Kamis, 03 September 2015

Saat perusahaan besar jatuh...pedagang kaki lima tak goyah, saat ekonomi lesu..industri kreatif lokal punya solusi

Sejak tiga tahun lalu pekerjaan saya menuntut saya untuk banyak bertemu dengan orang, sehingga banyak orang yang saya temui dan banyak cerita yang saya dapatkan.
Bulan lalu saya bertemu dengan manajer akunting sebuah pabrik garmen yg sudah bekerja 20 tahun, baru saja di PHK dan beberapa bulan lalu  salah seorang teman saya yang bekerja selama 3 tahun di sebuah perusahaan tower mengalami nasib yang sama, karena lesunya ekonomi saat ini biaya kebutuhan perusahaan meningkat..namun daya beli masyarakat menurun.
Tadi pagi saya bertemu dengan kenalan saya yang merupakan pengusaha warnet yang ternyata terkena juga imbasnya..dan mengalami penurunan laba hampir 50%, tarif dasar listrik meningkat namun uang saku anak-anak yang biasa bermain game mulai menurun sehingga mereka mulai sering dilarang orang tuanya untuk bermain di warnet miliknya.  Tapi ia bercerita juga bahwa justru para pedagang kaki lima yang mampu kuat bertahan tak tergoyahkan, salah satunya seorang pedagang nasi goreng yang setiap malam melewati rumahnya tetap stabil dengan omzet harian mencapai Rp.500.000 tanpa harus menaikan harga produknya, dan sy pun teringat cerita seorang teman yang menjual bubble drink dengan konsep food truck dapat meraih omzet yang sama hanya dengan 3-4 jam berjualan di tempat yg strategis.
Bayangkan sebenarnya saat industri yang terbilang mayor jatuh karena masih memberdayakan impor luar negeri..
Usaha kecil yang bergerak secara gerilya di jalanan bisa lebih kreatif untuk bertahan menjalankan bisnisnya.
Kalau dihitung malah sebenarnya keuntungan yang mereka peroleh jauh lebih besar daripada kita-kita yang berpenghasilan sebagai karyawan.
Banyak usaha kecil yang panik sebenarnya karena masih jauh dari pembinaan dan pemberdayaan pemerintah, bisnis tempe anjlok ya wajar..pakai kedelai impor. Sebaliknya saat kita memiliki barang yang cukup baik malah tidak dilirik, contohnya petani tomat yang menjual tomat mereka hanya 500 rupiah per Kg ke pasar, dan pasar hanya menjual 2000 rupiah per Kg ke masyarakat..harga yang murah karena tidak diberdayakan oleh para pelaku usaha..mereka memilih memakai saus impor ataupun saus abal-abal yang sudah dicampur bahan pewarna/pengawet untuk usaha kuliner mereka tanpa memperdulikan akibat, yg penting biaya murah.
Banyak org Indonesia yang menganggap merek luar negeri memiliki kualitas lebih baik..yang sebenarnya tanpa sadar berperan menaikkan harga dollar dan lesunya ekonomi skr.
Jadi kenapa kita tidak ikut berperan dari sekarang dengan mulai memberdayakan sumber daya lokal sekarang, atau mau tunggu petani tomat berhenti menanam tomat? Dan akhirnya tomat kita impor juga?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise