Kebetulan saya menulis artikel ini di peringatan Hari Santri. Iya, Tasikmalaya yang tahun lalu saya kunjungi ini memang dikenal pula sebagai Kota Santri. Lagu “Suasana di Kota Santri” yang versi GIGI pun mengalun di kepala saat mencoba mengingatnya. Setidaknya saat mampir ke daerah Manonjaya, suasana tersebut terasa dengan pasti. Banyak sekali pemuda berkopiah, dan bersarung yang saya jumpai di sekitar sini, termasuk ketika mengisi bensin, membeli pulsa, dan jajan di Indomaret. Pun ketika sedang hunting foto di Jembatan Cirahong. Hampir dalam setiap gilir lalu lintasnya, terdapat kolbak berisikan santriwan atau santriwati. Baik yang menuju dari Ciamis ke Tasik, ataupun sebaliknya.

Para Santri menyeberangi Jembatan Cirahong 
Anyway, Jembatan Cirahong ini merupakan salah satu bucket list tempat yang ingin saya kunjungi sejak lama. Bukan hanya karena popularitas visualnya di Instagram, tetapi juga karena ia memiliki pesona Intrinsik yang sangat kuat. Jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan kereta api Indonesia bertingkat, yang di bagian bawah relnya sekaligus digunakan oleh kendaraan roda dua dan roda empat.

Saat pertama kali melintasi jembatan yang didominasi warna biru ini, rasanya cukup deg-degan, mengingat bagian bawahnya hanya menggunakan kayu sebagai jalur kendaraan. Suara kayu yang berderit tiap kali ban mobil melaju satu putaran memang menjadi sensasi tersendiri. Ketegangan bisa bertambah berkali-kali lipat bila pada saat yang bersamaan, ada juga kereta yang melintas.
Kereta dan kendaraan roda melintasi Jembatan Cirahong.
Lebar Jembatan Cirahong ini hanya cukup untuk satu mobil, sehingga setiap beberapa menit sekali, arah laju kendaraan akan bergantian. Pergantian laju kendaraan diatur oleh petugas (yang saya rasa bukan petugas resmi) di dua ujung mulut jembatan. Tapi keberadaan mereka sangat membantu. Hingga setiap kendaraan yang melintas rasanya wajar saja untuk membayar biaya jalan ke petugas tersebut, tanpa ada standar nominal.

Dari segi bentuk geometrisnya, Jembatan Cirahong ini memang terlihat amat menakjubkan. Teralis yang saling bertautan sepanjang jembatan, menjadi daya tarik visual dari jembatan ini. Maka tak heran, banyak orang yang berburu untuk berfoto di tengah-tengah jembatan ini. Apalagi pada waktu pagi, dan sore hari, cahaya yang jatuh di sela-sela teralis tersebut membentuk bayangan yang sangat indah. Namun sayangnya, saat saya datang kemari, waktu sudah terlalu siang, sehingga cahaya matahari sudah berada di atas kepala.

Selain desain bagian sampingnya yang menarik, ada hal unik yang saya temukan dalam rancangan Jembatan Cirahong. Hal itu adalah bentuk busur yang melengkung di bagian bawah jembatan. Karena dari banyak jembatan kereta yang pernah saya lihat, biasanya busur ini selalu ditempatkan di atas jembatan. Entah apa fungsinya, mungkin teman-teman teknik sipil, atau arsitektur bisa menjelaskan?

Jembatan Cirahong ini terletak di Kecamatan Manonjaya, tak begitu jauh dari Masjid Agung Manonjaya yang tak kalah atraktif. Saya pun meminta Wildan untuk memarkirkan mobil sejenak sebelum pulang di pelataran masjid ini. Masjid yang disebut-sebut sebagai salah satu Masjid Tertua di Tasikmalaya ini punya bentuk yang sangat unik. Bangunan utamanya sangat menonjolkan gaya masjid-masjid di Nusantara. Atapnya bertingkat, dan runcing, sama seperti desain pertama Masjid Agung Bandung sebelum kemudian dirombak oleh Bung Karno, ataupun Masjid Cipaganti. Sementara berdiri tegak mengapitnya, terdapat dua bangunan menara yang saya rasa sangat menunjukkan ciri bangunan-bangunan peninggalan Kolonial Belanda, terutama dari jendela, pilar, serta sudutnya. Terlihat seperti menara De Vries, atau Gedung Pensil kalau di Bandung. Tapi yang menariknya lagi, atap kedua menara ini sedikit beraksen Tionghoa, sehingga agak nampak seperti pagoda. Cukup mirip dengan menara eks Hotel Surabaya Bandung yang menjadi latar cerita roman Rasia Bandoeng.

Masjid Agung Manonjaya

Di samping Masjid Manonjaya, saya juga berkesempatan mampir sekaligus Salat Jumat di Masjid Agung Tasikmalaya. Berbeda dengan Masjid Manonjaya yang klasik, Masjid Agung Tasikmalaya sangat terlihat modern. Dengan warnanya yang didominasi emas, dan putih, masjid ini terlihat sangat megah, dan mewah. Ukurannya saya rasa lebih besar bila dibandingkan dengan Masjid Raya Bandung (Masjid Agung Bandung). Ia memiliki empat kubah berbentuk limas, serta empat buah menara yang mengelilinginya.

Walaupun begitu, dari cerita sejarah yang saya dengar dari Wildan, sebetulnya masjid ini juga adalah masjid bersejarah. Namun memang bangunan aslinya sendiri sudah tidak ada, karena rusak parah. Maka dibangunlah bangunan masjid yang sekarang sebagai penggantinya.
 
Masjid Agung Tasikmalaya
Sama seperti konsep tata letak perkotaan di kebanyakan kota di Indonesia. Masjid agung atau masjid yang paling besar, selalu berdampingan dengan alun-alun kota yang menjadi jantung aktivitas warganya. Masjid Agung Tasikmalaya pun begitu. Tasik memiliki alun-alun yang tak kalah indah dari Bandung, malah mungkin bisa jadi lebih indah (karena lebih sedikit sampah berserakan). Pedagang asongan pun seolah menjadi pelengkap, bahkan lebih seru.

Begitu selesai Jumatan, beberapa pedagang, dan penjual jasa pun terlihat bergerak aktif mendekat. Ada yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, alat pijat yang boleh langsung dipraktekkan ke badan, hingga yang paling menarik adalah tukang obat sakit gigi dan pemutih gigi.

Suaranya yang lantang dengan nada cepat, tapi jelas, cukup menjadikan ia pusat perhatian oleh hampir semua orang di pelataran masjid. Kata-katanya yang mantap, dan penuh dengan keyakinan, cukup bisa membujuk orang lain menjadi kelinci percobaannya. Cara ia mempresentasikan produknya yang menyenangkan, dengan cerdiknya, ia dapat menyelipkan candaan menggelitik yang tak membosankan. Saya yang tak tertarik dengan produknya pun, ikut nimbrung bersama kerumunan, hanya untuk mendengar ia berdagang sambil ber-stand up ria. “Kade jang, geus diubaran teh ulah ngadahar es lilin. Kamari ge aya budak molotok biwirna ngadahar es lilin, da lilinna keur hurung,” begitu bunyi salah satu materinya yang disampaikan kepada seorang bocah. Receh memang, tapi menghibur.
 
Penjual obat di pelataran Masjid Agung Tasikmalaya
Sambil berjalan pulang menuju ke tempat parkir, Wildan sedikit bercerita bahwa bapak yang tadi kami lihat itu juga pernah ia tonton dalam sebuah video Youtube. Cukup dengan mengetikkan keyword “tukang obat”, beberapa video yang menunjukkan kelihaian ia dalam berjualan pun muncul. Salah satunya malah sudah mencapai ratusan ribu views.

Malamnya, kami pun menyempatkan mampir kembali ke kawasan Masjid Agung Tasikmalaya. Sama halnya seperti di Bandung, Alun-Alun yang berada di dekatnya pun masih sangat hidup. Semakin malam, semakin banyak orang yang berjualan. Tapi memang itulah ciri dari konsep Catur Gatra yang menempatkan pusat pemerintahan, masjid, alun-alun, dan pusat perekonomian masyarakat di satu tempat. Kubah-kubah emas Masjid Agung Tasikmalaya pun berpijar dengan indah.

Bagi yang memang menyenangi sejarah, dan ragam arsitektur unik, saya rasa perlu menjadikan Tasikmalaya sebagai salah satu tujuan jalan-jalannya.

Jembatan Cirahong
Jl. Raya Cirahong, Manonjaya
Tasikmalaya

Masjid Agung Manonjaya
Jl. RTA Prawira Adiningrat, Manonjaya
Tasikmalaya

Masjid Agung Tasikmalaya
Jl. Masjid Agung No. 01
Tawang, Tasikmalaya


Karena pada tiga tahun terakhir energi untuk menulis blog sempat dialihkan ke main role sebagai content writer di sebuah media, maka, beberapa pengalaman menarik yang belum sempat tercatat ini barulah bisa dituangkan setelah melewati puluhan purnama. Contohnya saja saat backpacker-an keliling Tasikmalaya pada April 2018 lalu. Tasik memang bukan daerah tujuan populer untuk backpacker, tapi bukan berarti tak ada hal atraktif yang bisa ditemui. Ditambah, tempat bernaung yang terjamin, karena Wildan, seorang sobat semasa kuliah menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya selama tiga hari.

Bagian pertama ini, khusus saya dedikasikan ke tempat tujuan kuliner Tasikmalaya yang awalnya saya kira hanya terkenal dengan Bakso dan Cimol. Satu di antaranya tentu saya coba jajal. Bakso Laksana dan Bakso Firman adalah dua nama kedai bakso yang diajukan Wildan ke saya. Pilhan pun jatuh ke Bakso Firman. Alasannya karena selain Bakso Laksana terkenal karena harganya yang premium, Bakso Firman lebih unik karena menyajikan bakso yang betul-betul dapat disebut meatball secara harfiah.

Bakso Firman ini terletak di Simpang Lima Tasikmalaya, tak begitu jauh dari Alun-Alun Tasikmalaya. Harganya cukup terjangkau, masih tak jauh berbeda dengan seporsi mie bakso di Bandung. Hanya dengan Rp20.000, saya sudah bisa mendapat semangkuk mie yamin dengan dua buah bakso urat yang menggoda.

Sesuai dengan apa yang diceritakan Wildan, Bakso Firman ini benar-benar literally meat ball. Bentuknya tidak bundar, karena terdiri dari mungkin hampir 100% gumpalan daging. Kalaupun menggunakan tepung, saya rasa hanya sedikit sekali komposisinya. Sejujurnya, untuk Bakso Firman ini saya lupa memotretnya. Tapi gambarnya cukup bisa dengan mudah kawan-kawan temukan dengan mengetik keyword nama kedai bakso tersebut.

Soal rasa, Bakso Firman ini merupakan bakso urat ter-juicy yang pernah saya makan. Rasanya seperti mengigit sebuah steak medium well dengan rasa micin. Dengan rasa yang ditawarkannya, tak heran tempat ini dipenuhi pengunjung. Padahal, untuk ukuran kedai bakso pun, tempatnya sudah terbilang sangat luas.

Bakso Firman ini merupakan tempat kuliner rekomendasi kedua setelah Nasi Tutug Oncom Benhil. Entah mengapa namanya Benhil. Mengingatkan akan Singkatan dari kawasan Bendungan Hilir di Jakarta. Lokasinya berada di Kampus UPI Tasikmalaya, Dadaha. Saat mobil yang dibawa Wildan mendekat ke TKP, Wildan berujar, “semoga kabagean keneh, biasana jam setengah 9 ge geus tutup, soalna rame pisan.”
Suasana di Kedai Tutug Oncom Benhil Tasikmalaya

Kalimat yang Wildan ucapkan memang benar adanya. Dari jarak 70 meter pun, saya sudah tahu lokasi tepat Tutug Oncom Benhil. Kerumunan orang yang mengantre hingga ke jalan cukup bisa dijadikan penanda.

Tempat berjualan Tutug Oncom Benhil ini tidak besar, tapi memiliki luas yang cukup untuk pengunjung bisa dine in. Satu porsi kurang, tapi kalau dua kebanyakan. Mungkin itu istilah tepat yang bisa disematkan pada makanan ini. Mau seenak apapun, namanya karbo tetap bisa bikin kita cepat kenyang. Seporsinya hanya dibuat dengan takaran satu mangkuk kecil. Tapi bisa juga hal ini merupakan sebuah strategi bisnis belaka. Agar setidaknya orang yang datang kemari minimal membeli dua porsi Tutug Oncom. Walaupun begitu, harganya tidak mahal, kok. Satu porsinya dihargai Rp6.000 saja. Jumlah kocek tersebut sudah bisa membuat kita mencicipi Nasi Tutug Oncom dengan dua jenis sambal, dan dua cipeu (tempe goreng).
Satu porsi Tutug Oncom Benhil Tasikmalaya
Saya sebetulnya pukan penggemar makanan berbahan oncom. Bila beli serabi pun, oncom jelas bukan pilihan. Tapi beda halnya dengan Nasi Tutug Oncom Benhil ini. Rasa oncomnya terasa lebih mild, dan punya ciri khas yang lebih adaptable di lidah. Bumbunya pas, sangat menyatu dengan nasi hangat yang disajikan. Karena tidak mungkin menghabiskan lebih dari dua porsi, maka saya menutuskan bila suatu saat mampir lagi ke Tasikmalaya, Tutug Oncom Benhil akan menjadi tempat persinggahan kuliner saya. Dan mulai saat itu, saya mentasbihkan Tutug Oncom Benhil sebagai sarapan pagi terfavorit saya selama hidup.

Selain Bakso Firman, dan Tutug Oncom Benhil, masih banyak kuliner lain yang direkomendasikan Wildan ke saya. Namun waktu, dan budget yang membatasi. Selama di Tasik, saya juga sempat mencoba cemilan Makaroni yang menurut saya keterlaluan pedasnya, dan kupat tahu yang rasanya tidak begitu istimewa untuk ditulis, sehingga saya pun lupa. Wildan juga merekomendasikan untuk mencoba Rammona Bakery yang katanya enak sekali. Sayangnya saat itu, toko tersebut sedang tutup. Namun belakangan, saya mengetahui bahwa Rammona Bakery ini memiliki cabang di Bandung. Hanya saja belum sempat saya kunjungi.

Mie Bakso Firman
Jl. Dr. Sukardjo No. 103, Simpang Lima
Tasikmalaya

Tutug Oncom Benhil
Depan Kampus UPI Tasikmalaya
Jl. Dadaha Petir, Tawang
Tasikmalaya


Dari semua alat marketing yang digunakan Joko Anwar untuk memasarkan Perempuan Tanah Jahanam, cerita bahwa skenario film yang sejak awal dinamai Impetigore ini sudah ditulis sejak satu dekade silam lah yang kemudian membawa saya menguji kejahanaman film ini. Dengan harapan, film terbarunya tersebut bisa menawarkan sebuah cerita yang berbeda, dari hanya sekadar jump scare yang membosankan. Entah hal tersebut merupakan gimmick semata, atau memang benar nyata adanya. Namun memang, unsur ini cukup bisa Ia buktikan melalui film berdurasi hampir 120 menit tersebut.
Courtesy of Base Entertainment

Sejak menit-menit pertama, suasana ketegangan memang sudah langsung dibangun dalam adegan yang sekaligus memperkenalkan sang tokoh utama Wanita, yakni Maya (Tara Basro), dan kawannya Dini (Marissa Anita) yang sama-sama berperan sebagai petugas ticketing jalan tol.



Lagu Pujaan Hati yang menjadi soundtrack film ini pun mengalun dalam adegan ini. Sama halnya dengan lagu Kelam Malam yang dipakai Joko Anwar di Pengabdi Setan, Pujaan Hati pun memiliki nuansa jadul nan creepy. 

Lagu ini sempat viral beberapa waktu lalu di platform twitter karena dimunculkan dalam sebuah tweet oleh akun @howtodressvvell yang mengaku menemukannya dalam sebuah vinyl yang terkubur di halaman rumah. Joko Anwar pun turut me-retweet cuitan tersebut hingga seolah-olah tidak tahu menahu tentang lagunya, dan tertarik untuk memasukkan lagu itu ke dalam Perempuan Tanah Jahanam. Padahal, tweet tersebut hanya berselang sekitar tujuh hari jelang penayangan filmnya. Yang membuat idenya tersebut jelas terasa impossible untuk dieksekusi. Saya menyebutnya “seolah-olah”, karena beberapa hari kemudian penyanyi Pujaan Hati pun terungkap, bersamaan dengan fakta bahwa lagu tersebut adalah salah gimmick marketing ala Jokan. The Spouse yang juga melantunkan Kelam Malam-lah yang menyanyikannya. Akan tetapi, buat saya, keberadaan lagu ini dalam film, tidak sekuat Kelam Malam di Pengabdi Setan yang memang cukup membuat bulu kuduk bergidik.

Sebetulnya, cerita awal Perempuan Tanah Jahanam ini cukup klise untuk ukuran film horror, yakni tokoh utama dan temannya yang tinggal di kota, mendatangi sebuah tempat terpencil yang angker. Rasanya saya sudah banyak melihat yang seperti ini di film Jaelangkung, Air Terjun Pengantin, atau bahkan Midsommar. Yaa..karena Midsommar baru saja saya tonton beberapa hari lalu, ada sedikit kesan yang membuat saya kemudian membandingkan kedua film ini, hehe.
Tapi sebenarnya, bagi saya ada satu hal tentang wanita hamil yang membuat saya bertanya-tanya. Namun saya rasa memang harus dibuat seperti itu, agar alurnya berjalan sesuai keinginan.

Namun tentunya, menjelang pertengahan film, alur film ini berubah menjadi tak bisa ditebak arahnya. Kepiawaian Ical Tanjung dalam mengarahkan sinematografi dari film-film sebelumnya di Joko Anwar Universe menjadi jaminannya. Ada beberapa adegan yang kameranya terlihat memfokuskan kepada hal-hal tertentu, sehingga saya mengira akan ada jump scare yang diikuti sebuah ‘kemunculan’, namun ternyata tidak ada apa. Di sini Ical cukup berhasil memainkan emosi dan ketegangan penonton. Ia melalukan hal ini secara konstan, dan dengan sangat perlahan melakukan scale up, sehingga tanpa terasa, ketegangan ini menjadi semakin menyesakkan di akhir film. Saya sampai banyak-banyak menahan nafas ketika film mendekati akhir. Tanpa bermaksud lebay, tapi badan saya langsung terasa pegal setelah credit title mulai bergulir. Nampaknya intensitas akting dan adegan yang dibangun di akhir, membuat kepala dan badan saya menegang. :’D

Tapi sebenarnya, bagi saya ada beberapa hal yang mengganjal, yaitu tentang intensitas kehamilan dan kelahiran yang tinggi di desa Harjosari. Namun saya rasa memang harus dibuat seperti itu, agar alurnya berjalan sesuai keinginan. Lalu ada juga momen flash back yang saya rasa terlalu dibuat bertubi-tubi dalam satu adegan, sehingga terkesan buru-buru dalam menyelesaikan semua pertanyaan dan rahasia yang menggelayut dari sepanjang film.

Pada dasarnya, Perempuan Tanah Jahanam merupakan film horror yang ceritanya bukan berfokus pada serangan jump scare hantu-hantunya, tapi lebih menekankan kepada ketegangan konflik yang dibangun antar manusianya. Film ini tak akan membuat kita menjadi takut akan hantu, tapi alangkah baiknya untuk tetap tidak mengajak anak-anak, ataupun ibu hamil menonton ini. Karena sepertinya akan sangat mungkin bisa memicu sebuah pikiran buruk dalam benak, yang mungkin dapat berakibat depresi.

Untuk akting, kehadiran aktris senior Chistine Hakim jelas menjadi sorotan. Setiap kemunculannya memiliki karisma tersendiri. Tak banyak, tapi menghentak. Namun, secara pribadi, untuk film ini saya lebih memfavoritkan penampilan Asmara Abigail yang tampil jauh berbeda dari karakter-karakter yang ia perankan sebelumnya. Sebagai perempuan Jawa, gestur dan tata cara bicaranya sangat lembut. Kata-kata dan intonasi ucapannya terdengar jelas, dan berkarakter. Terutama saat ia mengucapkan dua kata yang menjadi tagline dalam aktivitas promosi film ini, “Kerasa, nggak?”. Mungkin kalimat tersebut akan menjadi dialog yang akan diingat banyak orang selama bertahun-tahun ke depan. Dan, sepertinya Asmara cukup pantas untuk dinominasikan sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dalam berbagai festival film yang digelar di Indonesia.

Kejahanaman film ini cukup membuat saya menunggu untuk menyaksikan Ratu Ilmu Hitam yang akan tayang bulan depan. Walaupun bukan Joko yang turun langsung untuk membesut film tersebut. Tapi rasanya akan sangat menarik untuk melihat bagaimana cerita yang dibangun dalam film itu melalui skenario yang ditulisnya.


Kalau ditanya soal pengalaman motret terseru. Tanpa ragu, Rempug Tarung Adu Tomat di Kampung Cikareumbi Lembang, Bandung, jawabannya. Sungguh brutal, sekaligus menantang untuk menangkap momen demi momen yang terjadi begitu cepat.
 
Suasana Rempug Tarung Adu Tomat 2018 di Kampung Cikareumbi Lembang, Bandung
Acara perang tomat yang berlangsung sejak tahun 2012 ini sebetulnya sudah saya dan kawan-kawan sesama pegiat foto tunggu selama beberapa tahun ke belakang. Namun sayangnya, pada tahun-tahun sebelumnya, sosialisasi event ini berlangsung senyap. Hanya segelintir orang saja yang tahu penyelenggaraannya, sehingga kami selalu melewatkannya.

Sejak tahun 2018 lalu, gelaran La Tomatina Festival ala Kampung Cikareumbi ini mulai mendapat dukungan besar dari pemerintah setempat. Setidaknya, undangan dan poster sosialisasi acara dapat dengan mudah saya dapatkan melalui grup-grup whatsapp, dan media sosial. Untuk hari dan tanggal penyelenggaraannya pun kini lebih ramah wisatawan, karena memiliki tanggal pasti yang diadakan pada akhir pekan. Beda halnya dengan tahun-tahun sebelum-sebelumnya yang digelar pada hari ke-14 bulan Muharram yang bisa saja jatuh pada hari kerja. Bahkan mulai tahun ini, poster yang mereka sebar pun telah memiliki logo resmi, sekaligus paket yang ditawarkan untuk wisatawan. Dari paket tersebut, wisatawan akan mendapatkan kaos, helm, dan perisai yang bisa dipergunakan untuk melindungi diri dari tomat-tomat yang dilemparkan peserta lainnya. Namun sayangnya, tahun ini saya harus melewatkan kembali acara ini karena bentrok dengan acara lain.
 
Helm dan Perisai yang digunakan pada Rempug Tarung Adu Tomat
Bersama Algi, Mang Tirta, Teh Dian, dan Kang Yasin, yang memang menjadi kawan rutin saya dalam perihal hunting foto, sudah sangat antusias dalam menyambut Rempug Tarung Adu Tomat pertama kami yang jatuh pada 28 Oktober 2018. Rentetan persiapan yang sekiranya akan mendukung pengambilan foto di lapangan nanti pun kami perbincangkan dengan detail. Mulai dari angle pengambilan foto agar tak terkena lemparan tomat, hingga perlengkapan yang harus dipersiapkan.

Hari-H acara, kami pun sudah dalam persiapan penuh. Jas hujan ponco dikenakan agar pakaian tidak kotor, dan kantung plastik serta karet untuk melindungi kamera. Bahkan Mang Tirta pun membawa goggle a.k.a kacamata renang agar tetap bisa melihat dengan jernih di tengah pertempuran. Namun rencana tinggallah rencana. Persiapan yang dianggap total, rupanya tak cukup baik untuk bisa mengejar foto yang diinginkan.
Mang Tirta (ponco biru) dan Perlengkapan Perangnya
Ketika aba-aba perang mulai diserukan, dan saya baru saja mengangkat kamera untuk membidikkan moncong lensa, sekitar dua sampai tiga buah tomat sudah menghantam kepala dari arah depan dan samping, sehingga membuat pandangan dari balik kacamata memburam seketika. Saat tombol rana ditekan, hasil foto yang ditampilkan sedikit tak begitu jelas karena biji tomat dan cairan yang menutupi sebagian lensa.

Saat baru saja selesai mengelap kaca lensa yang kotor, cipratan dari tomat-tomat lain yang hancur karena mendarat di sekitar sudah kembali memburamkan lensa. Lalu sebuah lemparan telak di samping telinga, cukup dapat melontarkan kacamata saya hingga terjatuh ke jalan. Setelah saya mengambil kacamata yang terjatuh, saya pun sesegera mungkin mengungsi ke samping jalan. Masih dengan perasaan hati yang shock, dan nafas yang memburu, saya coba membereskan segala hal yang berantakan. Walaupun begitu, serangan tomat-tomat busuk masih ada saja yang menerpa. Saya memang membayangkan sebuah aksi saling lempar tomat yang brutal, seperti di video Rempug Tarung Adu Tomat tahun lalu, dan di video La Tomatina Festival di Valencia yang saya tonton. Tapi, saya tak membayangkan akan seripuh ini kondisinya, ketika berada langsung di dalamnya. Mengejutkan, menegangkan, sekaligus sangat seru. Mungkin suatu saat saya akan memilih mendaftar menjadi peserta saja, sehingga bisa melempar tomat balik orang-orang yang menyerang saya tadi, haha.
Beberapa peserta Rempug Tarung Adu Tomat berfoto seusai acara.


Di balik daya tarik acara ini, tanpa sadar rupanya konsep yang diangkatnya tersebut juga memancing kontroversi. Hal ini saya dapatkan dari ratusan komentar yang masuk setelah saya mengunggah beberapa foto tersebut ke akun Instagram media yang pada saat itu saya kelola. Komentar-komentar tersebut kebanyakan cacian dan umpatan, karena menganggap hal ini merupakan sebuah tindakan pemubaziran makanan. Padahal, saya sudah menjelaskan di caption foto, bahwa tomat yang digunakan di sini merupakan tomat-tomat yang standar kualitasnya tidak dapat dijual oleh petani Kampung Cikareumbi ke pasar. Lalu ada juga yang mengaitkan acara ini merupakan sebuah bentuk syirik, karena terdapat unsur upacara adat istiadat yang bertentangan dengan agama terkandung di dalamnya.

Namun, saya pribadi menilai apa yang dilakukan oleh warga Kampung Cikareumbi sendiri murni merupakan sebuah bentuk aktivitas hiburan dalam pariwisata, serta pemberdayaan sumber daya sisa yang tak termanfaatkan. Toh, residu dari tomat-tomat yang dilemparkannya pun akan mereka kumpulkan kembali, dan digunakan sebagai pupuk. Setiap tahunnya, tomat-tomat sisa yang tak dapat terjual akan selalu menumpuk di kampung mereka, dan akan memakan banyak sekali tempat.
Tomat yang digunakan dalam Rempug Tarung Adu Tomat.

Bagi yang berminat untuk menjajal sendiri pengalaman seru Rempug Tarung Adu Tomat di Desa Cikidang, Kampung Cikareumbi, Lembang, Bandung, langsung saja bisa merapat ke lokasinya yang berada tepat di kawasan sebelum Cikole, pada Minggu, 13 Oktober 2019. Akses masuknya bisa melalui Jl. Cikareumbi yang berada tepat di seberang Balai Penelitian Tanaman dan Sayuran (Balitsa). Perjalanan hingga kampung akan menghabiskan waktu sekitar 10-15 menit dengan berkendara. Untuk tempat parkirnya sendiri cukup banyak, namun disarankan untuk membawa sepeda motor saja agar tidak terlalu kesulitan mencari lahan. Untuk tahun ini, acara akan berlangsung mulai pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang. Tapi ingat! Jangan lupa untuk menyiapkan dengan baik segala perlengkapannya, termasuk posisi untuk mengambil gambarnya bila ingin memotret. Saya rasa, kamera yang paling ideal untuk memotret dan mengambil video untuk acara ini adalah kamera GoPro/action cam ber-casing. Kalau Cuma modal kantong kresek dan karet, siap-siap saja kamera Anda akan berbau tomat hingga dua minggu ke depan, ditambah dengan biji-biji tomat yang nyempil di sela-sela tombol dan komponen kamera. :D


Kondisi pakaian dan kamera salah satu pemotret. (kondisi saya pun tak jauh berbeda dari ini)

Melepas penat versi orang Bandung mah, kalau nggak ngeueum di Ciater, ya di Cipanas, Garut. Pake motor atau travel, cukup sejam setengah atau paling lama dua jam pun nyampe. Kebetulan beres acara keluarga minggu lalu, saya pun kembali ditakdirkan mampir ke Cipanas setelah satu dekade lamanya. Kali ini Kampung Sumber Alam menjadi tempat berlabuh saya untuk satu malam sebelum berkutat kembali dengan data pada senin lusa.
Suasana Kampung Sumber Alam Cipanas Garut pada Pagi Hari
Kampung Sumber Alam ini merupakan salah satu pemandian air panas terbesar yang terintegrasi dengan penginapan di kawasan Cipanas. Kampung Sumber Alam sudah berdiri sejak tahun 80-an, tapi baru tahun 2005 menjelma menjadi sebuah resort nan rupawan. Dari tempatnya berada, kita bisa melihat langsung pemandangan ke arah Gunung Guntur. Kebetulan, kamar tipe Junior Suite yang saya pilih pun langsung membelakangi gunung yang memiliki ketinggian 2.249 meter di atas permukaan laut tersebut.
Suasana malam hari di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut
Kamar tipe Junior Suite ini merupakan Bungalow dua lantai yang memiliki dua kamar tidur dengan king size bed, dan sebuah teras yang menghadap langsung ke danau. Beberapa bunga teratai yang mekar di sekeliling danau memberikan sebuah mood yang membuat hati ceria. Selain itu, tipe kamar ini juga memiliki private pool dengan ukuran luas mungkin 3 x 3 meter, dengan kedalaman hingga lutut orang dewasa. Tentu tidak bisa dipakai berenang, namun setidaknya cukup untuk melepaskan penat dengan berendam, saat udara dingin Garut mulai mendera.
Fasilitas King Size Bed di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut.
Di samping Junior Suite, saya berkesempatan diantar oleh pemandu di sana untuk melihat-melihat tipe kamar lainnya yang tak kalah unik. Contohnya saja Deluxe Suite yang memiliki rancangan interior yang jadul. Mulai dari desain ruangannya, hingga ornamen yang menghiasinya. Mirip sebuah rumah di film-film tahun 70-an, dengan barang-barang antiknya. Lalu ada juga Babakan Siluhur yang muat hingga 18 orang. Harga penginapannya sendiri paling mahal di antara yang lain. Tapi rasanya harga tersebut sangat worth it dengan menimbang kapasitas orang yang bisa ditampungnya, belum lagi desain private pool-nya yang terlihat lebih cantik, dan tentu instagrammable. Sepertinya Babakan Siluhur ini akan sangat cocok untuk dijadikan tempat menggelar acara reunian, atau kumpul keluarga besar. Apalagi terdapat pula sebuah pendopo yang cukup luas untuk membuat  sebuah acara.
 
Kawasan Babakan Siluhur di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut
Kampung Sumber Alam memang cukup jempolan dari segi rancangan kawasannya. Namun terlebih dari itu, mereka juga menyediakan sebuah paket tour yang sangat menarik, yakni paket pemanduan pendakian Gunung Guntur. Akan tetapi, mengingat napas yang sudah kian cepat memburu karena tubuh terlalu lama dimanja, maka Kaki Gunung Guntur atau yang juga disebut dengan Tegal Malaka menjadi titik tujuan paling realistis dalam pendakian ini. Walaupun disebut kaki gunung, ternyata tetap saja perjalanan menuju ke sana cukup bikin hah..heh..hoh. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 20 menit jalan kaki untuk sampai. Keletihan lalu terbayarkan oleh pemandangan yang menakjubkan dari matahari terbit yang sebetulnya saat nanjak tadi sempat tertutup awan gelap. By the way, Gunung Guntur ini sebetulnya merupakan gunung yang kondisinya sudah gundul karena penambangan pasir.
Pemandangan dari Kaki Gunung Guntur atau Disebut juga dengan Tegal Malaka
Selepas hiking, saya dianjurkan untuk merendam kaki-kaki yang pegal di kolam air panas. Selain private pool dengan air yang cukup panas tapi bikin rileks, Kampung Sumber Alam pun tentu memiliki kolam air dingin yang cukup besar yang bisa diakses oleh non-guest. Karena luasnya, kolam ini juga bisa digunakan untuk berenang.
Kolam renang umum di Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut
Buat yang ingin mencari tempat liburan singkat bersama keluarga yang tak jauh dari Bandung, Sumber Alam ini bisa menjadi pilihan terbaik, dengan harga yang sangat worth it dengan fasilitas yang didapatnya.

