Selasa, 23 Februari 2016

Bad Facebookers

“Ketik Aamiin di comment, share dan like agar banyak orang yang mendo’akan bayi ini agar cepat sembuh”

Begitu bunyi sebuah postingan saat saya membuka akun facebook, diiringi foto seorang bayi yang cukup tragis keadaannya dikarenakan sebuah penyakit.
Bukan pertama kali saya menemukan postingan macam ini di beranda akun facebook saya, kadang-kadang foto seorang kakek, atau para penduduk korban perang di timur tengah.
Dari bahasa yang disampaikan terkesan bahwa postingan tersebut dibuat untuk menggugah hati dan kepedulian banyak orang, namun apakah ada satu komentar dari ribuan komentar yang masuk menanyakan alamat sang penderita yang berada di dalam foto untuk membantunya? Atau bila memang ada yang menanyakan demikian dapatkah sang pemilik postingan menjawabnya dan ikut turut membantu. Belum tentu foto yang diposting aktual kejadiannya, foto tersebut bisa saja didapatkan lewat google dengan informasi yang minim, namun bisa diberi caption apa saja.
Mungkin jawaban sang pemilik postingan akan seperti “ Setidaknya kita dapat membantu mendo’akan dan menyebar kepedulian agar orang tahu”, maksudnya dengan mengetik aamiin dan like akan membantu sang penderita secara masif?

Yang saya pahami, sebaik-baiknya sebuah do’a dilakukan di saat kau dekat dengan sang pencipta dalam ibadahmu, tidak mengeraskan suara, dan dilakukan dengan beradab dan sungguh-sungguh meminta kepada sang khalik, sedangkan terkadang postingan tersebut mengutuk seseorang yang tidak memberikan like dan comment agar tertular penyakit berbahaya atau tertimpa hal buruk lainnya.

Tak jarang untuk menjadikan postingannya viral yang artinya lebih cepat menyebar, memberikan impact responsif bagi yang melihatnya, foto yang digunakan memuat sebuah kondisi yang sangat mengerikan tanpa sensor, walaupun benar adanya seharusnya foto tersebut tidak diposting bulat-bulat seperti demikian karena kaitannya dengan khalayak banyak, hal tersebut diatur pula dalam sebuah aturan jurnalistik, namun kembali lagi mungkin yang membuat postingan memang bukan dari kalangan jurnalis yang memahami kaidah dan etika dalam membuat artikel atau pemberitaan, maka dari itu di awal paragraf saya memakai bahasa viral.

Apa sebenarnya itu viral? Viral secara bahasa dikaitkan dengan virus, virus adalah sesuatu yang begitu cepat menyebar bukan? Yang menjadikan viral memiliki arti menyebar dengan cepat seperti virus. Belakangan ini viral dikaitkan dengan kegiatan pemasaran lewat dunia maya, baik itu sosial media, aplikasi ataupun blog. Saat ini sosial media merupakan medium yang sangat viral, entah itu bertujuan untuk kegiatan promosi suatu produk, kampanye partai politik ataupun tujuan lainnya yang membuat sebuah pesan dapat tersebar dengan mudahnya, apa itu dengan kontennya atau cara penyampaiannya. Saya memakai kata viral karena hal ini adalah jelas salah satu usaha sang pemilik akun untuk mengumpulkan massa pada akun sosial medianya yang entah nantinya digunakan untuk keperluan komersial atau bisa apapun itu.

Pernah melihat jumlah like dan comment pada postingan yang saya ceritakan di atas? Postingan tersebut dapat mencapai puluhan ribu like, ribuan comment dan ratusan share, padahal fanpage akun tersebut masih kurang dari 1.000 likers pada awalnya yang terus tumbuh secara masif hingga akhirnya dapat mencapai puluhan ribu, tak jarang pula nama-nama akun tersebut mencatut nama seorang selebritis ternama, seorang pemuka agama ataupun nama dengan sebuah pesan moral atau agama tertentu. Bayangkan bila anda berbisnis online dan di awal anda mulai memasarkan produk anda sudah memiliki modal 50.000 orang yang dapat langsung terkoneksi langsung dengan galeri foto barang dagangan anda di saat online shop yang lain harus mendapatkan satu persatu like dan followers nya dengan susah payah, hanya agar produk mereka dapat diketahui banyak orang. Atau bayangkan impact yang didapatkan seorang calon kepala daerah dengan mengambil alih akun berjumlah puluhan ribu tersebut.

Tekhnik ini tak hanya digunakan untuk menyebarkan sebuah informasi dan promosi, tapi juga digunakan untuk mendapatkan uang di luar produk yang mereka jual (bila onlineshop), bagaimana caranya? Sadarkah para pengguna Facebook saat ini bahwa terjadi perubahan besar pada trend penggunaan Facebook? Mungkin berlaku pada para pengguna Facebook yang sudah menggunakannya sebelum tahun 2012 termasuk saya, dulu sekitar tahun 2008-2011 saya menggunakan facebook untuk yang populernya disebut dengan update status, menulis pesan di wall sahabat lamamu dan upload foto selfie  atau foto liburanmu, setelah periode tersebut saya mulai sangat jarang membuka facebook sampai setidaknya di tahun 2015 lalu tanpa saya sadari semakin lama saya semakin sering membuka akun facebook saya kembali secara rutin dan dengan intensitas lebih tinggi ketimbang saya membuka twitter, instagram atau path saya. Yak..kecenderungan beranda facebook yang saya lihat mulai sedikit dihuni para ABG alay yang curhat masalah cinta monyetnya, sebagai kebalikan saya mendapati berbagai share tautan dari berbagai portal berita,  situs yang memberikan soal hobi tertentu, berbagai tips tentang kehidupan,  ataupun sekedar gambar dan video lucu yang menghibur.

Facebook yang pernah saya tinggalkan sudah rutin saya buka kembali setiap harinya sekedar mendapatkan berita terbaru atau melihat video-video unik dan lucu, dan itu semua bisa saya dapatkan dalam satu situs facebook, daripada saya buka beberapa tab pada browser saya, yang satu membuka portal berita, yang satu membuka youtube, yang satu surfing di kaskus lounge, kenapa mesti repot kalau semua hal bisa saya dapatkan di facebook, toh semua orang share berbagai macam tautan tersebut. Nah..dengan begitu mudahnya berbagai tautan diakses lewat sosial media, hal ini yang menjadikan para startup entrepreneur untuk mencari segenggam berlian disini, bukan hanya kiasan tapi memang mampu mendapatkan kekayaannya dari membuat situs yang informatif. Dengan kecenderungan pengguna sosial media terutama facebook yang kini lebih banyak share tautan dari sebuah situs, maka situs tersebut akan lebih banyak diakses, dan bila sebuah situs mulai sering diakses akan menarik para pemilik brand atau usaha untuk mengiklankan produknya dengan memasang banner promo di situs tersebut dengan harga yang fantastis, bagimana agar situs lebih banyak di akses? Caranya yaitu tadi membuat berbagai konten yang shareable untuk para netizen, entah itu konten lucu, informatif atau seperti yang saya ceritakan di awal, negative content yang ceritanya mencoba membangkitkan kepedulian dengan foto-foto vulgar yang tragis, yang penting viral, dan orang tetap masih banyak aja yang share, like dan comment, entah bagaimana caranya mereka tetap berpikir bahwa dengan cara tersebut mereka sudah membantu.

Tak hanya facebook, satu primadona sosial media lainnya saat ini yaitu instagram tak mau ketinggalan jadi ladang para pengusaha muda khususnya untuk meningkatkan penjualan berbagai jenis macam dagangan mereka, dari mulai hijab dan sepatu sampai obat peninggi dan pelangsing badan. Instagram dinilai efektif karena kebanyakan orang lebih mudah tergoda secara visual dan saat masuk ke dalam profil instagram kita bagaikan melihat sebuah etalase dengan berbagai macam produk.

Di Instagram terdapat berbagai jenis cara untuk memasarkan barang dagangan dan meraih puluhan ribu followers yang diharapkan dapat menjadi calon pembeli potensial tentunya dari mulai cara yang menyebalkan sampai dengan cara yang cukup mahal untuk meraihnya. Dari mulai akun produk wanita (karena wanita adalah pembeli paling potensial) yang membujuk dengan template rayuannya secara sporadis ke berbagai akun “ cek IG kita yuk…banyak barang model terbaru buat sis yang cantik, pasti cocok dan suka deh”, atau tiba-tiba sebuah akun anonim muncul di sela-sela ribuan komentar seorang public figure : “terimakasih mas @artisterkenal sudah merekomendasikan saya untuk memakai produknya @tripanglotion, benar-benar berhasil deh dan seger ke muka”. Mungkin cara-cara ini bisa jadi efektif satu dari sekian puluh/sekian ratus akan mulai mengenali nama akun tersebut dan penasaran untuk membuka profil akun onlineshop yang kadang ternyata di gembok juga (nggak ngerti alasan yang mau jualan tapi warungnya tutup, kalau mau beli dan liat mesti diketuk dulu), nggak ada cara yang lebih elegan? Oh ada..pasang iklan di akun publik atau endorse akun yang followersnya banyak, berapa mesti bayar? Setiap akun punya rate yang berbeda yang cukup bisa membuat pengusaha onlineshop menelan ludah, terutama bagi yang baru mulai terjun ke dunia bisnis online.

Satu usaha yang cukup unik sempat dilakukan para pelaku bisnis online sekitaran tahun 2015 lalu, dengan bermunculan akun-akun fake dari sebuah perusahaan atau brand ternama yang tiba-tiba mengajak untuk memfollow akun tersebut dengan cara memfollow akun mereka dan me-regram postingan promo mereka dan menjanjikan akan memberi produk gratis kepada 5.000-20.000 followers pertama, tapi pertanyaannya benarkah sebuah brand terkenal melakukan hal tersebut agar sekedar mendapat followers ribuan untuk menjual produknya? Bila benar memang mereka mau membagikan ribuan barang gratis (yang harganya mahal kalau asli) secara cuma-Cuma? “Tapi ini foto-fotonya beneran ada dan udah banyak di IG nya” begitu kata teman saya yang tergiur promonya. Foto-foto kan bisa ambil dari google..terus coba liat postingan pertamanya aja masih 2 weeks ago padahal merek dunia ini, “ah biarin deh coba-coba aja toh ga ada ruginya” balas teman saya. Dalam hati saya sih udah mau bilang “ iya sih kamu mah ga rugi, ga untung juga, tapi doi menang banyak tuh”, tapi tidak saya ucapkan biar dia bisa langsung belajar dari pengalaman melihat sendiri ketika akun tersebut mencapai followers yang ditargetkan akun tersebut akan berganti nama menjadi onlineshop yg jual barang kw, pas nyari akunnya di daftar following  udah nggak ada, dan berganti sebuah nama akun yang sadar-sadar ketika ada postingan dari sebuah akun yang ngerasa nggak pernah di follow.

Baik atau buruk cara anda untuk berpromosi atau mengkampanyekan sesuatu di sosial media tergantung pilihan anda, dan kembali kepada tujuan anda yang misal untuk berjualan, apakah memang untuk mencapai keuntungan semata kah? Dan apakah cara itu memang berhasil untuk anda? Bukankah akan lebih berkah usahanya dan ditambahkan rizkinya saat barang/ konten yang kita sampaikan menjadi manfaat bagi banyak orang? Barang anda bisa saja sama-sama laku, tapi pilih yang mana? Dikenal sebagai yang sering menyebarkan kengerian dan menyebalkan atau dikenal sebagai pemberi kutipan pemberi kedamaian dan informasi yang solutif? Semua tergantung pada pilihan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise