Jumat, 12 Juni 2015

Taman Fotografi Bandung : Taman Tematik Foto Pertama di Indonesia

Fotonya udah ngelayang-layang aja nih, model foto ini diperagakan oleh komunitas levitasi hore Bandung, jadi mereka sudah terbiasa memeragakan foto melayang seperti ini.

Buat warga Bandung sepertinya sudah tidak asing lagi dengan huruf C besar berwarna merah ini, yak taman ini adalah taman fotografi, taman fotografi ini terletak di jalan Cempaka dan merupakan taman tematik bertema fotografi pertama di Indonesia dan taman tematik pertama di kota Bandung yang diwujudkan oleh walikota Bandung Ridwan Kamil di masa periode jabatannya, sebenarnya konsep taman fotografi ini sudah diwujudkan jauh-jauh hari bahkan di saat Kang Emil belum menjabat sebagai walikota, dimulai dengan pembentukan tim @tamanfotobdg yang dari 2 tahun sebelumnya untuk mulai merancang konsep taman ini serta mulai mengaktifkan taman ini untuk digunakan dalam kegiatan fotografi. 

Lalu, kenapa huruf C dipilih jadi ikon taman ini kenapa bukan huruf F saja atau P mungkin??
C disini melambangkan nama dari taman ini sebelumnya yaitu taman Cempaka yang juga terletak di persimpangan jalan Cempaka, dan huruf C juga disebut melambangkan kata Camera yang merupakan alat fotografi.

Ada apa saja di taman ini? Selain ornamen huruf C ini yang jadi spot paling hits untuk selfie , ada juga rangka permainan anak yang dibuat menyerupai kamera SLR.


Tak banyak orang yang sadar kalau rangka permainan anak ini berbentuk sebuah kamera, termasuk saya sendiri baru sadar ketika diberi tahu oleh pengelola taman dan melihat rangka ini dari sebelah samping, dari mulai diresmikannya taman ini di bulan Desember 2013, taman ini sudah menggelar banyak acara fotografi, salah satunya pameran fotografi karena di tempat ini terdapat juga panel-panel bertutup kaca untuk memamerkan foto sekitar ukuran maksimal 12 R. Dari mulai salah satu sekolah fotografi anak yang memamerkan hasil karyanya, kelompok fotografi mahasiswa atau bahkan hasil perlombaan foto. Tak hanya pameran foto namun acara yang pernah diselenggarakan di taman ini ada juga workshop/pelatihan fotografi, lebih menyenangkan dan santai karena diadakan di alam terbuka sambil ngampar. Kadang bila melewati tempat ini ada juga yang melakukan foto pre-weddingnya di tempat ini, serta beberapa sesi foto model dan kompetisi juga pernah dilaksanakan di tempat ini.


Dan sebenarnya setelah diresmikan pertama kali, taman ini juga sudah memiliki beberapa perubahan, diantaranya sebuah nama Taman Foto Bandung yang kini tertulis di salah satu sisi taman, kemudian ada 4 buah panel berwarna-warni yang berbentuk segi empat yang kesemua panelnya dapat diputar, tentu saja ornamen unik ini menjadi primadona baru bagi para pegiat selfie di tempat ini, meski saya sendiri belum cukup yakin apa sesungguhnya fungsi dari panel-panel berwarna tersebut hehe..

Taman ini juga memiliki empat pohon Trembesi yang sudah tumbuh besar sehingga membuat hanya dengan 4 pohon ini cukup meneduhkan hampir seluruh taman. Pohon trembesi terkenal sebagai pohon yang tumbuh besar mencapai tinggi rata-rata di atas 20 meter dan tumbuh melebar layaknya sebuah payung, daunnya yang rimbun dan dahan yang bagaikan urat nadi membuat pohon ini terlihat bagaikan hidup kokoh melindungi makhluk hidup di bawahnya, pohon ini juga terkenal dapat menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang cukup banyak. Pohon ini sangat penting keberadaanya dan perlu diberdayakan untuk menekan polusi udara di kota-kota besar.

Rabu, 10 Juni 2015

Toys Museum : A Secret Passage to Your Childhood

Pernah mendambakan berjalan masuk ke sebuah tempat yang baru, namun malah menemukan kenangan-kenangan lama (bukan mantan), cobalah datang ke museum mainan di Bandung, lho?? emang ada?...
adda dong..baru tau?? sama...saya juga..haha
Museum Mainan ini terletak di dalam toko mainan Zero Toys Jl. Sunda No.39A, selain menjual mainan-mainan masa kini ternyata mereka menyimpan harta karun di dalamnya (bukan emas) yaitu mainan-mainan jadul dari tahun 80-90an, malah banyak tokoh yang baru saya liat disini, kemungkinan karakter-karakter yang muncul ketika saya belum lahir huhu..
Jadi Museum ini cukup lengkap dan mengejutkan, saat pertama saat melihat display mainan yang terpajang disana, saya seperti melihat masih melihat pintu lain di ujung toko yang berisikan koleksi mainan, setelah meminta ijin kepada penjaga toko, langsunglah saya masuk ke dalam. Dan sangatlah mengejutkan melihat koleksi mainan di dalam, sangat berbeda dengan mainan yang dipajang di display toko depan, beberapa karakter seperti Voltron, Gaban, Gizmo, menghiasi rak di ruangan tersebut, mainan-mainan tersebut terpajang malah lebih rapih dan ekslusif daripada mainan yang dipajang di toko mainannya, beberapa dipajang di sebuah rak khusus yang memiliki lampu dengan pencahayaan yang sangat baik.



Tak hanya tokoh-tokoh lama yang lama tak muncul hadir menghiasi sudut-dudut rak di toys museum ini, disini juga terdapat para karakter yang masih berjaya namun dengan wajah lamanya serta sangat terlihat kualitas detail yang dibuat tidak sedetail mainan sekarang, namun dengan desain classic seperti itu justru mereka bisa tampil lebih keren lho. Ada Captain America dengan kostum lamanya dan Iron Man yang terlihat sedikit lebih culun dengan kostum yang hampir tidak terlihat seperti kostum robot dulunya.

 Tak hanya mainan-mainan yang mejeng disini, beberapa manekin yang didandani kostum Storm Troopers dan Darth Vader pun menghiasi sudut ruangan museum ini, dan kalau ditelusuri sebenarnya lebih besar ruangan  museumnya daripada toko mainannya. Kostum-kostum dari film Star Wars tersebut sering dipakai oleh komunitas Order 66 Sith yang merupakan komunitas pecinta Star Wars, dan juga tempat ini merupakan markas dari komunitas Urban Jedi Bandung, komunitas Urban Jedi adalah komunitas yang pecinta light saber dan mereka menjadikan pertarungan light saber ini menjadi sebuah pertunjukan yang bisa mereka pertontonkan ke masyarakat, dan jangan salah gerakan-gerakan bertarung mereka benar-benar serius lho bukan hanya sekedar memakai kostum dan memegang pedang mainan. Gerakan-gerakan mereka di malam hari pun seringkali menjadi hiburan dalam event-event spesial di kota Bandung karena warna yang dihasilkan oleh light saber tersebut benar-benar indah. Dan kalian bisa pesan light saber kalian sendiri secara custom di Zerotoys ini lho dengan harga dan bentuk yang bervariasi sesuai desain kalian, saber ini bisa dipakai untuk benar-benar bertarung, karena light saber ini menggunakan bahan yang tidak akan pecah ketika menghantam sesuatu.
 


 Tak hanya toko mainan, museum dan markas komunitas, di lantai 2 Zerotoys ini terdapat rental Kamera, lensa beserta perlengkapan fotografi lainnya bernama Humanika.

De Syukron : Malam Bandung 1000 Lampion

Pernah melihat seribu lampion melayang di udara seperti ini? Mungkin kebanyakan pernah melihatnya di acara besar keagamaan yaitu Hari Raya Waisak di Candi Borobudur, namun pernahkah anda melihat langit malam Bandung dipenuhi oleh ribuan lampion layaknya Waisak di Borobudur.

Hal ini bisa kita lihat di acara pesta rakyat ulang tahun Provinsi Jawa Barat ke- 69 tahun 2014 lalu, di tahun-tahun sebelumnya acara pelepasan lampion belum pernah ada, yang menjadi agenda rutinitas hanyalah video mapping yang ditembakkan ke seluruh badan dari gedung ini.

Tak ayal lagi acara pelepasan lampion itu dipadati warga kota Bandung baik untuk ikut berpartisipasi menyalakan lampion, maupun sekedar nongkrong bersama teman ataupun memotret agenda acara tersebut.

Tak hanya acara-acara yang sifatnya seremonial tapi juga terdapat puluhan booth yang berisikan tennant makanan atau kerajinan tangan yang ikut berjualan tak lupa beberapa komunitas pun turut hadir memeriahkan acara.

Selama 2 hari berturut-turut ruas jalan di sekitar gedung sate ditutup, untuk mencapai lokasi para pengunjung dapat memarkir kendaraanya di spot tertentu yang sudah dipilih panitia penyelenggara, dan kemudian dapat berjalan kaki menuju lokasi acara.

Di depan ruas jalan Diponegoro yang ditutup, terdapat sebuah panggung yang disediakan untuk para penggemar wayang untuk menyaksikan aksi para dalang memainkan lakon. Pagelaran wayang tersebut diadakan oleh para seniman dari Sanggar Giri Harja, Bale Endah asuhan Dalang (alm) Asep Sunandar Sunarya.
Berbeda dengan hari pertama, hari kedua menyajikan agenda lain yang juga ditunggu para pengunjung yaitu video mapping, agenda ini sudah dilaksanakan sejak pagelaran pertama De Syukron, setiap tahunnya selalu saja ada hal berbeda yang diceritakan oleh video mapping tersebut. Video mapping ini hasil karya rumah produksi Sembilan Matahari. Bagi yang pertama mendengar video mapping tentunya bingung mengenai apa yang ditampilkan dalam video mapping.

Video Mapping adalah pertunjukkan film/video yang gambarnya tersebut diproyeksikan di sebuah gedung hingga menyerupai persis rupa gedung tersebut, dan walaupun saya sudah berkali-kali melihat video mapping, saya tetap takjub melihat video mapping ini, karena tentunya efek visual yang ditampilkan mengalami kemajuan dan inovasi, selain itu cerita yang ditampilkan tentu saja berbeda.
Tak lupa tentunya sebuah perayaan tak lengkap bila tak ditutup sebuah pesat kembang api, dan di malam langit kota bandung berpendar terang.

Bandung Caang Fest

Siapa yang tahu tanggal ulang tahun kota Bandung? Saya yakin kalau sekarang ini sudah banyak yang tahu dibanding dengan 5 atau 10 tahun yang lalu, karena sudah banyaknya bermunculan akun-akun publik penyedia informasi mengenai Bandung yang mengingatkan, termasuk saya sendiri, baru belakangan ini tahu dan sekarang ingat bahwa ulang tahun kota Bandung diperingati setiap tanggal 25 September. 

Cukup lama penduduk kota Bandung terlena dengan aktivitas kesibukannya sendiri serta di periode pemerintahan walikota sebelumnya, ulang tahun kota Bandung selalu tampak sepi dan berjalan biasa saja..kadang hanya suguhan live music yang publikasinya bahkan tak terdengar warga.

Dan pada tahun 2014 kemarin, saat kota Bandung memperingati hari jadinya yang ke 204, ingatan saya kembali pada tahun 90an dan awal tahun 2000an saat perayaan kota Bandung, terdapat acara karnaval mobil hias yang mengelilingi kota Bandung, dulu sepulang sekolah warga berduyun-duyun ke jalan untuk melihat parade tersebut, dan baru di tahun 2014 acara seperti itu kembali digelar, setiap kecamatan di kota bandung berlomba menghias kendaraan mereka menjadi unik dan sesuai dengan ciri khas kecamatan mereka, seperti kecamatan sukasari dimana terdapat Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki ciri khas bangunan Villa Isolanya, maka kecamatan tersebut menggunakan ciri khas tersebut untuk dihias di mobil hias mereka. Ada pula mobil hias yang berbentuk perahu, menara ataupun menampilkan jembatan pasupati.


Bedanya dengan parade mobil hias di tahun 90an, di tahun 2014 ini parade tersebut dilaksanakan di malam hari sehingga terkesan mewah dan terang benderang dihiasi lampu warna warni di sepanjang jalan, maka dari itu acara ini disebut dengan Bandung Caang Festival, "caang" yang dalam bahasa sunda artinya terang. Yang memang benar-benar rute sepanjang parade pada malam tersebut menjadi sangat terang benderang, dan juga macet tentunya karena dipenuhi warga yang ingin melihat parade serta jalan umum yang ditutup, tak hanya terang oleh mobil hias..namun terang juga oleh kendaraan pribadi dan umum yang tertahan tak bisa melewati jalan yang dilalui oleh mobil parade karena ditutup.

BBQ Ride

BBQ Ride apa tuh? Pesta barbeque? tapi ga salah juga sih karena ada beberapa tennant yang menghadirkan hidangan barbeque di acara ini lewat food truck nya, tapi inti acara ini bukanlah festival makanan namun berkaitan dengan kendaraan-kendaraan antik, dari mulai motor sampai mobil jadul yang sudah dimodifikasi dengan kreatif.
Kalau mobil, rata-rata merek yang ditampilkan disini adalah merek chevrolet dan mobil-mobil bertipe lowrider lainnya, ada yang masih berbentuk model lama seperti saat model tersebut diluncurkan namun lebih banyak pula mobil-mobil tersebut yang sudah dimodifikasi cukup drastis, dimulai dari velg yang bercat emas, bumper yang lebih modern, ataupun sampai hood mobil yang sudah dilengkapi sunroof.
Motor pun tidak mau kalah, dan malah lebih banyak peminatnya dimulai dari motor-motor besar berotot macam Harley Davidson atau Chopper, sampai motor-motor klasik seperti bebek 70an dan skuter vespa pun berderet rapi beserta para pemiliknya.
Para pengunjung pun tak tahan untuk ikut selfie bersama kendaraan-kendaraan klasik dan unik tersebut. Tak hanya kendaraannya saja yang ikut pamer, namun para tennant yang menyediakan berbagai perlengkapan dan fashion kendaraan bermotor pun ikut hadir, dari mulai helmet-helmet unik, jaket kulit, boots dan bandana, serta berbagai perlengkapan yang dapat membantu mempercantik mobil seperti shampoo dan wax untuk mobil. Tak hanya warga kota Bandung, acara yang rutin diadakan setiap tahun di balai kota ini juga menarik perhatian para selebritis terkenal, di tahun 2014 saya sempat bertemu dengan Eddie Brokoli hadir disini dan di perhelatan tahun 2015 kemarin ada Derby Romero dan Ringgo Agus Rahman turut hadir di acara ini.


Selasa, 09 Juni 2015

3030

Apa itu 3030? Saat menerima undangan dari salah seorang rekan hingga akhirnya ia menjelaskan melalui sebuah rekaman video yang ia tunjukkan di tablet yang ia bawa, barulah sedikit tergambar bahwa 3030 itu sebuah laser show yang menggunakan teknologi tinggi yang memang baru saya lihat kali ini.
Tempatnya sendiri diadakan di sebuah kawasan pangkalan militer di Jl. Gatot Soebroto Bandung, kesan pertama saat mendatangi tempat ini adalah "waah", sebuah pangkalan militer yang biasanya gersang dan sunyi dilengkapi dekorasi tempat yang kebanyakan dihiasi oleh bahan balon udara yang mengembang dan terlihat besar, layaknya sebuah konser ketika kita memberikan tiket kita, kita diberikan tanda berupa gelang kertas di lengan, ketika mulai memasukin area sekitar acara saya mulai mengerti mengapa acara ini disebut 3030, karena sponsor acara ini merupakan salah satu provider telekomunikasi di Indonesia yaitu "three' yang lekat dengan logo angka "3" nya, berbagai baligho, spanduk dan booth berlogo "3" menghiasi lokasi acara, yang beberapa diantaranya tentunya menjual produk dan merchandise acara ini.

Ketika waktu pertunjukan sudah dimulai dan para audience dipersilahkan memasuki tenda besar layaknya sebuah sirkus. Namun, memang untuk atenda pertunjukkan sendiri sebenarnya tidak terlalu besar sehingga setiap show yang berlangsung selama 2 jam tersebut hanya 100 orang yang diperbolehkan masuk, dan ternyata di dalam para penonton dipersilakan menyaksikan pertunjukan dengan ngampar  di lantai, dan tidak diperkenankan untuk menggunakan blits pada kamera atau membuka layar handphone yang dapat mengakibatkan terganggunya pertunjukkan.
Saat pertunjukan dimulai, penonton mulai disuguhi oleh warna-warni yang menyilaukan mata namun indah dan teratur ketika dipandang, riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton pun memenuhi arena pertunjukan tersebut. Dan kini mulai terkuak mengapa acara ini disebut 3030, angka ini berasal dari cerita yang dibawakan oleh para performers yang menunjukkan tekhnologi canggih di tahun tersebut yang kemudian di bawa pada masa sekarang untuk memberikan kemudahan pada manusia masa sekarang, cerita ini pula tidak jauh dari misi yang dibawa oleh provider "three" sebagai penyelenggara acara, selain untuk mendekatkan diri dengan para kawula muda jaman sekarang yang lekat dengan penggunaan internet yang merupakan bagian dari program brand activation mereka dan untuk memperkenalkan produk internet terbaru dari three yang disebut dengan Bima-Three.
Walaupun dengan misi periklanan dari three, pertunjukan tetap terkemas dengan baik dengan menonjolkan seni visual tingat tinggi, musik yang dinamis serta para performers yang mengundang gelak tawa dari tingkahnya. Dan sepertinya para penampil di atas panggung merupakan mayoritas orang Sunda, hal ini yang membuat acara ini semakin meriah, karena banyolan-banyolan yang kadang di ucapkan menggunakan bahasa Sunda yang ceplas-ceplos membuat para penonton yang tentunya rata-rata bisa berbahasa Sunda dalam kehidupan sehari-harinya menjadi sangat senang dengan pertunjukan ini


Mahadharma Festival : Komunitas Bandung Bersatu

Lama sudah tak menyentuh blog ini karena kesibukan, ketidakberadaan koneksi internet dan PC yang rusak. Yang di update pun sebenarnya sudah expire. Tapi tak apa tetep harus diupdate.

Kali ini bahasan saya mengenai sebuah acara rutin tahunan bernama Mahadarma Festival, saya rasa teman-teman mahasiswa dari Unpad sudah tak asing lagi dengan acara satu ini, karena festival Mahadharma ini hasil buah karya mahasiswa Unpad dalam memberikan wadah bagi para komunitas di Bandung untuk unjuk kabisa atau bahasa kerennya show-off apa yang dimiliki komunitasnya tersebut untuk kemudian dapat diapresiasi publik, bahkan bukan tidak mungkin komunitas tersebut dapat dihargai secara komersial oleh merek-merek tertentu dari suatu perusahaan untuk kemudian bekerjasama dalam hal promosi produk mereka.

Foto-foto mahadharma fest yang saya tampilkan di artikel ini diselenggarakan pada tanggal 2 November 2013 di Monumen Perjuangan Dipati Ukur, Bandung.

Ingin bermain dan berfoto bersama reptil, mendengarkan petikan musik instrumental, atau melihat pertunjukkan tari jalanan bisa didapatkan disini, salah satu komunitas yang tampil di acara ini adalah komunitas thai boxing yang benar-benar melakukan sparring di depan stand mereka. Ada juga komunitas cos-play tokusatsu ( @itokubid ) yang memeragakan kostum buatan sendiri yang menyerupai kamen rider, namun yang cukup unik disini adalah komunitas yang berpakaian dan berdandan ala zombie (@izoc_bdg), karena mereka tidak hanya luarnya saja yang dibuat seperti zombie, tapi tingkah laku mereka memeragakan layaknya makhluk hidup yang bangkit dari kematian tersebut, cara bicara mereka, cara mereka menatap, gestur mereka sepanjang hari sangat menyerupai tingkah para zombie, dan selama berada di hadapan para pengunjung mereka sama sekali tidak menunjukkan karakter aslinya sebagai seorang manusia, bahkan mereka jajan, makan dan beristirahat pun selalu ingin terlihat seperti zombie asli.
Tak lupa komunitas seni visual pun ikut meramaikan mahadharma festival ini, selain komunitas Levitasi Hore Bandung dan Komunitas Fotografi Bandung (Kofaba) yang turut hadir sebagai perwakilan dari komunitas fotografi, komunitas graffiti dan komunitas menggambar lainnya pun turut hadir dengan menampilkan live painting di sepanjang pagar taman monumen.
Tidak hanya komunitas yang membawa properti besar saja yang unjuk kebolehan di sini, komunitas yang membawa skate board ukuran jari pun hadir di sini yang populer disebut finger board, lengkap dengan arena bermainnya, dan mereka ini sangat handal lho, kayanya itu finger board lekat banget sama jari mereka.

Menjelang malam, komunitas street dancer pun tidak mau ketinggalan, mereka pun unjuk kebolehan di depan ratusan pengunjung yang memadati area monumen perjuangan sekaligus berkolaborasi dengan komunitas nunchaku yang piawai memainkan senjata tersebut layaknya menari, apalagi ketika mereka mulai memainkannya dengan disulut api, tepuk tangan meriah pun riuh menyertai penampilan mereka, layaknya seorang pengendali api.

Acara-acara seperti inilah yang diperlukan para generasi muda Bandung untuk membuat diri mereka lebih dikenal dan diapresiasi. Mungkin apabila saya ingat jaman ketika saya masih bersekolah di SMP atau SMA, ketika para siswa memiliki ide untuk menciptakan sesuatu yang baru, mereka mencoba mengajukan pembuatan klub/ekstrakurikuler di lingkungan sekolah tersebut, namun dengan alasan keterbatasan dana dan kadang ketika sebuah ide tersebut cuku unik dan berbeda, maka seringkali ide tersebut dianggap tidak penting dan kurang mendidik, akhirnya para siswa terpaksa ikut ekstrakurikuler yang itu-itu saja di lingkungan sekolah. 
Dengan banyaknya komunitas di Bandung sekarang ini diharapkan kreativitas para pemuda Bandung tentunya semakin kuat lagi.
Salah satu yang dapat menfasilitasi hal tersebut adalah perlunya wadah yang mumpuni seperti mahadharma festival ini, dan memang salah satu tonggak dimana komunitas mulai bermunculan ketika diberlakukannya car free day setiap minggu pagi di daerah Dago dan Jl. Merdeka, ada area kosong yang dapat dimanfaatkan dan dilihat publik menambah semangat dan makin bermunculannya komunitas di Bandung hingga sekarang ini.
Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise