Beberapa tahun lalu, saya mulai berhenti mencetak foto yang saya ambil. Sebagai gantinya, aktivitas mencetak foto tersebut dialihkan menjadi aktivitas posting di Instagram. Tentu saja rasanya memang berbeda. Tapi yang pasti, cukup dapat memangkas biaya yang harus keluar dari mencetak foto. Namun tidak begitu dengan ayah saya yang hingga hari ini tetap rajin mencetak foto yang ia ambil melalui gawainya. Saya rasa, memang perbedaan generasi cukup berpengaruh.
Hasil foto menggunakan kamera Instax SQ10
Ngomong-ngomong soal Instagram, mungkin kita semua masih ingat bagaimana platform social media tersebut pertama kali hadir di perangkat telepon pintar. Semua foto yang diposting wajib berbentuk square, alias, keseluruhan sisinya haruslah memiliki ukuran yang sama. Hal ini memang tercermin dari bentuk logonya yang mengambil wujud sebuah kamera polaroid yang juga menghasilkan foto berformat bujur sangkar. Setelah aturan foto square dihapuskan Instagram, otomatis feel menggunakan aplikasi foto yang satu ini pun menjadi berubah. Namun, pengalaman memotret dengan aturan format square tersebut, kembali bisa saya rasakan dalam acara hunting photo bersama Instax Indonesia di Car Free Dago Bandung yang diadakan pada 14 Juli 2019.

Instax sendiri merupakan nama lini merek dari Fujifilm Indonesia untuk produk kamera polaroid. Walaupun sama-sama berformat square, tentunya ada perbedaan yang cukup kentara antara Instax dan Instagram. Dengan Instax, kita dapat langsung mencetak hasil foto yang telah kita ambil. Karena memang saya tidak memiliki kamera Instax, saya pun mendapatkan pinjaman dari Fujifilm Indonesia sebagai penyelenggara acara ini, berupa satu kamera Instax tipe SQ10. Tipe kamera ini sebetulnya cukup memudahkan saya yang sebelumnya sudah sangat terbiasa memotret dengan kamera digital. Karena Fujifilm Instax SQ10 ini memiliki fitur untuk dapat me-review foto terlebih dahulu sebelum dicetak. Walaupun begitu, saya tetap lebih berhati-hati dalam memotret. Karena kalau motret seenaknya saja, lalu apa bedanya dengan memotret menggunakan kamera digital biasa.

Sebagai bekal nyetrit saya pagi itu, saya juga diberikan satu pak Instax Square Paper yang berisikan 10 kertas cetak. Cara memasang ‘peluru’ tersebut di kamera, bisa dibilang cukup mudah. Tidak seperti bila kita memasang roll film pada kamera analog yang harus lebih berhati-hati. Kemudian saya dan peserta yang lain ditantang untuk membuat seri foto dari aktivitas yang sedang berlangsung di Car Free Day Dago. Karena cuaca cukup cerah, saya pun memutuskan untuk membuat seri foto bertemakan bayangan.

Jepretan pertama saya rupanya tak semudah yang dibayangkan. Hampir sepuluh menit berlalu, saya hanya berdiri di satu titik di Taman Cikapayang dengan mengarahkan kamera ke salah satu batu bulat yang sering dilintasi pejalan kaki. Beberapa momen menarik pun terlewatkan, karena saya terlalu takut untuk menekan tombol rana. Kondisi ini sepertinya akan sangat berbeda bila saya memegang kamera Fujifilm X-M1 yang biasa saya gunakan. Hingga akhirnya, momen pertama yang saya dapatkan dari kamera instax ini adalah bayangan seorang anak (yang mungkin) bersama bapaknya sedang berlari.

Setelah momen pertama tersebut, langkah saya selanjutnya menjadi lebih ringan dan berani dalam mengambil momen. Saya pun berjalan hingga ujung area Car Free Day Dago yang baru saya ketahui bahwa kini area di ujung utaranya telah memendek ke Jl. Dayang Sumbi dari yang sebelumnya berada di Simpang Dago.

Tanpa terasa waktu dua jam pun telah terlewati. Foto yang saya ambil ternyata lebih dua, sehingga saya harus memilih foto-foto mana saja yang akan saya cetak. Proses developing-nya ternyata cukup mudah. Dengan satu hingga dua kali klik saja, selembar kertas foto pun perlahan keluar dari bagian atas kamera dengan kondisi putih bersih, tak ada image yang muncul. Namun hal ini merupakan hal yang wajar, karena selanjutnya akan ada proses developing dari photo paper tersebut untuk menampilkan gambar.

Setidaknya, butuh sekitar tujuh menit untuk gambar dapat tampil dengan sempurna. Walaupun gambar sudah selesai ter-develop, ternyata tetap ada sedikit perbedaan tone, serta feel yang muncul, antara image yang ada di preview LCD dengan hasil foto yang dicetak. Warna yang dicetak di kertas foto saturasinya terasa lebih light. Warna hitam pada bayangannya pun nggak ngageblak, kalau dalam istilah Bahasa Sundanya mah. Mungkin agak mirip bila foto kita edit menggunakan filter-filter di aplikasi VSCO. Tapi, entah kenapa, saya justru lebih menyukai hasilnya. Hal ini menjadi sesuatu yang tak diduga-duga. Dan entah kenapa, emosi dalam fotonya pun jauh lebih terasa. Tidak seperti bila kita mencetak secara digital, ataupun mencetak foto dari roll film. Saya pun tidak tahu apakah karena ukurannya yang kecil, atau karena space putih yang membingkai foto square ini memberikan pengaruh terhadap citra foto atau tidak. Rasanya lembar-lembar foto ini mengingatkan saya kepada film Memento karya Christopher Nolan yang menjadi kunci dari alur cerita pada film tersebut.

Semakin tinggi matahari naik, semakin dekat juga waktu saya untuk berpisah dengan kamera Instax SQ10. Yang pasti, ada sedikit sesal bercampur kesal dengan mengikuti acara ini. Karena setelahnya saya jadi benar-benar ingin memiliki sebuah kamera Instax untuk sekali-kali ‘nyetrit’ atau membuat foto seri dari kamera tersebut. Semoga bisa berjodoh.


Setelah huru-hara yang sempat terjadi beberapa tahun lalu di area parkir Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, premis “Ngopi di Tengah Hutan Pinus” di Bandung memang ikut lenyap pula. Sejak peristiwa tersebut, belum ada tempat ngopi lain dengan vibe yang setidaknya sama, serta dengan jarak yang cukup terjangkau dari pusat kota. Namun ternyata, dari sekitar satu tahun yang lalu, Tahura sudah memiliki tempat ngopi dengan suasana yang juga dikelilingi hutan pinus, bernama Dalem Wangi Bed & Brew. Tak tanggung-tanggung, kali ini letaknya berada di tengah-tengah belantara hutannya. Jadi, untuk menuju ke sini memang harus masuk dulu ke dalam area Tahuranya.
Dalem Wangi Bed & Brew
Kalau bukan Kang Ncis yang menjadi narasumber konten Youtube saya hari itu tak mengajak saya kemari, mungkin saya tidak akan pernah tau ada tempat ngopi seadem ini di Bandung. Untuk dapat mencapai Dalem Wangi Bed & Brew, tak perlu memarkir kendaraan di area parkir, dan berjalan dari gerbang Tahura. Karena ternyata, Tahura memiliki jalan samping yang dapat ditembus kendaraan bermotor. Fakta lainnya yang baru saya tahu, ternyata masuk Tahura itu gratis setelah pukul 4 sore, sehingga, saya dapat langsung memacu motor saya ke arah Dalem Wangi Bed & Brew yang rupanya berada di dekat patung dada Ir. H. Djuanda.

Dalam perjalanan, saya menjumpai banyak monyet jenis ekor panjang yang berkeliaran bebas di jalan, persis seperti di Ubud. Yaa.. walaupun saya belum pernah ke Ubud, tapi setidaknya foto teman-teman saya di Instagram menaruh sebuah imajinasi di kepala saya. Biasanya kalau saya berkunjung ke Tahura, agak sulit menemukan mereka berjalan bebas di jalanan. Mungkin memang mereka juga sudah tau bahwa biasanya pada waktu sore menjelang terbenam matahari, pengunjung sudah mulai sepi, sehingga mereka lebih berani menampakkan diri.
Monyet-monyet ekor panjang yang saya temui di perjalanan menuju Dalem Wangi Bed & Brew
Di luar dugaan, Dalem Wangi Bed & Brew ini ternyata memiliki bangunan yang sangat artistik. Saya rasa memang rancangannya pasti dikerjakan oleh arsitek, dan sengaja dibangun dengan tanpa menebang pohon. Sehingga, di dalamnya kita dapat melihat pohon dapat tumbuh bebas menembus langit-langit cafe. Keseluruhan kerangkanya sendiri terbuat dari kayu yang diselimuti oleh dinding-dinding kaca. Hal ini membuat cahaya matahari pada pagi dan sore hari dapat jatuh dengan indah ke dalam ruangan. Selain itu, tempat ini juga memiliki area outdoor yang nyaman. Sebagian di antaranya bahkan dibuat menggunakan lahan yang berada di tengah-tengah pohon pinus.
Rancangan bagian dalam dari Dalem Wangi Bed & Brew
Karena cuaca mulai terasa dingin seiring dengan keadaan yang mulai gelap. Walau judulnya tempat ngopi, sore itu saya memesan wedang jahe untuk menghangatkan tubuh. Sebagai cemilan, saya memesan paket menu dimsum seharga Rp35.000 yang berisikan 7 pcs dimsum dengan jenis yang berbeda-beda. Bagi saya menu ini istimewa. Karena selain rasanya yang memang enak, sangat jarang menu dimsum itu disajikan oleh kedai kopi.

Sesuai dengan namanya, Dalem Wangi Bed & Brew juga memiliki 'bed' yang tersedia di dua pondokan yang dapat menjadi tempat bermalam pengunjung yang ingin merasakan suasana malam di Tahura. Khusus untuk tamu pondok, pelayanan dari Dalem Wangi akan berlaku selama 24 jam. Sedangkan untuk pengunjung café, harus mengikuti jam operasionalnya yang buka pukul 8 pagi hingga 9 malam, pada hari selasa hingga minggu.
Ray of light yang muncul saat sore hari di Dalem Wangi Bed & Brew
Nah, buat yang penasaran dengan feel & vibes yang ditawarkan oleh Dalem Wangi Bed & Brew, kamu bisa mencoba mampir ke sini saat sedang berwisata ke Tahura atau Tebing Keraton, atau bisa sengaja saja berkunjung untuk menikmati suasana nyaman dan unik yang disajikan di sini.
Hutan pinus menjadi dekorasi alamiah yang mempercantik Dalem Wangi Bed & Brew



Ada yang berbeda pagi itu ketika saya memacu motor ke arah kantor yang saat itu masih berada di kawasan Kyai Gede Utama, Bandung. Sebuah restoran dengan tampilan cukup kece kini hadir menarik sudut mata. Dari tampilannya yang artsy, awalnya saya beranggapan bahwa bangunan restoran bertuliskan nama Delapan Padi ini merupakan sebuah restoran yang menyajikan menu-menu standar ala café di Dago yang harganya cukup tinggi. Namun ternyata, resto Delapan Padi ini menyajikan menu-menu masakan ala warteg, lho. Hal ini baru saya ketahui justru ketika saya sudah berganti pekerjaan dan kantor.
 
Resto Delapan Padi Bandung menyajikan menu makan siang dengan konsep parasmanan ala warteg.
Untuk ukuran sebuah resto, Delapan Padi ini memiliki space yang sangat besar. Beberapa ruangannya didesain dengan sofa yang nyaman untuk bersantai dan berlama-lama di sini. Sementara di area paling belakangnya, terdapat sebuah area semi outdoor dengan menggunakan ayunan sebagai tempat duduknya. Lalu ada juga beberapa stools dan meja yang dibuat memanjang ala bar yang mungkin akan cocok untuk yang datang untuk makan sendirian di sini. Selain area ground, area lantai dua pun sepertinya dapat digunakan untuk private event dengan kapasitas hingga sekitar 100 orang.
Salah satu area di Delapan Padi Bandung yang dilengkapi dengan ayunan.
Nah, mumpung kebetulan bisa makan siang di Delapan Padi, saya pun mencoba menu parasmanan ala wartegnya. Menu-menu ini dihidangkan khusus hanya pada pukul 11 siang hingga pukul 4 sore saja. Cocok buat yang cari tempat makan siang murah meriah, tapi suasananya eksklusif. Harga rata-rata per menunya di Rp5.000/item, namun untuk menu daging, tentunya ada sedikit penyesuaian. Kita juga bahkan bisa memesan nasi setengah porsi layaknya di warteg. Jadi, misalkan bila kita memesan nasi setengah dengan tempe orek, dan terong, harganya hanya Rp13.000. Bedanya dengan menu warteg, tentu saja terletak di segi cita rasa yang sudah di-upgrade ke level resto, serta beberapa hidangannya yang tak bisa dinikmati di warteg. Contohnya seperti daging sapi Mongolian, dan daging bumbu matah. Total terdapat 30 macam menu yang digilir setiap harinya.
Satu porsi hidangan menu ala warteg di Delapan Padi Bandung yang melimpah.
Di samping menu parasmanan, Delapan Padi juga menyajikan hidangan ala carte yang tak kalah unik dan lezat. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Bala-Bala Pizza yang dibandrol Rp30.000 saja per porsi. Dengan harga tersebut, menu ini sudah bisa dinikmati hingga 5 orang. Sesuai dengan namanya, Bala-Bala Pizza ini merupakan bala-bala yang disajikan dengan bentuk dan topping pizza, serta dipotong melingkar. Ditambah, lumeran keju mozzarella yang menutupi seluruh permukaan bala-bala ini memang menjadi visual yang menggoda untuk dicicipi. Di samping menu fusion satu ini, ada menu-menu lainnya juga seperti French toast, mie bakso, apple pie strudel, dan tak lupa, signature drink Klepon Frappe yang berasa persis seperti jajanan tradisional Klepon, lengkap dengan taburan serutan kelapanya.
Bala-Bala Pizza ala Delapan Padi Bandung
Lain waktu, lain juga menu. Bila kamu mencoba datang ke sini pagi hari, menu yang disajikannya pun akan berbeda ketika kamu datang saat waktu makan siang. Delapan Padi memang terlihat ingin memenuhi kebutuhan menu customernya dengan tepat, sehingga pengunjung pun dapat mampir untuk makan di sini sepanjang hari, tanpa merasa bosan dengan pilihan makanan yang ada. So, buat kamu yang mencari tempat makan sekaligus spot nongkrong yang asyik di sekitaran Dago dan Dipati Ukur, Delapan Padi ini bisa menjadi pilihan.
Beragam menu di ala carte di Delapan Padi Bandung


Delapan Padi
Jl. Dipati Ukur No. 8, Bandung
Buka: 06.30-23.00 WIB


Tips agar bisa makan hemat di Braga Permai adalah dengan datang pada waktu sarapan. Betul, hanya itu saja. Tapi tentunya saya tak ingin Anda untuk berhenti membaca tulisan saya sampai di baris pertama, jadi biarkan saya untuk menyeritakannya secara lebih detail. Saya sudah mengeluarkan uang untuk sarapan di sini, jadi tolong baca hingga selesai.



Braga Permai yang dulu bernama Maison Bogerijen ini bagi saya adalah salah satu restoran paling sakral yang ada di Kota Bandung. Saking sakralnya, langkah saya selalu terhenti di pintu masuk. Iya, daftar menu beserta harga lengkapnya yang dipajang di bagian depan restoran, selalu berhasil menghentikan saya untuk bergerak lebih jauh. Rata-rata harga hidangan main course-nya yang berada di atas Rp50.000 memang cukup membuat saya mengurungkan niat untuk menyicipi kuliner yang dikenal legendaris di Bandung tersebut.

Namun segala keraguan, dan rasa berat dalam melangkah itu berubah menjadi ringan tatkala Braga Permai meluncurkan breakfast package tahun lalu. Bayangkan saja, hanya dengan total Rp30.000, saya sudah bisa menikmati seporsi Mushroom Spinach Avocado Omelette, satu cup poffertjes keju isi empat pcs, serta segelas teh talua. Belakangan, khusus untuk menu poffertjes ini kini diberikan sebagai free compliment saat memesan menu tertentu. Harga tersebut belum termasuk free flow kopi, susu, dan infused water.

Poffertjes, cemilan khas Belanda yang disajikan di menu sarapan Braga Permai.
Soal rasa, tentu sebutan kuliner legendaris ini bukan hanya gelar semata. Semua rasa dari menu-menu Braga Permai tak pernah gagal memuaskan lidah dan perut. Setelahnya, tempat ini menjadi tempat favorit saya untuk santap sarapan di Bandung. Apalagi, hampir setiap beberapa bulan sekali, akan selalu ada menu baru yang dihadirkan. Tak butuh waktu lama, beberapa sarapan setelahnya pun saya berkesempatan mencicipi menu lainnya seperti Bubur Kacang Hijau, Nasi Goreng Hongkong, Nasi Uduk, Nasi Soto Ayam, Lontong Cap Go Meh, Rissoles, Rye Burger, dan Ciabatta. Khusus untuk pemesanan menu Ciabatta dan Rye Burger, saya mendapatkan pudding sebagai free dessert. Dari tiga rasa yang ditawarkan yaitu caramel, strawberry, dan chocolate, saya paling menyukai rasa caramel. Selain bertekstur sangat lembut, rasanya pun sangat khas. Saya belum pernah menyicipi rasa pudding seperti itu selama ini.

Teh Talua, minuman favorit yang selalu saya pesan saat sarapan di sini.
Namun, dari keseluruhan menu yang pernah saya pesan, favorit saya adalah menu-menu tradisional. Walaupun terbilang sangat sering menyantap menu-menu tersebut di luar Braga Permai, tapi rasa yang ditawarkannya sangat berbeda. Sekelas dengan masakan hotel bintang empat atau lima, namun punya ciri khas dari cita rasa. Entah apa yang membedakannya. Yang pasti rasanya tidak template.


Nah, bagi yang ingin mencoba makan hemat di Braga Permai, jangan lupa untuk bangun pagi, dan mampir ke Jl. Braga No. 58 antara pukul setengah 7 pagi, hingga pukul 10 siang. Harga makanan dan minumannya hanya berkisar dari Rp8.000 sampai Rp35.000. Menu Rye Burger yang saya sebut tadi yang memiliki harga Rp35.000. Namun dengan porsi yang dihadirkannya, saya jamin hidangan ini tidak bisa habis oleh sendiri. Tidak seperti yang banyak disajikan di restoran fast food yang rata-rata rotinya tipis-tipis. Jadi, jangan lupa untuk mengajak seseorang yang bisa menemani kamu sarapan di sini. Itu juga kalau ada.


Sore itu, langit begitu cerah tanpa cela. Bahkan sinar mentari pun dapat dengan mudahnya menyingkap jalanan menuju Maroko yang berselimutkan debu. Seharusnya, buff atau masker memang menjadi perlengkapan wajib para pemotor yang melintasi daerah ini. Saya tidak dapat mengenakannya, karena seringkali mengakibatkan kaca mata saya menjadi berembun. Memang ini salah satu derita si mata empat.
Senja di Dermaga Maroko
Maroko adalah sebuah negara Timur Tengah yang memiliki gurun, pantai, dan pegunungan terjal secara bersamaan. Di Jawa Barat sendiri, nama Maroko sempat melejit, ketika pada tahun 2006 silam, klub sepak bola Persib Bandung sempat kedatangan pemain yang berasal dari negara ini. Namun, perjalanan saya kali ini bukan ke Maroko yang menjadi kampung halaman Redouane Barkaoui, tapi ke sebuah kampung di kawasan Cililin, Kabupaten Bandung Barat yang kebetulan bernama persis sama dengan negara yang terletak di ujung utara benua Afrika tersebut.

Nama Kampung Maroko pertama kali saya dengar dari rekan kerja saya di kantor yang kebetulan memang besar di sini. Menurutnya, tak banyak yang istimewa di Maroko, selain keberadaan dermaga yang berhadapan langsung dengan salah satu sisi Waduk Saguling. Namun bagi saya, itupun sudah cukup. Pekerjaan baru saya yang kini lebih banyak berada di belakang layar laptop, membuat saya benar-benar membutuhkan perjalanan ini.

Saya berangkat dengan motor dari tempat tinggal di Pagarsih pada pukul setengah empat sore, dan baru sampai di Dermaga Maroko pada pukul setengah enam sore. Sungguh perjalanan yang ternyata cukup melelahkan dan bikin pegal. Padahal sebetulnya tidak perlu menghabiskan waktu selama itu bila menggunakan jalur Cipatik atau Leuwi Gajah. Namun sayangnya, jalur Cimareme adalah satu-satunya jalur yang saya ketahui, dan hapal benar. Saya tak berani ambil jalur lain, karena ada resiko nyasar yang dapat menyebabkan saya sampai di tempat setelah maghrib.
 
Jalan menuju Kampung Maroko
Tadinya sih, saya berniat datang ke Maroko ini setelah salat subuh. Sengaja memang, agar sekaligus dapat membingkai momen saat matahari terbit. Namun karena belum hapal betul jalurnya, akhirnya waktunya digeser ke sore hari untuk berburu senja. Lokasi yang dituju ini kebetulan berada di arah barat, sehingga memang perjalanan bermotor kali ini layaknya mengejar matahari. Sedikit takut juga kalau-kalau saat sampai, kondisi sudah gelap.

Semakin saya memacu motor ke arah barat, jalan pun terasa semakin mengecil. Dari lebar jalan yang tadinya muat dua mobil, kini sepertinya hanya cukup satu mobil saja dengan menyisakan sedikit space yang mungkin dapat berdampingan dengan satu motor. Sesampainya di dermaga, saya kemudian buru-buru mengeluarkan kamera dari tas, karena posisi matahari saat itu sudah hampir tenggelam di antara dua gunung.

Sedang asyik-asyiknya memotret, seseorang menepuk punggung saya. “Bade kamana a?” tanyanya. “Ah, ieu weh pak, bade popotan hungkul, hehe,” jawab saya. “Pami bade nyeberang, tiasa ka abdi,” balas bapak tersebut. Rupanya bapak ini merupakan pemilik dari salah satu perahu yang banyak ditambatkan di sini. Rupanya bapak ini merupakan pemilik dari salah satu perahu yang banyak ditambatkan di sini. Dari tempat saya berdiri memang terlihat ada sebuah rumah makan yang sepertinya sengaja dibuat berada di tengah-tengah danau sebagai tujuan pengunjung atau wisatawan. Malah sebetulnya, menurut bapak pemilik perahu, ada empat rumah makan serupa yang tersebar di area danau ini yang berbaur dengan beberapa bangunan tambak ikan. Walaupun begitu, memang untuk kategori tempat wisata, Dermaga Maroko ini terbilang sepi. Mungkin karena selain lokasinya yang cukup antah berantah bagi sebagian orang, namanya pun tak banyak diketahui. Saat itu, saya pun melihat hanya ada sekitar 5-6 mobil berplat B yang berisikan rombongan keluarga.
 
Salah satu rumah makan di Dermaga Maroko, Cililin, Kabupaten Bandung Barat
Awalnya setelah beres memotret momen senja, saya ingin mencoba berkeliling juga dengan salah satu perahu yang disediakan, dan menyantap makanan tradisional Sunda di salah satu rumah makan terapung di situ. Namun karena tampaknya rumah makan yang ada diisi oleh rombongan wisatawan, saya pun mengurungkan niat. Walaupun sepertinya masih ada beberapa meja tersisa di rumah makan tersebut, tapi akan menjadi sangat canggung rasanya bila ikut makan sendirian bersama mereka di sekelilingnya. Idealnya, satu rumah makan diisi oleh satu rombongan keluarga besar saja pada satu waktu.

Untuk harga menu makanannya, rentangnya mulai dari Rp40.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk satu bakul kecil nasi, ayam goreng/bakar, serta tahu dan tempe. Setidaknya itu bocoran menu yang saya dengar dari salah satu pemilik perahu di Dermaga Maroko. Mungkin hidangan yang ditawarkannya mirip-mirip dengan setelan yang ada di Punclut. Ya, mungkin untuk selanjutnya, saya akan langsung mencobanya, dan tentunya tidak akan datang sendiri lagi, haha.

By the way, biaya sekali jalan naik perahu di sini hanya Rp5.000. Perahunya akan tetap berjalan, walaupun dengan penumpang satu penumpang saja. Selain itu, foto-foto di sini pun tidak dikenakan biaya. Sebetulnya saat ditegur oleh salah seorang pemilik perahu, saya sempat takut kalau-kalau memotret di tempat ini berbayar dengan nominal cukup tinggi. Namun untungnya, hal tersebut tidak terjadi. Para pemilik perahu, serta warga sekitar yang melihat saya memotret, tampak santai saja melihat saya mengulik settingan kamera, dan memasang tripod. Sebelum pulang, saya juga sempat mendapat sebuah cerita dari salah seorang pemuda yang juga menjalankan jasa penyeberangan dengan perahu tentang kampung Maroko yang awalnya bernama Cimaroko. Namun dia sendiri pun tidak tahu arti dari nama tempat tinggalnya tersebut. Mungkin karena sepertinya dia masih muda. Andai saja saat itu saya dapat bertemu tetua kampung, barangkali ada kisah lain yang bisa digali. Yang pasti, dulunya dermaga ini merupakan Pasar Aci. Sesuai dengan namanya, “aci” di sini merupakan Bahasa Sunda dari tepung yang terbuat dari singkong, atau dengan kata lain tepung tapioka. Jadi Pasar Aci di sini merupakan tempat berjualan tepung aci. Sayangnya, kini Pasar Aci sudah tidak khusus menjual tepung aci, tetapi menjadi pasar yang berjualan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari pada umumnya. Uniknya, pasar tersebut hanya digelar pada hari Selasa dan Jumat saja.
Rombongan keluarga yang tengah menyewa perahu untuk menyeberang ke rumah makan.
So, buat yang mencari tempat untuk bersantai bersama keluarga, saya rasa Dermaga di Kampung Maroko ini bisa menjadi tujuan alternatif dibandingkan tempat wisata populer lainnya. Namun, kalaupun suatu saat dermaga ini mulai ramai dikunjungi wisatawan, ada baiknya untuk menghindari pembuatan spot selfie secara berlebihan. Walaupun memang bisa memberikan dampak ekonomi bagi warganya, akan tetapi dari banyak tren saat ini, hal tersebut banyak memicu kerusakan alam, dan sebetulnya juga merusak keindahan secara visual dari alam itu sendiri.


Sejak pertama mendengar nama “Big Bad Wolf”, pikiran saya sudah langsung tertuju pada sebuah dongeng ternama berjudul Red Riding Hood. Ternyata, saya memang tak salah ingat. Nama karakter yang kemudian digunakan oleh sebuah event bazaar buku ini memang berasal dari cerita tersebut. Hal ini terjawab saat saya melihat sebuah baligho tentang komunitas charity bernama Red Reading Hood di venue event tersebut di Bandung. Namun ketika itu, saya belum dapat menemukan alasan antara pemilihan nama Big Bad Wolf untuk sebuah acara buku, kecuali namanya yang terdengar cukup badass untuk dilabeli sebagai event bazaar buku terbesar di dunia.
Suasana Big Bad Wolf Bandung di Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, pada Sabtu (29/6) malam.
So, sejujurnya, awalnya saya tak begitu tertarik dengan event ini, dengan alasan buku-buku yang dijualnya kebanyakan berbahasa Inggris. Itu artinya, akan butuh usaha lebih untuk menikmati buku-buku tersebut sepulang kerja. Jangankan yang berbahasa Inggris, buku-buku karya penulis luar yang terjemahannya kaku pun sangat sulit untuk dicerna otak yang sudah lelah bekerja seharian.

Namun pada akhirnya, hype yang dibagikan teman-teman di social media, berhasil membuat saya memacu Revo hijau kesayangan ke Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, pada sabtu malam kemarin. Yah, hanya sekadar memuaskan rasa penasaran dengan melihat suasananya, lalu pulang. Tapi ternyata, adegan yang direncanakan, tidak menjadi kenyataan. Malam itu saya terjebak rayu si serigala besar jahat dengan membeli dua buah buku foto karya dua fotografer ternama dunia, yakni Empty Quarter karya Steinmetz, dan Beijing: Contemporary and Imperial, karya Lois Conner. Saya sendiri tak menyangka dapat menjumpai ada buku foto di antara begitu banyaknya tumpukan buku yang dihadirkan di sini. Karena memang passion saya di fotografi, serta buku foto tentu tidak akan terlalu banyak menguras energi untuk menikmatinya, section art & photography section menjadi sudut favorit saya malam itu. Pada saat itu, saya pun mulai menyadari arti nama Big Bad Wolf ini mungkin memang benar jahat dalam artian akan menguras dompet siapapun yang datang ke tempatnya.
Beberapa buku art & photography impor yang dijual di Big Bad Wolf Bandung 2019.
Memang dibanding cerita kawan-kawan yang sudah terlebih dulu merasakan ‘kekejaman’ Big Bad Wolf, jumlah dua buku yang kemudian saya bawa pulang memang tidak ada apa-apanya. Walaupun begitu, semurah-murahnya buku foto, harga per bukunya pasti memiliki nominal yang cukup lumayan. Total saya menghabiskan Rp325.000 untuk dua buku foto tersebut yang saya rasa nilai sebenarnya mungkin bisa menyentuh angka lebih dari 1 juta rupiah. Selain memang effort fotografer yang pasti tidak mudah ketika membuat buku tersebut, nilai instrinsik yang melekat pada buku-buku ini pasti melebihi harga jualnya. Kedua buku ini dikemas dengan sampul hard cover, serta dicetak di atas lembaran kertas berkualitas sangat baik. Hal ini sangat penting bagi sebuah karya foto, agar foto yang ditampilkan benar-benar sesuai dengan hasil jepretan dari kamera fotografer.

Ternyata, di samping buku-buku berbahasa Inggris, Big Bad Wolf di Bandung juga menghadirkan beberapa sudut yang memajang buku-buku berbahasa Indonesia. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah buku autobiography Bung Karno yang ditulis oleh jurnalis Cindy Adams. Buku ini termasuk buku populer yang banyak dijadikan rujukan literasi bagi yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Harga yang tertera di sampul buku ini hanya Rp67.500. Namun, segala perhitungan kebutuhan hidup saya untuk bulan depan yang ada di kepala berhasil mendorong tangan saya untuk mengembalikan buku tersebut ke tempatnya, sebelum mencapai kasir. Lama, saya mengincar buku ini. Tapi saya yakin suatu saat akan dipertemukan. Barangkali, dengan melalui voucher gratis yang dibagikan oleh Big Bad Wolf Bandung *ehm.

Pendapat saya mengenai event pertama Big Bad Wolf di Bandung ini saya kira sangat sukses. Saya kagum dengan bagaimana penyelenggara merancang dan mengelola acaranya, hingga terbentuk alur yang kunjungan yang sistematis dan teratur. Dari main hall menuju ke kasir yang berada di hall berbeda lokasi, sudah dibuat jalur yang disekat, sehingga pengunjung bisa dipastikan tidak akan nyasar ke mana-mana. Namun tetap, sepanjang jalur menuju kasir pun ada beberapa stand buku yang disediakan, yang sepertinya bertujuan untuk mengantisipasi siapa tahu kita mau ‘nambah’, yaa tiga atau lima buku  ke dalam trolley belanjaan.

Sesampainya di area kasir, setiap pengunjung yang sudah sampai di ujung depan antrian akan ditanya mengenai cara pembayaran yang akan digunakan. Hal ini akan menentukan ke mana mereka akan diarahkan. Begitu ada kasir yang mengangkat tanda counter­­-nya sudah kosong, maka customer pun akan diantar langsung untuk merampungkan proses perbelanjaan buku. Tapi memang dasar si big wolf yang super bad, ia tak membiarkan kita lolos begitu saja. Di area keluar terdapat sebuah counter yang khusus menjual merchandise menarik, seperti pembatas buku magnetik yang salah satunya kemudian saya bawa pulang.
Hasil belanja di Big Bad Wolf Bandung

Keluar dari area hotel, kaki-kaki yang lelah, dan badan yang penuh peluh ini diantarkan menuju 20 stand food & beverages yang menunggu untuk dijajal. Beberapa meja dan kursi pun telah disiapkan untuk menyantap pesanan, sekaligus mengisi energi untuk pulang.

Karena tak kebagian lahan parkir yang berjubel hingga ke jalan, saya pun harus memarkir kendaraan di titik yang lumayan jauh dari area hotel. Namun bila harus digelar di pusat Kota Bandung, saya tak yakin ada tempat yang bisa mengakomodir semua kendaraan pengunjung event ini. Maka dari itu, bagi saya, pemilihan venue event untuk acara perdana Big Bad Wolf di Bandung ini terbilang sangat tepat. Memang lokasinya sangat jauh dari pusat kota, tapi tempat ini bisa diakses cukup mudah bagi pemilik kendaraan roda empat, dengan menggunakan jalan tol. Wisatawan luar kota pun bisa dengan mudah mencapainya. Saya pribadi menilai bahwa event ini telah memiliki sebuah standar kualitas yang bisa ditempatkan sebagai sebuah gelaran pariwisata. Dari antusiasme publik terhadapnya, maka tak heran bila tak lama setelah event tersebut diumumkan akan hadir di Bandung, akun-akun Instagram yang menawarkan jasa titip (jastip) buku secara serius pun bermunculan. Bandingkan saja dengan bazaar buku di Braga, jastipnya paling satu atau dua buku saja melalui sobat terdekat dengan imbalan secangkir kopi dan sepiring gorengan.


“Geura eta mandina! Engke telat ieu teh lalajo pawaina,” begitu bunyi teriakan Ceu Odey tetangga sebelah yang saling bersahutan dengan gedoran pintu kamar mandi. Yaa..beginilah memang kondisi rumah tempat tinggal saya yang memungkinkan untuk saling berbagi dengar dengan tetangga. Selama beberapa minggu terakhir, event akbar Karnaval Asia Afrika yang digelar untuk memperingati Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 ini memang sangat mengundang antusias wisatawan maupun warga Bandung untuk berbondong-bondong hadir menyaksikan langsung. Inilah kondisi yang terjadi empat tahun lalu saat peringatan KAA ke-60 tahun.
Suasana Karnaval Asia Afrika tahun 2015
Lain dulu, lain sekarang. Suara antusiasme tersebut mulai memudar menjadi suara sumbang seperti “males”, “macet”, “bosen”, dan “rieut loba jelema”. Special untuk tahun Karnaval Asia Afrika 2019 ini, suaranya bertambah dengan ucapan “panas”. Entah apa yang dipikirkan penyelenggara, bisa-bisanya menggelar acara pawai yang dimulai pukul 10 siang, saat matahari sedang terik-teriknya. Hal ini pun tentu berdampak kepada para pehobi foto yang banyak mendapatkan gambar-gambar peserta karnaval berwajah gelap, dikarenakan cahaya matahari yang berada tepat di atas kepala menimbulkan bayangan pada muka. Saya sendiri hanya tahan sekitar 30 menit di lokasi acara.

Penyelenggaraan Karnaval Asia Afrika tahun 2015 memang menjadi penanda awal mula Bandung kemudian menjadi sebuah kota karnaval. Setidaknya dalam satu tahun, akan ada dua event karnaval yang kini sudah rutin diselenggarakan di Bandung, yakni Asia Africa Carnival, dan Bandung Light Festival. Bahkan pada tahun 2017, ada tiga karnaval. Agenda karnaval pada tahun tersebut ditambah dengan Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan yang memang diadakan bergilir setiap tahunnya, dan pada saat itu, Bandung mendapat giliran menjadi tuan rumah.
Karnaval Asia Afrika 2019
Acara karnaval seperti ini sebetulnya tentu tidak jelek, asalkan dikonsep dan dieksekusi dengan matang. Sedangkan untuk penyelenggaraan tahun ini, mohon maaf, selain pemilihan waktu yang salah, serta pengembangan konsep yang diam di tempat, rasanya Karnaval Asia Afrika kali ini dibuat hanya untuk menggugurkan kewajiban. Sangat terkesan “yang penting ada”. Bahkan saya sempat melihat sebuah postingan mengenai pembukaan pendaftaran untuk peserta karnaval baru disebarkan setelah lebaran, atau sekitar tiga minggu sebelum acara berlangsung.

By the way, untuk catatan, tulisan ini saya buat tanpa bermaksud menggeneralisasikan opini warga Bandung secara keseluruhan. Apa yang saya tulis ini murni berdasarkan perasaan, perbincangan, serta pengamatan secara pribadi sebagai seorang customer pariwisata. Pendapat ini mungkin akan terasa berbeda tentunya bila dilihat dari sudut pandang wisatawan yang memang tergolong jarang atau baru menginjakkan kakinya di Bandung.
Sedikit survey yang saya lakukan di instagram soal Festival Budaya Asia Afrika kepada kawan-kawan orang Bandung.
Memang tak mudah untuk mempertahankan, atau untuk terus meningkatkan kualitas dari standar yang sudah ada setiap tahunnya, karena pasti dibutuhkan waktu, tenaga, serta biaya yang harus dianggarkan. Namun tentunya, ada harapan agar event ini tak hanya dapat memenuhi kebutuhan rekreatif wisatawan luar Bandung, tapi juga dapat menjadi sesuatu yang dapat kembali menarik langkah Ceu Odey serta warga lainnya sebagai bagian dari stakeholder pariwisata untuk keluar rumah, dan ikut berbahagia.

Boleh setuju, boleh tidak.


“Erdogan Turkish Coffee”, sebuah plank di Braga yang kemudian membuat saya berhenti berjalan dan mengecek ulang namanya. Karena saya tak yakin, presiden Turki ini membuka kedai kopi di Bandung menyusul kekalahan partainya di Pilkada Istanbul. Setelah mundur beberapa langkah ke belakang, barulah jelas terbaca “Gedogan Specialty Turkish Coffee”. Ini efek bila kata “Turkish” direndengkan dengan nama serupa “edogan”. By the way, rasa-rasanya saya baru melihat kedai kopi ini menghiasi salah satu ruas di Jalan Braga. Saya hapal betul, karena Braga ini sudah seperti arena bermain saya untuk menyalurkan hobi nyetrit. Tapi memang selama bulan Ramadan lalu, saya tak pernah menginjakkan kaki di sini.
Proses pembuatan Kopi Turki yang dipanaskan menggunakan medium pasir


Sebelumnya saya pernah melihat nama Kopi Turki di dalam daftar menu sarapan di Braga Permai, namun saya tidak begitu tertarik untuk memesannya. Baru di Gedogan Specialty Turkish Coffee inilah saya tertarik mencobanya, karena melihat proses pembuatannya yang unik. Sepertinya memang Turki ini memiliki kecenderungan menambahkan bumbu atraksi ke dalam penyajian berbagai jajanannya. Contohnya saja Turkish ice cream yang menghadirkan atraksi tipuan kecepatan tangan dalam penyajiannya kepada pembeli.

Karena cuaca Bandung belakangan hari ini sedang panas ngabelentrang, maka saya pun memilih Es Kopi Susu Aren yang kebetulan juga sedang ada promo. Satu cup es kopi susu ini hanya membutuhkan selembar uang bergambar Frans Kaisiepo a.k.a Rp10.000.

Sambil menunggu pesanan dibuat, saya pun kemudian sedikit berbincang dengan akang-akang barista yang sedang bertugas. Rupanya Gedogan Specialty Turkish Coffee ini merupakan pindahan dari booth yang selama tiga bulan terakhir berjualan di resto “Braga Punya Cerita”. Belakangan baru saya tahu, bahwa Gedogan sendiri sebenarnya telah memiliki beberapa cabang di Bandung. Namun baru di Braga ini, identitas kopi Turkinya lebih ditonjolkan.
Gedogan Turkish Speciality Coffee di Braga
Untuk biji kopinya, Gedogan menggunakan biji-biji kopi berkualitas yang ada di Jawa Barat. Namun bedanya, itu tadi, proses pembuatannya unik sekali. Dalam memanaskan kopinya, kopi Turki ini menggunakan pasir sebagai medium antara cezve (pot logam) dengan api. Pasirnya pun katanya menggunakan pasir khusus yang diimpor langsung dari Turki, sehingga dapat menghantarkan panas dengan baik.

Kalau soal rasa, saya mungkin tak bisa begitu detail menjelaskannya. Namun yang pasti, aroma dan cita rasanya kuat sekali, dan punya rasa berbeda dari kopi-kopi yang pernah saya minum.

Di samping Gedogan, ada juga beberapa gerai kuliner lainnya yang baru hadir setelah libur lebaran, seperti gerai franchise Rotiboy yang ternama, dan sebuah kedai kopi lainnya bernama Koffie Braga. Unik memang, dari banyaknya coffee shop yang bertebaran di jalan ini selama beberapa tahun ke belakang, baru kali ini ada yang kepikiran membuat tempat ngopi bernamakan Braga.

Tujuan kuliner di Braga ini memang sangat mudah datang dan mudah pergi. Beberapa bisa bertahan karena menerapkan strategi bisnis yang tepat. Sementara beberapa lainnya kurang dapat membaca pasar. Namun, Kopi Turki ini jelas memberikan sebuah daya Tarik baru bagi wisatawan yang datang untuk jalan-jalan di Braga. Bagaimana denganmu? Tertarik menyesap Kopi Turki ini di Braga?


“Saya sekolah Cuma sampe Aliyah, selebihnya saya jadi mahasiswa tongkrongan. Datang ke ITB, Unpad, Unpar, ikut nongkrong, ngopi, diskusi aja,” begitu jawab pria bernama Rahmat Jabaril ini saat ditanya soal almamater kampusnya.


Kang Rahmat Jabaril, saat ditemui di kediamannya di Kampung Dago Pojok
Pertemuan pertama saya dengan Kang Rahmat ini sebetulnya sudah lewat dua tahun lalu. Saat itu saya mampir ke Kampung Kreatif Dago Pojok yang ia bangun, untuk diangkat sebagai materi artikel di sebuah media tempat saya bekerja dulu. Karena kesibukan pekerjaan, saya baru dapat menulis artikel khusus tentang beliau sekarang.

Perbincangan yang mungkin berlangsung hampir selama dua jam di ruangan kerjanya ini juga dihadiri oleh seorang jurnalis Republika yang sekarang saya sudah lupa namanya. Saat itu ia pun sedang bertugas untuk meliput Kampung Dago Pojok yang menjadi salah satu venue yang digunakan edisi pertama bulan Seni Bandung. Memang untuk segala bentuk urusan peliputan tentang kampung, semua tamu yang datang akan diarahkan untuk bertemu dengan Kang Rahmat. Tak sulit pula untuk mendapatkan informasi tentang beliau. Namanya tersebut merupakan kata kunci yang akan mengarahkan kita ke puluhan tautan artikel dan video yang menjelaskan tentang ia dan kampung ini.

Ruangan kerjanya ini tak begitu besar. Ia hanya mengambil sedikit tempat di ruang tamunya untuk dijadikan sebuah ruang yang penuh dengan benda-benda seni rupa yang menjadi passion hidupnya, serta beragam penghargaan yang bertuliskan namanya. Sambil bercerita dan sekali-sekali menyeruput kopi hitam yang diseduhnya, ia berhenti berbicara. Tatapan matanya menyiratkan bahwa ia ingat tentang sesuatu hal yang sangat penting. Dari sebuah kotak di meja kerjanya, ia mengeluarkan puluhan lembar lebih kertas-kertas yang warnanya sudah menguning. Di permukaan kertas itu terdapat berbagai gambar sketsa tangan yang disertai paragraf-paragraf tulisan. Mirip seperti tampilan sebuah blog, namun bedanya, seluruh kontennya dibuat menggunakan tangan.
Hasil gambaran tangan Kang Rahmat Jabaril saat demo 1998
Rupanya, walau tidak pernah tercatat sebagai mahasiswa, pria yang akrab disapa Kang Rahmat oleh para tetangganya ini merupakan salah seorang aktivis yang berangkat ke Jakarta untuk menurunkan Presiden Soeharto dari tahta kepresidenan pada tahun 1998. Nah, pengalaman yang dialaminya tersebut ia guratkan pada kertas-kertas yang ia kini simpan dengan baik. Ia gambarkan langsung ingatannya itu sebagai dokumentasi pribadi, karena selain memang senang menggambar, waktu kejadian bersejarah tersebut terjadi pengguna kamera masih sangatlah jarang.

Melalui jiwa seniman yang sudah melekat dalam dirinya, ia pun berhasil menghias Kampung Dago Pojok yang terhimpit gang sempit, menjadi sebuah ruang berkarya untuk banyak orang. Namun ia pun bercerita bahwa sebetulnya, kampung kreatif itu bukan hanya dinilai berdasarkan bagaimana kampung tersebut dihias menjadi berwarna dengan mural-mural yang indah, tapi juga soal bagaimana warga sekitarnya dapat terus berjuang untuk mengembangkannya. Ia sendiri mengaku bahwa awalnya dia bukan warga asli kampung ini. Ketika pertama kali mengusulkan pengembangan kampung Dago Pojok pada tahun 2003, idenya pun banyak diremehkan warga aslinya. Butuh sekitar 8 tahun hingga akhirnya kampung ini dapat diresmikan, dan layak untuk menerima kunjungan wisata.
Salah satu sudut Kampung Dago Pojok yang menjadi ruang eksibisi karya warganya.

Saya sendiri merasakan bagaimana keramahtamahan warga Kampung Dago Pojok dalam menyambut tamunya. Orang Bandung memang sudah terkenal karena someah, tapi mereka ini hospitality level-nya sangat berbeda. Attitude mereka hampir layaknya pegawai hotel atau tempat wisata dalam menyambut pengunjung. Mereka juga sempat bercerita bahwa kampung ini sudah banyak didatangi wisatawan mancanegara. Bahkan tak jarang wisatawan tersebut meminta izin untuk tinggal 1-2 bulan, sekadar untuk merasakan suasana kehidupan kampung. Di samping soal keramahan warganya, kampung ini pun sudah memiliki sanggar yang sudah menjadi penghasilan mereka sehari-hari, mulai dari kaos, patung, hingga wayang golek.

Di samping Dago Pojok, Kang Rahmat pun sebetulnya sudah mengembangkan 6 kampung kreatif lainnya di berbagai titik di Kota Bandung. Beberapa di antaranya sempat saya sadari juga keberadaannya. Namun sayangnya, memang tidak berkembang, atau bahkan tidak terawat. Ya, sebagai orang yang dikenal sebagai penggagas konsep kampung kreatif, Kang Rahmat pun mengatakan bahwa hal terpenting dari Kampung Kreatif itu bukan soal tempatnya, tapi soal bagaimana orang-orangnya dapat bergerak untuk memperjuangkannya.



Poster film Parasite ini mengingatkan saya kepada karya-karya fotografer Jepang yang agak sedikit freak, namun sekaligus menggelitik. Dari judul dan tampilan posternya yang sarat dengan berbagai elemen, awalnya saya beranggapan kalau film ini menyeritakan tentang alien yang mengambil alih tubuh sebuah keluarga. Namun ternyata, tebakan saya itu meleset jauh.  
Poster film Parasite. Courtesy: CBI Pictures
Adegan Parasite bermula di sebuah rumah kumuh yang terletak di bawah level jalan raya yang sepertinya agak mirip kawasan belakang Pasar Baru di Bandung. Walaupun begitu, empat orang anggota keluarga yang menempati rumah ini tampak menikmati kehidupannya dengan segala kekonyolan yang mengundang tawa. Peluang mereka untuk mengubah kehidupan mereka pun datang ketika si anak lelaki mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai guru privat les Bahasa Inggris di sebuah rumah milik seorang konglomerat. Nah, plot ceritanya saya hanya bisa ceritakan sampai di situ saja, karena selebihnya adalah spoiler. Asli.

Sebetulnya, sampai hampir setengah film, saya belum menemukan alasan kenapa film ini bisa meraih penghargaan sebagai palme d’or atau film terbaik di Festival Film Cannes di Perancis. Terlebih, Festival de Cannes sendiri dikenal sebagai festival film yang memiliki standar yang sangat tinggi di dunia film internasional. Banyak film yang lahir dari festival ini merupakan film yang sangat segmented, dan tak dapat memenuhi selera tontonan banyak orang. Sedangkan Parasite, berjalan cukup pop di paruh pertama film ini dengan konten-konten komedi yang menghibur.

Walaupun saya memang bukan penggemar sejati film Korea, tapi saya tetap menonton beberapa film yang menjadi hits di Indonesia, seperti Miracle in the Cell No. 7, Train to Busan, dan Extreme Job. Seperti tipikal kebanyakan film-film Korea lainnya, Parasite pun memunculkan drama menyentuh di bagian tengahnya. Mau sekomedi apapun plot yang dibangun di awal film, part drama ini akan selalu ada. Namun pada Parasite, ada sebuah level penceritaan baru yang membuat penonton tak bisa melepaskan fokus dan pikirannya barang sebentar sampai akhir film.

Alur cerita film Parasite ini sama sekali tak bisa ditebak mulai dari seperempat film hingga selesai durasi 2 jam. Bahkan sampai di akhir film pun, saya sampai bergumam, "si anjirr" untuk mengomentari apa yang saya lihat. Perasaan penonton pun rasanya bisa gila dibuatnya. Mulai dari tertawa, sedih, marah, tegang, hingga bertanya-tanya, “sebenernya film apa sih ini?”. Namun bagi saya pribadi, Parasite ini memiliki sebuah kemiripan nada dengan American Beauty yang memenangkan Best Picture Oscar tahun 2001. Bukan karena kesamaan cerita atau plot, hanya saja meninggalkan kesan yang mirip. Walaupun begitu, Parasite tetap terasa lebih mindblowing.

By the way, saya menonton Parasite ini dalam special screening yang tayang secara terbatas pada 22-23 Juni 2019. Buat yang penasaran, bisa nonton film ini mulai 26 Juni 2019. Jangan tunggu bajakan, unsur suspense-nya sangat worth it dinikmati di bioskop. :D



Baik lokal maupun asing, sudah banyak sekali film seri maupun layar lebar yang menyeritakan tentang pertukaran jiwa atau tubuh. Mungkin satu judul yang paling banyak diperbincangkan belakangan adalah “Kimi no Wawa”, sebuah film anime Jepang yang plot ceritanya sangat berkesan. Namun, tak kalah dengan film yang memiliki judul internasional “Your Name” tersebut, sebuah web series berjudul “Janji” yang juga mengangkat tema tentang pertukaran jiwa pun banyak dibicarakan oleh warganet di Indonesia. Nama Yandy Laurens sebagai sutradara yang sukses menukangi web series hits lainnya seperti “Sore”, dan “Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode” ini, cukup kuat untuk menjadi alasan orang untuk tidak melewatkan karyanya kali ini. Seluruh web series karya sineas muda tersebut ternyata memiliki satu kesamaan yakni roman yang dibumbui oleh cerita fantasi, salah satunya ya “Janji” ini, yang mengangkat cerita tentang pertukaran jiwa antara Iko yang diperankan oleh Darius, dan Ujo yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman.

Poster dari tiga web series yang dibuat Yandy Laurens. Courtesy: Tropicana Slim dan Toyota Indonesia

Awalnya, saya pribadi menilai bahwa premis yang coba diangkat oleh Yandy dalam “Janji” ini sudah basi. Di Indonesia sendiri sepertinya tema tentang pertukaran jiwa sudah beberapa kali diangkat ke dalam sinetron atau FTV. Rasanya sudah terbayang akan bagaimana alur dari keseluruhan ceritanya. Namun keraguan  tersebut langsung ditepis dengan baik melalui cara Yandy menampilkan cerita. Dari karya-karya yang pernah dibuatnya, Yandy selalu menampilkan ciri khasnya yang bagaimana adegan demi adegan dibuat sedikit berdialog, namun terasa intense dari suasana yang dibangunnya melalui pengambilan gambar, ekspresi dan gestur para pemeran, serta pemberian jeda yang kemudian membuat kita menahan napas. Tak lupa, plot twist yang juga selalu ia bubuhkan di akhir episode-nya, termasuk yang ia lakukan pada “Janji” menjadikan web series buatannya sebuah paket lengkap yang semakin menunjukan kalau karyanya akan selalu berbeda dan akan menjadi hal yang memorable.

Namun di antara seluruh web series karya Yandy Laurens, “Sore, Istri dari Masa Depan” merupakan favorit saya. Judul yang sangat menggelitik. Ada apa dengan “Sore”? Rupanya sore ini adalah sebuah nama karakter yang ia sematkan kepada Tika Bravani yang menjadi pemeran utama wanita di seri ini. Sebuah nama yang sangat tidak umum diberikan kepada sebuah tokoh dalam cerita. Saya pun langsung menebak kalau Yandy ini sepertinya anak folk banget, sehingga memberi nama yang senada dengan senja. Memang tebakan saya ini terbukti, karena hampir di seluruh web series-nya, ia memutar beberapa lagu folk ternama, serta lantunan nada-nada mendayu-dayu sebagai latar musik.
Sebetulnya, Sore ini sudah tayang pada awal 2017. Hanya saja, memang saya baru mengetahuinya setelah melihat kolom komentar di video Youtube “Janji”, di mana netizen mulai membanding-bandingkan kedua web series tersebut. Sama halnya dengan “Janji”, “Sore pun” mencoba mengolaborasikan roman dengan cerita fiksi. Kali ini time travel menjadi salah satu tema yang diangkatnya.

Jangan bayangkan perpindahan waktu dengan visual efek memukau ala Back to the Future atau Avengers: End Game yang bertujuan menyelematkan dunia, karena kamu tidak akan menemukannya di sini. Time Travel di “Sore” ini lebih mirip cerita-cerita seperti di film About Time, the Time Traveler’s Wife, dan Midnight in Paris, yang kebetulan ketiga film tersebut diperankan juga oleh Rachel McAdams yang di semua filmnya itu berperan menjadi pasangan pemeran utama pria yang menjadi penjelajah waktu.

Saya tidak pernah berpikir bahwa akan ada film Indonesia yang berhasil membawakan tema ini dengan baik, tanpa menjadikannya sebuah cerita yang terlalu mengawang. Hubungan Sore, dan Jo yang diperankan oleh Dion Wiyoko membentuk sebuah chemistry yang manis, tanpa terlihat cringe.

“Sore” dan “Janji” merupakan dua web series yang dibuat Yandy untuk brand Tropicana Slim. Sebagai film seri yang ditayangkan untuk meng­-endorse merek, Yandy sangat berhasil memasukan misi dari brand tersebut ke dalam cerita dengan sangat baik. Tidak ada over placement pada produk, dan merek pun tidak menjadi harus disebut dalam dialog antar karakter. Porsinya pas, dan kualitas dari web series ini sendiri yang kemudian membangun engagement antara brand dan penonton. Saya bisa bilang begitu, karena sebelumnya ada sebuah web series milik Unilever yang berjudul “Transit”, yang kemudian terlalu kentara dalam mempromosikan produknya, hingga membuat cerita menjadi terganggu. By the way, awalnya saya menonton Transit” karena melihat Tika Bravani berperan di dalamnya. Idealisme Yandy ini pun dipertahankan saat membuat “Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode” bersama Toyota Indonesia.

Time travel sudah, bertukar jiwa sudah, lalu apalagi? Ternyata di “Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode”, Yandy menambahkan bumbu telepati. Sayangnya, sesuai dengan judul, series ini memang dirancang untuk berakhir dalam 3 episode (plus satu episode bonus) saja. Dari judulnya yang obvious, memang sepertinya cerita ini akan tertebak. Namun Yandy tentunya tidak membiarkan pikiran penontonnya langsung habis ketika selesai melihat judul. Pergulatan batin Satrio yang kembali diperankan oleh Dion Wiyoko, dan Ayu yang diperankan Sheila Dara Aisha, membuat saya melupakan judul tersebut. Saya menjadi berpikir bahwa judul ini hanyalah sebuah jebakan. Dan memang …

Sebaiknya ditonton saja sendiri series-nya, hehe.

Sebetulnya karya Yandy yang pertama saya tonton adalah film layar lebar Keluarga Cemara. Film ini memang agak sedikit keluar dari gayanya Yandy saat membuat web series. Tidak ada bumbu fantasi. Mungkin karena film ini adalah sebuah cerita yang diangkat dari sinetron tahun 90-an yang berjudul sama. Selain itu, kesan yang ditimbulkan pun lebih ceria dan berwarna. Hal ini ditunjukan dengan kehadiran Asri Welas yang menunjukan sisi jenaka dari film ini. Namun, ada satu hal yang tak berubah. Dari seluruh karyanya, Yandy selalu menghadirkan masalah yang berkaitan dengan hubungan intim manusia. Antara sepasang kekasih, suami-istri, maupun hubungan antara ayah dan anak. Bersamaan dengan masalahnya, ia pun menunjukan bahwa solusi antara seluruh permasalahan hubungan ini adalah dengan berdialog. Saling mengutarakan isi hati. Sehingga, rasa angkuh pun menjadi luluh. Sehingga, kesalahpahaman pun malah kemudian dapat menjadi menguatkan perasaan.