Sejak menonton trilogy Back to The Future di program Layar Emas RCTI sekitar dua dekade silam, saya mulai ketagihan nonton film-film sci-fi bertema time traveling. Sebut saja About Time, Time Traveller’s Wife, Looper, dan Predestination. Alasannya, film-film seperti ini kerap memiliki alur cerita yang sangat liar, dan tidak tertebak, bahkan beberapa di antaranya cukup mind blowing. Tak usahlah bicara film-film Hollywood nan jauh di sana, di Indonesia sendiri, sinetron Lorong Waktu besutan Deddy Mizwar saja bisa sangat digemari, hingga bertahun-tahun rutin tayang setiap Ramadan datang. Lalu yang terbaru, ada Tunnel, film seri yang baru saja saya temukan di layanan streaming GoPlay beberapa hari lalu. 

 

Poster publikasi Tunnel tampak sangat menjanjikan dengan memajang foto Donny Alamsyah sebagai pemeran utama, ditambah dengan penempatannya yang berada di deretan rekomendasi paling atas. Mumpung durasi berlangganan GoPlay saya masih empat hari lagi, langsung saja saya hantam serial 16 episode ini. Padahal asal mula saya berlangganan aplikasi keluaran GoJek ini karena hanya ingin menonton Pretty Boys saja.

 

Sebetulnya, serial Tunnel ini diadaptasi dari sebuah serial Korea berjudul sama. Tak pernah sebelumnya saya mendengarnya, apalagi menontonnya. Jadi, entah berapa besar persentase kesamaan ceritanya, saya tak tahu, dan tak mau ambil pusing. Yang pasti, saya yakin tokoh utama serial originalnya di Negeri Ginseng sana, tidak akan berbicara dengan logat batak yang kental, seperti yang dilakukan Donny yang berperan sebagai Tigor Sintong Siregar di versi Indonesianya ini.

 

Untuk latarnya sendiri, Tunnel Indonesia mengambil lokasi pengambilan gambar 100% di Yogyakarta. Pilihan ini terasa cukup unik juga sih, karena film aksi polisi beraroma suspend-mystery kan biasanya mengambil tempat di Jakarta yang padat. Tapi mungkin, selain memang sedikit disinggungkan dengan benang merah cerita, alasannya untuk lebih menonjolkan sisi budaya Jawa yang kental. Ya.. sepertinya pihak rumah produksi ingin mempertegas “rasa” pada edisi Indonesianya. Maka dari itulah, walaupun di tanah Jawa, pemeran utamanya pun dibuat berlogat Batak, dan ada juga karakter pendukung lainnya yang berasal dari Indonesia Timur.

 

Dalam serial ini, untuk pertama kalinya saya melihat Donny Alamsyah mendapatkan screen time sangat banyak, hingga karakter Tigor yang diperankannya dengan baik tersebut bisa sangat menempel di kepala, bahkan setelah saya menamatkan keseluruhan episodenya. Mulai dari cara berbicaranya, hingga ke kata-kata yang sering diucapkannya. Di samping Donny, saya sebetulnya hanya mengenal Putri Ayudya, dan Verdi Soelaeman yang juga banyak bermain di film-film besar. Selain ketiganya, pemain lainnya yang sebenarnya memerankan tokoh cukup sentral seperti Andri Mashadi, dan Hana Malasan, baru saya ketahui di film ini. Padahal, Hana Malasan memiliki portofolio cukup mentereng di sitcom OK-Jek yang pernah tayang di NET TV. Ya, tapi sayangnya, memang saya sudah jarang sekali nonton program televisi, selain dengan pertandingan Persib Bandung.

 

Tunnel mengisahkan seorang anggota kepolisian bernama Tigor yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai di Yogyakarta. Dalam sebuah aktivitas penyelidikannya di tempat kejadian perkara yang merupakan sebuah terowongan buntu, ia berkonfrontasi dengan seseorang yang diduga sebagai pelaku pembununah tersebut, dan entah bagaimana caranya terlempar ke masa 30 tahun yang akan datang, yaitu tahun 2020. Pada tahun tersebut, ia menemukan fakta bahwa kasus yang ditanganinya dulu, belum terselesaikan hingga berpuluh-puluh tahun yang akan datang. Berbekal data penyelidikannya dari tahun 1990, ia kemudian meneruskan untuk menemukan pelaku yang dicari bersama rekan lamanya di kepolisian yang ia temui di masa depan.

 

Untuk ukuran film aksi berbalut misteri dengan bumbu penjelajahan waktu, film ini masih terasa relatable dengan kondisi di Indonesia. Padahal film-film bertipe seperti ini masih dapat dihitung jari, dan terkadang masih lebih sering terasa berjarak dengan kehidupan masyarakat lokal. Hubungan sebab-akibat antara masa lalu-masa depan yang disisipkan ke dalam cerita pun masuk akal. Sama seperti ketika saya pertama kali dibuat terkagum-kagum oleh cerita Back to The Future.

 

Menonton film ini memunculkan juga rasa yang sama seperti nonton web series “Sore” karya Yandy Laurens. Serasa membuat perjalanan waktu menjadi mungkin dan masuk akal.


Baca juga: Yandy Laurens Dan Roman Fantasi Yang Dibalut Dialog Hati


Tak lupa, sisi suspend yang dibangun oleh sang sutradara pun cukup berhasil membangkitkan ketegangan. Saya sendiri saat menonton episode serial ini malam-malam dengan menggunakan headset, spontan menunda watch time saya ke pagi hari, ketika adegan suspend-nya mulai masuk. Karena takut ada jump scare-nya bro. Padahal sih nggak ada tuh adegan macam itu. Tapi tegangnya tetep puoll.

 

Tema penjelajahan waktu sudah tentu bersifat fiktif. Namun sebetulnya, saya rasa tema ini cukup dekat dengan pikiran manusia. Karena tak jarang benak kita berandai-andai untuk dapat pergi menjelajah waktu. Baik untuk memperbaiki kesalahan, ataupun memuaskan imajinasi akan masa depan.

 

Karena belum pernah menyaksikan serial original dari Koreanya, serial Tunnel Indonesia jelas sangat berkesan bagi saya. Namun entah bagi yang sudah terlebih dahulu tahu cerita aslinya. Kalaupun misal sama persis alur ceritanya, bagi saya penyajian serial versi Indonesia ini sangat baik. Mengingatkan saya dengan kualitas Sinetron Dunia Tanpa Koma yang dibintangi Dian Sastro pada 2006 silam. Keduanya pun memiliki tema yang tak berbeda jauh. Seandainya saja standar film seri Indonesia dapat seperti keduanya, bukan tidak mungkin dunia pertelevisian Indonesia bisa bangkit. Kalau masih seperti kondisi sekarang ini, jangan heran bila aplikasi layanan streaming online, menjadi solusi hiburan visual masa depan.



Baca juga: Kritik Budaya Patriarki Lewat Komedi Kocak Ala Saiyo Sakato

Baru minggu lalu saya menonton film dengan latar belakang cerita usaha Rumah Makan Padang lewat “Tabula Rasa”. Lalu minggu ini, saya menjumpai cerita berlatar sejenis lewat serial yang tayang terbatas di layanan streaming GoPlay, yakni “Saiyo Sakato”. Tabula Rasa sendiri sebetulnya film yang sudah tayang tujuh tahun silam. Raihan empat Piala Citra pada ajang FFI (Festival Film Indonesia) 2014, tentu menjadi daya tarik lebih saat film ini mulai terpajang di menu Netflix.

 

Kedua judul ini memiliki nuansa dan karakter yang bagi saya luar biasa sangat mirip. Walaupun, dari segi cerita tentu berbeda jauh. Tapi dengan menonton keduanya, saya jadi dapat membayangkan kehidupan keluarga yang menjalankan usaha Rumah Makan Padang yang jauh dari kampuang halamannya. Mereka sungguh teliti soal rasa, dan begitu disiplin menjaga warisan budayanya. Di samping itu, saya pun menjadi mengenal lebih banyak masakan Padang selain Rendang, Daging Cincang, Ayam Pop, dan Talua Dadar, yang biasa menjadi template menu yang saya pilih saat menyantap Nasi Padang. Karena banyak visual adegan memasak, keduanya pun dijamin dapat membuat penontonnya ngidam masakan Padang usai menyaksikannya. 

 

Tabula Rasa dan Saiyo Sakato sebetulnya sama-sama menggambarkan kehidupan orang awak secara nyata, dan sederhana di perantauan. Keduanya pun memiliki bumbu konflik antar saudara dalam menjalankan bisnis rumah makan. Namun di samping bercerita soal rasa, dan usaha, Saiyo Sakato mencoba juga mengirimkan kritik atas budaya patriarki yang secara gamblang disampaikannya dalam setiap lembaran episodenya.

 

Alkisah diceritakan di awal cerita, Uda Zul yang merupakan pemilik Rumah Makan Padang Saiyo Sakato yang diperankan oleh Lukman Sardi meninggal dunia karena serangan jantung, dan mewariskan bisnisnya ini kepada istrinya Uni Mar yang diperankan oleh Cut Mini Theo. Hmm..oke, mungkin ada yang merasa pernah mendengar cerita ini? Yak, cerita Lukman Sardi sebagai suami, dan ayah yang meninggal di awal film yang meninggalkan Cut Mini yang berperan sebagai istri ini persis seperti awal cerita film “Orang Kaya Baru” besutan Ody C. Harahap yang tayang tahun 2019 lalu. Di dalam kedua film tersebut, praktis Lukman Sardi hanya tampil seiprit di awal, dan di hanya beberapa adegan flash back saja. Lalu sisanya ia tetap menjadi tokoh sentral yang terus disebut sepanjang film. Enak bener nih Om Lukman. :D

 

Tak lama setelah kepergian Uda Zul, Uni Mar yang tinggal dengan anak-anak, serta adik iparnya, kedatangan seorang perempuan muda bernama Nita yang mengaku telah diperistri juga oleh Uda Zul delapan tahun silam. Pernikahannya tersebut telah melahirkan seorang anak yang diberi nama Budi. Ternyata, Uda Zul terungkap telah berpoligami tanpa izin Uni Mar sebagai istri pertama. Adegan inilah yang memulai rangkaian pesan soal sisi negatif budaya patriarki di Indonesia yang disisipkan dengan begitu smooth ke dalam cerita seri sepuluh episode Saiyo Sakato.

 

Di samping soal Uda Zul yang berpoligami dengan berbohong kepada kedua istrinya, kritik mengenai patriarki juga disampaikan Sutradara Gina S. Noer melalui cerita kedua anak Uni Mar yang juga terkena dampaknya. Annisa yang merupakan anak sulung di keluarga, selalu terhalang keinginannya untuk menjadi penerus Saiyo Sakato karena posisinya sebagai perempuan. Di hampir setiap episodenya, ada saja adegan di mana Annisa dinasihati untuk segera mencari calon suami, dan menikah. Dalam salah satu adegan flash back, Uda Zul bahkan terang-terangan menyuruh Annisa untuk menikah, agar suaminya yang dapat menjadi penerus Saiyo Sakato. Kursi panas kepemilikan Saiyo Sakato yang tak dapat diteruskan Annisa akhirnya bergulir ke adik lelakinya Zaenal, yang justru sama sekali tidak menginginkannya. Alasan satu-satunya Zaenal dipilih oleh Uni Mar untuk meneruskan usaha keluarga, adalah hanya karena dia keturunan laki-laki satu-satunya dari Uda Zul. Di berbagai kesempatan, Uni Mar pun seringkali meremehkan kemampuan Annisa, dan ujung-ujungnya selalu meminta Annisa agar cepat menemukan pendamping.

 

Walaupun kental dengan kritik tentang budaya patriarki, Saiyo Sakato menyampaikannya secara ringan, santai, penuh dengan komedi kocak. Selain itu, dialog, serta pembawaan Cut Mini, dan juga Nirina Zubir yang memerankan Nita juga membuat konflik yang terjadi antara keduanya justru menjadi terasa lucu, ketimbang menegangkan. Tapi tentunya, tetap ada adegan-adegan menyentuh dari keduanya yang merupakan curhatan sedu istri-istri yang terluka. Saya rasa akting keduanya tak pernah mengecewakan. Apalagi salah satunya merupakan aktris langganan Piala Citra. Sejak Laskar Pelangi, hingga Dua Garis Biru tahun lalu, Cut Mini selalu menampilkan yang terbaik.

 

Kesimpulannya, Saiyo Sakato merupakan film seri yang enjoyable, dan akan disukai oleh penggemar tontonan yang menyajikan kesederhanaan hidup sehari-hari. Bagi yang menyukai Bajaj Bajuri, Suami-Suami Takut Istri, Get Married, dan Preman Pensiun, mungkin akan menyukai juga menonton Saiyo Sakato. Hal menarik lainnya juga hadir dari sisi penyajian teknik pengambilan adegan break the fourth wall (ala-ala Deadpool, di mana aktor berperan sekaligus menjadi narator yang bercerita ke kamera langsung, seolah-olah sedang berbicara dengan penonton). 

 

Penasaran kelanjutan ceritanya? Sila dapat mengunduh dulu layanan streaming GoPlay di smartphone-nya. Tarifnya tak menguras saldo kok. Untuk menonton kesepuluh episode Saiyo Sakato, saya cukup membayar paket hemat berlangganan satu minggu saja seharga Rp29.000. Yang pasti tulisan ini bukan endorse, tapi kalau pihak GoPlay ada sebuah niatan, tentu hamba tak menolak. Sila hubungi nomor telepon atau e-mail yang tertera di bio profile blog ini. :D

Baca juga: Tunnel, Serial Indonesia Adaptasi Korea Bertemakan Time Travel Yang Wajib Ditonton!

 


All around you……you….”

