“Teu boga sawah, asal boga pare, teu boga pare, asal boga beas, teu boga beas, asal bisa nyangu, teu nyangu, asal dahar, teu dahar, asal kuat.”
Hasil panen Kampung Adat Cireundeu yang dipertunjukan saat acara Tutup Taun

Sebuah tulisan berbahasa Sunda yang secara arti cukup menarik ini, terpampang jelas di sebuah bangunan mirip saung di Kampung Adat Cireundeu. Sementara di bawah tulisan tersebut, berbagai hasil kekayaan alam yang didominasi oleh singkong, tersusun rapi, bak tumpeng raksasa yang dibuat untuk sebuah perayaan. Saat itu, warga Cireundeu memang tengah bersukacita memperingati pergantian tahun Saka Sunda dalam upacara adat Tutup Taun yang memang sudah rutin diadakan.  

Bukan tanpa alasan singkong menjadi primadona yang terlihat menjadi santapan, serta hiasan pada acara Tutup Taun Kampung Adat Cireundeu. Kampung yang berada di kawasan administratif Cimahi ini memang dikenal karena kebiasaannya yang sudah mulai mengganti pilihan bahan baku makanannya dengan singkong, mulai dari nasi singkong, dendeng singkong, hingga cemilan seperti egg roll pun dibuat dengan bahan utama singkong. Hal ini pun menjelaskan mengenai tulisan yang tertera di bangunan tadi. Itulah filosofi yang dipegang erat oleh warga Kampung Adat Cireundeu ini. Mereka berpedoman bahwa manusia itu tidak boleh bergantung pada satu bahan makanan saja. Sehingga bila satu bahan sedang langka, mereka lantas tidak harus kelabakan.
Cemilan khas Kampung Adat Cireundeu yang terbuat dari bahan baku beras singkong.

Contoh yang sangat nyata terjadi pada krisis moneter tahun 1997 silam. Saat seluruh masyarakat Indonesia ribut mempersoalkan kenaikan harga beras, dan bahan pokok lainnya, yang diakibatkan oleh inflasi besar-besaran. Warga Kampung Adat Cireundeu sama sekali tidak terpengaruh akan hal tersebut. Selain bisa ditanam di kebun belakang rumah, biaya pengembangannya pun tergolong murah. Lalu bila ditinjau dari segi gizinya, singkong memiliki kandungan gizi lebih baik, karena komposisinya yang rendah gula. Satu bungkus Rasi (beras singkong) dengan berat mungkin sekitar 500gr (sudah agak lupa, karena terakhir beli 2017), bisa dibeli dengan harga Rp5.000 saja. Satu kemasan tersebut sudah dapat dibuat nasi sekitar satu dandang.

Saya pribadi sudah beberapa kali mampir ke Kampung Adat Cireundeu, terutama saat digelarnya acara Tutup Taun. Setidaknya saat saya menyengaja untuk membeli produk-produk olahan singkongnya yang unik, ada festival budaya yang bisa sekaligus saya saksikan. Karena di luar acara Tutup Tahun, kampung ini terlihat seperti pemukiman warga biasa saja. Sudah tidak tersisa bekas-bekas rumah adatnya. Walaupun begitu, guyubnya warga, serta sikap gotong royong dalam keseharian masih bisa terlihat. Hal ini sudah langka bila saya bercermin ke lingkungan yang saya temui sehari-hari.
Pengunjung membeli produk-produk makanan olahan singkong di Kampung Adat Cireundeu.
Seperti kampung adat lainnya yang pernah saya kunjungi, Cireundeu juga memiliki hutan larangan. Namun, seperti yang sudah saya jelaskan di beberapa artikel sebelumnya, hutan larangan ini bukan berarti benar-benar terlarang untuk masuk. Hanya saja, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pengunjungnya, seperti dilarang dimasuki oleh perempuan yang sedang haid, serta pengunjung harus pula melepaskan alas kaki. Ujung dari hutan tersebut adalah Puncak Salam yang memiliki pemandangan yang katanya tak kalah menawan dari tempat-tempat wisata di Lembang. Belakangan malah sudah ada penyedia open trip yang memasarkan perjalanan malam ke Puncak Salam ini. Sayangnya saya belum berkesempatan menjajalnya.

Baca juga: Bertandang ke Kampung Adat Cikondang
Agenda hiburan pada acara Tutup Taun di Kampung Adat Cireundeu
Di samping wisata ke Puncak Salam, Kampung Adat Cireundeu juga memang sudah serius disiapkan oleh Pemerintah Kota Cimahi sebagai tujuan wisata andalannya. Bahkan kini mereka sudah memiliki slogan “Visit Cireundeu” yang sekaligus dijadikan akun promosi pariwisatanya. Tapi, memang tak heran bila Cireundeu ini menjadi ujung tombak pariwisata di Cimahi. Karena berdasarkan perbincangan saya dengan Kang Tri, salah seorang pemuda kampung tersebut, setiap minggunya itu selalu ada saja mahasiswa yang datang dari berbagai daerah untuk mempelajari budaya Kampung Adat Cireundeu. Hal ini juga menandakan bahwa sebetulnya masih ada wisata atraktif yang tidak dibatasi dari penilaian sisi visualnya. Karena sesungguhnya, budaya pun merupakan elemen penting pariwisata. Itu yang kebanyakan orang lupa.

Kampung Adat Cireundeu
Jl. Saptadaya (masuk lewat Jl. Leuwigajah di sebelah Kerkof), Cimahi



Saat mengetahui kabar mengenai event bertajuk Festival of Light akan mampir ke Bandung bulan ini, kedengarannya sangat menjanjikan. Apalagi setelah tahu kalau event ini digelar secara roadshow keliling Nusantara. Saya membayangkan sebuah event kece macam festival balon udara di Wonosobo, festival layangan di Pangandaran, atau malah festival salju dan es internasional seperti di Harbin, Tiongkok. Hal ini didukung pula oleh citra kota Bandung yang memang setiap tahunnya sejak tahun 2014 lalu, telah rutin menggelar Bandung Light Festival untuk merayakan ulang tahunnya yang jatuh setiap 25 September.
Beberapa instalasi lampion di Festival of Light Bandung di Kiara Artha Park

Namun, imajinasi saya akan sebuah festival megah perlahan mulai pupus, seiring dengan langkah kaki yang terus bergerak menjelajahi sudut Kiara Artha Park Bandung yang menjadi venue acara. Rupanya Festival of Light ini tak ubahnya seperti sebuah tempat wisata selfie yang sudah banyak bertebaran di Bandung. Tak ada lagi yang bisa dilakukan di sini selain berswafoto dengan berbagai desain lampion yang menyala karena diberi lampu di dalamnya. Rasanya seperti sama saja dengan berjalan-jalan di Lampion Park di Tegallega. Bahkan lebih worth it untuk berkunjung ke Tegallega yang harga tiket masuknya hanya seribu rupiah.

Instalasi di Festival of Light Bandung di Kiara Artha Park

Koridor berhiaskan lampu di Festival of Light di Kiara Artha Park Bandung
Saya tidak bisa berpendapat tentang gelaran di daerah lain, tapi untuk ukuran penyelenggaraan di Bandung, Festival of Light ini jelas minim kreativitas. Bahkan bila disandingkan dengan Bandung Light Festival tahun lalu yang banyak mendapat kritik, Festival of Light ini masih jauh berada di bawahnya. Malah sepertinya, instalasi di Gedung Sate Festival 2018 masih bisa dikatakan lebih baik dari ini. Bagi saya yang memang sering singgah dari satu event ke event lainnya di Bandung, saya rasa pihak penyelenggara salah memilih kota. Hal ini dapat terlihat pula dari area event yang kalah ramai dibandingkan dengan area dancing fountain yang dipadati pengunjung. Walaupun sebetulnya, pertunjukan air mancur menari bukan hal baru di Bandung.
Salah satu mobil hias di Bandung Light Fest 2016
Instalasi koridor di Gedung Sate Festival 2018
Saya sempat melihat di akun Instagram event ini, bahwa sebetulnya ada juga atraksi hot air balloon di kota-kota lain, yang justru ditiadakan atau belum terlihat di penyelenggaraan Bandung. Entah apa alasannya. So, saran saya sih, bagi yang penasaran, dan memang doyan selfie, silakan berkunjung dengan membayar tiket Rp25.000 untuk weekdays, dan Rp35.000 untuk weekend. Untuk yang berada di luar kaum tersebut, with all due respect, mendingan pergi ke Tegallega.
Lampions Park di Tegallega

Festival of Light Bandung
Kiara Artha Park
Perempatan Jl. Ibrahim Adjie (Kiara Condong) dan Jl. Terusan Jakarta, Bandung.
Buka: 17.00-22.00
Start from: 13 September 2019

Mungkin, review saya kali ini akan sangat ketinggalan. Karena yang akan saya bahas adalah sebuah kuliner jadul yang sudah melegenda di Bandung, bernama Bolu Bakar Tunggal. Jajanan ini baru saya ulas, karena memang saya baru mencobanya beberapa waktu lalu. Padahal, pabriknya sendiri terletak cukup dekat dari tempat saya tinggal. Ia bahkan cukup menyolok dengan ornament kue marie raksasa yang menjamin setiap yang melintas untuk mendongakkan kepala sejenak. Namun, mungkin karena dulu dari segi tampilannya terlihat sangat ‘pabrik’, saya jadi enggan untuk mampir.
Bolu Bakar Tunggal Rasa Keju
Saya baru tertarik menjajal rasa Bolu Bakar Tunggal ini justru saat sedang berjalan-jalan di kawasan foodcourt pusat perbelanjaan 23 Paskal. Harumnya yang menggoda, cukup kuat untuk menghentikan langkah saya berkeliling ke arah kios makanan lainnya. Saya sering melihat langsung proses pembuatan makanan dalam konsep open kitchen, tapi tidak ada yang semenggoda ini. Saya rasa, wangi ini  ditimbulkan oleh mentega khusus yang dioleskan pada bolu, yang kemudian matang dengan baik melalui permukaan besi panggangan. Walau sebetulnya saya merasa bingung juga, judulnya Bolu Bakar, tapi prosesnya lebih mirip dipanggang, serta bentuknya pun lebih mirip seperti roti dibandingkan dengan bolu.

Karena paling suka santapan apapun dengan rasa atau topping keju, tanpa ragu saya pun memilih pilihan rasa tersebut, yang memang rasanya tak gagal memuaskan lidah. Wangi mentega yang tadi tercium, dapat juga saya rasakan di mulut. Ditambah, tekstur bolunya yang sangat lembut cukup memberikan efek nagih. Untuk harga satu porsi bolu rasa keju yang bisa diiris menjadi 8 potong ini adalah Rp38.000, begitu pula dengan yang varian rasa roombutter. Sedang untuk varian rasa asin seperti tuna, harganya Rp55.000. Selain dua rasa tersebut, tentunya banyak lagi rasa lainnya seperti strawberry, nanas, pindakas (kacang), coklat, kopi, dan campuran dari rasa-rasa tersebut. Bahkan ada juga keju spesial yang katanya pakai dua kali lipat jumlah kejunya. Padahal, rasa keju yang reguler saja sudah sangat enak, entah bagaimana rasanya kalau yang keju spesial.

Satu minggu dari pengalaman icip Bolu Bakar Tunggal yang pertama, akhirnya saya mengunjungi juga pabriknya langsung di Jl. Jenderal Sudirman No. 570-574. Di luar dugaan, ternyata tempatnya kece. Rancangannya sudah seperti café-café kekinian yang hits di Bandung. Selain bisa membeli bolu bakarnya, pihak pengelola rupanya menyediakan beberapa tenant makanan dan minuman lain yang bisa disantap. Lalu ada juga area pusat pembelian oleh-oleh yang tempatnya cukup besar, walau saya tidak tahu pasti, apakah ada wisatawan yang mampir ke sini? Karena lokasinya bukan berada di kawasan wisata. Anyway, saya sempat membeli juga beberapa cemilan yang keseluruhannya merupakan buatan pabrik ini. Rasanya tak kalah enak, namun memang sepertinya masih jarang ada yang mampir belanja.

Bolu bakar ini cukup bisa dinikmati rame-rame dengan keluarga atau sahabat. Satu porsinya, saya kira cukup untuk empat orang, dengan jatah per orangnya masing-masing dua potong lah. Tapi kalau boleh mengutip sebuah tagline iklan brand coklat ternama, “gede sih, tapi rela bagi-bagi?”

Saya bukan vegetarian, tapi memang belakangan ini merasa ingin mulai sedikit menyeimbangkan asupan makanan dengan lebih banyak material yang memiliki gizi lebih baik. Bukannya berlebihan, tapi memang dalam beberapa tahun ke belakang, beberapa kawan terdekat saya mengalami sakit yang cukup berat yang diakibatkan oleh pola makan yang tidak sehat.


Sejak satu bulan terakhir, saya pun mulai mengganti makan siang saya dengan beragam buah-buahan. Inginnya sih, intensitas menyantap makanan sehat ini bisa lebih sering, dan menggantikan penuh menu sehari-hari. Tapi, tidak bisa dipungkiri, makanan yang betul-betul terjaga gizinya itu biasanya memiliki standar harga yang justru lebih tinggi, yang tentunya tidak lebih murah, dan mengenyangkan, dibanding bala-bala, dan mie rebus yang dijual di warung kopi. Sedang saya pun tidak bisa juga memaksa orang rumah, untuk terus-terusan memasak, serta menyantap hidangan yang tidak saya sukai. Oleh karena itulah, agar tidak bosan juga, sesekali, saya menyempatkan untuk membeli menu-menu yang disediakan oleh café dan restoran vegetarian yang kini mulai banyak bertebaran di Bandung

Problem kebanyakan tempat yang menjual makanan sehat itu sebetulnya ada di rasa. Beberapa tempat yang saya pernah coba datangi menawarkan makanan sehat, namun sayang rasanya hambar. Nah, maka dari itulah, saya mencoba merekomendasikan beberapa café dan restoran yang menyediakan menu makanan yang tidak hanya sehat, tapi juga lezat di Bandung.

 1.  Serasa Salad Bar

Waktu masih bergerak open booth dari event to event pada periode tahun 2015-2016, Serasa Salad Bar ini menjadi brand makanan sehat favorit saya. Karena baru Serasa ini nih yang saat itu mengenalkan menu salad sayuran yang rasanya enak. Karena sering bertemu di banyak event yang digelar di Bandungteh Fitri, pemilik Serasa Salad Bar, sempat selalu ingat dengan wajah saya setiap akan membeli saladnya. Kalau sekarang sih wallahualam, belum pernah lagi dilayani langsung saat beli saladnya, haha.

Salad Wrap ala Serasa Salad Bar
Setelah beberapa tahun saya tidak menemukan mereka di event-event yang saya datangi, belakangan saya baru tahu kalau mereka kini sudah memiliki kedai sendiri di kawasan Cilaki, Bandung, serta telah membuka juga kedai di Jakarta, dan Bekasi. Bahkan Teh Fitri sendiri sempat didapuk sebagai salah satu pengusaha sukses yang menjadi salah satu pembicara yang hadir dalam program Akademi Instagram Bandung bulan lalu, bersama bos saya Om Ben, yang merupakan founder dari Torch.id.

Baca juga: Belajar Bisnis di Akademi Instagram Pertama di Dunia

Selang tiga minggu dari acara Akademi Instagram, saya pun akhirnya berkesempatan mampir di Serasa Salad Bar Cilaki. Tempatnya dirancang dengan gaya eco-green minimalis, yang dikelilingi oleh jendela-jendela kaca yang membuat lampu tak perlu dinyalakan pada siang hari. Desain tempatnya tersebut terasa sangat sesuai dengan produk yang dijualnya.


Untuk menunya, Serasa Salad Bar tentu menawarkan lebih banyak menu dibandingkan saat saya rajin membelinya di booth-booth event dulu. Selain menu customize salad yang sudah menjadi ciri khasnya, kini mereka juga memiliki beragam jenis penyajian salad, seperti Thai Beef Salad, Salmon Pasta Salad, Mexican Tuna Salad, Salad Wrap, dll. Menu-menu salad yang judulnya ‘berdaging’ seperti Salmon Pasta Salad, Thai Beef Salad, dan Mexican Tuna Salad, dapat dihidangkan tanpa daging untuk vegetarian. Harganya pun akan menjadi lebih murah, dibanding dengan memakai daging.

Suasana di Serasa Salad Bar Bandung
Saat itu saya memesan Salad Wrap yang dari tampilan dan pengemasannya cukup membuat penasaran. Salad Wrap ini merupakan menu salad yang dibungkus dengan rice paper menjadi 10 pcs one-bite salad, yang bisa dicocol dengan salad dressing. Cara menyantapnya menjadi seperti saat kita memakan Dim Sum.


Serasa Salad Bar
Jl. Cilaki No. 45, Bandung

Range Harga: Rp35.000-55.000


2.    Burgreens Bandung

Bagi warga Ibukota, mungkin sudah tidak asing dengan nama yang satu ini. Karena saat saya berbincang dengan salah seorang crew­-nya, ia mengatakan bahwa Bandung merupakan cabang ke-8 yang dibuka, setelah tujuh gerai sebelumnya sudah beroperasi di Jakarta. Di Bandung, mereka berbagi ruang dengan Toko Organic, yang juga memiliki concern khusus terhadap segmen yang membutuhkan makanan, minuman, serta obat-obatan herbal.

Dari restoran vegetarian yang pernah saya kunjungi, Burgreens ini memiliki variasi menu yang paling kaya. Mulai dari salad, burger, steak, spaghetti, ramen, sate, nasi liwet, hingga smoothies. Nah, si smoothies-nya ini nih yang juara. Bahkan varian menunya tersebut langsung ditawarkan di bagian paling depan menu, sebelum main course. Saya pun sempat menyicipi Burgreens Signature Bowls yang terdiri dari smoothies bayam, dengan taburan kacang mede, almond, spirulina, irisan pisang, dan irisan belimbing. Rasanya sangat segar, cocok dengan udara Bandung yang sedang panas-panasnya.
 
Burgreens Signature Bowls
Untuk menu makanan berat, saya mencoba salah satu menu burgernya, yakni Big Max untuk dijajal. Nama Max sendiri diambil dari nama Max Mandias yang merupakan owner sekaligus executive chef dari Burgreens. Maka tak heran bila menu-menu di burgreens memiliki cita rasa yang terjaga. Burger yang saya coba ini dihidangkan dengan salad, dan kripik ubi ungu. Untuk rotinya sendiri, mereka menggunakan roti gandum, serta patty yang walau terlihat seperti daging cincang, tapi sebetulnya merupakan hasil kreasi dari beberapa bahan, seperti jamur, kedelai, dan beberapa bahan lainnya. Oleh karena itu, bila diamati lebih cermat, warna patty-nya sedikit berwarna kehijauan, dan ketika diiris, dan dikunyah, akan terasa sangat lembut.

Walaupun mengusung tagline Healthy Plant-Based Eatery”, Burgreens memiliki beberapa menu yang terdapat komponen non-vegan di dalamnya. Contohnya adalah Big Max yang saya makan, ia menggunakan cheese sauce untuk penyajiannya. Namun, untuk kawan-kawan yang fully vegetarian, tak perlu jadi khawatir. Karena selama pemilihan menunya, kita akan dipandu dengan ramah oleh crew Burgreens yang sedang bertugas, sehingga bisa memilih menu yang sesuai dengan selera, dan kebutuhan. Di samping menu-menu makanan berat, Burgreens Bandung juga menyediakan beberapa cemilan, seperti keripik, dan dessert manis, yang kadar dan komposisinya sudah terjaga.

Dari segi tempat, Burgreens Bandung juga dapat dibilang sebagai café yang Instagrammable. Desainnya yang homey, dengan beberapa ornament dekorasi yang cantic, menjadi salah satu kelebihannya. Akan tetapi, dari segi harga, rate harga Burgreens cukup tinggi untuk kuliner di Bandung. Ya, cukup menyesuaikan dengan kualitas, serta lokasinya yang berada dekat dengan Jl. Riau, yang terkenal dengan kawasan wisatanya.

Suasana di Burgreens Bandung

Burgreens Bandung
Jl. Cimanuk No. 6, Bandung
Range harga: Rp20.000-65.000 (rata-rata main course di 60.000-an)

Telah terbit terlebih dahulu dalam: Burgreens, Satu Lagi Restoran Vegan yang Hadir di Bandung


3. Toko Organic Bandung

Seperti yang sudah saya ceritakan di bagian Burgreens Bandung, Toko Organic Bandung merupakan penghuni sebelahnya yang terlebih dahulu mendampingi Jl. Cimanuk No. 6. Namun Toko Organic Bandung ini bukanlah sebuah café atau restoran vegetarian, melainkan sebuah toko kelontong / swalayan yang khusus menjual produk-produk ritel makanan, dan minuman sehat.

Produk seperti low-fat dark chocolate, mie instant vegan, unsalted pop corn, Kombucha, dan Kefir (susu kambing fermentasi) bisa ditemukan di sini. Tak lupa untuk obat-obatan organic-nya, mereka menyediakan beberapa merek, termasuk Botanina yang cukup ternama.
 
Salah satu sudut di Toko Organic Bandung
Hal menariknya, Toko Organic Bandung juga menjual beragam produk yang sedang gencar dikampanyekan sebagai solusi pengurangan sampah plastik, seperti tote bag, sendok-garpu dari bahan recycle, hingga sedotan stainless yang sedang populer belakangan ini. Mereka menjualnya dengan harga eceran mulai dari Rp15.000, yang kemudian membuat saya berpikir untuk menjualnya kembali dengan memberikan sentuhan pada pengemasannya. Karena di pasaran, sedotan jenis ini dijual dengan harga cukup beragam. Mulai dari Rp25.000-75.000. Padahal yang membedakan hanya dari pouch-nya saja.
Sedotan stainless yang dijual secara paket dan satuan di Toko Organic Bandung

Toko Organic Bandung
Jl. Cimanuk No. 6, Bandung
Range Harga: Mulai dari Rp5.000



    4. Tiasa Kedai Sehat

Buat kawan-kawan pemuda hijrah yang rajin menghadiri pengajian di Masjid Al-Lathief Bandung, tentu akan sadar dengan keberadaan sebuah kedai makanan sehat yang baru berdiri sekitar satu bulan terakhir tepat di depan masjid yang menjadi markasnya tersebut. Tiasa Kedai Sehat namanya.

Tempatnya tidak terlalu besar, namun dibuat cukup nyaman dengan gaya ala coffee shop kekinian. Menu-menunya ditampilkan dengan rancangan layaknya warteg, hanya saja dibuat lebih modern.
Tiasa Kedai Sehat yang dirancang dengan desain menyerupai warteg
Seperti kebanyakan café vegan yang sudah ada, Tiasa Kedai Sehat menyajikan makanan-makanan daging hasil sintesis bahan-bahan seperti kedelai dan jamur, dengan rasa yang untuk saya sih sangat lezat, namun dengan porsi yang sedikit. Berbeda dengan kebanyakan menu-menu vegetarian yang sering saya jumpai, beberapa menunya dibuat sedikit pedas, sepertinya,  mungkin agar bisa lebih memenuhi selera pasar. Rasa pedasnya masih sopan kok, tapi cukup memberikan booster bagi nafsu makan.


Bagi saya, kelebihan Tiasa Kedai Sehat ini adalah dari harganya yang sangat murah untuk ukuran restoran vegetarian. Untuk satu pilihan menu sayurnya hanya berkisar di harga Rp4.000, sedangkan untuk menu daging sintesisnya ada di rentang Rp11.000.


Karena tempatnya yang tak begitu besar, tapi tak begitu jauh dari kantor. Saya lebih sering memesannya lewat jasa layanan food delivery yang harganya hanya berbeda Rp1.000 saja dari harga dine in. Setelah mencoba beberapa kali memesan menu dagingnya seperti Lasagna, Bulgogi, Ayam Sambal Matah, Daging Sapi Lada Hitam, dan Dendeng Batokok, nama menu terakhir yang disebut lah yang menjadi juaranya. Teksturnya tebal, tapi lembut, dengan rasa yang agak pedas, dan kaya.
Hidangan Nasi Putih dengan Daging Sapi Lada Hitam dan Dendeng Batokok yang dibuat secara sintetik dari jamur dan kedelai

Tiasa Kedai Sehat
Jl. Kihiur No. 10, Bandung
(Minggu libur)
Range harga: Rp4.000-Rp11.000



     5.  Kehidupan Tak Pernah Berakhir
Oke, karena restoran yang namanya cukup absurd ini sudah sangat lama tidak saya kunjungi. Maka saya tidak mempunyai fotonya. Tapi tempatnya sangat menyolok kok, dengan kata “KEHIDUPAN” yang ditulis besar-besar dengan font warna merah di gerainya. Terlebih, resto vegetarian ini juga letaknya sangat strategis, berada di dekat perempatan Jl. Pasirkaliki-Jl. Pajajaran yang terkenal dengan mall Istana Plaza.


Saat pertama menyicipi makanan di Kehidupan Tak Pernah Berakhir (untuk selanjutnya disebut dengan Kehidupan) adalah ketika bekerja di sebuah bank swasta asing pada medio 2012-2013 dulu. Saya dan kawan-kawan yang sering ditempatkan bekerja di booth Istana Plaza harus memutar otak untuk bisa mendapatkan makan siang hemat. Lalu sebuah signboard LED bertuliskan “Nasi+4 sayur= Rp6.000 menjadi jawaban keresahan kami.


Tempatnya sendiri bagi saya memberikan sebuah kesan spiritual. Beberapa ornamen desainnya cukup aneh, dan nyeleneh, sama seperti namanya. Unik memang, tapi tidak seperti desain café-café yang instagrammable zaman now. Di beberapa sudutnya, terdapat layar yang secara non-stop memutar tentang manfaat, serta testimoni para public figure yang hidupnya sehat dengan menjadi vegetarian. Saya dan kawan-kawan seperti sedang di-brainwash untuk dapat menjadi vegan.


Pelayanan di sini mirip dengan sebuah kantin atau warung nasi yang menyediakan berbagai menu. Kita bisa memilih menu prasmanan ataupun ala carte yang tersedia di daftar menu. Bila memilih menu secara prasmanan, nantinya kita akan mengantre, dan dilayani oleh mbak-mbak yang memakai selendang bak Miss Universe. Entah apa yang tertulis di selendang tersebut, saya sudah lupa.


Untuk sayurannya sendiri, rasanya memang tak begitu jauh dengan menu makanan warteg, tapi memang tidak terasa begitu gurih. Mungkin karena semua makanannya tidak mengandung MSG, serta ditumis dengan minyak kelapa rendah kolesterol. Namun yang paling berkenang saat itu adalah daging sintesisnya yang betul-betul terasa seperti daging sungguhan, seperti sate, dan gepuknya yang saat itu pernah saya coba. Aromanya pun demikian, layaknya 100% sedang makan sate ayam.


Hal unik lainnya dari restoran Kehidupan ini adalah adanya keripik rumput laut yang ditumpuk berdus-dus di area masuk, dan dijual oleh SPG yang dandanannya seperti SPG rokok atau kosmetik. Bedanya, tentu yang dipegang keler-keler keripiki rumput laut.


Kehidupan Tidak Pernah Berakhir
JL. Pajajaran No. 63, Bandung
Range Harga (sekarang): Mulai dari Rp13.000

Bagi warga Ibukota, mungkin sudah tidak asing dengan nama yang satu ini. Karena saat saya berbincang dengan salah seorang crew­-nya, ia mengatakan bahwa Bandung merupakan cabang ke-8 yang dibuka, setelah tujuh gerai sebelumnya sudah beroperasi di Jakarta. Di Bandung, mereka berbagi ruang dengan Toko Organic, yang juga memiliki concern khusus terhadap segmen yang membutuhkan makanan, minuman, serta obat-obatan herbal.

Dari restoran vegetarian yang pernah saya kunjungi, Burgreens ini memiliki variasi menu yang paling kaya. Mulai dari salad, burger, steak, spaghetti, ramen, sate, nasi liwet, hingga smoothies. Nah, si smoothies-nya ini nih yang juara. Bahkan varian menunya tersebut langsung ditawarkan di bagian paling depan menu, sebelum main course. Saya pun sempat menyicipi Burgreens Signature Bowls yang terdiri dari smoothies bayam, dengan taburan kacang mede, almond, spirulina, irisan pisang, dan irisan belimbing. Rasanya sangat segar, cocok dengan udara Bandung yang sedang panas-panasnya.

Burgreens Signature Bowls
Untuk menu makanan berat, saya mencoba salah satu menu burgernya, yakni Big Max untuk dijajal. Nama Max sendiri diambil dari nama Max Mandias yang merupakan owner sekaligus executive chef dari Burgreens. Maka tak heran bila menu-menu di burgreens memiliki cita rasa yang terjaga. Burger yang saya coba ini dihidangkan dengan salad, dan kripik ubi ungu. Untuk rotinya sendiri, mereka menggunakan roti gandum, serta patty yang walau terlihat seperti daging cincang, tapi sebetulnya merupakan hasil kreasi dari beberapa bahan, seperti jamur, kedelai, dan beberapa bahan lainnya. Oleh karena itu, bila diamati lebih cermat, warna patty-nya sedikit berwarna kehijauan, dan ketika diiris, dan dikunyah, akan terasa sangat lembut.

Baca juga: Rekomendasi Cafe dan Restoran Vegan di Bandung

Walaupun mengusung tagline Healthy Plant-Based Eatery”, Burgreens memiliki beberapa menu yang terdapat komponen non-vegan di dalamnya. Contohnya adalah Big Max yang saya makan, ia menggunakan cheese sauce untuk penyajiannya. Namun, untuk kawan-kawan yang fully vegetarian, tak perlu jadi khawatir. Karena selama pemilihan menunya, kita akan dipandu dengan ramah oleh crew Burgreens yang sedang bertugas, sehingga bisa memilih menu yang sesuai dengan selera, dan kebutuhan. Di samping menu-menu makanan berat, Burgreens Bandung juga menyediakan beberapa cemilan, seperti keripik, dan dessert manis, yang kadar dan komposisinya sudah terjaga.

Dari segi tempat, Burgreens Bandung juga dapat dibilang sebagai café yang Instagrammable. Desainnya yang homey, dengan beberapa ornament dekorasi yang cantic, menjadi salah satu kelebihannya. Akan tetapi, dari segi harga, rate harga Burgreens cukup tinggi untuk kuliner di Bandung. Ya, cukup menyesuaikan dengan kualitas, serta lokasinya yang berada dekat dengan Jl. Riau, yang terkenal dengan kawasan wisatanya.

Suasana di Burgreens Bandung

Burgreens Bandung
Jl. Cimanuk No. 6, Bandung
Range harga: Rp20.000-65.000 (rata-rata main course di 60.000-an)

“Cobalah untuk menyeruput kopi lebih lama, cobalah untuk menyentuh, dan merasakan dinginnya lantai secara perlahan ketika pulang kerja, cobalah untuk memandang hujan, tidak dengan cara yang seperti biasanya.”

Begitu bunyi nasihatnya. Sesaat setelah saya menyelesaikan pertanyaan mengenai cara untuk menemukan kembali diri dalam menulis. Lebih dari 700 artikel lifestyle yang saya tulis selama tiga tahun ke belakang di sebuah media, memang tanpa sadar telah melenyapkan sedikit demi sedikit rasa personal pada setiap pilihan kata yang saya coba susun. Oleh karena itulah, selepas memutuskan hengkang dari dunia media, saya pun mulai kembali rajin memberi asupan untuk blog pribadi. Tak kurang dari tiga kali seminggu. Walaupun, nafas reportase masih sangat terasa di dalamnya. Justru memang karena itulah saya melangkahkan kaki ke IFI (Institut Francais d’Indonesie) Bandung pada malam tersebut, yaitu agar dapat menemukan dan menuliskan suara sendiri lewat Theoresia Rumthe yang hadir sebagai pemberi materi.
Theoresia Rumthe, dalam workshop "Temukan dan Tuliskan Sendiri Suaramu" di Bandung Readers Festival 2019
Sama seperti karya tulisnya, tutur bicaranya sangat indah. Mendengar ia berkata, sudah seperti melihatnya menuliskan puisi secara live. Ia menata kata dengan cermat, serta pandai menempatkan jeda sebelum mengakhiri kalimat. Terkadang, keheningan pada jedanya lah yang membuat ucapan yang ia lempar berikutnya menjadi bernyawa.

Saya cukup mengagumi soal rancangan arena yang disiapkan panitia Bandung Readers Festival untuk Theo. Kursi-kursi disusun memutar. Lalu sebuah meja dan kursi diletakkan di tengah-tengahnya untuk sang pembicara. Walaupun, baginya seluruh ruangan tersebut adalah panggungnya. Ia cukup aktif berjalan mendekat, dan berinteraksi dengan orang-orang yang menjadi audiensnya.
 
Suasana workshop "Temukan dan Tuliskan Sendiri Suaramu" di Bandung Readers Festival 2019
“Tempat Paling Liar di Muka Bumi” menjadi awal perkenalan saya dengan Theoresia Rumthe. Buku puisi yang ia tulis bersama Weslly Johannes ini cukup berhasil membawa imajinasi saya melayang ke berbagai adegan, serta sebuah tempat eksotis bernama Saumlaki. Saat bertemu dengannya kemarin, ia persis seperti yang digambarkan Weslly dalam puja-puji yang ia lontarkan dalam buku tersebut.

Theo tak datang dengan membawa tangan hampa kala itu. Ia membawa sebuah wadah berisikan batu, tanah, serta bunga yang ia pakai untuk menyampaikan materinya. Memang cukup aneh untuk sebuah workshop tentang literasi. Namun saya pun kemudian paham ketika dalam sebuah sesi, ia memainkan benda-benda tersebut, untuk memanggil ingatan personal kami semua, yang kemudian kami wujudkan masing-masing dalam bentuk tulisan.

Beberapa dari kami pun bergiliran menyampaikan hasil tulisan yang dibuat dalam waktu singkat. Termasuk saya, yang dari hasilnya masih terdengar seperti membaca lantang sebuah surat kabar. Beda halnya dengan kebanyakan kawan lain dari ruangan ini. Pilihan diksi mereka sangat menarik, beberapa di antaranya terdengar sangat berjiwa. Saya pun langsung teringat akan kawan saya Nurul dari Mbantul, yang sepertinya memiliki warna penulisan kata yang sama dengan orang-orang ini.

Seperti yang saya sampaikan di awal, Theo meminta saya untuk belajar lebih melambat, belajar untuk melihat ke dalam, menikmati setiap pertemuan, mengamati perlahan detil yang harusnya dapat menjadi hal yang lebih. Mulai dari aroma tubuh, hembusan nafas, hingga sepatu yang orang kenakan. Iya, kata-katanya ini memang menjadi hal yang menyadarkan. Karena entah sejak kapan, memainkan gawai menjadi sebuah jalan saya untuk menghindar dari sebuah interaksi yang mungkin sudah ditakutkan duluan akan menjadi menjemukan.


Bandung Reader Festival
4-8 September 2019
Di berbagai ruang literasi di Kota Bandung


“Kaki seperti ingin lari dan melangkah masuk rumah,
tapi Nur semakin menggila, ia masih menari dengan senyuman ganjil di bibirnya.” 
Saat membaca paragraf dalam utas KKN di Desa Penari ini, ingatan saya langsung melambung ke cuplikan video mengenai Kesenian Tarawangsa yang direkam kawan di Komunitas Aleut saat berkunjung ke Desa Rancakalong, Sumedang, tahun lalu. Apalagi dalam kisah yang menjadi viral di twitter tersebut, diceritakan pula bahwa tarian Nur yang menggila itu diiringi oleh suara musik tradisional yang bersahut-sahutan, sama halnya dengan Tarawangsa. Bedanya, bila dalam cerita tersebut, Widya yang menjadi tokoh utama, menyaksikan tarian Nur yang diiringi oleh suara musik gamelan, sedangkan dalam Tarawangsa, ia diiringi oleh sebuah alat musik gesek yang bentuknya mungkin sedikit mirip dengan rebab. Nama kesenian ini sendiri diambil dari nama alat musik yang menjadi instrument utamanya, yakni Tarawangsa.
Pertunjukan Kesenian Tarawangsa di Kampung Adat Cigugur
Untuk latar tempat, tentunya lokasi cerita Desa Penari yang disebutkan terjadi di sebuah daerah di Timur Pulau Jawa ini, membentang cukup jauh dengan tempat asal Kesenian Tarawangsa yang populer di Jawa Barat. Apa yang akan saya ceritakan ini, tidak bermaksud untuk kemudian ikut mencoba menebak lokasinya, atau menyocoklogikan berbagai hal, hanya ingin berbagi beberapa pengalaman, serta sudut pandang.

Sebetulnya, di samping video Tarawangsa Rancakalong yang saya tonton, saya pun pernah langsung menyaksikan sendiri kesenian Tarawangsa pada saat Seren Taun di Kampung Adat Cigugur, Kuningan, tahun lalu. Masih dengan Komunitas Aleut juga. Namun, menurut testimoni kawan-kawan yang ikut sebelumnya ke Rancakalong, feel, dan nuansa yang ditimbulkan berbeda antara dua pertunjukan Tarawangsa tersebut berbeda. Katanya, musik yang dimainkan di Cigugur ini kurang greget. Suara gesekan senarnya tidak seliar yang di Rancakalong. Hal ini dapat terlihat dari beberapa wajah penari, yang lebih banyak tertangkap ekspresi lelah, dan bosan. Termasuk wajah kawan saya, Amanda, yang  berkesempatan ikut menari. Di wajahnya jelas tersirat kalimat, “duh, ini kapan selesainya sih.”

Selain Rancakalong, daerah lain yang masih melestarikan kesenian Tarawangsa ini adalah Tasikmalaya, dan Banjaran. Rupanya, saat malam 1 Muharram kemarin, kawan-kawan Komunitas Aleut kembali menyaksikan langsung kesenian Tarawangsa yang digelar di Kampung Gumuruh, Banjaran. Keesokan harinya, saya dikejutkan dengan video yang diunggah kawan Aleut, yakni Aip, di twiiter, yang menunjukkan dirinya ngibing dengan sangat lihai, dan sangat menjiwai. Saya cukup kenal Aip. Raut dan gerakannya ini jelas tak tampak seperti dirinya. Dalam tweet yang ia bubuhkan di video tersebut, ia pun mengakui kalau ia berada dalam kondisi trance. Saya pun kemudian bertanya kepadanya, tentang bagaimana rasanya pada saat itu. Ia menjawab, “siga eureup-eureup/sleep paralysis, setengah sadar, nggak bisa kontrol gerakan.” Ya, saya pun sepertinya bisa membayangkan rasanya. Sedangkan kawan saya lainnya, yakni Yasna, bertestimoni kalau rasanya setelah ngibing itu badan menjadi lelah, tapi perasaan menjadi ringan, dan bahagia.

Saya tidak tahu pasti tentang tarian apa yang diceritakan di “KKN di Desa Penari” ini, namun saat saya bertanya kepada teman yang berasal dari Jawa Timur, ia mengatakan kalau di Jawa Timur ada kesenian Tayub, dan Gandrung. Tapi bila melihat dari video dari dua kesenian tersebut, tampaknya Tayub, dan Gandrung ini betul-betul ditampilkan untuk kebutuhan hiburan masyarakat saja, tidak match dengan yang ada di dalam cerita. Beda halnya dengan Tarawangsa yang sepertinya memiliki aura tersendiri dalam setiap pertunjukannya. Coba saja tonton video dengan keyword ‘Tarawangsa’ di Youtube, dan nilai sendiri perbedaannya.

Walaupun terdengar creepy, sebetulnya Tarawangsa ini tak berhubungan dengan sesuatu yang berbau klenik, dan tak semenyeramkan kelihatannya. Hal ini diakui oleh seorang kawan saya yang menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, yakni Putri Puspita. Putri yang rutin melakukan Tarawangsa untuk meditasi bersama komunitasnya ini menjelaskan bahwa sebetulnya pada saat Tarawangsa, penarinya itu mencoba melepaskan diri (ikhlas) untuk mengikuti irama. Mereka membiarkan geraknya mengikuti maunya badan. Karena memang tak ada gerakan ibingan khusus saat Tarawangsa. Saat ditanya soal orang-orang yang mengalami trance, ia pun menjawab kalau trance di sini bukan dalam artian “kesurupan” hantu, jin, atau makhluk halus lainnya. Trance dalam Tarawangsa ini ibarat seperti kita benar-benar melepaskan diri, dan enjoy dengan diri sendiri, seakan tak ada orang lain di sekitar. Gerak mengikuti badan, sambil menelaah ke dalam diri.

Di samping tariannya, hal lain dalam cerita “KKN di Desa Penari” yang cukup menarik perhatian saya adalah keberadaan Tipak Talas. Diceritakan bahwa Tipak Talas merupakan sebuah kawasan terlarang yang terdiri dari hutan belantara. Bagi saya sangat terdengar seperti Hutan Larangan yang banyak hadir  di banyak Kampung adat di Jawa Barat. Selama beberapa tahun ke belakang, saya memang sedang menyukai untuk tahu, dan belajar tentang kebudayaan di berbagai kampung adat. Cerita tentang hutan larangan ini pernah saya dengar saat bertandang ke Kampung Adat Cireundeu, dan Kampung Adat Cikondang. Bahkan saat ke Cikondang, saya pun sempat memasukinya. Tapi tentunya, dengan aturan dan adab setempat. Hutan larangan Cikondang pun sebetulnya hanya dilarang dimasuki pada hari-hari tertentu, serta dengan beberapa syarat, seperti melepas sandal, dan untuk perempuan tidak boleh masuk ketika sedang haid. Banyak hal menarik yang bisa dijumpai di dalam hutan larangan ini, salah satunya adalah keberadaan pohon melati berusia 350 tahun yang akar, serta dahannya menjulur ke pohon-pohon lain di sekelilingnya.



Menyoal tentang kebenaran cerita “KKN di Desa Penari”, wallahualam, tentu hanya tokoh-tokoh yang disebutkan di dalamnya yang paham. Namun, saya rasa semua yang membaca pun akan sepakat akan moral story-nya yang mengajarkan soal adab ketika bertandang ke tempat orang. Selain hal itu, di sini saya hanya mencoba untuk menceritakan sisi lain dari adat istiadat, dan tradisi budaya di masyarakat yang teringat kala membaca cerita tersebut.

Cerita seram, tak harus kemudian menjadi muram, tapi bisa dijadikan sebuah pengingat bahwa sebetulnya masih ada kuasa Tuhan.

Dari saya, yang dulu kuliah nggak ngalamin KKN, karena disuruh KKU oleh kampus.

Hari ini saya melangkahkan kaki ke bioskop dengan bermodal sedikit pengetahuan saja tentang Gundala. Saya tahu wujud dan namanya cukup lama, tapi masih kalah akrab dengan sosok Si Buta dari Gua Hantu yang sempat nongol di layar kaca. Awalnya saya mengira Gundala ini secara fisik mirip, dan memiliki kekuatan seperti The Flash. Namun ternyata, kekuatannya jauh berbeda, walaupun sama-sama mendapat kekuatan dari petir. Malah, kisah Sancaka yang menjadi Gundala ini justru banyak mengingatkan saya kepada sosok Batman. Beraksi lebih sering pada malam hari, dan punya ‘orang dalam’. Sisi penceritannya yang gelap pun agak membuat saya terngiang dengan film Batman Begins. Namun, jangan bayangkan sosok seorang milyuner playboy dengan segudang alat canggih bak Bruce Wayne. Karena Sancaka hanyalah seorang security pabrik.
Poster Gundala, Picture Courtesy: Jagat Sinema Bumi Langit
Seperti beberapa film sebelumnya yang disutradarai oleh Joko Anwar, ia selalu berhasil mengangkat peran anak-anak menjadi sangat menonjol. Bahkan Muhammad Adhiyat yang memerankan tokoh Ian dalam Pengabdi Setan pun berhasil menyabet penghargaan Pemeran Anak Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Nampaknya hal tersebut sangat mungkin terjadi pula pada Muzakki Ramdhan, aktor pemeran Sancaka cilik yang aktingnya dapat mencuri perhatian sejak awal film. Malah saya lebih menyukai karakter Sancaka kecil, dibandingkan dengan Sancaka dewasa. Lalu ada juga tingkah laku kocak dari Teddy, adik dari Merpati, salah satu next hero yang diperankan oleh Tara Basro yang lumayan mendapat porsi tampil cukup banyak. Di samping itu, kemunculan beberapa tokoh lain  dari Jagat Sinema Bumi Langit memberikan efek excitement tersendiri terhadap keberlanjutan universe ini di industri perfilman Indonesia. Setidaknya, selama beberapa tahun ke depan, penonton Indonesia akan disuguhkan ‘rasa’ film yang berbeda. Di luar pemeran anak-anaknya, karakter Ghazul yang diperankan Ario Bayu, dan Pengkor yang diperankan oleh Bront Palarae cukup memorable. Selain karena karakternya, beberapa dialog yang mereka ucapkan pun quotable. Hanya saja, saya berharap karakter Pengkor ini bisa tampil lebih evil. 


Kehadiran Cecep Arif Rahman sebagai aktor sekaligus penanggung jawab Koreografi di Gundala, sepertinya memang menjadi jaminan mutu dari adegan laga yang disajikan. Aksi-aksi pertarungan sekelas The Raid pun menjadi salah satu santapan lezat di film ini, walaupun tidak sampai terlalu vulgar. Adegan-adegan yang melibatkan darah di sini, selalu disamarkan dengan apik, tanpa menghilangkan intensitas ngeri dan ketegangannya.

Dari segi sinematografisnya, tentunya kualitas arahan Joko Anwar tak perlu diragukan lagi. Film ‘Kala’ yang meraih Tata Sinematografis Terbaik pada FFI 2007 menjadi salah satu buktinya. Bahkan, di bagian awal film, serta di beberapa bagian lainnya, vibe-nya berasa ‘Kala’ banget. Tone warnanya pun sama-sama banyak menghadirkan warna kuning yang hangat. Untuk kualitas visual efek nya pun terbilang cukup baik, dan tak berlebihan. Walaupun ada satu adegan yang menurut saya sedikit agak kurang pas penggunaannya, tapi masih bisa termaafkan.

Bagi saya, hal paling menarik yang disuguhkan dalam film pertama Jagat Sinema Bumi Langit adalah dari segi skenario, dan penceritaannya. Saya menangkap kesan bahwa film Gundala ini ingin menyampaikan pesan tentang perlawanan rakyat. Mulai dari adegan pertama film, hingga adegan penutup. Anyway, adegan pertama film ini diawali dengan para buruh pabrik yang bentrok dengan petugas keamanan perusahaannya. Adegan ini tampil juga di trailer ya, jadi ini bukan spoiler, hehe. Lalu kita bisa coba menghitung berapa banyak kata ‘rakyat’ disebut sepanjang film. Seolah ingin menegaskan sebuah pesan tertentu dari masyarakat bawah yang berada di tengah bayang-bayang penguasa. Hal ini juga dapat terlihat dari kostum Gundala yang benar-benar ditampilkan apa adanya, layaknya sebuah low cost cosplay. Bahkan, kadang Abimana Aryasatya yang memerankan Sancaka, tampak terlihat sedikit aga kedodoran dalam kostum Gundalanya. Namun bagi saya, kostum Gundala ini menjadi sebuah simbol personifikasi atas rakyat kecil Indonesia yang hidupnya sederhana. Ketika ia berada satu frame dengan karakter antagonis Pengkor pun, nampak sekali pesan ‘rakyat vs penguasa’ yang ingin coba disampaikan ke penonton.

Selain soal perlawanan rakyat, Joko Anwar juga menyelipkan pesan-pesan lain yang mungkin menjadi keresahan banyak orang di Indonesia saat ini, seperti korupsi, suap, dan hoax. Salah satu cara penyampaian pesannya pun sebetulnya sempat membuat saya terheran-heran, karena membuat kasus yang diangkatnya seperti terlihat bodoh. Saya baru memahami pesan, dan tujuan sebenarnya menjelang akhir cerita. Justru cara ia memberikan pesannya ini sangatlah cerdas. 

Sebagai titik mula rentetan film Jagat Sinema Bumi Langit yang akan tayang di Indonesia, Gundala menjadi awal yang menjanjikan. Joko Anwar berhasil menghindari kisah-kisah stereotype superheroes yang biasa disajikan Marvel atau DC. Ia memberikan warna sendiri untuk Gundala. Walaupun dengan gaya intro logo Bumi Langit di awal, serta keberadaan after credit scene-nya sempat mengingatkan saya dengan film-film Marvel. Tentunya saya mengharapkan,  film-film Bumi Langit selanjutnya bisa setidaknya sama, atau bisa lebih baik dari Gundala. Janganlah seperti film DC yang belakangan justru lebih banyak mendapat ulasan buruk, serta lebih banyak berita soal konflik yang terjadi antara elemen pendukung film.

By the way, konten after credit scene yang tayang, ternyata sesuai dengan dugaan saya, hehe. Ingin tahu adegan apa yang muncul? Yaaa, tonton saja laah sendiri.