Minggu, 18 Oktober 2015

Kebencian yang Diwariskan

Perang antara supporter sepak bola di Indonesia adalah kebencian yang diwariskan, anak baru lahir 5-8 tahun lalu udah ngerti benci supporter A, ga tau asal mulanya mereka hanya dengan senang hati ikut-ikutan ayah dan teman-temannya, layaknya sebuah agama yang diwariskan ketika lahir.
Dan yang paling bahaya saat ini sebenarnya yang provokasi sana sini di social media mau bobotoh atau the jak yang konteksnya sekarang sedang hangat karena berkaitan dengan pelaksanaan final piala presiden di Jakarta, mending provokasinya positif nah yang negatif?

 Jaman sekarang sosial media viral banget, yg liat semua kalangan, nyebar dalam itungan detik, jadi warisan budaya lah buat generasi baru, anak-anak usia 8 tahun belajar ngomong anjing, mati, dan bunuh (dan mereka bangga). Pelaku pengrusakan plat D di Jakarta dan plat B di Bandung yang tertangkap itu usia 12-22 tahun lho, anak SMP, SMA, dan yang tidak bersekolah.

Saat satu kejadian terjadi, yang satu bahas masa lalu dan yang oknum yang berada pada rentang usia di atas mulai panas ingin membalas, karena liat pemberitaan di media elektronik dan cacian langsung di sosial media, sampai kapan? Nunggu masuk usia dewasa dulu baru sadar? Setelah sendirinya sadar tanpa sadar generasi baru pembawa kebencian muncul padahal tau juga kagak, baru juga lahir kemarin sore, udah diajarin kalau sakit itu mesti dibalas, kalau semua pendukung yg itu tuh mesti dibunuh, kalau nyawa yg kemaren mati belum ada gantinya jangan mau damai.

Yang di atas sudah dingin, yang di tengah masih ngomporin, bangga bisa membenci, senang bila satu pihak mati, sementara sang orangtua menangis, mana ada orangtua yang mengajarkan anaknya kesenangan sepak bola berharap supaya nanti anaknya jago lempar batu ke mobil orang, atau ada seorang ibu bilang kepada anaknya "nak suatu saat kamu harus jago berkelahi biar pas nonton bola ga bisa dihajar supporter lain, kalau ada yg lempar batu..lempar lagi pake batu yang lebih gede".

Kamis, 15 Oktober 2015

Peluang Karir Baru di dunia Digital

Digital marketing, mungkin banyak yang belum bisa membayangkan apa sih sebenarnya kerjaan seorang digital marketing? Mungkin yang bakal terbesit di benak yaitu orang yang menjual barang via internet ada juga yang mendefinisikan lebih simple bahwa digital marketing itu admin social medianya perusahaan atau brand ternama yang bertugas update postingan dan menyapa para followers,yang sebenarnya ga salah-salah amat sih, memang pekerjaannya berhubungan dengan bagaimana menjual barang via social media dan internet tapi ga harus jadi admin social media atau terjun langsung sebagai orang yang seharian duduk depan komputer/gadget untuk update postingan, karena sebenarnya perusahaan sudah banyak yang menugaskan hal tersebut ke vendor, sudah tidak lagi dikerjakan oleh pegawai inhouse.

Buat yang sudah mulai bekerja sebelum tahun 2010 mungkin posisi jabatan ini terdengar sedikit asing di telinga, dan begitu perusahaan mengumumkan peresmian sebuah divisi baru yaitu divisi Digital Marketing, para pegawai lama pun mulai bertanya apa sih kerjaannya digital marketing sampai perlu dibikin divisi segala, kalau buat update socmed doang mah biar sama saya aja.
Nah..sekarang andil dari dunia digital dalam meningkatkan volume penjualan suatu produk kan bukan hanya sekedar update social media saja, makin lama fungsinya makin luas dan terus berkembang trendnya sehingga membutuhkan sebuah penanganan yang khusus.
Mungkin sebelum tahun 2010, perusahaan menyentuh area pemasaran digital hanya melalui website yang kemudian ketika era facebook mulai mewabah dan menghadirkan fasilitas page yang dapat lebih mudah menjangkau banyak kalangan.
Namun, era social media di dunia digital tidak berhenti pada facebook saja, fungsi digital marketing mulai meluas ketika tahun 2008-2009 pengguna twitter di Indonesia Berkembang dengan Pesat, namun baru sekedar pengguna individu yang menjadikan twitter sebagai ajang update status ala facebook namun dengan karakter yang dibatasi tapi dengan intensitas update yang lebih tinggi. Mungkin saat jaman facebook orang update bisa sehari 3 x kaya minum obat, kalau twitter lebih lagi sehari bisa puluhan bahkan ada yang ratusan update, hampir kaya bernafas.
Sistem yang memungkinkan seorang public figure/selebritis berinteraksi langsung dengan para fansnya mulai memunculkan syndrom celebrity wannabe di masyarakat (kalau dulu harus pake jasa sms premium yang ada di iklan TV, inget ga tuh? hehe), lebih mudahnya interaksi yang terjadi sesama user dan sangat gampangnya sebuah topik diangkat melalui sebuah hashtag yang nantinya diperingkatkan oleh pihak twitter sebagai topik yang sedang trend membuat twitter semakin viral meninggalkan facebook yang tampil monoton apalagi friendster.
Mudahnya sebuah isu dan topik menyebar di twitter dimanfaatkan dengan baik oleh perusahaan-perusahaan yang ingin bersentuhan langsung dengan para customer mereka, dulu saya pernah iseng tweet tentang sedang mencari hp sebuah merek tertentu, tak berapa lama perusahaan hp tersebut langsung menjawab, padahal saya tidak mention ke akun mereka, hanya menyebutkan merek tersebut dan customer service mereka rupanya stand by di kolom search untuk menangani keluhan atau pertanyaan dari masyarakat secara cepat. 

Tahun 2010-2011 mulai bermunculan akun-akun publik yang dapat menjaring ribuan sampai jutaan followers, asalkan kontentnya menarik orang akan follow dan mengajak teman-teman lainnya untuk follow juga, apalagi dengan adanya fitur retweet yang dapat memperlihatkan sebuah tweet yang menarik dari sebuah akun lalu kita perlihatkan kembali ke followers kita, sadar ga sadar kita sudah mempromosikan orang/akun yang mentweet tersebut secara gratis. Alasan sebuah akun menarik untuk di follow bisa bermacam-macam, dari mulai konten yang informatif, lucu ataupun memberikan kutipan/nasihat tentang kehidupan.

Setelah era twitter masuk mulai bermunculan lagi aplikasi social media baru yang menawarkan fitur unik lainnya seperti path dan instagram pun hadir, namun tidak langsung dapat diterima masyarakat Indonesia karena keterbatasan aplikasi ini yang hanya bisa didownload di iphone pada awalnya, sedangkan pada tahun tersebut blackberry masih menjadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia, sedangkan smartphone bertipe android baru muncul dan belum kompatible dengan banyak aplikasi, terutama aplikasi yang muncul terbatas di blackberry dan Iphone.

Setelah munculnya Instagram, path, pinterest dan beragam social media lainnya peran digital marketing sudah semakin luas, apalagi sekarang orang lebih tertarik dengan hal yang sifatnya visual, bahkan twitter saat ini sudah mulai ditinggalkan para netizen, mereka update biasanya sudah tidak langsung via twitter tapi update melalui path dan instagram, saya sendiri bila membuka timeline twitter saat ini sudah jarang menemukan teman-teman yang saya kenal tweet langsung di twitter, rata-rata isinya akun publik, selebtweet dan brand dari produk yang saya pakai.

Kecenderungan perubahan perilaku masyarakat di era digital menuntut perusahaan untuk bergerak lebih fokus pada perkembangan dunia digital, oleh karena itu hadirlah sebuah peran baru dalam dunia kerja yang disebut dengan digital marketing, namun memang untuk saat ini peran digital marketing dimilki oleh perusahaan-perusahaan yang berpusat di Jakarta, dan memang kebanyakan perusahaan memiliki pusat di Jakarta, maka dari itu posisi ini sangatlah berkembang di kota Jakarta, bagaimana dengan kota lainnya? Ada..tapi tidak banyak, seperti di Bandung ada Eiger yang sudah menawarkan posisi sebagai digital spesialist, karena memang untuk brand ini berpusatnya di Bandung, bagimana dengan perusahaan lain? Banyak yang menawarkan tapi perlu digali lebih jauh mengenai posisi yang ditawarkan, karena sayangnya ketika di Bandung posisi Digital marketing itu masih disamakan dengan posisi sebagai admin social media. Padahal digital marketing tak hanya persoalan postingan rutin di instagram atau twitter, jauh dari situ ada strategi yang perlu diciptakan agar orang lebih banyak tau tentang akun social media perusahaan, agar orang saat membuka internet dan mengetik suatu kata kunci tertentu dapat diarahkan ke akun dan situs perusahaan, agar orang saat membuka akun social media dan situs perusahaan akan mengambil keputusan untuk membeli produk kita.

Yak, peluang untuk berkarir di bidang ini masih sangat terbuka luas mengingat dunia digital yang berkembang tanpa batas dan masih banyak perusahaan yang membutuhkan internet dan social media entusiasm, artinya kita harus up to date dan paham trend digital dan bisnis di Indonesia.
Salary? Cobalah dulu atau tanya temanmu yang menjadi bagian dari digital marketing di sebuah perusahaan di Jakarta? Saya jamin sangat menggiurkan

"Social media it's a fun stuff right? How about working on something you like and you'll be paid for it?"


Selasa, 06 Oktober 2015

Car Free Day : One Stop Community and Society Public Space

Siapa yang di kotanya ada car free day? Saya rasa di tahun 2015 ini hampir di semua kota besar dan kota suburban di Indonesia sudah menyelenggarakannya rutin mingguan. Bermula pertama kali di Jakarta pada tahun 2001 (sumber : carfreedayindonesia.org) namun bukan event rutin mingguan seperti sekarang, car free day merupakan event tahunan yang ditujukan mengurangi emisi gas di kota-kota besar. Barulah ketika tahun 2009-2010, intensitas car free day makin meningkat dan mulai diikuti kota-kota besar lainnya termasuk Bandung, yang dimulai dari ruas jalan dago yang kemudian diikuti Jalan Merdeka, Jalan Buah Batu dan kini Jalan Asia Afrika. Namun memang dari keempat ruas jalan tersebut CFD Dago adalah car free day yang paling hidup, segala aktivitas tumplek disana, padahal awalnya CFD diadakan sebagai salah satu agenda lingkungan hidup untuk menyadarkan betapa pentingnya mengurangi gas buang emisi dari kendaraan bermotor, maka dari itu saat pertama kalinya diadakan banyak orang yang berbondong-bondong membawa perlengkapan olahraga untuk mengisi ruas jalan yang kosong, dari mulai lari pagi, futsal, badminton sampai bersepeda. 
Ada gula ada semut, makin banyak gulanya, semut-semut mulai berdatangan, ketika minggu-minggu berikutnya CFD diadakan kembali para pedagang mulai ikut meramaikan CFD untuk mendapatkan jatah rezeki yang bisa didapatkan dari pengunjung yang makin hari makin bertambah banyak.
Tak hanya pedagang asongan yang hadir di CFD, para perusahaan besar pun mencium kesempatan yang dapat dihadirkan oleh adanya CFD, karena hanya di CFD Dago perusahaan bisa mendapatkan atensi besar dari masyarakat hanya dalam hitungan jam, dan bisa menimbulkan efek yang masif dengan cara yang efektif. Berbagai aktivitas promosi dan publikasi digelar oleh berbagai perusahaan untuk membuat merek dagang mereka dikenal dan tentunya bisa berefek pada penjualan produk.

Namun, banyaknya pengunjung dan pedagang yang makin lama makin berjubel di CFD melahirkan masalah baru, salah satunya adalah sampah, selalu setelah event car free day berakhir hasilnya meninggalkan banyak sampah yang menambah pekerjaan rumah bagi petugas kebersihan untuk membersihkannya, entah dari kemasan pembungkus jajanan yang dijual disitu maupun dari brosur yang disebar perusahaan dalam rangka publikasi produk dan merek.
Masalah sampah yang hadir mengundang Pak Sariban, seorang relawan lingkungan yang sebenarnya sudah bergerak sukarela membersihkan kota Bandung dari tahun 1980-an untuk hadir secara rutin di CFD untuk menyuarakan bagaimana pentingnya menjaga lingkungan, sehingga menjadikan pak Sariban ini menjadi ikon CFD Dago. Untuk menyebar massa CFD, lokasi pelaksanaan CFD mulai disebar dengan mengadakannya di beberapa daerah seperti buah batu dan jalan merdeka, namun cara tersebut tidak mampu juga untuk menyebar massa, karena masyarakat tetap lebih banyak datang ke CFD Dago, padahal situasi CFD di Dago sudah mengarah ke situasi yang tidak kondusif, orang-orang sudah tidak nyaman untuk berolahraga apalagi bersepeda karena padatnya pengunjung yang datang, belum lagi sempitnya jalan yang disebabkan oleh event yang diselenggarakan perusahaan ataupun sebuah kampanye sosial dari sebuah organisasi.

Tren Car Free Day pun mulai berubah, saat sebelumnya orang datang ke car free day untuk olahraga, kini tujuan warga yang datang lebih kepada jalan-jalan sambil mejeng atau bahkan sudah diniatkan untuk belanja, kalau dulu masih banyak yang datang ke CFD memakai jersey dan celana training, sekarang yang dominan datang ke CFD sudah memakai celana Jeans dan aksesori yang wah.
Memang tujuan awal diselenggarakannya CFD adalah untuk mengurangi emisi gas buang pada kendaraan bermotor yang menurut saya tujuan ini tidak tercapai, karena  tetap saja para penduduk kota datang ke car free day menggunakan transportasi bermotor, termasuk beberapa pesepeda pun datang ke lokasi car free day menggunakan mobil yang kemudian sepedanya diangkut dari dalam mobil, mobil yang tidak dapat melewati jalan utama Ir. H. Djuanda pun tetap dapat berjalan melalui jalan alternatif lainnya, itu berarti hampir tidak ada pengurangan emisi dari gas buang kendaraan bermotor secara signifikan.

Akan tetapi ada juga banyak hal yang CFD sudah banyak ciptakan terutama bagi kota Bandung, sebelum adanya fasilitas dan gerakan taman kota yang digagas Walikota Ridwan Kamil sekarang, Car Free Day telah menjadi sarana bertemunya para penduduk kota untuk dapat beraktivitas apa saja, saling bertegur sapa dan menjadi wadah positif untuk menyuarakan isu sosial yang dapat diketahui warga secara masif, hal-hal yang sebelumnya tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam yang lebih sering diam dirumah.

Kota yang sehat adalah kota yang warganya senang untuk beraktivitas di luar rumah, saling berinteraksi, bertukar pikiran secara langsung tanpa terbebani pulsa maupun sinyal ataupun kesenjangan gadget lainnya. Setidaknya ketika penduduk kota datang ke car free day ini mereka meniatkan diri untuk bangun pagi dan sedikitnya menggerakan tubuhnya untuk berjalan kaki di area CFD.
Setidaknya mereka datang ke CFD untuk melakukan transaksi jual beli dengan sistem tawar menawar secara langsung di lokasi, bukan melihat harga pas yang tertera di sebuah layar HP ataupun monitor ukuran 14 inchi.
Setidaknya anak-anak dapat bermain berlarian sesuka hati tanpa harus khawatir memecahkan barang pecah belah ataupun mengurung diri seharian di kamar yang membuat tagihan listrik dan internet menjadi membengkak di akhir bulan.

Saya mulai rutin datang ke car free day sejak tahun 2012, saya pun termasuk salah seorang yang pernah sedikitnya mencoba merasakan mendapat rezeki dari berjualan bersama salah seorang teman disini, tak terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan saat berjualan di CFD Dago ini, sedikitnya cukup dengan membayar uang kebersihan sebesar 6000 rupiah dan sebungkus rokok untuk Satpam toko atau kantor yang teras depannya kita gunakan untuk berjualan, untuk sistem di 2015 entah seperti apa dan harga yang harus dibayarnya berapa.

CFD tak hanya memiliki fungsi secara ekonomi dan sosial, namun di Bandung dari
pengalaman yang saya rasakan sendiri, Car Free Day menjadi tonggak lahir dan berkembangnya komunitas-komunitas kreatif di Bandung, hal ini baru saya sadari ketika saya dan komunitas mengikuti ajang festival berkumpulnya para komunitas di Bandung, saat saya bertanya satu persatu kepada para anggota dan komunitasnya, komunitas mereka rata-rata baru berdiri setelah tahun 2010 dan setidaknya mereka pernah melakukan kegiatan di car free day Dago Bandung ini minimal sekali, entah itu komunitas fotografi atau menggambar yang menyelenggarakan hunting atau pameran di CFD, ada juga komunitas street dance, skater, cosplay yang unjuk
kebolehan sampai komunitas pecinta hewan peliharaan seperti reptile dan musang yang cukup sering mengadakan gathering di taman cikapayang saat CFD.
Lalu kenapa berkembangnya di CFD? Hal ini tak lepas dari kebiasaan warga kota yang sejak awal diadakannya CFD, membawa masing-masing hal dan aktivitas yang mereka senangi ke CFD, saat mereka bertemu dengan orang yang memiliki hobi yang sama disitulah mulai timbul perkenalan dan pembicaraan dan tercetuslah sebuah ide untuk berkreasi. Tak hanya itu CFD yang memiliki wilayah yang luasnya memadai serta massa yang sangat banyak menjadi arena tersendiri untuk komunitas sebagai wadah unjuk kebolehan dan bakat yang mereka miliki, serta menjadi ajang perekrutan anggota baru.
Bakat dan kreativitas yang para komunitas miliki ini tidak hanya sebagai ajang pamer atau penyaluran bakat, namun juga sebagai ajang presentasi kepada publik dan pihak komersial agar dapat dilirik dalam suatu kerjasama komersial, tentunya hal yang paling menyenangkan itu saat kita melakukan apa yang kita senangi dan kita dibayar untuk itu. Seperti sebuah merek cat tembok yang pernah menggaet komunitas dance dan graffiti ataupun sebuah perusahaan provider yang mensponsori sebuah
event hunting komunitas fotografi. Semakin banyak anggota dalam komunitas  maka semakin besar nilai komunitas tersebut di mata perusahaan, apalagi bila komunitasnya memiliki massa yang besar juga di akun sosial media, hal ini akan memudahkan perusahaan menarik massa saat akan mengadakan sebuah event dalam rangka meningkatkan penjualan produk mereka, begitupun sebaliknya komunitas memiliki sebuah daya tarik untuk anggota baru saat memiliki banyak agenda event-event bergengsi dengan sebuah nama brand di dalamnya.

Adanya CFD ini makin memicu kreativitas anak muda Bandung untuk berkreasi dan menggeser tren ekstrakurikuler di sekolah. Jaman saya bersekolah dulu, saya dihadapkan oleh pilihan terbatas yang dimiliki sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler, pilihan yang ada tidak jauh dari PMR, Pramuka, klub olahraga dan beladiri. Saya masih ingat seorang teman yang memiliki ketertarikan berkreasi di bidang tari, ia mengajukan proposal permohonan pendirian ekstrakurikuler break dance pada pihak kesiswaan sekolah yang sampai ketika ia lulus dari sekolah, proposal tersebut tidak pernah disetujui karena dianggap akan menambah beban biaya sekolah serta membawa pengaruh asing yang kurang baik ke lingkungan sekolah. Nah anak muda jaman sekarang daripada repot-repot mengajukan pendirian ekstrakurikuler di sekolah, lebih baik mereka buat sebuah komunitas, dengan viralnya sosial media jaman sekarang, sangatlah mudah untuk mendapatkan massa untuk anggota selama memiliki karya yang unik dan berkualitas, apalagi skala jaringannya akan jauh lebih besar dari skala sekolahan, skalanya sudah skala sebuah kota bahkan bisa menjaring skala nasional berikutnya.


Senin, 05 Oktober 2015

Menjual Isu dalam Bisnis di Indonesia

Eitss.. ini bukan artikel soal politik yaa..
Terus apaan bisnis jual isu..yaa buat sebuah isu untuk diperbincangkan masyarakat agar produk sebuah brand terjual..
Indonesia mah ga jauh da..penduduknya sangat senang dan dekat dengan gosip, mau ibu-ibu di pasar, bapak-bapak di warung kopi atau para netizen di social media, makanya metode marketing word of mouth  adalah metode pemasaran yang masih sangat ampuh di Indonesia, apalagi sebuah isu produk sudah dapat masuk ke social media, produk itu akan menjadi sesuatu yang viral di Indonesia, ketika isu itu sebuah hal yang menarik semua karyawan perusahaan tinggal gulirkan isu tersebut misal di path, ketika contentnya unik atau lucu, teman-temanya pada repath semua, save picture, posting di instagram connecting to twitter & Facebook, posting di home LINE, posting di Grup chat,  dijadikan DP di BBM, temen dari temennya karyawan liat copas DP dan posting di seluruh social media tadi dan seterusnya.

Saya sendiri pernah mencobanya, saya punya penghasilan sampingan dari jasa pembuatan gambar WPAP (Wedha's Pop Art Portrait) yang sekarang sedang ngetrend gara-gara jenis pop art itu dipakai sebagai metode publikasi pada peringatan KAA ke 60 di bulan April 2015 silam, bahkan beberapa hiasan WPAP tokoh KAA masih menghiasi jalan Asia Afrika-Cikapundung Bandung dan menjadi ajang wisatawan untuk berfoto selfie disana. Nah saya tahu dari jauh hari bahwa tanggal 25 September kota Bandung akan berulang tahun yang ke 205, dan saya juga tahu di social media jaman sekarang, para netizen terutama yang berasal dari kota Bandung sejak adanya akun social media @infobdg gemar memposting sesuatu yang sifatnya social up to date, jauh dari jaman dahulu yang bahkan warga Bandung tidak tahu hari berdirinya kota sendiri. Saya pun mulai memilah tokoh-tokoh yang cukup jadi ikon kota Bandung saat ini, tentunya walikota Ridwan Kamil menjadi pilihan utama, lalu kemudian Pidi Baiq dan Atep sebagai ikon Persib Bandung, tak lupa Pak Sariban seorang relawan lingkungan yang sekarang mulai naik ke media elektronik, dan malah sekarang di endorse salah satu brand air mineral ternama di ikut sertakan dalam proyek saya, ia pun populer juga di dunia maya karena banyak blogger yang mengulas mengenai dirinya di situs mereka.

Design ini saya sengaja buat berbentuk square (1x1) karena jaman sekarang semuanya mengarah pada bentuk seperti ini, karena orang akan lebih mudah dan tertarik untuk share, Instagram, BBM, dan profile picture lainnya dibuat seperti itu. Makanya bia anda ingin menyelenggarakan sebuah event amat sangat dianjurkan untuk membuat poster publikasi dalam bentuk kotak sama sisi.
Pagi hari tanggal 25 September langsung saya posting ini di berbagai social media yang saya miliki, kenapa pagi? karena kebiasaan orang jaman sekarang ketika bangun pagi adalah membuka smartphone, dan membuka all social media yang dimiliki Facebook, Path, Twitter, Line dan BBM.
Saya tinggal mandi dan bersiap untuk pergi kerja, sudah banyak teman saya yang "loved" dan ada yang repath, Instagram sudah mencapai 30 likes dan ada yang regram termasuk salah satu tokoh yang saya buat WPAP wajahnya yaitu Atep yang sudah memiliki 30ribuan followers, memang social media yang paling viral itu instagram, karena total dalam 1 hariuntuk ukuran saya yang followersnya sedikit, gambar saya mencapai rekor likes (ukuran saya) sebanyak 269 likes, foto biasa aja paling banyak 20-40 likes, artinya banyak orang yang setidaknya melihat hasil karya saya dan dengan baik hatinya me-repost karya saya (maka dari itu saya buat watermark di dalam gambar, karena saking viralnya penyebaran desain saya, ada beberapa orang yang repost tapi tidak give credit ke saya sebagai pembuat, termasuk beberapa merek dagang sebuah produk di Bandung.

Yak, sebuah gambar dengan bentuk resolusi square akan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh sebuah produk atau merek karena memiliki share rating yang lebih tinggi karena social media supported, baik itu gambar cantik dengan sebuah quote yang "ngena" di dalamnya ataupun sebuah meme-meme kocak.

Saya rasa sekarang semua tahu dengan Go-Jek, ya jasa transportasi ojek dengan inovasi online, tapi pernahkah anda sadar bahwa Go-Jek saat ini marak digunakan tentunya sebagian karena harga promonya saat ini dan satu lagi karena sedang trend, saat ini masyarakat ketika menggunakan dan memakai sesuatu yang trend akan menaikkan gengsi sosial, cerita langsung dari teman-teman saya yang sudah menggunakan kadang mereka sebenarnya sedang ga butuh-butuh banget go-jek, toh mereka juga punya kendaraan, tapi demi update di social media masing-masing bahwa akhirnya mereka menggunakan Go-jek maka jadilah Go-Jek sesuatu yang viral di masyarakat apalagi dengan sebuah isu yang dilempar oleh Go-jek sendiri lewat meme-meme kreatif serta story broadcast yang kocak untuk menjadi suatu bahan update-an para  pelaku media social.

Hal ini juga dilakukan oleh brand jadul kong ghuan di saat bulan Ramadhan, mungkin yang dibuat oleh KongGhuan cuma satu meme, tapi dasar kreatifnya netizen jaman sekarang, hanya dalam sekejap gambar kong ghuan ini memiliki belasan versi cerita tentang sang ayah yang tidak hadir di gambar meja makan di kemasan biskuit KongGhuan.

Inilah yang disebut marketing yang viral, disebut viral karena kata viral merupakan asal kata dari virus yang ibaratnya sangat mudah menyebar. Kenapa gambar lebih mudah menyebar, karena trend socmed jaman sekarang, orang lebih menyenangi sesuatu yang bersifat visual, makanya Instagram saat ini menjadi primadona para pelaku bisnis online, karena memang dengan postingan yang sifatnya visual akan membantu orang untuk melakukan keputusan pembelian lebih cepat apalagi dengan pemilihan hashtag yang tepat yang membuat foto dari produk/merek tersebut dapat tersebar dengan cepat. Makanya produk dessert Taiwan seperti mangkok manis, moco moco, dll yang cukup ramai warna dan bentuknya menjadi sangat digandrungi karena menarik untuk difoto dan diupload di social media, ada kalanya sekarang produk makanan tuh bukan hanya enak yang bisa laku tuh..tapi juga bagus difoto.

Seiring dengan melesatnya Instagram sebagai alat bisnis online utama, trend penggunaan twitter sebagai alat penjualan sudah tak sebagus dulu. Pernah membandingkan timeline twitter tahun 2012-2013 dengan timeline 2015? Ya..saat saya pribadi membuka timeline twitter di suatu waktu, saya sudah hampir tidak dapat menemukan akun pribadi pada timeline kecuali akun seorang selebtweet (yang memang cari duit disana) dan akun publik yang sifatnya informatif, adapun akun pribadi yang update adalah updatean via path atau instagram, nah kalo soal complaint twitter masih menjadi rajanya, saat kecewa terhadap produk/pelayanan suatu produk, twitterlah yang dijadikan sebagai ajang bulan-bulanan, disitulah peran customer service online sangat dibutuhkan.

Selain gambar yang lebih mudah di share, produk itu sendiri tetap dapat menjadi suatu yang viral ketika produk itu sendiri unik dan menarik sehingga memberi kesan tersendiri bagi yang mencobanya, dan dengan senang hati membicarakannya dan merekomendasikannya kepada kerabat dan teman-temannya. Misalkan saat ada kemunculan kue cubit green tea dan burger yang berwarna hitam besar, ataupun juga kesan yang didapatkan ketika mendapat pelayanan lebih dari suatu maskapai penerbangan atau restoran.

Ya bila ingin produk anda cepat diketahuiorang..buatlah sebuah isu yang membuat orang dengan senang hati menyebarkannya, ini promosi hemat efektif lho, yang mahal?? idenya tuh yang mahal.


<span data-iblogmarket-verification="seejDz~UbEAq" style="display: none;"></span> 

Sabtu, 03 Oktober 2015

Roti Sumber Hidangan ( Het Snoephuis ) : Roti Legendaris Warisan Bandung 1929

Sumber Hidangan "Sunshine Bread" atau dulu saat jaman Penjajahan Belanda dikenal dengan nama Het Snoephuis adalah sebuah toko roti yang terkenal legendaris karena sudah berdiri sejak tahun 1929 di Jl. Braga Kota Bandung. Nama sebelumnya yaitu Het Snoephuis sendiri memiliki arti Rumah manis. Memang agak sulit menemukan toko roti ini karena tidak terdapat plank nama toko yang terpasang di luar, serta fisik toko yang terhalang oleh para pelukis jalanan yang memajang karyanya.
Tak disangka juga setelah saya masuk ke dalam area sumber hidangan, toko ini cukup luas juga, dan memiliki display yang besar. Karena sebelumnya saya mengenal sebuah toko roti legendaris lainnya yaitu toko roti Sidodadi di jalan Otista yang tergolong kecil dan sempit, benar-benar hanya sebuah toko untuk membeli produk roti saja. Sumber Hidangan memiliki koridor jalan yang lebar dan setengah area lainnya yang dapat dipakai menyantap hidangan khas dari toko ini, cukup banyak meja dan kursi yang dapat masuk ke dalamnya sehingga para wisatawan cukup leluasa berkunjung disini, walaupun toko roti ini terhalang oleh display bertumpuk dari pelukis jalanan Braga, namun ternyata banyak juga turis lokal ataupun mancanegara yang datang kemari karena ternyata nama sumber hidangan cukup populer di dunia maya, sudah banyak sekali blog yang membahas mengenai tempat ini, entah postingan saya ini sudah masuk urutan ke berapa di google.Bahkan
sebenarnya saya sendiri yang notabenenya merupakan warga Bandung asli baru mendengar nama toko ini 3 bulan yang lalu dari salah seorang teman saya yang berkunjung dari malang untuk mencari lokasi toko ini.
Daya tarik lain dari toko ini adalah arsitektur dan interior toko yang berkesan vintage karena masih mempertahankan desain dan gaya lama yang sangat jadul, dekorasi foto hitam putih dan meja kursi yang khas pun tampak menghiasi toko ini.Apalagi untuk ukuran tempat makan di jaman sekarang tuh segala sesuatunya harus selfieable, yang artinya tempatnya asyik buat selfie dan di update di socmed, dan saya rasa sumber hidangan sudah masuk kriteria tersebut.
Sebuah meja kasir besar dan lengkap beserta mesin kasir raksasanya menjadi sesuatu yang cukup ikonik di sumber hidangan ini, pernah nonton film Warkop DKI yang adegannya di sebuah hotel (saya lupa judulnya), ya perabot dan interiornya mengingatkan saya pada film tersebut.
Memang toko sumber hidangan ini berniat untuk mempertahankan khas klasiknya, namun sedikit catatan juga setidaknya langit-langit yang terkelupas perlu banyak perbaikan. Jarak dari lantai dan langit-langit toko juga terbentang cukup jauh, sehingga kesan luas dari bangunan makin terasa.
Dan tentunya satu hal yang terkenal dari toko roti ini adalah rasa dan bentuk roti tersebut yang tak hanya enak tapi juga unik, beberapa jenis roti memang cukup familiar seperti croissant, dan roti corong dengan fla. Namun kebanyakan roti dan cake disini saya sendiri baru pertama kali melihat dan mencicipinya, tak kalah dengan roti-roti yang sekarang banyak dijual di mall, roti dan cake disini memiliki rasa manis yang unik yang saya rasa bahkan tidak bisa diciptakan oleh merek-merek roti mall tersebut. Pembungkus roti yang menggunakan kertas pun menjadi point yang memperkuat citra klasik pada roti dan cake sumber hidangan. Di sini juga kita dapat membeli beberapa makanan pendamping yang juga nikmat, salah satunya sorbet, yang tidak banyak orang tahu merupakan asal mula es krim yang bentuknya masih tradisional dan lebih homemade.
Konon memang bentuk dan rasa yang dibuat di Sumber Hidangan ini masih sangat orisinil mengambil dari resep para bangsa asing yang pernah singgah di Indonesia.
Kabar lain yang beredar, bahwa toko ini akan tutup dalam beberapa tahun ke depan karena tidak dapat mempertahankan omzet dan kalah bersaing dari produk roti modern, tentunya saya berharap toko sumber hidangan ini akan terus beroperasi, karena saya rasa resep yang dimiliki toko ini benar-benar the one and only.

Kamis, 01 Oktober 2015

Bisnis yang Hits atau Bisnis yang Sustainable ?

Memang kalau kata orang namanya bisnis mah ada naik turun, tapi untuk apa ada sciencenya kalau kita gabisa pelajari usaha untuk meminimalisir terjadinya penurunan, Setidaknya kita bisa menganalisa pasar dan mempunyai tindakan pencegahan.
Tentunya setiap orang menginginkan bisnisnya dapat menjadi bisnis yang bertahan selama bertahun-tahun bahkan bisa ia wariskan ke anak cucunya. Parahnya bisnis yang ada sekarang terutama bisnis kuliner di Bandung benar-benar memiliki siklus hidup yang pendek, dan kadang kebanyakan orang tergoda dengan sebuah trend yang sifatnya sementara.
Ada kalanya sebenernya menurut pendapat saya sekarang ketika mau memulai sebuah bisnis bukan mencari "apa yang lagi rame sekarang?" Ketika ramenya lewat..yaa..bisnisnya juga sama cuma numpang lewat doang, tapi "yang rame" bisa dijadiin sales boosternya produk inti yang kita punya dan memang cepet masuk ke masyarakatnya..
Contohnya sadar ga sadar yang namanya warung ramen di Bandung udah bejibun, dalam satu ruas jalan aja bisa 3-5 kedai ramen dengan ciri khas masing-masing, mungkin trend ramen ini dimulai dari sekitar tahun 2011-2012 hingga sekarang, padahal kalau misal dilihat lagi warung ramen di tahun 2015 ini sedikit-sedikit sudah mulai berkurang, karena pasar ramen di Bandung sudah terlalu ramai dan sebenarnya beda produk ramen yang satu dan yang lainnya diferensiasinya tuh benar-benar beda tipis, hanya pemain besar yang bertahan...kuncinya ya karena kedai mereka tidak hanya menjual ramen..sehingga ketika penggemar ramen sudah mulai bosan, customer bisa memilih menu makanan lain di kedai mereka, penjualan mereka tetap stabil, dan memang rata-rata mereka tidak menjadikan nama "ramen" sebagai nama usaha kuliner mereka, contohnya seperti Kedai Ling-ling dan rumah lezat simplisio.
Ramen hanya salah satu contoh, mungkin mereka sempat mendapatkan booming profit ketika produk mereka menjadi trend di masa jayanya, tapi setelah itu banyak juga kerugian yang ditimbulkannya ketika merasa produk tersebut melesat dan menghasilkan uang banyak untuk diputarkan kembali, sang pemilik bisnis tergoda untuk memperbesar bisnisnya dengan membeli dan merenovasi sebuah tempat atau membeli sebuah mesin produksi di saat trend tersebut belum tau kapan berakhirnya, trend berakhir..bingunglah..mesti dikemanakan mesin yang dibeli, tempat-tempat yang sudah terlanjur dirombak yang masing-masing sudah di kreditkan ke bank dengan tenor lama..yang tadinya rencana akan dilunasi secepatnya karena berharap profit yang besar.
Selain ramen?? Ada mochi ice cream yang sudah mulai menghilang dan mungkin kue cubit green tea dalam 2 tahun ke depan.
Jangankan makanan di Indonesia mah, batu akik lah contohnya, awal tahun 2015 booming sekali sampai ada pameran batu akik setiap minggu dari 2 penyelenggara, orang ramai-ramai beli mesin asah dan menyewa tempat, sekarang?? Ada yang sudah mulai merasakan penurunannya?

Reseller VS Enterpreneur

Kenapa versus? Karena menurut saya reseller dan wirausaha sesuatu yang jauh berbeda, dari pengalaman saya 3-4 tahun menjadi reseller produk kripik, batik, sendal, kaos sampai power bank.

Banyak reseller atau para dropshipper termasuk saya beberapa tahun lalu bangga saat ditanya punya usaha apa, dan lantang menjawab sebuah produk yang sebenarnya merupakan produk orang lain, yang artinya kita menjadi salesman freelance orang lain.

Tanpa mengecilkan arti reseller/dropshipper, reseller justru memang menjadi sales booster untuk sebuah produk apalagi yang lebih banyak bergerak secara online, dengan adanya reseller sebuah produk dapat jauh lebih luas menjangkau pasar dengan cepat selain mendapatkan tenaga sales gratis tanpa gaji, cukup memberikan margin laba yang lebih kepada mereka.

Reseller juga dapat menjadi titik awal seseorang terjun di dunia bisnis, sebuah solusi di saat kemampuan dan pengetahuan yang masih terbatas untuk memproduksi ataukah modal yang dimiliki sangat minim. Rata-rata profesi reseller ini dimiliki Ibu rumah tangga ataupun pegawai hingga mahasiswa.

Namun suatu saat akan ada satu titik dimana kita mulai sadar bahwa kita tidak akan berkembang hanya menjadi reseller belaka, saya bekerja 3 tahun di posisi yang memasarkan produk perusahaan, lalu saya sadari bisnis yang saya sebut sebagai "usaha" , ternyata kalau dipikir kembali saya hanya bekerja double job sebagai salesman di beberapa perusahaan.

1.Trend habis, bisnis kita ikut habis
Saya termasuk orang yang opportunis, ketika ada teman saya menjual suatu barang yang sedang trend, saya tertarik untuk ikut berjualan, nah masalahnya ketika trend produk tersebut sudah habis, bisnis kita pun ikut habis, dan kita cari trend lain untuk dijual, begitu terus katanya sampai ladang gandum menjadi coco crunch, hehe

2. Quality Service & Product Uncontrollable
Aspek lainnya, ketika saya sebagai reseller mendapatkan berbagai complaint, dari mulai kualitas produk yang mengalami sedikit cacat, packing yang kurang baik, atau kecepatan service yang kurang memadai. Saya sendiri sadar apa yang di complaintkan oleh customer cukup pantas di alamatkan karena saya sendiri akan sama kecewanya bila mendapatkan barang atau pelayanan yang kurang memadai. Namun apa daya? kita memiliki zero control terhadap produk yang kita jual, paling banter kita hanya bisa sampaikan ke customer untuk menyampaikan kembali complaintnya ke bagian customer service brand, masih mending bila brand tersebut memiliki customer service, kalau tidak kita yang menjadi bulan-bulanan dan diminta ganti bila produk tidak sesuai. Kita usaha kan padahal mau untung bukan mau cari rugi, betul?
Saya punya pengalaman menjual kemeja batik klub sepak bola saat masa ramenya, ada kejadian baju batik yang dipesan tidak match dengan yang saya pasarkan di gambar, sehingga ketika dikancingkan bagian sebelah kiri dan kanan jadi tidak pas gambarnya. Padahal kan kalau baju batik kan memang dibuat dari satu kain panjang yang sudah dicetak atau dilukis kemudian di jadikan beberapa potong baju jadi wajar saja ada beberapa potong yang gambarnya tidak pas (apalagi gambar klub bola yang lumayan rame, lebih banyak kemungkinan tidak pasnya)

3. Inovasi Mentok
Karena kita tidak tahu produknya itu bagaimana membuatnya, kadang dimana produksi pertamanya pun kita tidak tahu, ketika kita punya ide untuk dikembangkan...yak...mentok sudah.

Sekali lagi tanpa mengecilkan arti Reseller, ini hanya sebuah share pengalaman saat saya sudah mencapai titik jenuh di level reseller ketika keinginan untuk berkembang lebih jauh membangun bisnis sudah meluap.
Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise