Minggu, 29 September 2013

Topeng : Sukma dan Cerita dibalik Wajah

Awal September lalu diadakan sebuah pagelaran topeng Noh dari pengrajin topeng asal Jepang yang dipamerkan di Graha Widya Marantha Bandung, tahun ini sudah dua kali pagelaran topeng noh digelar di Bandung, salah satu yang saya kunjungi bulan Juni lalu di Museum Konferensi Asia Afrika Bandung.
Sebuah acara yang bertajuk Mask Exhibition : Dignity of Soul (Kesucian Sukma) merupakan pameran topeng yang menunjukkan akulturasi dari dua kebudayaan yaitu Jepang dan Indonesia, kenapa dari 2 negara tersebut? Karena Jepang dan Indonesia merupakan dua negara yang memiliki kebudayaan seni topeng yang sama kaya. Saat pertama kali masuk, beberapa topeng Indonesia yang dipajang ada dari tokoh pewayangan  dan beberapa topeng dari kebudayaan Indonesia bagian timur, itulah uniknya topeng indonesia, dari satu negara namun dapat menampikan kebudayaan yang berbeda.
 







Beberapa topeng ini biasanya digunakan dalam upacara adat, sendratari dan drama, oleh karena itu masing-masing topeng tersebut memiliki cerita khusus, ada beberapa topeng dari bali yang diceritakan merupakan satu keluarga dari mulai ayah yang seorang raja sampai anak-anaknya, uniknya topeng tersebut dalam suatu pagelaran drama tari di Bali hanya diperankan oleh satu orang saja, jadi orang tersebut berganti-ganti topeng untuk membawakan sebuah cerita dengan peranan yang berbeda, namun memang rata-rata topeng Indonesia berparas buruk, beberapa malah menyerupai monster.


Sama halnya dengan Indonesia, topeng Jepang topeng Jepang yang dipajang disini merupakan Topeng Noh, Noh adalah pagelaran drama dimana para performernya mempertunjukan sebuah cerita dengan menggunakan sebuah topeng dengan ekspresi berbeda-beda.
Topeng Jepang bentuknya lebih manusiawi dibanding Indonesia, dan titik fokus yang mereka tonjolkan adalah ekspresi dan sifat.
Seperti topeng koomote Yuki ini yang ingin menonjolkan kepolosan anak berusia 6-15 tahun, uga memberikan kesan imut dan lucu, Namun dibalik kelucuannya sang pengrajin topeng Ogura Soukei ingin menunjukkan sisi lain dari seorang gadis yang keras dan tegas dalam menjalani hidup di zamannya. Walaupun topeng ini dibilang imut, ketika saya membuka fotonya dari komputer untuk di retouch , tetap saja bikin merinding, percaya atau tidak cobalah anda melihat topeng itu baik-baik di malam hari, tatapan mata dan ekspresinya terlihat sangat nyata, seperti mempunyai jiwa, apalagi bila layar monitor komputer anda cukup besar.

 
 Walaupun topeng-topeng yg mereka buat mirip manusia namun bukan berarti tidak ada topeng yang seramnya, karena ada beberapa topeng Jepang juga yang dibuat untuk menggambarkan ekpresi amarah dan juga memang dibuat untuk menyerupai wajah setan atau dewa. Salah satunya topeng Hannya di bawah ini, topeng ini dibuat untuk menggambarkan kecemburuan seorang wanita bangsawan, tak terbayang juga kan kalo  ada perempuan cemburunya wajahnya jadi seperti itu. tapi mungkin orang Jepang terkadang lebih jago membuat sebuah perumpamaan, lain Indonesia, lain juga Jepang.



Beberapa topeng yang menunjukkan wajah seram lainnya ada topeng raiden sang Dewa Petir dan Akujoubeshimi yang memiliki arti seorang tua yang kuat, terlihat dari struktur muka dan alisnya yang dibuat tebal sehingga memiliki kesan tangguh.









Topeng Noh ini dibuat oleh pengrajin topeng Bapak-anak Ogura Soukei dan Ogura Soei, dan ada satu kesamaan antar topeng Indonesia dan Jepang ini, masing-masing ada satu topeng yang berhidung panjang, namun sayangnya saya lupa memotretnya, dari Indonesia ada Bapang Joyosentiko dari Malang Jawa Timur, berwajah merah, berkumis dan berhidung panjang dan dari Jepang ada topeng Tengu yang memiliki hidung yang panjang pula dan berwajah merah yaitu Tengu sang setan dari gunung.

Hal yang disayangkan dari pagelaran topeng ini adalah Topeng-topeng Indonesia yang dipamerkan adalah topeng-topeng yang bekas pakai, sehingga terlihat jelas dari dekat banyak cacat dan rusak pada topeng-topeng tersebut, beda halnya dengan topeng-topeng Jepang yang terlihat seperti layaknya topeng-topeng baru atau minimal topeng yang dirawat dengan baik sehingga terlihat mulus dan bersih, sehingga cukup pantas dipajang dalam arena eksibisi.
Sebuah pelajaran baru untuk kita bangsa Indonesia, terlihat dari pagelaran ini bahwa pengrajin topeng di Indonesia terputus regenerasinya sehingga topeng-topeng tersebut menggunakan topeng-topeng stock lama, mudah-mudahan untuk kedepannya kebudayaan ini dapat terus dilestarikan dan bermunculan seniman-seniman topeng dari generasi muda dan terus berlanjut sehingga kebudayaan topeng kita tidak punah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise