Dulu, setiap tanggal satu, ayah selalu membawa saya sekeluarga makan di sebuah café dengan hidangan iga bakar sebagai signature menu. Kami duduk di sebuah meja dengan kursi yang saling berhadapan, lalu berbicara berjam-jam tentang berbagai hal. Itulah konsep café yang saya kenal, sebelum terjadi invasi internet dan gadget.

 

Iga Bakar Ala Sprekken Cafe

Ingatan tentang café masa kecil saya itu kembali muncul saat mampir ke Sprekken Café dan berkesempatan berbincang dengan Pak Jacky Masui, sang pemilik, yang juga pendiri dari bisnis oleh-oleh Den Haag Klappertaart yang ternama di kalangan wisatawan Bandung.

 

“Sprekken itu artinya bicara. Makanya saya ingin mengajak yang datang ke sini buat duduk, dan kembali saling berbicara,” begitu katanya. Tak heran cafenya ini dibuat begitu nyaman untuk berbincang lama-lama. Cocok banget buat tempat kumpul bareng keluarga. Desain tempatnya adem, dengan dekorasi ruangan yang bergaya Eropa klasik, sesuai dengan cerminan namanya. Jadi mungkin kalau ajak ayah dan ibu ke sini nanti, mereka pun bisa kerasan dengan suasananya.

 

Kejutannya, ada menu Iga Bakar yang sedikit mengingatkan tentang masa kecil saya bersama orang tua dulu. Cita rasa tentu berbeda, tapi sejujurnya, dari segi kualitas, ini salah satu hidangan Iga Bakar terenak yang saya makan. Rasanya gurih, bumbunya pas, dan porsinya luaarr biasaa besaarr. Saya jamin ga mungkin menghabiskan satu porsi menu ini sendirian. Teksturnya pun sangat lembut. Misahin daging dari tulangnya tuh effortless banget.

 

Di samping Iga Bakar, Sprekken Café juga punya menu-menu makanan tradisional lainnya, seperti Sop Buntut, Nasi Bakar, dan Cumi Sambal Matah, sampai beberapa menu makanan western seperti Spaghetti, dan Beef Stroganoff. Yang pasti, menu-menu yang bisa masuk ke lidah semua orang. Biar saat kumpul bareng keluarga, semuanya bisa menikmati. 

 

Beberapa Menu Lain di Sprekken Cafe

Kalau dari hasil mencicip beberapa menu di Sprekken Café, keunggulannya memang terletak di bumbu dan sambal yang mereka racik. Jadi walaupun pilihan menu-menunya cukup umum, tapi rasanya punya ciri khas. Untuk kisaran harga menunya sendiri dimulai dari Rp16.000-Rp80.000.

 

Sprekken Café sendiri rupanya baru berdiri dua tahun ke belakang. Berbagi tempat dengan kakaknya, yakni Den Haag Klappertaart yang sudah lama menetap di Jl. Bangreng No. 3, Turangga, hanya 5 menit saja dari Trans Studio Mall.

Suasana di Teras Sprekken Cafe

So, kalau sudah sekalian ke Sprekken Cafe, tentunya kurang kalau tidak sekalian memesan Den Haag Klappertaart yang melegenda. Sejujurnya, selama seumur hidup saya tinggal di Bandung, baru kali ini berkesempatan menyantap oleh-oleh Bandung yang satu ini. Sering melintas di beberapa outletnya, tapi belum sempat icip-icip.

 

First impression saya dengan Den Haag Klappertaart ini ternyata rasanya wow sekali. Teksturnya superr lembut. Nggak mungkin deh cuma habis satu. Pantas saja Den Haag Klappertaart ini banyak sekali outletnya, dan jadi salah satu oleh-oleh yang paling diincar wisatawan yang datang ke Bandung. Apalagi memang outletnya secara eksklusif hanya buka di Bandung.

 

Den Haag Klappertaart

By the way, saya baru tau dari Pak Jacky kalau ternyata klappertaart itu hidangan akulturasi antara Indonesia dan Belanda. Jadi walaupun namanya Den Haag. Di Den Haag sendiri nggak ada tuh kue pencuci mulut ini.

 

Selain Klappertaart, di gerai Den Haag Klappertaart juga ternyata menyediakan berbagai kue/cemilan , seperti bagelen, kue soes, dan bolen. Buat wisatawan sih, datang ke Sprekken Café, udah bisa sekaligus one stop shopping buat belanja oleh-oleh yang bisa dibawa pulang ke rumah.

Area Display Oleh-Oleh di Den Haag Klappertaart


 Berantakan, gelap, dan (seharusnya) hangus. Itu gambaran saya tentang Pasar Kosambi. Memang dibanding bangunan pasar lainnya yang pernah saya kunjungi, Pasar Kosambi terbilang kurang penerangannya. Apalagi setelah mengalami kebakaran hebat tahun lalu.

 

Itu pula yang ada di benak saya saat melangkahkan kaki ke The Hallway Space yang terletak di dalam Pasar Kosambi. Beberapa bulan ke belakang, memang saya melihat Instagram Story kawan-kawan lama saya yang masih bekerja di media keluar masuk Pasar Kosambi untuk meliput bisnis makanan yang mulai beroperasi di sana.

 

The Hallway Space Kosambi Bandung

Namun, yang tidak terbayangkan adalah suasana di dalamnya. Awalnya saya membayangkan suasana seperti Los Tjihapit, Pasar Antik Cikapundung, atau mungkin Spasial yang berada di belakang dinding tebal Pasar Kosambi. Namun ternyata, bagian dalamnya jauh lebih rapi dan berkelas dari yang diduga.

 

Bila tempat-tempat yang sebelumnya saya sebutkan tadi selalu menyimpan kesan pasar dan vintage-nya. Di The Hallway Kosambi, hal itu tidak terasa sama sekali. Malah kadangkala, di beberapa titik, saya merasa seperti berjalan di mall PVJ. Kesan vintage-nya sebetulnya masih ada, namun buatan, untuk menarik hati pengunjung berbelanja di toko-toko yang berderet rapi di kawasan ini.

 

Salah satu selasar di The Hallway Space Kosambi Bandung

Dari yang katanya terdapat 52 brand fashion dan kuliner di dalamnya, hanya Ventella saja jenama yang saya kenal. Selebihnya namanya cukup asing, tapi very well designed. Mulai dari logo, sign board, hingga interior toko. Salah satunya dimiliki oleh @indyratnap yang populer dengan Jurnal Risanya.

 

Bila memang semua jenama yang berjualan di sini adalah brand lokal, saya acungkan empat jempol deh buat tim yang berhasil merevitalisasi salah satu blok di Pasar Kosambi ini sampai bisa jadi sekeren ini. Bukan cuma soal tampilan fisiknya sih, tapi dari segi konsepnya pun keren abis. Kalau melihat akun-akun instagram brand yang mejeng di The Hallway Space, jelas, kebanyakan dari mereka merupakan bisnis start-up. Yang berarti, bagus sekali kalau mereka punya sebuah ruang seperti ini di Kota Bandung. Walau mungkin, mereka belum bisa langsung tancap gas di sales offline, karena tentu saja saat ini Pandemi masih berlangsung yang menyebabkan traffic kunjungan langsung belum bisa dioptimalkan. Tapi begitu nanti Covid, PSBB, resesi dan segala macam turunannya betul-betul usai, tempat ini bakalan jadi satu lokasi yang asyik buat nongkrong, belanja, dan yang paling penting menjadi wadah untuk produktif.

 

Selain desain visualnya yang memanjakan mata, alunan live music sore itu benar-benar menghidupkan suasana. Entah akan demikian seterusnya, atau hanya karena hari itu adalah hari pembukaan ruang kreatif tersebut.

 

Live Music di Acara Soft Opening The Hallway Space Kosambi Bandung

Semakin sore, semakin banyak orang yang berdatangan, The Hallway Space pun mulai terasa padat, dan saya semakin parno, haha. Sesungguhnya saya tergolong orang yang tidak terlalu nyaman berada di tempat yang terlalu crowded, apalagi dengan kondisi pandemi Corona yang masih mendera. Jujur saja, memang saya cukup cemas dengan kondisi saat ini. 

 

Karena kedatangan awal saya ke sana adalah untuk mengambil sebuah dokumen dari seorang teman, saya pun langsung melipir pulang setelah mengambil beberapa foto sekaligus berjalan menuju parkiran. Marilah kembali kemari lain hari saat situasi jauh lebih kondusif, hehe.

 

The Hallway Space
Pasar Kosambi Lt. 2
Jl. Ahmad Yani, Bandung

“Mas, saya baru pertama kali makan ayam goreng kaya gini. Rasanya asing banget di lidah, dan nggak bisa saya tebak satu pun itu ayam pake apa aja di dalamnya.”

 

 “Sebetulnya sih bahan-bahan bumbu sama rempahnya yang umum ada di makanan kok, cuma total ada 20 rempah di dalemnya.”

 

“Apa aja tuh mas 20 tuh?”

 

“Pokoknya masih bahan-bahan umum kok, salah satunya sih cengkeh. Yang lain ada lah banyak, hehe”

 

Percakapan kecil di meja kasir tersebut ditutup senyum simpul petugas kasir yang sepertinya juga merupakan pemilik kedai Nasi Lemak Banceuy. Tanpa bermaksud perez pada si empunya. Testimoni yang saya lontarkan memang benar adanya.

 

Paket nasi lemak paha ayam pentung yang saya makan memang rasanya unik. Rasa masamnya ada, rasa asinnya ada, rasa manis, dan sedikit rasa pedasnya pun ada. Susah dijelaskan sih. Terlebih saat mendengar pemaparan kalau memang ayamnya dibuat dengan mencampurkan 20 jenis bumbu dan rempah. Berkali-kali saya mendekatkan paha ayam tersebut ke hidung, namun tidak menemukan aroma tegas yang saya kenal.

 

Nasi Lemak Banceuy Set Paha Pentung

Bagian kulit ayamnya benar-benar crispy. Tapi crispy-nya tidak seperti ayam-ayam tepung fried chicken yang mudah ditemukan di pinggir jalan. Warna dan teksturnya tidak kering keemasan, tapi berwarna coklat biasa layaknya seperti ayam goreng biasa. Namun saya menduga, kulitnya menjadi begitu renyah karena digoreng dengan telur. Ini karena saya menemukan ada bagian mengering yang sepertinya pernah saya temukan di masakan ikan tongkol goreng telur yang sering ditemui di warteg.

 

By the way, saya tertarik mendatangi kedai Nasi Lemak Banceuy ini karena penasaran. Belakangan, namanya sering dibicarakan, tapi kok kayanya baru dengar. Saya sebelumnya beranggapan kalau nama kedai makanan yang menggunakan nama wilayah sebagai bagian dari jenamanya, merupakan kuliner legendaris. Sama seperti Lotek Kalipah Apo, Bistik Astana Anyar, Nasi Kuning Pandu, dll. Padahal usianya baru genap setahun di Bandung. Rasa penasaran pun semakin bertambah dengan penamannya yang menggunakan istilah “Nasi Lemak”. Karena setau saya, Nasi Lemak itu sebetulnya sama saja rasanya dengan Nasi Uduk. Hanya saja, istilah Nasi Lemak itu digunakan untuk hidangan di Malaysia.

 

Akan tetapi, saya rasa, saya mengerti dengan penamaan Nasi Lemak di sini. Selain karena penyajiannya yang memang ternyata berbeda dengan nasi uduk. Istilah nasi lemak bisa mem­-branding menunya sebagai bagian dari wisata kuliner Bandung. Kalau namanya dinamai Nasi Uduk Banceuy, saya akan membayangkan gerobak berwarna biru muda yang hanya hadir setiap pagi hari.

 

Seperti yang saya sebut sebelumnya Nasi Lemak itu ya Nasi Uduk saja. Buat saya rasanya sama persis kok. Harumnya pun sama saja. Hanya memang penyajiannya lebih mewah. Tidak ada irisan telur dadar di Nasi Lemak Banceuy. Namun untuk potongan timun dan taburan kacang gorengnya sih sama. Lalu favorit saya dalam seporsi Nasi Goreng Banceuy ini ada di ikan asinnya yang renyah banget dengan cita rasa asin yang pas.

 

Sebetulnya, banyak paket menu yang menggugah selera sekaligus rasa ingin tahu. Seperti set sultan yang nampaknya sih segala macam topping ada di situ. Ya ada telor, ya ada ayam juga, ya ada rendangnya juga. Selain karena memang harganya bikin kepala banyak-banyak berpikir, bisa dibayangkan juga jumlah kalori yang berada di dalamnya. Mungkin bisa melebihi kalori seporsi Nasi Padang!

 

Karena di daftar menu Es Kacang Merah menjadi highlight, akhirnya saya pun memesan menu dessert tersebut sebagai penutup. Walau memang saat ini kacang merah sudah mulai umum ditemukan menjadi rasa atau isian varian banyak brand ice cream, tapi buat saya kacang merah ini lebih umum sebagai jenis sayur yang dimakan bersama nasi. Kan, di Indonesia sih positioning kacang merah memang sudah lama begitu. Sampai, budaya Jepang dan Korea mulai menginvasi juga Indonesia dari segi kulinernya. Selain kedua negara tersebut, sepertinya penggunaan kacang merah di makanan pencuci mulut juga umum di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura.

 

Untuk ukuran harga Rp14.000, Es Kacang Merah ini worth it lah. Porsinya banyak, kacang merahnya enak. Tidak terasa seperti sedang makan sayur kacang. Pasalnya, walau sebelumnya saya pernah makan dessert kacang merah, biasanya bentuknya sudah tidak berbentuk kacang lagi. Sedangkan yang ini kan masih berwujud sama dengan kacang merah yang saya makan dengan nasi. Tapi karena rasanya enak, it’s all good. Di samping kacang merah, di dalamnya juga ada kolang-kaling, dan cincau dengan potongan panjang-panjang. Ini juga baru buat saya. Bisa saja menu ini jadi sajian baru berbuka puasa di bulan Ramadan.

 

Es Kacang Merah di Kedai Nasi Lemak Banceuy

Setelah satu set Nasi Lemak Paha Pentung seharga Rp24.000, mungkin next time saya akan mencoba set dendeng bakar cabe ijo ataupun rendang daging. Karena kedua makanan tersebut, jelas tidak pernah saya temukan berada di atas sepiring nasi uduk yang saya makan.

 

Buat yang penasaran juga dengan Nasi Lemak Banceuy ini, bisa mampir ke Jl. Banceuy No.117. Tapi perlu diingat, lokasinya bukan di Banceuy yang dekat dengan Alun-alun Bandung, tapi lebih dekat ke arah Viaduct. Tempatnya tidak begitu besar dan bentuknya memanjang. Tapi cukup untuk sekitar 20 orang yang duduk secara terpisah di beberapa meja.

Bagian dalam kedai Nasi Lemak Banceuy


Hari itu saya masuk penjara. Tapi tentu bukan karena kejahatan, namun dalam rangka berwisata. Aneh ya mendengar istilah wisata ke penjara? Saya pun begitu. Namun memang, di plakat pintu masuk Lapas Sukamiskin yang saya datangi pagi tersebut pun tertulis jelas "Lapas Pariwisata". Lebih uniknya lagi, nama orang yang menandatangani plakat peresmian tersebut dapat juga ditemukan di daftar nama penghuni Lapas. Ada yang bisa menebak siapa nama yang dimaksud? :))

 

Pintu ruang tahanan penjara Bung Karno di Lapas Sukamiskin
Pintu sel penjara Bung Karno di Lapas Sukamiskin

Btw, tulisan ini adalah contoh tulisan perjalanan yang terlambatnya keterlaluan. Karena sudah lebih dari dua tahun sejak momen kunjungan yang diceritakan. Padahal sudah saya janjikan juga di caption instagram, saat mengunggah foto-foto tersebut dua tahun silam. Sulit memang bergelut dengan rasa malas. Sekalinya sedang mood, sudah lupa.

 

Dalam kunjungan hari itu, saya tidak sendirian. Sekitar dua puluh kepala ikut serta dalam tour “Jejak Sukarno di Bandung” yang digagas oleh Mooibandoeng dan Komunitas Aleut. Lebih dari separuhnya tentu saya kenal betul. Karena jumlah kami yang cukup banyak, maka rombongan dipecah menjadi tiga kelompok. Saat kelompok pertama berangkat untuk menuju sel Bung Karno, saya yang tergabung dengan kelompok dua dikumpulkan di sebuah aula sambil menunggu giliran.

 

Lonceng tua di salah satu sudut bangunan Lapas Sukamiskin
Lonceng tua di Lapas Sukamiskin

Oh.. ya, sebelum hari tersebut, saya hanya mengetahui kalau Bung Karno itu pernah dikurung di bekas Lapas Jl. Banceuy saja. Namun ternyata, ia sempat dipindahkan dari Banceuy ke Sukamiskin pada penghujung masa tahanannya. Ironisnya, ia jadi harus merasakan sendiri tidur di bangunan penjara yang arsitekturnya ia rancang bersama sang guru, yakni Charles Prosper Wolff Schoemacker. Sebelumnya, saya lebih banyak tahu bekas selnya yang di jalan Banceuy, karena tempatnya tergolong mudah diakses dibanding Sukamiskin. Apalagi memang sekarang statusnya sudah menjadi situs sejarah.

 

Giliran untuk berkunjung pun tiba. Saya dan lima orang kawan pun bergerak menyeberangi lapangan Lapas yang ukurannya mungkin tiga kali lapangan olah raga sekolah pada umumnya. Sementara di salah satu sisinya terlihat dua lapangan tenis berjejer rapi dengan lapangan yang sepertinya baru selesai dicat. Karena terlihat juga warna merah dan hijaunya masih sangat vibrant.

 

Blok penjara Lapas Sukamiskin, tempat Sel Bung Karno berada

Akhirnya kami tiba di blok tempat sel Bung Karno berada. Entah blok barat atau timur, saya sudah lupa namanya. Ini nih resiko kalau tidak dituliskan langsung, hehe. Yang pasti saya melihat suasana blok penjara seperti yang pernah saya liat di serial Prison Break ataupun di film Shawshank Redemption. Bentuknya memanjang, terdiri dari dua lantai, serta berjarak 2-3 meter antar sel. Namun bedanya, penjara-penjara di film-film tersebut diberi pintu teralis, sehingga seandainya penjaga melintas di depannya, kita bisa langsung melihat dari sela-selanya. Nah, beda halnya dengan sel-sel penjara di Lapas Sukamiskin ini. Setiap selnya menggunakan pintu besi yang tertutup penuh. Satu-satunya cara untuk melihat ke dalamnya, adalah dengan mengetuk, dan meminta penghuni di dalamnya membuka lubang intip, atau dengan sekalian saja membukakan pintunya. Yaa kira-kira sama lah caranya seperti Najwa Shihab melakukan sidak kepada narapidana sini di acaranya dulu. Kalau nggak dibuka, kegiatan di dalamnya tak bisa terlihat.

 

Sel Bung Karno berada di lantai dua, sel nomor satu. Tepat di ujung blok, dekat pintu masuk. Dari pintunya saja, tampilan sel Bung Karno ini sudah berbeda sendiri. Selain bertuliskan “Bekas Kamar Bung Karno”, di sampingnya pun tertulis papan peraturan yang agak cukup aneh. Kalau soal harus melepas alas kaki, dan dilarang membawa alat komunikasi boleh lah. Tapi kalau soal peraturan diharuskan berwudhu, dan untuk perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan masuk sih agak mengundang tanda tanya. Peraturannya kok seperti akan memasuki hutan larangan yang biasa ada di kampung-kampung adat.

 

Aturan untuk dapat masuk ke dalam Sel Bung Karno

Ruangan sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin ini jelas jauh lebih luas dibanding sel Bung Karno di ex Penjara Banceuy yang hanya berukuran 1,5 x 2 M. Yaa ibarat kos-kosan harga satu jutaan di Bandung. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter, dengan kloset berada di bawah ranjang yang menempel di dinding. Kalau ingin buang air, Presiden Pertama RI ini bisa melipat ranjangnya ke atas.

 

Sementara itu, ada beberapa perabot sederhana seperti kursi, meja, foto diri, dan lemari. Beberapa perabotannya sepertinya terbilang baru. Karena memang nyaris tidak mungkin juga menyimpan sebuah barang yang berumur hampir seabad. Paling tidak, sudah rusak berat di makan rayap. Namun foto-foto diri Bung Karno tampaknya memang dibiarkan saja rusak oleh usia. Mungkin untuk memberi kesan jadul. Tapi yang pasti, bukan beliau yang memajang foto-foto tersebut. Karena foto-fotonya merupakan foto saat ia sudah menjadi presiden. Begitupun buku-buku karyanya yang terpajang di rak. Lalu di dindingnya, terdapat pula infografis yang menceritakan tentang sejarahnya di penjara ini.

 

Tempat tidur dan closet di dalam sel Bung Karno

Kami hanya diperbolehkan di dalam sel selama 15 menit. Namun beruntung, kami diperbolehkan untuk berfoto  di dalamnya. Kamera yang sejak masuk tadi ditahan oleh penjaga pun sudah dikembalikan. Setelah puas mengambil beberapa foto, saya pun bergegas keluar lebih dulu untuk merasakan kembali suasana blok tahanan. Tepat di dinding sebelah sel Bung Karno, ternyata terdapat mading yang berisikan daftar nama penghuni blok! Cukup banyak nama-nama familiar yang menghiasi daftar tersebut. Contohnya saja mantan Walikota Bandung Dada Rosada, serta the one and only, Setya Novanto. Rupanya, Pak Setnov ini mengisi sel nomor 3. Yang artinya, hanya berselang satu sel di sebelah sel Bung Karno. Sementara sel nomor 2 dibiarkan kosong. Namun kalau berita yang mengatakan bahwa ruangan sel Pak Setnov yang merubuhkan satu dinding agar bisa menikmati luas ruangan dobel benar adanya, maka saat itu ia berada tepat di samping tempat kami berdiri.

 

Sudut lain sel penjara Bung Karno

Sesungguhnya, saya tergolong orang yang bisa luar biasa merasa senang ketika mendapat pengalaman baru. Maka dari itu, berjalan di lorong-lorong penjara pun terasa membahagiakan buat saya. Ternyata, bangunan penjara itu tak ubah layaknya sebuah bangunan sekolah. Lapas Sukamiskin yang saya masuki pun sedikit banyak mengingatkan saya pada sekolah-sekolah yang masih menggunakan bangunan lama di Bandung. Ada gerbang besar, selasar, lapangan, dan sebuah lonceng besar. Ah.. rasanya bangunan SD saya pun desainnya seperti itu. Sayangnya, kondisi ini tak semuanya bisa diabadikan dalam helai-helai gambar digital. 

Baru pertama kalinya saya menonton film road trip yang diawali dengan penuh kemuraman. Gelap. Nyaris seperti pembawaan film DC Universe. Bandingkan saja dengan kebanyakan road film lainnya seperti “Kulari ke Pantai” atau “3 Hari Untuk Selamanya.” Walaupun ada konflik di dalamnya, film perjalanan selalu diawali dengan keceriaan. Bahkan termasuk film horror / slasher, awalnya pasti asyik-asyik dulu.




Dengan judul yang singkat dan cukup gamblang, Mudik memang langsung memberikan ekspektasi bahwa film ini bercerita tentang perjalanan pulang kampung yang menjadi budaya menjelang hari raya Idul Fitri di Indonesia. Walaupun ternyata, bukan itu ide utama yang ingin disampaikan Adriyanto Dewo yang duduk di kursi penulis skenario sekaligus sutradara film tersebut. Di sini, “mudik” justru hanya berfungsi sebagai latar waktu. Kalaupun misal film ini mengambil momen waktu yang berbeda, sepertinya nggak bakalan berpengaruh langsung deh ke dalam alur cerita. Walaupun, scene salat Ied di padang pasir memang terasa epik. Tapi impact-nya buat saya hanya sebatas impact visual semata.


Jalan cerita yang cenderung lambat di awal, sebetulnya cenderung memberi sedikit beban di kelopak mata. Tapi saya membayangkan juga, seandainya film Mudik tayang di bioskop dengan audio puoll, film ini akan jauh lebih menyenangkan. Karena adanya sedikit adegan dengan taste suspend di film ini yang dari lambat, tiba-tiba ke cepat, lalu menjadi menegangkan.


Dari sisi akting, Ibnu Jamil dan Putri Ayudya sukses membawa kemuraman Mudik dari awal sampai memuncak di bagian akhir. Masalah dan konflik, hadir secara bertahap, hingga kemudian meluluhlantakan emosi semakin mendekati ending. Oh..ya penampilan Asmara Abigail sebagai gadis Jawa yang lugu di film ini sangat mengingatkan saya pada perannya di “Perempuan Tanah Jahanam”. Apalagi dengan setting tempat di pedesaan. Sepertinya, kualitas aktingnya jauh lebih terasa dengan peran tersebut, ketimbang dengan menjadi “gila” seperti di “Gundala”.


Baca juga: Menguji Kejahanaman Perempuan Tanah Jahanam (No Spoiler Review)

Baca juga: Review Film Gundala: Simbol Perlawanan Rakyat Untuk Penguasa (No Spoiler!)


Mudik tayang exclusive di layanan streaming Mola TV mulai 28 Agustus 2020. Sesungguhnya, saya jadi meng-install Mola TV pun agar bisa menonton film ini. Untungnya, memang ada paket khusus untuk menonton Mudik tanpa berlangganan. Cukup membayar Rp17.000, saya sudah bisa menontonnya dalam batas waktu 24 jam sejak pembayaran, dan bisa ditonton juga di laptop. Cara pemasaran film seperti ini sebetulnya bisa jadi alternatif pendapatan bagi para pekerja film yang terdampak dengan penutupan bioskop seperti sekarang. Yaa, film ini cukup menjadi obat dari film-film berkualitas festival yang terpaksa harus mengalah karena pandemi. Jikalau FFI tetap akan terlaksana tahun ini, saya rasa Mudik akan berdiri di jajaran nominasi judul-judul juara.

Catchy dan fresh, itu kesan saya saat pertama kali menginjakkan kaki ke Zest Bandung sekitar tiga tahun lalu. Warna hijau daun yang tegas, berpadu dengan baik dengan warna lime yang cerah. Persis seperti melihat buah lemon.

 

Pemandangan Matahari Terbenam dari Gazebo Rooftop Zest Bandung

Selama empat tahun ke belakang, saya memang cukup sering mondar-mandir mampir ke sini. Dan dalam setiap kunjungannya, selalu ada saja hal baru yang diperkenalkan oleh hotel yang terletak di bilangan Sukajadi ini.

 

Saat terakhir berkunjung, diam-diam Zest Bandung sudah naik kelas dengan menyandang tiga bintang, sekaligus memperkenalkan tipe kamar terbarunya yang lebih nyaman dan lengkap. Setahun berselang, ternyata Zest Bandung kini punya rooftop!




Deretan Bean Bag dan Hammock di Clementine Rooftop Zest Bandung

Nggak cuma bisa melihat pemandangan Bandung dari ketinggian, tapi saya juga bisa bersantai dengan beragam fasilitasnya yang menyenangkan. Mulai dari bean bag yang berderet di area utara, kursi ayun di dalam sebuah gazebo yang cantik, dan dua buah hammock dengan view langsung ke arah matahari terbenam. Nah, ini juga yang menjadikan rooftopnya spesial dibandingkan yang lain, pandangan saya ke arah sunset sama sekali tidak terhalang bangunan lain. Buat saya yang memang suka memotret waktu perpindahan birunya langit menjadi jingga, tempat ini perfect.

 

Selain punya spot yang tepat untuk menikmati senja, tempat yang dinamakan Clementine Rooftop ini juga punya view 270⁰ ke seluruh penjuru Bandung. Di sebelah utara, saya bisa langsung memandang langsung Gunung Tangkuban Parahu yang berdampingan dengan Gunung Burangrang. Lalu jauh di selatan, nampak pula menara kembar Masjid Raya Bandung yang berlatar deretan pegunungan di Bandung Kidul yang indah. Memang karena lokasinya yang strategis berada di tengah-tengah Kota Bandung, makanya beberapa landmark di Bandung Raya dapat terlihat dengan jelas.

 

Pemandangan Gunung Burangrang Saat Senja dari Clementine Rooftop Zest Bandung

Clementine Rooftop ini juga ternyata bisa digunakan untuk acara intimate wedding ataupun acara gathering lainnya, lho. Desainnya memang suportif untuk itu. Makanya, selain ada bagian yang langsung beratapkan langit, ia juga punya sebuah ballroom yang bisa diatur dengan meja-kursi, serta pelaminan. Saat acara open house yang saya datangi kemarin pun, Zest Bandung menyediakan sebuah sample set-up pelaminan bergaya modern, sekaligus cantik. Lalu di sisi lainnya, terdapat pula jendela-jendela besar yang langsung menghadap pemandangan Bandung ke arah selatan. Jadi, Clementine Rooftop ini nggak sekadar fasilitasnya oke dan tempatnya strategis, tapi memang punya rancangan fungsional yang telah dipertimbangkan matang-matang untuk berbagai kebutuhan.

 

Untuk kapasitasnya sendiri, Clementine Rooftop sepertinya dapat menampung hingga 300-400 orang. Namun dengan kondisi pandemi seperti sekarang, Zest Bandung hanya bisa menerima separuhnya saja. Karena mereka cukup ketat menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Selain itu, saat kemarin menyantap jamuan pun, saya tidak diperkenankan untuk menyentuh peralatan makan, dan mengambil langsung makanan yang disediakan. Semuanya dipersiapkan melalui asistensi staff Zest Bandung yang sudah siap sedia membantu.

 

Selasar Clementine Rooftop Zest Bandung yang Dapat Digunakan Area Prasmanan

By the way, thanks for having me, Zest Bandung. Setelah cukup lama tak berkunjung, akhirnya bisa kembali mampir juga. So, untuk informasi lebih lengkap tentang Clementine Rooftop Zest Bandung ini bisa langsung saja menghubungi nomor (022) 8260 2060, atau bisa langsung mampir ke Jl. Sukajadi No. 16, Bandung.


Baca juga: Zest Hotel Sukajadi Bandung, Fresh Dan Instagrammable

Sejak menonton trilogy Back to The Future di program Layar Emas RCTI sekitar dua dekade silam, saya mulai ketagihan nonton film-film sci-fi bertema time traveling. Sebut saja About Time, Time Traveller’s Wife, Looper, dan Predestination. Alasannya, film-film seperti ini kerap memiliki alur cerita yang sangat liar, dan tidak tertebak, bahkan beberapa di antaranya cukup mind blowing. Tak usahlah bicara film-film Hollywood nan jauh di sana, di Indonesia sendiri, sinetron Lorong Waktu besutan Deddy Mizwar saja bisa sangat digemari, hingga bertahun-tahun rutin tayang setiap Ramadan datang. Lalu yang terbaru, ada Tunnel, film seri yang baru saja saya temukan di layanan streaming GoPlay beberapa hari lalu. 

 

Poster publikasi Tunnel tampak sangat menjanjikan dengan memajang foto Donny Alamsyah sebagai pemeran utama, ditambah dengan penempatannya yang berada di deretan rekomendasi paling atas. Mumpung durasi berlangganan GoPlay saya masih empat hari lagi, langsung saja saya hantam serial 16 episode ini. Padahal asal mula saya berlangganan aplikasi keluaran GoJek ini karena hanya ingin menonton Pretty Boys saja.

 

Sebetulnya, serial Tunnel ini diadaptasi dari sebuah serial Korea berjudul sama. Tak pernah sebelumnya saya mendengarnya, apalagi menontonnya. Jadi, entah berapa besar persentase kesamaan ceritanya, saya tak tahu, dan tak mau ambil pusing. Yang pasti, saya yakin tokoh utama serial originalnya di Negeri Ginseng sana, tidak akan berbicara dengan logat batak yang kental, seperti yang dilakukan Donny yang berperan sebagai Tigor Sintong Siregar di versi Indonesianya ini.

 

Untuk latarnya sendiri, Tunnel Indonesia mengambil lokasi pengambilan gambar 100% di Yogyakarta. Pilihan ini terasa cukup unik juga sih, karena film aksi polisi beraroma suspend-mystery kan biasanya mengambil tempat di Jakarta yang padat. Tapi mungkin, selain memang sedikit disinggungkan dengan benang merah cerita, alasannya untuk lebih menonjolkan sisi budaya Jawa yang kental. Ya.. sepertinya pihak rumah produksi ingin mempertegas “rasa” pada edisi Indonesianya. Maka dari itulah, walaupun di tanah Jawa, pemeran utamanya pun dibuat berlogat Batak, dan ada juga karakter pendukung lainnya yang berasal dari Indonesia Timur.

 

Dalam serial ini, untuk pertama kalinya saya melihat Donny Alamsyah mendapatkan screen time sangat banyak, hingga karakter Tigor yang diperankannya dengan baik tersebut bisa sangat menempel di kepala, bahkan setelah saya menamatkan keseluruhan episodenya. Mulai dari cara berbicaranya, hingga ke kata-kata yang sering diucapkannya. Di samping Donny, saya sebetulnya hanya mengenal Putri Ayudya, dan Verdi Soelaeman yang juga banyak bermain di film-film besar. Selain ketiganya, pemain lainnya yang sebenarnya memerankan tokoh cukup sentral seperti Andri Mashadi, dan Hana Malasan, baru saya ketahui di film ini. Padahal, Hana Malasan memiliki portofolio cukup mentereng di sitcom OK-Jek yang pernah tayang di NET TV. Ya, tapi sayangnya, memang saya sudah jarang sekali nonton program televisi, selain dengan pertandingan Persib Bandung.

 

Tunnel mengisahkan seorang anggota kepolisian bernama Tigor yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai di Yogyakarta. Dalam sebuah aktivitas penyelidikannya di tempat kejadian perkara yang merupakan sebuah terowongan buntu, ia berkonfrontasi dengan seseorang yang diduga sebagai pelaku pembununah tersebut, dan entah bagaimana caranya terlempar ke masa 30 tahun yang akan datang, yaitu tahun 2020. Pada tahun tersebut, ia menemukan fakta bahwa kasus yang ditanganinya dulu, belum terselesaikan hingga berpuluh-puluh tahun yang akan datang. Berbekal data penyelidikannya dari tahun 1990, ia kemudian meneruskan untuk menemukan pelaku yang dicari bersama rekan lamanya di kepolisian yang ia temui di masa depan.

 

Untuk ukuran film aksi berbalut misteri dengan bumbu penjelajahan waktu, film ini masih terasa relatable dengan kondisi di Indonesia. Padahal film-film bertipe seperti ini masih dapat dihitung jari, dan terkadang masih lebih sering terasa berjarak dengan kehidupan masyarakat lokal. Hubungan sebab-akibat antara masa lalu-masa depan yang disisipkan ke dalam cerita pun masuk akal. Sama seperti ketika saya pertama kali dibuat terkagum-kagum oleh cerita Back to The Future.

 

Menonton film ini memunculkan juga rasa yang sama seperti nonton web series “Sore” karya Yandy Laurens. Serasa membuat perjalanan waktu menjadi mungkin dan masuk akal.


Baca juga: Yandy Laurens Dan Roman Fantasi Yang Dibalut Dialog Hati


Tak lupa, sisi suspend yang dibangun oleh sang sutradara pun cukup berhasil membangkitkan ketegangan. Saya sendiri saat menonton episode serial ini malam-malam dengan menggunakan headset, spontan menunda watch time saya ke pagi hari, ketika adegan suspend-nya mulai masuk. Karena takut ada jump scare-nya bro. Padahal sih nggak ada tuh adegan macam itu. Tapi tegangnya tetep puoll.

 

Tema penjelajahan waktu sudah tentu bersifat fiktif. Namun sebetulnya, saya rasa tema ini cukup dekat dengan pikiran manusia. Karena tak jarang benak kita berandai-andai untuk dapat pergi menjelajah waktu. Baik untuk memperbaiki kesalahan, ataupun memuaskan imajinasi akan masa depan.

 

Karena belum pernah menyaksikan serial original dari Koreanya, serial Tunnel Indonesia jelas sangat berkesan bagi saya. Namun entah bagi yang sudah terlebih dahulu tahu cerita aslinya. Kalaupun misal sama persis alur ceritanya, bagi saya penyajian serial versi Indonesia ini sangat baik. Mengingatkan saya dengan kualitas Sinetron Dunia Tanpa Koma yang dibintangi Dian Sastro pada 2006 silam. Keduanya pun memiliki tema yang tak berbeda jauh. Seandainya saja standar film seri Indonesia dapat seperti keduanya, bukan tidak mungkin dunia pertelevisian Indonesia bisa bangkit. Kalau masih seperti kondisi sekarang ini, jangan heran bila aplikasi layanan streaming online, menjadi solusi hiburan visual masa depan.



Baca juga: Kritik Budaya Patriarki Lewat Komedi Kocak Ala Saiyo Sakato

Baru minggu lalu saya menonton film dengan latar belakang cerita usaha Rumah Makan Padang lewat “Tabula Rasa”. Lalu minggu ini, saya menjumpai cerita berlatar sejenis lewat serial yang tayang terbatas di layanan streaming GoPlay, yakni “Saiyo Sakato”. Tabula Rasa sendiri sebetulnya film yang sudah tayang tujuh tahun silam. Raihan empat Piala Citra pada ajang FFI (Festival Film Indonesia) 2014, tentu menjadi daya tarik lebih saat film ini mulai terpajang di menu Netflix.

 

Kedua judul ini memiliki nuansa dan karakter yang bagi saya luar biasa sangat mirip. Walaupun, dari segi cerita tentu berbeda jauh. Tapi dengan menonton keduanya, saya jadi dapat membayangkan kehidupan keluarga yang menjalankan usaha Rumah Makan Padang yang jauh dari kampuang halamannya. Mereka sungguh teliti soal rasa, dan begitu disiplin menjaga warisan budayanya. Di samping itu, saya pun menjadi mengenal lebih banyak masakan Padang selain Rendang, Daging Cincang, Ayam Pop, dan Talua Dadar, yang biasa menjadi template menu yang saya pilih saat menyantap Nasi Padang. Karena banyak visual adegan memasak, keduanya pun dijamin dapat membuat penontonnya ngidam masakan Padang usai menyaksikannya. 

 

Tabula Rasa dan Saiyo Sakato sebetulnya sama-sama menggambarkan kehidupan orang awak secara nyata, dan sederhana di perantauan. Keduanya pun memiliki bumbu konflik antar saudara dalam menjalankan bisnis rumah makan. Namun di samping bercerita soal rasa, dan usaha, Saiyo Sakato mencoba juga mengirimkan kritik atas budaya patriarki yang secara gamblang disampaikannya dalam setiap lembaran episodenya.

 

Alkisah diceritakan di awal cerita, Uda Zul yang merupakan pemilik Rumah Makan Padang Saiyo Sakato yang diperankan oleh Lukman Sardi meninggal dunia karena serangan jantung, dan mewariskan bisnisnya ini kepada istrinya Uni Mar yang diperankan oleh Cut Mini Theo. Hmm..oke, mungkin ada yang merasa pernah mendengar cerita ini? Yak, cerita Lukman Sardi sebagai suami, dan ayah yang meninggal di awal film yang meninggalkan Cut Mini yang berperan sebagai istri ini persis seperti awal cerita film “Orang Kaya Baru” besutan Ody C. Harahap yang tayang tahun 2019 lalu. Di dalam kedua film tersebut, praktis Lukman Sardi hanya tampil seiprit di awal, dan di hanya beberapa adegan flash back saja. Lalu sisanya ia tetap menjadi tokoh sentral yang terus disebut sepanjang film. Enak bener nih Om Lukman. :D

 

Tak lama setelah kepergian Uda Zul, Uni Mar yang tinggal dengan anak-anak, serta adik iparnya, kedatangan seorang perempuan muda bernama Nita yang mengaku telah diperistri juga oleh Uda Zul delapan tahun silam. Pernikahannya tersebut telah melahirkan seorang anak yang diberi nama Budi. Ternyata, Uda Zul terungkap telah berpoligami tanpa izin Uni Mar sebagai istri pertama. Adegan inilah yang memulai rangkaian pesan soal sisi negatif budaya patriarki di Indonesia yang disisipkan dengan begitu smooth ke dalam cerita seri sepuluh episode Saiyo Sakato.

 

Di samping soal Uda Zul yang berpoligami dengan berbohong kepada kedua istrinya, kritik mengenai patriarki juga disampaikan Sutradara Gina S. Noer melalui cerita kedua anak Uni Mar yang juga terkena dampaknya. Annisa yang merupakan anak sulung di keluarga, selalu terhalang keinginannya untuk menjadi penerus Saiyo Sakato karena posisinya sebagai perempuan. Di hampir setiap episodenya, ada saja adegan di mana Annisa dinasihati untuk segera mencari calon suami, dan menikah. Dalam salah satu adegan flash back, Uda Zul bahkan terang-terangan menyuruh Annisa untuk menikah, agar suaminya yang dapat menjadi penerus Saiyo Sakato. Kursi panas kepemilikan Saiyo Sakato yang tak dapat diteruskan Annisa akhirnya bergulir ke adik lelakinya Zaenal, yang justru sama sekali tidak menginginkannya. Alasan satu-satunya Zaenal dipilih oleh Uni Mar untuk meneruskan usaha keluarga, adalah hanya karena dia keturunan laki-laki satu-satunya dari Uda Zul. Di berbagai kesempatan, Uni Mar pun seringkali meremehkan kemampuan Annisa, dan ujung-ujungnya selalu meminta Annisa agar cepat menemukan pendamping.

 

Walaupun kental dengan kritik tentang budaya patriarki, Saiyo Sakato menyampaikannya secara ringan, santai, penuh dengan komedi kocak. Selain itu, dialog, serta pembawaan Cut Mini, dan juga Nirina Zubir yang memerankan Nita juga membuat konflik yang terjadi antara keduanya justru menjadi terasa lucu, ketimbang menegangkan. Tapi tentunya, tetap ada adegan-adegan menyentuh dari keduanya yang merupakan curhatan sedu istri-istri yang terluka. Saya rasa akting keduanya tak pernah mengecewakan. Apalagi salah satunya merupakan aktris langganan Piala Citra. Sejak Laskar Pelangi, hingga Dua Garis Biru tahun lalu, Cut Mini selalu menampilkan yang terbaik.

 

Kesimpulannya, Saiyo Sakato merupakan film seri yang enjoyable, dan akan disukai oleh penggemar tontonan yang menyajikan kesederhanaan hidup sehari-hari. Bagi yang menyukai Bajaj Bajuri, Suami-Suami Takut Istri, Get Married, dan Preman Pensiun, mungkin akan menyukai juga menonton Saiyo Sakato. Hal menarik lainnya juga hadir dari sisi penyajian teknik pengambilan adegan break the fourth wall (ala-ala Deadpool, di mana aktor berperan sekaligus menjadi narator yang bercerita ke kamera langsung, seolah-olah sedang berbicara dengan penonton). 

 

Penasaran kelanjutan ceritanya? Sila dapat mengunduh dulu layanan streaming GoPlay di smartphone-nya. Tarifnya tak menguras saldo kok. Untuk menonton kesepuluh episode Saiyo Sakato, saya cukup membayar paket hemat berlangganan satu minggu saja seharga Rp29.000. Yang pasti tulisan ini bukan endorse, tapi kalau pihak GoPlay ada sebuah niatan, tentu hamba tak menolak. Sila hubungi nomor telepon atau e-mail yang tertera di bio profile blog ini. :D

Baca juga: Tunnel, Serial Indonesia Adaptasi Korea Bertemakan Time Travel Yang Wajib Ditonton!

 


All around you……you….”

Akhirnya, saya bisa mendengarkan kembali suara bisikan yang muncul dalam Intro Dolby Digital yang diputar sebelum penayangan film di bioskop. Namun bedanya, suara khas ini disambut dengan sangat riuh oleh seluruh penonton di dalam studio. Sorak-sorai, siulan, dan tepuk tangan, meramaikan sesi nonton kali ini. Yaa, tapi wajar saja, hari ini memang hari istimewa. Hari ini merupakan hari pertama kembali dibukanya fasilitas sinema setelah kita sama-sama berhasil melewati periode genting Covid-19.

Memang sih, kondisi tanah air belum sampai 100% pulih. Bioskop dan mall saja baru dibuka pada H+13 dari hari dicabutnya masa darurat Corona. Tapi bisa dimengerti, mereka memang membutuhkan waktu untuk berbenah terlebih dahulu. Mulai dari melakukan pengecekan perlengkapan, mengoordinir kembali staff yang selama dirumahkan menjadi seorang wirausahawan palugada, hingga membuat protokol baru yang adaptif terhadap kondisi yang disebut banyak orang sebagai the new normal.

Baca juga: Sebuah Upaya Untuk Tetap Waras : Catatan Kuncitara #1

Contohnya saja, kini saya harus duduk selang satu kursi dengan partner setia menonton saya. Padahal kalau dulu, beli tiket dengan menyisakan lowong satu itu hukumnya haram di aplikasi pembelian tiket. Hal ini harus dilakukan, karena tidak ada satu pun pihak yang dapat menjamin warga +62 sudah 100% aman dari ancaman Covid-19. By the way, film yang saya tonton perdana ini adalah “Parasite” yang ditayangkan dalam tone black and white. Iya, film terbaik garapan Bong Joon Ho ini menjadi pilihan saya dibandingkan beberapa film lainnya yang terpaksa ditayangkan ulang. Kompaknya para produser film memundurkan jadwal penayangan filmnya yang sebetulnya sudah siap tayang sejak Maret lalu, membuat bioskop hanya menayangkan film-film terbitan lama saat kembali buka.

Kembali ke tiga belas hari yang lalu, dua belas jam setelah Pak Jokowi mengumumkan relaksasi situasi dari yang sebelumnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), saya memacu Revo Fit Hijau saya pukul tujuh pagi ke Braga, kawasan di Bandung yang sudah selama sekitar enam tahun terakhir seperti menjadi teras halaman saya. Nyetrit, ngaleut, ngonten, sarapan, berbincang, atau sekadar duduk-duduk di bangku hingga ada muda-mudi mendekat bertanya, “kakak orang Bandung? Boleh minta waktunya sebentar?” yang otomatis memaksakan pilihan kepada kaki saya untuk berjalan pergi.

Baca juga: Siasat Mengajarkan Ibu Tentang Corona : Catatan Kuncitara #2

Pukul tujuh pagi Braga masih sepi, tapi jelas sudah terasa bernafas kembali dibanding kemarin. Braga Permai yang terlihat muram saat dua bulan ke belakang saya lewati, kini sudah tampak ada beberapa orang berpakaian hitam putih menyapu halaman, dan membereskan bangku. Sementara security berdada tegap sudah berdiri tegak, wajahnya sumringah, terkesan penuh harap. Mungkin ia tak sabar bertemu kembali wajah-wajah yang biasa menghiasi kursi dan meja tempat ia bekerja tersebut.

Sementara di seberang Braga Permai, ibu penjual bubur ayam terlihat keluar dari Gang Apandi sambil mendorong gerobaknya yang berwarna biru Persela Lamongan. Diikuti seorang bapak yang tak lama langsung memesan semangkuk bubur, sambil mengeluarkan beberapa batang garfit dari saku kemeja casual yang lengannya digulung sepertiga. Ia bagikan garfitnya ke dua orang kawan yang menyusulnya sambil membawakannya secangkir kopi di gelas bekas Aqua. Satu kakinya ia naikkan ke bangku panjang dengan tangan yang bergantian menyesap kopi, dan menghisap rokok. Pandangannya menerawang ke arah langit Bandung yang membiru, dan dihiasi kuningnya Bunga Tabebuya yang bermekaran. Pandangan matanya menyiratkan kelegaan yang tersunggingkan lewat senyum kecilnya di sudut bibir.

Baca juga: Seni Hidup Di Masa Pagebluk : Catatan Kuncitara #3

Tiga puluh menit kemudian. Saat mentari mulai memberi bayangan pada pohon di rolling door Sugarush yang masih terkunci rapat, beberapa pemuda menenteng DSLR berlensa fix, mulai bergabung menambah riuh suasana. Sebagian memotret jalanan yang dikenal paling “heritage” di Bandung tersebut. Sementara beberapa lainnya memotret kawan perempuannya yang tengah berpose di depan “The Hangover”.

Pukul setengah Sembilan pagi, jumlah populasi manusia di Braga sudah meningkat sepuluh kali lipat dari saat saya tiba. Dari yang hanya mengambil objek jalan dan bangunan, saya yang juga membawa mirrorless sekarat Fujifilm X-M1 mulai mengalihkan objek foto pada euphoria tak biasa wajah-wajah yang tertawa bahagia di sepanjang jalan. Bukan cuma anak-anak muda yang berdatangan, ibu dan bapak setengah baya pun terlihat bergembira bersama anak bujang dan gadisnya yang tak hentinya mengajak mereka membuat vlog singkat di instastory, serta konten tiktok berseri.

Baca juga: Bahaya Laten Teori Konspirasi Tanpa Literasi : Catatan Kuncitara #4

Tak lama kemudian, sebuah mobil polisi dengan sirine nyaring terlihat berjalan pelan dari arah selatan. Begitu mendekati tempat saya berdiri, mereka mematikan sirinenya, dan mulai menyuarakan imbauan untuk tetap menjaga jarak antar sesama, dan tetap mengenakan masker. Ah, sesaat, kata-kata “jarak” dan “masker” malah membuyarkan riang yang tadi sempat berkumandang. Walaupun yang mereka suarakan benar adanya. Kita memang masih harus tetap melakukan tindakan preventif selama jumlah pasien Covid-19 masih belum mencapai angka nol.

Senang rasanya melihat beberapa hal kembali seperti semula. Tapi, kata “beberapa” yang saya ungkapkan di sini tentu menjelaskan bahwa ada beberapa lainnya yang tidak bisa kembali seperti sedia kala. Contohnya beberapa tempat makan, dan tempat nongkrong favorit yang terpaksa harus tutup karena tidak mampu beradaptasi dari sisi strategi bisnis, dan pengelolaan keuangan pada masa PSBB kemarin. Lalu ada juga tukang cukur langganan di Jamika yang pintunya tak pernah saya lihat terbuka kembali. Ya, memang tak bisa dipungkiri. Profesi kapster memang sangat terkena dampak dari pandemi Covid-19 ini. Karena dengan detail pekerjaannya, mereka sama sekali tak bisa mengikuti anjuran untuk melakukan physical distancing. Jujur saja, saya pribadi merupakan salah seorang yang berhenti pergi ke barbershop setelah virus Corona ini dinyatakan masuk ke Indonesua. Ayah saya yang berhenti mencukur rambut saya sejak SMA, kini harus kembali mengoperasikan gunting dan mesin cukur yang merupakan hasil impulsive buying saya di Shopee. Dengan catatan, tentu kualitas penglihatan yang dimilikinya sudah jauh menurun dibanding dua dekade lalu. Bayangkan saja, bagaimana deg-degannya saya duduk di kursi panas beliau ini selama kurang lebih nyaris 60 menit. Belum dengan adanya drama rambut saya yang ikal ini sering nyangkut di mesin cukur baru yang ternyata tumpul. Walaupun begitu, sebetulnya ada juga beberapa barbershop yang selama pandemi masih bisa membuka jasanya, dengan mengenakan APD lengkap, beserta face shield. Tapi saya, tetap tak cukup nyali kalau harus dipegang kepalanya oleh orang-orang yang memegang banyak kepala dalam sehari.

Lima hari adalah jumlah hari yang dibutuhkan oleh tim HR untuk menyiapkan protokol baru sekembalinya kami semua dari WFH (work from home). Senin itu saya memacu kendaraan melewati jalur Lengkong Kecil, Kosambi, hingga Laswi. Jalur yang sama dengan perasaan yang berbeda. Nyaris sama seperti hari kerja pertama di tempat ini. Lalu ada banyak gurat lega, dan kebahagiaan yang terpancar di muka kawan-kawan lainnya. Satu hal yang kemudian ternyata dilakukan oleh hampir semua karyawan. Ternyata kami kompak membawa masing-masing makanan dari rumah, tanpa direncanakan. Mungkin memang rasa-rasanya hal ini yang memang harus dilakukan untuk merayakan datangnya hari ini. Sebelum disambut deretan meeting koordinasi, dan sebuah tantangan yang harus dihadapi, bahwasanya ada sebuah dunia baru yang harus kita adaptasi kini.


NB: Cerita ini adalah fiktif, dan merupakan hasil imajinasi penulis belaka. Bila ada momen yang diceritakan betul-betul terjadi nanti di dunia nyata, yakinlah bahwa itu semua merupakan kebetulan semata. 

Sepertinya, sudah lama sekali saya tidak menulis ulasan kuliner. Maksudnya, tujuan kuliner yang betul-betul menjual rasa. Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah ini menjadi objek jajal rasa saya yang pertama setelah hampir setahun terakhir melepas pekerjaan di sebuah media wisata dan lifestyle. Padahal, biasanya kalau bulan Ramadan seperti ini, tugas meliput wisata kuliner itu sudah pasti terselip wajib di dalam jadwal kerja harian.
Cabang Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah di Bandung

Pilihan ulasan kuliner yang jatuh kepada Nasi Goreng Dendeng Lemak yang dibuat oleh Tiarbah yang dikenal sebagai social media chef tersebut, jelas tak ujug-ujug datang dari langit dan menghujam kepala. Tingginya paparan soal menu dari sang juru masak yang kebetulan saya ikuti cuitannya di Twitter ini, cukup kuat menggerakkan kaki saya menuju ke kedai terbarunya di Bandung begitu diumumkan. Terlebih, lokasi gerobak yang dioperasikan oleh sobatnya tersebut terletak sangat dekat dengan lokasi tempat tinggal saya di Pagarsih. Kurang dari lima menit bermotor pun sampai. Bagi saya yang sudah lama tak bisa berkeliaran jauh karena PSBB, dan juga terbilang jarang memesan makanan melalui aplikasi pengantaran online, ini adalah berkah. Dekat, murah, dan yang terpenting, enak.

Kedatangan saya selepas salat Magrib disambut oleh Raju, sahabat shrek Tiarbah yang katanya pernah satu dapur. Rambut kribonya yang khas, dijamin tidak akan membuat pelanggannya salah pilih gerobak nasgor. Karena pernah bekerja di hotel, soal ramah tamah mah, akang ini so pasti nomor satu. Baru kali ini saya jajan di kaki lima dilayani dengan sebuah percakapan bintang lima. 
Sejujurnya, tempat jualannya Raju ini kawasan yang jadi perlintasan dan tempat permainan saya sejak kecil. Tapi rupanya, lokasinya sedikit nyingcet dari zona yang saya ketahui, apalagi memang tidak secara langsung dilewati jalur angkot. Sehingga, perlu sedikit GPS (gunakan penduduk sekitar) untuk dapat menemukannya.
Karena memang baru hari pertama, dan belum banyak diketahui orang. Tidak ada pesaing yang ikut mengantre saat saya memesan satu porsi Nasi Goreng Dendeng Lemak. Awalnya, saya membayangkan daging kere ketika mendengar kata “dendeng”. Warnanya hitam, diiris tipis, dengan tekstur crispy. Walau ada juga kere yang dibuat agak basah seperti yang dihidangkan pada menu Dendeng Batokok.  Tapi kalau nasi goreng kere, rasa-rasanya ibu saya pernah membuatnya.
Namun ternyata, padanan kata populer yang tepat untuk menggantikan istilah “dendeng lemak” adalah “Jando”. Persis seperti yang biasa saya jumpai saat menyantap Bacang khas Braga, dan beberapa kedai sate ternama di Bandung. Penggunaan bahan ini tentu membuat kita bisa sedikit menebak rasa yang dihasilkan oleh Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah. Yak. Gurih. Rasa gurih dari dendeng lemak menyebar rata ke seluruh nasi goreng. Baru pertama kalinya saya bisa merasakan nasi goreng dengan rasa seperti ini. Kalau rasa nasi goreng kambing kan, walau basah berminyak, tapi taste-nya kering. Nah, kalau yang ini juicy. Begitu digigit, rasa gurihnya lumer di dalam mulut. Apalagi Raju cukup banyak menuangkan dendeng yang sudah dipotong dadu tersebut.
Di samping dendeng, seperti kebanyakan nasi goreng lainnya, ia menambahkan telur yang diorak-arik, bawang daun, bawang goreng, dan beberapa bumbu. Namun yang berbeda, ia tidak menambahkan kecap pada nasinya. Sepertinya, rasa kecap manis bisa sedikit mengganggu rasa yang hadir. Karena rasa dari jandonya sendiri sudah kuat terasa di nasi goreng yang dihidangkan. Lemak dari dendeng yang terbakar itu sendiri dapat menjadi rasa yang sepertinya cukup bisa menggantikan kecap. Malahan lebih nikmat. Ya, tapi ini opini saya saja ya. Mungkin sama seperti sate maranggi yang juga menggunakan jando. Ketimbang menggunakan sambal kecap-kacang, sate maranggi lebih sering dijumpai dengan sambal tomat segar.

Untuk kemasannya, Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah ini menggunakan kertas nasi. Hanya saja cara membungkusnya tidak seperti kalau kita membeli nasi goreng take-away pada umumnya. Kertas nasinya dilipat, dan dibentuk menyerupai box, layaknya kemasan-kemasan makanan kardus pada resto-resto kekinian.
Harga satu porsi Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah ini hanya Rp20.000. Sangat worth it dengan rasanya, jandonya yang melimpah, dan bagi saya tentu dari segi jaraknya yang dekat pula.
Penasaran dengan Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah? Kalau yang lokasinya dekat, bisa mampir ke Komplek Ketapang Kencana Sudirman di Jl. Cibuntu Tengah, Bandung, pada jam-jam operasional mamang nasgor pada umumnya. Letak kompleknya dekat dari Yayasan Dana Sosial Priangan Nana Rohana. Ketika bertemu jalur yang mengarah tembus ke Holis, jangan ambil jalan tersebut, ambil jalur yang berlawanan dengannya. Kalau masih bingung, tanya dong. Yang pasti setelah sampai di komplek ini, dijamin tidak sulit untuk menemukan gerobak jualannya. Untuk yang jauh tinggalnya, nanti bisa menggunakan jasa ojek online. Katanya sih sedang diproses pendaftarannya. Tapi untuk sementara, sudah ada Jastip yang khusus melayanin pembelian nasi goreng ini yang bisa ditemukan di Instagram dengan nama akun @BandungBerdendeng.
Selamat mencoba!