Jumat, 26 Januari 2018

Menghidupkan Kenangan Dari jalur Kereta Mati di Bandung

Tour Kit dari Susur Jejak Spoorwegen

Manghev, jadi ayeuna teh moal tumpak kareta?” tanya saya kepada Mang Hevi.“Kumaha carana? Jalurna ge geus euweuh,” jawab Mang Hevi sambil tertawa geli. “Tong boro ka Ciwidey, nepi ka Kordon ge geus moal bisa atuh,” samber Mang Irfan yang juga ikut seuri. Dan saya baru sadar begitu bodohnya saya menyadari hal itu, seumur hidup di Bandung, mana ada orang ke Ciwidey naik kereta api, padahal bukan satu-dua kali saya ke daerah selatan Bandung. Anggap saja kelinglungan saya pagi itu disebabkan oleh pekerjaan yang super padat belakangan hari. Pantas saja titik kumpul tour kali ini bukan di stasiun kereta. By the way, dua orang yang berbincang dengan saya ini merupakan kawan saya dari Komunitas Aleut yang terlibat dalam “Susur Jejak Spoorwegen” yang diselenggarakan oleh MooiBandoeng. Imbuhan “mang” pada nama panggilan saya kepada mereka menandakan perbedaan usia yang harus dijaga.

Perjalanan baru, tentunya menghasilkan pengalaman dan perjumpaan dengan orang baru pula. Beberapa peminat sejarah, travel blogger, dan tanpa diduga seorang kawan yang sebelumnya hanya saya kenal melalui instagram dengan akun @chubycheek. Hari itu saya baru tahu kalau nama aslinya Retno. Itupun karena Bang Ridwan dari MooiBandoeng memperkenalkan akun instagram saya kepada peserta tour lainnya di mobil elf. Retno datang bersama kawannya Juan,seorang travel blogger yang dipanggil sesuai pelafalan Bahasa Indonesia yaitu “Juan”, bukan “Yuan” ataupun “Khuan.”
Sesi perkenalan hangat dan sedikit cerita dari Bang Ridwan tentang kawasan Buah Batu era 80-an membuat perjalanan kami tak begitu terasa, hingga kendaraan berhenti di sebuah area lapang dengan bangunan hijau bertuliskan Stasiun Barat Desa Banjaran. Stasiun yang tentunya kini sudah tak terlihat kereta api terparkir di pelatarannya. Di dekatnya hanya ada sebuah gudang tua dengan besi-besi yang menonjol dari balik jalan, menandakan jalan di kampung ini dibangun di atas rel. Yak, semenjak jalur kereta ke arah selatan Bandung mati, orang-orang pun mulai mendirikan peradaban di atasnya.
Bangunan Stasiun Banjaran yang Kini Menjadi Balai RW

Rintik hujan mulai turun seiring dengan penjelasan Manghev yang bertindak sebagai pemandu bersama Manglex pada tour kali ini. Kami pun enggan berlama-lama  berdiri di stasiun Banjaran, karena masih banyak titik tujuan yang harus kami datangi. Dan destinasi ke-2 adalah Jembatan Kereta Api Sadu yang cukup populer dijadikan sebagai tempat berfoto karena dapat terlihat langsung dari jalan yang menuju ke Ciwidey. Kedatangan saya ke Jembatan Sadu bukan yang pertama, karena sebelumnya, saya pun pernah mengunjungi jembatan ini bersama Komunitas Aleut pada tahun 2016, persis dengan nuansa cuaca yang sama, yaitu hujan ringan disertai kenangan. Yak, maksudnya  kenangan saat berkunjung ke mari.

Jembatan Sadu ini tak begitu lebar, dan tak memiliki besi pengaman di sampingnya. Bagi yang takut ketinggian, mungkin akan merasa “degdegser” saat berjalan melintasinya. Beberapa kawan pun lebih memilih untuk menikmati gorengan dan secangkir kopi di warung. Tentunya berbeda dengan penduduk sekitar yang dapat menaklukan jembatan ini dengan mudahnya, bahkan dapat sambil mengendarai kendaraan roda dua. Kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama di jembatan ini untuk memberi waktu bagi yang ingin berfoto, melihat-lihat kode yang tertera di rangka besi jembatan, serta menghabiskan gehu di tangan kanan.

Setelah dari Jembatan Sadu, kami bergerak menuju Jembatan Kereta selanjutnya, yaitu Jembatan Rancagoong. Desain bagian rangka besinya sama persis dengan Jembatan Sadu. Namun yang membedakannya adalah sebuah jembatan batu yang dibangun di sebelahnya. Pemandangan yang dapat dilihat di sini pun cukup memanjakan mata. Ada sebuah terasering di salah satu sisinya dengan hanya satu petak sawah yang ditanami. Karena penasaran dengan bagaimana bentuk jembatan ini secara utuh, maka kami pun turun ke bawah jembatan, mendengar cerita dari Manghev, mengambil beberapa foto, dan berbincang dengan petani yang sedang bekerja di bawahnya.

“Tos aya genep mah ti luhur dieu,” celetuk seorang petani saat saya meminta izin melintas. Saya pun menghentikan langkah dan bertanya balik karena penasaran, “ Genep naon bu? Jalmi? Luncat?” “Muhun, mineng di dieu mah,” jawabnya. Mendengar cerita beliau, saya pun sedikit bergidik. Rupanya jembatan ini tak kalah pamornya dengan Rooftop Pasar Baru di Bandung sebagai tempat mengakhiri hidup. Saat akan kembali naik, Manghev menunjukkan desain jembatan batu yang dibuat sangat rapi untuk ukuran konstruksi zaman dulu. Dari garis yang membentuknya memang sangat berbeda bila dibandingkan dengan konstruksi batu zaman sekarang, garisnya terlihat dikerjakan dengan detail dan sangat estetis.

Untuk ukuran pegawai korporat yang sudah jarang berolahraga, naik kembali ke atas jembatan Rancagoong ini sudah dapat dihitung sebuah aktivitas hiking yang cukup membuat bunyi nafas layaknya motor yang 6 bulan belum di-service, begitu kepayahan. Kami pun bergegas pergi ke titik berikutnya, namun kali ini bukan karena hujan yang turun, namun karena perut yang sudah meraung. Kami berhenti sejenak untuk men-charge daya gadget dan tubuh, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke bekas Stasiun Ciwidey yang memiliki sebuah turn table yang masih dapat dijumpai di tengah perkampungan. Awalnya saya agak bingung saat diceritakan ada turn table di sini, dikarenakan turn table dalam imajinasi saya merupakan sebuah alat yang digunakan DJ untuk memutar piringan. Dan rupanya turn table ini merupakan sebuah alat untuk memutar balik kepala kereta api.

Saat akan beranjak ke lokasi terakhir yaitu Jembatan Kereta Kabuyutan, kami ditawari untuk berkunjung sejenak di Perkebunan Teh Rancabali yang pada kesempatan tersebut luar biasa berkabut. Perkebunan teh ini merupakan salah satu atraksi wisata yang digemari wisatawan dikarenakan polanya yang dibuat unik dan tentu menjadi  objek yang instagrammable. Setelah mengambil beberapa foto, kios jagung bakar di samping jalan raya pun menjadi pilihan untuk menghangatkan diri. Hujan yang kembali turun dengan lebih deras dari sebelumnya seolah menjadi tambahan kenikmatan sendiri saat menyantap jagung yang fresh diangkat dari panggangan arang.

Hujan reda, kami pun berangkat ke lokasi Jembatan Kabuyutan berada. Selain Jembatan Sadu, Jembatan Kabuyutan ini juga cukup populer di jagad instagram. Hanya saja sedikit lebih menyeramkan untuk berfoto di sini, karena bagian tengah jalannya tak dibangun apa-apa, masih dibiarkan seperti aslinya.  Namun tetap saja, beberapa kawan rela menguji nyalinya untuk berfoto di sini.


Dari perjalanan ini, saya jadi membayangkan, andai saja jalur kereta ini benar-benar masih aktif, perjalanan wisata ke Ciwidey tentu tidak akan semacet seperti yang banyak dikeluhkan wisatawan. Daripada bermacet ria di jalan, tentu para wisatawan akan lebih banyak memilih naik kereta. Bagi saya pribadi, perjalanan berkereta selalu lebih menyenangkan. Duduk di samping jendela sambil melihat bagaimana pemandangan dengan cepat terus berganti, sungguh dapat menjadi kegembiraan tersendiri. Namun tentunya yang sudah lama hilang akan sulit untuk kembali, tapi bukan berarti tak dapat direnungi. Karena masa sekarang ada karena masa lalu, dan tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa lalu.

Selasa, 02 Januari 2018

Kopi Toko Djawa, Reinkarnasi Aksara Menjadi Cita Rasa

Kopi Toko Djawa
Dari pakaiannya, jelas ia seorang siswi sekolah menengah atas. Dengan sedikit ragu, ia kemudian berjalan mendekati dan menyapa seorang pria yang sedang berdiri di sebuah toko buku. Dari raut wajah keduanya yang tersipu, tersirat ada sebuah rasa yang lama tertimbun telah melampaui batas waktu. Begitulah salah satu cuplikan adegan populer yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta SCTV, tiap kali akan menayangkan sebuah program bertemakan keluarga. Toko buku yang menjadi latar dari adegan tersebut adalah Toko Buku Djawa yang terletak di Jalan Braga, Bandung. Namun, menjadi tontonan keluarga Indonesia selama-bertahun-tahun tak menjamin toko buku tersebut kemudian menjadi laris manis diserbu para turis. Karena yang diburu orang yakni hanya bagian luar toko bukunya saja yang lalu banyak dijadikan latar untuk tempat berfoto. Toko Buku Djawa pun resmi tutup usia pada tahun 2015 silam, sampai akhirnya bereinkarnasi menjadi Kopi Toko Djawa. Dari yang menjual aksara, kini menawarkan cita rasa.

Dari tampilan luar, nyaris tak ada yang berubah dari saat sebelumnya menjadi Toko Buku Djawa. Bangunan yang sama, jenis font nama yang sama, jendela dan pintu yang sama, hanya saja aktivitas di dalamnya yang berbeda. Gaya interior ala coffee shop modern nampak sangat terasa di setiap sudutnya. Namun, ukuran ruangannya sendiri tak begitu besar. Untuk dapat menikmati secangkir kopi sambil larut dalam sebuah perbincangan, hanya tersedia sebuah meja panjang untuk 10 orang di pojok ruangan dan sebuah meja kecil di sampingnya khusus untuk yang berpasangan. Adapun spot lainnya hanya tersedia dua bangku panjang yang sebenarnya cukup nyaman untuk duduk santai, tapi tidak memiliki meja terpisah untuk menyimpan kopi dan cemilan. Beberapa buku dan majalah tersedia di setiap tempat duduk, namun saya rasa bukan tipe-tipe buku ideal untuk dibaca, tapi tipe buku yang cukup manis untuk dibingkai dalam feed instagram bersama secangkir kopi.
Suasana di dalam Kopi Toko Djawa

Menu yang ditawarkannya pun sebenarnya tak begitu jauh berbeda dari coffee shop yang lain, masih seputar espresso,  cappuccino, serta latte dan beragam modifikasi rasanya. Kopi Toko Djawa mengklasifikasikan jenis-jenis kopi tersebut masuk ke dalam “Kopi Mewah,” dengan harga yang sebenarnya cukup wajar. Justru menu yang menarik perhatian saya ada di dalam kolom “Kopi Biasa.” Ada menu Es Kopi Susu dan Es Kopi Susu Toko Djawa. Karena memang cuaca Bandung yang belakangan hari sedang panas-panasnya, saya rasa menu-menu minuman dingin ini akan sangat tepat. Es Kopi Susu Toko Djawa kemudian menjadi pilihan saya, sebab biasanya menu dengan embel-embel nama toko selalu memiliki racikan yang istimewa. Selain Es Kopi Susu Toko Djawa, menu unik lainnya ada kopi yang dicampur dengan air kelapa. Saya pun sebenarnya sempat ingin memilih menu tersebut, namun sayangnya material air kelapanya sedang tidak ada.
Pembuatan Kopi di Kopi Toko Djawa

Tak lama kemudian, Es Kopi Susu Toko Djawa pun telah hadir di meja bersama sebuah cheese croissant hangat yang saya pilih sebagai pendamping. Jadi, alasan mengapa nama menu ini disebut Es Kopi Susu Toko Djawa, dikarenakan gulanya sendiri menggunakan gula Jawa yang telah dicairkan, sama seperti yang digunakan pada cendol. Kemasannya pun menggunakan gelas plastik yang sering digunakan oleh minuman-minuman yang dijual di mall, lengkap dengan label nama Kopi Toko Djawa yang berkesan vintage. Bagi saya, minuman ini cukup berkesan. Rasa gula Jawa cairnya memberikan kesan tradisional pada kopi ini. Sedangkan untuk cheese croissant-nya sangat renyah namun berisi, tak hanya sekedar croissant yang kalau dalam bahasa Sundanya itu ngeprul. Apalagi harga croissant ini hanya Rp.15.000 saja, cukup murah bila dibandingkan dengan cemilan pendamping kopi yang biasanya mencapai harga di atas Rp. 20.000.
Es Kopi Toko Djawa dan Cheese Croissant


Secara keseluruhan, konsep yang disajikan oleh Toko Kopi Djawa ini cukup menarik. Karena tempatnya yang tak terlalu besar, maka ia menawarkan konsep coffee shop on the go. Jadi, walaupun tersedia beberapa kursi dan cangkir untuk dine in, Toko Kopi Djawa menyediakan juga kemasan-kemasan yang mudah dibawa jalan-jalan. Selain itu, penggunaan atribut yang masih memiliki kesan yang lekat dekat Toko Buku Djawa memberikan perasaan yang menyenangkan bagi saya yang sebelumnya cukup akrab dengan Jalan Braga.
Kopi Toko Djawa

Senin, 04 Desember 2017

Perjalanan Mengenal Sosok Bosscha dan Jejaknya di Pangalengan

Gunung Nini di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan

Sebuah plank bertuliskan “selamat datang di kawasan Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII” berhasil melempar ingatan saya ke masa empat tahun yang lalu. Saat itu saya sedang berjuang melalui satu per satu tes dari perusahaan berlabel BUMN tersebut. Siapa sih fresh graduate yang nggak kesengsem menjadi karyawan BUMN? Setidaknya itu pikiran saya dulu. Gaji besar dan raut bahagia orang tua jadi impian. Tak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan, yang mungkin umurnya sama ataupun tidak lebih tua dari saya dengan menggunakan jaket agak tebal. Wajar saja, suhu Pangalengan hari itu cukup membuat pundak dan leher bergidik. Hari yang diwarnai hujan hampir sepanjang hari tersebut saya habiskan untuk menyusuri jejak seorang Belanda yang lama tinggal di area perkebunan teh Malabar bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Di Pabrik Orthodoks inilah salah satu tempat di mana ia pernah meninggalkan jejak sebagai administratur perkebunan selama 32 tahun. Namanya bertengger di urutan pertama pada sebuah papan daftar administratur yang pernah menjabat di Perkebunan Malabar.
Kunjungan ke Pabrik Teh Orthodoks Perkebunan Teh Malabar

Dalam perjalanan susur jejak Bosscha ini saya tidak sendirian. Saya ditemani juga beberapa kawan lainnya yang memang berpartisipasi dalam sebuah tour yang diadakan oleh Mooi Bandoeng. Setelah melalui sedikit ucapan perkenalan dari lelaki yang merupakan pemandu kami di pabrik ini, kami pun diajak untuk memasuki ruangan produksi dengan aroma teh yang sangat menyengat. Sayangnya kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar dengan kamera. Aktivitas produksi di Pabrik Teh Orthodoks terlihat sangat padat, para pekerja pabrik pun nampak hampir tak memiliki jeda untuk berleha-leha. Kemudian kami sampai di ruang tester dengan beberapa sofa tersedia di salah satu pojok. Sepertinya ruangan ini memang sering digunakan untuk menerima tamu.

Produk yang menjadi fokus dan andalan dari Pabrik Teh Orthodoks ini rupanya adalah teh hitam. Kami pun berkesempatan mencicipi hasil produksinya langsung, serta membeli beberapa produk teh untuk dibawa pulang sebagai souvenir. Goalpara dan Gunung Mas merupakan dua buah merek yang diproduksi pabrik ini. Saya pun tak asing saat mendengar dua nama tersebut. Sebuah makalah analisa pasar tentang dua merek tersebut pernah saya buat pada perkuliahan Manajemen Pemasaran Lanjutan, semester 5. Kedua merek tersebut dipasarkan di pasar lokal dengan harga cukup murah, Rp.7.000 untuk Teh Goalpara dan Rp. 10.000 untuk Teh Gunung Mas.

Setelah mendengarkan penjelasan mengenai berbagai macam hal mengenai teh. Kami pun beranjak ke arah Gunung Nini. Walaupun namanya gunung, tapi ketinggiannya hanya setingkat dengan bukit. Konon katanya, Bosscha meninggal karena terjatuh dari kuda saat akan menuju ke Gunung Nini. Perjalanan kami hari itu pun memang dalam rangka memperingati hari meninggalnya juragan perkebunan yang semasa hidupnya sering dipanggil dengan sebutan Ru tersebut. Sebelum mengunjungi Pabrik Teh Orthodoks, kami sempat berziarah ke makamnya yang rancangan arsitekturnya sangat unik dan bergaya Eropa. Selain ke makamnya, kami juga berkesempatan mengunjungi rumah yang ditinggalinya dulu dan menjadi titik yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa ruangan di rumah ini rupanya telah disulap menjadi sebuah kamar yang dapat disewa pengunjung dengan tipe yang hampir setara kamar president suite hotel-hotel berbintang. Sementara itu, beberapa wisma dibangun di sekeliling rumah khusus untuk yang ingin sedikit berhemat ataupun untuk yang merasa takut untuk langsung tidur di ruangan kamar dalam rumah. Kami juga sempat menggunakan meeting room di sini untuk makan siang sambil menyaksikan pemandangan Gunung Nini dari balik jendela. Terlihat dekat di mata, namun cukup jauh ternyata.
Kunjungan Ke Makam Bosscha

Curam, sempit, licin dan berkabut, begitulah gambaran jalur menuju Gunung Nini. Tak heran mengapa Bosscha sampai celaka di sini, itu yang ada dalam pikiran saya. Kami sendiri melakukan perjalanan ini dengan sebuah kendaraan elf dengan kapasitas lumayan besar, sehingga saat kendaraan kami mulai naik ke tanjakan super terjal, rasanya jantung seperti hendak melompat dari rongga dada. Tak lama, samar-samar dari balik kabut terlihat sebuah gazebo yang menjadi ciri khas puncak Gunung Nini. Kami pun bergegas menuju gazebo tersebut, karena langit Pangalengan mulai menurunkan tetes demi tetes saripatinya. Di dalam gazebo kami berbagi ruang dengan beberapa orang yang sedang menghangatkan diri dengan memasak sesuatu dengan kompor portable. Kami pun tak kalah sigap, Agus, seorang kawan yang saya duga merupakan seorang time traveler, sudah langsung menawarkan minuman hangat kepada para peserta tour dalam beberapa detik saja.

Gunung Nini memiliki ketinggian sekitar 1.616 mdpl. Saat selimut kabut perlahan mulai tersingkap, beberapa lanskap yang cukup ikonik mulai tampak wujudnya. Salah satunya adalah Situ Cileunca. Danau yang menjadi salah satu primadona pariwisata Bandung Selatan ini cukup jelas terlihat bentuknya. Sementara itu, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Burangrang yang ratusan kilometer jauhnya di sebelah utara itu rupanya dapat terlihat juga dari tempat ini. Selain tiga nama lokasi wisata tersebut, perkebunan teh Pangalengan dengan motif garis-garis bergelombangnya yang unik mendominasi pemandangan dari Gunung Nini.
Pemandangan Situ Cilenca Yang Terlihat Dari Gunung Nini

Saat kami asyik berbincang mengenai pengalaman menarik sepanjang hari ini, “rekan berbagi ruang” kami di gazebo pamit pulang duluan. Saat ditanya mengenai daerah asal, rupanya mereka merupakan warga sekitar Pangalengan. Lucunya, ketika diajak ngobrol dalam bahasa Sunda, mereka tak menjawab, makanya kami sempat mengira mereka berasal dari luar daerah priangan. Padahal di awal perjalanan, Bang Ridwan yang menjadi pemateri tour ini sempat bercerita mengenai Bosscha yang sangat piawai berbahasa Sunda. Bahkan Bahasa Sunda yang diucapkannya termasuk sangat lancar dan halus. Seharusnya mereka yang warga lokal zaman now tidak kalah dengan semangat Bosscha dalam ngamumule budaya Sunda.

Satu jam menjelang Adzan Maghrib, kami memutuskan untuk segera berkemas dan menutup perjalanan kami sampai di Gunung Nini. Selain itu, Erna yang merupakan peserta tour yang berasal dari Cicalengka harus mengejar jadwal keberangkatan kereta api dari Stasiun Bandung. Banyak hal yang saya dapatkan dari trip kali ini untuk mengenal sosok seorang Karel Albert Rudolf Bosscha dari jasanya terhadap Bandung dan Bumi Priangan. Kalau dulu saya hanya mengenal Bosscha hanya dari tempat peneropongan bintang di Lembang, kini saya tahu bahwa orang ini lebih besar dari itu. Maka dari itu, sampai sekarang Bosscha menjadi salah seorang Belanda yang dikenang jasanya. Saat perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah di tengah perkebunan Malabar. Dan lewat tangan dinginnya,  perkebunan Teh Malabar yang dirintisnya kini memproduksi salah satu komoditas ekspor terbaik di Jawa Barat.
Para Peserta Trip di Rumah Bosscha

Senin, 09 Oktober 2017

Menjajal Papeda, Si Kenyal Dari Papua

“Kamu mau?” tanya saya.“Ya..kalau kamu mau, aku juga hayu,” jawab Lia.“Tapi kalau bisa, ajak temen kamu juga, biar jadi bertiga.”

Dialog yang sedikit mirip percakapan di film “Jomblo” ini benar-benar terjadi malam tersebut, namun tentu dengan cerita yang sangat berbeda. Malam itu di hadapan kami berdua tergeletak secarik kertas. Bagian atas kertas tersebut bertuliskan “Daftar Menu” yang lengkap bertuliskan nama-nama makanan beserta harganya.  Hal yang membuat Lia meminta saya untuk mengajak seorang teman adalah karena harga salah satu menu yang mencapai Rp.150.000. Tadinya agar udunan masing-masing per orang menjadi lebih ringan, maka kami perlu satu orang tambahan yang dapat ikut berbagi rasa bersama kami. Namun karena kami berdua tak dapat menemukan satu orang pun yang bisa mampir ke tempat kami, maka jadilah harga menu yang memiliki nama “Papeda & Ikan Kuah Kuning” tersebut kita tanggung berdua saja.

Kedatangan kami malam tersebut awalnya ingin bertemu sang pemilik restoran. Lia yang berencana membuka bisnis di Papua membutuhkan banyak informasi mengenai kondisi demografisnya. Akan tetapi Pak Sukamto yang saya kenal melalui pekerjaan sedang tidak berada di tempat pada saat itu. Tanggung sudah mampir ke restoran yang diberi nama Danau Sentani Resto tersebut. Akhirnya kami mulai melirik menu dan menjatuhkan pilihan pada salah satu menu khas Papua yang membuat kami merogoh kocek seratus lima puluh ribu rupiah.

Tak sampai 15 menit, “Papeda dan Ikan Kuah Kuning” pun hadir di meja makan. Menu ini dihidangkan dalam 3 wadah yang berbeda. Wadah pertama yang berupa mangkuk besar berisikan penuh dengan Papeda yang tampak sangat bening dan transparan, sedangkan dua wadah lainnya berisikan tumis kangkung dan ikan kuah kuning. Porsi makanan tersebut sangat banyak, sehingga saya rasa kalaupun kami jadi mengajak satu orang teman lagi untuk makan bersama tetap akan cukup. Sebelumnya, saya sudah tahu kalau papeda merupakan bubur yang terbuat dari sagu dan memiliki tampilan yang bening, mirip seperti adonan lem yang baru saja dimasak. Namun yang tidak terbayangkan adalah tingkat kekenyalannya yang luar biasa, sampai saat waiter menghidangkan menu ini, ia langsung memberikan tutorial untuk mengangkat makanan ini ke piring masing-masing. Ia memperagakannya dengan mengambil dua sumpit yang kemudian ditancapkan ke dalam papeda, kemudian diangkatnya kedua sumpit tersebut sambil diputar-putar hingga sejumput papeda terlepas dari mangkuk.
Papeda dan Ikan Kuah Kuning

Papeda sendiri sebenarnya merupakan makanan pokok khas Maluku dan Papua. Dikarenakan tanah di sana tak cocok untuk menanam padi, maka dari itu mereka membuat papeda. Setelah mencoba menyantapnya, ternyata papeda ini terasa sangat ringan. Sudah 4 kali suap, sama sekali tak membuat kenyang. Sepertinya kandungan gulanya rendah sekali, jauh berbeda dengan kita menyantap nasi. Kalau kata Lia, rasanya datar, kaya nggak makan apa-apa. Memang benar sih rasanya sangat plain, makanya papeda ini disajikan dengan ikan kuah kuning yang gurih. Ikan kuah kuning ini bukan spesies ikan, tapi merupakan sebuah cara menghidangkan ikan. Ikannya sendiri dapat menggunakan ikan tongkol, ikan patin, ikan kakap ataupun ikan lainnya. Selain ikan kuah kuning, ada juga tumis kangkung yang rasanya sangatlah lezat dan menjadikan menu papeda ini menjadi tepat. Bagi saya, tumis kangkung yang disajikan bersama papeda ini adalah yang paling enak yang pernah saya coba. Ada sedikit rasa pedasnya, namun pas, tidak sampai menghilangkan rasa lezatnya.

Tanggung penasaran, sebagai penutup kami pun memesan satu buah Abon Gulung yang juga merupakan cemilan khas Papua. Dinamakan demikian, karena persentase abon lebih besar dibandingkan dengan roti yang menggulungnya. Abonnya pun tentunya sangat berbeda dengan abon-abon yang banyak ditemui di bubur atau nasi kuning. Rasanya lebih cenderung manis, dan menyatu dengan roti, cocok untuk hidangan pencuci mulut. Tadinya kami ingin menambah petualangan kuliner Indonesia Timur ini dengan memesan segelas Kopi Papua yang terkenal sangat strong. Namun kami sadar, bila kami meneruskannya, hari-hari ke depan hanya akan diwarnai dengan segelas energen dan indomie rebus untuk memenuhi nutrisi dasar harian hidup.
Abon Gulung


Secara keseluruhan, menu “Papeda dan Ikan Kuah Kuning” ini rasanya sangat memuaskan. Mungkin suatu saat saya akan menyantap menu ini, tapi sepertinya menunggu diberi gratis terlebih dahulu, karena mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk makan akan membuat saya berpikir ribuan kali. Tapi untuk memuaskan rasa penasaran, cukup lah. Secara bila mengunjungi langsung daerahnya akan menghabiskan waktu dan biaya lebih mahal lagi.

Rabu, 04 Oktober 2017

Merdeka Naik Kereta Ke Cicalengka

“Mun acarana macam kieu mah, sok rawan aya nu garelut geura,”  (kalau acaranya seperti ini, rawan terjadi perkelahian) komentar wildan. Hanya beberapa meter dari tempat wildan berkata seperti itu, kami benar-benar menyaksikan perkelahian yang terjadi antar peserta karnaval. Seseorang yang menggunakan kostum barongsai tampak bergerak tak terkendali dan menabrak peserta lain di sekitarnya. Setelah dilerai dan dibuka topengnya, wajahnya tampak merah dengan tatapan mata yang tidak fokus. Sudah jelas ia sedang dalam keadaan mabuk. Kejadian tersebut kemudian berulang beberapa kali sepanjang karnaval. Memang saya pun sempat menangkap beberapa ekspresi aneh dalam kamera yang saya bawa saat itu. Beberapa ekspresi wajah mereka kosong dan terlihat sangat kelelahan, namun gerakan joged mereka masih sangat enerjik.


Perstiwa tersebut terjadi tanggal 17 Agustus lalu, saya dan sobat masa kuliah saya Wildan memutuskan untuk mencari suasana baru dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini. Perjalanan hari itu, sungguh sangatlah spontan. Wildan sendiri biasanya diwajibkan oleh sang Ibu Negara untuk pulang menemui keluarganya di Tasikmalaya bila hari libur tiba. Namun karena pagi harinya ia harus menghadiri upacara bendera di kantornya, dan keesokan harinya masih harus masuk kerja, jadilah hari tersebut saya culik dia untuk membujang bersama saya di stasiun kereta.

Kehadiran kami di stasiun kereta pada hari itu bertujuan untuk mengambil beberapa foto yang akan diikutsertakan dalam lomba foto PT. (KAI) Kereta Api Indonesia. Dan kebetulan pada kesempatan tersebut, PT. KAI menggratiskan seluruh tiket perjalanan dalam kotanya yang kemudian membawa kami berangkat ke Cicalengka pukul 10.13 pagi. Tak banyak destinasi yang bisa kami pilih dengan Kereta Api Lokal Bandung, kalau tidak Padalarang ya Cicalengka. Kami pilih Cicalengka sebagai tujuan, karena kami berdua tidak pernah berkunjung langsung ke daerah tersebut.

“Merdeka!!” terdengar pekik menyebut kata tersebut dari arah loket pembelian tiket. Dengan suara sekeras itu, sontak saja kami langsung menoleh saat sedang melihat jadwal kereta api Lokal Bandung yang berangkat ke Cicalengka. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kami pun langsung berjalan ke arah loket yang sudah ditinggalkan keluarga lengkap dengan dua anak yang meneriakkan kata “Merdeka” tersebut. “Mau naik yang jam berapa?” Tanya petugas di balik counter tiket. “Yang 10.13 pak,” jawab Wildan. “Hari ini tiketnya gratis ya, tapi teriak dulu merdeka,” timpalnya setelah selesai mencetak tiket yang membuat kami paham arti teriakkan “merdeka” oleh pelanggan sebelum kami. “Satu..dua..tiga.. merdeka!!” Kami pun mengikuti apa yang diminta petugas dan langsung bergegas memasuki peron.
Pukul 10.10, kereta api lokal yang menuju Cicalengka pun sudah terlihat datang dari arah Padalarang. Kereta kemudian berangkat tepat pukul 10.13, sesuai dengan jadwal yang tertera pada lembar tiket. Bagi saya pribadi, sungguh luar biasa pelayanan kereta api saat ini yang datang dan berangkat tepat pada waktunya. Karena dulu, jadwal kereta api itu selalu longgar seperti karet. Saat saya dulu sering pergi untuk interview ke Jakarta, waktu keberangkatan kereta dapat molor sampai 20 menit. Ditambah, kadangkala kereta berhenti di beberapa stasiun kecil hingga lebih dari 10 menit, yang berakibat pada keterlambatan saya datang ke lokasi tes.


Dalam rute kereta menuju Cicalengka ini, kereta melewati beberapa stasiun yang cukup familiar di Kota Bandung, seperti Cikudapateh, Kiara Condong, dan Gedebage. Kami melihat di beberapa titik perlintasan kereta, jarak rumah dengan lajur kereta sangatlah dekat. Hingga bisa dibayangkan saat kereta melintas, orang yang tinggal dalam rumah tersebut dapat merasakan getaran dan bisingnya suara kereta. Dan tentunya ada resiko bahaya yang ditimbulkan bagi warga yang hidup berbatasan langsung dengan rel kereta.
Setelah melewati Stasiun Gedebage, pemandangan yang dapat dilihat dari jendela mulai terasa menyenangkan. Deretan gunung dan sawah yang menghampar menjadi obat tersendiri dari segala kepenatan. Inilah yang saya sukai dari perjalanan berkereta, pemandangan yang terus menerus berganti lewat kaca jendela selalu asyik untuk dinikmati. Maka dari itu, saya jarang sekali tidur saat berada dalam kereta, kecuali tentunya pada perjalanan malam. Karena nyaris tak ada hal menarik yang dapat dilihat.

Salah satu gunung yang dapat dilihat dalam perjalanan ini adalah Gunung Geulis, hanya itu yang dapat saya kenali. Sementara itu di arah berlawanan dari Gunung Geulis terdapat stadion Gelora Bandung Lautan Api yang berdiri megah sendirian di tengah areal persawahan hijau. Dan entah mengapa, masinis selalu memperlambat laju kereta saat tepat melewati stadion ini. Rasa-rasanya seperti ia hendak mempersilakan para penumpang untuk mengabadikan bangunan sarana olah raga yang sempat menjadi markas Persib Bandung ini.

Sesampainya di Stasiun Cicalengka, riuh suara wanita menjajakan barang dagangan terdengar lewat pengeras suara.Sebuah mini market yang beroperasi di area stasiun menawarkan paket dengan potongan harga fantastis. Tak heran juga sih, karena hampir semua toko, baik toko fisik ataupun online di seluruh Indonesia memberlakukan promo penjualan dengan embel-embel “promo kemerdekaan” atau “promo agustusan.” Biasanya jumlah besaran promo harga tersebut berkisar antara angka 17,8 atau 45, sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia.

Kebul adalah kesan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di Cicalengka. Ngaheab adalah kesan saya yang kedua. Dua kata tersebut tidak dapat saya gantikan ke dalam Bahasa Indonesia, karena feel­-nya menjadi berbeda. Sepi dan lengang, sampai kami bertanya kepada warga lokal mengenai acara agustusan di sini yang kemudian berujung pada cerita pertemuan kami dengan para peserta karnaval yang mabuk tadi. Selain itu kami melihat para pelajar dari SD sampai SMA pun menari hingga tak terkendali dalam karnaval ini. Mereka tidak mabuk, hanya saja seragam sekolah mereka penuh dengan coretan, dan rambut mereka diwarnai warna jingga dan violet menyala. Sangat disayangkan bila sebuah perayaan agustusan berujung dengan hal-hal yang sesungguhnya sangat tidak berhubungan dengan semangat yang disusung.

Mungkin ini pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama saya terjun kembali ke perayaan hari kemerdekaan yang digelar masyarakat. Biasanya saya hanya ikut lomba-lomba yang digelar kantor tempat bekerja saja. Satu hal yang kini saya ketahui dari perjalanan ini adalah sebuah trend perayaan agustusan yang telah banyak berubah. Karnaval agustusan yang dulu saya kenal adalah karnaval anak-anak dengan menggunakan seragam masa depan yang menjadi cita-citanya, bukan kemudian berkostum ala pocong-pocongan ataupun orang dewasa yang berdandan ala waria. Dari karnaval yang saya saksikan hari itu, saya tidak melihat bangsa yang sedang memperingati hari besarnya, namun hanya melihat sekelompok orang yang sedang lari dari masalah hidupnya dan kemudian berpesta pora seenaknya untuk melepaskan beban dan masalah yang mendera.
Hanya sekitar 1 jam saja kami mengikuti karnaval agustusan di Cicalengka sampai kami memutuskan balik arah menuju stasiun karena tak tahan dengan terik yang luar biasa pada siang itu. Bahkan di beberapa titik, ada orang yang bertugas menyemprotkan air pada peserta karnaval seperti yang sering dilakukan pada sebuah konser-konser rock dan metal.


Dalam perjalanan kali ini, setidaknya saya banyak belajar hal baru dan menikmati perjalanan berkeretanya. Selain jadwalnya yang kini tepat waktu, bagian dalam kereta api lokal ini sangatlah nyaman untuk ukuran kelas ekonomi. Bahkan tingkat kenyamanannya melebihi kereta api Parahyangan kelas bisnis yang saya naiki tahun 2010. Kursinya empuk dengan kondisi gerbong yang bersih dan terang. Karena bila saya ingat perjalanan berkereta ke Padalarang pada sekitar tahun 2000an, saya duduk langsung di lantai besi gerbong tanpa alas dan langsung bersebelahan dengan penumpang yang membawa ayam jago. Kalaupun ada tempat duduk tersedia, bentuknya hanya sebuah bangku panjang seperti yang sering ada di warung bakso. Kapasitas penumpang pun diperhitungkan agar tidak kelebihan muatan dan semua penumpang pun dapat merasa nyaman. 

Selasa, 08 Agustus 2017

Rico Tampatty Dan Minggu Malam Di Majestic Bandung



“Belum kenalan nih sama tetangga,” tiba-tiba suara berat di sebelah saya menegur sambil menyodorkan tangannya. “Rico,” lanjutnya memperkenalkan nama. “Irfan,” balas saya menyebutkan nama dengan nada sedikit gugup bercampur kaget. Tanpa ia menyebutkan namanya, sebenarnya saya sudah tahu persis siapa orang di sebelah saya ini saat  ia pertama kali masuk ke dalam ruangan. Dialah Rico Tampatty, aktor senior yang namanya sudah malang melintang di dunia persinetronan Indonesia. Oke, saya dulu memang pernah menjadi penonton sinetron pada akhir dekade 90-an sampai awal 2000-an. Bukan tanpa alasan tentunya bila saya dulu pernah betah saat cerita seri yang ditayangkan di televisi Indonesia itu muncul di layar kaca. Perangkat pesawat televisi yang hanya ada satu-satunya di rumah memaksa saya menonton apa saja yang disetel oleh orang tua sebagai hiburan kala malam hari tiba. Ibu, sang penguasa remote lah yang kemudian mengarahkan akan ke mana jalan pandangan ini. Kalau sekarang sih, mesin pintar portable bernama laptop sudah sedia menemani saat selera tontonan saya dengan ibu sudah berbeda jalan.

