“Ayo kita ke Lembang Zoo, belajar konservasi satwa liar Indonesiaa..Lembang Zoo..Lembang Zoo..~”
Ah, ya, kalimat di atas ini memang hanya dapat diresapi oleh kalian yang sudah pernah berkunjung ke Lembang Park & Zoo seperti saya. Membacanya saja sudah seperti mendengar suaranya langsung.  Begitulah bunyi jingle tempat wisata baru di Bandung  yang punya nada mirip dengan jingle Borma. Ya, mungkin karena satu grup manajemen dengan Game Master dan Story Land yang biasa menguasai mall/department store, jadi lagunya bikin kita serasa mau belanja. Mungkin ke depannya bisa sedikit mencontoh jingle Dufan saja lah ya.
 
Burung Unta, salah satu koleksi hewan yang dapat dijumpai di Lembang Park & Zoo
Di luar persoalan theme song, Lembang Park & Zoo ini sejak awal kemunculannya akhir 2019 lalu, cukup banyak menarik perhatian saya, karena akhirnya ada sebuah wisata kebon binatang alternatif baru di Bandung, selain yang ada di kawasan Taman Sari. Btw, biarkan saya tulis “kebon binatang saja” ya, karena kalau “kebun binatang”, berarti nanti singkatannya jadi Bunbin.

Memang, Kebon Binatang Bandung Taman Sari yang legend untuk kebanyakan orang sebaya saya ini sudah mulai berbenah dalam beberapa tahun terakhir. Tapi karena sudah menjadi salah satu template tujuan banyak keluarga saat liburan, mampir ke sana jelas bukan pilihan, bila menghendaki sebuah quality time yang nyaman untuk jalan-jalan.

Harga tiket masuk ke Lembang Park & Zoo ini Rp35.000 untuk weekdays, dan Rp40.000 untuk weekend. Sama lah dengan rate HTM di Bonbin Bandung saat ini. Harga yang menurut saya sangat worth it untuk dapat menikmati rekreasi di wahana edukasi fauna yang luas dan banyak ragam. Namun sayangnya, agak kurang banyak pepohonan rimbun di dalam areanya. Sehingga, saat posisi matahari sudah berada persis di atas kepala, udaranya mulai terasa ngaheab dan ngabelentrang. Bila memang terasa berat, tapi punya kocek lebih, boleh lah menyewa e-scooter empat roda yang bisa digunakan untuk satu keluarga berencana. Untuk sewa per jamnya dikenai biaya Rp120.000. Kalau saya sih yaa… pilih menikmati berjalan kaki saja. Biar bisa turun sekilo-dua kilo (padahal memang masih merasa manglebarkeun kana artosna, tiasa diangge nu sanes). Selain ­e-scooter dengan kapasitas rombongan, ada juga e-scooter untuk single user yang disewakan dengan biaya Rp75.000/jam. Tapi sebaiknya bila anak-anak yang menggunakan, perlu pengamatan penuh dari orang tua.
E-scooter yang disewakan kepada pengunjung Lembang Park & Zoo
Langkah pertama dari gerbang masuk, kita akan langsung diperlihatkan pemandangan danau berukuran sedang, dengan beberapa perahu boseh yang bisa disewa, serta arena bermain yang sepertinya dikhususkan untuk pengunjung balita. Tentu hal ini kurang menarik bagi saya, karena wahana seperti ini sudah cukup banyak dibuat oleh banyak tempat wisata di Bandung.
 
Beberapa wahana air yang bisa disewa di danau buatan Lembang Park & Zoo
Lalu ada beberapa patung gajah yang rasa-rasanya familiar mukanya. Entah benar atau tidak, tapi mungkin patung gajah ini pernah saya lihat berjejer di Jl. Sersan Bajuri, tepatnya di sekitaran gerbang masuk Kampung Gajah Wonderland saat masih Berjaya dulu. Padahal di Lembang Park & Zoo ini belum ada hewan gajah, lho. Memang kebon binatang ini terlihat belum sepenuhnya rampung pengerjannya. Belum ada banyak hewan-hewan besar, ataupun hewan-hewan bertipe predator, kecuali buaya, dan elang, erta beberapa kawasan terlihat masih sibuk dibangun kandangnya. Mudah-mudahan saja saat grand opening nanti, ragam hewannya bisa lebih lengkap. Karena dari yang saya rasakan, orang dewasa seperti saya pun masih merasa excited lho saat melihat bentuk indah, dan gerak-gerik unik hewan-hewan ini. Terutama hewan-hewan yang sebelumnya belum pernah dilihat langsung, seperti Burung Unta, Binturong, dan Cendrawasih.

Kalau untuk area favorit bagi saya sih kandang burung-burung besar. Jenis burung-burung yang ada di dalamnya ini rata-rata bisa ditemukan juga di Bird and Bromelia Pavilion yang ada di kawasan Pramestha Dago, tapi bedanya, semua burung di sini berkeliaran bebas tanpa dirantai dalam sebuah kandang yang sangat besar, sehingga kita bisa langsung berinteraksi dengan para burung-burung ini. Adakala mereka pun bisa terbang berseliweran di dekat kita, saat berjalan di kawasan ini. Beberapa jenis burung seperti Kakatua, dan Macauw pun bisa diajak langsung berfoto dengan bertengger di lengan kita, dan bahkan tanpa bantuan penjaga di sini. Mereka bisa nerekel sorangan ke atas tangan kita, bahkan tanpa kita minta. Kalaupun ada penjaga yang membantu, justru untuk membantu meyakinkan kalau burung-burung yang akan diajak berfoto itu ramah. Kalau ada yang memang tidak bisa diajak berfoto, pasti gesture burung tersebut akan berbeda.
 
Area kandang burung besar di Lembang Park & Zoo
Di samping area burung-burung besar, ada juga kandang burung kecil yang bisa kita beri makan langsung kuaci, ataupun wortel yang disediakan. Lalu ada juga area reptile yang memiliki berbagai jenis hewan yang juga cukup menarik. Tempatnya sendiri didesain seperti sebuah gua, dengan beberapa kaca aquarium, dengan atap yang sudah diberi akses cahaya matahari langsung. Beberapa di antaranya tentu sudah tidak asing, karena zaman sekarang reptile ini sudah bisa, dan banyak dipelihara di rumah, mulai dari ular python, iguana, kura-kura, tokek, sampai bearded dragon lizard. Tapi yang paling menarik adalah Tegu Merah Argentina sih. Pertama kalinya saya melihat reptile yang badannya mirip biyawak, tapi mukanya mirip trenggiling. Sementara kandangnya  dibuat tandus, berisikan pasir dan jerami saja.
 
Reptil jenis Tegu Merah Argentina di Lembang Park & Zoo
Sayangnya, karena memang masih dalam tahap pengembangan, beberapa kandang hewan ini hanya diberi nama menggunakan kertas biasa yang dicetak, tanpa berisi keterangan, sehingga beberapa di antaranya sudah ada yang mulai luntur dan tak terbaca. Walaupun begitu, separuh dari kandang hewan lainnya sudah memakai infographic sign yang sangat informatif dan canggih. Contohnya hewan-hewan yang berada di kandang burung besar. Semua spesies burung di sana selain bisa kita ketahui namanya, dapat juga kita dapatkan informasi habitat aslinya, makanannya, rentang waktu rata-rata masa hidupnya, hingga status keberadaannya di dunia, apakah ia spesies yang cukup masih banyak ditemukan, langka, atau terancam punah. Infografis ini pun bisa langsung diakses bagi pengguna smartphone (yang sepertinya hampir semua orang sudah pakai), dengan memindai barcode yang tersedia di masing-masing sign board.

