Penulis: ILY 4%, Bandung
Editor: Irfan Noormansyah
Picture Courtesy of Falcon Pictures dan Max Pictures
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Film Milea: Suara dari Dilan, akhir trilogi film Dilan 1990,  tayang 13 Februari 2020. Ditunggu-tunggu oleh siapa? Entah itu penggemar Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, atau pengagum Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Oh ya, barangkali ada juga penggemar Pidi Baiq yang menantikannya. Kalau mereka belum hilang feeling dengan pengejawantahan novel-novel best seller-nya Pidi Baiq, dalam film yang dikemas cheesy
Yang jelas-jelas menunggu premier penayangan film Milea, ya Max Pictures dong, perusahaan rumah produksinya Dilan. Kehangatan sambutan dari para penggemar, tentu sangat diharapkan produser, di tengah dahaga box office rilisannya yang lain. Sebut saja Surat dari Kematian, film ini hanya mencatatkan 70.508 penonton sejak penayangannya 9 Januari 2020 lalu di bioskop.
Film ini gagal terdongkrak meski dipasang di layar lebar nyaris bersamaan dengan Rasuk 2, film yang tergolong sukses dengan mengangkat satu lagi novel best seller Risa Saraswati. Rasuk 2 menutup layar dengan 376.561. * sumber filmindonesia.or.id. Begitu pun dengan Rembulan Tenggelam di Wajahmu, yang tayang Desember 2019, tidak menembus satu juta penonton acan meski sudah menggaet Anya Geraldine. Oleh karena itu, tidak berlebihan kelihatannya ketika Max Pictures dan para penyelenggara event menyemarakkan, atau dalam Bahasa Sunda-nya ‘ngareuah-reuah’ kehadiran film Milea, dengan sampai membuatkan parade.
Tidak puas berpromosi cuma dengan baliho Milea cuddle-an sama Dilan yang gede-gede se-Indonesia. Dijanjikannya, akan ada konvoi keliling Kota Bandung. Lalu ditasbihkannya-lah 13 Februari 2020 sebagai Hari Milea
"Tahun lalu kita bikin Hari Dilan, dan tahun ini bikin Hari Milea. Melihat respons masyarakat, jadi pada 13 Februari nanti saat pemutaran serentak sekaligus kita tetapkan sebagai Hari Milea," ucap Sutradara Milea: Suara dari Dilan, Fajar Bustomi, dalam sebuah wawancara dengan wartawan. *Liputan6.com
Benar-benar hari yang dinantikan (oleh Fajar dan Max Pictures tentunya). Di mana akan banyak sekali kelompok pemotor berseragam kaus merchandise Dilan iring-iringan di jalan-jalan Kota Bandung, yang juga pasti akan diiringi bus wisata ‘kaleng tanggung’ Bandros, dan sosok Milea juga Dilan melambai tangan di atasnya. Membayangkannya saja sungguh mengesankan. Apalagi jika rute paradenya agak belok sedikit, sampai ke Kopo.
Jika di Jalan Wastukancana, Dilan dadah-dadah, dan sekelompok pelajar SD Banjarsari mengelu-elukannya sepintas, karena mobil melaju cukup kencang. Lain halnya di Kopo. Dalam 15 menit Dilan-Milea dadah-dadah, para pegawai pabrik yang dari tadi memotretnya dengan kamera smartphone Android bisa mengabadikan cukup lama. Macet Bro, kelompok patwal juga susah menerobos sempitnya belokan Dayeuhkolot.
Meninggalkan Kopo, yang ketika menyebutkan nama jalannya saja sudah ngantuk, konvoi menembus Majalaya untuk ke Rancaekek. Di sana, Dilan, Milea, dan kawan-kawan akan dibawa menelusuri Bandung era 1990 yang sebenarnya. Masih banyak kendaraan bermodol,  alias delman berseliweran. Abu industri bercampur dengan debu aspal yang mengelupas membuat udara di Bandung tidak seromantis di film. Makeup dan skincare Iqbaal-Vanesha berubah menjadi hinyai.
Bandung romantis teh, kalau Dilan dan Milea motoran malam-malam saja, paling cuma keganggu dedek-dedek main GrabWheels. Tapi mana tahu Milea soal macet, konvoinya pun seringnya kan pakai patwal.
Sepelemparan batu lagi ke Rancaekek Trade Center untuk promo film, Milea dan kawan-kawan akan dibuat kaget. Pemeran Wati pun berkata kasar, “anjir Kahatex-na ge banjir.” Sungguh mematahkan quotes, “…dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka” tea.
*
Penetapan Hari Milea ini diumumkan di media massa. Sebuah akun Instagram media online di Jawa Barat, @pikiranrakyat juga turut mewewarakannya, dengan memasang foto Ridwan Kamil, istrinya Atalia Praratya, diapit oleh Vanesha dan Iqbaal. Entah apa tendensinya memasang foto Pak Gub di situ, tapi kelihatannya netizen di kolom komentarnya, malah jadi fokus seolah Ridwan Kamil yang mencanangkan Hari Milea.
“asteukud sih pak sejujurnya huhuy”, tulis akun fsynrn_,yang artinya ‘kayaknya enggak perlu deh Pak’.
Kalau akun supriyanto_adi bilang, “Mending artisnya bawa keliling kang RK dari rancaekek sampai dayeuhkolot baleendah terus berenang dicitarum, rakyat kebanjiran sibuk promosi film...mirisss”.
Begitu juga rianto498 hebat gaduh pamingpim teh, rahayat nuju lieur k banjir, ieu malah konvoii,,”

Idih, padahal kan yang mau konvoi bukan Pak Gub. Pak Gub tuh sibuk tahu enggak? Kemarin-kemarin saja baru bikin goyang ubur-ubur di TikTok sama Boy William. Lagian apa sih urgensi Ridwan Kamil bikin Hari Milea? Memperingati perjuangan perempuan Sunda yang jadi pahlawan nasional Dewi Sartika saja, belum sanggup.
Bertahun-tahun diusulkan, setiap awal Desember kembali diwacanakan, tetap tidak ada peringatan khusus untuk wanoja yang mendirikan sekolah pertama untuk perempuan pribumi di Indonesia ini.
Tidak ada kepentingan spesial Ridwan Kamil dalam turut mempromosikan film Dilan. Meski tidak dimungkiri ada simbiosis terjadi ketika sebuah promo menggunakan jasa influencer tanah air, dengan pengikut Instagram 11,4 juta ini. Film Dilan 1990 mampu menjadi film terlaris pada 2018 dengan 6,2 juta penonton.
Kiranya sama sekali tidak ada tendensi politis apa-apa. Meski tahun lalu sebuah titik di GOR Saparua yang ikonik, dinobatkan Emil sebagai Pojok Dilan. Sungguh momen yang baik dalam merebut suara hati para milenial untuk 2024 mendatang.
Memang unik Bandung atau Jawa Barat ini. Responsif terhadap permintaan yang unik-unik. Seperti misalnya mengizinkan parade film, yang seolah-olah jadi identitas daerah ini. Maka warga Bandung mestinya tak usah terganggu dengan Hari Milea. Sebab biasanya pencanangan sebuah hari khusus, adalah untuk memperingati simbolik identitas warga daerah itu sendiri.
Misalnya Hari Sampah Nasional. Momentum meledaknya gunung sampah di TPA Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, 21 Februari 2005 dicanangkan jadi hari sampah. Supaya kita ingat, peduli, dan beraksi mengelola sampah terpadu berkelanjutan.
Nah, jika Dewi Sartika tidak lagi mewakili semangat perempuan Bandung dalam pendidikan, ya sudah jangan dipaksakan. Mungkin Milea sangat representatif terhadap kondisi cewek Bandung saat ini.
Cantik, putih, bersenyum manis, badan sintal, sudah.
Mari kita ikut ngareuah-reuah saja.***


Tulisan dikirim oleh seorang kawan yang lahir, dan berkegiatan sehari-harinya di Kota Bandung tercinta.

“Ayo kita ke Lembang Zoo, belajar konservasi satwa liar Indonesiaa..Lembang Zoo..Lembang Zoo..~”
Ah, ya, kalimat di atas ini memang hanya dapat diresapi oleh kalian yang sudah pernah berkunjung ke Lembang Park & Zoo seperti saya. Membacanya saja sudah seperti mendengar suaranya langsung.  Begitulah bunyi jingle tempat wisata baru di Bandung  yang punya nada mirip dengan jingle Borma. Ya, mungkin karena satu grup manajemen dengan Game Master dan Story Land yang biasa menguasai mall/department store, jadi lagunya bikin kita serasa mau belanja. Mungkin ke depannya bisa sedikit mencontoh jingle Dufan saja lah ya.
 
Burung Unta, salah satu koleksi hewan yang dapat dijumpai di Lembang Park & Zoo
Di luar persoalan theme song, Lembang Park & Zoo ini sejak awal kemunculannya akhir 2019 lalu, cukup banyak menarik perhatian saya, karena akhirnya ada sebuah wisata kebon binatang alternatif baru di Bandung, selain yang ada di kawasan Taman Sari. Btw, biarkan saya tulis “kebon binatang saja” ya, karena kalau “kebun binatang”, berarti nanti singkatannya jadi Bunbin.

Memang, Kebon Binatang Bandung Taman Sari yang legend untuk kebanyakan orang sebaya saya ini sudah mulai berbenah dalam beberapa tahun terakhir. Tapi karena sudah menjadi salah satu template tujuan banyak keluarga saat liburan, mampir ke sana jelas bukan pilihan, bila menghendaki sebuah quality time yang nyaman untuk jalan-jalan.

Harga tiket masuk ke Lembang Park & Zoo ini Rp35.000 untuk weekdays, dan Rp40.000 untuk weekend. Sama lah dengan rate HTM di Bonbin Bandung saat ini. Harga yang menurut saya sangat worth it untuk dapat menikmati rekreasi di wahana edukasi fauna yang luas dan banyak ragam. Namun sayangnya, agak kurang banyak pepohonan rimbun di dalam areanya. Sehingga, saat posisi matahari sudah berada persis di atas kepala, udaranya mulai terasa ngaheab dan ngabelentrang. Bila memang terasa berat, tapi punya kocek lebih, boleh lah menyewa e-scooter empat roda yang bisa digunakan untuk satu keluarga berencana. Untuk sewa per jamnya dikenai biaya Rp120.000. Kalau saya sih yaa… pilih menikmati berjalan kaki saja. Biar bisa turun sekilo-dua kilo (padahal memang masih merasa manglebarkeun kana artosna, tiasa diangge nu sanes). Selain ­e-scooter dengan kapasitas rombongan, ada juga e-scooter untuk single user yang disewakan dengan biaya Rp75.000/jam. Tapi sebaiknya bila anak-anak yang menggunakan, perlu pengamatan penuh dari orang tua.
E-scooter yang disewakan kepada pengunjung Lembang Park & Zoo
Langkah pertama dari gerbang masuk, kita akan langsung diperlihatkan pemandangan danau berukuran sedang, dengan beberapa perahu boseh yang bisa disewa, serta arena bermain yang sepertinya dikhususkan untuk pengunjung balita. Tentu hal ini kurang menarik bagi saya, karena wahana seperti ini sudah cukup banyak dibuat oleh banyak tempat wisata di Bandung.
 
Beberapa wahana air yang bisa disewa di danau buatan Lembang Park & Zoo
Lalu ada beberapa patung gajah yang rasa-rasanya familiar mukanya. Entah benar atau tidak, tapi mungkin patung gajah ini pernah saya lihat berjejer di Jl. Sersan Bajuri, tepatnya di sekitaran gerbang masuk Kampung Gajah Wonderland saat masih Berjaya dulu. Padahal di Lembang Park & Zoo ini belum ada hewan gajah, lho. Memang kebon binatang ini terlihat belum sepenuhnya rampung pengerjannya. Belum ada banyak hewan-hewan besar, ataupun hewan-hewan bertipe predator, kecuali buaya, dan elang, erta beberapa kawasan terlihat masih sibuk dibangun kandangnya. Mudah-mudahan saja saat grand opening nanti, ragam hewannya bisa lebih lengkap. Karena dari yang saya rasakan, orang dewasa seperti saya pun masih merasa excited lho saat melihat bentuk indah, dan gerak-gerik unik hewan-hewan ini. Terutama hewan-hewan yang sebelumnya belum pernah dilihat langsung, seperti Burung Unta, Binturong, dan Cendrawasih.

Kalau untuk area favorit bagi saya sih kandang burung-burung besar. Jenis burung-burung yang ada di dalamnya ini rata-rata bisa ditemukan juga di Bird and Bromelia Pavilion yang ada di kawasan Pramestha Dago, tapi bedanya, semua burung di sini berkeliaran bebas tanpa dirantai dalam sebuah kandang yang sangat besar, sehingga kita bisa langsung berinteraksi dengan para burung-burung ini. Adakala mereka pun bisa terbang berseliweran di dekat kita, saat berjalan di kawasan ini. Beberapa jenis burung seperti Kakatua, dan Macauw pun bisa diajak langsung berfoto dengan bertengger di lengan kita, dan bahkan tanpa bantuan penjaga di sini. Mereka bisa nerekel sorangan ke atas tangan kita, bahkan tanpa kita minta. Kalaupun ada penjaga yang membantu, justru untuk membantu meyakinkan kalau burung-burung yang akan diajak berfoto itu ramah. Kalau ada yang memang tidak bisa diajak berfoto, pasti gesture burung tersebut akan berbeda.
 
Area kandang burung besar di Lembang Park & Zoo
Di samping area burung-burung besar, ada juga kandang burung kecil yang bisa kita beri makan langsung kuaci, ataupun wortel yang disediakan. Lalu ada juga area reptile yang memiliki berbagai jenis hewan yang juga cukup menarik. Tempatnya sendiri didesain seperti sebuah gua, dengan beberapa kaca aquarium, dengan atap yang sudah diberi akses cahaya matahari langsung. Beberapa di antaranya tentu sudah tidak asing, karena zaman sekarang reptile ini sudah bisa, dan banyak dipelihara di rumah, mulai dari ular python, iguana, kura-kura, tokek, sampai bearded dragon lizard. Tapi yang paling menarik adalah Tegu Merah Argentina sih. Pertama kalinya saya melihat reptile yang badannya mirip biyawak, tapi mukanya mirip trenggiling. Sementara kandangnya  dibuat tandus, berisikan pasir dan jerami saja.
 
Reptil jenis Tegu Merah Argentina di Lembang Park & Zoo
Sayangnya, karena memang masih dalam tahap pengembangan, beberapa kandang hewan ini hanya diberi nama menggunakan kertas biasa yang dicetak, tanpa berisi keterangan, sehingga beberapa di antaranya sudah ada yang mulai luntur dan tak terbaca. Walaupun begitu, separuh dari kandang hewan lainnya sudah memakai infographic sign yang sangat informatif dan canggih. Contohnya hewan-hewan yang berada di kandang burung besar. Semua spesies burung di sana selain bisa kita ketahui namanya, dapat juga kita dapatkan informasi habitat aslinya, makanannya, rentang waktu rata-rata masa hidupnya, hingga status keberadaannya di dunia, apakah ia spesies yang cukup masih banyak ditemukan, langka, atau terancam punah. Infografis ini pun bisa langsung diakses bagi pengguna smartphone (yang sepertinya hampir semua orang sudah pakai), dengan memindai barcode yang tersedia di masing-masing sign board.

Untuk fasilitas pendukung, seperti toilet, mushola, dan kios makanan, tersedia cukup di beberapa titik area. Tapi, kios-kios makanan ini kebanyakan hanya menjual makanan-makanan ringan. Bila menginginkan makanan yang agak berat seperti nasi, dan kentang goreng, kita bisa mampir ke café yang berada tak jauh dari danau buatan.

Dari beberapa café yang tersedia, saya memilih untuk mendatangi Neko Cat Café yang saya pikir akan sangat unik. Tapi rupanya, area café dan rumah kucing itu dibuat terpisah. Ya mungkin tentu agar makanan-makanan yang kita pesan tidak terkontaminasi bulu-bulu kucing yang gampang rontok. Harga makanannya standar lah, mulai dari 10.000-18.000an untuk cemilan, dan minuman, serta Rp25.000an untuk pilihan makanan berat.

Ternyata untuk masuk ke rumah kucing ini kita harus membayar lagi tiket yang dijual Rp30.000/orang. Sebelum masuk, kita harus membasuh tangan kita dengan cairan disinfektan, serta menggunakan sandal slipper yang disediakan di tempat pembelian tiket. Mungkin ada sekitar 30an ekor kucing yang berkeliaran bebas di sini dengan species berbeda-beda. Ada kucing kampung, kucing angora, kucing Persia, dan beberapa kucing lainnya yang tidak bisa saya sebutkan, karena memang saya tidak tahu, dan tidak bertanya. Tapi beberapa di antaranya memiliki keunikan, seperti ada yang wajah dan motif bulunya mirip dengan harimau, hingga kucing yang warna matanya berbeda antara kiri dan kanan. Yang kanan berwarna biru, sedang yang kiri berwarna hijau.
Seekor kucing unik di Neko Cat Cafe Lembang Park & Zoo yang memiliki dua warna mata yang berbeda satu sama lain
Sambil bermain-main dengan kucing tersebut (bagi yang suka kucing), bisa juga menikmati dengan grais cemilan berupa kue-kue kering yang dimasukkan dalam toples. Sepertinya jenis makanan dalam toples seperti ini lebih aman dinikmati di dalam. Lalu ada juga makanan-makanan kucing sachet-an yang harga jualnya lebih dari dua kali lipat seporsi rice bowl, dan segelas kopi yang dijual di café luar, beuh. Selain itu ada beberapa merchandise yang juga bisa dibeli, seperti gelang berbandul siluet kucing, ataupun t-shirt bergambar kucing. Saya suka kucing, tapi termasuk agak malas sih kalau beli ataupun memakai barang-barang all about cat seperti ini.
Neko Cat Cafe di Lembang Park & Zoo memiliki aneka spesies kucing
Hampir semua area sudah disambangi, tinggal pintu keluar saja yang tentu belum dilewati. Saat melintasi gerbang, ada sedikit kejutan juga dari pengelola. Setiap pengunjung yang keluar diberi bingkisan berisikan jajanan anak, layaknya usai mengunjungi pesta ulang tahun anak tetangga sebelah. Mungkin ini hanya sebuah hal kecil, namun cukup memberikan rasa senang. Karena artinya, manajemen Lembang Park & Zoo memerhatikan value added service untuk pengunjungnya. Belum saat akan mengambil motor di area parkir, petugas penjaga parkirnya pun menanyakan pengalaman saat berada di dalam dengan ramah. Tak lupa, ia memberikan sticker yang tentu saya tau akan menjadi sebuah branding promotion yang bagus untuk ditempel di belakang kendaraan.

Bagi kalian yang mencari alternatif wisata edukasi wisata di Bandung, Lembang Park & Zoo adalah salah satu pilihan terbaik, dengan harga yang pantas. Setidaknya lebih baik dari tempat wisata yang setiap masuk satu jenis kandang hewan harus bayar tiket kembali, hehe. Buat yang sudah beranak pinak tentu akan menyenangkan untuk liburan keluarga, dan bagi yang masih duo, ataupun solo, tetap akan memberikan rasa seru saat melihat tingkah polah hewan yang menggemaskan.

Lembang Park & Zoo
Jl. Kolonel Masturi No. 171, Lembang
Senin-Jumat: 09.00-17.00 WIB
Sabtu-Minggu: 08.00-18.00 WIB







Gersang saat siang, keueung saat malam, itulah suasana di kawasan Terusan Pasir Koja. Ia hanya akan sedikit ramai dengan beberapa gerobak dan kios jajanan murah meriah, ketika sudah mendekati area Bojong Loa. Maka dari itu, saat ada sebuah bangunan megah bercahaya, serta riuh manusia dan kendaraan yang keluar-masuk, bisa dipastikan menjadi sesuatu hal yang sangat mencolok. Itulah Warung Wakaka, sebuah café baru yang beroperasi 24 jam, yang kini menjadi salah satu tempat nongkrong paling recommended versi saya di Bandung.
 
Suasana di salah satu sudut Warung Wakaka Bandung
Awalnya saya mengira Warung Wakaka ini sama dengan Warung WKWK yang sempat diulas Dewa Eka Prayoga dalam konten Bedah Bisnis di channel youtube-nya. Apalagi Warung Wakaka ini ditulis Warung W.K.K. Padahal keduanya brand yang berbeda.

Dari konsep yang ditawarkan, sekilas memang Warung Wakaka ini mencoba mengadopsi konsep tempat yang dibangun CRP (Citarasa Prima) Group dengan Warunk Upnormalnya. Tapi ternyata, positioning bisnis antara keduanya sangatlah berbeda. Bila Warunk Upnormal lebih banyak dikunjungi oleh segmen anak-anak muda usia sekolah, dan kuliah, di Warung Wakaka ini saya lebih sering melihat pengunjung dari kalangan keluarga.

Di samping pemilihan lokasinya yang bikin heran, outlet pertama Warung Wakaka yang dibuka di Bandung ini langsung menggunakan area yang sangat luas. Dari tiga digit nomor meja yang saya dapatkan pun sepertinya tempat mereka ini bisa muat hingga lebih dari seratus lebih pengunjung. Padahal, jarak antar mejanya pun tidak terlalu rapat. Yang berarti, bila mereka mau, sebetulnya mereka bisa menambah banyak meja lagi untuk menambah kapasitas pengunjung, dan mendatangkan lebih banyak cuan. Tapi justru inilah poin yang saya sukai. Mereka memperhatikan pula kenyamanan pengunjung.

Poin plusnya bukan cuma soal jarak antar meja, namun juga dari segi pelayanan yang sangat prima. Sudah tiga kali saya mampir kemari, dan selalu memilih meja di lantai dua. Dan di setiap lantai, dan ruangannya, mereka selalu menempatkan minimal satu orang person in charge yang siap membantu pemesanan menu, ataupun menangani complain bila ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan sangat ramah. Tentu ini faktor lain yang bisa memberikan rasa senang terhadap customer, termasuk saya. Karena di beberapa tempat makan yang sering saya kunjungi, tak jarang saya harus naik-turun tangga untuk sekadar menanyakan soal menu, ataupun memesan hidangan.

Untuk segi harga, nominalnya memang agak sedikit lebih tinggi dibandingkan café-café sejenis. Tapi masih tergolong murah kok. Harga menu makanan berat mulai dari Rp25.000-an. Karena menu yang disajikan bukanlah sajian fine dining juga. Dan yang terpenting adalah rasanya enak. Padahal sangat jarang ada tempat yang enak untuk nongkrong, namun makanannya enak pula. Biasanya kalau tempatnya enak, makanannya B’ aja.

Pilihan menunya sebetulnya tidak banyak. Untuk menu basic pun masih berkutat dengan pernasigorengan, per-ricebowl-an, serta per-emihan. Yang beda? Tentu dari rasanya. Mereka tidak sekadar mencampurkan segala macam rasa hingga memunculkan sebuah menu kolaborasi unik bin nyeleneh. Racikannya terasa diperhatikan dengan seksama, sehingga betul-betul bisa dinikmati. Plating-nya dibuat cantik, agar bisa dibedakan pula dengan nasi goreng ataupun mie rebus yang kita bisa buat sendiri di rumah. Sepertinya untuk seluruh bumbu yang digunakan pun, mereka betul-betul menciptakan dan mengolahnya sendiri. Jadi rasanya akan jauh berbeda dengan kebanyakan menu yang dihidangkan di café-café lainnya. Sebagai catatan, menu makanan berat mereka hampir selalu punya cita rasa pedas. Nasi goreng salted egg yang kata mbanya regular/bukan pedas pun sudah memberikan efek kejut di mulut, yang berlanjut dengan keringat yang menetes di pelipis, serta lendir yang mulai memaksa keluar dari lubang hidung.
Salah satu cara penyajian menu mie rebus di Warung Wakaka Bandung

Di samping menu makanan berat basic yang dihidangkannya, mereka juga menyediakan aneka makanan manis seperti roti, dan martabak manis, serta tentu aneka minuman dingin hits, seperti latte, thai tea, dan boba drink. Ciri khas lain dari menu yang disajikannya terletak pada pilihan porsi yang disajikannya. Mereka selalu menawarkan pilihan porsi regular atau jumbo sebagai opsi. Bahkan untuk menu Sate Taichan, mereka menawarkan mulai dari 10 tusuk, hingga 99 tusuk. Itu artinya, mereka betul-betul memosisikan diri sebagai tempat nongkrong yang asyik buat makan rame-rame.
 
Sate Taichan ala Warung Wakaka yang bisa dipesan dengan paket ratusan tusuk sekaligus
Selain area dine in yang sebetulnya sudah cukup luas, mereka juga menyisihkan sebagian luas tempat mereka untuk membangun sebuah panggung. Biasanya panggung yang juga cukup besar tersebut mereka gunakan untuk menggelar live music pada momen malam minggu. Tapi saya rasa, dengan segala fasilitasnya, kalau misal Warung Wakaka ini digunakan sebagai tempat gathering pun akan sangat cocok.

Buat saya kehadiran Warung Wakaka bukan hanya soal alternatif tempat makan enak dan nongkrong nyaman murah meriah. Namun Hal paling penting, lokasinya sangat dekat dengan tempat tinggal saya di Pagarsih. Mau hang out, tinggal cuss, kurang dari lima menit sampai. :D

Dari banyak tujuan wisata kuliner legendaris di sekitaran Braga-Asia Afrika, Bandung, baru Rasa Bakery & Café inilah yang belum pernah saya cicipi. Hingga akhirnya sebuah unggahan instagram story kawan saya yang menunjukan salah satu menu ice cream-nya cukup mampu mendorong saya datang ke tempat ini.
Suasana di Rasa Bakery & Cafe 
Memang sepertinya lantaran dari sisi arsitektur bangunannya yang terlampau modern yang membuatnya agak kurang begitu menarik dari luar. Mewah memang, tapi justru itulah yang menjadi barrier tersendiri bagi saya untuk mampir. Usut punya usut, kalau kata pak Katam (Sudarsono Katam) di bukunya Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng, bangunan yang kini Rasa Bakery & Café tempati ini adalah hasil perombakan besar-besaran pada tahun 60-an dan tahun 90-an. Sebelum dirombak, tempat ini dikenal dengan nama Hazes. Entah cita rasanya masih sama atau tidak, tapi sisi jadul lah yang mereka coba jual di sini.

Sambutan ramah pramuniaga berkebaya, serta keberadaan rombongan customer ibu-ibu berambut mengembang 20 cm dari dahi, seolah mempertegas kelas positioning Rasa Bakery & Café. Saya yang datang sehabis sesi lima keliling di Saparua tentu saja menarik sudut mata mereka untuk menatap penuh selidik. “Ah, cuek saja sih, kuleuheu ge da uang di dompet mah masih sanggup jajan-jajan mah,” ujar saya dalam hati.

Setelah mengambil tempat duduk, dan mendapatkan menu, mata saya sibuk memindai angka-angka di kolom sebelah kanan buku menu. Harganya sebetulnya tidak terlalu mahal sepertinya untuk café zaman sekarang, Kisaran harganya masih di Rp20.000-Rp60.000, dengan mayoritas pilihan main course-nya adalah makanan tradisional Nusantara, mulai dari nasi goreng, soto, lontong kari, dan roti bakar. Nasi Goreng menjadi pilihan saya, karena sebetulnya ingin membandingkan juga menu tersebut dengan menu sarapan yang pernah saya santap di Braga Permai yang juga mempunyai kesan “kuliner legendaris yang mahal”. Sedangkan untuk pencuci mulut, tentu saya pilih menu es krimnya yang populer, yang range harganya ada di sekitaran Rp30.000-an. Dan untuk minumnya saya pilih air mineral saja. Bukan bermaksud membantah pemikiran saya tadi. Tapi sepertinya dengan menghemat air minum, saya bisa membawa beberapa cemilan, dan jajanan tradisional untuk dibawa pulang.

Baca juga: Tips Makan Hemat di Braga Permai

Untuk rasa nasi gorengnya, harus saya akui, rasa menu Nasi Goreng di Braga Permai jauh lebih unik, dan masuk ke selera saya. Namun untuk es krim, rasanya lebih enak si Tutti Fruti yang saya pesan ini. Rasanya bukan yang bisa saya temukan di tempat makan yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Mungkin agak sedikit mirip dengan es krim di Sumber Hidangan, tapi saya lebih menyukai es krim Rasa Bakery & Café ini. Rasanya lebih segar, terutama di scoop es krim rasa frambozen atau dikenal juga dengan nama raspberry.

Baca juga:Roti Sumber Hidangan (Het Snoephuis) Roti Warisan Bandung 1929
Menu ice cream Tutt Fruti di Rasa Bakery & Cafe
Karena rasanya yang berkesan, saya pun kemudian membeli dua buah ice cream cup dengan rasa frambozen yang belakangan baru saya ketahui di kasir, harga 1 cup dengan ukuran mungkin sekitar 100 ml adalah Rp25.000. Enak sih, tapi nggak mungkin, dan nggak mau juga beli sering-sering. Bisa bikin jebol dompet pasti.

Selain ice cream, mereka juga menyediakan aneka roti (yang saya beli salah satunya dengan rasa keju), dan aneka jajanan pasar yang harganya ada di kisara Rp8.000-Rp20.000. Saya rasa yang membuat bisnis Rasa Bakery & Café ini berjalan dengan baik bukan dari menu main course-nya, tapi justru dari kue, roti, dan jajanan lain-lainnya, yang mereka simpan di etalase sekitaran meja kasir. Sungguh strategi upselling yang jitu, terutama bila ada cukup banyak wisatawan yang datang bertandang.

Untuk menu roti dengan varian rasa serupa, jujur saja, saya akan lebih memilih Canary Bakery yang juga legendaris di Bandung, bila memang ingin jajan roti. Tapi untuk ice cream, saya kira Rasa Bakery & Café  adalah pilihan tempat yang harus dikunjungi demi untuk mendapatkan rasa terbaik.
Sungguh merepotkan mengingat urutan huruf dalam film “NKCTHI” (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini) ini. Lima huruf konsonan berderet menjadi sebuah tantangan tersendiri saat saya mencoba menuliskan judul film teranyar Angga Dwimas Sasongko ini. Testimoni singkat beberapa kawan yang menghadiri screening cukup kuat mengarahkan saya meluncur ke sinema pada hari perdana pemutaran film. Padahal sebelumnya, NKCTHI sama sekali tidak berada dalam bucket list. Bukunya belum pernah saya baca, sedang cerita dalam web series-nya menurut saya berjalan terlalu santai, dan kurang begitu saya sukai.
Courtesy of Machella FP & Visinema Pictures

Bulan Januari, Visinema Pictures, dan cerita keluarga. Kepala saya langsung teringat pada “Keluarga Cemara” yang tampil ‘hangat’ tepat setahun silam. Hangatnya bahkan terasa dari mata yang turun ke hati, juga pipi. Iya, saya cirambay bombay menonton film ini. Hal yang mungkin masih didapatkan kawan-kawan lain di NKCTHI, tapi tidak demikian dengan saya. Walaupun begitu, bukan berarti film ini buruk. NKCTHI tetap dapat membangun rasa emosional dalam hati, namun dengan kadar, dan cara yang berbeda.

NKCTHI menawarkan hal lain yang membuat saya banyak berpikir ke dalam. Padahal, yang saya tonton ini kisah Awan, Aurora, dan Angkasa, tapi lebih dari separuh film ini membuat saya mengingat sendiri adegan pertengkaran saya yang pernah terjadi dengan ayah, tanggung jawab besar sebagai anak pertama, hingga sebuah kalimat yang terlempar dari mulut Aurora yang sepertinya terkubur juga di kepala saya bertahun-tahun lamanya. That part “kalian udah lama kehilangan gue” itu jelas nampar, sekaligus nuncleb.

Menonton NKCTHI ini rasanya seperti membaca sebuah buku. Uraian kata-kata yang diucapkan dalam perbincangannya terdengar lantang menusuk kalbu. Bukan karena kalimat yang melangit, tapi karena emosinya yang membukit. Nyaris seluruh karakter, adegan, dan percakapan yang terjadi rasa-rasanya akan relate dengan banyak orang. Termasuk tentang perasaan ibu yang salah seorang anaknya harus meninggal ketika lahir, dan diminta untuk lupa, dan bungkam sepanjang hidupnya.

Lebaran tahun lalu, saya, adik, dan kedua orang tua saya mengunjungi sebuah makam di Tempat Pemakaman Umum Porib Caringin, Bandung. Kami mengunjungi makam seseorang yang sosoknya tak pernah saya temui. Dialah kakak saya, Adi Sylvana, yang tak diberikan kesempatan lama menghirup udara bumi setelah beberapa hari lahir ke dunia. Kejadian yang menyesakkan ini sudah lewat lebih dari 30 tahun lamanya. Tapi saya masih dapat melihat mata ibu saya basah, dan meluncurkan beberapa tetes air ke permukaan pipinya yang saya sadari mulai banyak kerut. Kepala saya coba menebak, mungkin pikiran yang ada di balik air matanya saat itu, "kalau saja Adi masih ada, mungkin keluarga kami akan lebih ramai, ia mungkin akan sudah menikah, dan memberi kehadiran cucu pertama dalam keluarga". Saya (mungkin) tahu, karena terkadang saya pun berandai-andai. Bila saja Adi masih ada, mungkin tugas saya akan menjadi lebih mudah menjalankan ekonomi keluarga. Namun untungnya, alam bawah sadar saya tersebut selalu masih berada di level yang bisa saya kendalikan, untuk kemudian berbalik kepada kenyataan.

Iya, NKCTHI dapat membawa saya larut sedalam itu, sehingga membumbungkan ingatan dan pikiran ke dalam adegan-adegan yang saya tempuh sendiri dalam hidup. Namun sayangnya, beberapa scene yang seharusnya syahdu, rusak oleh benalu. Rombongan ibu-ibu bermental pemirsa Sinetron Indonesia di barisan kursi depan seperti tak menginginkan filmnya berjalan sesuai dengan yang dirancang sang sutradara. Tanpa malu-malu mereka mengomentari setiap adegan yang terjadi dalam film. Saya sih langsung membayangkan ibu saya bersantai di sofa panjang, dengan remote tv di genggaman. Ia pun memang suka geregetan kalau nonton adegan-adegan di sinetron. Tapi kan ia melakukannya di rumah. Ini ibu-ibu nganggap studio bioskop ruang tengah rumahnya gitu? Sontak, nyaris seisi bioskop pun kompak menegur dengan suara sssttt keras. Alhasil? Ibu-ibu ini tetap (maaf) bacot hingga credit title mulai bergulir di penghujung film. Dan jangan tanya bagaimana mereka juga bereaksi saat adegan Rio Dewanto menyetrika baju dengan hanya mengenakan celana boxer saja. Saya pernah bertemu tipe pengunjung bioskop yang jorok, dikit-dikit buka HP, atau yang overdiscussed sepanjang film dengan pasangannya, tapi tipe penonton ini adalah yang terburuk.

Sheila Dara Aisha mungkin memang menjadi aktris yang cukup sering muncul di beberapa judul film Visinema yang rilis sebelumnya. Namun di NKCTHI, aktingnya sebagai anak pangais bungsu yang sedikit introvert akan sangat memorable. Aurora yang diperankannya berhasil memperlihatkan sisi misterius yang sangat intense. Trauma masa kecil yang dialaminya seperti bisa saya rasakan. Poin plus lainnya saya sematkan kepada dua aktor yang bergantian memerankan sang ayah pada alur cerita yang maju-mundur antar masa, yakni Oka Antara, dan Donny Damara. Walau dari segi tampilan fisik, Oka dan Donny terlihat berbeda, kesan yang ditimbulkan benar-benar sama. Dari gesture, dan cara mereka bertutur, saya benar-benar bisa teryakinkan bahwa mereka adalah karakter yang sama dari waktu yang berbeda.

Keluar dari sinema, di kepala pun masih terbayang beberapa adegan dan kutipan yang mungkin akan lama membekas, dan bisa saja mengubah beberapa hal dalam saya menyikapi hidup. NKCTHI memang tidak sebombay Keluarga Cemara, tapi kesan emosionalnya meninggalkan jejak dalam bentuk pemikiran mendalam.

Saya rasa film ini bukan sekadar kesan semata yang akan lewat begitu saja. Selebihnya, mungkin sudah terekam di alam bawah sadar. Tinggal, menunggu stimulan tepat untuk suatu saat bisa kembali memunculkannya.