Rabu, 23 November 2016

Cibuntu : Cukup Tahu Saja!




Tahu yang sudah masak dan siap dipotong

“Jadi cukup tahu saja ya pak”, begitu yang diucapkan salah seorang kawan dari Komunitas Aleut menimpali jawaban Muhammad Jamaludin, seorang pengusaha tahu asal Cibuntu Bandung. Ucapan tersebut kemudian diikuti gelak tawa semua yang hadir di ruang tamu kediaman pria yang akrab diapanggil Kang Jamal tersebut. Sebelumnya salah satu pegiat Aleut memang bertanya soal keberadaan produk andalan lain yang dibuat oleh Warga Cibuntu. Dan jawaban dari Kang Jamal adalah, “di sini mah semuanya juga tahu”.

Hari minggu (20/11), Komunitas Aleut memang berkunjung ke daerah Sentra Pembuatan Tahu di Cibuntu Bandung. Nama Cibuntu sendiri sebelumnya adalah nama sebuah jalan yang kini menjadi Jalan Holis, begitu cerita Hevi Fauzan, salah seorang kawan yang pernah tinggal di daerah tersebut. Namun untuk daerah Cibuntu yang sekarang terkenal dengan pabrik tahunya berada di Jl. Aki Padma yang dapat di akses melalui sebuah gang kecil di depan jalan masuk ke Sumber Sari maupun lewat pintu masuk yang terletak di Jl. Pasir Koja. Bagi warga Bandung sendiri, mendengar nama Cibuntu pasti akan membuat  terngiang pada sebuah kotak biru atau hijau yang terbuat dari plastik dan menempel pada sebuah sepeda atau motor. Begitulah setidaknya gambaran penjual tahu keliling kebanyakan yang beroperasi di sekitar Bandung. Entah bertemu dengan penjual tahu di Soreang atau Lembang, semua wadah tahu yang mereka bawa bertuliskan Tahu Cibuntu.

Proses pengadukan adonan tahu

Setelah sedikit bernostalgia dengan para tetangga yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya, Hevi kemudian mengajak untuk berkeliling ke berbagai pabrik tahu yang berderet di Jl. Aki Padma yang seluruhnya sudah memiliki sebuah papan nama dengan brand masing-masing. Rata-rata memang merek-merek tahu tersebut dinamai menggunakan nama sang pemilik usaha, seperti Galih Tahu dan Tahu Sutra M. Jamaludin. Setiap pabrik yang dikunjungi tak selalu sama dalam sistem operasional pembuatannya. Ada yang hanya membuat tahu dari pukul 2 siang, namun ada juga yang memberlakukan sistem shifting, hingga pabrik tahunya tersebut dapat bekerja 24 jam penuh. Wajar bila pabrik tahu di sini bisa sampai berproduksi non-stop, kebutuhan akan penganan yang satu ini sudah tak dapat terelakkan. Mulai dari kebutuhan langsung sehari-hari sebuah rumah tangga sampai restoran besar pun membutuhkan tahu untuk melengkapi hidangannya. 


Tak hanya soal sistem operasionalnya yang berbeda-beda, resep dan cara pengerjaan pun takkan sama satu sama lain. Walaupun semua tahu ini berasal dari daerah Cibuntu, dijamin dari segi rasa akan terasa bedanya, maka dari itu sekarang setiap pabrik tahu sudah mengemas tahunya dengan merek masing-masing agar setiap pelanggan dapat membedakannya, setidaknya begitu yang dijelaskan oleh Kang Jamal saat berada di rumahnya. Bahkan tahu yang dibuat adiknya yang memiliki usaha tahu sendiri dan menggunakan resep yang sama dengan yang digunakan olehnya akan memiliki rasa yang berbeda dari tahu yang dibuatnya. “Beda tangan beda rasa”, begitu ucapnya.

Kang Jamal ini dulu orang pertama yang mengembangkan tahu hingga kini memiliki beberapa varian jenis tahu yang dapat ditemukan di berbagai tempat. Ialah yang pertama kali memperkenalkan Tahu Sutra hingga dijuluki Jamal Tahu Sutra. Setelahnya ia pula yang mengembangkan varian Tahu Susu dan Tahu Keju. Termasuk produk Tahu Susu yang terkenal di wilayah Bandung Utara saat ini, ialah yang dulu melatih para pegawai di tempat tersebut untuk dapat membuat tahu susu. Sampai sekarang tahu susu merupakan tahu dengan harga jual termahal karena menggunakan banyak bahan susu. Ada yang membuatnya dengan susu murni, namun ada juga yang membuatnya dengan menggunakan susu bubuk kemasan yang katanya untuk lebih memunculkan aromanya. 

Dari segi proses, Tahu Sutra M. Jamal ini kini menggunakan bahan bakar yang disebut dengan wood pellet. Baru sekitar 2 minggu Kang Jamal mencoba menggunakannya untuk mengakali bahan bakar gas yang kian terbatas. Wood pellet adalah bahan bakar yang dibuat dari kayu yang di press hingga menyerupai puntung rokok. Memang bahan bakar menjadi isu utama dalam industri tahu di Cibuntu, sulitnya mendapatkan bahan bakar gas membuat para pengusaha tahu harus lebih kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada.

Saat ditanyakan bagaimana pengembangan tahu ini menjadi sebuah kawasan wisata terpadu dengan sebuah toko souvenir serba tahu, kang Jamal hanya menjawab bahwa dirinya kesulitan dengan masalah tempat. Selanjutnya beliau juga bercerita mengenai rencana keberadaan toko souvenir tersebut pernah diusung oleh salah satu dinas terkait, namun sudah lama sekali tidak ada kelanjutannya. Selain keterbatasan soal tempat, akses menuju Cibuntu yang terkadang kena dampak banjir saat hujan besar juga belum teratasi, padahal Sentra Indutsri Tahu Cibuntu ini sangat dekat letaknya dari pintu Tol Pasir Koja yang dapat memudahkan wisatawan untuk berkunjung.

Kunjungan kami ke rumah Kang Jamal pun tak lengkap rasanya bila tak disuguhi tahu sutra yang menjadi andalannya. Tahu-tahu yang masih mengepulkan asap pertanda masih sangat segar diangkat dari tempat perebusan tersaji lengkap dengan kecap yang dibubuhi irisan cabe tipis. Tak sampai dengan lima menit, tahu-tahu tersebut sudah lenyap bagaikan disulap.Memang berbeda tahu-tahu yang disajikan oleh Kang Jamal ini, selain karena gratis, tahu-tahu ini teksturnya sangat lembut dan langsung melebur saat bersentuhan dengan dinding mulut. Dan ini pertama kalinya saya mencicipi tahu yang disajikan langsung mentah-mentah tanpa digoreng, ternyata rasanya juga enak kok.
Tahu sutra yang dimakan langsung setelah selesai diolah

Ah..asal tahu saja, tahunya tahu-tahu yang dibuat di Cibuntu ternyata menggunakan kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat. Kualitas dan kuantitas yang tidak cukup baik dari yang dihasilkan oleh para petani lokal Indonesia membuat pengusaha tahu terpaksa untuk membeli kedelai dari Negeri Paman Sam tersebut. Tentu bila nilai dollar atas rupiah sedang naik, pengusaha tahu akan kelabakan, karena para pelanggan tidak mau tahu tentang masalah tahu sang penjual tahu, padahal ada ratusan orang di Cibuntu yang menggantungkan hidupnya dari industri tahu. Saya juga baru tahu, karena baru diberi tahu kemarin saat berkunjung ke blok tahu dari para pengusaha tahu yang cukup tahu soal tahu. Lalu bagaimana dengan sikap pemerintah dan para pelanggannya? Ya..cukup tahu saja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC; more resources at BlogXpertise