Kamis, 01 Oktober 2015

Reseller VS Enterpreneur

Kenapa versus? Karena menurut saya reseller dan wirausaha sesuatu yang jauh berbeda, dari pengalaman saya 3-4 tahun menjadi reseller produk kripik, batik, sendal, kaos sampai power bank.

Banyak reseller atau para dropshipper termasuk saya beberapa tahun lalu bangga saat ditanya punya usaha apa, dan lantang menjawab sebuah produk yang sebenarnya merupakan produk orang lain, yang artinya kita menjadi salesman freelance orang lain.

Tanpa mengecilkan arti reseller/dropshipper, reseller justru memang menjadi sales booster untuk sebuah produk apalagi yang lebih banyak bergerak secara online, dengan adanya reseller sebuah produk dapat jauh lebih luas menjangkau pasar dengan cepat selain mendapatkan tenaga sales gratis tanpa gaji, cukup memberikan margin laba yang lebih kepada mereka.

Reseller juga dapat menjadi titik awal seseorang terjun di dunia bisnis, sebuah solusi di saat kemampuan dan pengetahuan yang masih terbatas untuk memproduksi ataukah modal yang dimiliki sangat minim. Rata-rata profesi reseller ini dimiliki Ibu rumah tangga ataupun pegawai hingga mahasiswa.

Namun suatu saat akan ada satu titik dimana kita mulai sadar bahwa kita tidak akan berkembang hanya menjadi reseller belaka, saya bekerja 3 tahun di posisi yang memasarkan produk perusahaan, lalu saya sadari bisnis yang saya sebut sebagai "usaha" , ternyata kalau dipikir kembali saya hanya bekerja double job sebagai salesman di beberapa perusahaan.

1.Trend habis, bisnis kita ikut habis
Saya termasuk orang yang opportunis, ketika ada teman saya menjual suatu barang yang sedang trend, saya tertarik untuk ikut berjualan, nah masalahnya ketika trend produk tersebut sudah habis, bisnis kita pun ikut habis, dan kita cari trend lain untuk dijual, begitu terus katanya sampai ladang gandum menjadi coco crunch, hehe

2. Quality Service & Product Uncontrollable
Aspek lainnya, ketika saya sebagai reseller mendapatkan berbagai complaint, dari mulai kualitas produk yang mengalami sedikit cacat, packing yang kurang baik, atau kecepatan service yang kurang memadai. Saya sendiri sadar apa yang di complaintkan oleh customer cukup pantas di alamatkan karena saya sendiri akan sama kecewanya bila mendapatkan barang atau pelayanan yang kurang memadai. Namun apa daya? kita memiliki zero control terhadap produk yang kita jual, paling banter kita hanya bisa sampaikan ke customer untuk menyampaikan kembali complaintnya ke bagian customer service brand, masih mending bila brand tersebut memiliki customer service, kalau tidak kita yang menjadi bulan-bulanan dan diminta ganti bila produk tidak sesuai. Kita usaha kan padahal mau untung bukan mau cari rugi, betul?
Saya punya pengalaman menjual kemeja batik klub sepak bola saat masa ramenya, ada kejadian baju batik yang dipesan tidak match dengan yang saya pasarkan di gambar, sehingga ketika dikancingkan bagian sebelah kiri dan kanan jadi tidak pas gambarnya. Padahal kan kalau baju batik kan memang dibuat dari satu kain panjang yang sudah dicetak atau dilukis kemudian di jadikan beberapa potong baju jadi wajar saja ada beberapa potong yang gambarnya tidak pas (apalagi gambar klub bola yang lumayan rame, lebih banyak kemungkinan tidak pasnya)

3. Inovasi Mentok
Karena kita tidak tahu produknya itu bagaimana membuatnya, kadang dimana produksi pertamanya pun kita tidak tahu, ketika kita punya ide untuk dikembangkan...yak...mentok sudah.

Sekali lagi tanpa mengecilkan arti Reseller, ini hanya sebuah share pengalaman saat saya sudah mencapai titik jenuh di level reseller ketika keinginan untuk berkembang lebih jauh membangun bisnis sudah meluap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise