Senin, 23 Mei 2016

Wot Batu : Wisata Batu Unik dengan Cara Nyentrik


“Sebelum kita mengelilingi Wot Batu ini, kita harus pastikan semua yang hadir disini sudah memiliki keseimbangan yang kuat” begitu penjelasan yang disampaikan oleh tour guide Wot Batu dengan nada semangatnya yang berapi-api. Seorang bapak dipanggil ke depan ruangan untuk diuji
keseimbangannya melalui kekuatan lengannya, ia gagal menahan kekuatan tangan sang instruktur. Kemudian ia panggil istri dari bapak tersebut untuk memberikan dukungan sampai akhirnya bapak tersebut kuat menahan dorongan tangan si instruktur. Inilah salah satu adegan dari tour pemanduan wisata yang saya alami saat berkunjung ke Wot batu minggu lalu. Mereka menamainya Indonesia Ancient Healing Wisdom yang merupakan satu paket wisata spiritual unik, yang menjadi andalan dari tempat wisatanya ini.
Lokasi dari Wot Batu ini terletak tepat di seberang Selasar Sunaryo, yang jug
a dimiliki oleh Pak Sunaryo, seorang seniman ternama yang telah menghasilkan banyak karya luar biasa, seperti Monumen Perjuangan dan Monumen Bandung Lautan Api di Tegallega  Satu kesan yang saya tangkap ketika bertandang ke WOT Batu untuk pertama kalinya adalah, “Luar Biasa!!”. Saat itu hujan turun tidak terlalu deras, namun cukup dingin sehingga membuat udara sedikit berkabut. Berbagai potongan instalasi batu layaknya stone henge di area WOT Batu ini langsung menjadi perhatian saya, tak lupa sebuah pemandangan menakjubkan dari Kota Bandung tersaji dalam pandangan mata ketika memandang langsung ke arah instalasi. Ornamen indah lainnya adalah sebuah dinding besar yang berdiri megah di bagian pintu masuk WOT Batu, dinding tersebut mengingatkan saya terhadap sebuah dinding labirin di film “Maze Runner”.
Di salah satu pojoknya terdapat musholla berbentuk gua, yang disebutkan mengadopsi konsep gua Hira, sebuah gua dimana Nabi Muhammad S.A.W mendapatkan wahyu untuk pertamakalinya lewat Malaikat Jibril. Tepat di arah kiblat terpasang lempengan acrylic berlafadzkan surat Al-Fatihah dan di bagian belakangnya terdapat sebuah batu yang dapat dialirkan air sebagai tempat berwudhu.

Tak jauh dari mushola sebuah ruangan bawah tanah dibangun sebagai ruangan audio visual, di dalamnya para pengunjung dapat menyaksikan sebuah visualisasi yang menampilkan bagaimana terbentuknya alam semesta.  Namun untuk dapat mengitari semua spot dalam Wot Batu, seluruh pengunjung mesti terlebih dahulu lulus ujian keseimbangan psikologis di setiap titik yang ditentukan oleh pemandu. Dengan berbagai macam bumbu penjelasan yang ditambahkan bahwa untuk mencapai keseimbangan hidup dan melewati setiap titik yang ditentukan, kita harus dapat mengiklaskan hati dan bersyukur atas apa yang kita telah dapatkan dalam kehidupan. Wisata spiritual inilah yang dimiliki Wot Batu sebagai point lebih dalam menawarkan satu konsep wisata baru di Bandung. Pengunjung datang tidak hanya untuk selfie dan berfoto saja, namun bisa mendapatkan sebuah paket wisata yang menyenangkan dan menjadi sebuah pengalaman yang didapat saat pulang nanti.

Rabu, 18 Mei 2016

A.D Pirous : Permata Meulaboh yang Berlabuh di Priangan.


Masih segar dalam ingatan, padahal sudah lewat lebih dari 10 tahun. Satu tayangan televisi menampilkan sebuah mesin pengeruk yang bergerak maju mundur mengangkut ribuan tubuh-tubuh tak bergerak untuk dikuburkan secara massal di sebuah liang lahat yang sangat besar. Tayangan tersebut hanya salah satu adegan dari beberapa rekaman yang ditayangkan berhari-hari bahkan berminggu-minggu oleh seluruh saluran televisi. Saat itu kosakata Tsunami masih terbilang baru bagi telinga orang Indonesia, jumlah ratusan ribu korban tewas bukan angka yang lumrah yang dapat diproses nurani.
Beda kepala, beda perasaan, beda ingatan. Bila saya hanya dapat mengingat tanah rencong dari berbagai kejadian yang diatayangkan di televisi, Bapak Abdul Djalil Pirous punya perasaan yang jauh lebih mendalam dari itu. Pria berusia 84 tahun ini merupakan putra asli Meulaboh, Aceh. Ingatannya ia tuangkan dalam sebuah lukisan keindahan pantai Meulaboh yang tak pernah ia kunjungi kembali karena takut, takut akan realita yang mungkin mengkhianati ingatannya. Walaupun kondisi Pantai Meulaboh sudah direkonstruksi, tapi ia tetap takut melihat perubahan yang terjadi dengan tempat bermainnya semasa kecil tersebut.
Abdul Djalil Pirous atau lebih dikenal dengan namanya disingkat menjadi A.D Pirous ini merupakan salah satu guru besar di ITB, beliaulah yang menginisiasi pembentukan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sekaligus menjadi Dekan pertamanya. Tentunya tak hanya karir sebagai akademisi yang menarik perhatian, pamor Pak Pirous sebagai pelukis ternama pun tak kalah hebatnya. Pria yang kini tinggal di daerah Bukit Pakar Timur Bandung ini dikenal sebagai seorang seniman yang melejitkan seni kaligrafi di Indonesia, di saat pada masa tahun 70-an seni kaligrafi Arab belum banyak dikenal.
Bagi saya rumah kediaman yang juga gallery dari Pak Pirous ini memiliki daya
tarik yang mengagumkan, terutama ruang kerja dan gallerynya. Saya rasa saya dapat tinggal berhari-hari di ruangan kerjanya yang sangat membuat orang nyaman untuk berkarya. Tentunya berbagai lukisan hasil karyanya terpajang memenuhi dinding ruangan dan lantai. Langkah pertama saya terhenti beberapa langkah setelah masuk, sudut mata saya terpatri pada sebuah meja berantakan yang menghadap langsung ke jendela. Berantakan memang, namun sangat terlihat apa yang dapat ia hasilkan di sebuah furniture kayu yang kira-kira berukuran 1 x 0,5 meter. Meja pak pirous itu tampak penuh dengan berbagai wadah plastik yang isi dengan macam-macam jenis kuas, disampingnya bergeletakan puluhan tube cat pastel dengan banyak variasi warna. Sebuah mantel tercantol di punggung kursi, dan bila kita duduk ke arah kursi tersebut menghadap, sebuah pemandangan hijau nan asri tersaji. Saya membayangkan bila saya menghabiskan hari-hari saya kursi tersebut berhari-hari untuk menulis ataupun menghabiskan isi beberapa buku, sungguh akan terasa sangat menyenangkan.
Dari puluhan lukisan yang terpajang di ruangan tersebut, satu lukisan berukuran cukup besar menarik perhatian saya karena aramai dengan berbagai aspek yang sangat beragam. Sebuah aksara paku dari kebudayaan persia dan ukiran hieroglif dari jaman Mesir kuno menghiasi bagian bawah lukisan, serta huruf dan ukiran lainnya yang saya tidak hapal, namun saya tahu erat kaitannya dengan budaya dan sejarah. Di bagian tengah lukisan tersebut terdapat tulisan Arab dan gambar potongan halaman Al-Qur’an, sementara di bagian paling atas berbagai huruf alphabet berserakan. Penggunaan warna jingga yang menyala serta elemen emas mendominasi rasa lukisan tersebut.  Rasa penasaran saya berujung pada satu pertanyaan yang langsung saya tujukan ke Pak Pirous di ruangan mengenai lukisan yang dimaksud. Sambil membenarkan posisi topi fedora yang ia kenakan dan sedikit mengangkat kacamatanya ia memberikan satu jawaban yang cukup panjang. Ia menceriterakan bahwa lukisan itu berasal dari hasil perasaan dan pemikirannya saat tragedi invasi Amerika ke Irak di tahun 2003. Di tahun 2003 saat  terjadinya Invasi Irak, Pak Pirous memiliki kekhawatiran terhadap beberapa museum yang menyimpan berbagai harta umat manusia ikut hancur dan hilang, sehingga dalam satu lukisan tersebut terdapat bagaimana sebuah konflik antara Negara barat dan timur terjadi. Bila kita perhatikan bagian tengah lukisan tersebut juga berbentuk gedung dari World Trade Center yang menjadi asal mula pemicu kebencian Amerika terhadap Negara timur. Kekhawatiran yang ia pikirkan benar-benar terjadi dan baru menjadi sebuah tulisan di majalah TIMES pada tahun 2006. Halaman artikel tersebut bahkan ia masukkan ke dalam sebuah figura dan ia letakkan tepat di bawah lukisan tersebut.
Khairunnaas Anfauhum Linnaas, itu ayat favorite saya, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat banyak terhadap manusia lainnya. Saya ingin bagaimana seni yang saya buat dapat juga bermanfaat bagi manusia lainnya, hablum minallah hablum minanaas” begitu ujarnya saat menutup jawaban dari apa yang saya tanyakan sebelumnya. Tak bisa dipungkiri dengan apa yang saya lihat di ruangan galeri miliknya, apa yang ia katakan sama sekali tak mengada-ada. Berbagai lukisan yang ia artikan sangat mendalam, satu ciri khasnya adalah sebuah garis yang memisahkan sisi kiri dan kanan lukisannya dengan sisi sama rata. Garis tengah vertikal tersebut bagai menunjukkan bagaimana keberadaan sisi hablum minallah pada karyanya. Inilah sedikit cerita dari pertemuan saya dengan Bapak A. D Pirous, permata Meulaboh yang berlabuh di tanah Priangan.

Senin, 16 Mei 2016

Rita Widagdo : Dari Jerman untuk Nusantara

Jalan Setiabudi Bandung, satu jalan yang biasanya memang terkenal selalu ramai di Kota Bandung. Bila di hari kerja ramai oleh para pegawai dan mahasiswa terburu-buru menuju tempat mereka beraktivitas, di akhir pekan jumlah kepadatan bisa meningkat 2-3 kali lipat oleh para pelancong yang menuju tempat wisata di daerah dataran tinggi Lembang. Di sepanjang jalan berderet berbagai jenis bangunan, dari mulai hotel, tempat kuliner ataupun sekolah dan kampus. Jalan Setiabudi ini terkenal pula dengan area pendidikannya, dikarenakan keberadaan beberapa lokasi perguruan tinggi yang beralamat di daerah itu.


Disamping tingginya bangunan hotel yang menjulang, siapa sangka sebuah rumah yang terlihat tak begitu mewah hadir di tengah-tengah raksasa-raksasa beton tersebut. Saat melangkahkan kaki ke dalam, sebuah teras nyaman yang dihiasi berbagai foto dari bentuk-bentuk unik terpasang di rapi di sekeliling. Tak lama, seorang wanita dengan postur tinggi dan rambut emasnya melangkah keluar dari ruangan, dari wajahnya tampak ia sudah cukup berumur namun tak terlihat raut lemah dari air mukanya. Dengan bahasa Indonesia yang masih bercampur dengan logat asing, ia menyapa semua tamu yang tak biasanya hadir sebanyak itu untuk berkenalan dengannya.

Rita Widagdo namanya, seorang pematung asal Jerman yang sebelumnya bernama Rita Wizemann. Nama Widagdo menjadi lekat dengan dirinya setelah ia menikah dengan Prof. Widagdo, seorang dosen ITB. Ia sendiri saat ini masih mengajar di Fakultas Desain Seni Rupa ITB, dan masih aktif menghasilkan karya patung yang spektakuler. Hasil karya instalasi seninya tersebar di seluruh nusantara, dari Sumatra sampai Papua. Ciri khas yang melekat pada karya-karyanya adalah material yang digunakannya terbuat dari bahan logam, seperti aluminium dan baja. Mungkin bagi kita bentuk-bentuk instalasinya terlihat abstrak dan tak berarti, namun baginya seluruh karya yang dibuatnya memiliki makna yang sangat dalam dan bercerita. Satu karya favoritenya adalah Parameswara yang ia buat untuk Kota Palembang, karya lainnya yang ia buat dan dikenal oleh warga Bandung adalah sebuah instalasi berbentuk koin raksasa yang kini dipajang di gedung Bank Indonesia Jalan Braga.
Rumah kediaman dan gallery yang dimiliki Rita Widagdo sebenarnya tak tampak seperti sebuah gallery seni dan terlihat biasa saja di bagian depan, namun begitu masuk ke bagian dalam mulai terlihat bahwa ini merupakan rumah seorang seniman dari berbagai instalasi seni yang terpajang di berbagai sudut ruangannya. Satu hal yang paling mengejutkan adalah halaman belakangnya yang sangat luas, dan mungkin lebih dari 20 pohon yang tumbuh di sekitarnya. Saya rasa area belakang rumah Rita Widagdo sudah tidak dapat disebut sebagai halaman belakang ataupun taman, karena setahu saya taman yang saat ini berada di Kota Bandung pun tak ada yang sampai seluas
itu. Saya lebih menyukai untuk menyebut bahwa Rita Widagdo ini memiliki konservasi alam pribadi di belakang rumahnya, seekor burung Kakaktua yang hinggap pun tak luput saat mata mulai memindai setiap jengkal area belakang rumahnya. Di bagian belakang rumahnya rupanya ia membangun sebuah galeri kecil dimana ia menyimpan berbagai instalasi hasil karyanya yang berukuran mini, karena memang foto-foto yang ia tunjukkan di teras depan rumahnya adalah karya-karyanya yang berukuran besar dan tidak mungkin ia simpan dalam ruangan.


Di masa senjanya, Rita Widagdo masih memahat langsung pekerjaannya sendiri setidaknya sampai tahun lalu, walaupun hanya sanggup dalam durasi 2 jam per hari. Untuk pengerjaan instalasi yang berukuran besar ia dibantu orang-orang kepercayaan yang sudah bekerja sama dengannya selama 20 tahun yang langsung ia supervisi setiap harinya. Semua pekerjaan dari timnya dapat ia periksa seluruhnya dengan cara manual, hanya dengan melihat dan menyentuh satu bagian dari sebuah instalasi yang dikerjakan, ia dapat mengetahui bahwa di bagian tersebut terlalu tebal setengah millimeter !

Gallery Rita Widago ini adalah satu dari sekian banyak galeri seni yang tak banyak orang ketahui, termasuk warga Bandung. Selain memang dikarenakan tempat yang tidak terbuka untuk umum, belum banyak media yang secara luas mengekspose mengenai Rita Widagdo dan karya-karyanya. Namun suatu hari nanti mereka perlu tahu bahwa di Jalan Setiabudi Bandung, seorang seniman patung tinggal dan masih produktif menghasilkan karya luar biasa untuk nusantara.


Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise