Gunung Nini di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan

Sebuah plank bertuliskan “selamat datang di kawasan Pabrik Teh Orthodoks PTPN VIII” berhasil melempar ingatan saya ke masa empat tahun yang lalu. Saat itu saya sedang berjuang melalui satu per satu tes dari perusahaan berlabel BUMN tersebut. Siapa sih fresh graduate yang nggak kesengsem menjadi karyawan BUMN? Setidaknya itu pikiran saya dulu. Gaji besar dan raut bahagia orang tua jadi impian. Tak berapa lama keluar seorang lelaki dari sebuah ruangan, yang mungkin umurnya sama ataupun tidak lebih tua dari saya dengan menggunakan jaket agak tebal. Wajar saja, suhu Pangalengan hari itu cukup membuat pundak dan leher bergidik. Hari yang diwarnai hujan hampir sepanjang hari tersebut saya habiskan untuk menyusuri jejak seorang Belanda yang lama tinggal di area perkebunan teh Malabar bernama Karel Albert Rudolf Bosscha. Di Pabrik Orthodoks inilah salah satu tempat di mana ia pernah meninggalkan jejak sebagai administratur perkebunan selama 32 tahun. Namanya bertengger di urutan pertama pada sebuah papan daftar administratur yang pernah menjabat di Perkebunan Malabar.
Kunjungan ke Pabrik Teh Orthodoks Perkebunan Teh Malabar

Dalam perjalanan susur jejak Bosscha ini saya tidak sendirian. Saya ditemani juga beberapa kawan lainnya yang memang berpartisipasi dalam sebuah tour yang diadakan oleh Mooi Bandoeng. Setelah melalui sedikit ucapan perkenalan dari lelaki yang merupakan pemandu kami di pabrik ini, kami pun diajak untuk memasuki ruangan produksi dengan aroma teh yang sangat menyengat. Sayangnya kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar dengan kamera. Aktivitas produksi di Pabrik Teh Orthodoks terlihat sangat padat, para pekerja pabrik pun nampak hampir tak memiliki jeda untuk berleha-leha. Kemudian kami sampai di ruang tester dengan beberapa sofa tersedia di salah satu pojok. Sepertinya ruangan ini memang sering digunakan untuk menerima tamu.

Produk yang menjadi fokus dan andalan dari Pabrik Teh Orthodoks ini rupanya adalah teh hitam. Kami pun berkesempatan mencicipi hasil produksinya langsung, serta membeli beberapa produk teh untuk dibawa pulang sebagai souvenir. Goalpara dan Gunung Mas merupakan dua buah merek yang diproduksi pabrik ini. Saya pun tak asing saat mendengar dua nama tersebut. Sebuah makalah analisa pasar tentang dua merek tersebut pernah saya buat pada perkuliahan Manajemen Pemasaran Lanjutan, semester 5. Kedua merek tersebut dipasarkan di pasar lokal dengan harga cukup murah, Rp.7.000 untuk Teh Goalpara dan Rp. 10.000 untuk Teh Gunung Mas.

Setelah mendengarkan penjelasan mengenai berbagai macam hal mengenai teh. Kami pun beranjak ke arah Gunung Nini. Walaupun namanya gunung, tapi ketinggiannya hanya setingkat dengan bukit. Konon katanya, Bosscha meninggal karena terjatuh dari kuda saat akan menuju ke Gunung Nini. Perjalanan kami hari itu pun memang dalam rangka memperingati hari meninggalnya juragan perkebunan yang semasa hidupnya sering dipanggil dengan sebutan Ru tersebut. Sebelum mengunjungi Pabrik Teh Orthodoks, kami sempat berziarah ke makamnya yang rancangan arsitekturnya sangat unik dan bergaya Eropa. Selain ke makamnya, kami juga berkesempatan mengunjungi rumah yang ditinggalinya dulu dan menjadi titik yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa ruangan di rumah ini rupanya telah disulap menjadi sebuah kamar yang dapat disewa pengunjung dengan tipe yang hampir setara kamar president suite hotel-hotel berbintang. Sementara itu, beberapa wisma dibangun di sekeliling rumah khusus untuk yang ingin sedikit berhemat ataupun untuk yang merasa takut untuk langsung tidur di ruangan kamar dalam rumah. Kami juga sempat menggunakan meeting room di sini untuk makan siang sambil menyaksikan pemandangan Gunung Nini dari balik jendela. Terlihat dekat di mata, namun cukup jauh ternyata.
Kunjungan Ke Makam Bosscha

Curam, sempit, licin dan berkabut, begitulah gambaran jalur menuju Gunung Nini. Tak heran mengapa Bosscha sampai celaka di sini, itu yang ada dalam pikiran saya. Kami sendiri melakukan perjalanan ini dengan sebuah kendaraan elf dengan kapasitas lumayan besar, sehingga saat kendaraan kami mulai naik ke tanjakan super terjal, rasanya jantung seperti hendak melompat dari rongga dada. Tak lama, samar-samar dari balik kabut terlihat sebuah gazebo yang menjadi ciri khas puncak Gunung Nini. Kami pun bergegas menuju gazebo tersebut, karena langit Pangalengan mulai menurunkan tetes demi tetes saripatinya. Di dalam gazebo kami berbagi ruang dengan beberapa orang yang sedang menghangatkan diri dengan memasak sesuatu dengan kompor portable. Kami pun tak kalah sigap, Agus, seorang kawan yang saya duga merupakan seorang time traveler, sudah langsung menawarkan minuman hangat kepada para peserta tour dalam beberapa detik saja.

Gunung Nini memiliki ketinggian sekitar 1.616 mdpl. Saat selimut kabut perlahan mulai tersingkap, beberapa lanskap yang cukup ikonik mulai tampak wujudnya. Salah satunya adalah Situ Cileunca. Danau yang menjadi salah satu primadona pariwisata Bandung Selatan ini cukup jelas terlihat bentuknya. Sementara itu, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Burangrang yang ratusan kilometer jauhnya di sebelah utara itu rupanya dapat terlihat juga dari tempat ini. Selain tiga nama lokasi wisata tersebut, perkebunan teh Pangalengan dengan motif garis-garis bergelombangnya yang unik mendominasi pemandangan dari Gunung Nini.
Pemandangan Situ Cilenca Yang Terlihat Dari Gunung Nini

Saat kami asyik berbincang mengenai pengalaman menarik sepanjang hari ini, “rekan berbagi ruang” kami di gazebo pamit pulang duluan. Saat ditanya mengenai daerah asal, rupanya mereka merupakan warga sekitar Pangalengan. Lucunya, ketika diajak ngobrol dalam bahasa Sunda, mereka tak menjawab, makanya kami sempat mengira mereka berasal dari luar daerah priangan. Padahal di awal perjalanan, Bang Ridwan yang menjadi pemateri tour ini sempat bercerita mengenai Bosscha yang sangat piawai berbahasa Sunda. Bahkan Bahasa Sunda yang diucapkannya termasuk sangat lancar dan halus. Seharusnya mereka yang warga lokal zaman now tidak kalah dengan semangat Bosscha dalam ngamumule budaya Sunda.

Satu jam menjelang Adzan Maghrib, kami memutuskan untuk segera berkemas dan menutup perjalanan kami sampai di Gunung Nini. Selain itu, Erna yang merupakan peserta tour yang berasal dari Cicalengka harus mengejar jadwal keberangkatan kereta api dari Stasiun Bandung. Banyak hal yang saya dapatkan dari trip kali ini untuk mengenal sosok seorang Karel Albert Rudolf Bosscha dari jasanya terhadap Bandung dan Bumi Priangan. Kalau dulu saya hanya mengenal Bosscha hanya dari tempat peneropongan bintang di Lembang, kini saya tahu bahwa orang ini lebih besar dari itu. Maka dari itu, sampai sekarang Bosscha menjadi salah seorang Belanda yang dikenang jasanya. Saat perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah di tengah perkebunan Malabar. Dan lewat tangan dinginnya,  perkebunan Teh Malabar yang dirintisnya kini memproduksi salah satu komoditas ekspor terbaik di Jawa Barat.
Para Peserta Trip di Rumah Bosscha

“Kamu mau?” tanya saya.“Ya..kalau kamu mau, aku juga hayu,” jawab Lia.“Tapi kalau bisa, ajak temen kamu juga, biar jadi bertiga.”

Dialog yang sedikit mirip percakapan di film “Jomblo” ini benar-benar terjadi malam tersebut, namun tentu dengan cerita yang sangat berbeda. Malam itu di hadapan kami berdua tergeletak secarik kertas. Bagian atas kertas tersebut bertuliskan “Daftar Menu” yang lengkap bertuliskan nama-nama makanan beserta harganya.  Hal yang membuat Lia meminta saya untuk mengajak seorang teman adalah karena harga salah satu menu yang mencapai Rp.150.000. Tadinya agar udunan masing-masing per orang menjadi lebih ringan, maka kami perlu satu orang tambahan yang dapat ikut berbagi rasa bersama kami. Namun karena kami berdua tak dapat menemukan satu orang pun yang bisa mampir ke tempat kami, maka jadilah harga menu yang memiliki nama “Papeda & Ikan Kuah Kuning” tersebut kita tanggung berdua saja.

Kedatangan kami malam tersebut awalnya ingin bertemu sang pemilik restoran. Lia yang berencana membuka bisnis di Papua membutuhkan banyak informasi mengenai kondisi demografisnya. Akan tetapi Pak Sukamto yang saya kenal melalui pekerjaan sedang tidak berada di tempat pada saat itu. Tanggung sudah mampir ke restoran yang diberi nama Danau Sentani Resto tersebut. Akhirnya kami mulai melirik menu dan menjatuhkan pilihan pada salah satu menu khas Papua yang membuat kami merogoh kocek seratus lima puluh ribu rupiah.

Tak sampai 15 menit, “Papeda dan Ikan Kuah Kuning” pun hadir di meja makan. Menu ini dihidangkan dalam 3 wadah yang berbeda. Wadah pertama yang berupa mangkuk besar berisikan penuh dengan Papeda yang tampak sangat bening dan transparan, sedangkan dua wadah lainnya berisikan tumis kangkung dan ikan kuah kuning. Porsi makanan tersebut sangat banyak, sehingga saya rasa kalaupun kami jadi mengajak satu orang teman lagi untuk makan bersama tetap akan cukup. Sebelumnya, saya sudah tahu kalau papeda merupakan bubur yang terbuat dari sagu dan memiliki tampilan yang bening, mirip seperti adonan lem yang baru saja dimasak. Namun yang tidak terbayangkan adalah tingkat kekenyalannya yang luar biasa, sampai saat waiter menghidangkan menu ini, ia langsung memberikan tutorial untuk mengangkat makanan ini ke piring masing-masing. Ia memperagakannya dengan mengambil dua sumpit yang kemudian ditancapkan ke dalam papeda, kemudian diangkatnya kedua sumpit tersebut sambil diputar-putar hingga sejumput papeda terlepas dari mangkuk.
Papeda dan Ikan Kuah Kuning

Papeda sendiri sebenarnya merupakan makanan pokok khas Maluku dan Papua. Dikarenakan tanah di sana tak cocok untuk menanam padi, maka dari itu mereka membuat papeda. Setelah mencoba menyantapnya, ternyata papeda ini terasa sangat ringan. Sudah 4 kali suap, sama sekali tak membuat kenyang. Sepertinya kandungan gulanya rendah sekali, jauh berbeda dengan kita menyantap nasi. Kalau kata Lia, rasanya datar, kaya nggak makan apa-apa. Memang benar sih rasanya sangat plain, makanya papeda ini disajikan dengan ikan kuah kuning yang gurih. Ikan kuah kuning ini bukan spesies ikan, tapi merupakan sebuah cara menghidangkan ikan. Ikannya sendiri dapat menggunakan ikan tongkol, ikan patin, ikan kakap ataupun ikan lainnya. Selain ikan kuah kuning, ada juga tumis kangkung yang rasanya sangatlah lezat dan menjadikan menu papeda ini menjadi tepat. Bagi saya, tumis kangkung yang disajikan bersama papeda ini adalah yang paling enak yang pernah saya coba. Ada sedikit rasa pedasnya, namun pas, tidak sampai menghilangkan rasa lezatnya.

Tanggung penasaran, sebagai penutup kami pun memesan satu buah Abon Gulung yang juga merupakan cemilan khas Papua. Dinamakan demikian, karena persentase abon lebih besar dibandingkan dengan roti yang menggulungnya. Abonnya pun tentunya sangat berbeda dengan abon-abon yang banyak ditemui di bubur atau nasi kuning. Rasanya lebih cenderung manis, dan menyatu dengan roti, cocok untuk hidangan pencuci mulut. Tadinya kami ingin menambah petualangan kuliner Indonesia Timur ini dengan memesan segelas Kopi Papua yang terkenal sangat strong. Namun kami sadar, bila kami meneruskannya, hari-hari ke depan hanya akan diwarnai dengan segelas energen dan indomie rebus untuk memenuhi nutrisi dasar harian hidup.
Abon Gulung


Secara keseluruhan, menu “Papeda dan Ikan Kuah Kuning” ini rasanya sangat memuaskan. Mungkin suatu saat saya akan menyantap menu ini, tapi sepertinya menunggu diberi gratis terlebih dahulu, karena mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk makan akan membuat saya berpikir ribuan kali. Tapi untuk memuaskan rasa penasaran, cukup lah. Secara bila mengunjungi langsung daerahnya akan menghabiskan waktu dan biaya lebih mahal lagi.
“Mun acarana macam kieu mah, sok rawan aya nu garelut geura,”  (kalau acaranya seperti ini, rawan terjadi perkelahian) komentar wildan. Hanya beberapa meter dari tempat wildan berkata seperti itu, kami benar-benar menyaksikan perkelahian yang terjadi antar peserta karnaval. Seseorang yang menggunakan kostum barongsai tampak bergerak tak terkendali dan menabrak peserta lain di sekitarnya. Setelah dilerai dan dibuka topengnya, wajahnya tampak merah dengan tatapan mata yang tidak fokus. Sudah jelas ia sedang dalam keadaan mabuk. Kejadian tersebut kemudian berulang beberapa kali sepanjang karnaval. Memang saya pun sempat menangkap beberapa ekspresi aneh dalam kamera yang saya bawa saat itu. Beberapa ekspresi wajah mereka kosong dan terlihat sangat kelelahan, namun gerakan joged mereka masih sangat enerjik.


Perstiwa tersebut terjadi tanggal 17 Agustus lalu, saya dan sobat masa kuliah saya Wildan memutuskan untuk mencari suasana baru dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini. Perjalanan hari itu, sungguh sangatlah spontan. Wildan sendiri biasanya diwajibkan oleh sang Ibu Negara untuk pulang menemui keluarganya di Tasikmalaya bila hari libur tiba. Namun karena pagi harinya ia harus menghadiri upacara bendera di kantornya, dan keesokan harinya masih harus masuk kerja, jadilah hari tersebut saya culik dia untuk membujang bersama saya di stasiun kereta.

Kehadiran kami di stasiun kereta pada hari itu bertujuan untuk mengambil beberapa foto yang akan diikutsertakan dalam lomba foto PT. (KAI) Kereta Api Indonesia. Dan kebetulan pada kesempatan tersebut, PT. KAI menggratiskan seluruh tiket perjalanan dalam kotanya yang kemudian membawa kami berangkat ke Cicalengka pukul 10.13 pagi. Tak banyak destinasi yang bisa kami pilih dengan Kereta Api Lokal Bandung, kalau tidak Padalarang ya Cicalengka. Kami pilih Cicalengka sebagai tujuan, karena kami berdua tidak pernah berkunjung langsung ke daerah tersebut.

“Merdeka!!” terdengar pekik menyebut kata tersebut dari arah loket pembelian tiket. Dengan suara sekeras itu, sontak saja kami langsung menoleh saat sedang melihat jadwal kereta api Lokal Bandung yang berangkat ke Cicalengka. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kami pun langsung berjalan ke arah loket yang sudah ditinggalkan keluarga lengkap dengan dua anak yang meneriakkan kata “Merdeka” tersebut. “Mau naik yang jam berapa?” Tanya petugas di balik counter tiket. “Yang 10.13 pak,” jawab Wildan. “Hari ini tiketnya gratis ya, tapi teriak dulu merdeka,” timpalnya setelah selesai mencetak tiket yang membuat kami paham arti teriakkan “merdeka” oleh pelanggan sebelum kami. “Satu..dua..tiga.. merdeka!!” Kami pun mengikuti apa yang diminta petugas dan langsung bergegas memasuki peron.
Pukul 10.10, kereta api lokal yang menuju Cicalengka pun sudah terlihat datang dari arah Padalarang. Kereta kemudian berangkat tepat pukul 10.13, sesuai dengan jadwal yang tertera pada lembar tiket. Bagi saya pribadi, sungguh luar biasa pelayanan kereta api saat ini yang datang dan berangkat tepat pada waktunya. Karena dulu, jadwal kereta api itu selalu longgar seperti karet. Saat saya dulu sering pergi untuk interview ke Jakarta, waktu keberangkatan kereta dapat molor sampai 20 menit. Ditambah, kadangkala kereta berhenti di beberapa stasiun kecil hingga lebih dari 10 menit, yang berakibat pada keterlambatan saya datang ke lokasi tes.


Dalam rute kereta menuju Cicalengka ini, kereta melewati beberapa stasiun yang cukup familiar di Kota Bandung, seperti Cikudapateh, Kiara Condong, dan Gedebage. Kami melihat di beberapa titik perlintasan kereta, jarak rumah dengan lajur kereta sangatlah dekat. Hingga bisa dibayangkan saat kereta melintas, orang yang tinggal dalam rumah tersebut dapat merasakan getaran dan bisingnya suara kereta. Dan tentunya ada resiko bahaya yang ditimbulkan bagi warga yang hidup berbatasan langsung dengan rel kereta.
Setelah melewati Stasiun Gedebage, pemandangan yang dapat dilihat dari jendela mulai terasa menyenangkan. Deretan gunung dan sawah yang menghampar menjadi obat tersendiri dari segala kepenatan. Inilah yang saya sukai dari perjalanan berkereta, pemandangan yang terus menerus berganti lewat kaca jendela selalu asyik untuk dinikmati. Maka dari itu, saya jarang sekali tidur saat berada dalam kereta, kecuali tentunya pada perjalanan malam. Karena nyaris tak ada hal menarik yang dapat dilihat.

Salah satu gunung yang dapat dilihat dalam perjalanan ini adalah Gunung Geulis, hanya itu yang dapat saya kenali. Sementara itu di arah berlawanan dari Gunung Geulis terdapat stadion Gelora Bandung Lautan Api yang berdiri megah sendirian di tengah areal persawahan hijau. Dan entah mengapa, masinis selalu memperlambat laju kereta saat tepat melewati stadion ini. Rasa-rasanya seperti ia hendak mempersilakan para penumpang untuk mengabadikan bangunan sarana olah raga yang sempat menjadi markas Persib Bandung ini.

Sesampainya di Stasiun Cicalengka, riuh suara wanita menjajakan barang dagangan terdengar lewat pengeras suara.Sebuah mini market yang beroperasi di area stasiun menawarkan paket dengan potongan harga fantastis. Tak heran juga sih, karena hampir semua toko, baik toko fisik ataupun online di seluruh Indonesia memberlakukan promo penjualan dengan embel-embel “promo kemerdekaan” atau “promo agustusan.” Biasanya jumlah besaran promo harga tersebut berkisar antara angka 17,8 atau 45, sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia.

Kebul adalah kesan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di Cicalengka. Ngaheab adalah kesan saya yang kedua. Dua kata tersebut tidak dapat saya gantikan ke dalam Bahasa Indonesia, karena feel­-nya menjadi berbeda. Sepi dan lengang, sampai kami bertanya kepada warga lokal mengenai acara agustusan di sini yang kemudian berujung pada cerita pertemuan kami dengan para peserta karnaval yang mabuk tadi. Selain itu kami melihat para pelajar dari SD sampai SMA pun menari hingga tak terkendali dalam karnaval ini. Mereka tidak mabuk, hanya saja seragam sekolah mereka penuh dengan coretan, dan rambut mereka diwarnai warna jingga dan violet menyala. Sangat disayangkan bila sebuah perayaan agustusan berujung dengan hal-hal yang sesungguhnya sangat tidak berhubungan dengan semangat yang disusung.

Mungkin ini pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama saya terjun kembali ke perayaan hari kemerdekaan yang digelar masyarakat. Biasanya saya hanya ikut lomba-lomba yang digelar kantor tempat bekerja saja. Satu hal yang kini saya ketahui dari perjalanan ini adalah sebuah trend perayaan agustusan yang telah banyak berubah. Karnaval agustusan yang dulu saya kenal adalah karnaval anak-anak dengan menggunakan seragam masa depan yang menjadi cita-citanya, bukan kemudian berkostum ala pocong-pocongan ataupun orang dewasa yang berdandan ala waria. Dari karnaval yang saya saksikan hari itu, saya tidak melihat bangsa yang sedang memperingati hari besarnya, namun hanya melihat sekelompok orang yang sedang lari dari masalah hidupnya dan kemudian berpesta pora seenaknya untuk melepaskan beban dan masalah yang mendera.
Hanya sekitar 1 jam saja kami mengikuti karnaval agustusan di Cicalengka sampai kami memutuskan balik arah menuju stasiun karena tak tahan dengan terik yang luar biasa pada siang itu. Bahkan di beberapa titik, ada orang yang bertugas menyemprotkan air pada peserta karnaval seperti yang sering dilakukan pada sebuah konser-konser rock dan metal.


Dalam perjalanan kali ini, setidaknya saya banyak belajar hal baru dan menikmati perjalanan berkeretanya. Selain jadwalnya yang kini tepat waktu, bagian dalam kereta api lokal ini sangatlah nyaman untuk ukuran kelas ekonomi. Bahkan tingkat kenyamanannya melebihi kereta api Parahyangan kelas bisnis yang saya naiki tahun 2010. Kursinya empuk dengan kondisi gerbong yang bersih dan terang. Karena bila saya ingat perjalanan berkereta ke Padalarang pada sekitar tahun 2000an, saya duduk langsung di lantai besi gerbong tanpa alas dan langsung bersebelahan dengan penumpang yang membawa ayam jago. Kalaupun ada tempat duduk tersedia, bentuknya hanya sebuah bangku panjang seperti yang sering ada di warung bakso. Kapasitas penumpang pun diperhitungkan agar tidak kelebihan muatan dan semua penumpang pun dapat merasa nyaman. 


“Belum kenalan nih sama tetangga,” tiba-tiba suara berat di sebelah saya menegur sambil menyodorkan tangannya. “Rico,” lanjutnya memperkenalkan nama. “Irfan,” balas saya menyebutkan nama dengan nada sedikit gugup bercampur kaget. Tanpa ia menyebutkan namanya, sebenarnya saya sudah tahu persis siapa orang di sebelah saya ini saat  ia pertama kali masuk ke dalam ruangan. Dialah Rico Tampatty, aktor senior yang namanya sudah malang melintang di dunia persinetronan Indonesia. Oke, saya dulu memang pernah menjadi penonton sinetron pada akhir dekade 90-an sampai awal 2000-an. Bukan tanpa alasan tentunya bila saya dulu pernah betah saat cerita seri yang ditayangkan di televisi Indonesia itu muncul di layar kaca. Perangkat pesawat televisi yang hanya ada satu-satunya di rumah memaksa saya menonton apa saja yang disetel oleh orang tua sebagai hiburan kala malam hari tiba. Ibu, sang penguasa remote lah yang kemudian mengarahkan akan ke mana jalan pandangan ini. Kalau sekarang sih, mesin pintar portable bernama laptop sudah sedia menemani saat selera tontonan saya dengan ibu sudah berbeda jalan.

Bung Rico Tampatty ini memang menjadi salah satu aktor yang tampil di film lokal indie berjudul “KaWe 2” yang ditayangkan di Bioskop De Majestic Bandung malam hari itu. Di film tersebut, ia berperan sebagai seorang ayah dari pemeran utama wanita. Sejujurnya, poster film yang dipajang sejak seminggu ke belakang di pelataran depan Gedung De Majestic ini sama sekali tak menarik. Namun karena tuntutan pekerjaan serta penasaran ingin merasakan kembali suasana nonton film di bioskop legendaris Bandung ini, akhirnya saya hadir pada minggu malam hari itu. Ketemu Bung Rico-nya sih hanya bonus saja, karena tanpa disangka-sangka ia menolak duduk di kursi VIP yang sudah disediakan berbagai macam cemilan di tribun atas. Ia kemudian memilih kursi tepat di samping saya yg duduk di tribun tengah.

Gedung Bioskop ini tidak seperti bioskop masa kini pada umumnya, bagian tempat duduk paling atas diberi pagar dan meja-meja untuk meletakkan hidangan. Jaman dulu pun memang bioskop ini menjual tiket dengan harga yang berbeda pada pengunjung. Semakin atas posisi kursinya, semakin mahal harga tiketnya, terutama tiket kursi yang terletak di balkon. Namun sayangnya, setelah direvitalisasi, balkonnya kini tidak dapat digunakan untuk pengunjung menyaksikan film. Area ini kini hanya dapat diakses oleh crew yang mengatur jalannya pertunjukkan.

Setelah film mulai diputar, saya langsung mengetahui kalau dugaan saya mengenai kualitas film yang mungkin kurang menarik saat dilihat dari segi poster itu benar. Jalan cerita yang membosankan ditambah sinematografi yang buruk membuat saya ragu akan keberhasilan film tersebut untuk dapat   menarik massa hadir ke dalam gedung bioskop. Pada film tersebut, seringkali adegan si pemeran tiba-tiba gerakannya menjadi slow motion pada waktu yang tak tepat. Ada pula adegan saat salah satu tokoh utama sedang dikerok punggungnya, tiba-tiba warna merah hasil kerokannya hilang saat kamera berganti angle, tokoh wanita yang mengetik di laptop yang belum dinyalakan pun membuat seorang kawan yang saya ajak malam itu tersenyum geli dan tak dapat menahan diri untuk berkomentar. Dapat dibilang film “KaWe 2” ini hanya menjual nama-nama besar artis senior seperti Rico Tampatty dan Sarah Vi, serta beberapa pemain sinetron Preman Pensiun yang sempat booming beberapa tahun lalu.

Setelah film selesai, kawan saya yang duduk di samping kanan saya menyuruh untuk memberikan ucapan selamat kepada Bung Rico Tampatty yang duduk di sebelah kiri saya. Walau cerita dan editing film tersebut sangat buruk, di film tersebut Bung Rico tetap melakukan actingnya dengan baik. Lampu ruangan yang kemudian dinyalakan oleh petugas, membuat saya menyadari bahwa sudah sangat lama sekali saya melihat actingnya di televisi. Rambutnya kini mulai memutih dan kulit wajahnya sudah sedikit mengkerut. Sebelum memerankan peran seorang ayah seperti sekarang ini, saya ingat sebuah sinetron yang ia bintangi sekitar awal tahun 2000-an. Saya hampir lupa judulnya, hingga rasa penasaran membuat saya meng-googling profil beliau di Wikipedia dan menemukan judul “Jangan Ada Dusta.” Saya langsung yakin bahwa itu judul sinetron yang saya tonton dulu setelah membayangkan nada lagu soundtracknya yang berjudulkan sama persis dengan judul sinteron tersebut. Suara vokal Broery Marantika dan Dewi Yull yang khas selalu mengalun saat menjelang dan setelah iklan komersial ditayangkan. Dalam sinetron tersebut Rico Tampatty berperan sebagai seorang suami yang berselingkuh terhadap istrinya yang diperankan Inneke Koesherawaty, saat itu Mba Inneke pun belum berhijab seperti sekarang.

Sedikit kesan dari nonton film di Gedung De Majestic yang baru ini, ternyata tempatnya menjadi sangat mewah. Saya ingat terakhir kali masuk ke dalamnya adalah pada saat masih berstatus pelajar SMA. Salah satu tugas sekolah yang diberikan adalah menulis resensi pertunjukkan kabaret yang disaksikan di Gedung De Majestic yang saat itu masih bernama AACC (Asia Africa Cultural Centre). Lampu ruangan sangat redup, tidak seterang seperti saat ini. Bagian lantainya diselimuti oleh karpet, sehingga para penonton yang datang untuk menyaksikan pertunjukkan harus duduk lesehan. Peralatan lighting dan layar yang dipasang di panggung kini sudah sangat baik kualitasnya untuk digunakan menggelar pertunjukkan. Bahkan saat saya bertanya kepada pihak pengelola, layar yang dipasang pada bioskop ini telah menggunakan layar standar seperti yang digunakan oleh bioskop komersil yang ada di mall-mall ternama di Bandung. 

Sebagai agenda pamungkas, kemudian konferensi pers pun digelar di panggung De Majestic, Bung Rico pun ikut maju ke atas panggung. Dengan deretan artis yang duduk di panggung yang disorot peralatan lighting canggih ini memang membuat acara tersebut terlihat sangat mewah. Namun sayangnya hal ini belum diimbangi dengan kualitas film yang memadai. Setelah konferensi pers selesai, saya pun lalu bergegas pulang. Sambil berjalan gontai saya melintasi sebuah poster yang nampaknya akan menjadi film berikut yang akan ditayangkan di sini. Dari beberapa pemerannya dan nama rumah produksinya yang sama dengan film “KaWe 2”, saya sudah suudzon terlebih dahulu kalau kualitas film yang ditampilkannya takkan jauh berbeda dengan film perdananya. Gedung ini boleh bangga punya paras cantik mempesona yang enak dipandang mata. Namun tanpa adanya sebuah jiwa, kebangkitan hanya menjadi impian belaka.
Cerita soal nomor kamar keramat di sebuah hotel seringkali menjadi bahan incaran para sineas untuk ide pembuatan filmnya. Setelah film 1408 yang dibintangi John Cusack sukses di Hollywood sana pada 2007 lalu, perfilman Indonesia pun tak mau kalah dengan merilis film berjudul 308 yang dibintangi Shandy Aulia. Saya pun berkesempatan berkunjung ke sebuah kamar keramat di Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung yaitu kamar 144, namun walaupun disebut keramat, kamar yang satu ini tidak berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Kamar ini menjadi kamar keramat karena pernah ditempati oleh Perdana Menteri pertama India yaitu Pandit Jawaharlal Nehru pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
Kamar 144 Savoy Homann yang pernah ditempati PM Nehru
 
Pandit Jawaharlal Nehru, nama yang hampir setiap saya akan mengetik namanya, maka saya harus googling terlebih dahulu, karena takut-takut salah ketik di bagian Jawaharlal-nya. Tentunya nyaris semua siswa sekolah dasar (SD) di Indonesia mengenal nama tersebut karena menjadi salah satu bagian dari kurikulum yang diajarkan pada materi mata pelajaran sejarah. Tak hanya Nehru, sebagai pelajar saya pun kala itu harus mengingat nama Ali Sostroamidjojo dari Indonesia, Muhammad Ali dari Pakistan, Sir John Kotelawala dari Sri Lanka, dan U Nu dari Myanmar, tentunya nama terakhir merupakan nama yang paling mudah diketik dan diingat.

Pandit Jawaharlal Nehru
Perdana Menteri Nehru menginap di Hotel Savoy Homann bersama Presiden Sukarno dan perdana Menteri China Zhou Enlai. Tentunya mereka tidak berbagi kamar, masing-masing dari mereka mendapat sebuah kamar dengan type sekelas President Suites. Letak ketiga kamar tersebut berada di pojok timur bangunan dan tepat berada di area lengkungan Savoy Homann pada posisi lantai yang berbeda-beda. Bila Presiden Sukarno mendapatkan kamar bernomor 244 dan PM Zhou Enlai mendapat kamar nomor 344, maka PM Nehru mendapat kamar nomor 144.

Sebenarnya saya berharap dapat memasuki kamar yang ditempati Presiden Sukarno yaitu kamar 244, namun kamar yang available untuk dikunjungi saat itu adalah kamar 144 milik PM Nehru. Walaupun begitu, Mba Ruth, Marketing Communication Hotel Bidakara Savoy Homann yang pada sore tersebut memandu saya dan kawan-kawan yang lain berkata bahwa “untuk kamar PM Nehru ini akan sama saja interiornya dengan yang kamar yang ditempati oleh Presiden Sukarno dan PM Zhou Enlai, hanya foto-foto yang menghiasi kamarnya saja yang berbeda”. Walaupun begitu, saya rasa kamar yang ditempati oleh Presiden Sukarno akan tetap terasa perbedaannya, mungkin karena kedekatan sejarah sebagai Bangsa Indonesia yang membuat kamar 244 lebih terasa kharismanya. 
 
Ruang tamu kamar 144 Savoy Homann
Saat pertama menginjakkan kaki ke kamar 144, sebuah foto ukuran besar dari PM Nehru saat event KAA langsung terlihat dipajang di area ruang tamu. Selain foto tersebut, hanya ada dua buah sofa berbahan kanvas yang berada di ruangan. Ruang tamu tersebut terhubung dengan sebuah koridor kecil yang mengarah kepada ruang untuk bersantai yang terletak tepat sebelum ruang tengah. Karena kamar ini terletak di lengkungan khas dari bangunan Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung, maka ruangan ini pun mengikuti bentuk lengkungannya dan menjadikannya tak biasa.
 
Kamar 144 Savoy Homann
Beranjak ke ruangan tengah, sebuah TV layar datar dipasang di bagian tengahnya. Di sekelilingnya terdapat beberapa sofa kulit, sementara di sudut ruangan tampak sebuah meja kerja dengan telepon dan katalog pelayanan kamar di atasnya, serta sebuah mini bar di sampingnya. Pada dasarnya interior kamar 144 ini masih dibuat seperti aslinya seperti pada saat KAA dulu, hanya beberapa barang saja yang diganti dengan yang lebih modern mengikuti perkembangan jaman dan masa usia barang. 
 
Ruang tengah kamar 144 Savoy Homann
Karena terletak di bagian paling timur Hotel Bidakara Savoy Homann Bandung, bagian balkonnya pun langsung berdampingan dengan trotoar Jl. Asia Afrika, serta luasnya mencapai sekitar 2x balkon yang lain. Bila malam tiba, meja dan kursi dari dalam kamar bisa di bawa ke balkon untuk membuat candle light dinner dengan pemandangan citylight Kota Bandung. Namun feeling saya soal keinginan masuk kamar Presiden Sukarno tidak sepenuhnya salah. Karena di kamar PM Nehru ini pemandangan dari balkon sedikit terhalang beberapa pohon. Sedangkan bila saya melihat ke arah kamar Bung Karno, pandangan dari balkon tersebut sudah tidak terhalang apapun dan langsung menghadap arah alun-alun.
Kamar tidur utama yang pernah ditempati PM Nehru di Savoy Homann

Di kamar 144 ini terdapat  2 buah kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya. Kamar tidur yang satu sedikit lebih besar dibandingkan dengan kamar yang satunya lagi, termasuk dengan kamar mandinya. Kamar tidur paling besar memiliki sebuah meja rias, serta terdapat whirlpool di kamar mandinya.
 
Whirlpool kamar 144 Savoy Homann
Sementara itu, untuk meja makan terletak di pojok paling timur kamar ini, tepat di sudut yang melingkar keluar, bila gordyn-nya dibuka pemandangan langsung dari Kota Bandung dapat langsung terlihat jelas. Pada pagi hari cahaya matahari pun akan masuk dengan mudah lewat jendela-jendela di pojok ini.

Tak hanya Savoy Homann, Hotel Preanger yang kini bernama Prama Grand Preanger adalah hotel besar lainnya di kawasan Asia Afrika yang menjadi tempat menginap para pemimpin Negara pada KAA tahun 1955 diselenggarakan.  Selain di kedua hotel tersebut, beberapa pemimpin Negara diinapkan di rumah-rumah besar yang ada di sekitaran Ciumbuleuit, Cipaganti dan daerah-daerah lainnya. 

Walau sudah berhasil memasuki kamar PM Nehru, tetap saja hasrat untuk memasuki kamar yang pernah digunakan Presiden Sukarno belum terpuaskan. Mudah-mudahan saja suatu hari nanti saya bisa kesampaian masuk atau bahkan menginap di dalamnya. Dan tak hanya yang berada di Hotel Homann saja, kamar yang pernah digunakan Presiden Mesir Gamal Abdul Naser di Preanger pun cukup menarik perhatian saya.
Ruang makan yang langsung menghadap ke Jl. Asia Afrika dari kamar 144 Savoy Homann

“Pami dipasihan widi, insya Allah bakal kengeng, pami teu aya widi ku gusti, moal ayaan eta potona” (Kalau dikasih ijin, insya Allah bakal dapat, kalau tidak direstui sama Tuhan, nggak akan itu fotonya), begitu ucap Ki Anom Juhana sang Juru Kunci Kampung Cikondang saat ditanya mengenai aturan memotret di Hutan Larangan. “Tapi ayeuna mah dinten kemis, pasti ayaan geura potona”(Tapi Karena sekarang hari kamis, pasti muncul hasil fotonya), lanjut beliau sambil mempersilahkan untuk memotret. Hutan Larangan atau forbidden forest ini seringkali saya baca dan tonton pada sebuah film fiksi seperti Harry Potter, namun tak pernah saya sangka Hutan Larangan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Jalan Masuk Menuju Kampung Adat Cikondang
Kamis (11/5) lalu, saya bersama-sama dengan Komunitas Aleut berkesempatan menginjakkan kaki ke dalam Hutan Larangan Kampung Adat Cikondang yang terletak di kawasan Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kami diperbolehkan masuk ke dalam karena kebetulan hari tersebut bukan hari larangan kunjungan. Pada hari Selasa, Jumat dan Sabtu biasanya tak seorang pun dapat berkunjung ke Hutan Larangan, termasuk warga sekalipun. Selain itu, bagi yang beragama di luar muslim serta bagi wanita yang sedang datang bulan sama sekali tak diperbolehkan masuk ke dalam, walaupun pada hari diperbolehkannya kunjungan.
 
Hutan Larangan Kampung Adat Cikondang
Untuk masuk ke dalam Hutan Larangan, kami diharuskan melepaskan alas kaki dan masuk dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Sebuah batang pohon yang cabangnya melingkar-lingkar cukup menarik perhatian saya saat mulai memasuki hutan, pasalnya cabang pohon tersebut menjulur sangat panjang hingga keluar hutan serta sampai meliuk-liuk melewati batang pohon lainnya. “Ieu teh tangkal Malati Purba, tos aya tilu ratus genep puluh tahun langkung, tilu sasih kamari pas megarna ge sakampung ieu teh jadi kaambeu seungit” (ini melati purba, sudah ada lebih dari tiga ratus enam puluh tahun, tiga bulan yang lalu pada saat pohon ini mekar, seluruh kampung ini langsung tercium wangi), begitu penjelasan Ki Anom saat menangkap wajah takjub kami ketika melihat pohon unik tersebut. Keberadan Pohon Melati Purba ini membuktikan janji yang dipegang Juru Kunci Kampung Adat Cikondang secara turun temurun untuk tetap menjaga kelestarian alam dengan membuat satu kawasan larangan. 
 
Pohon Melati Purba di Kampung Adat Cikondang
Hutan Larangan ini ternyata tak begitu besar, luasnya hanya 3 hektar saja. Hanya sekitar 50 meter dari pintu masuk terdapat batu-batu berjejer rapi yang digunakan untuk meletakkan pusaka pada jaman dahulu. Selain batu-batu tersebut, terdapat pula makam leluhur yang seringkali diziarahi warga pada hari-hari kunjungan yang diperbolehkan.  

Kawasan Hutan Larangan ini terletak tepat di samping satu-satunya rumah adat di Kampung Cikondang yang tersisa. Setelah kebakaran hebat pada tahun 1942 silam, hanya rumah inilah bangunan asli yang masih dapat dilihat di kampung ini. Sementara itu di bagian luar rumah adat tersebut, terdapat sebuah bale dengan peralatan masak tradisional yang nampaknya masih aktif digunakan. Rupanya bila istri sang juru kunci sedang datang bulan ia pun dilarang untuk berada di dalam rumah adat, sehingga bale tersebut disediakan untuk tidur dan memasak di pekarangannya. Di dapur ini pula kue yang merupakan cemilan khas Cikondang dibuat. Terutama menjelang acara Tutup Tahun nanti, dapat dipastikan dapur ini akan terlihat super sibuk dengan kegiatan memasaknya.

Rumah adat di Kampung Cikondang ini bagian dalamnya sudah disekat antara bangunan asli yang telah berumur ratusan tahun dengan bangunan yang telah mengalami renovasi sebanyak 2 kali.  Bilik bambu dan atap ijuk menjadi salah satu ciri khas dari rumah adat ini, dan ternyata atapnya tersebut dapat ditumbuhi oleh tanaman liar. 
 
Bagian Dalam Rumah Adat Cikondang
Tak jauh dari rumah adat, terdapat leuit yang masih aktif digunakan untuk menyimpan padi. Leuit sendiri adalah tempat penyimpanan padi dalam kebudayaan Sunda. Sementara alunya sendiri dapat ditemukan di belakang Bale Paseban yang berada di luar pagar rumah adat. Walaupun desainnya menyerupai rumah adat, namun ternyata Bale Paseban ini masih terbilang baru didirikan. Saat kami datang ke Cikondang, Bale Paseban sedang direnovasi karena ada beberapa bagian atap yang bocor, padahal biasanya bila ada tamu bertandang, para tamu akan diterima di bale ini.
 
Leuit di Kampung Adat Cikondang
Dari obrolan  panjang lainnya dengan Ki Anom, rupanya nama Cikondang ini bukan berasal dari nama air dan pohon Kondang seperti yang kami banyak temukan di internet. Memang kebanyakan daerah di tatar Sunda banyak yang bernama dengan awalan ci- yang berarti air, namun berbeda dengan Cikondang, ci- dalam nama Cikondang memiliki arti aci atau hati, sementara itu –kondang di sini memiliki arti terkenal bukan karena ada banyaknya pohon Kondang di kampung.

Kunjungan kami ke Kampung Adat Cikondang sebenarnya sudah selesai pukul 1 siang, namun karena rasanya sayang untuk langsung pulang begitu saja, kami memutuskan untuk melalui rute Gunung Tilu yang aduhai sampai menembus jalur perkebunan teh Pangalengan yang rupawan. Terhitung dua kali balikan kami mengitari rute Gunung Tilu, karena beberapa jalur yang kami tuju ternyata berujung buntu, dari jalan penuh batu hingga jalan berlumpur yang mengotori baju. Dua kali balikan hingga Cikondang pun terasa sudah sangat jauh di belakang. Dua kali balikan hingga Gunung Tilu pun menjadi Gunung Genep.
 
Jalan Pulang Yang Aduhai

“Wakil Ketua OSIS teh malu-maluin ih, kerjanya Cuma jadi seksi dokumentasi aja tiap acara”, begitu sindir Niken, Sekretaris Umum OSIS di sekolah,  ditambah nada sedikit kesal. Percakapan ini terjadi sekitar tahun 2003/2004 saat saya sedang gemar mengikuti organisasi dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Atas. Tak salah memang apa yang dikatakan Niken, dalam hampir setiap acara yang dibuat oleh kami di sekolah, menekan tombol rana dibalik jendela bidik menjadi peran favorite saya dalam sebuah susunan kepanitiaan acara. Peran di luar tukang jepret jarang saya lakukan dalam acara-acara yang digelar organisasi, padahal saya menyandang posisi sebagai orang nomor 2 di OSIS setelah dikalahkan telak oleh Ardi, sang Ketua OSIS dalam pemungutan suara karena tak dapat bersaing secara popularitas.

Sebuah kamera film seukuran saku tak pernah lepas saya pegang dari satu acara ke acara yang lain dengan 36 peluru di dalamnya. Jangan tanya keberadaan kamera smartphone  15 tahun silam, bahkan kamera besar yang dijual di pasaran pun masih banyak menggunakan roll film. Jaman dimana hobi memotret butuh strategi, usaha dan uang saku yang lebih.
Dengan peluru yang terbatas, artinya menekan tombol rana tidak bisa asal-asalan apalagi saat mendokumentasikan suatu acara, segalanya harus diperhitungkan. Saya selalu menyiapkan daftar objek foto untuk diambil agar peluru tak terbuang sia-sia. Mulai dari sambutan Kepala Sekolah hingga sesi foto bersama panitia harus diperhitungkan.

Satu buah roll film paling banyak berisikan 36 peluru seharga kurang lebih Rp. 30.000, ditambah dengan 1 bonus peluru yang biasanya diberikan sehingga total amunisi yang saya bawa berjumlah 37. Untuk anak SMA pada tahun 2002, harga tersebut sudah cukup mahal, kira-kira setara dengan uang saku 7-10 hari sekolah, belum lagi untuk mencetak foto butuh sekitar Rp. 27.000 untuk cuci dan afdruk foto. 

Cuci cetak sudah mandatory hukumnya karena dokumentasi foto cukup ribet untuk disimpan dalam bentuk softfile kala itu. Kini orang sudah jarang sekali meng-afdruk foto karena lebih senang membiarkannya abadi di dalam tempat penyimpanan digitalnya. Bahkan istilah afdruk sudah jarang saya dengar kecuali dari orang tua saya. Sebagai gantinya, istilah print kini menjadi lebih umum digunakan.
Selain istilah afdruk, istilah “foto terbakar” menjadi kata yang populer untuk dijadikan joke di jaman tersebut. “Kade ah bisi kabakar mun si eta ngiluan difoto”, sebuah candaan yang sudah punah berikut dengan jaman keemasan kamera film. “Foto terbakar” merupakan sebuah kondisi di mana kamera terlalu banyak menangkap cahaya matahari, sehingga hasil foto akan ter-expose warna jingga. Uniknya kini “foto terbakar” menjadi sebuah trend foto yang dicari di kalangan penggemar foto vintage, bahkan beberapa aplikasi editing di smartphone menyediakan fitur untuk membuat hasil jepretan kamera digital memiliki sentuhan seperti “terbakar”.

Jaman tersebut merupakan jaman di mana hobi memotret butuh strategi, usaha dan uang saku yang lebih. Satu buah roll film paling banyak berisikan 36 peluru seharga kurang lebih 30.000 rupiah, untuk anak SMA di tahun 2002, harga tersebut sudah cukup mahal, kira-kira setara dengan uang saku 7-10 hari sekolah, belum lagi untuk mencetak foto butuh sekitar 27.000 Rupiah untuk cuci dan afdruk foto. Cuci cetak sudah mandatory hukumnya karena dokumentasi foto cukup ribet untuk disimpan dalam bentuk softfile kala itu. 

Jelang kelulusan dari SMA, saya masih belum memiliki kamera film sendiri, namun sudah dibuat terpukau dengan kehadiran teknologi digital kamera yang sudah merambah dunia saat itu. Acara perpisahan SMA di Gedung Nurtanio Bandung menjadi pengalaman pertama saya menggunakan kamera digital. Tak perlu takut “terbakar” hasil fotonya, karena setiap gambar yang sudah diambil dapat dilihat hasilnya langsung pada kamera. Lebih hemat sudah pasti, karena tak perlu melalui proses cuci cetak, hasilnya pun dapat dengan mudah disimpan di komputer. Di tahun yang sama telepon genggam yang memiliki kemampuan menangkap gambar pun hadir di Indonesia dan langsung menjadi trend anak muda saat itu. Teman-teman sekelas yang sudah dapat memiliki telepon berkamera langsung dicap sebagai anak orang yang cukup berada, karena harganya yang di luar daya beli rata-rata masyarakat saat itu.

Tahun 2017, saya masih tak bosan melihat dunia dari belakang jendela bidik, bahkan seringkali mendapat penghasilan tambahan dengan menjadi juru potret. Saya pun beberapa kali berganti pekerjan di beberapa perusahaan yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan fotografi, namun saya tetap ditempatkan sebagai juru tembak bersenjatakan kamera dalam hampir setiap acaranya. Bahkan dalam sebuah acara family gathering kantor, saya sama sekali tak mendapatkan foto diri saya tersimpan dalam folder dokumentasi acara, karena sepanjang acara selalu saya yang berada di belakang jendela bidik, bergerak liar di luar lingkaran kelompok. Bisa jadi gerakan saya sama sekali sudah tak disadari orang. Melihat hasil foto bersama di akhir acara, saya jadi berpikir, apakah mereka akan ingat saya saat 10 tahun kemudian melihat kembali foto tersebut?
“Punten a”, begitu ucap saya saat melewati seorang pemuda yang mungkin sepantar sedang merokok di depan pintu rumahnya. “Mangga..mangga kang”, begitu timpal sang pemuda tersebut pertanda memperbolehkan saya melintas. Tak lama kemudian, saya pun melihat seorang Ibu separuh baya yang sedang memotong sayur sambil berbincang dengan seseorang di dalam rumah, “punten bu”, ucap saya kembali seraya memohon maaf karena aktivitasnya sedikit terganggu dengan keberadaan saya. “Mangga jang”, Ibu tersebut pun membalasnya. Tak jauh dari keberadaan Ibu tersebut saya pun sudah dapat melihat sekumpulan bapak-bapak yang terlihat asyik berkumpul sambil berbincang mengenai hasil pertandingan sepak bola tadi malam. Melihat hal tersebut, saya pun mengambil ancang-ancang untuk kembali sedikit membungkukan badan untuk mengucapkan “punten”.
“Punten” adalah istilah dalam Bahasa Sunda untuk mengungkapkan rasa santun dalam meminta maaf ataupun izin. Punten seringkali diucapkan saat kita melintas di depan seseorang yang sedang beraktivitas atau sedikit menghalangi laju jalan.

Pengalaman ini saya alami saat beberapa kali mengunjungi “Gang 1000 Punten”. Istilah Gang 1000 Punten biasa saya gunakan saat harus melintasi gang kecil dengan lebar jalan yang hanya cukup untuk satu orang berjalan di tengahnya. Rumah-rumah yang terletak di dalamnya memaksa sang penghuni untuk nongkrong di mulut pintu rumahnya sendiri untuk berbincang satu sama lain dengan tetangganya yang hanya berjarak satu langkah dari tempat ia tinggal.Tentunya orang-orang yang lalu lalang melintasi depan rumah mereka akan selalu menyebutkan kata punten (permisi) untuk menunjukkan santun. 

Gang semacam ini biasanya terletak di pemukiman padat penduduk di Kota Bandung ataupun banyak kota besar lainnya di Indonesia yang bagaikan membentuk labirin yang cukup panjang, sehingga kita harus berkali-kali menyebut punten saat melintasi kawasan-kawasan tersebut. Maka dari itu lahirlah julukan gang 1000 punten. Tak jarang bila kita melewati gang-gang ini, kita mungkin tidak dapat kembali melewati jalan semula dikarenakan banyaknya cabang jalan yang harus dilewati. 

Burung dan jemuran adalah 2 hal yang akan paling banyak kita temui saat melintasi gang 1000 punten. Sejak sering blusukan ke dalam kampung-kampung kota saya mulai menyadari bahwa memelihara burung adalah hobi yang sangat digandrungi oleh warga kampung kota di Indonesia. Penggemar burung atau banyak yang menjulukinya sebagai “Kicau Mania” rata-rata memiliki 2-3 ekor burung di rumahnya. Sensasi lain yang saya rasakan adalah saat kepala ditetesi air dari pakaian yang sedang dijemur di balkon rumah atau bahkan mengalami wajah yang berdampingan langsung dengan pakaian dalam saat berjalan menyusuri gang.


Tak jauh dari tempat tinggal saya saat ini terdapat pula gang sempit yang dapat pula dijuluki  Gang 1000 Punten. Lebih ekstrimnya lagi, gang dekat rumah saya memiliki kamar mandi yang langsung berbatasan dengan jalan umum dan juga terpisah dengan rumah. Sehingga saat sang tetangga selesai mandi, kepala yang masih basah dan badan yang terburu-buru dikeringkan dengan langsung menggunakan pakaian menjadi salah satu pertunjukkan yang biasa saja dilihat secara umum oleh warga sekitar.
“Kalau Jerman dulu ngeruntuhin Tembok Berlin, kita malah bangun Tembok Berlin sendiri di kampung”, begitu cerita Kang Edi dari Manteos. Manteos ini bukanlah sebuah daerah di dataran latin sana, nama ini merupakan sebuah kampung yang letaknya hanya sekitar 5 menit berkendara dari Jl. Dago Bandung. Memang di kawasan tersebut terdapat sebuah tembok besar dan memanjang membentengi salah satu bagian kampung. Bedanya, bila Tembok Berlin di Jerman berfungsi untuk memisahkan, Tembok Berlin di Manteos justru berfungsi untuk mempersatukan. Tempat ini merupakan ruang publik yang sering digunakan warga dan anak-anak untuk beraktivitas. Tembok Berlin yang ikonik ini menjadi satu dari sekian banyak hal menarik yang saya temukan saat berkunjung ke Kampung Manteos. Sedikit meminjam branding campaign yang sering disuarakan National Geographic yaitu “let’s get lost”, menjelajahi dan menyesatkan diri  pada setiap lekuk dari Kampung Manteos yang bagaikan labirin memberikan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Perkampungan kota di Bandung tentunya bukan hanya Manteos saja, sebelumnya saya bersama dengan Komunitas Aleut pernah juga mengunjungi Cikapundung Kolot yang hilang, Blok Tempe yang revolusional, serta Cibuntu yang ternama. Namun tentu setiap kampung yang kami kunjungi memiliki keunikan yang membawa  cerita baru dalam setiap episodenya. Keunikan Kampung Manteos ini terletak dari struktur perkampunganya yang didirikan di Lembah Sungai Cikapundung, sehingga dari kejauhan kampung ini akan terlihat seperti rumah yang bertumpuk. Tampilannya sering digambarkan sebagai Rio De Janeiro-nya Kota Bandung, atau mungkin boleh saja kalau kita sebut Rio De Janeiro Van Bandoeng.
Tembok Berlin Kampung Manteos
Pemandangan Kota Bandung Dari Kampung Manteos
Nama Manteos memang terdengar seperti diambil dari bahasa Spanyol, saya berpikir bahwa nama tersebut memang merupakan sebuah wilayah yang berada di Spanyol atau Amerika Latin, bahkan sempat juga berpikir bahwa nama tersebut merupakan nama seorang pesepakbola yang bermain di La Liga. Walau ternyata bukan nama seorang pesepakbola, salah seorang kawan dari Komunitas Aleut mengatakan nama tersebut konon diambil dari seorang preman yang dulu tinggal di sana bernama Don Manteos. Kemungkinan nama Manteos tersebut merupakan adaptasi dari nama Mathius yang tergubah oleh lidah Sunda. Namun versi lain mengatakan bahwa Manteos dulunya merupakan nama sebuah gedung yang berdiri tak jauh dari kampung yang disebut Main House, lagi-lagi dikarenakan kearifan lidah lokal, maka warga menyebutnya dengan sebutan Manteos.


Begitu memasuki area Kampung Manteos, warna-warna cerah mulai  menggoda sudut mata untuk memindai tampilan wajah kampung yang ngejreng ini. Mural berbentuk segitiga warna-warni pada setiap penjuru dinding rumah yang kami temui di sekeliling Bale Warga memang sangat mencolok. Desain mural berbentuk segi tiga dipilih dengan alasan agar ketika cat pada dinding mulai memudar atau rusak, maka akan mudah diperbaiki oleh seluruh warga, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Inisiasi untuk menggambar mural di sekeliling kampung datang dari tim Alumni Arsitektur Unpar tahun ’91. Proses penggambaran mural ini masih berlangsung hingga seluruh penjuru kampung berhasil terwarnai di akhir maret 2017 nanti.


Tak hanya dindingnya yang berwarna-warni, hidangan yang disajikan untuk kami saat itu pun sangat berwarna dan cukup memberikan bekal untuk mengarungi perjalanan keliling kampung. Kelepon, Getuk dan secangkir Bajigur hangat, kombinasi tepat yang sedikit mengobati kerinduan saya akan jajanan tradisional. Mungkin sudah bertahun-tahun lamanya lidah saya tak merasakan getuk yang ditaburi kelapa serut seperti ini. Cemilan-cemilan ini tentunya sudah sangat sulit ditemukan di penjuru Kota Bandung.
Jajanan Tradisional Suguhan Warga Kampung Manteos

Tak jauh dari Bale Warga, terdapat konsep pembangunan Kampung Manteos yang disajikan melalui infographic apik yang ditempel di salah satu dinding rumah warga yang cukup membuat kami terpukau. Karena dalam kunjungan kami ke berbagai kampung kota selama ini, baru di Kampung Manteos saja sebuah planning concept diinformasikan dengan cukup baik. Hal ini menandakan keseriusan berbagai pihak yang mendukung kemajuan pengembangan kampung ini.
Infografis Kampung Manteos

Mungkin benar kata seorang kawan yang menjuluki Kampung Manteos ini sebagai kampung seribu tangga, karena sepertinya kami menuruni anak tangga yang takkan ada habisnya. Padahal ini baru turun, bisa dibayangkan saat kami kembali naik ke area Bale Warga nantinya. Di tengah jalan, kami juga menemukan selang yang jumlahnya cukup banyak berada di samping setiap jalan yang kita lewati. Saat kita telusuri, selang-selang tersebut mengarah pada sebuah ruangan kecil di sebuah bangunan. Pak Yayat, seorang warga yang menemani perjalanan kami mengatakan bahwa di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah mata air. Dari mata air inilah warga mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari mereka, karena warga Kampung Manteos memang tidak dipasok air ledeng.


Akhirnya kami pun tiba di Tembok Berlin yang melegenda. Dan nampak semua warga di sini pun kompak menyebut tembok ini dengan sebutan Tembok Berlin. Awalnya tembok ini dibangun untuk digunakan sebagai jalan mobil, namun ternyata karena pembangunannya kurang tersampaikan dengan baik kepada warga lainnya, akhirnya pembangunan tembok ini terbengkalai. Dari tembok ini pun kami dapat melihat panorama Kota Bandung dari sudut yang tak pernah kami jumpai sebelumnya. Kami dapat melihat rumah-rumah kecil yang bertumpuk dan mengelilingi beberapa raksasa beton yang mulai mengisi langit kota ini.
Perjalanan menembus Kampung Manteos

Dari Tembok Berlin kami beranjak turun sampai menemukan aliran air Sungai Cikapundung. Hal baru yang saya temukan di sini adalah warna aliran air Cikapundung yang terbilang masih cukup bening. Walau sejak tahun 2005 warga sudah tak pernah menggunakan aliran air ini untuk mandi dan mencuci baju karena mulai kotor, air Sungai Cikapundung yang mengalir di samping Kampung Manteos cukup bersih bila dibandingkan dengan daerah aliran air Sungai Cikapundung yang melintasi Jl. Asia Afrika dan sudah terlihat seperti air Bajigur. “Nah Bajigur yang tadi kalian minum teh langsung kita ambil dari sini,  cuma kita panasin aja”, canda Kang Edi yang kemudian disambut gelak tawa seluruh peserta ngaleut Manteos.
Aktivitas anak-anak di pinggir aliran Sungai Cikapundung yang melintasi Kampung Manteos

Walau sudah tidak dipergunakan untuk mandi dan mencuci pakaian, warga masih sering berkegiatan di bantaran sungai. Saat itu saya melihat anak-anak yang tadi berlarian di Tembok Berlin sedang berlomba melempar batu di pinggir sungai. Beberapa meter di sampingnya, terdapat dua pemuda yang terlihat asyik dengan kail pancingnya. Saya sempat bertanya pada salah satu pemuda tersebut, “kang laukna seueur kitu?”. “Oh lumayan da ayaan keneh, seueur”, jawabnya. Hal ini menandakan aliran air di dekatnya masih memiliki kualitas yang cukup baik, hingga ikan masih dapat hidup di dalamnya.


Hal lain yang cukup menarik perhatian saya di aliran Sungai Cikapundung yang melintasi Manteos adalah terdapat banyak sekali batuan datar di pinggir sungai. “Ya dulu warga mencuci pakaian di batu-batu itu”, ujar Pak Yayat yang dijuluki white lion oleh kawan-kawannya karena rambutnya yang sudah memutih seluruhnya. Saya pun sempat melihat kabel-kabel yang melintasi bagian atas sungai dengan jumlah cukup banyak. Sebelum saya mulai bertanya, nampaknya Pak Yayat sudah menangkap raut kebingungan di wajah saya. “Nah yang itu bukan kabel, itu selang air yang berfungsi mengambil air dari sela-sela cadas. Selain dari mata air tadi, ada beberapa warga yang mendapatkan air dari aliran air yang mengalir di antara batuan cadas”, tambah Pak Yayat.
Batu yang dulu digunakan untuk mencuci pakaian di pinggir sungai Cikapundung
Selain itu, rupanya terdapat beragam kisah unik yang menghiasi warga Kampung Manteos yang tinggal di bantaran Sungai Cikapundung ini. Salah satunya adalah kisah tentang leuwi beurit yang seringkali mengeluarkan suara mirip gamelan di malam hari. Kisah lainnya datang dari satu jembatan yang menjadi jalan satu-satunya warga untuk menyeberang sungai. Dahulu jembatan besi tersebut pernah hilang selama beberapa hari setelah hujan yang cukup deras. Awalnya warga menyangka kalau jembatan tersebut hanyut oleh banjir, namun setelah menelusuri sungai, jembatan tersebut tidak ditemukan. Setelah berhari-hari, dengan ajaib jembatan tersebut kembali muncul di tempat semula, hanya saja dengan bentuk yang melengkung dari bentuk yang sebelumnya lurus.
Jembatan misterius yang pernah hilang
Jembatan ajaib tadi menjadi titik perhentian terakhir kami dalam penjelajahan Kampung Manteos, sebelum kembali ke Tembok Berlin untuk berkumpul bersama kawan-kawan yang lain. Setelah semua peserta ngaleut berhasil finish di Tembok Berlin, Ipin salah seorang kawan kami yang merupakan ahli tumbuhan menceritakan pengalamannya menemukan banyak sekali tumbuhan obat di sekeliling Kampung Manteos. Yang jelas bukan nama-nama tumbuhan yang bisa saya hapal dalam sekali dengar, kecuali tumbuhan Kikorejat yang mampu menyembuhkan sakit mata.


Setelah mendengarkan paparan Ipin soal kekayaan flora yang dimiliki oleh Kampung Manteos, acara dilanjutkan dengan game. Dan baru kali ini saya mengikuti kegiatan ngaleut dengan agenda game di dalamnya. Game ini pun dipandu oleh warga Kampung Manteos dan cukup membuat saya terkesan. Dari kepiawaiannya dalam memimpin game, saya rasa mereka sudah rutin memberikan game pada setiap rombongan yang berkunjung sebagai bagian tour de Manteos.
Game seru yang dipandu warga Kampung Manteos

Tour De Manteos hari ini ditutup oleh penampilan anak-anak dari Kampung Manteos yang sudah berlatih semalaman. Nantinya mereka akan tampil kembali dalam sebuah acara yang akan diselenggarakan tanggal 18 Maret 2017 nanti. Selain itu, saat ini beberapa pemuda kampung sedang mengikuti pelatihan juga untuk menjadi barista. “Nantinya bakal ada kedai kopi keren di Manteos, tunggu tanggal mainnya”, cerita Kang Edi yang menjadi jubir sejak pagi tadi.
Penampilan seni dari anak-anak Kampung Manteos
Kang Edi dan warga Kampung Manteos lainnya memang mengharapkan kampung mereka dapat lebih banyak dikenal dan dikunjungi orang. Program-program menarik telah mereka siapkan untuk membuat kunjungan ke Kampung Manteos menjadi berkesan. Salah satu program yang disiapkan adalah membuat amazing race dengan rute keliling Kampung Manteos ini. Keunikan struktur kampung yang berundak-undak akan menjadi tantangan tersendiri bagi peserta race yang berpartisipasi. Tertarik bertualang menjelajahi lekuk tubuh Kampung Manteos? Langsung datang saja ke Kampung Manteos yang terletak di Kecamatan Coblong, tepat di belakang bangunan Komplek Dinas Psikologi Angkatan Darat. Let’s Get Lost in Manteos!