Kampung Sumber Alam Cipanas, Garut

Kampung Sumber Alam
Jl. Raya Cipanas No. 122, Garut
Contact:

(0262) 238 000/ 237 700
0815 8480 7837
0815 8480 7838 (WA only)



“Who’s the best Joker?”
Pertanyaan itu terus muncul sejak satu dekade lalu, tatkala almarhum Heath Ledger sukses memerankan tokoh antagonis DC Comic tersebut dengan gemilang dalam ‘The Dark Knight’ besutan Christopher Nolan.

Ledger yang berhasil menampilkan sisi lain Joker yang gelap, cukup dapat meraih hati banyak penggemar DC dalam beberapa polling yang diselenggarakan oleh berbagai situs hiburan seperti imdb.com, dan mtv.com.

Bagi saya, sebetulnya pertanyaan tentang Joker terbaik adalah sesuatu yang sia-sia untuk ditanyakan. Setiap aktor yang pernah memerankan Joker tak bisa dibandingkan satu sama lain, dikarenakan karakter Joker yang masing-masing mereka perankan berada dalam universe-nya sendiri. Jack Nicholson dengan Joker-nya yang wacko, Heath Ledger sebagai Joker yang gelap, Jared Letto yang eksentrik, atau bahkan Mark Hamill dengan dubbing di serial animasinya yang dianggap memiliki voice over suara tertawa Joker yang dinilai paling berkarakter.

Ngomong-ngomong soal Joker yang ‘gelap’, mulai tahun ini Heath Ledger tak sendiri. Joaquin Phoenix resmi bergabung ke dalam deretan pemeran Joker dalam film spin-off JOKER yang baru saja ditayangkan Oktober 2019 ini. Kegelapannya ini sudah sangat terasa sejak teaser trailer­­-nya diluncurkan beberapa bulan lalu. Satu hal yang saya sadari sedari pertama melihatnya. Film ini akan menjadi film material Oscar. Joaquin yang bermain dengan baik sebagai Theodore Twombly yang penyendiri pada ‘Her’ (2013), cukup menjadi hal yang menjanjikan bagi saya untuk memberi warna berbeda pada karakter Joker.
Poster Courtesy of Warner Bros Entertainment
Tebakan saya pun tak meleset. Sejak menit pertama kemunculannya dalam JOKER, Joaquin sudah memberikan kesan mendalam pada aktingnya. Ia menarik saya ke sebuah kegelapan yang berbeda dengan yang Joker-Ledger ciptakan. Kegelapan yang sebetulnya banyak dijumpai sehari-hari pada orang-orang di sekitar kita, atau bahkan pada diri kita sendiri. Joker-Joaquin adalah Joker paling realistis yang pernah dihadirkan ke layar. Tawanya adalah tawa ‘sakit’ di balik permasalahan hidup yang tengah ia hadapi. Joker-Joaquin adalah ‘kita’.

Joker di sini diperlihatkan bukan sebagai villain gila yang ingin menguasai dunia. Joker yang bernama asli Arthur Fleck hanyalah salah seorang dari kebanyakan pria di masyarakat yang mengalami depresi, delusional, dan mungkin sedikit memiliki kecenderungan schizophrenic. Menjadi Joker, adalah jalan yang ia ambil dalam persimpangannya.

Di samping cerita, dan akting Joaquin Phoenix yang menawan. Pengambilan gambar, perpindahan adegan, serta tata kelola musiknya pun sangat atraktif, sekaligus memberikan suasana yang sangat intense saat menyaksikannya. Music scoring-nya pada beberapa adegan yang berupa genderang yang ditabuh perlahan, cukup mengingatkan saya pada film One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975) yang juga dibintangi oleh salah satu ‘mantan’ Joker yaitu Jack Nicholson. Apalagi ada beberapa adegannya yang juga berlatar di rumah sakit jiwa. Menariknya lagi, ada juga adegan-adegan yang disampaikan tidak secara gamblang, yang cukup membuat kita memutar otak, atau bahkan memberikan pekerjaan rumah yang mungkin harus diselesaikan dengan menonton film ini lebih dari sekali.

Walau fokus pada karakter Joker, Todd Philips yang sebelumnya dikenal menyutradarai The Hangover (2009) cukup berhasil menarik benang merah Joker sebagai penjahat ikonik di DC Comics ke dalam isi cerita, tanpa mengubah jati diri film.

Saya bukan seorang movie expert. Tapi sebagai penikmat, prediksi saya setidaknya dua nominasi Oscar dalam kategori Best Actor dan Best Picture akan menjadi santapan JOKER. Tentu bukan tidak mungkin juga akan merambah kategori lain, dan bahkan memenanginya. Akan sulit menjadi contender akting Joaquin Phoenix di film ini.

Pesan saya, sebaiknya tidak membawa anak-anak untuk menonton film ini. Selain memang karena mungkin tidak akan disukai anak di bawah umur yang menginginkan aksi pada film superhero pada umumnya, JOKER di Indonesia yang memiliki rating untuk dewasa benar-benar ditayangkan tanpa sensor. Baik untuk adegannya, ataupun untuk beberapa dialognya.





“Lima, delapan, sepuluh,” dalam hati saya menghitung orang-orang yang kemudian menyusul saya masuk ke dalam studio 9. Judul film yang hendak saya tonton ini memang tidak sepopuler Pretty Boys dan Danur 3 yang menjadi kawan seangkatannya di bioskop Indonesia. Namun bila mungkin dapat sedikit menaikkan biaya promosinya, Ne Zha seharusnya dapat menjadi santapan lezat bagi masyarakat Indonesia.


Untung saja lah saya merupakan salah seorang beruntung yang tanpa sengaja membaca ulasan akun Watchmen.id dan Bicara Box Office tentang film ini di lini masa twitter. Informasi tentang predikat film terlaris ke-2 sepanjang masa di Tiongkok, cukup menggugah rasa penasaran saya akan film ini. Ditambah dengan berbagai testimoni netizen yang menyatakan mengenai kualitas visualnya yang luar biasa. Walau sebetulnya, saya belum begitu menangkap kekerenan film ini dari trailer-nya.

Setelah menonton film ini, saya harus setuju dengan pendapat yang berkeliaran bebas di social media, bahwa untuk ukuran film animasi, gambarnya sangat…sangat memanjakan mata. Bagi saya, Ne Zha menjadi film animasi dengan kualitas visual terbaik yang dikemas dengan rentetan adegan pertarungan yang menggelegar. Rasa takjub melemparkan ingatan saya pada saat menonton fighting scene Son Goku vs Frieza dalam Dragon Ball Z di Indosiar dulu, namun tentu dengan level visual yang jauh di atasnya.

Ne Zha ini sebetulnya bukan karakter asing bagi penonton Indonesia seumuran saya. Dulu ia dikenal dengan nama Na Cha ketika sempat muncul pada serial Kera Sakti, dan beberapa film mandarin lainnya. Sama halnya dengan di serialnya dulu, tokoh cerita legenda Tiongkok ini selalu digambarkan sebagai anak nakal yang sulit untuk dikendalikan, sehingga lehernya harus dibelenggu oleh gelang sakti. Mirip-mirip dengan Sun Go Kong yang kepalanya harus dibelenggu oleh semacam ikat kepala besi.

Ciri khas lainnya juga terlihat dari penampilannya yang digambarkan berbaju merah, memiliki rambut yang dicepol kiri kanan, bersenjatakan tombak yang bisa mengeluarkan api, serta mempunyai cakram kembar yang bisa ia gunakan sebagai kendaraannya.

Tak cuma bermodalkan tampilan visual, Ne Zha juga menyajikan cerita yang sangat baik. Tentunya ini bukan kali pertama cerita legenda Ne Zha diadaptasi ke dalam sebuah film, namun saya merasa film Ne Zha inilah yang terbaik. Selain ada beberapa adegan memorable yang cukup membuat mata berkaca-kaca, beberapa tokoh lain yang ditampilkannya pun berkarakter sangat kuat. Mungkin bila ada action figure tokoh-tokoh tersebut yang dijual di Indonesia, saya akan membelinya. Plot dalam ceritanya memang berjalan cukup serius, namun komedi yang dimunculkan cukup berhasil memberi tawa dan kesan tersendiri.

Secara garis besar, bagi saya Ne Zha sangat layak disandingkan bahkan dengan deretan film animasi buatan pixar. Tahun ini setidaknya ada Toy Story 4, dan Ne Zha yang telah mencuri perhatian. Entah bagaimana dengan nasib Frozen 2 pada akhir tahun ini. O..yah, Nezha ini juga memiliki tiga credit scene. Satu di awal, satu di tengah, dan satu di akhir. Pengumuman akan adanya credit scene ini bahkan diberitahukan secara gamblang saat credit mulai bergulir di layar. Sepertinya akan sangat menarik bila Ne Zha dibuat sekuelnya.

Nah, bagi yang penasaran dengan kerennya film ini, sebaiknya segera bergerak ke CGV terdekat yang menayangkannya di kota kamu. Karena bila melihat awareness masyarakat serta jumlah layar yang tersedia, rasanya film ini tak akan berumur panjang di Indonesia. Bagi yang berdomisili di Bandung, dapat menyaksikannya hanya di CGV Paris van Java.


Hiruk pikuk Braga Festival cukup membuat jengah, dan pusing kepala. Tak heran memang, kala itu, event di Kota Bandung masih cawerang jarang-jarang, bagai daging di panci sup meja prasmanan kondangan yang kita datangi saat injury time. Perhatian saya kemudian teralihkan kepada sebuah gang kecil di tengah himpitan jalan Braga di mana ada 3-5 orang bergantian keluar masuk. Beberapa mural cantik yang menghiasi sekeliling dindingnya semakin mengundang saya untuk menjelajah lebih dalam. Seolah tak mau kalah dengan kebisingan panggung Braga Festival 2012, alunan musik pun kian terdengar dalam setiap langkah yang saya ayunkan ke depan.
Mulut Gang Apandi di Jl. Braga, Bandung
Setibanya di sumber suara, sebuah panggung dengan setelan Agustusan rupanya berdiri di tengah-tengah gang sempit yang barusan saya lewati. Sebuah pertunjukan tari-tarian yang diiringi kendang pencak, nampak sedang ditampilkan. Riuh penonton yang tak henti-hentinya bersorak dan bertepuk tangan, membuat ruang kecil berlatar bangunan tinggi di sekelilingnya ini menjadi bergelora. Itulah kali pertama saya berkenalan dengan Gang Apandi. Selama 20 tahun lebih berjalan-jalan di sekitaran Braga, baru kali ini saya melihat kehidupan di baliknya.
Dokumentasi panggung perayaan Braga Festival 2012, di Gang Apandi.

Potret kehidupan di Gang Apandi ini sebetulnya setali tiga uang dengan kawasan tempat saya tinggal. Lebar jalan yang hanya cukup untuk motor, deretan pakaian yang dijemur tepat di atas kepala, serta perbincangan dengan tetangga yang dilakukan dengan saling berteriak dari rumah masing-masing. Saya sendiri sering menyebutnya ‘Gang Seribu Punten’. Karena saat kita berjalan di daerah yang dikategorikan sebagai ‘Kampung Kota’ ini, hampir setiap meternya kita akan terus menyebut kata ‘punten’ kepada orang yang sebetulnya nongkrong di depan pintu rumahnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, hingga puncaknya awal September 2019 lalu, suara Gang Apandi terdengar kian lantang, hingga mulai dikenal lebih banyak warga maupun wisatawan di Kota Bandung. Sebuah spanduk petisi bertandatangan warga, serta bertuliskan “Gang Apandi Harga Mati!!! Kami warga RW 08 Kelurahan Braga menolak penutupan Gang Apandi,” membentang di bangunan bekas Toko Buku Djawa. Pemicunya adalah sebuah mobil (yang sudah dikempeskan bannya) yang diparkirkan memblokir akses gang pada 10 September 2019, dini hari. Hal ini sontak membuat warga Gang Apandi geram. Persengketaan lahan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir memang cukup membuat panas suasana. Puluhan rumah pun perlahan telah dihancurkan dalam kurun waktu satu tahun ke belakang. Sementara warga yang sudah kehilangan tempat bernaungnya, tidak mendapatkan imbalan yang setimpal. Dalam perbincangan saya dengan Pak Nana, Ketua RW 08, warga hanya mendapat penggantian Rp40 Juta yang mesti dibagi kepada puluhan kepala keluarga.
 
Beberapa rumah warga Gang Apandi yang sudah dihancurkan.
Saya memang cukup sering mampir ke Gang Apandi bersama kawan. Entah untuk memotret, ataupun terlibat dalam sebuah obrolan panjang dengan warga. Warga di sini sangat ramah, kami selalu diperbolehkan merekam aktivitas mereka, dan mengunggahnya di media sosial. Tentu harapannya agar cerita kami ini dapat membuka mata masyarakat dan pemerintah, bahwa ada sebuah ruang kehidupan di balik megahnya wisata Jalan Braga.

Dalam beberapa kali kunjungan saya ke Gang Apandi, sapaan saya terhadap warga selalu berujung dengan sesi curhat mengenai penolakan mereka terhadap rencana penutupan mulut gang tersebut. Selain karena terowongan yang menjadi mulut gang ini merupakan bagian dari bangunan cagar budaya, gang tersebut juga merupakan akses utama warga untuk pergi memakamkan jenazah, ataupun mengungsi ketika ada banjir besar. Sejarah mencatat bahwa kawasan Gang Apandi pernah beberapa kali mengalami banjir besar pada tahun 1952, awal periode 80-an,  hingga terakhir tahun 2009. Hal ini dikarenakan Kampung Apandi ini juga berbatasan langsung dengan Sungai Cikapundung. Di samping itu, Kampung Apandi ini juga merupakan bagian dari sejarah Bangsa Indonesia sebagai tempat bersembunyinya para pejuang kemerdekaan.
Suasana di sisi perkampungan di Kelurahan Braga yang berbatasan dengan Sungai Cikapundung
Di luar permasalahan yang merundungnya saat ini, Gang Apandi memiliki latar belakang historis yang tak kalah penting dengan Jalan Braga, yang sebetulnya dapat menjadi bagian dari wisata sejarah di Bandung. Karena di perkampungan inilah, para pejuang kemerdekaan bersembunyi dahulu. Tentu akan menjadi sangat menarik untuk ditelusuri, bila seluruh pihak dapat bekerja sama mengemas sisi tersebut. Yang pasti, rute tour wisata tersebut jangan luput dari aktivitas sarapan pagi dengan bubur ayam di mulut Gang Apandi yang rasanya selalu tepat untuk mengawali hari.
Plakat Cagar Budaya Gang Apandi (maaf bila kurang jelas, karena memang objek awalnya saat motret bukan plakat ini)





“Teu boga sawah, asal boga pare, teu boga pare, asal boga beas, teu boga beas, asal bisa nyangu, teu nyangu, asal dahar, teu dahar, asal kuat.”
Hasil panen Kampung Adat Cireundeu yang dipertunjukan saat acara Tutup Taun

Sebuah tulisan berbahasa Sunda yang secara arti cukup menarik ini, terpampang jelas di sebuah bangunan mirip saung di Kampung Adat Cireundeu. Sementara di bawah tulisan tersebut, berbagai hasil kekayaan alam yang didominasi oleh singkong, tersusun rapi, bak tumpeng raksasa yang dibuat untuk sebuah perayaan. Saat itu, warga Cireundeu memang tengah bersukacita memperingati pergantian tahun Saka Sunda dalam upacara adat Tutup Taun yang memang sudah rutin diadakan.  

Bukan tanpa alasan singkong menjadi primadona yang terlihat menjadi santapan, serta hiasan pada acara Tutup Taun Kampung Adat Cireundeu. Kampung yang berada di kawasan administratif Cimahi ini memang dikenal karena kebiasaannya yang sudah mulai mengganti pilihan bahan baku makanannya dengan singkong, mulai dari nasi singkong, dendeng singkong, hingga cemilan seperti egg roll pun dibuat dengan bahan utama singkong. Hal ini pun menjelaskan mengenai tulisan yang tertera di bangunan tadi. Itulah filosofi yang dipegang erat oleh warga Kampung Adat Cireundeu ini. Mereka berpedoman bahwa manusia itu tidak boleh bergantung pada satu bahan makanan saja. Sehingga bila satu bahan sedang langka, mereka lantas tidak harus kelabakan.
Cemilan khas Kampung Adat Cireundeu yang terbuat dari bahan baku beras singkong.

Contoh yang sangat nyata terjadi pada krisis moneter tahun 1997 silam. Saat seluruh masyarakat Indonesia ribut mempersoalkan kenaikan harga beras, dan bahan pokok lainnya, yang diakibatkan oleh inflasi besar-besaran. Warga Kampung Adat Cireundeu sama sekali tidak terpengaruh akan hal tersebut. Selain bisa ditanam di kebun belakang rumah, biaya pengembangannya pun tergolong murah. Lalu bila ditinjau dari segi gizinya, singkong memiliki kandungan gizi lebih baik, karena komposisinya yang rendah gula. Satu bungkus Rasi (beras singkong) dengan berat mungkin sekitar 500gr (sudah agak lupa, karena terakhir beli 2017), bisa dibeli dengan harga Rp5.000 saja. Satu kemasan tersebut sudah dapat dibuat nasi sekitar satu dandang.

Saya pribadi sudah beberapa kali mampir ke Kampung Adat Cireundeu, terutama saat digelarnya acara Tutup Taun. Setidaknya saat saya menyengaja untuk membeli produk-produk olahan singkongnya yang unik, ada festival budaya yang bisa sekaligus saya saksikan. Karena di luar acara Tutup Tahun, kampung ini terlihat seperti pemukiman warga biasa saja. Sudah tidak tersisa bekas-bekas rumah adatnya. Walaupun begitu, guyubnya warga, serta sikap gotong royong dalam keseharian masih bisa terlihat. Hal ini sudah langka bila saya bercermin ke lingkungan yang saya temui sehari-hari.
Pengunjung membeli produk-produk makanan olahan singkong di Kampung Adat Cireundeu.
Seperti kampung adat lainnya yang pernah saya kunjungi, Cireundeu juga memiliki hutan larangan. Namun, seperti yang sudah saya jelaskan di beberapa artikel sebelumnya, hutan larangan ini bukan berarti benar-benar terlarang untuk masuk. Hanya saja, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pengunjungnya, seperti dilarang dimasuki oleh perempuan yang sedang haid, serta pengunjung harus pula melepaskan alas kaki. Ujung dari hutan tersebut adalah Puncak Salam yang memiliki pemandangan yang katanya tak kalah menawan dari tempat-tempat wisata di Lembang. Belakangan malah sudah ada penyedia open trip yang memasarkan perjalanan malam ke Puncak Salam ini. Sayangnya saya belum berkesempatan menjajalnya.

Baca juga: Bertandang ke Kampung Adat Cikondang
Agenda hiburan pada acara Tutup Taun di Kampung Adat Cireundeu
Di samping wisata ke Puncak Salam, Kampung Adat Cireundeu juga memang sudah serius disiapkan oleh Pemerintah Kota Cimahi sebagai tujuan wisata andalannya. Bahkan kini mereka sudah memiliki slogan “Visit Cireundeu” yang sekaligus dijadikan akun promosi pariwisatanya. Tapi, memang tak heran bila Cireundeu ini menjadi ujung tombak pariwisata di Cimahi. Karena berdasarkan perbincangan saya dengan Kang Tri, salah seorang pemuda kampung tersebut, setiap minggunya itu selalu ada saja mahasiswa yang datang dari berbagai daerah untuk mempelajari budaya Kampung Adat Cireundeu. Hal ini juga menandakan bahwa sebetulnya masih ada wisata atraktif yang tidak dibatasi dari penilaian sisi visualnya. Karena sesungguhnya, budaya pun merupakan elemen penting pariwisata. Itu yang kebanyakan orang lupa.

Kampung Adat Cireundeu
Jl. Saptadaya (masuk lewat Jl. Leuwigajah di sebelah Kerkof), Cimahi