Untuk fasilitas pendukung, seperti toilet, mushola, dan kios makanan, tersedia cukup di beberapa titik area. Tapi, kios-kios makanan ini kebanyakan hanya menjual makanan-makanan ringan. Bila menginginkan makanan yang agak berat seperti nasi, dan kentang goreng, kita bisa mampir ke café yang berada tak jauh dari danau buatan.

Dari beberapa café yang tersedia, saya memilih untuk mendatangi Neko Cat Café yang saya pikir akan sangat unik. Tapi rupanya, area café dan rumah kucing itu dibuat terpisah. Ya mungkin tentu agar makanan-makanan yang kita pesan tidak terkontaminasi bulu-bulu kucing yang gampang rontok. Harga makanannya standar lah, mulai dari 10.000-18.000an untuk cemilan, dan minuman, serta Rp25.000an untuk pilihan makanan berat.

Ternyata untuk masuk ke rumah kucing ini kita harus membayar lagi tiket yang dijual Rp30.000/orang. Sebelum masuk, kita harus membasuh tangan kita dengan cairan disinfektan, serta menggunakan sandal slipper yang disediakan di tempat pembelian tiket. Mungkin ada sekitar 30an ekor kucing yang berkeliaran bebas di sini dengan species berbeda-beda. Ada kucing kampung, kucing angora, kucing Persia, dan beberapa kucing lainnya yang tidak bisa saya sebutkan, karena memang saya tidak tahu, dan tidak bertanya. Tapi beberapa di antaranya memiliki keunikan, seperti ada yang wajah dan motif bulunya mirip dengan harimau, hingga kucing yang warna matanya berbeda antara kiri dan kanan. Yang kanan berwarna biru, sedang yang kiri berwarna hijau.
Seekor kucing unik di Neko Cat Cafe Lembang Park & Zoo yang memiliki dua warna mata yang berbeda satu sama lain
Sambil bermain-main dengan kucing tersebut (bagi yang suka kucing), bisa juga menikmati dengan grais cemilan berupa kue-kue kering yang dimasukkan dalam toples. Sepertinya jenis makanan dalam toples seperti ini lebih aman dinikmati di dalam. Lalu ada juga makanan-makanan kucing sachet-an yang harga jualnya lebih dari dua kali lipat seporsi rice bowl, dan segelas kopi yang dijual di café luar, beuh. Selain itu ada beberapa merchandise yang juga bisa dibeli, seperti gelang berbandul siluet kucing, ataupun t-shirt bergambar kucing. Saya suka kucing, tapi termasuk agak malas sih kalau beli ataupun memakai barang-barang all about cat seperti ini.
Neko Cat Cafe di Lembang Park & Zoo memiliki aneka spesies kucing
Hampir semua area sudah disambangi, tinggal pintu keluar saja yang tentu belum dilewati. Saat melintasi gerbang, ada sedikit kejutan juga dari pengelola. Setiap pengunjung yang keluar diberi bingkisan berisikan jajanan anak, layaknya usai mengunjungi pesta ulang tahun anak tetangga sebelah. Mungkin ini hanya sebuah hal kecil, namun cukup memberikan rasa senang. Karena artinya, manajemen Lembang Park & Zoo memerhatikan value added service untuk pengunjungnya. Belum saat akan mengambil motor di area parkir, petugas penjaga parkirnya pun menanyakan pengalaman saat berada di dalam dengan ramah. Tak lupa, ia memberikan sticker yang tentu saya tau akan menjadi sebuah branding promotion yang bagus untuk ditempel di belakang kendaraan.

Bagi kalian yang mencari alternatif wisata edukasi wisata di Bandung, Lembang Park & Zoo adalah salah satu pilihan terbaik, dengan harga yang pantas. Setidaknya lebih baik dari tempat wisata yang setiap masuk satu jenis kandang hewan harus bayar tiket kembali, hehe. Buat yang sudah beranak pinak tentu akan menyenangkan untuk liburan keluarga, dan bagi yang masih duo, ataupun solo, tetap akan memberikan rasa seru saat melihat tingkah polah hewan yang menggemaskan.

Lembang Park & Zoo
Jl. Kolonel Masturi No. 171, Lembang
Senin-Jumat: 09.00-17.00 WIB
Sabtu-Minggu: 08.00-18.00 WIB







Gersang saat siang, keueung saat malam, itulah suasana di kawasan Terusan Pasir Koja. Ia hanya akan sedikit ramai dengan beberapa gerobak dan kios jajanan murah meriah, ketika sudah mendekati area Bojong Loa. Maka dari itu, saat ada sebuah bangunan megah bercahaya, serta riuh manusia dan kendaraan yang keluar-masuk, bisa dipastikan menjadi sesuatu hal yang sangat mencolok. Itulah Warung Wakaka, sebuah café baru yang beroperasi 24 jam, yang kini menjadi salah satu tempat nongkrong paling recommended versi saya di Bandung.
 
Suasana di salah satu sudut Warung Wakaka Bandung
Awalnya saya mengira Warung Wakaka ini sama dengan Warung WKWK yang sempat diulas Dewa Eka Prayoga dalam konten Bedah Bisnis di channel youtube-nya. Apalagi Warung Wakaka ini ditulis Warung W.K.K. Padahal keduanya brand yang berbeda.

Dari konsep yang ditawarkan, sekilas memang Warung Wakaka ini mencoba mengadopsi konsep tempat yang dibangun CRP (Citarasa Prima) Group dengan Warunk Upnormalnya. Tapi ternyata, positioning bisnis antara keduanya sangatlah berbeda. Bila Warunk Upnormal lebih banyak dikunjungi oleh segmen anak-anak muda usia sekolah, dan kuliah, di Warung Wakaka ini saya lebih sering melihat pengunjung dari kalangan keluarga.

Di samping pemilihan lokasinya yang bikin heran, outlet pertama Warung Wakaka yang dibuka di Bandung ini langsung menggunakan area yang sangat luas. Dari tiga digit nomor meja yang saya dapatkan pun sepertinya tempat mereka ini bisa muat hingga lebih dari seratus lebih pengunjung. Padahal, jarak antar mejanya pun tidak terlalu rapat. Yang berarti, bila mereka mau, sebetulnya mereka bisa menambah banyak meja lagi untuk menambah kapasitas pengunjung, dan mendatangkan lebih banyak cuan. Tapi justru inilah poin yang saya sukai. Mereka memperhatikan pula kenyamanan pengunjung.

Poin plusnya bukan cuma soal jarak antar meja, namun juga dari segi pelayanan yang sangat prima. Sudah tiga kali saya mampir kemari, dan selalu memilih meja di lantai dua. Dan di setiap lantai, dan ruangannya, mereka selalu menempatkan minimal satu orang person in charge yang siap membantu pemesanan menu, ataupun menangani complain bila ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan sangat ramah. Tentu ini faktor lain yang bisa memberikan rasa senang terhadap customer, termasuk saya. Karena di beberapa tempat makan yang sering saya kunjungi, tak jarang saya harus naik-turun tangga untuk sekadar menanyakan soal menu, ataupun memesan hidangan.

Untuk segi harga, nominalnya memang agak sedikit lebih tinggi dibandingkan café-café sejenis. Tapi masih tergolong murah kok. Harga menu makanan berat mulai dari Rp25.000-an. Karena menu yang disajikan bukanlah sajian fine dining juga. Dan yang terpenting adalah rasanya enak. Padahal sangat jarang ada tempat yang enak untuk nongkrong, namun makanannya enak pula. Biasanya kalau tempatnya enak, makanannya B’ aja.

Pilihan menunya sebetulnya tidak banyak. Untuk menu basic pun masih berkutat dengan pernasigorengan, per-ricebowl-an, serta per-emihan. Yang beda? Tentu dari rasanya. Mereka tidak sekadar mencampurkan segala macam rasa hingga memunculkan sebuah menu kolaborasi unik bin nyeleneh. Racikannya terasa diperhatikan dengan seksama, sehingga betul-betul bisa dinikmati. Plating-nya dibuat cantik, agar bisa dibedakan pula dengan nasi goreng ataupun mie rebus yang kita bisa buat sendiri di rumah. Sepertinya untuk seluruh bumbu yang digunakan pun, mereka betul-betul menciptakan dan mengolahnya sendiri. Jadi rasanya akan jauh berbeda dengan kebanyakan menu yang dihidangkan di café-café lainnya. Sebagai catatan, menu makanan berat mereka hampir selalu punya cita rasa pedas. Nasi goreng salted egg yang kata mbanya regular/bukan pedas pun sudah memberikan efek kejut di mulut, yang berlanjut dengan keringat yang menetes di pelipis, serta lendir yang mulai memaksa keluar dari lubang hidung.
Salah satu cara penyajian menu mie rebus di Warung Wakaka Bandung

Di samping menu makanan berat basic yang dihidangkannya, mereka juga menyediakan aneka makanan manis seperti roti, dan martabak manis, serta tentu aneka minuman dingin hits, seperti latte, thai tea, dan boba drink. Ciri khas lain dari menu yang disajikannya terletak pada pilihan porsi yang disajikannya. Mereka selalu menawarkan pilihan porsi regular atau jumbo sebagai opsi. Bahkan untuk menu Sate Taichan, mereka menawarkan mulai dari 10 tusuk, hingga 99 tusuk. Itu artinya, mereka betul-betul memosisikan diri sebagai tempat nongkrong yang asyik buat makan rame-rame.
 
Sate Taichan ala Warung Wakaka yang bisa dipesan dengan paket ratusan tusuk sekaligus
Selain area dine in yang sebetulnya sudah cukup luas, mereka juga menyisihkan sebagian luas tempat mereka untuk membangun sebuah panggung. Biasanya panggung yang juga cukup besar tersebut mereka gunakan untuk menggelar live music pada momen malam minggu. Tapi saya rasa, dengan segala fasilitasnya, kalau misal Warung Wakaka ini digunakan sebagai tempat gathering pun akan sangat cocok.

Buat saya kehadiran Warung Wakaka bukan hanya soal alternatif tempat makan enak dan nongkrong nyaman murah meriah. Namun Hal paling penting, lokasinya sangat dekat dengan tempat tinggal saya di Pagarsih. Mau hang out, tinggal cuss, kurang dari lima menit sampai. :D

Dari banyak tujuan wisata kuliner legendaris di sekitaran Braga-Asia Afrika, Bandung, baru Rasa Bakery & Café inilah yang belum pernah saya cicipi. Hingga akhirnya sebuah unggahan instagram story kawan saya yang menunjukan salah satu menu ice cream-nya cukup mampu mendorong saya datang ke tempat ini.
Suasana di Rasa Bakery & Cafe 
Memang sepertinya lantaran dari sisi arsitektur bangunannya yang terlampau modern yang membuatnya agak kurang begitu menarik dari luar. Mewah memang, tapi justru itulah yang menjadi barrier tersendiri bagi saya untuk mampir. Usut punya usut, kalau kata pak Katam (Sudarsono Katam) di bukunya Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng, bangunan yang kini Rasa Bakery & Café tempati ini adalah hasil perombakan besar-besaran pada tahun 60-an dan tahun 90-an. Sebelum dirombak, tempat ini dikenal dengan nama Hazes. Entah cita rasanya masih sama atau tidak, tapi sisi jadul lah yang mereka coba jual di sini.

Sambutan ramah pramuniaga berkebaya, serta keberadaan rombongan customer ibu-ibu berambut mengembang 20 cm dari dahi, seolah mempertegas kelas positioning Rasa Bakery & Café. Saya yang datang sehabis sesi lima keliling di Saparua tentu saja menarik sudut mata mereka untuk menatap penuh selidik. “Ah, cuek saja sih, kuleuheu ge da uang di dompet mah masih sanggup jajan-jajan mah,” ujar saya dalam hati.

Setelah mengambil tempat duduk, dan mendapatkan menu, mata saya sibuk memindai angka-angka di kolom sebelah kanan buku menu. Harganya sebetulnya tidak terlalu mahal sepertinya untuk café zaman sekarang, Kisaran harganya masih di Rp20.000-Rp60.000, dengan mayoritas pilihan main course-nya adalah makanan tradisional Nusantara, mulai dari nasi goreng, soto, lontong kari, dan roti bakar. Nasi Goreng menjadi pilihan saya, karena sebetulnya ingin membandingkan juga menu tersebut dengan menu sarapan yang pernah saya santap di Braga Permai yang juga mempunyai kesan “kuliner legendaris yang mahal”. Sedangkan untuk pencuci mulut, tentu saya pilih menu es krimnya yang populer, yang range harganya ada di sekitaran Rp30.000-an. Dan untuk minumnya saya pilih air mineral saja. Bukan bermaksud membantah pemikiran saya tadi. Tapi sepertinya dengan menghemat air minum, saya bisa membawa beberapa cemilan, dan jajanan tradisional untuk dibawa pulang.

Baca juga: Tips Makan Hemat di Braga Permai

Untuk rasa nasi gorengnya, harus saya akui, rasa menu Nasi Goreng di Braga Permai jauh lebih unik, dan masuk ke selera saya. Namun untuk es krim, rasanya lebih enak si Tutti Fruti yang saya pesan ini. Rasanya bukan yang bisa saya temukan di tempat makan yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Mungkin agak sedikit mirip dengan es krim di Sumber Hidangan, tapi saya lebih menyukai es krim Rasa Bakery & Café ini. Rasanya lebih segar, terutama di scoop es krim rasa frambozen atau dikenal juga dengan nama raspberry.

Baca juga:Roti Sumber Hidangan (Het Snoephuis) Roti Warisan Bandung 1929
Menu ice cream Tutt Fruti di Rasa Bakery & Cafe
Karena rasanya yang berkesan, saya pun kemudian membeli dua buah ice cream cup dengan rasa frambozen yang belakangan baru saya ketahui di kasir, harga 1 cup dengan ukuran mungkin sekitar 100 ml adalah Rp25.000. Enak sih, tapi nggak mungkin, dan nggak mau juga beli sering-sering. Bisa bikin jebol dompet pasti.

Selain ice cream, mereka juga menyediakan aneka roti (yang saya beli salah satunya dengan rasa keju), dan aneka jajanan pasar yang harganya ada di kisara Rp8.000-Rp20.000. Saya rasa yang membuat bisnis Rasa Bakery & Café ini berjalan dengan baik bukan dari menu main course-nya, tapi justru dari kue, roti, dan jajanan lain-lainnya, yang mereka simpan di etalase sekitaran meja kasir. Sungguh strategi upselling yang jitu, terutama bila ada cukup banyak wisatawan yang datang bertandang.

Untuk menu roti dengan varian rasa serupa, jujur saja, saya akan lebih memilih Canary Bakery yang juga legendaris di Bandung, bila memang ingin jajan roti. Tapi untuk ice cream, saya kira Rasa Bakery & Café  adalah pilihan tempat yang harus dikunjungi demi untuk mendapatkan rasa terbaik.
Sungguh merepotkan mengingat urutan huruf dalam film “NKCTHI” (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini) ini. Lima huruf konsonan berderet menjadi sebuah tantangan tersendiri saat saya mencoba menuliskan judul film teranyar Angga Dwimas Sasongko ini. Testimoni singkat beberapa kawan yang menghadiri screening cukup kuat mengarahkan saya meluncur ke sinema pada hari perdana pemutaran film. Padahal sebelumnya, NKCTHI sama sekali tidak berada dalam bucket list. Bukunya belum pernah saya baca, sedang cerita dalam web series-nya menurut saya berjalan terlalu santai, dan kurang begitu saya sukai.
Courtesy of Machella FP & Visinema Pictures

Bulan Januari, Visinema Pictures, dan cerita keluarga. Kepala saya langsung teringat pada “Keluarga Cemara” yang tampil ‘hangat’ tepat setahun silam. Hangatnya bahkan terasa dari mata yang turun ke hati, juga pipi. Iya, saya cirambay bombay menonton film ini. Hal yang mungkin masih didapatkan kawan-kawan lain di NKCTHI, tapi tidak demikian dengan saya. Walaupun begitu, bukan berarti film ini buruk. NKCTHI tetap dapat membangun rasa emosional dalam hati, namun dengan kadar, dan cara yang berbeda.

NKCTHI menawarkan hal lain yang membuat saya banyak berpikir ke dalam. Padahal, yang saya tonton ini kisah Awan, Aurora, dan Angkasa, tapi lebih dari separuh film ini membuat saya mengingat sendiri adegan pertengkaran saya yang pernah terjadi dengan ayah, tanggung jawab besar sebagai anak pertama, hingga sebuah kalimat yang terlempar dari mulut Aurora yang sepertinya terkubur juga di kepala saya bertahun-tahun lamanya. That part “kalian udah lama kehilangan gue” itu jelas nampar, sekaligus nuncleb.

Menonton NKCTHI ini rasanya seperti membaca sebuah buku. Uraian kata-kata yang diucapkan dalam perbincangannya terdengar lantang menusuk kalbu. Bukan karena kalimat yang melangit, tapi karena emosinya yang membukit. Nyaris seluruh karakter, adegan, dan percakapan yang terjadi rasa-rasanya akan relate dengan banyak orang. Termasuk tentang perasaan ibu yang salah seorang anaknya harus meninggal ketika lahir, dan diminta untuk lupa, dan bungkam sepanjang hidupnya.

Lebaran tahun lalu, saya, adik, dan kedua orang tua saya mengunjungi sebuah makam di Tempat Pemakaman Umum Porib Caringin, Bandung. Kami mengunjungi makam seseorang yang sosoknya tak pernah saya temui. Dialah kakak saya, Adi Sylvana, yang tak diberikan kesempatan lama menghirup udara bumi setelah beberapa hari lahir ke dunia. Kejadian yang menyesakkan ini sudah lewat lebih dari 30 tahun lamanya. Tapi saya masih dapat melihat mata ibu saya basah, dan meluncurkan beberapa tetes air ke permukaan pipinya yang saya sadari mulai banyak kerut. Kepala saya coba menebak, mungkin pikiran yang ada di balik air matanya saat itu, "kalau saja Adi masih ada, mungkin keluarga kami akan lebih ramai, ia mungkin akan sudah menikah, dan memberi kehadiran cucu pertama dalam keluarga". Saya (mungkin) tahu, karena terkadang saya pun berandai-andai. Bila saja Adi masih ada, mungkin tugas saya akan menjadi lebih mudah menjalankan ekonomi keluarga. Namun untungnya, alam bawah sadar saya tersebut selalu masih berada di level yang bisa saya kendalikan, untuk kemudian berbalik kepada kenyataan.

Iya, NKCTHI dapat membawa saya larut sedalam itu, sehingga membumbungkan ingatan dan pikiran ke dalam adegan-adegan yang saya tempuh sendiri dalam hidup. Namun sayangnya, beberapa scene yang seharusnya syahdu, rusak oleh benalu. Rombongan ibu-ibu bermental pemirsa Sinetron Indonesia di barisan kursi depan seperti tak menginginkan filmnya berjalan sesuai dengan yang dirancang sang sutradara. Tanpa malu-malu mereka mengomentari setiap adegan yang terjadi dalam film. Saya sih langsung membayangkan ibu saya bersantai di sofa panjang, dengan remote tv di genggaman. Ia pun memang suka geregetan kalau nonton adegan-adegan di sinetron. Tapi kan ia melakukannya di rumah. Ini ibu-ibu nganggap studio bioskop ruang tengah rumahnya gitu? Sontak, nyaris seisi bioskop pun kompak menegur dengan suara sssttt keras. Alhasil? Ibu-ibu ini tetap (maaf) bacot hingga credit title mulai bergulir di penghujung film. Dan jangan tanya bagaimana mereka juga bereaksi saat adegan Rio Dewanto menyetrika baju dengan hanya mengenakan celana boxer saja. Saya pernah bertemu tipe pengunjung bioskop yang jorok, dikit-dikit buka HP, atau yang overdiscussed sepanjang film dengan pasangannya, tapi tipe penonton ini adalah yang terburuk.

Sheila Dara Aisha mungkin memang menjadi aktris yang cukup sering muncul di beberapa judul film Visinema yang rilis sebelumnya. Namun di NKCTHI, aktingnya sebagai anak pangais bungsu yang sedikit introvert akan sangat memorable. Aurora yang diperankannya berhasil memperlihatkan sisi misterius yang sangat intense. Trauma masa kecil yang dialaminya seperti bisa saya rasakan. Poin plus lainnya saya sematkan kepada dua aktor yang bergantian memerankan sang ayah pada alur cerita yang maju-mundur antar masa, yakni Oka Antara, dan Donny Damara. Walau dari segi tampilan fisik, Oka dan Donny terlihat berbeda, kesan yang ditimbulkan benar-benar sama. Dari gesture, dan cara mereka bertutur, saya benar-benar bisa teryakinkan bahwa mereka adalah karakter yang sama dari waktu yang berbeda.

Keluar dari sinema, di kepala pun masih terbayang beberapa adegan dan kutipan yang mungkin akan lama membekas, dan bisa saja mengubah beberapa hal dalam saya menyikapi hidup. NKCTHI memang tidak sebombay Keluarga Cemara, tapi kesan emosionalnya meninggalkan jejak dalam bentuk pemikiran mendalam.

Saya rasa film ini bukan sekadar kesan semata yang akan lewat begitu saja. Selebihnya, mungkin sudah terekam di alam bawah sadar. Tinggal, menunggu stimulan tepat untuk suatu saat bisa kembali memunculkannya.




“Terima Kasih Untuk 42 Tahun Penuh Kehangatan. Kami Mohon Pamit.”

Saya membayangkan bila poster Star Wars: The Rise of Skywalker disematkan pesan layaknya yang terdapat di poster film Akhir Kisah Cinta Si Doel, rasanya mungkin akan sangat emosional sekaligus terlihat sangat konyol. Kedua film ini punya kesamaan dari segi deretan karakter yang memiliki ikatan mendalam dengan fans militannya. Dan kedua film tersebut pun akhirnya menuntaskan saganya pada jarak waktu yang berdekatan setelah puluhan tahun lamanya.

Poster courtesy of Lucas Art and Disney

Teknis pada film memang penting, namun bagi saya, terkadang yang bisa meraih hati penonton adalah character bonding yang mampu membangkitkan segala jenis emosi dalam diri. Inilah yang secara personal tidak bisa saya dapatkan di Star Wars: The Rise of Skywalker yang berjalan emotionless.

No hard feeling terhadap trilogy ini, karena saya sangat menyukai The Force Awakens, serta The Last Jedi yang mengundang banyak kritik dari berbagai pihak. Tapi berbagai adegan (yang seharusnya) lucu dan menyedihkan di Star Wars: The Rise of Skywalker terasa sangat hampa. Kematian Kylo Ren, dan Princess Leia terkesan datar. Berbeda halnya saat Han Solo ditikam Ren di The Force Awakens. Air mata pun seketika menggenang, walaupun hari sebelumnya saya sudah mengetahui adegan tersebut dari ranjau spoilers yang bertebaran di social media. Sh*t, Bahkan saya masih bisa merasakan kekesalan karena kejadian tersebut.

Mungkin rasa-rasanya semua fan boy Star Wars sudah tau kematian Carrie Fisher sebagai pemeran Leia Organa beberapa tahun lalu, sehingga mau tak mau meyakini kalau yang tampil di film ini hanyalah CGI belaka. Tapi sepertinya bukan itu yang membuat kematian Leia menjadi tanpa haru. Tapi cara ia ‘dibuat’ mati yang rasanya terasa datar. Saya jadi berandai-andai, coba saja bila Leia tak selamat saat cockpit kapalnya diledakan di The Last Jedi, maka emosinya akan terasa berbeda. Tapi kan nggak mungkin juga, karena perannya di sisa film tersebut cukup banyak. (ini mah kan penginnya)

Hubungan  trio Rey-Fin-Poe pun terasa demikian pula datarnya. Masing-masing menunjukan akting yang sangat baik. Tapi itu dia, aktingnya hanya “masing-masing” baiknya. Entah kenapa ketiganya terasa tidak menyatu secara chemistry. Mau nggak mau, saya kan jadi membandingkan chemistry yang dirasa lebih dapet, saat trio Luke-Han-Leia, dan Anakin-Obi Wan-Padme menjadi karakter utama.

Kendati banyak fans di berbagai belahan dunia yang mengritik pengulangan-pengulangan garis cerita yang terjadi di franchisee film ini sejak diakuisi oleh Disney, saya sebetulnya tidak begitu mempedulikannya. Kalaupun mirip-mirip sikit, seperti Rey yang diceritakan berasal dari planet yang agak dusun seperti Luke, yang pada sekuel keduanya ia kemudian dilatih oleh seorang Jedi Master, serta seri ketiga dari setiap triloginya yang selalu berbau kebangkitan (RETURN of the Jedi, REVENGE of the Sith, the RISE of Skywalker), rasanya semua masih baik-baik saja, hingga adegan moment of truth yang mengungkap Rey adalah cucu dari Palpatine. “Waw..aku terkejut,” tapi rasanya pernah liat di mana gitu adegannya.

By the way, di Star Wars: The Rise of Skywalker, saya lebih menyukai Ben Solo a.k.a Kylo Ren yang tumbuh secara manusia, ketimbang Rey yang berkembang pesat secara kemampuan bertarung. Walaupun proses Ren menuju tobat, agak sedikit terlalu cepat.

Memang, Luke pun saat menyelesaikan masa pelatihannya bersama Yoda dan bertempur di Return of the Jedi, kemampuannya pun meningkat. Bedanya, si Rey ini jadinya keliatan jago banget. Ya kemampuan healing, ya kemampuan mempengaruhi pikiran, ya kemampuan menggerakan benda. Ia bagaikan Magneto yang jogres bersama Professor X. Bahkan di salah satu adegannya, ia benar-benar mengingatkan saya akan magneto. Tapi, dengan kemampuan serba bisanya yang bercampur dengan karakter penokohannya, ia tampak seperti seorang juara kelas yang pintar, tapi kaku dalam pergaulan. Padahal banyak adegan emosional di mana Rey harus menangis, tapi entah kenapa kok saya nggak merasa terharu ya.

Rasa emosional justru datang ketika tokoh-tokoh pada kisah trilogy klasik bermunculan, hantu Han Solo yang walau cuma tampil beberapa menit, cukup memberi rasa gembira sekaligus waas, bahkan melihat kehadiran Ewok di akhir film pun terasa menyenangkan. Dari situ saya menyadari kalau karakter-karakter pada trilogy ini tidak memberikan bonding yang cukup kuat di akhir saganya. Padahal baru di Star Wars: The Rise of Skywalker, trio Rey, Fin, dan Poe lebih banyak tampil berbarengan.

Saat awal kemunculan Fin di Force Awakens, saya malah sempat merasa Fin yang tampil agak kocak ini dapat menonjol sebagai karakter baru yang menjanjikan bersama BB8. Penampilannya tersebut masih bisa dilihat di The Last Jedi. Namun sayangnya hal ini justru hampir tidak muncul di film penutup.

Kalau menggunakan alasan wajar bila karakter-karakter tersebut tidak memiliki emotional bonding yang kuat, dikarenakan karakter tersebut baru, dan berbeda dengan karakter lama yang sudah hidup puluhan tahun lamanya di benak para penggemar. Saya rasa tidak begitu. Karena Chirut Imwe dan K-2SO yang bahkan hanya tampil sekali di film spin-off Star War, yaitu Rogue One, justru lebih berkesan di hati.

Kalau soal visual effects, tentu Star Wars: The Rise of Skywalker ini sudah dijamin terlebih dahulu oleh nama besar Disney akan menyajikan pertunjukan yang memanjakan mata. Tapi, entah kenapa, lagi-lagi kok saya merasa tidak termanjakan. CGI canggih, dan suara jedar-jeder yang mengalun sepanjang film, malah lama-lama membuat ngantuk. Bahkan tak biasanya, sedikit-sedikit saya pun mengecek HP untuk melihat notifikasi, dan waktu yang sudah berlalu. Padahal posisi duduk saya baris ketiga dari depan, angger we tunduh. Entah di bagian mana yang salah, karena saya pun bukan movie expert. Tapi baru kali ini saya menonton adegan penuh aksi dengan rasa segera ingin menyudahi.

Setelah menonton film, dan mengunggah review angka dari aplikasi cinepoint, saya cukup banyak menerima pandangan lain dari kawan-kawan yang juga mengikuti film ini dari The New Hope. Padahal kami semua ini tak ada yang betul-betul menonton filmnya saat rilis tahun 1977. Ya gile aja bro, kami-kami ini belum setua itu.

Kebanyakan kawan yang bereaksi tentu dari pihak yang kontra tentang nilai rendah yang saya berikan pada film ini. Beberapa memberi saran agar seharusnya saya tidak membanding-bandingkan film klasiknya dulu. Sementara yang lainnya mengemukakan analisa dari sudut pandang cerita yang ia runut secara terukur, yang kemudian disampaikan dengan argumen latar belakang “why J.J Abrams do this and that, in the movie?” Namun sayangnya, saya tak merasa dan mengalami hal yang mereka sampaikan saat menonton film tersebut. Saya pun datang ke bioskop tanpa beban apapun, termasuk ulasan para reviewer yang sengaja tidak saya lihat. Wajah pun berseri-seri, karena tiket nonton didapat cuma-cuma dari giveaway Torch.id.

Saya rasa, mungkin kita semua, termasuk saya, sering lupa kalau pengalaman sinematik itu sifatnya personal, dan tak akan bisa tergantikan dengan membaca sebuah ulasan tertentu. Oleh karena itu, review bagus pada rotten tomatoes ataupun medium penilaian film lainnya tak pernah ada yang bisa mencapai nilai baik yang sempurna. Bahkan partner setia nonton saya pun acap kali memiliki pendapat yang berbeda dengan saya. Cukup dipahami, tak perlu banyak-banyak didebat. Karena sesungguhnya, mendebat perspektif dan selera, adalah sesuatu hal yang sia-sia, hehe. Adapun review yang saya tulis ini adalah kebutuhan psikologis saya untuk dapat menguraikan kata-kata yang memuncak dalam kepala. Kali ini saya pinjam dulu line andalan Mas Aby dari channel Sumatran Big Foot.

“Boleh setuju, boleh tidak.”


Minggu lalu, saya mengajak kawan saya mampir di sebuah tempat kuliner fast food baru di kawasan Jl. Pelajar Pejuang. Promonya di instagram, memang tak pelak mengundang rasa penasaran saya yang memang gemar berwisata kuliner. Namanya “Ngikan Yuk”, sebuah brand resto yang dikembangkan secara franchisee, dan kini untuk pertama kalinya hadir di Bandung.
 
Ngikan Yuk Ikan Crispy Sambal Matah
Sepulang kerja, kira-kira pukul 5 sore, saya pun memacu motor bebek saya ke TKP yang letaknya tak jauh dari lokasi kantor. Namun saat saya dan kawan saya tiba di tempat, seluruh menu yang ditawarkan sudah habis terjual. Padahal langit Bandung pun belum beranjak kelabu. Sementara antrean pengunjung tak kunjung berhenti. Tambahlah rasa penasaran saya terhadap si kuliner ikan ini.  

Namun memang jodoh. Rupanya dalam waktu dekat Ngikan Yuk akan membuka beberapa cabang baru, termasuk salah satunya di Sherlock Common Space, Jl. L. L. R. E Martadinata (Jl. Riau) No. 217, Bandung, yang letaknya lebih dekat dari tempat saya bekerja. Tak perlu menunggu hari kerja pekan depan, ternyata saat acara pembukaan, saya pun diundang untuk menyicipi menu ikan nila fillet crispy yang belakangan baru saya ketahui merupakan milik dari selebgram Rachel Vennya. Sepertinya memang kekuatan engagement dia lah yang menjadi salah satu faktor sajian menu Ngikan Yuk begitu diburu orang.

Suasana pembukaan Ngikan Yuk di Sherlock Common Space Bandung

Walaupun begitu, bukan berarti rasa makanannya menjadi tidak istimewa. Karena Ngikan Yuk ini juga memang dapat menjadi santapan terbaik, terutama saat didera lapar pada jam kerja. Bikinnya cepat, harganya murah, rasanya lezat, dan porsinya mengenyangkan.

BIla biasanya hidangan fish fillet lebih sering dihidangkan dengan kentang goreng di kebanyakan resto berkonsep fish and chips. Ngikan Yuk justru menghadirkan nasi liwet sebagai pendamping menu ikannya. Nasinya dimasak menggunakan potongan cabai, dan bumbu lainnya, sehingga rasa nasinya saja sudah terasa pedas dan gurih.

Untuk saus dan sambalnya pun mereka tidak menggunakan sambal sachet olahan. Agar bisa menjadi sandingan yang tepat dengan nasi liwetnya, tim dapur Ngikan Yuk menggantinya dengan tiga pilihan jenis sambal tradisional yang pedasnya terasa lebih segar, dan nonjok. Ketiga pilihan sambal tersebut antara lain sambal matah, sambal oseng mercon, dan sambal acar kuning.

Saat acara opening yang digelar Sabtu (7/12) siang, saya berkesempatan mencoba dua varian rasa sambal, yakni sambal matah, dan sambal oseng mercon. Untuk rasa sambal matah, tentu rasanya terasa lebih segar dengan rasanya yang sedikit masam. Namun untuk sambal oseng mercon pun tak kalah sedap. Selain rasa pedasnya yang lebih nampol, saya mendapatkan kejutan juga di antara sambalnya. Beberapa irisan daging sapi, termasuk bagian lemaknya, rupanya ditambahkan pula di dalamnya.

Bagi kamu-kamu yang kebingungan cari menu makanan enak, murah, tapi nggak mau ribet, menu Ikan Nila fillet ala Ngikan Yuk bisa jadi pilihan buat di gofoodin atau grabfoodin. Harganya cuma Rp19.000 per porsi. Selain itu, tentu untuk makan dine in juga asyik, terutama di cabangnya yang di Sherlock Common Space. Karena lokasinya juga berkolaborasi dengan aneka brand cemilan dan minuman lainnya, yang bisa jadi pendamping makan di Ngikan Yuk.


“Eh, kita ke ManA yuk.”
“Ke mana?”
“Ke ManA.”
“Iya, ke ManA?
“Ih, itu lho di ManA.”
“Malah nanya balik, jadi di mana?”
(Begitu seterusnya hingga ladang gandum menjadi Koko Krunch) *krik-krik
 
Area foto di ManA Foo & Cof Bandung
Iya, ini salah satu café hits di Bandung yang acap kali memunculkan perdebatan antar sahabat dan pasangan. Di luar namanya yang cukup ngeselin, tapi memang café ini menawarkan suasana dengan desain tempat yang atraktif. Meski untuk mencapainya kita harus menempuh jalan cukup menanjak, dan jauh dari pusat kota. Lalu ada apa saja di ManA? Coba rada usaha untuk baca ulasan saya sampai beres.

Nama lengkapnya ManA Foo & Cof. Entah apa yang mendasari huruf “A” pada ManA-nya harus dituliskan capital. Sedang “foo & cof“ mungkin kependekan dari “food & coffee”. Tempat ini memang menyediakan kedua hal tersebut dengan pilihan menu standar café, dan harga sedang.
 
Salah satu menu yang disajikan di ManA Foo & Cof Bandung
Walaupun begitu, makanan dan kopi bukanlah material utama yang membuat banyak orang berbondong-bondong melipir ke ManA Foo & Cof, tapi rancangan tempatnya lah yang sangat mengundang. Coba saya cek tab tagged photos akun instagramnya. Foto-foto pengunjungnya didominasi oleh foto-foto latar dan suasananya, mulai dari sekadar foto narsis ala-ala, hingga foto pre-wedding dengan pakaian dan properti yang cukup niat. Kalau Cuma foto iseng sih masih haratis, tapi kalau foto serius dengan tools fotografi yang mumpuni sih sudah harus membayar paket senilai Rp500.000 dengan durasi tertentu.

Kalau soal desain bangunan cafenya sih sebetulnya sudah banyak yang seperti ManA Foo & Cof yang bergaya minimalis. Bedanya, ia mempunyai pemandangan city light dan ruang berfoto yang lebih luas. Yaa..maka dari itulah ‘tempat’adalah hal utama yang mereka jual di sini.
 
Salah satu area makan di ManA Foo & Cof Bandung
Saking niatnya, mereka juga sengaja menyediakan motor bebek dan Vespa jadul untuk digunakan sebagai properti foto. Tak lupa ada juga tumbuhan alang-alang yang entah mengapa memang memberikan efek dramatis lebih terhadap hasil foto dan video. Cocok menjadi sebuah foreground pose romantis, ataupun adegan lamunan solo dengan raray kegalauan, serta tatapan sok keren, dan merasa ganteng.

Salah satu spot populer yang cukup digemari pengunjung untuk berfoto adalah area cottage yang bentuknya unik. Dari penjelasan yang dipampang di sekitarnya, bentuk cottage inilah yang disebut dengan ManA, entah asalnya dari bahasa apa.

ManA ini ditata berderet layaknya sebuah komplek pemukiman yang menghadap ke arah barat. Saat matahari mulai tenggelam, cahaya keemasan pun jatuh di muka cottage yang hampir keseluruhannya adalah kaca. Karena rancangannya tersebut, saya pun bisa mengintip bagian dalamnya, yang Nampak sangat nyaman dan homey. Bahkan rumah saya pun tidak se-homey ini.
Bangunan Cottage di ManA Foo & Cof Bandung

Akan tetapi ada pertanyaan lain muncul, bila nantinya bangunan cottage ini ditempati, apakah pengunjung café yang berfoto ini tak akan mengganggu kenyamanan tamu cottage. Karena bila saya menjadi tamunya sih, akan risih dengan kehadiran para pengunjung yang berfoto, sementara ruangan tempat saya menginap seperti aquarium. Rasanya seperti sedang dieksibisikan.

Di bagian ujung barat setelah area cottage, terdapat pula sebuah lapangan besar terbuka yang sepertinya akan sangat cocok untuk menggelar sebuah acara seperti pesta pernikahan. Namun kembali lagi ke kenyamanan para tamu cottage. Bila kebetulan digelar sebuah acara besar dengan massa yang cukup banyak, apakah tidak akan mengganggu tamu? Kecuali bila saat acara berlangsung, area cottage ditutup saja reservasinya pada jauh-jauh hari.

Kekurangan lainnya dari tempat ini juga terletak pada musholanya yang sungguh sangat tak nyaman. Mushola ManA Foo & Cof menyatu dengan tempat penyimpanan barang staff yang penuh dengan tumpukan kardus. Ukurannya pun hanya muat sekitar dua orang, dengan sajadah yang sudah lecek. Ditambah tempat berwudhu yang di pintunya menggantung baju dan celana karyawan. Harusnya dengan tempat seluas ini, alangkah baiknya bila dibangun setidaknya sebuah mushola yang layak. Bagi pengunjung muslim, tentu hal ini akan mempengaruhi tingkat kebetahan, dan tingkat keinginan untuk kembali pada masa yang akan datang.

ManA Foo & Cof
Jl. Cibengang, Ciburial, Bandung
(akses via Jl. Bukit Pakar Timur, selebihnya disarankan menggunakan google maps)


Pekerjaan saya dulu, memang memungkinkan saya untuk berkeliling ke berbagai hotel di Bandung. Beberapa di antaranya pun memiliki desain yang sangat unik dan atraktif. Salah satunya, adalah Zest Hotel Sukajadi Bandung.

Saya masih ingat betul saat pertama kali mampir ke hotel ini beberapa tahun lalu. Warnanya yang segar, dan bentuk desainnya yang catchy memang membuat bola mata tak hentinya bergerak ke sana kemari, menyisir tiap lekuk keunikan yang ditawarkannya.

Tanpa terasa, ingatan saya tersebut rupanya berasal dari memori yang sudah hampir empat tahun silam usianya. Hanya terpaut beberapa bulan saja dari kelahiran hotel bernuansa hijau lemon ini.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, secarik undangan digital pun mampir ke dalam sebuah pesan whatsapp pada bulan November. Zest Hotel Sukajadi Bandung yang akan merayakan hari jadinya yang ke-4, tak lupa meminta saya ikut serta ke dalam kemeriahan acara yang diadakan pada Minggu, 1 Desember 2019.

Peserta Zumba yang mendapatkan Bibit Pohon Jeruk di acara perayaan ulang tahun Zest Hotel Sukajadi Bandung

Namun kali ini, konsepnya sedikit berbeda dari tahun lalu. Selain karena venue-nya yang mengambil tempat di depan factory outlet Blossom pada momen Car Free Day Dago, agenda acaranya pun cukup menarik. Mulai dari Zumba, hingga pembagian 100 bibit pohon jeruk. Idenya betul-betul pas dengan vibe yang dibangun Zest Hotel Sukajadi Bandung yang fresh, dan healthy. Bagi yang belum pernah datang langsung ke hotelnya, cobalah sekali-kali mampir, di sini semua karyawan tampil berbeda dengan sporty look.
  

Zestree, Heal the Earth, Heal the Future.” Begitu bunyi tema yang diusung oleh Zest Hotel Sukajadi Bandung pada perayaan tahun ini. Rasanya terdengar sangat tepat dengan konsep yang digelar. Tentunya, bukan tanpa alasan tema tersebut mereka angkat. Karena bulan hari jadi Zest Hotel Sukajadi Bandung sendiri bertepatan dengan hari pohon sedunia.

Minggu pukul enam pada hari yang dijanjikan, saya pun sudah berada di sekitaran Car Free Day Dago. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mendapat kesempatan ber-zumba. Mungkin terakhir kali itu enam tahun silam saat masih berstatus sebagai seorang bankir. Dengan sedikit malu-malu, saya ikut menggerakkan tubuh yang sudah lama kaku. Walau setelahnya pegal-pegal, tapi badan menjadi terasa sangat ringan.

Seusai sesi zumba, saya dan peserta lainnya mendapat masing-masing satu bibit pohon jeruk. Kini PR saya adalah merawat bibit pohon jeruk yang sudah langsung saya tanam kemarin di kebun belakang rumah. Semoga pohon jeruk ini dapat tumbuh dengan baik, seiring dengan Zest Hotel Sukajadi Bandung yang juga terus berkembang menjadi salah satu elemen supporting pariwisata di Bandung.

Selamat ulang tahun Zest Hotel Sukajadi Bandung!



Memang secara pemahaman umum, sebuah tempat yang menyajikan kopi, acap kali disebut coffee shop. Walaupun begitu, khusus dalam artikel ini, saya paksa pembaca untuk bersepakat bahwa coffee shop yang saya maksud di sini adalah yang secara bahasa betul-betul diartikan sebagai toko kopi non-café. Artinya, coffee shop jadul yang akan saya ceritakan adalah toko-toko yang hanya fokus menjual kopi secara raw, baik grinded ataupun masih dalam bentuk beans. Di Bandung sendiri, ada beberapa nama yang cukup termahsyur yang pernah saya datangi, dan menarik untuk dibahas. Berikut adalah nama-namanya:

 
Kopi Kapal Selam
1   Kopi Kapal Selam

Coffee shop ini tidak memiliki plank, tapi tak sulit menemukannya. Bangunan tokonya terletak di samping Toko Jamu Babah Kuya yang legendaris di kawasan belakang Pasar Baru Bandung. Saat akan diajak kemari oleh seorang kawan, awalnya saya kurang begitu mengenal merek kopi ini, hingga saya melihat langsung kemasan plastik bersablon tinta kuning yang rasa-rasanya sangat familiar. Rupanya Kopi Kapal Selam ini yang sering saya lihat kemasannya saat kecil dulu. Almarhumah uyut cukup sering membeli stock kopi ini untuk kebutuhan pribadi, dan menjamu tamu.

Saat saya menggunggah foto coffee shop ini di feed instagram, rupanya cukup banyak pula kawan yang mengenal merek kopi ini sebagai kopi langganan turun temurun di keluarganya.

Bukan cuma pelanggannya yang turun temurun, tentu kepemilkan dari Kopi Kapal Selam pun sudah diwariskan antar generasi, hingga dapat bertahan hingga saat ini. Pengelolanya sekarang, yakni Koh Chandra, merupakan generasi ketiga pemilik bisnis Kopi Kapal Selam.

Suasana toko yang ia jalankan ini sangat terasa khasnya sebagai coffee shop jadul, mulai dari bangunan kunonya, kalender kertas yang tampak telaten ia sobek lembar demi lembar setiap harinya, dan kopi yang disimpan berkarung-karung besar seperti beras. Selain itu, peralatan yang ia gunakan juga tak kalah menarik. Seperti sebuah timbangan manual yang harus dipindah-pindahkan batuan bobot ukurannya agar seimbang itu mengingatkan saya akan  serta sebuah coffee grinder klasik.

Kopi Kapal Selam
Jl. Pasar Barat (Belakang Pasar Baru)

Kopi Javaco

Kopi Javaco

Selain Kopi Kapal Selam, ada satu brand kopi lain yang kemasannya familiar bagi saya. Kopi tersebut adalah kopi Javaco yang tokonya berada di sekitaran Kebon Jati, tak jauh dari bangunan ex-Hotel Surabaya. Kemasannya sendiri menggunakan bahan kertas sampul yang biasa digunakan saat sekolah dulu. Saya sering mendapati om yang juga tinggal satu rumah dengan saya yang sering membawanya pulang. Katanya, Javaco ini banyak mengambil biji kopi dari Jawa Timur, seperti Jember.

Berbeda dengan Kopi Kapal Selam, Toko Kopi Javaco terlihat lebih rapi. Semua stock kopi yang mereka miliki, tidak dipajang di meja konter. Sebagai gantinya, daya tariknya bisa dilihat dari segi bangunannya yang kuno, serta benda-benda vintage yang beberapa di antaranya bertuliskan kata-kata dalam Bahasa Belanda. Seperti sebuah lubang bersekat besi di pintu masuk yang bertuliskan brieven (surat), dan sebuah benda berbentuk kotak yang tertera kalimat versche koffie (kopi segar). Lalu ada juga ada deretan empat alat penggiling kopi seperti yang bisa saya temukan di Kopi Kapal Selam, serta sebuah motor Vespa jadul di dekatnya.

Produk Kopi Javaco ini juga bisa dibeli di beberapa toserba, dan supermarket besar seperti Yogya, Griya, dan Borma.

Kopi Javaco
Jl. Kebon Jati No. 69


Kopi Malabar

     Kopi Malabar

Saat saya mendengar kalau letak Kopi Malabar berada di seberang SMAN 4 Bandung di Jl. Gardujati, rekaman visual di kepala saya berusaha keras menggambarkan dan mengingatnya. Karena rute tersebut cukup sering saya lewati sejak kecil dulu. Tapi saya sama sekali tak bisa mengingat kalau di sekitaran situ ada sebuah coffee shop jadul. Barulah ketika diajak oleh Mang Alexxx dari Komunitas Aleut, saya baru ngeuh tempatnya.

Tak heran sebetulnya bila saya dan mungkin banyak orang lainnya tidak menyadari keberadaan Kopi Malabar. Hal ini dikarenakan dari luar coffee shop ini terlihat seperti bangunan terbengkalai. Apalagi pintunya pun selalu tertutup. Padalah dibandingkan dengan dua coffee shop yang sebelumnya saya ceritakan, bangunannya memiliki plank nama dengan tulisan yang cukup besar.

Saat pintu tokonya diketuk oleh Mang Alexxx, saya pun masih ragu kalau toko tersebut masih ada yang menempati. Namun ternyata, betul-betul masih ada orang yang keluar dari dalamnya. Seperti yang sudah saya intip dari etalase besar dari luar, kondisi di dalamnya sangatlah berantakan. Saya pun dilarang mengambil gambar saat berada di dalam. Dari pengelolanya sendiri (yang saya lupa namanya), Kopi Malabar ini masih tetap didatangi oleh pelanggan tetapnya. Bila yang sudah terbiasa berbelanja kopi di sini, mereka sudah tahu sendiri tata caranya. Walau tokonya terlihat selalu tutup, tinggal ketuk pintu saja, maka sang empunya akan siap sedia melayani keperluan kita.

Kopi Malabar
Jl. Gardujati No. 17


Kopi Aroma

4   Kopi Aroma

Di antara coffee shop jadul yang ada di Bandung, mungkin Kopi Aroma adalah yang paling populer di kalangan wisatawan. Selain karena memang planknya di Jl. Banceuy yang sangat menyolok, sesuai dengan namanya, aroma kopinya sangat harum semerbak begitu kita melintas di sekitaran sini. Ditambah, antrian pembeli kopi yang memanjang hingga ke jalan, sangat menarik rasa penasaran untuk merapat. Beberapa kali saat mampir, seringkali saya juga mendapati si pemilik sedang menjelaskan tentang kopi ini kepada beberapa turis asing.

Seperti yang tertulis pada plank namanya, yakni Koffie Fabriek Aroma, seluruh proses pemanggangan, hingga penggilingan juga dilakukan di tempat ini. Oleh karena itulah harum aroma kopi saat proses roasting dapat tercium dari luar. Hal ini pula yang menjadikan ruang pembeli saat mengantri tak begitu luas. Sebagian besar ruang pada bangunannya digunakan untuk proses produksi. Saya pun sempat melihat kondisi ruang produksinya yang terlihat luas dan sibuk, dari foto-foto kawan yang dulu sempat diizinkan untuk masuk ke dalamnya. Sayangnya kini agak sulit untuk bisa mendapat akses melihat ke dalam pabriknya.

Kopi Aroma punya keistimewaan dari rasanya yang tak terasa asam. Hal ini dikarenakan oleh proses pengolahannya yang panjang. Setiap biji kopi yang mereka hasilkan akan disimpan dan direndam terlebih dahulu hingga waktu 5-8 tahun lamanya. Untuk menjaga keaslian cita rasa dan eksklusivitasnya, mereka hanya menjual produknya di toko mereka saja. Walaupun ada saja, orang yang memborong kopi tersebut, lalu menjualnya kembali lewat toko online.

Kopi Aroma (Koffie Fabriek Aroma)
Jl. Banceuy No. 51