Rabu, 12 Oktober 2016

Menyelami Kopi Dingin Ala Dutch Coffee

Senin kedua di Bulan Oktober 2016, curah hujan di Kota Bandung mulai menggila. Dari bangun pagi sampai kembali beranjak tidur, langit rasanya tak pernah bosan bermain air dengan bumi. Pagi itu saya harus berada di sebuah coffee shop baru yang berada di Jl. Dr. Ir. Sutami Bandung pada pukul 9 karena urusan pekerjaan.



Saat saya tiba, baru ada empat orang customer lain di dalam ruangan yang nampaknya sedang berbicara seputar bisnis. Saya ambil tempat duduk di salah satu sudut sambil memindai seluruh ruangan yang nampak sangat bersih dengan kesan minimalis. Boyle’s Coffee namanya, diambil dari nama sang pemilik coffee shop yang merupakan seseorang pengusaha yang berasal dari Negeri Ginseng Korea, setidaknya begitu cerita salah seorang pegawai yang sedang bertugas. Memang sedikit unik untuk nama orang Korea, saya sempat mengira itu nama seorang Eropa. 

Saya bergerak ke meja kasir, dan menangkap nama sebuah menu minuman yang cukup dominan mengisi daftar. “Dutch Coffee”, begitu yang tertulis pada daftar menu sekaligus beberapa buah botol yang mereka pajang di etalase, namun pilihan pesanan saya jatuh pada menu teh hangat dengan cita
rasa chamomile yang mereka tawarkan. Selain karena masih terlalu pagi saat itu, lambung yang masih kosong pun ada baiknya tidak langsung di siram dengan rasa asam dan pahit dari kopi.

Menjelang makan siang, saya mulai mencium aroma yang sangat kuat dari bagian dalam cafe, sungguh saya menggira aroma tersebut berasal dari sebuah hidangan yang hendak disajikan, namun setelah saya bertanya, ternyata aroma tersebut datang dari biji kopi yang sedang di-roasting. Saya sering mengunjungi berbagai coffee shop di Bandung, tetapi baru kali ini mencium aroma kopi yang sangat harum dan kuat. Oleh karena itu akhirnya saya memutuskan untuk memesan kopi andalan mereka yang dari tadi cukup sering saya lihat namanya di daftar menu. 

Awalnya saya mengira Dutch Coffee merupakan kopi yang menggunakan biji kopi dari Belanda, namun ternyata biji kopi yang digunakan masih menggunakan biji kopi dari Nusantara. Sebenarnya memang baru kali ini saya menemukan nama Dutch Coffee tertera di daftar menu sebuah  coffee shop, sehingga saya salah memahami Dutch Coffee sebagai kopi dari negeri kincir angin. Ternyata Dutch Coffee merupakan sebuah tekhnik penyeduhan kopi, seperti Vietnam Drip ataupun French Press. Nama Dutch Coffee ini didapat karena yang pertama kali memperkenalkan tekhnik Dutch Coffee ini adalah seorang  Belanda.

Pada dasarnya Dutch Coffee ini adalah tekhnik penyeduhan kopi dingin, namun berbeda metode dengan cold brew. Pada cold brew, biji kopi segar direndam terlebih dahulu selama 12-24 jam baru kemudian diolah. Sedangkan pada Dutch Coffee, kopi digiling terlebih dahulu baru kemudian di ekstraksi menggunakan air es dengan metode water drip selama 3,5-12 jam. Dengan cara Dutch Coffee,  maka kopi yang dihasilkan akan mempertahankan rasa asli dari biji kopi dengan lebih kuat, namun dengan tingkat keasaman dan rasa pahit yang telah jauh berkurang.

Buat yang tak terbiasa minum coffee yang di brew, Dutch Coffee yang rasanya segar dengan tingkat keasaman rendah dan tak begitu pahit bisa menjadi pilihan. Dari 50 ml hasil ekstraksi menggunakan metode Dutch Coffee dapat dicampur dengan 100 ml air putih dan ditambah es batu untuk menambah kesegaran. Bisa dibilang menikmati segelas besar Dutch Coffee dingin ini menjadi cara baru minum kopi yang menabrak tradisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise