjadi kelinci percobaannya. Cara ia mempresentasikan produknya yang menyenangkan, dengan cerdiknya, ia dapat menyelipkan candaan menggelitik yang tak membosankan. Saya yang tak tertarik dengan produknya pun, ikut nimbrung bersama kerumunan, hanya untuk mendengar ia berdagang sambil ber-stand up ria. “Kade jang, geus diubaran teh ulah ngadahar es lilin. Kamari ge aya budak molotok biwirna ngadahar es lilin, da lilinna keur hurung,” begitu bunyi salah satu materinya yang disampaikan kepada seorang bocah. Receh memang, tapi menghibur.
 
Penjual obat di pelataran Masjid Agung Tasikmalaya
Sambil berjalan pulang menuju ke tempat parkir, Wildan sedikit bercerita bahwa bapak yang tadi kami lihat itu juga pernah ia tonton dalam sebuah video Youtube. Cukup dengan mengetikkan keyword “tukang obat”, beberapa video yang menunjukkan kelihaian ia dalam berjualan pun muncul. Salah satunya malah sudah mencapai ratusan ribu views.

Malamnya, kami pun menyempatkan mampir kembali ke kawasan Masjid Agung Tasikmalaya. Sama halnya seperti di Bandung, Alun-Alun yang berada di dekatnya pun masih sangat hidup. Semakin malam, semakin banyak orang yang berjualan. Tapi memang itulah ciri dari konsep Catur Gatra yang menempatkan pusat pemerintahan, masjid, alun-alun, dan pusat perekonomian masyarakat di satu tempat. Kubah-kubah emas Masjid Agung Tasikmalaya pun berpijar dengan indah.

Bagi yang memang menyenangi sejarah, dan ragam arsitektur unik, saya rasa perlu menjadikan Tasikmalaya sebagai salah satu tujuan jalan-jalannya.

Baca juga: Explore Tasikmalaya Part 3: Mentari Hati

Jembatan Cirahong
Jl. Raya Cirahong, Manonjaya
Tasikmalaya

Masjid Agung Manonjaya
Jl. RTA Prawira Adiningrat, Manonjaya
Tasikmalaya

Masjid Agung Tasikmalaya
Jl. Masjid Agung No. 01
Tawang, Tasikmalaya


Karena pada tiga tahun terakhir energi untuk menulis blog sempat dialihkan ke main role sebagai content writer di sebuah media, maka, beberapa pengalaman menarik yang belum sempat tercatat ini barulah bisa dituangkan setelah melewati puluhan purnama. Contohnya saja saat backpacker-an keliling Tasikmalaya pada April 2018 lalu. Tasik memang bukan daerah tujuan populer untuk backpacker, tapi bukan berarti tak ada hal atraktif yang bisa ditemui. Ditambah, tempat bernaung yang terjamin, karena Wildan, seorang sobat semasa kuliah menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya selama tiga hari.

Baca juga: Explore Tasikmalaya Part 2: Santri, Masjid, dan Cirahong

Bagian pertama ini, khusus saya dedikasikan ke tempat tujuan kuliner Tasikmalaya yang awalnya saya kira hanya terkenal dengan Bakso dan Cimol. Satu di antaranya tentu saya coba jajal. Bakso Laksana dan Bakso Firman adalah dua nama kedai bakso yang diajukan Wildan ke saya. Pilhan pun jatuh ke Bakso Firman. Alasannya karena selain Bakso Laksana terkenal karena harganya yang premium, Bakso Firman lebih unik karena menyajikan bakso yang betul-betul dapat disebut meatball secara harfiah.

Bakso Firman ini terletak di Simpang Lima Tasikmalaya, tak begitu jauh dari Alun-Alun Tasikmalaya. Harganya cukup terjangkau, masih tak jauh berbeda dengan seporsi mie bakso di Bandung. Hanya dengan Rp20.000, saya sudah bisa mendapat semangkuk mie yamin dengan dua buah bakso urat yang menggoda.

Sesuai dengan apa yang diceritakan Wildan, Bakso Firman ini benar-benar literally meat ball. Bentuknya tidak bundar, karena terdiri dari mungkin hampir 100% gumpalan daging. Kalaupun menggunakan tepung, saya rasa hanya sedikit sekali komposisinya. Sejujurnya, untuk Bakso Firman ini saya lupa memotretnya. Tapi gambarnya cukup bisa dengan mudah kawan-kawan temukan dengan mengetik keyword nama kedai bakso tersebut.

Soal rasa, Bakso Firman ini merupakan bakso urat ter-juicy yang pernah saya makan. Rasanya seperti mengigit sebuah steak medium well dengan rasa micin. Dengan rasa yang ditawarkannya, tak heran tempat ini dipenuhi pengunjung. Padahal, untuk ukuran kedai bakso pun, tempatnya sudah terbilang sangat luas.

Bakso Firman ini merupakan tempat kuliner rekomendasi kedua setelah Nasi Tutug Oncom Benhil. Entah mengapa namanya Benhil. Mengingatkan akan Singkatan dari kawasan Bendungan Hilir di Jakarta. Lokasinya berada di Kampus UPI Tasikmalaya, Dadaha. Saat mobil yang dibawa Wildan mendekat ke TKP, Wildan berujar, “semoga kabagean keneh, biasana jam setengah 9 ge geus tutup, soalna rame pisan.”
Suasana di Kedai Tutug Oncom Benhil Tasikmalaya

Kalimat yang Wildan ucapkan memang benar adanya. Dari jarak 70 meter pun, saya sudah tahu lokasi tepat Tutug Oncom Benhil. Kerumunan orang yang mengantre hingga ke jalan cukup bisa dijadikan penanda.

Tempat berjualan Tutug Oncom Benhil ini tidak besar, tapi memiliki luas yang cukup untuk pengunjung bisa dine in. Satu porsi kurang, tapi kalau dua kebanyakan. Mungkin itu istilah tepat yang bisa disematkan pada makanan ini. Mau seenak apapun, namanya karbo tetap bisa bikin kita cepat kenyang. Seporsinya hanya dibuat dengan takaran satu mangkuk kecil. Tapi bisa juga hal ini merupakan sebuah strategi bisnis belaka. Agar setidaknya orang yang datang kemari minimal membeli dua porsi Tutug Oncom. Walaupun begitu, harganya tidak mahal, kok. Satu porsinya dihargai Rp6.000 saja. Jumlah kocek tersebut sudah bisa membuat kita mencicipi Nasi Tutug Oncom dengan dua jenis sambal, dan dua cipeu (tempe goreng).
Satu porsi Tutug Oncom Benhil Tasikmalaya
Saya sebetulnya pukan penggemar makanan berbahan oncom. Bila beli serabi pun, oncom jelas bukan pilihan. Tapi beda halnya dengan Nasi Tutug Oncom Benhil ini. Rasa oncomnya terasa lebih mild, dan punya ciri khas yang lebih adaptable di lidah. Bumbunya pas, sangat menyatu dengan nasi hangat yang disajikan. Karena tidak mungkin menghabiskan lebih dari dua porsi, maka saya menutuskan bila suatu saat mampir lagi ke Tasikmalaya, Tutug Oncom Benhil akan menjadi tempat persinggahan kuliner saya. Dan mulai saat itu, saya mentasbihkan Tutug Oncom Benhil sebagai sarapan pagi terfavorit saya selama hidup.

Selain Bakso Firman, dan Tutug Oncom Benhil, masih banyak kuliner lain yang direkomendasikan Wildan ke saya. Namun waktu, dan budget yang membatasi. Selama di Tasik, saya juga sempat mencoba cemilan Makaroni yang menurut saya keterlaluan pedasnya, dan kupat tahu yang rasanya tidak begitu istimewa untuk ditulis, sehingga saya pun lupa. Wildan juga merekomendasikan untuk mencoba Rammona Bakery yang katanya enak sekali. Sayangnya saat itu, toko tersebut sedang tutup. Namun belakangan, saya mengetahui bahwa Rammona Bakery ini memiliki cabang di Bandung. Hanya saja belum sempat saya kunjungi.

Baca jugaExplore Tasikmalaya Part 3: Mentari Hati

Mie Bakso Firman
Jl. Dr. Sukardjo No. 103, Simpang Lima
Tasikmalaya

Tutug Oncom Benhil
Depan Kampus UPI Tasikmalaya
Jl. Dadaha Petir, Tawang
Tasikmalaya


Dari semua alat marketing yang digunakan Joko Anwar untuk memasarkan Perempuan Tanah Jahanam, cerita bahwa skenario film yang sejak awal dinamai Impetigore ini sudah ditulis sejak satu dekade silam lah yang kemudian membawa saya menguji kejahanaman film ini. Dengan harapan, film terbarunya tersebut bisa menawarkan sebuah cerita yang berbeda, dari hanya sekadar jump scare yang membosankan. Entah hal tersebut merupakan gimmick semata, atau memang benar nyata adanya. Namun memang, unsur ini cukup bisa Ia buktikan melalui film berdurasi hampir 120 menit tersebut.
Courtesy of Base Entertainment

Sejak menit-menit pertama, suasana ketegangan memang sudah langsung dibangun dalam adegan yang sekaligus memperkenalkan sang tokoh utama Wanita, yakni Maya (Tara Basro), dan kawannya Dini (Marissa Anita) yang sama-sama berperan sebagai petugas ticketing jalan tol.



Lagu Pujaan Hati yang menjadi soundtrack film ini pun mengalun dalam adegan ini. Sama halnya dengan lagu Kelam Malam yang dipakai Joko Anwar di Pengabdi Setan, Pujaan Hati pun memiliki nuansa jadul nan creepy. 

Lagu ini sempat viral beberapa waktu lalu di platform twitter karena dimunculkan dalam sebuah tweet oleh akun @howtodressvvell yang mengaku menemukannya dalam sebuah vinyl yang terkubur di halaman rumah. Joko Anwar pun turut me-retweet cuitan tersebut hingga seolah-olah tidak tahu menahu tentang lagunya, dan tertarik untuk memasukkan lagu itu ke dalam Perempuan Tanah Jahanam. Padahal, tweet tersebut hanya berselang sekitar tujuh hari jelang penayangan filmnya. Yang membuat idenya tersebut jelas terasa impossible untuk dieksekusi. Saya menyebutnya “seolah-olah”, karena beberapa hari kemudian penyanyi Pujaan Hati pun terungkap, bersamaan dengan fakta bahwa lagu tersebut adalah salah gimmick marketing ala Jokan. The Spouse yang juga melantunkan Kelam Malam-lah yang menyanyikannya. Akan tetapi, buat saya, keberadaan lagu ini dalam film, tidak sekuat Kelam Malam di Pengabdi Setan yang memang cukup membuat bulu kuduk bergidik.

Sebetulnya, cerita awal Perempuan Tanah Jahanam ini cukup klise untuk ukuran film horror, yakni tokoh utama dan temannya yang tinggal di kota, mendatangi sebuah tempat terpencil yang angker. Rasanya saya sudah banyak melihat yang seperti ini di film Jaelangkung, Air Terjun Pengantin, atau bahkan Midsommar. Yaa..karena Midsommar baru saja saya tonton beberapa hari lalu, ada sedikit kesan yang membuat saya kemudian membandingkan kedua film ini, hehe.
Tapi sebenarnya, bagi saya ada satu hal tentang wanita hamil yang membuat saya bertanya-tanya. Namun saya rasa memang harus dibuat seperti itu, agar alurnya berjalan sesuai keinginan.

Namun tentunya, menjelang pertengahan film, alur film ini berubah menjadi tak bisa ditebak arahnya. Kepiawaian Ical Tanjung dalam mengarahkan sinematografi dari film-film sebelumnya di Joko Anwar Universe menjadi jaminannya. Ada beberapa adegan yang kameranya terlihat memfokuskan kepada hal-hal tertentu, sehingga saya mengira akan ada jump scare yang diikuti sebuah ‘kemunculan’, namun ternyata tidak ada apa. Di sini Ical cukup berhasil memainkan emosi dan ketegangan penonton. Ia melalukan hal ini secara konstan, dan dengan sangat perlahan melakukan scale up, sehingga tanpa terasa, ketegangan ini menjadi semakin menyesakkan di akhir film. Saya sampai banyak-banyak menahan nafas ketika film mendekati akhir. Tanpa bermaksud lebay, tapi badan saya langsung terasa pegal setelah credit title mulai bergulir. Nampaknya intensitas akting dan adegan yang dibangun di akhir, membuat kepala dan badan saya menegang. :’D

Tapi sebenarnya, bagi saya ada beberapa hal yang mengganjal, yaitu tentang intensitas kehamilan dan kelahiran yang tinggi di desa Harjosari. Namun saya rasa memang harus dibuat seperti itu, agar alurnya berjalan sesuai keinginan. Lalu ada juga momen flash back yang saya rasa terlalu dibuat bertubi-tubi dalam satu adegan, sehingga terkesan buru-buru dalam menyelesaikan semua pertanyaan dan rahasia yang menggelayut dari sepanjang film.

Pada dasarnya, Perempuan Tanah Jahanam merupakan film horror yang ceritanya bukan berfokus pada serangan jump scare hantu-hantunya, tapi lebih menekankan kepada ketegangan konflik yang dibangun antar manusianya. Film ini tak akan membuat kita menjadi takut akan hantu, tapi alangkah baiknya untuk tetap tidak mengajak anak-anak, ataupun ibu hamil menonton ini. Karena sepertinya akan sangat mungkin bisa memicu sebuah pikiran buruk dalam benak, yang mungkin dapat berakibat depresi.

Untuk akting, kehadiran aktris senior Chistine Hakim jelas menjadi sorotan. Setiap kemunculannya memiliki karisma tersendiri. Tak banyak, tapi menghentak. Namun, secara pribadi, untuk film ini saya lebih memfavoritkan penampilan Asmara Abigail yang tampil jauh berbeda dari karakter-karakter yang ia perankan sebelumnya. Sebagai perempuan Jawa, gestur dan tata cara bicaranya sangat lembut. Kata-kata dan intonasi ucapannya terdengar jelas, dan berkarakter. Terutama saat ia mengucapkan dua kata yang menjadi tagline dalam aktivitas promosi film ini, “Kerasa, nggak?”. Mungkin kalimat tersebut akan menjadi dialog yang akan diingat banyak orang selama bertahun-tahun ke depan. Dan, sepertinya Asmara cukup pantas untuk dinominasikan sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dalam berbagai festival film yang digelar di Indonesia.

Kejahanaman film ini cukup membuat saya menunggu untuk menyaksikan Ratu Ilmu Hitam yang akan tayang bulan depan. Walaupun bukan Joko yang turun langsung untuk membesut film tersebut. Tapi rasanya akan sangat menarik untuk melihat bagaimana cerita yang dibangun dalam film itu melalui skenario yang ditulisnya.


Kalau ditanya soal pengalaman motret terseru. Tanpa ragu, Rempug Tarung Adu Tomat di Kampung Cikareumbi Lembang, Bandung, jawabannya. Sungguh brutal, sekaligus menantang untuk menangkap momen demi momen yang terjadi begitu cepat.
 
Suasana Rempug Tarung Adu Tomat 2018 di Kampung Cikareumbi Lembang, Bandung
Acara perang tomat yang berlangsung sejak tahun 2012 ini sebetulnya sudah saya dan kawan-kawan sesama pegiat foto tunggu selama beberapa tahun ke belakang. Namun sayangnya, pada tahun-tahun sebelumnya, sosialisasi event ini berlangsung senyap. Hanya segelintir orang saja yang tahu penyelenggaraannya, sehingga kami selalu melewatkannya.

Sejak tahun 2018 lalu, gelaran La Tomatina Festival ala Kampung Cikareumbi ini mulai mendapat dukungan besar dari pemerintah setempat. Setidaknya, undangan dan poster sosialisasi acara dapat dengan mudah saya dapatkan melalui grup-grup whatsapp, dan media sosial. Untuk hari dan tanggal penyelenggaraannya pun kini lebih ramah wisatawan, karena memiliki tanggal pasti yang diadakan pada akhir pekan. Beda halnya dengan tahun-tahun sebelum-sebelumnya yang digelar pada hari ke-14 bulan Muharram yang bisa saja jatuh pada hari kerja. Bahkan mulai tahun ini, poster yang mereka sebar pun telah memiliki logo resmi, sekaligus paket yang ditawarkan untuk wisatawan. Dari paket tersebut, wisatawan akan mendapatkan kaos, helm, dan perisai yang bisa dipergunakan untuk melindungi diri dari tomat-tomat yang dilemparkan peserta lainnya. Namun sayangnya, tahun ini saya harus melewatkan kembali acara ini karena bentrok dengan acara lain.
 
Helm dan Perisai yang digunakan pada Rempug Tarung Adu Tomat
Bersama Algi, Mang Tirta, Teh Dian, dan Kang Yasin, yang memang menjadi kawan rutin saya dalam perihal hunting foto, sudah sangat antusias dalam menyambut Rempug Tarung Adu Tomat pertama kami yang jatuh pada 28 Oktober 2018. Rentetan persiapan yang sekiranya akan mendukung pengambilan foto di lapangan nanti pun kami perbincangkan dengan detail. Mulai dari angle pengambilan foto agar tak terkena lemparan tomat, hingga perlengkapan yang harus dipersiapkan.

Hari-H acara, kami pun sudah dalam persiapan penuh. Jas hujan ponco dikenakan agar pakaian tidak kotor, dan kantung plastik serta karet untuk melindungi kamera. Bahkan Mang Tirta pun membawa goggle a.k.a kacamata renang agar tetap bisa melihat dengan jernih di tengah pertempuran. Namun rencana tinggallah rencana. Persiapan yang dianggap total, rupanya tak cukup baik untuk bisa mengejar foto yang diinginkan.
Mang Tirta (ponco biru) dan Perlengkapan Perangnya
Ketika aba-aba perang mulai diserukan, dan saya baru saja mengangkat kamera untuk membidikkan moncong lensa, sekitar dua sampai tiga buah tomat sudah menghantam kepala dari arah depan dan samping, sehingga membuat pandangan dari balik kacamata memburam seketika. Saat tombol rana ditekan, hasil foto yang ditampilkan sedikit tak begitu jelas karena biji tomat dan cairan yang menutupi sebagian lensa.

Saat baru saja selesai mengelap kaca lensa yang kotor, cipratan dari tomat-tomat lain yang hancur karena mendarat di sekitar sudah kembali memburamkan lensa. Lalu sebuah lemparan telak di samping telinga, cukup dapat melontarkan kacamata saya hingga terjatuh ke jalan. Setelah saya mengambil kacamata yang terjatuh, saya pun sesegera mungkin mengungsi ke samping jalan. Masih dengan perasaan hati yang shock, dan nafas yang memburu, saya coba membereskan segala hal yang berantakan. Walaupun begitu, serangan tomat-tomat busuk masih ada saja yang menerpa. Saya memang membayangkan sebuah aksi saling lempar tomat yang brutal, seperti di video Rempug Tarung Adu Tomat tahun lalu, dan di video La Tomatina Festival di Valencia yang saya tonton. Tapi, saya tak membayangkan akan seripuh ini kondisinya, ketika berada langsung di dalamnya. Mengejutkan, menegangkan, sekaligus sangat seru. Mungkin suatu saat saya akan memilih mendaftar menjadi peserta saja, sehingga bisa melempar tomat balik orang-orang yang menyerang saya tadi, haha.
Beberapa peserta Rempug Tarung Adu Tomat berfoto seusai acara.


Di balik daya tarik acara ini, tanpa sadar rupanya konsep yang diangkatnya tersebut juga memancing kontroversi. Hal ini saya dapatkan dari ratusan komentar yang masuk setelah saya mengunggah beberapa foto tersebut ke akun Instagram media yang pada saat itu saya kelola. Komentar-komentar tersebut kebanyakan cacian dan umpatan, karena menganggap hal ini merupakan sebuah tindakan pemubaziran makanan. Padahal, saya sudah menjelaskan di caption foto, bahwa tomat yang digunakan di sini merupakan tomat-tomat yang standar kualitasnya tidak dapat dijual oleh petani Kampung Cikareumbi ke pasar. Lalu ada juga yang mengaitkan acara ini merupakan sebuah bentuk syirik, karena terdapat unsur upacara adat istiadat yang bertentangan dengan agama terkandung di dalamnya.

Namun, saya pribadi menilai apa yang dilakukan oleh warga Kampung Cikareumbi sendiri murni merupakan sebuah bentuk aktivitas hiburan dalam pariwisata, serta pemberdayaan sumber daya sisa yang tak termanfaatkan. Toh, residu dari tomat-tomat yang dilemparkannya pun akan mereka kumpulkan kembali, dan digunakan sebagai pupuk. Setiap tahunnya, tomat-tomat sisa yang tak dapat terjual akan selalu menumpuk di kampung mereka, dan akan memakan banyak sekali tempat.
Tomat yang digunakan dalam Rempug Tarung Adu Tomat.

Bagi yang berminat untuk menjajal sendiri pengalaman seru Rempug Tarung Adu Tomat di Desa Cikidang, Kampung Cikareumbi, Lembang, Bandung, langsung saja bisa merapat ke lokasinya yang berada tepat di kawasan sebelum Cikole, pada Minggu, 13 Oktober 2019. Akses masuknya bisa melalui Jl. Cikareumbi yang berada tepat di seberang Balai Penelitian Tanaman dan Sayuran (Balitsa). Perjalanan hingga kampung akan menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit dengan berkendara. Untuk tempat parkirnya sendiri cukup banyak, namun disarankan untuk membawa sepeda motor saja agar tidak terlalu kesulitan mencari lahan. Untuk tahun ini, acara akan berlangsung mulai pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang. Tapi ingat! Jangan lupa untuk menyiapkan dengan baik segala perlengkapannya, termasuk posisi untuk mengambil gambarnya bila ingin memotret. Saya rasa, kamera yang paling ideal untuk memotret dan mengambil video untuk acara ini adalah kamera GoPro/action cam ber-casing. Kalau Cuma modal kantong kresek dan karet, siap-siap saja kamera Anda akan berbau tomat hingga dua minggu ke depan, ditambah dengan biji-biji tomat yang nyempil di sela-sela tombol dan komponen kamera. :D


Kondisi pakaian dan kamera salah satu pemotret. (kondisi saya pun tak jauh berbeda dari ini)

Melepas penat versi orang Bandung mah, kalau nggak ngeueum di Ciater, ya di Cipanas, Garut. Pake motor atau travel, cukup sejam setengah atau paling lama dua jam pun nyampe. Kebetulan beres acara keluarga minggu lalu, saya pun kembali ditakdirkan mampir ke Cipanas setelah satu dekade lamanya. Kali ini Kampung Sumber Alam menjadi tempat berlabuh saya untuk satu malam sebelum berkutat kembali dengan data pada senin lusa.
Suasana Kampung Sumber Alam Cipanas Garut pada Pagi Hari
Kampung Sumber Alam ini merupakan salah satu pemandian air panas terbesar yang terintegrasi dengan penginapan di kawasan Cipanas. Kampung Sumber Alam sudah berdiri sejak tahun 80-an, tapi baru tahun 2005 menjelma menjadi sebuah resort nan rupawan. Dari tempatnya berada, kita bisa melihat langsung pemandangan ke arah Gunung Guntur. Kebetulan, kamar tipe Junior Suite yang saya pilih pun langsung membelakangi gunung yang memiliki ketinggian 2.249 meter di atas permukaan laut tersebut.
Suasana malam hari di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut
Kamar tipe Junior Suite ini merupakan Bungalow dua lantai yang memiliki dua kamar tidur dengan king size bed, dan sebuah teras yang menghadap langsung ke danau. Beberapa bunga teratai yang mekar di sekeliling danau memberikan sebuah mood yang membuat hati ceria. Selain itu, tipe kamar ini juga memiliki private pool dengan ukuran luas mungkin 3 x 3 meter, dengan kedalaman hingga lutut orang dewasa. Tentu tidak bisa dipakai berenang, namun setidaknya cukup untuk melepaskan penat dengan berendam, saat udara dingin Garut mulai mendera.
Fasilitas King Size Bed di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut.
Di samping Junior Suite, saya berkesempatan diantar oleh pemandu di sana untuk melihat-melihat tipe kamar lainnya yang tak kalah unik. Contohnya saja Deluxe Suite yang memiliki rancangan interior yang jadul. Mulai dari desain ruangannya, hingga ornamen yang menghiasinya. Mirip sebuah rumah di film-film tahun 70-an, dengan barang-barang antiknya. Lalu ada juga Babakan Siluhur yang muat hingga 18 orang. Harga penginapannya sendiri paling mahal di antara yang lain. Tapi rasanya harga tersebut sangat worth it dengan menimbang kapasitas orang yang bisa ditampungnya, belum lagi desain private pool-nya yang terlihat lebih cantik, dan tentu instagrammable. Sepertinya Babakan Siluhur ini akan sangat cocok untuk dijadikan tempat menggelar acara reunian, atau kumpul keluarga besar. Apalagi terdapat pula sebuah pendopo yang cukup luas untuk membuat  sebuah acara.
 
Kawasan Babakan Siluhur di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut
Kampung Sumber Alam memang cukup jempolan dari segi rancangan kawasannya. Namun terlebih dari itu, mereka juga menyediakan sebuah paket tour yang sangat menarik, yakni paket pemanduan pendakian Gunung Guntur. Akan tetapi, mengingat napas yang sudah kian cepat memburu karena tubuh terlalu lama dimanja, maka Kaki Gunung Guntur atau yang juga disebut dengan Tegal Malaka menjadi titik tujuan paling realistis dalam pendakian ini. Walaupun disebut kaki gunung, ternyata tetap saja perjalanan menuju ke sana cukup bikin hah..heh..hoh. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 20 menit jalan kaki untuk sampai. Keletihan lalu terbayarkan oleh pemandangan yang menakjubkan dari matahari terbit yang sebetulnya saat nanjak tadi sempat tertutup awan gelap. By the way, Gunung Guntur ini sebetulnya merupakan gunung yang kondisinya sudah gundul karena penambangan pasir.
Pemandangan dari Kaki Gunung Guntur atau Disebut juga dengan Tegal Malaka
Selepas hiking, saya dianjurkan untuk merendam kaki-kaki yang pegal di kolam air panas. Selain private pool dengan air yang cukup panas tapi bikin rileks, Kampung Sumber Alam pun tentu memiliki kolam air dingin yang cukup besar yang bisa diakses oleh non-guest. Karena luasnya, kolam ini juga bisa digunakan untuk berenang.
Kolam renang umum di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut
Buat yang ingin mencari tempat liburan singkat bersama keluarga yang tak jauh dari Bandung, Sumber Alam ini bisa menjadi pilihan terbaik, dengan harga yang sangat worth it dengan fasilitas yang didapatnya.

Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut

Kampung Sumber Alam
Jl. Raya Cipanas No. 122, Garut
Contact:

(0262) 238 000/ 237 700
0815 8480 7837
0815 8480 7838 (WA only)