Bung Rico Tampatty ini memang menjadi salah satu aktor yang tampil di film lokal indie berjudul “KaWe 2” yang ditayangkan di Bioskop De Majestic Bandung malam hari itu. Di film tersebut, ia berperan sebagai seorang ayah dari pemeran utama wanita. Sejujurnya, poster film yang dipajang sejak seminggu ke belakang di pelataran depan Gedung De Majestic ini sama sekali tak menarik. Namun karena tuntutan pekerjaan serta penasaran ingin merasakan kembali suasana nonton film di bioskop legendaris Bandung ini, akhirnya saya hadir pada minggu malam hari itu. Ketemu Bung Rico-nya sih hanya bonus saja, karena tanpa disangka-sangka ia menolak duduk di kursi VIP yang sudah disediakan berbagai macam cemilan di tribun atas. Ia kemudian memilih kursi tepat di samping saya yg duduk di tribun tengah.

Gedung Bioskop ini tidak seperti bioskop masa kini pada umumnya, bagian tempat duduk paling atas diberi pagar dan meja-meja untuk meletakkan hidangan. Jaman dulu pun memang bioskop ini menjual tiket dengan harga yang berbeda pada pengunjung. Semakin atas posisi kursinya, semakin mahal harga tiketnya, terutama tiket kursi yang terletak di balkon. Namun sayangnya, setelah direvitalisasi, balkonnya kini tidak dapat digunakan untuk pengunjung menyaksikan film. Area ini kini hanya dapat diakses oleh crew yang mengatur jalannya pertunjukkan.

Setelah film mulai diputar, saya langsung mengetahui kalau dugaan saya mengenai kualitas film yang mungkin kurang menarik saat dilihat dari segi poster itu benar. Jalan cerita yang membosankan ditambah sinematografi yang buruk membuat saya ragu akan keberhasilan film tersebut untuk dapat   menarik massa hadir ke dalam gedung bioskop. Pada film tersebut, seringkali adegan si pemeran tiba-tiba gerakannya menjadi slow motion pada waktu yang tak tepat. Ada pula adegan saat salah satu tokoh utama sedang dikerok punggungnya, tiba-tiba warna merah hasil kerokannya hilang saat kamera berganti angle, tokoh wanita yang mengetik di laptop yang belum dinyalakan pun membuat seorang kawan yang saya ajak malam itu tersenyum geli dan tak dapat menahan diri untuk berkomentar. Dapat dibilang film “KaWe 2” ini hanya menjual nama-nama besar artis senior seperti Rico Tampatty dan Sarah Vi, serta beberapa pemain sinetron Preman Pensiun yang sempat booming beberapa tahun lalu.

Setelah film selesai, kawan saya yang duduk di samping kanan saya menyuruh untuk memberikan ucapan selamat kepada Bung Rico Tampatty yang duduk di sebelah kiri saya. Walau cerita dan editing film tersebut sangat buruk, di film tersebut Bung Rico tetap melakukan actingnya dengan baik. Lampu ruangan yang kemudian dinyalakan oleh petugas, membuat saya menyadari bahwa sudah sangat lama sekali saya melihat actingnya di televisi. Rambutnya kini mulai memutih dan kulit wajahnya sudah sedikit mengkerut. Sebelum memerankan peran seorang ayah seperti sekarang ini, saya ingat sebuah sinetron yang ia bintangi sekitar awal tahun 2000-an. Saya hampir lupa judulnya, hingga rasa penasaran membuat saya meng-googling profil beliau di Wikipedia dan menemukan judul “Jangan Ada Dusta.” Saya langsung yakin bahwa itu judul sinetron yang saya tonton dulu setelah membayangkan nada lagu soundtracknya yang berjudulkan sama persis dengan judul sinteron tersebut. Suara vokal Broery Marantika dan Dewi Yull yang khas selalu mengalun saat menjelang dan setelah iklan komersial ditayangkan. Dalam sinetron tersebut Rico Tampatty berperan sebagai seorang suami yang berselingkuh terhadap istrinya yang diperankan Inneke Koesherawaty, saat itu Mba Inneke pun belum berhijab seperti sekarang.

Sedikit kesan dari nonton film di Gedung De Majestic yang baru ini, ternyata tempatnya menjadi sangat mewah. Saya ingat terakhir kali masuk ke dalamnya adalah pada saat masih berstatus pelajar SMA. Salah satu tugas sekolah yang diberikan adalah menulis resensi pertunjukkan kabaret yang disaksikan di Gedung De Majestic yang saat itu masih bernama AACC (Asia Africa Cultural Centre). Lampu ruangan sangat redup, tidak seterang seperti saat ini. Bagian lantainya diselimuti oleh karpet, sehingga para penonton yang datang untuk menyaksikan pertunjukkan harus duduk lesehan. Peralatan lighting dan layar yang dipasang di panggung kini sudah sangat baik kualitasnya untuk digunakan menggelar pertunjukkan. Bahkan saat saya bertanya kepada pihak pengelola, layar yang dipasang pada bioskop ini telah menggunakan layar standar seperti yang digunakan oleh bioskop komersil yang ada di mall-mall ternama di Bandung. 

Sebagai agenda pamungkas, kemudian konferensi pers pun digelar di panggung De Majestic, Bung Rico pun ikut maju ke atas panggung. Dengan deretan artis yang duduk di panggung yang disorot peralatan lighting canggih ini memang membuat acara tersebut terlihat sangat mewah. Namun sayangnya hal ini belum diimbangi dengan kualitas film yang memadai. Setelah konferensi pers selesai, saya pun lalu bergegas pulang. Sambil berjalan gontai saya melintasi sebuah poster yang nampaknya akan menjadi film berikut yang akan ditayangkan di sini. Dari beberapa pemerannya dan nama rumah produksinya yang sama dengan film “KaWe 2”, saya sudah suudzon terlebih dahulu kalau kualitas film yang ditampilkannya takkan jauh berbeda dengan film perdananya. Gedung ini boleh bangga punya paras cantik mempesona yang enak dipandang mata. Namun tanpa adanya sebuah jiwa, kebangkitan hanya menjadi impian belaka.

Selasa, 23 Mei 2017

Mengintip Isi Kamar Pandit Jawaharlal Nehru Di Savoy Homann Bandung

Kamar 144 Savoy Homann yang pernah ditempati PM Nehru

Cerita soal nomor kamar keramat di sebuah hotel seringkali menjadi bahan incaran para sineas untuk ide pembuatan filmnya. Setelah film 1408 yang dibintangi John Cusack sukses di Hollywood sana pada 2007 lalu, perfilman Indonesia pun tak mau kalah dengan merilis film berjudul 308 yang dibintangi Shandy Aulia. Saya pun berkesempatan berkunjung ke sebuah kamar keramat di Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung yaitu kamar 144, namun walaupun disebut keramat, kamar yang satu ini tidak berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Kamar ini menjadi kamar keramat karena pernah ditempati oleh Perdana Menteri pertama India yaitu Pandit Jawaharlal Nehru pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
 
Pandit Jawaharlal Nehru
Pandit Jawaharlal Nehru, nama yang hampir setiap saya akan mengetik namanya, maka saya harus googling terlebih dahulu, karena takut-takut salah ketik di bagian Jawaharlal-nya. Tentunya nyaris semua siswa sekolah dasar (SD) di Indonesia mengenal nama tersebut karena menjadi salah satu bagian dari kurikulum yang diajarkan pada materi mata pelajaran sejarah. Tak hanya Nehru, sebagai pelajar saya pun kala itu harus mengingat nama Ali Sostroamidjojo dari Indonesia, Muhammad Ali dari Pakistan, Sir John Kotelawala dari Sri Lanka, dan U Nu dari Myanmar, tentunya nama terakhir merupakan nama yang paling mudah diketik dan diingat.

Perdana Menteri Nehru menginap di Hotel Savoy Homann bersama Presiden Sukarno dan perdana Menteri China Zhou Enlai. Tentunya mereka tidak berbagi kamar, masing-masing dari mereka mendapat sebuah kamar dengan type sekelas President Suites. Letak ketiga kamar tersebut berada di pojok timur bangunan dan tepat berada di area lengkungan Savoy Homann pada posisi lantai yang berbeda-beda. Bila Presiden Sukarno mendapatkan kamar bernomor 244 dan PM Zhou Enlai mendapat kamar nomor 344, maka PM Nehru mendapat kamar nomor 144.

Sebenarnya saya berharap dapat memasuki kamar yang ditempati Presiden Sukarno yaitu kamar 244, namun kamar yang available untuk dikunjungi saat itu adalah kamar 144 milik PM Nehru. Walaupun begitu, Mba Ruth, Marketing Communication Hotel Bidakara Savoy Homann yang pada sore tersebut memandu saya dan kawan-kawan yang lain berkata bahwa “untuk kamar PM Nehru ini akan sama saja interiornya dengan yang kamar yang ditempati oleh Presiden Sukarno dan PM Zhou Enlai, hanya foto-foto yang menghiasi kamarnya saja yang berbeda”. Walaupun begitu, saya rasa kamar yang ditempati oleh Presiden Sukarno akan tetap terasa perbedaannya, mungkin karena kedekatan sejarah sebagai Bangsa Indonesia yang membuat kamar 244 lebih terasa kharismanya. 
 
Ruang tamu kamar 144 Savoy Homann
Saat pertama menginjakkan kaki ke kamar 144, sebuah foto ukuran besar dari PM Nehru saat event KAA langsung terlihat dipajang di area ruang tamu. Selain foto tersebut, hanya ada dua buah sofa berbahan kanvas yang berada di ruangan. Ruang tamu tersebut terhubung dengan sebuah koridor kecil yang mengarah kepada ruang untuk bersantai yang terletak tepat sebelum ruang tengah. Karena kamar ini terletak di lengkungan khas dari bangunan Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung, maka ruangan ini pun mengikuti bentuk lengkungannya dan menjadikannya tak biasa.
 
Kamar 144 Savoy Homann
Beranjak ke ruangan tengah, sebuah TV layar datar dipasang di bagian tengahnya. Di sekelilingnya terdapat beberapa sofa kulit, sementara di sudut ruangan tampak sebuah meja kerja dengan telepon dan katalog pelayanan kamar di atasnya, serta sebuah mini bar di sampingnya. Pada dasarnya interior kamar 144 ini masih dibuat seperti aslinya seperti pada saat KAA dulu, hanya beberapa barang saja yang diganti dengan yang lebih modern mengikuti perkembangan jaman dan masa usia barang. 
 
Ruang tengah kamar 144 Savoy Homann
Karena terletak di bagian paling timur Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung, bagian balkonnya pun langsung berdampingan dengan trotoar Jl. Asia Afrika, serta luasnya mencapai sekitar 2x balkon yang lain. Bila malam tiba, meja dan kursi dari dalam kamar bisa di bawa ke balkon untuk membuat candle light dinner dengan pemandangan citylight Kota Bandung. Namun feeling saya soal keinginan masuk kamar Presiden Sukarno tidak sepenuhnya salah. Karena di kamar PM Nehru ini pemandangan dari balkon sedikit terhalang beberapa pohon. Sedangkan bila saya melihat ke arah kamar Bung Karno, pandangan dari balkon tersebut sudah tidak terhalang apapun dan langsung menghadap arah alun-alun.
Kamar tidur utama yang pernah ditempati PM Nehru di Savoy Homann

Di kamar 144 ini terdapat  2 buah kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya. Kamar tidur yang satu sedikit lebih besar dibandingkan dengan kamar yang satunya lagi, termasuk dengan kamar mandinya. Kamar tidur paling besar memiliki sebuah meja rias, serta terdapat whirlpool di kamar mandinya.
 
Whirlpool kamar 144 Savoy Homann
Sementara itu, untuk meja makan terletak di pojok paling timur kamar ini, tepat di sudut yang melingkar keluar, bila gordyn-nya dibuka pemandangan langsung dari Kota Bandung dapat langsung terlihat jelas. Pada pagi hari cahaya matahari pun akan masuk dengan mudah lewat jendela-jendela di pojok ini.

Tak hanya Savoy Homann, Hotel Preanger yang kini bernama Prama Grand Preanger adalah hotel besar lainnya di kawasan Asia Afrika yang menjadi tempat menginap para pemimpin Negara pada KAA tahun 1955 diselenggarakan.  Selain di kedua hotel tersebut, beberapa pemimpin Negara diinapkan di rumah-rumah besar yang ada di sekitaran Ciumbuleuit, Cipaganti dan daerah-daerah lainnya. 

Walau sudah berhasil memasuki kamar PM Nehru, tetap saja hasrat untuk memasuki kamar yang pernah digunakan Presiden Sukarno belum terpuaskan. Mudah-mudahan saja suatu hari nanti saya bisa kesampaian masuk atau bahkan menginap di dalamnya. Dan tak hanya yang berada di Hotel Homann saja, kamar yang pernah digunakan Presiden Mesir Gamal Abdul Naser di Preanger pun cukup menarik perhatian saya.
Ruang makan yang langsung menghadap ke Jl. Asia Afrika dari kamar 144 Savoy Homann

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise