Jumat, 04 Maret 2016

Kebon Kalapa 1993-1999

Kebon Kalapa merupakan daerah lain selain pagarsih yang cukup familiar dengan saya di era 90an, karena saya bersekolah SD di SD Moh Toha II Bandung, cukup aneh bagi sebagian tetangga sebenarnya karena kebanyakan orang tua saat itu menyekolahkan anaknya di SD yang paling dekat dengan rumahnya, sedangkan sekolah saya berjarak sekitar 3,5 KM dari rumah dan harus menggunakan 2 kali angkot saat berangkat dan 1 kali angkot Abdul Muis-Elang ketika pulang sekolah. Namun ternyata saat saya bersekolah disini, masih banyak teman saya yang lain yang rumahnya bahkan lebih jauh dari saya seperti di daerah kopo dan cibaduyut.

Di SD Moh Toha II kala itu saya termasuk siswa paling muda, diantara teman-teman saya yang rata-rata lahir pada tahun 1987, saya lahir di tahun 1988, yang membuat saya menjadi si bungsu di kelas yang berjumlah 64 siswa tersebut. Satu meja bisa ditempati oleh 3 siswa saking padatnya. Karena yang paling muda saya termasuk sering dijahili atau diledek dengan panggilan “Pak Raden” karena nama lengkap saya memiliki nama Raden di bagian depannya, yang sebenarnya di jaman sekarang gelar tersebut sudah tidak berpengaruh apa-apa, karena selain saya sering diledek teman-teman ketika SD, nama saya yang panjang tidak pernah cukup ketika saya mengisi kolom nama di sebuah formulir apapun termasuk KTP saya saat ini, ayah saya pernah memperlihatkan sebuah silsilah tua yang disimpan di kediaman nenek saya yang berukuran sangat besar dan bisa memenuhi ruangan ketika dibuka lipatan-demi lipatannya, yang menurut cerita beliau  adalah silsilah kerajaan Galuh, namun hanya di update sampai generasi kakek saya dan adik-adiknya, yang entah siapa yang membuatnya, ketika kakek saya memiliki anak yaitu ayah saya dan adik-adiknya, nama-nama keturunan setelahnya tidak pernah ditambahkan, namun ayah saya tetap ingin menambahkan nama Raden pada nama saya dan adik karena merasa harus melestarikan sebagai anak tertua di keluarga dari kakek saya yang merupakan anak tertua dalam keluarga juga.

Soal SD Moh Toha, untuk ukuran sekolah dasar saat itu, bangunannya cukup tua namun bersih dan seringkali direnovasi, termasuk saat menjelang kelulusan saya di SD, bagian depannya ditingkatkan menjadi dua lantai, yang saya ingat ada sebuah sumur timba tua di belakang ruang kelas anak kelas 4 waktu itu, layaknya sekolah-sekolah yang lain, ada sebuah keluarga yang tinggal di belakang sekolah dan menjadi penjaga sekolah yang menggunakan sumur tersebut untuk kebutuhan air sehari-hari. 

Yang paling saya ingat saat bersekolah di SD Moh Toha adalah perjalanan pulang, yak perjalanan pulang karena untuk dapat menghemat ongkos pulang saya harus berjalan menuju terminal angkot kebon kelapa, banyak hal-hal unik yang saya temukan di jalan, salah satunya sebuah hotel kecil tua bernama arimbi di sebuah jalan kecil tepat di samping bangunan sekolah, karena di depan hotel tersebut sepi, banyak siswa sekolah yang kemudian bermain bola atau kucing-kucingan di jalan tersebut, saat jalan menuju terminal ada seseorang penjual ikan hias yang menjajakan ikan-ikan tersebut dengan menggunakan sejenis gentong yang dipanggul, dan ketika ada yang membeli salah satu ikannya, ia membungkusnya dengan wadah plastik bening yang diikat, selain ikan hias dia juga menjual kura-kura yang tentunya menjadi hal yang menarik bagi anak-anak SD, tak terkecuali saya.

Ada dua rute perjalanan untuk mencapai terminal angkot Kebon Kalapa, yang pertama melalui pasar traditional kebon kelapa yang layaknya pasar traditional lain yang sedikit gelap dan bercampur berbagai macam baud an kemudian keluar di sebuah lapak penjual berbagai jenis burung peliharaan. Rute yang kedua adalah melalui terminal bus Kebon Kalapa yang sekarang sudah didirikan gedung pertokoan ITC Kebon Kalapa, di samping terminal bus tersebut ada sebuah gedung bioskop lama, Montana namanya kalau saya tidak salah ingat, cukup menarik perhatian saya terutama saat berjalan memasuki area terminal bus kemudian melihat sebuah poster warna-warna yang masih dilukis, dan sebuah tangga untuk memasuki area bioskop di lantai 2, karena bioskop ini didirikan di atas pasar tradisional Kebon Kalapa, namun area bioskop ini terbilang sangat sepi, tapi hal itu yang menjadi menarik bagi saya untuk curi-curi kesempatan untuk memuaskan rasa ingin tahu saya di bioskop ini, kadang mereka memajang foto-foto seksi dari para bintang film India untuk bahan promosi mereka, karena mayoritas mereka menayangkan film-film dari negeri Bollywood sana.

Sesampainya di terminal angkot Kebon Kalapa, saya biasanya tak langsung pulang, sayamenyebrang ke Jalan Dewi Sartika untuk kemudian membeli komik-komik bekas yang harganya sangat murah, biasanya mereka mendapatkannya dari tukang loak yang sehari-hari menawarkan jasa pembelian barang bekas. Tak hanya komik, saya pun kadang sedikit nakal mengintip lapak jualan pedagang buku bekas yang menjual novel Nick Carter terjemahan yang cover-covernya cukup aduhai untuk dilihat seorang SD sebenarnya,  Nick Carter merupakan detective yang digemari wanita layaknya James Bond. Namun bila sekarang kita bermain ke daerah Dewi Sartika, kita akan lebih banyak menemukan majalah-majalah bekas daripada komik ataupun novel.

 Satu hal yang tidak banyak berubah dari masa kecil saya di daerah Moh Toha dan Kebon Kalapa adalah angkot Abdul Muis-Elang yang siap mengantarkan menuju ke rumah saya di Pagarsih, yang berbeda? Tentu saja tarifnya, yang dulu saya cukup memberikan ongkos 300 perak, kini berkali-kali lipat menjadi 4000 rupiah.

Pagarsih 1996

Jalan tandus berdebu, dengan kendaraan umum berwarna orange berseliweran, bertuliskan Abdul Muis-Elang di bagian kepala kendaraan tersebut, di bagian kaca belakang ditempel sbuah stiker besar bertuliskan situ aksan. Di sisi kiri dan kanan berderet rumah-rumah kecil dengan orang yang tampak sibuk hilir mudik mengangkut kertas dan karton dengan sebuah mesin besar dan bau kimia yang khas.

Pagarsih, sebuah daerah di kota Bandung yang terkenal dengan toko percetakannya dan hanya ada satu jurusan angkot yang melintas langsung di jalan ini. Satu daerah yang cukup nyaman aksesnya karena berada di tidak terlalu jauh dari pusat kota Bandung. Sebuah daerah dimana jumlah penduduk tionghoanya cukup banyak dan tinggal berdampingan dengan pribumi. Saya salah satunya, kedua orangtua saya saat menikah lahir dan besar di pagarsih, ayah saya merupakan warga gang luna, ibu saya tinggal di gang mastabir, yang menjadi tempat saya dibesarkan dan tinggal sampai sekarang.
Gang Mastabir ini unik karena lebar jalannya makin lama makin mengecil sampai di ujung, sehingga hanya warga yang di dekat dengan mulut gang saja yang bisa memiliki mobil untuk di parkir di halaman rumahnya. Sedang saya, tinggal di rumah paling ujung dari gang mastabir, dan memiliki struktur bangunan yang unik pula dikarenakan rumah saya dilintasi sebuah parit kecil yang mengalir menuju sungai Citepus, sehingga bentuk tempat tinggal saya layaknya sebuah trapesium yang salah satu sisinya terdapat sisi siku-siku 45 derajat. Tinggal di samping parit dan dekat dengan sungai menjadikan pengalaman tersendiri untuk saya, dulu saat masih kecil saya tidak mengenal istilah septic tank, karena semua kotoran dari toilet langsung mengalir menuju parit di samping rumah saya, yang ketika banjir datang, kotoran-kotoran ini bisa meluap kembali ke dalam rumah. Pagarsih dari sejak dulu adalah area yang rutin terkena banjir kiriman dari meluapnya sungai citepus, walapun termasuk jarang mengenai rumah warga di dalam gang, paling kejadian banjir yang airnya masuk kedalam rumah itu terakhir saya rasakan di tahun 2006 yang sebelumnya saya alami juga di tahun 1997, namun bila melihat rumah atau toko yang lokasinya tepat di samping jalan utama Pagarsih, terutama di bantaran sungai citepus, kita bisa melihat semua gerbang rumah tersebut dibuat tinggi dan tanpa celah untuk menahan banjir.
Selain banjirnya ada satu cerita menarik mengenai sungai citepus, tepatnya di sebuah kanal yang melintasi tepat di sepanjang pasar ulekan , tepatnya saya lupa tahun berapa, namun saya ingat dalam sebuah perayaan agustusan di tahun tersebut, panitia tidak membuat panggung agustusan seperti biasanya, namun mereka menebar ratusan ekor ikan lele untuk dijadikan lomba memancing, hanya pada bulan agustus di tahun tersebut, sepanjang kanal pasar ulekan dipenuhi oleh warga dengan tongkat pancingnya yang membuat saya berpikir, warga pagarsih ternyata banyak sekali yang punya alat pancing, padahal di pagarsih jauh dari kolam pemancingan, tapi mungkin saja para bapak-bapak yang mengeluarkan alat pancing tersebut dulu memang hobi memancing di situ aksan pada tahun 60-70an, karena memang lokasi situ aksan tidak jauh dari pagarsih.
Ada beberapa perubahan yang saya alami semenjak kecil di jalan pagarsih ini, salah satunya kini pandangan saya di balkon lantai 2 rumah sudah tidak dapat lagi melihat bangunan dari menara Bank Harapan Sentosa yang saat ini digunakan oleh bank Mayapada karena dilikuidasi tahun 1998 bersama dengan krisis moneter di Indonesia, tidak lama setelah gedung itu diresmikan.
Satu kejadian lain yang tak terlupakan di suatu sore tahun 1996 ketika sebuah pesawat latih jatuh di pertigaan jalan Jamika dan Jendral Sudirman yang notabenen lokasinya cukup dekat dari tempat tinggal saya di pagarsih, kontan warga terdekat dan dari penjuru kota berduyun-duyun melihat lokasi kecelakaan, termasuk saya yang dibawa oleh orangtua saya menggunakan motor, dan jalanan kala itu macet sekali untuk ukuran tahun 1996. Api saat itu masih berkobar, tapi tidak menyurutkan warga untuk melihat lokasi jatuhnya pesawat, walaupun mereka belum dibekali sebuah gadget yang dibekali alat pengambil gambar seperti sekarang ini. Mungkin yang ada di benak warga pagarsih kala itu, tidak setiap hari ada pesawat jatuh, di Jamika pula dekat dari rumah. Kejadian ini menewaskan 15 orang termasuk awak kapal dan pedagang kaki lima yang berdagang di sekitaran lokasi.
Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise