Jumat, 30 Desember 2016

Garuda Wisnu Kencana, Dari Priangan Ke Dewata, Untuk Nusantara

Kepala Dewa Wisnu yang sedang masa pembuatan di Bandung
Dari balik rimbunnya pepohonan, tampak sepasang mata, hidung dan mulut dalam sebuah kepala berukuran raksasa. Sosok yang terlihat buat saya tampak tak asing lagi, ia adalah Dewa Wisnu yang biasa saya lihat di dunia maya. Yak, saya melihatnya  di dunia maya, karena belum sekalipun saya menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

Patung Dewa Wisnu ini memang biasanya dapat dilihat langsung saat berkunjung ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana di Bali. Lalu mengapa bisa patung ini nyasar sampai ribuan kilometer jauhnya?

Rupanya, patung Dewa Wisnu yang ini terbuat dari Tembaga yang nantinya akan menjadi cikal bakal Garuda Wisnu Kencana, dan nantinya akan diproyeksikan sebagai Patung Tertinggi di dunia. Saat patung ini rampung dikerjakakan, maka tingginya akan mengalahkan Patung Liberty di Amerika Serikat dan Patung Christo Redentor di Brazil. Sementara patung yang saat ini berada di Bali masih terbuat dari Batu dan dijadikan daya tarik wisata sementara.

Seniman Nyoman Nuarta yang ditayangkan dalam video cerita di Nu Art Sculpture Park

Patung yang dibuat oleh seniman Nyoman Nuarta ini memang secara keseluruhan sedang dikerjakan di Bandung. Selain karena sang seniman memang mengemban pendidikan dan berdomisili di Bandung, material dan tenaga kerja untuk mengerjakan bangunan ini lebih mudah didapatkan di Bandung dan sekitarnya. “Bahkan Pak Nyoman Nuarta sampai merekrut 100 orang dari Majalengka untuk menyelesaikan patung ini”, ujar Agus, Manajer Pengelola NuArt Sculpture Park yang sempat saya temui saat berkunjung ke gallery seniman asal Bali tersebut.

Miniatur Garuda Wisnu Kencana di Nu Art Sculpture Park

Setiap 2 minggu sekali, bagian per bagian dari patung tersebut diangkut ke Bali menggunakan 4 buah truk dari total 750 bagian yang kemudian harus dirakit. Proses pembuatan patung Garuda Wisnu Kencana ini dapat diintip dari balik pepohonan yang berada di NuArt Sculpture Park Bandung yang dibuka untuk umum sejak bulan Maret 2016. Patung yang sedang dalam masa pembuatan ini tidak dapat dikunjungi secara langsung oleh wisatawan, hanya dapat dilihat dari jauh saja, karena tentunya akan mengganggu proses pengerjaan. Namun, walaupun tidak dapat melihat dari dekat patung Garuda Wisnu Kencana, kita masih dapat melihat puluhan karya lainnya dari sang maestro yang tak kalah luar biasanya.

Patung Ikan Paus yang seolah-olah menembus tanah Nu Art Sculpture Park

Secara garis besar, karya patung yang dibuat oleh Nyoman Nuarta itu memiliki ciri material yang terbuat dari logam dan memiliki bentuk yang dinamis. Terkadang karyanya ini dibuat menyatu dengan benda-benda di sekitarnya. Seperti patung yang terdapat di salah satu sudut tamannya, sebuah patung ikan paus yang terlihat bagai berenang menembus tanah dengan ekor yang terpisah, sementara di salah satu dinding gedung terdapat patung yang memperlihatkan seseorang yang terjerat jala.  Dan tentunya terdapat beberapa patung miniatur Garuda Wisnu Kencana yang cukup bisa menggambarkan bagaimana patung ini akan berbentuk ketika seluruh tahap pembuatan selesai dengan lancar.
Salah Satu Karya Nyoman Nuarta yang unik

Selasa, 27 Desember 2016

Jumat Berkah di Toko You Bandung





“Pak..pak sini pak, makan bareng sama kita, gratis kok”, seru seorang pemuda dari dalam tenda merah mengajak seorang bapak tukang sol keliling yang sedang melintas untuk makan bersama. Pemuda itu berkaus gelap dengan potongan rambut undercut yang cukup nyeni. Ia rupanya adalah salah seorang pegawai Toko You yang setiap hari Jumat memang menggelar makan gratis setiap selesai jumatan. 

Toko You ini adalah salah satu Tempat Kuliner Legendaris di Kota Bandung yang berdiri sejak tahun 1947. Bangunan utamanya sendiri terletak sekitar 20 meter dari tenda merah yang didirikannya di luar, tepatnya di Jl. Hasanudin No.12 Bandung. Keberadaan tenda merah yang mereka pasang ini untuk memfasilitasi pengunjung tempatnya yang selalu membeludak. Namun tenda tambahan tersebut dipasang tidak sampai sore hari, karena ketika sore hari, lapak yang mereka gunakan akan digunakan oleh kuliner lain yang tak kalah legendaris, yaitu Bebek Ali Borme.

Pemandangan tadi rutin saya lihat setiap minggunya. Karena saya sendiri pun termasuk salah seorang karyawan yang memilih untuk berhemat uang bulanan untuk mencicipi hidangan Toko You yang kelezatannya melegenda. Awalnya beberapa orang termasuk saya ataupun bapak tukang sol sepatu ini pasti ragu saat ditawari makanan gratis. Jaman sekarang makan gratis? Kencing aja bayar. Namun akhirnya mau juga ikut makan di tenda merahnya Toko You itu, setelah diyakini oleh para pegawai Toko You yang luar biasa ramah.

Memang tak bisa dipungkiri, menu capcay dan ayam kecap yang diberikan secara cuma-cuma oleh Toko You ini rasanya sangat lezat, tak hanya sekedar gratis saja. Namun buat saya pribadi bukan hanya karena itu saja saya datang rutin setiap jumat ke Toko You, tetapi juga karena para pegawai Toko You benar-benar melayani dengan baik siapapun yang datang ke tendanya, bahkan jauh lebih baik pelayanannya daripada café-café yang makanannya harus dibayar dengan sangat mahal. Mereka tampak bekerja dengan sangat bahagia dan penuh senyum saat dapat mengajak orang-orang yang melintas untuk dapat makan bersama.


Tak hanya bapak tukang sol sepatu tadi yang ditawari makan, tanpa tebang pilih, tukang parkir dan pedagang asongan yang biasa nongkrong di area samping R.S Borromeus serta rombongan ibu-ibu yang nampak baru selesai belanja pun ditawari juga.

Melihat pemandangan berbagi dengan segala keramahtamahannya ini adalah sesuatu yang berharga buat saya, sangat langka malahan. Saya sendiri ikut tersenyum dan merasa bahagia saat melihat bagaimana orang yang tak dikenal mereka jamu dengan  sangat ramah, padahal tanpa mereka ajak pun, gaji mereka tetap sama.

Berpikir, berkata dan berperilaku positif kepada orang lain itu tidak mengurangi apa yang kita miliki, sebaliknya akan terasa sangat menyenangkan, dan tanpa sadar, orang yang kita perlakukan dengan baik pun akan menularkan kembali kebahagiaannya pada orang lain.
Sama halnya dengan sesuatu yang negatif, perkataan dan sikap buruk kita pada orang lain akan menyebarkan virus negatif  pula. Seperti halnya yang terjadi pada jagad sosial media kita belakangan.  Setiap harinya, kata-kata penuh kebencian dan bernada sinis terlontar dengan begitu mudahnya. Kata-kata macam ‘bego’, ‘bodoh’ dan berbagai kalimat makian lainnya digunakan beserta HURUF KAPITAL penuh belasan tanda seru menjadi konsumsi sehari-hari bangsa ini. Orang yang melihat pun, entah itu sepaham ataupun yang berbeda paham pasti akan mudah tersulut emosi dan akan menularkannya kembali kepada orang lain. Memberikan pemahaman yang sebenarnya berisikan konten positif kepada orang lain dengan amarah, ibaratnya seperti memberi makanan enak namun hidangannya dilemparkan ke wajah. Jangankan dinikmati, yang ada lawan bicara malah kabur atau melempar balik kan?

Semoga berkah terus bisnis yang dijalankan Toko You dan kehidupan para pegawainya, serta semoga kebahagiaan yang dibagikannya dapat ditularkan juga oleh saya dan orang-orang yang mendapatkannya setiap minggu.

Selasa, 20 Desember 2016

Menjelajahi Lekuk Tubuh Ciletuh




Tanda Geopark Ciletuh di Pantai Palangpang

Penunjuk waktu di telepon genggam masih menunjukkan pukul 4.30 pagi, langit pun masih hitam kelam. Sedikit dorongan minuman energi membantu saya untuk tetap terjaga di samping kemudi. Pagi itu saya bertugas sebagai co-pilot dengan aplikasi GPS yang tak pernah padam semalam suntuk di tangan sebelah kiri. Kurang lebih 201 Km angka yang tertera pada layar smartphone untuk mencapai destinasi kami di Panenjoan Ciletuh dari Bandung. Geopark Ciletuh sendiri terletak di arah barat daya Kota Sukabumi. Dan secara administratif masuk ke dalam Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Namun untuk catatan, Jalan Pelabuhan Ratu yang kami lalui harus dilewati dengan ekstra hati-hati karena melakukan perjalanan malam.

Perjalanan pagi buta yang sunyi itu sesekali dipecah oleh obrolan saya dengan Walid, kawan saya yang memegang kemudi, serta suara dengkuran yang bersahutan dari kursi belakang. Kesunyian itu bertahan sampai mobil kami dihadang seorang lelaki yang nampak terengah-engah di jalanan yang kiri kanannya masih hutan belantara. Sempat terlintas dalam benak kalau ia adalah begal atau semacamnya, namun saya menepis pikiran tersebut saat melihat raut mukanya yang justru terlihat panik. “Kang ningal istri nu ngangge tiung bodas di jalan tadi teu?” (kang lihat perempuan yang pake kerudung putih di jalan tadi nggak?), ingatan saya langsung terlempar pada pemandangan janggal beberapa kilometer ke belakang, saya dan kawan-kawan memang sempat terkejut dengan keberadaan seorang wanita berkerudung putih yang berjalan kaki menuntun seorang anak di tengah jalan yang gelap.  “ Nu papah sareng murangkalih?” (yang jalan sama anak kecil?), timpal saya bertanya balik. “Muhun kang, ningal dimana? Tos tebih?” (betul kang, lihat dimana? Sudah jauh?), ujar sang lelaki bertanya kembali. “Muhun, lumayan tos tebih pisan” (iya, lumayan sudah sangat jauh), jawab saya. “Waduh euy, nuhun a” (waduh euy, makasih ya a), si lelaki tadi nampak makin kebingungan dan mulai berlari ke arah kami datang. Entah apa yang terjadi dengan mereka, namun kejadian di pagi itu membuka perjalanan kami bertujuh di Geopark Ciletuh.

Awalnya perjalanan ini hanya akan diikuti oleh 3 orang, termasuk saya dan Walid, serta kawan saya Dedi yang batal bergabung karena tanpa diduga mendapatkan jodohnya di Jakarta, dan sedang berbulan madu. Kami bertiga adalah teman seperjuangan saat dulu sama-sama bekerja di sebuah Bank Syariah di Kota Bandung. Walau sudah tidak bekerja bersama, kami tetap sering meluangkan waktu untuk bertemu. Akhirnya sebagai ganti, Walid mengajak istrinya Erma, sedangkan saya mengajak sahabat saya sedari 16 tahun yang lalu, yaitu Dwi untuk bergabung bersama kami. Dwi pun mengajak kawan-kawan traveller mate-nya yaitu Andri, Putri dan Pram untuk ikut serta, tentunya agar biaya perjalanan per orangnya menjadi lebih murah.

Dua jam setengah kemudian kami akhirnya tiba di Panenjoan yang terletak di daerah Taman Jaya Ciletuh, tempat pertemuan yang dijanjikan dengan salah satu anggota PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi) yang nantinya akan menjadi guide kami selama 2 hari di Ciletuh. Sebut saja dia Angga, ya karena namanya memang Angga, putra daerah asli Ciletuh yang tampak usianya masih sangat muda belia, jauh di bawah usia kami bertujuh yang hampir menyentuh kepala 3.

Tak lama Angga mengajak kami untuk beristirahat sebentar dan menyimpan barang-barang di homestay yang terbilang bagus kondisinya. Terdapat 3 kamar tidur dan 1 ruang tengah dengan sebuah TV di dalamnya. Angga bercerita kalau homestay yang digunakan untuk menginap tamu biasanya akan menyatu dengan sang pemilik rumah, tujuannya agar tamu dapat banyak berbincang dan lebih dekat dengan warga lokal, namun kebetulan homestay yang kami dapatkan tidak berpenghuni, karena sang pemilik rumah sehari-harinya berkegiatan di wilayah Kota Sukabumi.

Panenjoan / Mega Aphiteatre Ciletuh


Setelah semua personil berbenah dan membersihkan diri. Angga mengajak kami ke Panenjoan yang letaknya tepat di seberang Kantor PAPSI. Dalam bahasa Indonesia, Panenjoan memiliki arti tempat melihat. Karena dari Panenjoan ini kita dapat melihat dengan baik bentang alam yang luar biasa dari Geopark Ciletuh secara keseluruhan. Bentuk dari Panenjoan ini sering disebut juga dengan Mega Amphiteatre Ciletuh. Disebut Amphiteatre karena panorama alam yang disajikan bagai sebuah theatre alam raksasa. Tebing yang membentuk huruf ‘U’ ini bagai kursi dalam sebuah pertunjukan, sedangkan pemandangan yang terhampar di depannya menjadi panggung utama. Di Panenjoan ini cukup banyak spot untuk ber-selfie ria dan menikmati keindahan alam Ciletuh, jadi tak perlu mengantri untuk berfoto di salah satu spot, karena setiap sudut dari Panenjoan ini asik semua kok.

Dari Panenjoan, kami beranjak menuju ke arah Curug Cikanteh dan Curug Sodong, 2 dari 10 air terjun yang berada di kawasan Geopark Ciletuh yang kebetulan dapat dilihat dari satu titik. Namun jangan bayangkan perjalanan yang mudah menuju ke tempat ini, karena jarak yang ditempuh untuk mencapai satu atraksi wisata menuju ke lokasi lainnya sungguh jauh. Luas kawasan Geopark Ciletuh ini kira-kira sekitar 3 kali lipat luas wilayah Kota Bandung. Dari Panenjoan menuju lokasi Curug Sodong saja bagaikan mengemudi dari Gedebage ke Lembang kalau di Bandung, untungnya mayoritas jalan utama di Ciletuh sudah cukup baik untuk dilewati Kendaraan dan tentunya tidak macet seperti di Bandung.

Curug Cikanteh dan Curug Sodong



Sekitar 5 Km dari tempat tujuan, Curug Cikanteh yang berada di puncak bukit mulai terlihat. Curug ini dinamakan demikian karena nama sungai yang mengalir di atasnya bernama Sungai Cikanteh. Sedangkan air terjun kembar yang berada tepat di bawah Curug Cikanteh bernama Curug Sodong atau sering juga disebut Curug Panganten. Aliran air terjun yang mengalir berdampingan layaknya sepasang pengantin menjadi asal mula curug ini dinamakan demikian. Curug aja berdampingan yah, masa kamu nggak? #eh.

Aliran air yang jatuh di Curug Sodong ini cukup deras, sehingga harus mengambil jarak lumayan jauh untuk mengambil gambar tanpa terkena resiko gadget atau kamera kecipratan air. Sementara itu tepat di samping Curug ini terdapat sebuah warung kecil yang nampaknya belum terlalu lengkap namun kita dapat membeli air mineral ataupun cemilan.

Angga banyak bercerita mengenai bagaimana kehidupan warga Ciletuh banyak mengalami perubahan semenjak ditetapkannya Ciletuh sebagai Geopark oleh UNESCO pada Desember 2015 silam. Sebelumnya kebanyakan warga Ciletuh bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, namun kini beberapa warga sekitar mulai berkreasi dengan membuka warung di sekitar lokasi wisata. Beberapa ada yang membuka jasa ojeg, sementara beberapa lainnya ada yang mencoba membuat souvenir. Ia sendiri sebelumnya adalah seorang pengangguran, dan kini ia telah menjadi salah satu guide terpercaya untuk memperkenalkan Geopark Ciletuh kepada wisatawan yang berkunjung.

Dari Curug Sodong, kemudian kami beranjak menuju Pantai Palangpang. Sebuah pantai yang namanya baru saya dengar saat mengunjungi Ciletuh hari itu, masih kalah pamor dari nama Pantai Pelabuhan Ratu dan Pantai Ujung Genteng yang berasal dari daerah administrasi yang sama, padahal letaknya masih satu jalur perjalanan.

Sapi yang berkeliaran bebas di Pantai Palangpang, Geopark Ciletuh
Dalam perjalanan menuju ke Pantai Palangpang, beberapa kali kami diberhentikan oleh sekawanan kambing tanpa gembala yang hendak menyeberang jalan. Mereka seraya meminta izin untuk menyeberang jalan lewat gerakan tubuhnya. Sementara itu di samping kiri dan kanan, terlihat beberapa ekor sapi yang berkeliaran bebas tanpa dibatasi oleh pagar tinggi maupun dinding tebal. Sapi-sapi ini punya perawakan besar dan bertanduk lebih panjang daripada sapi pada umumnya. Awalnya saya mengira mereka adalah kerbau bule, namun Walid mengatakan kalau itu adalah jenis sapi Jawa. Sapi ini terlihat sedang merumput dan berjemur di daerah yang cukup dekat dengan area Pantai Palangpang. Fenomena padang rumput dekat pantai ini baru kali ini saya temukan, tentunya selain  pemandangan hewan-hewan ternak yang dapat hidup bebas berdampingan dengan manusia.

Pantai Palangpang ini cukup bersih dari sampah, mungkin karena belum banyak orang yang mengunjunginya. Hanya saja warna air laut di dekat tepian pantai ini bewarna jingga. Awalnya saya mengira airnya tercemar oleh limbah atau semacamnya, namun ternyata air yang berwarna jingga ini disebabkan oleh proses pengendapan tanah merah dan berbagai campuran batuan vulkanik laut yang ada di Ciletuh. Dan dari sinilah dapat diketahui asal mula nama ‘Ciletuh’ yang memiliki arti ‘air yang keruh’.

Pantai Palangpang


Betul saja, saat mata saya mulai memindai lekuk Pantai Palangpang beserta panorama alamnya yang luar biasa, saya menangkap sebuah kapal yang berukuran cukup besar yang mulanya saya kira merupakan kapal penangkap ikan. Namun tentunya tak mungkin kapal nelayan sebesar itu menangkap ikan di siang bolong begini. Sampai akhirnya Angga menangkap raut kebingungan dari wajah saya dan menjelaskan bahwa kapal yang saya lihat itu adalah kapal pengangkut pasir. Ternyata laut Ciletuh tak hanya memiliki kekayaan berbagai jenis makhluk laut untuk dikonsumsi manusia, pasir dan batuan lain di dalamnya menjadi mata pencaharian alternatif bagi sebagian warganya.

Menjelang makan siang, kami diajak Angga untuk makan di salah satu warung nasi yang tak jauh dari Pantai Palangpang. Menunya sih standar warteg dan warung nasi seperti yang ada di Bandung, namun tentu menu istimewa saat berada di daerah sekitar laut adalah ikan. Rasa ikan peda yang ditambah dengan lalaban dan sambal ijo khas Sunda sungguh nikmat di lidah. Selain ikan, menu spesial lainnya yang menjadi menu favorite saya di Ciletuh adalah sop iga, rasa olahan kuahnya saja sudah sangat enak, apalagi dikombinasikan dengan daging iga dari sapi jawa yang memiliki badan yang besar-besar itu.

Beres menyelesaikan santap siang, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Curug Cimarinjung yang dinamakan dari air sungai yang mengalir di atasnya. Curug Cimarinjung ini memiliki aliran air yang jauh lebih deras dibandingkan Curug Sodong. Padahal kami sudah berdiri 50 meter dari titik air jatuh, namun tetap saja terkena cipratan air. Bahkan di sekitar titik jatuhnya air terdapat kabut yang diakibatkan oleh aliran air yang jatuh sangat keras.
Curug Cimarinjung


Kami tak menghabiskan waktu lama di Curug Cimarinjung karena ingin mengejar pemandangan matahari terbenam dari Puncak Darma. Bisa dibilang Puncak Darma ini yang menjadi primadonanya Ciletuh. “Yah dikasih nama Puncak Darma, karena di area puncak ini milik Kang Darma”, cerita Angga untuk mengisi obrolan saat kami mulai berjalan naik ke Puncak Darma. Berbeda dengan atraksi wisata lainnya, Puncak Darma ini harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 1 jam dari tempat parkir kendaraan. Jalan yang ditempuh sangat berbatu dan menanjak, akan tetapi justru inilah daya tarik yang ditawarkan Puncak Darma, yaitu perjuangan untuk mencapai puncaknya. Namun ada sedikit catatan tentang Puncak Darma ini, ada baiknya untuk memperhitungkan kemungkinan turunnya hujan saat akan mendaki Puncak Darma. Jalan yang berbatu akan menjadi sangat licin dan berbahaya saat hujan mulai turun.

Setibanya kami di Puncak Darma, sebuah kedai yang menyuguhkan air kelapa muda langsung dari batoknya sengaja menggoda di depan mata. Tanpa banyak kompromi, 7 buah air kelapa muda kami pesan, tak peduli berapa harganya. Setidaknya biarlah cairan pada kerongkongan diganti terlebih dahulu, walau peluh yang membasahi sekujur tubuh sudah berteriak juga minta dibasuh. Setelah puas melepas dahaga dengan air kelapa, barulah kami bertanya soal harganya yang ternyata hanya Rp.7.000 saja per batok.

Minuman es kelapa muda di Puncak Darma Geopark Ciletuh


“Puncak Darma the best pokoknya mah!”, pekik Andri yang selama perjalanan paling banyak mengoceh. Memang tak salah ocehannya kali ini, dari Puncak Darma kami dapat melihat Teluk Ciletuh secara keseluruhan. Pemandangan ini sedikit berbeda dari yang ditampilkan dari Panenjoan yang lebih banyak memperlihatkan hijaunya alam Ciletuh. Bahkan dari Puncak Darma ini kami dapat menyaksikan proses terjadinya hujan yang membasahi Geopark Ciletuh. Kami bisa melihat bagaimana area di sudut kiri mata sedang terjadi hujan, sementara di sebelah kanannya baru dirangsang awan-awan kelabu, tempat kami berdiri pun masih aman kering kerontang.

Puncak Darma



Namun sungguh sangat disayangkan, kondisi cuaca Ciletuh yang berubah cepat dari terang benderang menjadi mendung tebal dalam 1 jam terakhir, membuat kami tidak mendapat pemandangan matahari terbenam sesuai dengan yang diharapkan. Akan tetapi walaupun pemandangan Teluk Ciletuh dari Puncak Darma tertutup awan gelap, apa yang ditampilkan oleh Puncak Darma yang ikonik tetap luar biasa, bagaikan berdiri di ujung dunia.
Sunset di Puncak Darma


Angka pada jam digital di smartphone sudah menunjukkan pukul 17.30, saya pun mulai mengajak teman-teman untuk turun dari Puncak Darma. Selain mentari yang sudah dipanggil meninggalkan hari, dari kejauhan sang hujan mulai tergoda untuk menghampiri. Kami sempat melihat beberapa pengunjung mendirikan tenda untuk bermalam. Saya jadi sedikit menyesal, kenapa tidak terpikir sebelumnya untuk berkemah di Puncak Darma, selain bisa mendapatkan view saat matahari terbenam, keesokannya bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit tanpa takut terlambat.

Sesampainya kami di kaki bukit, hujan pun turun deras tanpa ampun, untungnya hanya tinggal beberapa langkah saja menuju tempat parkir kendaraan. Dan penyesalan saya soal berkemah di atas Puncak Darma pun terhapuskan, karena keesokan paginya hujan masih membasahi Ciletuh non-stop hingga pukul  7 pagi yang juga membuat kami mengurungkan rencana untuk melihat matahari terbit di Cadas Gemblung yang terletak di daerah Surade.

Cuaca yang cukup ekstrim di penghujung tahun 2016 ini membuat beberapa lokasi wisata tak dapat dikunjungi karena akses jalan menjadi terlalu riskan untuk dilewati. Cadas Gemblung, Curug Luhur, Curug Tengah dan Puncak Manik adalah lokasi yang terpaksa harus kami skip dalam perjalanan kali ini. Selain itu perahu yang kiranya dapat membawa kita ke Batu Batik dan Batu Pasir Punggung Naga pun tak diijinkan untuk beroperasi karena takut tercegat cuaca buruk di tengah lautan, padahal komplek bebatuan inilah yang menjadikan Ciletuh begitu istimewa untuk dikunjungi. Ciletuh ini dikenal sebagai salah satu tempat yang memiliki batuan paling tua di Pulau Jawa. Kira-kira batuan yang berada di sini terbentuk puluhan juta tahun yang lalu.

Akhirnya hari kedua kami di Ciletuh kami habiskan untuk mengunjungi Curug Awang dan Kampung Batik di wilayah Surade. Curug Awang ini tampilannya sedikit lebih buas dari yang saya lihat di instagram atau brosur wisata Ciletuh. Rupanya curah hujan yang sangat tinggi membuat volume air jauh melebihi batas normal, sehingga debit air yang mengalir melalui badan sungai menjadi sangat deras. Tak berlebihan rasanya kalau Curug Awang yang memiliki tinggi kira-kira 40 meter ini disebut dengan Niagara mini dari Jawa Barat.
Curug Awang Geopark Ciletuh


Sebenarnya di kawasan sekitar Curug Awang ini kami juga dapat mengunjungi sekaligus Curug Puncak Manik dan Curug Tengah yang berada dalam satu aliran sungai. Namun kami harus membatalkan niat tersebut, karena baru saja terjadi hujan besar di pagi harinya yang membuat lokasi kedua curug lainnya tidak aman untuk dikunjungi. Dan pada saat mengunjungi Curug Awang pun kami mengambil jarak yang tak terlalu dekat untuk mengambil gambar.

Hujan mulai turun menggenangi jalanan Ciletuh, tak terlalu deras namun cukup membawa suasana hati menjadi syahdu, namun kami tetap memantapkan niat untuk mengunjungi destinasi terakhir kami di Ciletuh. Kami berencana langsung memacu kendaraan pulang menuju ke Bandung setelah mengunjungi Kampung Batik di Surade. Setelah mengemasi barang-barang di homestay , kami pun pamit pada kawan-kawan di PAPSI Ciletuh sebelum cuaca makin memburuk. Bantuan pemanduan dari PAPSI di perjalanan sangatlah berperan, Angga sebagai pemandu telah menjalankan tugasnya dengan baik dalam memberikan arah menuju lokasi-lokasi yang tersembunyi dan memperingatkan atas kondisi alam yang membahayakan akses jalan.
Guide dari PAPSI yang setia memandu kami


Setelah memanaskan motor matic kesayangan dan mengenakan jas hujan transparannya, tanpa ragu Angga mulai memacu kendaraannya menembus hujan yang kian deras menuju destinasi pamungkas, yaitu Kampung Batik. Perjalanan menuju Kampung Batik memakan waktu sekitar 1 jam setengah, dan sepertinya menjadi perjalanan paling jauh dari seluruh tujuan wisata di Ciletuh. Sesampainya kami di Kampung Batik, di luar dugaan suasana terasa sedikit sepi. Rupanya hari itu, pegawai Kampung Batik sedang libur. Namun seorang pria yang sepertinya merupakan koordinator di Kampung Batik ini tetap menyambut kami dan menjelaskan tentang batik unik yang dibuat oleh Kampung Batik Surade. Ia menjelaskan bahwa batik yang dibuat di Surade ini tidak menggunakan bahan kimia sedikitpun, misalkan untuk membuat warna hijau pastel, ia membuatnya dari daun pandan, dan untuk mendapatkan warna kuning ia mengolahnya dari kunyit.  Total ada sekitar 30 pengrajin Batik di Kampung Batik Surade yang produknya sudah dijual ke seluruh Nusantara. Tadinya kami mau mencoba untuk membatik juga, namun sayangnya listrik di Kampung Batik sedang padam kala itu.


Sepulang dari Geopark Ciletuh awalnya kami bermaksud untuk mengunjungi Kuil Dewi Kwan Im yang terletak di Pantai Loji Jl. Pelabuhan Ratu. Namun sayangnya lagi-lagi dikarenakan hujan yang masih terus membasahi tanah Ciletuh, akhirnya membuat kami mengurungkan niat tersebut. Kuil unik yang memiliki nama resmi ‘Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa’ ini direkomendasikan oleh bos saya di Kantor. Beberapa foto yang ia perlihatkan saat mengunjunginya tampak sangat menarik. Sangat mirip seperti kuil-kuil Budha di Thailand. Dan ternyata memang pemilik dan pendiri Bangunan tersebut adalah orang Thailand asli saat ia mencoba mengorek informasi.


Kami simpan rencana kami mengunjungi Kuil Dewi Kwan Im tersebut untuk perjalanan selanjutnya. Selagi waktu masih menunjukkan pukul 4 sore, kami langsung memacu kendaraan menuju Kota Sukabumi untuk membeli Mochi Lampion, mochi paling terkenal seantero Sukabumi. Sedikit cemas memang, karena khawatir  tokonya sudah tutup saat kami tiba nanti. Namun ternyata toko Mochi Lampion yang kami cari masih buka karena moment long weekend. Lima kotak mochi keju yang saya borong untuk oleh-oleh keluarga dan kawan di Bandung akhirnya menjadi penutup penjelajahan tubuh Ciletuh di penghujung tahun 2016 ini.


Selasa, 29 November 2016

Tradisi Adu Domba di Cijaringao



Adu Domba di Cijaringao

“Devide Et Impera”, saya selalu terngiang kalimat tersebut saat mendengar kata adu domba. Memang arti dari istilah Belanda itu adalah politik adu domba, biasanya ditemukan di buku Pendidikan Sejarah SD pada Bab mengenai VOC. Tapi bukan soal adu dombanya VOC yang akan saya ceritakan, namun memang benar-benar tradisi adu domba nyata yang dipertunjukkan di sebuah arena di kawasan Cijaringao, Cimenyan, Kabupaten Bandung. 

Saat saya bercerita mengenai pengalaman menonton pertunjukkan adu domba di Cijaringao, tak sedikit kawan yang mengutuk tradisi asli Indonesia tersebut. Kebanyakan alasannya dikarenakan kasihan dengan hewan tersebut, “Hewan juga makhluk hidup, emang kamu mau diadu-adukan begitu?”, kata seorang kawan. Saya hanya tersenyum saja dan sedikit mengingat pertunjukkan adu domba yang kemarin saya saksikan seharian. Tak salah memang berpikir seperti itu, karena saya pun pada awalnya berpikiran serupa. Memang ada banyak hal yang tak diketahui orang-orang mengenai tradisi adu ketangkasan domba secara lebih jauh dan saya pun yang termasuk baru mengetahuinya setelah melihat langsung. 

Wasit berperan penting dalam adu ketangkasan domba

Bayangan saya sebelumnya mengenai adu domba tak terlalu jauh berbeda dengan apa yang disampaikan kawan saya. Memang kita sebagai manusia rasanya terlalu jahat mengadu-adukan hewan hanya untuk kepentingan pribadi manusia itu sendiri. Saya sempat berpikir ada uang yang berputar pada sebuah arena adu domba. Namun nyatanya, setiap pertandingan adu domba yang kira-kira berlangsung sekitar 10-15 menit tersebut tak pernah diketahui  pemenangnya. Setelah menyelesaikan 20 tandukan yang terbagi menjadi 2 ronde, wasit meniup peluit panjang untuk menghentikan pertandingan, dan domba-domba tersebut langsung dibawa oleh si pelatihnya keluar arena. Saya sebut mereka pelatih karena selama pertandingan berjalan, mereka tampaknya mengerti apa yang diinstruksikan oleh mereka, entah intruksi melalui sebuah gerakan tangan atau dalam bentuk perkataan yang hanya mereka berdua yang mengerti artinya. Bagaikan sebuah pertandingan tinju, saat sang domba terlihat kelelahan , wasit akan memberi kesempatan untuk pelatih yang mendampingi domba tersebut untuk memijat punggung atau bagian tubuh lain yang terlihat bermasalah.

Sang pelatih yang siap sedia memijat dombanya yang lelah dan pegal ketika pertandingan
Akhirnya saya pun mengerti mengapa tradisi adu domba saat digelar lebih sering disebut dengan adu ketangkasan domba daripada pertandingan atau pertarungan. Karena adu ketangkasan domba ini digelar memang bertujuan untuk menyalurkan naluri berkelahi yang dimiliki oleh domba species tertentu, dalam hal ini adalah jenis Domba Garut yang memang memiliki keunikan pada tanduknya yang berbentuk spiral. Nah bila Domba Garut ini tak dipenuhi hasrat bertarungnya, maka dia punya kebiasaan merusak sekeliling mereka, dengan menanduk apa saja yang mereka lihat, termasuk kandang mereka sendiri ataupun rumah si peternak. Untuk menyalurkan kebiasaan unik yang mereka miliki, maka dari itu dibuatlah adu ketangkasan domba secara rutin oleh masyarakat. Saya sendiri sempat melihat seekor domba yang berdiri di deretan tunggu domba yang akan bertarung ada yang sudah sulit sekali menaklukkan nafsu bertarungnya, sehingga di saat ia melihat domba lain berjalan menuju arena, bawaannya selalu ingin menanduk saja padahal belum tiba gilirannya.

Domba yang menunggu giliran bertanding

Saya juga sempat mendengar dari salah satu si empunya domba tentang keberadaan pertandingan adu domba yang melibatkan uang, dulu memang sering ada pertandingan adu domba yang mempertaruhkan nyawa salah satu domba yang diadukan, hadiahnya pun bisa sampai sebuah sepeda motor, namun sekarang sudah tidak ada lagi dan dibuat sebagai sarana olahraga sang hewan saja. Tak heran memang melihat hadiah yang diselenggarakan, mengingat harga domba yang ditandingkan saja bisa mencapai puluhan juta rupiah. Entah bagaimana cara pelatih mereka melatih domba-domba tersebut, yang jelas beberapa domba terlihat menonjol sekali otot-ototnya. Mungkin bila saya berkunjung ke peternakannya saya dapat melihat mereka push up atau scot jump, haha.

Setiap Domba diberikan arahan oleh pelatih

Sama halnya seperti olahraga beladiri yang dilakukan manusia, adu domba pun membagi kelas-kelas domba tersebut berdasarkan berat badannya menjadi kelas A, B dan C. Dan tentunya namanya pertarungan bela diri, terkadang ada saja yang mungkin mendapat memar setelah pertarungan usai, beungeup kalau kata orang Sunda bila ada seseorang yang mukanya babak belur karena bertanding tinju, namun masih dalam batas kewajaran.

Di Bandung, pertunjukkan adu ketangkasan domba sendiri sudah sangat jarang. Sebelumnya aktivitas ini rutin digelar di Babakan Siliwangi setiap minggu pertama di akhir bulan, namun dari terakhir saya dengar dari warga sekitar, pertunjukkan adu domba ini sudah tidak pernah diadakan lagi dikarenakan keterbatasan dana dari pihak penyelenggara. Selain itu saya juga pernah menemukan sebuah arena adu domba di daerah Cilimus Bandung, yang entah masih digunakan atau tidak. Dan baru di hari minggu kemarin (27/11) bertepatan dengan puncak acara #angklungpride6 yang diselenggarakan oleh Saung Angklung Udjo,  saya kemudian mengetahui bahwa di Jalan Padasuka Bandung terdapat sebuah daerah yang disebut dengan Cijaringao yang memiliki arena adu ketangkasan domba yang masih aktif di dalamnya. Cijaringao ini merupakan salah satu kebun bambu yang digunakan oleh Saung Angklung dalam mendapatkan bahan untuk memproduksi angklung setiap harinya. Minat melihat langsung domba-domba Garut ini beraksi? Tinggal datang saja di minggu terakhir setiap bulannya.
Gerbang masuk Kebon Awi Cijaringao


Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise