Semenjak mulai populer empat tahun lalu, terhitung sudah tiga kali saya mengunjungi Curug Cisanggarung atau yang lebih dikenal dengan Batu Templek. Padahal Batu Templek itu adalah nama jenis batuan yang banyak ditemukan di kawasan wisata alam tersebut. Mungkin karena itulah, pengelola dan warga sekitar mulai mengedukasi melalui plank penunjuk lokasi bahwa nama tempat ini adalah Curug Cisanggarung.
Jembatan gantung menjadi atraksi baru di Curug Cisanggarung Batu Templek
Selain beberapa plank bertuliskan Curug Cisanggarung yang mulai dapat terlihat di sekitar lokasi, rupanya tempat ini mengalami banyak perubahan lain dari sejak saya mampir untuk menyaksikan acara penutupan Bandung International Art Festival (BIAF) yang digelar di sini tahun lalu.
 
Curug Cisanggarung Batu Templek menjadi venue penutupan Bandung International Art Festival 2018
Untungnya, Curug Cisanggarung tidak didandani sampai terlalu menor. Setidaknya, tidak ada ornamen berbentuk jantung hati, ataupun dekorasi warna-warni yang justru dapat merusak wajahnya. Spot selfie sih ada, tapi tidak berlebihan. Hanya sebuah papan kayu bergambar tubuh manusia purba, patung dinosaurus, dan sebuah jembatan gantung yang panjangnya mungkin tak lebih dari 300 meter.

Keberadaan jembatan gantung tentu paling menarik perhatian saya. Mungkin idenya dari Jembatan Situ Gunung, Sukabumi, yang sedang hits belakangan. Saya pun mencoba menyeberangi jembatan ini dengan perasaan sedikit was-was, terutama saat mencapai kayu di bagian tengah jembatan yang mengeluarkan bunyi cukup nyaring saat diinjak. Memang keberadaan tanda di mulut jembatan yang mengatakan “untuk keselamatan bersama, gunakan 3 orang” cukup menjadi sebuah peringatan. Akhirnya ketika kembali menuju ke tempat parkir motor pun, saya lebih memilih untuk menyeberangi sungai saja.

Sama seperti saat pertama kali mampir ke sini tiga tahun silam, sungainya kotor bak bajigur. Tapi saya rasa warna air sungai yang kecoklatan ini dihasilkan oleh kandungan warna batuan di sini. Karena bila melihat air yang mengalir di atas curug, warnanya lebih bening. By the way, Curug Cisanggarung ini memang tidak seperti Curug Cimahi, atau Curug Malela yang berarus deras. Air yang jatuh dari puncak lebih tepat disebut percikan. Apalagi bila saat dulu mampir ketika musim kemarau, air terjun ini menjadi tetesan.
Curug Cisanggarung Batu Templek Bandung

Batu Templek di Curug Cisanggarung ini dikenal sebagai jenis batuan yang sering dipakai untuk dekorasi rumah. Selain karena kekuatannya, teksturnya pun sangat unik. Bahkan menurut Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung dalam salah satu bukunya, Batu Templek inilah salah satu material yang digunakan untuk membangun Gedung Sate pada masa pemerintahan Kolonial Belanda.

Untuk ukuran tempat wisata, Curug Cisanggarung ini memang terbilang sangat sepi. Dari beberapa kali kunjungan saya ke tempat ini, saya tidak pernah bertemu dengan pengunjung lainnya. Tempat parkir dan pos ticketing­-nya pun tak pernah ada yang menjaga, meski ada harga tertera. Alhasil, kunjungan saya ke tempat ini selalu haratis.
 
Salah satu gimmick yang ditambahkan di kawasan wisata Curug Cisanggarung Batu Tempkek Bandung
Bagi yang ingin mengunjungi Curug Cisanggarung Batu Templek Bandung ini, sebaiknya menggunakan kendaraan roda dua yang kondisinya cukup prima. Selain karena banyak jalan yang menanjak, lebar jalan pun agak sempit untuk menampung kendaraan roda empat. Jalan menuju lokasi cukup mudah ditemukan di seberang Lapas Sukamiskin. Namun pastikan untuk mengikuti plank petunjuk arah yang baru, karena ia akan mengarahkan akses jalan yang lebih aman untuk dilintasi. Karena sebelum ada plank-plank tersebut, saya selalu mengikuti jalur lurus melewati jalanan berbatu  dengan turunan tajam.


Tanda dari Wildan untuk saya bergerak sudah muncul melalui pesan singkat di whatsapp, padahal angka di sudut layar gawai sudah menunjukkan pukul 22.30. Saya ragu, masih adakah tempat makan yang buka pada jam tersebut. Tak berapa lama kemudian, Wildan pun membagikan lokasi tempat tujuan wisata kuliner mala mini yang ternyata tak jauh dari rumah saya, yaitu di kawasan Cibadak. Ya, pantas saja kalau Cibadak, jalanan yang dikemas sebagai wisata Pecinan di Kota Bandung ini memang masih sangat hidup bahkan hingga lewat tengah malam nanti.
Kobe Teppanyaki Cibadak yang selalu ramai pengunjung.
Kobe Teppanyaki adalah tujuan kami malam itu. Ironisnya, saya yang notabene merupakan penduduk setempat, belum pernah mendengar nama tersebut, sehingga saya sempat meragukan kualitas menu yang akan dihidangkannya. Apalagi, kawasan Cibadak ini juga dikenal juga sebagai kawasan wisata kuliner yang banyak menyajikan makanan non-halal. Kekhawatiran tersebut dengan segera ditepis Wildan ketika bertemu di pertigaan Jl. Cibadak dan Jl. Pajagalan yang merupakan lokasi dari lapak Kobe Teppanyaki. Ia mengaku sudah memastikannya sebelumnya, karena ia sendiri pun cukup sering mampir ke tempat tersebut bersama kawan-kawan Muslim lainnya.

Setelah sampai di Kobe Teppanyaki, barulah saya langsung mengenali tempat ini. Tempatnya sebetulnya cukup menyolok karena keramaian pengunjungnya, namun plank namanya sendiri kurang dapat terlihat karena posisinya terlalu tinggi dengan kondisi penerangan yang lebih condong ke gelap. Saya sendiri hampir setiap hari selalu melewatinya saat pulang kerja.

Dapur Kobe Teppanyaki ini bisa dibilang dapur tersibuk sepanjang kawasan kuliner Jl. Cibadak. Lima sampai enam pegawai hampir selalu terlihat non-stop memasak di dapur yang sepertinya sengaja ditaruh di luar. Pelayan yang hilir mudik, pengunjung yang keluar masuk, serta atraksi api yang sesekali muncul dari penggorengan, seolah semakin ingin mendapat kepastian lirikan setiap pejalan kaki, serta pengguna kendaraan yang melintas.

Satu jam setengah menjelang pergantian hari, namun nampaknya tempat ini enggan dikalahkan waktu. Suasana keramaiannya masih sama seperti pukul 8 malam. Karena kali ini saya dijanjikan traktir oleh Wildan, maka saya hanya memindai buku menu hanya sekilas mata. Cukup banyak, dan lengkap sepertinya hidangan Jepang yang disajikan di sini. Mulai dari sushi, sukiyaki, ramen, dan tentu saja teppanyaki yang kemudian dipilh Wildan untuk kami bertiga, termasuk salah seorang rekan kantornya yang ikut serta. Selain masakan Jepang, Kobe Teppanyaki juga menyediakan aneka menu-menu Asia lainnya. Harganya kebanyakan berkisar di antara Rp40.000-Rp60.000-an. Cukup tinggi memang harganya. Tapi itu hanya  kesan pertama saja, hingga tiga porsi teppanyaki mendarat di meja kami.

Porsi teppanyaki yang dihidangkan sangat banyak dengan komponen yang lengkap. Ada udang, cumi, daging sapi, daging ayam, jamur, dan aneka sayur. Penyajiannya yang menggunakan hotplate juga menjadi daya tarik tersendiri. Tadi kami sempat melihat kobaran api yang sangat besar, hingga seolah akan membakar habis tempat ini. Namun rupanya, atraksi kobaran api tersebut adalah finishing movement dari proses masak teppanyaki, sekaligus sebagai tanda bahwa harus ada pelayan yang segera membawakan hidangan tersebut ke meja sang pemesan. Hal ini untuk menjaga kehadiran asap, aroma, serta gelembung-gelembung didih yang masih muncul di permukaan pada lima menit pertama setelah dihidangkan. Secara visual, hal ini memang menjadi sasaran para pengabdi instastory yang tentu juga merupakan sebuah promosi cuma-cuma bagi restoran.
Satu porsi teppanyaki di Kobe Teppanyaki
Tentunya, bukan cuma soal tampilan. Karena dari segi rasa pun, saya rasa Kobe Teppannyaki ini masakan Jepang terenak yang pernah saya makan. Racikan bumbu, serta kuahnya menjadi pembeda. Rasanya tidak terlalu asin, ataupun kemanisan. Pas. Kuahnya tidak encer, dan tidak terlalu kental, tapi bisa membuat seluruh komponen makanan di dalamnya terasa lezat. Bahkan saat hotplate sudah hampir kosong pun, saya masih mengumpulkan sedikit kuah yang masih tersisa untuk disuapkan ke mulut.

Pengalaman kuliner yang berkesan di Kobe Teppannyaki ini cukup menjadi alasan untuk mampir beberapa kali ke tempat ini dengan sobat lainnya, keluarga, dan si calon istri. Dalam total empat kali kunjungan berikutnya ke sini, saya tetap memilih Teppanyaki, sementara orang-orang yang saya ajak kemari direkomendasikan untuk menyicipi menu yang lain. Tentu saja hal ini agar saya bisa menjajal rasa menu yang lain, tanpa harus kehilangan kenikmatan menyantap teppanyaki yang segera sudah langsung menjadi salah satu hidangan paling digemari.

Sama seperti teppanyaki, menu-menu lainnya seperti nasi goreng, kwetiauw, sukiyaki, tomyam, dan steamboat juga memiliki ukuran porsi yang sangat besar. Bahkan saat saya membawa kedua orang tua untuk makan di sini, keduanya hanya mampu makan sepertiga dari makanan yang mereka pesan. Untung saja, sisa makanannya dapat mereka diminta untuk dibawa pulang. Tak butuh waktu lama untuk ibu mencintai makanan di sini. Hanya selang hitungan beberapa hari, Ia sudah minta untuk diantar ke Kobe Teppanyaki untuk membeli Tomyam secara take away, dengan alasan sedang malas masak. Satu porsi Tomyam tersebut sudah bisa dibagi ke dalam empat porsi untuk makan malam.

Bila mencari makanan enak di Bandung, saya tentu akan merekomendasikan Kobe Teppannyaki sebagai salah satu tempat tujuan rekomendasi di Bandung. Walaupun memang dari segi tempat agak kurang nyaman. Tempatnya sebetulnya luas, namun selalu dipadati oleh pengunjung. Hal ini membuat udara di dalamnya terasa sangat gerah. Antrian yang selalu terlihat mengular, membuat kita merasa tidak enak kalau harus terlalu lama diam di sana. Anyway, poin plus lainnya adalah pelayanan yang tidak hanya cepat, tapi juga sangat ramah. Di tengah ke-hectic-an suasana di Kobe Teppannyaki, kita dapat melihat seorang ibu yang dapat mengatur flow pelayanan dengan sigap, serta memberikan semangat, dan senyuman yang menular.
 
Suasana di Kobe Teppanyaki
Kobe Teppanyaki
Jl. Cibadak No. 101
Bandung