Akhirnya, saya bisa mendengarkan kembali suara bisikan yang muncul dalam Intro Dolby Digital yang diputar sebelum penayangan film di bioskop. Namun bedanya, suara khas ini disambut dengan sangat riuh oleh seluruh penonton di dalam studio. Sorak-sorai, siulan, dan tepuk tangan, meramaikan sesi nonton kali ini. Yaa, tapi wajar saja, hari ini memang hari istimewa. Hari ini merupakan hari pertama kembali dibukanya fasilitas sinema setelah kita sama-sama berhasil melewati periode genting Covid-19.

Memang sih, kondisi tanah air belum sampai 100% pulih. Bioskop dan mall saja baru dibuka pada H+13 dari hari dicabutnya masa darurat Corona. Tapi bisa dimengerti, mereka memang membutuhkan waktu untuk berbenah terlebih dahulu. Mulai dari melakukan pengecekan perlengkapan, mengoordinir kembali staff yang selama dirumahkan menjadi seorang wirausahawan palugada, hingga membuat protokol baru yang adaptif terhadap kondisi yang disebut banyak orang sebagai the new normal.

Baca juga: Sebuah Upaya Untuk Tetap Waras : Catatan Kuncitara #1

Contohnya saja, kini saya harus duduk selang satu kursi dengan partner setia menonton saya. Padahal kalau dulu, beli tiket dengan menyisakan lowong satu itu hukumnya haram di aplikasi pembelian tiket. Hal ini harus dilakukan, karena tidak ada satu pun pihak yang dapat menjamin warga +62 sudah 100% aman dari ancaman Covid-19. By the way, film yang saya tonton perdana ini adalah “Parasite” yang ditayangkan dalam tone black and white. Iya, film terbaik garapan Bong Joon Ho ini menjadi pilihan saya dibandingkan beberapa film lainnya yang terpaksa ditayangkan ulang. Kompaknya para produser film memundurkan jadwal penayangan filmnya yang sebetulnya sudah siap tayang sejak Maret lalu, membuat bioskop hanya menayangkan film-film terbitan lama saat kembali buka.

Kembali ke tiga belas hari yang lalu, dua belas jam setelah Pak Jokowi mengumumkan relaksasi situasi dari yang sebelumnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), saya memacu Revo Fit Hijau saya pukul tujuh pagi ke Braga, kawasan di Bandung yang sudah selama sekitar enam tahun terakhir seperti menjadi teras halaman saya. Nyetrit, ngaleut, ngonten, sarapan, berbincang, atau sekadar duduk-duduk di bangku hingga ada muda-mudi mendekat bertanya, “kakak orang Bandung? Boleh minta waktunya sebentar?” yang otomatis memaksakan pilihan kepada kaki saya untuk berjalan pergi.

Baca juga: Siasat Mengajarkan Ibu Tentang Corona : Catatan Kuncitara #2

Pukul tujuh pagi Braga masih sepi, tapi jelas sudah terasa bernafas kembali dibanding kemarin. Braga Permai yang terlihat muram saat dua bulan ke belakang saya lewati, kini sudah tampak ada beberapa orang berpakaian hitam putih menyapu halaman, dan membereskan bangku. Sementara security berdada tegap sudah berdiri tegak, wajahnya sumringah, terkesan penuh harap. Mungkin ia tak sabar bertemu kembali wajah-wajah yang biasa menghiasi kursi dan meja tempat ia bekerja tersebut.

Sementara di seberang Braga Permai, ibu penjual bubur ayam terlihat keluar dari Gang Apandi sambil mendorong gerobaknya yang berwarna biru Persela Lamongan. Diikuti seorang bapak yang tak lama langsung memesan semangkuk bubur, sambil mengeluarkan beberapa batang garfit dari saku kemeja casual yang lengannya digulung sepertiga. Ia bagikan garfitnya ke dua orang kawan yang menyusulnya sambil membawakannya secangkir kopi di gelas bekas Aqua. Satu kakinya ia naikkan ke bangku panjang dengan tangan yang bergantian menyesap kopi, dan menghisap rokok. Pandangannya menerawang ke arah langit Bandung yang membiru, dan dihiasi kuningnya Bunga Tabebuya yang bermekaran. Pandangan matanya menyiratkan kelegaan yang tersunggingkan lewat senyum kecilnya di sudut bibir.

Baca juga: Seni Hidup Di Masa Pagebluk : Catatan Kuncitara #3

Tiga puluh menit kemudian. Saat mentari mulai memberi bayangan pada pohon di rolling door Sugarush yang masih terkunci rapat, beberapa pemuda menenteng DSLR berlensa fix, mulai bergabung menambah riuh suasana. Sebagian memotret jalanan yang dikenal paling “heritage” di Bandung tersebut. Sementara beberapa lainnya memotret kawan perempuannya yang tengah berpose di depan “The Hangover”.

Pukul setengah Sembilan pagi, jumlah populasi manusia di Braga sudah meningkat sepuluh kali lipat dari saat saya tiba. Dari yang hanya mengambil objek jalan dan bangunan, saya yang juga membawa mirrorless sekarat Fujifilm X-M1 mulai mengalihkan objek foto pada euphoria tak biasa wajah-wajah yang tertawa bahagia di sepanjang jalan. Bukan cuma anak-anak muda yang berdatangan, ibu dan bapak setengah baya pun terlihat bergembira bersama anak bujang dan gadisnya yang tak hentinya mengajak mereka membuat vlog singkat di instastory, serta konten tiktok berseri.

Baca juga: Bahaya Laten Teori Konspirasi Tanpa Literasi : Catatan Kuncitara #4

Tak lama kemudian, sebuah mobil polisi dengan sirine nyaring terlihat berjalan pelan dari arah selatan. Begitu mendekati tempat saya berdiri, mereka mematikan sirinenya, dan mulai menyuarakan imbauan untuk tetap menjaga jarak antar sesama, dan tetap mengenakan masker. Ah, sesaat, kata-kata “jarak” dan “masker” malah membuyarkan riang yang tadi sempat berkumandang. Walaupun yang mereka suarakan benar adanya. Kita memang masih harus tetap melakukan tindakan preventif selama jumlah pasien Covid-19 masih belum mencapai angka nol.

Senang rasanya melihat beberapa hal kembali seperti semula. Tapi, kata “beberapa” yang saya ungkapkan di sini tentu menjelaskan bahwa ada beberapa lainnya yang tidak bisa kembali seperti sedia kala. Contohnya beberapa tempat makan, dan tempat nongkrong favorit yang terpaksa harus tutup karena tidak mampu beradaptasi dari sisi strategi bisnis, dan pengelolaan keuangan pada masa PSBB kemarin. Lalu ada juga tukang cukur langganan di Jamika yang pintunya tak pernah saya lihat terbuka kembali. Ya, memang tak bisa dipungkiri. Profesi kapster memang sangat terkena dampak dari pandemi Covid-19 ini. Karena dengan detail pekerjaannya, mereka sama sekali tak bisa mengikuti anjuran untuk melakukan physical distancing. Jujur saja, saya pribadi merupakan salah seorang yang berhenti pergi ke barbershop setelah virus Corona ini dinyatakan masuk ke Indonesua. Ayah saya yang berhenti mencukur rambut saya sejak SMA, kini harus kembali mengoperasikan gunting dan mesin cukur yang merupakan hasil impulsive buying saya di Shopee. Dengan catatan, tentu kualitas penglihatan yang dimilikinya sudah jauh menurun dibanding dua dekade lalu. Bayangkan saja, bagaimana deg-degannya saya duduk di kursi panas beliau ini selama kurang lebih nyaris 60 menit. Belum dengan adanya drama rambut saya yang ikal ini sering nyangkut di mesin cukur baru yang ternyata tumpul. Walaupun begitu, sebetulnya ada juga beberapa barbershop yang selama pandemi masih bisa membuka jasanya, dengan mengenakan APD lengkap, beserta face shield. Tapi saya, tetap tak cukup nyali kalau harus dipegang kepalanya oleh orang-orang yang memegang banyak kepala dalam sehari.

Lima hari adalah jumlah hari yang dibutuhkan oleh tim HR untuk menyiapkan protokol baru sekembalinya kami semua dari WFH (work from home). Senin itu saya memacu kendaraan melewati jalur Lengkong Kecil, Kosambi, hingga Laswi. Jalur yang sama dengan perasaan yang berbeda. Nyaris sama seperti hari kerja pertama di tempat ini. Lalu ada banyak gurat lega, dan kebahagiaan yang terpancar di muka kawan-kawan lainnya. Satu hal yang kemudian ternyata dilakukan oleh hampir semua karyawan. Ternyata kami kompak membawa masing-masing makanan dari rumah, tanpa direncanakan. Mungkin memang rasa-rasanya hal ini yang memang harus dilakukan untuk merayakan datangnya hari ini. Sebelum disambut deretan meeting koordinasi, dan sebuah tantangan yang harus dihadapi, bahwasanya ada sebuah dunia baru yang harus kita adaptasi kini.


NB: Cerita ini adalah fiktif, dan merupakan hasil imajinasi penulis belaka. Bila ada momen yang diceritakan betul-betul terjadi nanti di dunia nyata, yakinlah bahwa itu semua merupakan kebetulan semata. 

Sepertinya, sudah lama sekali saya tidak menulis ulasan kuliner. Maksudnya, tujuan kuliner yang betul-betul menjual rasa. Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah ini menjadi objek jajal rasa saya yang pertama setelah hampir setahun terakhir melepas pekerjaan di sebuah media wisata dan lifestyle. Padahal, biasanya kalau bulan Ramadan seperti ini, tugas meliput wisata kuliner itu sudah pasti terselip wajib di dalam jadwal kerja harian.
Cabang Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah di Bandung

Pilihan ulasan kuliner yang jatuh kepada Nasi Goreng Dendeng Lemak yang dibuat oleh Tiarbah yang dikenal sebagai social media chef tersebut, jelas tak ujug-ujug datang dari langit dan menghujam kepala. Tingginya paparan soal menu dari sang juru masak yang kebetulan saya ikuti cuitannya di Twitter ini, cukup kuat menggerakkan kaki saya menuju ke kedai terbarunya di Bandung begitu diumumkan. Terlebih, lokasi gerobak yang dioperasikan oleh sobatnya tersebut terletak sangat dekat dengan lokasi tempat tinggal saya di Pagarsih. Kurang dari lima menit bermotor pun sampai. Bagi saya yang sudah lama tak bisa berkeliaran jauh karena PSBB, dan juga terbilang jarang memesan makanan melalui aplikasi pengantaran online, ini adalah berkah. Dekat, murah, dan yang terpenting, enak.

Kedatangan saya selepas salat Magrib disambut oleh Raju, sahabat shrek Tiarbah yang katanya pernah satu dapur. Rambut kribonya yang khas, dijamin tidak akan membuat pelanggannya salah pilih gerobak nasgor. Karena pernah bekerja di hotel, soal ramah tamah mah, akang ini so pasti nomor satu. Baru kali ini saya jajan di kaki lima dilayani dengan sebuah percakapan bintang lima. 
Sejujurnya, tempat jualannya Raju ini kawasan yang jadi perlintasan dan tempat permainan saya sejak kecil. Tapi rupanya, lokasinya sedikit nyingcet dari zona yang saya ketahui, apalagi memang tidak secara langsung dilewati jalur angkot. Sehingga, perlu sedikit GPS (gunakan penduduk sekitar) untuk dapat menemukannya.
Karena memang baru hari pertama, dan belum banyak diketahui orang. Tidak ada pesaing yang ikut mengantre saat saya memesan satu porsi Nasi Goreng Dendeng Lemak. Awalnya, saya membayangkan daging kere ketika mendengar kata “dendeng”. Warnanya hitam, diiris tipis, dengan tekstur crispy. Walau ada juga kere yang dibuat agak basah seperti yang dihidangkan pada menu Dendeng Batokok.  Tapi kalau nasi goreng kere, rasa-rasanya ibu saya pernah membuatnya.
Namun ternyata, padanan kata populer yang tepat untuk menggantikan istilah “dendeng lemak” adalah “Jando”. Persis seperti yang biasa saya jumpai saat menyantap Bacang khas Braga, dan beberapa kedai sate ternama di Bandung. Penggunaan bahan ini tentu membuat kita bisa sedikit menebak rasa yang dihasilkan oleh Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah. Yak. Gurih. Rasa gurih dari dendeng lemak menyebar rata ke seluruh nasi goreng. Baru pertama kalinya saya bisa merasakan nasi goreng dengan rasa seperti ini. Kalau rasa nasi goreng kambing kan, walau basah berminyak, tapi taste-nya kering. Nah, kalau yang ini juicy. Begitu digigit, rasa gurihnya lumer di dalam mulut. Apalagi Raju cukup banyak menuangkan dendeng yang sudah dipotong dadu tersebut.
Di samping dendeng, seperti kebanyakan nasi goreng lainnya, ia menambahkan telur yang diorak-arik, bawang daun, bawang goreng, dan beberapa bumbu. Namun yang berbeda, ia tidak menambahkan kecap pada nasinya. Sepertinya, rasa kecap manis bisa sedikit mengganggu rasa yang hadir. Karena rasa dari jandonya sendiri sudah kuat terasa di nasi goreng yang dihidangkan. Lemak dari dendeng yang terbakar itu sendiri dapat menjadi rasa yang sepertinya cukup bisa menggantikan kecap. Malahan lebih nikmat. Ya, tapi ini opini saya saja ya. Mungkin sama seperti sate maranggi yang juga menggunakan jando. Ketimbang menggunakan sambal kecap-kacang, sate maranggi lebih sering dijumpai dengan sambal tomat segar.

Untuk kemasannya, Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah ini menggunakan kertas nasi. Hanya saja cara membungkusnya tidak seperti kalau kita membeli nasi goreng take-away pada umumnya. Kertas nasinya dilipat, dan dibentuk menyerupai box, layaknya kemasan-kemasan makanan kardus pada resto-resto kekinian.
Harga satu porsi Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah ini hanya Rp20.000. Sangat worth it dengan rasanya, jandonya yang melimpah, dan bagi saya tentu dari segi jaraknya yang dekat pula.
Penasaran dengan Nasi Goreng Dendeng Lemak by Tiarbah? Kalau yang lokasinya dekat, bisa mampir ke Komplek Ketapang Kencana Sudirman di Jl. Cibuntu Tengah, Bandung, pada jam-jam operasional mamang nasgor pada umumnya. Letak kompleknya dekat dari Yayasan Dana Sosial Priangan Nana Rohana. Ketika bertemu jalur yang mengarah tembus ke Holis, jangan ambil jalan tersebut, ambil jalur yang berlawanan dengannya. Kalau masih bingung, tanya dong. Yang pasti setelah sampai di komplek ini, dijamin tidak sulit untuk menemukan gerobak jualannya. Untuk yang jauh tinggalnya, nanti bisa menggunakan jasa ojek online. Katanya sih sedang diproses pendaftarannya. Tapi untuk sementara, sudah ada Jastip yang khusus melayanin pembelian nasi goreng ini yang bisa ditemukan di Instagram dengan nama akun @BandungBerdendeng.
Selamat mencoba!
“Secangkir kopi lebih jujur darimu. Ia pahit tanpa menyembunyikan pahitnya. Ia hitam tanpa malu mengakui warnanya.” Begitu bunyi kalimat yang dituliskan Dewi Lestari dalam salah satu karya populernya, yakni Filosofi Kopi. Hingga melewati lebih dari satu dekade sejak diterbitkan, kutipan-kutipan ini kemudian bisa dengan mudah dijumpai penggunaannya pada banyak caption foto di media sosial. Entah dengan memberikan kredit pada si empunya, atau kemudian dibiarkan kosong tak bertuan. Seolah si pengunggah foto yang kemudian menjadi pemiliknya.


Kopi Jujur, Kopi Asli Tanpa Tambahan Essen
Bagi saya, pilihan kata penulis yang juga dikenal dengan nama pena “Dee” tersebut sangatlah menarik. Ia menyandingkan kopi dengan sebuah elemen sifat yang kian hari kian hilang keberadaannya dalam diri makhluk Tuhan bernama manusia. Kata “jujur” di sini menjadi lebih berarti karena menunjukan kualitas dari sebuah kopi yang berani tampil apa adanya. Hal inilah yang kemudian memunculkan istilah “kopi jujur”, yakni kopi asli tanpa tambahan essen.

Kopi Jujur vs Essen
Essen atau essence dalam konteks pembuatan kopi adalah ekstrak bahan makanan yang akan memberikan aroma baru terhadap kopi yang dibubuhkannya. Adakalanya, essen tertentu bahkan bisa mengubah warna. Hal inilah yang lalu dapat merusak orisinalitas dari kopi jujur. Padahal, selain dari segi rasa, aspek aroma merupakan sisi untuk menilai kualitas dari sebuah produk kopi yang dijual. Aroma juga merupakan identitas yang membedakan produk kopi yang satu dengan yang lainnya. Baik dari sisi asal daerahnya, hingga dari kualitas prosesnya.

Indonesia memiliki 31 lokasi geografis penghasil kopi yang masing-masing hasil produksi kopinya memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Bayangkan saja, bila kemudian keragaman identitas karakter aroma kopi yang dimiliki tiap daerahnya harus tunduk oleh keegoisan penggunaan essen, maka lenyap pula keistimewaan dan kejujuran di setiap kopinya.

Sejarah Kopi Indonesia
Bertenggernya Indonesia di posisi lima besar negara pengekspor kopi terbesar dunia saat ini, tak lepas dari sejarah panjang yang bermula dari masa pemerintahan kolonial Belanda pada penghujung abad ke-17.

Belanda yang saat itu tengah menduduki Indonesia, kemudian membawa kopi dari India ke pulau Jawa untuk dikembangkan. Karakter tanah Indonesia yang kalau kata Koes Plus “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” ini sukses memuluskan niat para meneer untuk membudidayakannya ke berbagai perkebunan yang ada di penjuru Nusantara. Tanpa membutuhkan waktu lama, kopi-kopi Indonesia ini sudah dapat dijumpai di pasar-pasar yang tersebar di Benua Eropa dan Amerika. Prestasi tersebut pun bertahan, dan terus berkembang, hingga negara kita ini mendapat julukan “surga kopi dunia”.

Kopi dan Budaya
Siapa sangka? Buah berry yang dimakan seekor kambing gembala di Ethiopia, kini menjadi sebuah salah satu komoditas besar pasar dunia ribuan tahun kemudian. Kisah yang lalu diteruskan hingga sampai ke telinga kita yang berjarak tiga milenium ini, kini dikenal sebagai sejarah asal mula kopi.

Tiga ribu tahun memang rentang waktu yang cukup lama untuk sebuah peradaban tumbuh dan berkembang. Tak terkecuali dengan kopi yang ikut bertransformasi. Dari yang tadinya dikenal sekadar biji buah berenergi, kini menjadi sebuah produk budaya yang digemari. Dari yang awalnya hanya bertujuan untuk menjaga tubuh dari lelap, lalu menjadi sebuah minuman agar terlihat gemerlap. Mungkin sebetulnya memang bukan kopi yang berubah, tapi cara manusia memperlakukan kopi yang kini berbeda.

Di samping dari segi khasiatnya yang sejak zaman dahulu dapat membuat melek, kopi juga dikenal bermanfaat untuk menjaga imunitas, dan menekan risiko kanker, dan diabetes. Namun, tentunya pastikan terlebih dahulu kopi yang dikonsumsi merupakan “kopi jujur”, sehingga kualitasnya pun terjaga.

Kopi Blockchain
Perkembangan pesat budaya minum kopi memang terbilang wajar seiring dengan arus modernisasi, serta digitalisasi yang kian kencang. Di samping soal rasa, dan budaya, kini kopi juga merupakan salah satu konten yang laris manis di social media. Namun justru karena itulah, bisnis kopi menjadi salah satu bidang usaha yang paling menjanjikan saat ini.

Untuk konsumsi domestik pada 2019 saja, kopi di Indonesia dapat menembus angka 294.000 ton, dengan nilai pasar bisnis kedai kopi yang dapat mencapai Rp4,8 triliun rupiah per tahun. Dengan nominal yang tentu tak sedikit, sungguh disayangkan bila industri ini tidak digarap dengan serius. Apalagi, kini sudah cukup banyak sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangannya, mulai dari alamnya, manusianya, modalnya, hingga inovasi sistem pengelolaannya.

Inovasi sistem pengelolaan bisnis kopi yang saat ini sedang gencar dikembangkan penerapannya adalah teknologi Kopi Blockchain. Melalui sistem ini, bisnis kopi dapat dikelola dengan lebih transparan, dan terkendali prosesnya, mulai dari petani kopi, hingga konsumen.

Dalam sistem Kopi Blockchain, setiap transaksi yang mana menggunakan uang digital, dapat diketahui secara terbuka oleh setiap komponen yang ada di dalam “rantai” tersebut. Dengan begini, petani kopi pun dapat mengetahui ke mana saja kopi yang mereka tanam dijual, dan dengan harga jual akhir berapa. Untuk pengusaha kopi pun demikian, mereka pun dapat mengetahui kualitas, kuantitas, hingga harga jual wajar dari petani kopi, sehingga antara keduanya terjalin kerjasama yang berdasarkan asas transparansi. Hal ini pun berlaku untuk segi kualitasnya. Sedangkan bagi konsumen akhir, mereka dapat pula dengan mudah mengetahui asal kopi yang mereka beli dengan memindai QR Code yang disediakan.

Sebetulnya, keberadaan Kopi Blockchain sangat mendukung terhadap sosialisasi, pelestarian, dan penjualan kopi jujur di masyarakat. Keterbukaan data mulai dari produksi, hingga distribusi akhir dalam sistem ini, dapat meningkatkan kepercayaan konsumen soal keaslian kopi yang akan dibeli, dan dikonsumsinya.

Kopi Jujur Lawan Corona
Karena khasiat yang dimilikinya, kopi jujur juga dapat sangat bermanfaat pada masa pandemi Corona saat ini, untuk menjaga imunitas, serta energi para tenaga medis yang tengah berjuang membantu pemulihan pasien yang terjangkit Covid-19.

Salah satu brand yang sudah menerapkan sistem Kopi Blockchain, yaitu Bencoolen Coffee pun turut memberikan dukungannya pada masa pandemi Covid-19 dengan mengikuti “Aksi 1 Juta Cup Kopi Jujur Gratis” yang sudah, dan masih akan berlangsung hingga 30 Mei 2020. Mereka tak hanya membagikan kopi kepada petugas kesehatan, tapi juga kepada para pejuang ekonomi keluarga yang masih harus bekerja di jalanan. Masyarakat umum pun dapat ikut serta membantu aksi ini hingga akhir mei nanti dengan memberikan donasi melalui crowdfunding KitaBisa.com dengan tautan https://kitabisa.com/campaign/kopijujurlawancorona.

Dari manusia, oleh, dan untuk manusia. Begitulah cara kopi jujur hidup, dan bergerak menghubungkan komponen dalam semestanya. Secara alamiah, manusia pun pasti akan memilih seorang kawan yang jujur. Lalu mengapa tidak untuk secangkir kopi?


Follow juga : Kopi Jujur

Sumber:
Indonesia Coffee Annual Report 2019, Global Agricultural Information Network

Gabriella Teggia and Mark Hanusz. 2003. A Cup of Java. Equinox Publishing, Jakarta – Singapore. 


Kopiblockchain.io, 1 Mei 2020, <https://kopiblockchain.io/> [diakses pada 1 Mei 2020]


Doktersehat.com, <https://doktersehat.com/manfaat-kopi-bagi-kesehatan-tubuh/> [diakses pada 1 Mei 2020]


Mulai dari penemuan bahtera Nabi Nuh di Turki, pemalsuan kematian Michael Jackson, hingga pembuktian kalau Neil Armstrong tidak pernah mendarat di bulan, saya menikmati pembahasannya bagaikan nonton marathon Star Wars, ataupun trilogy Back To The Future. Tapi ya, sebatas itu saja. Sebagai penggemar cerita fiksi, saya menyukai kisah misteri dunia, dan teori konspirasi hanya sebagai teman bagi secangkir kopi, dan sebungkus keripik setan yang padahal sudah pasti kombinasi tersebut bikin mondar-mandir ke kamar mandi pada dini hari.



Teori konspirasi bisa menyasar liar tentang apapun yang terjadi tanpa adanya batasan. Termasuk bahasan soal Covid-19 yang tengah menjadi pandemi global saat ini. Jauh sebelum pasien Covid 01 diumumkan pemerintah RI pada 2 Maret 2020, saya sudah mendengar, dan membaca banyak berita tentang teori konspirasi Wuhan dan Corona. Mulai dari pernyataan kalau virus Corona cepat menyebar karena ditransmisikan oleh teknologi 5G, atau virus Corona diciptakan Amerika Serikat melalui Bill Gates untuk merusak perekonomian China, hingga yang paling terbaru adalah virus Corona ini merupakan kebohongan yang diciptakan para pemerintah di tiap Negara, dan elite global untuk menebar ketakutan bagi masyarakat dunia agar tetap tunduk kepada penguasa.

Untuk pertama kalinya, saya agak kurang menikmati mendengar teori konspirasi yang menyebar tentang corona saat ini, dan malahan merasa sangat resah. Apalagi teori ini diberitakan oleh banyak media besar, dan dibahas langsung secara terbuka oleh banyak public figure yang mempunyai pengaruh. Alasannya, selain karena memang hal yang dibahas berhubungan langsung dengan kehidupan yang saat ini sedang dirasakan, hal ini bisa membuat banyak orang lengah atas keadaan yang terjadi.


Beberapa hari lalu algoritma youtube merekomendasikan sebuah video tentang teori konspirasi Covid-19 yang didiskusikan oleh Deddy Corbuzier dan Young Lex di beranda. Setelah saya tonton pada menit ke-5, video berdurasi total satu jam delapan menit ini sudah bisa saya tebak arah rantai logikanya seperti apa. Polanya sama dengan kebanyakan teori konspirasi yang kurang cukup bukti, dan tanpa diriset dengan literasi, yaitu bermula dari frasa “what if?” yang lahir dari dugaan karena kejadian, kemudian di-highlight dari hanya dari sisi eksotismenya belaka.

Kalau disampaikan dengan sebuah rangkaian argumen yang baik, mungkin tidak masalah. Tapi dari yang saya ikuti, bahasan mereka ini sangatlah berbahaya, karena tidak dipaparkan dengan sebuah narasi yang baik.

Malah saya menangkap kesan, kalau video tersebut hanyalah untuk kebutuhan entertainment. Walaupun mereka berulang kali mengungkapkan kalau hal ini hanyalah imajinasi, dan obrolan kosong semata, tapi cukup banyak orang yang sepertinya jadi sangat terpengaruhi. Hal ini bisa saya simpulkan dengan men-skimming ratusan dari ribuan komentar yang masuk, dan membuka kelengahannya. Teori dengan narasi "Corona itu tidak ada", tentu sangatlah berbahaya.

Baca juga: Sebuah Upaya Untuk Tetap Waras : Catatan Kuncitara #1

Dalam videonya tersebut, mereka mempertanyakan pula soal banyaknya pasien meninggal di masa pandemi yang rata-rata juga memiliki komplikasi penyakit lain di luar Corona, lalu divonis meninggal karena Corona. Padahal bisa saja faktor meninggalnya bukan karena Corona, tapi karena penyakit lain yang sudah lama dideritanya. Hal inilah yang mendasari pernyataan bahwa Covid-19 merupakan konspirasi elite global untuk mempertahankan kekuasaannya dengan menakuti masyarakat. Seiring dengan keberadaan kasus seperti itu, pernyataan instan mereka tentu saja tidak salah, tapi tidak juga bisa dibenarkan. Karena hal tersebut hanya diasumsikan melalui beberapa kasus saja yang mereka ketahui, yang disimpulkan dalam hitungan menit, bukan sebuah cara riset yang baik.

Beberapa akun berkomentar membenarkan kasus-kasus yang diceritakan benar terjadi, dan menimpa pada orang-orang terdekat mereka. Namun ada juga sebetulnya komentar yang menyatakan justru mengalami hal yang sebaliknya. Kalaupun ada di beberapa tempat terjadi kematian yang kemudian diperlakukan salah oleh petugas, atau orang di sekelilingnya, bukan berarti keseluruhan kasus tersebut bisa langsung disimpulkan demikian. Maka dari itulah, agar tidak menghasilkan keputusan dengan hasil lebih akurat, di dunia ini ada hal yang disebut dengan “penelitian”. Tak harus yang berprofesi sebagai ilmuwan yang bisa mengerti pentingnya riset untuk memutuskan sesuatu. Setiap individu di dunia ini sebetulnya kan melakukan banyak riset dalam hidupnya masing-masing, mulai dari barang dagangan apa yang harus dijual dalam aktivitas usaha mereka, hingga jalan yang harus ditempuh agar tidak macet untuk pergi bekerja. Mereka yang sukses menemukan jawaban dari setiap permasalahannya adalah mereka yang menganalisa hasil, dari berulang kali percobaan dengan beragam cara dan variabel tertentu.

Baca juga: Siasat Mengajarkan Ibu Soal Corona : Catatan Kuncitara #2

By the way, dua minggu lalu pun tetangga yang ada di sebelah tempat tinggal saya meninggal dunia secara mendadak dalam tidurnya. Dalam kondisi seperti ini tentu menjadi keresahan keluarga, ataupun kami, tetangganya, apakah akibat Covid-19 itu atau bukan. Hal ini pun dipertanyakan pula oleh pihak RT/RW setempat, dan pengurus tempat pemakaman di mana ia akan dikuburkan. Tapi dari pihak keluarganya kemudian bisa menyediakan surat pertanyaan tegas baik dari mereka sendiri, maupun dari dokter yang langsung melakukan pemeriksaan, bahwa ia meninggal karena komplikasi radang otak yang dideritanya. Ia pun kemudian dimakamkan dengan cara normal. Jadi, sekali lagi, tidak bisa sebuah kasus atau kesalahan penanganan pasien sakit kemudian digeneralisasikan menjadi sebuah fenomena umum.

Lalu, kenapa sih banyak orang yang mudah saja percaya dengan adanya teori konspirasi yang tak berdasar sebuah penelitian terstruktur? Kalau saya pribadi menganggap hal ini terjadi ya karena sebagian masyarakat kita ini adalah masyarakat yang iliterasi, kurang membaca, dan tidak mau melakukan pemahaman mendalam terhadap suatu hal. Mereka mencari sebuah jawaban cepat dari masalah-masalah yang dialami saat ini. Ya, karena turunnya pendapatan, stress karena pembatasan aktivitas, sampai mungkin karena duka yang sedang dialami. Alhasil mereka butuh sebuah pembenaran atau shortcut yang kemudian mereka dapatkan dari ucapan kedua orang youtuber tersebut, ataupun media lain yang membahasnya. Mereka sudah berhasil memengaruhi sisi emosi kita. Kalau sudah hati yang bermain, maka ucapan kalau “ini hanya imajinasi, dan ucapan omong kosong” pun tidak akan diingat dan didengar.

Bila teori soal "Corona ini tidak pernah ada" ternyata benar, lalu apa? Apa kemudian hanya menjadi kebanggaan semata? Seperti yang disebutkan Young Lex di akhir video. 

Reaksi saya terhadap teori konspirasi Covid-19 ini agak berbeda saat saya menyaksikan diskusi live tentang teori konspirasi antara dr. Tirta, dan Jerinx SID pada Rabu, 29 April. Karena keduanya lebih meriset apa yang diucapkannya. Dua jam diskusi tak hanya menghasilkan kesepahaman antara dua pribadi yang sebelumnya berbeda pendapat, tapi juga memberikan sebuah insight bagi para penontonnya. Keterbukaan input terhadap data yang saling mereka bagikan, menjadikan perbincangan lebih bergizi, dan yang pasti berbicara dengan empati. Bukan sekadar obrolan ngaler-ngidul penuh imajinasi, yang kemudian dapat berdampak buruk terhadap publik yang menyaksikan. Walaupun kemudian beberapa hari berikutnya, pernyataan Jerinx kembali sedikit ramai diperbincangkan karena semakin ngawur, dan tak berdasar.

Suka teori konspirasi boleh-boleh saja, asalkan jangan sampai kemudian jadi kehilangan kepekaan terhadap hal lain yang mungkin berakibat terjadi di sekitar. Dan yang paling dasar adalah lakukan literasi sebisa mungkin sebelum kemudian memutuskan sesuatu itu benar atau salah. Tidak ada jalan singkat menuju kebenaran yang akurat. Ini kan prinsipnya sama saja dengan hoax yang sering kita terima di grup-grup WA. Saat mendapat sebuah berita yang sepertinya terasa mind blowing, tonton dan bacalah sumber lain, diskusi, lakukan pencarian dari lebih banyak sudut pandang. Jangan biarkan kebenaran yang kita percaya berada di sebuah gelembung bias. Kita percaya, karena kita hanya ingin percaya bahwa itulah jawabannya. Kumpulkan data, bandingkan, pelajari, barulah putuskan. Jangan mau terjebak dengan bahaya laten budaya iliterasi yang hanya inginkan jawaban cepat.

Bicara soal Charles Darwin sebetulnya tidak harus melulu membahas teorinya yang mengatakan manusia berasal dari monyet yang menuai banyak kontroversi. Karena di sisi lain, ia mengungkapkan istilah “natural selection” yang saya rasa memang betul terjadi kok. Dalam teorinya Darwin mengatakan bahwa “bukan species terkuat yang akan bertahan hidup, bukan pula yang paling pintar, tapi dia yang paling responsif terhadap perubahan.” Teori ini kemudian dihubungkan oleh Herbert Spencer dengan teori ekonomi miliknya dan melahirkan istilah baru yang ia sebut “survival of the fittest.”



Rasa-rasanya “survival of the fittest” cukup relevan dengan kondisi pagebluk Corona seperti sekarang. Ngomong-ngomong, belakangan baru saya tahu kalau “pagebluk” itu merupakan kata dari Bahasa Jawa yang sudah resmi terdaftar di KBBI, dan dapat dijadikan padanan kata untuk “wabah”.

Tak butuh waktu lama dari hari-hari awal imbauan social distancing di Indonesia, beberapa kawan sudah sigap menghadapi potensi penghasilan yang mungkin hilang karena Corona dengan menyediakan Covid Starter Kit, yang berisikan masker, sanitizer, hingga termometer tembak. Padahal kalau saya ingat, minggu sebelumnya mereka-mereka ini masih fokus bekerja sebagai marketing cafe, sales mobil, wedding organizer, dsb. Tapi memang mereka inilah contoh manusia terbaik yang mengamalkan survival of the fittest. Mereka tahu seninya hidup di masa pagebluk.

Nah yang sudah bertahan ini, tentunya lama-lama bukan sekadar hidup, tapi juga berkembang biak, dan malah berevolusi. Dari yang tadinya cuma jual masker kain biasa, kini maskernya sudah bermotif, atau bahkan bersablon lucu atau berbentuk unik dengan tambahan kuping, dan hidung boneka. Alhasil, pemandangan anak-anak yang berlarian depan rumah dengan masker kucing, atau macan menjadi the new normal pula bagi saya. Selain itu, kini tak sulit untuk membeli barang-barang ini, cukup jalan sedikit ke jalan raya, yang jual sudah ada. Atau tinggal pilih saja salah satu dari deretan kontak status Whatsapp yang ada. Selain berjualan masker, beberapa di antaranya malah kini sudah bertindak sebagai sebagai pedagang “Palugada” (apa yang lu mau gua ada).

Baca juga: Sebuah Upaya Untuk Tetap Waras: Catatan Kuncitara #1

Mungkin sebetulnya, tak perlu jauh-jauh bicara soal orang lain, tempat saya bekerja pun kini sudah mengalokasikan sebagian supply-chain untuk memproduksi APD, dari yang sebelumnya fokus membuat perlengkapan traveling. Bukan APD biasa tentunya, tapi APD yang selain memenuhi standar WHO, juga dapat digunakan berulang-ulang, hingga dapat bertahan lebih dari 20 kali proses sterilisasi dingin. Setidaknya, APD ini dapat mengurangi dana yang keluar oleh rumah sakit untuk penggunaan APD sekali pakai. Jasa pembuatan APD ini pun kemudian dapat saya jumpai melalui berbagai iklan brand lainnya yang cukup banyak berseliweran di kanal instagram.

Di samping sektor bisnis fashion, industri food & beverage dan pariwisata yang dapat dibilang sektor yang paling terkena dampak Corona pun harus memodifikasi layanannya dengan membuat penawaran produk yang lebih kreatif, dan adaptif. Contohnya saja seperti beberapa hotel yang membuka paket menginap satu bulan dengan harga super hemat, serta deretan coffee shop yang kini menjual kopi kemasan dengan ukuran botol literan. Produk ini menangkap kebutuhan pelanggan setianya yang ingin ngopi, tapi tidak diperkenankan berkurumun, dan tidak keluar rumah. Lalu ada juga jasa kirim sayur dan buah yang kian marak.

Pada masa pagebluk ini, mungkin saya dapat dibilang cukup beruntung, karena perusahaan tempat saya bekerja tidak sampai memberlakukan unpaid leave bagi karyawannya. Adapun saya dan kawan-kawan lainnya dirumahkan untuk kemudian tetap meneruskan rutinitas dengan sistem work from home. Hal ini dapat terwujud, ya.. karena memang bentukan aktivitas kerjanya memungkinkan.

Baca juga: Siasat Mengajarkan Ibu Menghadapi Corona : Catatan Kuncitara #2

Namun, berbeda halnya dengan yang dialami adik saya yang bekerja di sebuah hotel di kawasan Jatinangor. Begitu situasi darurat Corona diumumkan Negara, tingkat okupansi pun menurun drastis hingga mendekati nol. Dua hari kemudian, ia dirumahkan hingga saat ini. Sedikit banyak, akibatnya pun sebetulnya bisa saya rasakan. Bila diibaratkan keluarga kami selama ini adalah sebuah sepeda yang berjalan dengan dua roda, kini sepedanya harus dimodif agar bisa berjalan dengan satu roda saja. Masih aman, tapi cukup bikin ketar-ketir.

Sebetulnya saya sendiri memiliki dua jalur penghasilan. Selain bekerja, saya menjalankan bisnis online yang kurang lebih sudah berjalan selama setahun ke belakang. Akan tetapi, karena barang yang saya jual bukan kebutuhan primer, maka ambyar sudah kanal penghasilan tambahan saya. Dari yang Februari lalu bisa menghasilkan minimal tiga penjualan per hari, kini bahkan tak sanggup menggapai angka tersebut menginjak pekan ke-3 April. Saya rasa hal ini pun berlaku pada kawan-kawan lain yang berjualan barang-barang kebutuhan sekunder. Kini semua potensial customer kami lebih prefer untuk spend uangnya di kebutuhan pokok, dan tentunya untuk Covid Starter Kit. Sisanya akan sangat mungkin untuk ditabungkan sebagai dana jaga-jaga.

Krisis ekonomi karena Covid yang terjadi hari ini, tentu berbeda dengan krisis moneter yang pernah dialami Indonesia sekitar dua dekade silam. Bila saat tahun tersebut ayah saya masih bisa berhasil mengakali tambahan penghasilan dengan mengajar Bahasa Inggris di beberapa tempat kursus, kini saya yang mengambil alih peran beliau di keluarga, sedikit kebingungan mencari sampingan yang tepat. Karena pembatasan aktivitas tentunya.

Segini saja sudah bingung ya? Padahal ini masih belum seberapa dengan para pekerja, dan pedagang yang memang kolam nafkahnya berada di luar rumah. Bagaikan buah simalakama yang bentuknya baru saja iseng saya googling yang ternyata mirip jambu atau terong Belanda. Bila keluar rumah berisiko terpapar Corona, sedang bila diam di rumah, mereka tidak bisa memperjuangkan isi perut keluarga. Sedangkan bantuan pemerintah pun tentu butuh proses yang tak sebentar, dan harus menghadapi beragam rintangan yang mungkin terjadi di lapangan. Bukan bermaksud suudzon, tapi ya semoga saja dalam kondisi seperti ini tidak terjadi. Ya memang  di negeri kita ini, jangankan berbentuk uang tunai atau sembako, Es Krim mevvah nan viral Viennetta saja bisa jadi objek meraup keuntungan lebih bagi segelintir orang.


Soal Viennetta, beberapa hari terakhir lini masa twitter saya sempat diramaikan oleh kabar dari food vlogger Awi Rachma yang berhasil mengungkap penimbunan es krim ‘kesenjangan sosial’ itu di beberapa mini market. Itulah kenapa sangat sulit menemukan produk tersebut di rak pajangan freezer Walls. Karena stocknya disembunyikan di bagian bawahnya. Saat ada pelanggan yang berhasil menemukannya, dalih yang disebutkan petugas shift yang bersangkutan adalah bahwa es krim ini sudah dibeli oleh pegawai. Ya memang tidak salah bila pegawai sendiri membeli produk yang dijual toko. Tapi ketika produk tersebut kemudian dijual secara online dengan harga 1,5-2 kali lipat lebih mahal, ini meninggalkan kesan yang buruk bagi brand di mata pelanggan. Bahkan pihak Walls yang tidak bersalah pun sampai membuat surat permohonan maaf untuk ini. Awalnya saya tidak begitu perduli, hingga saya melihat postingan lain dalam akun instagramnya, Awi juga berhasil membuktikan penimbunan masker dan antiseptic oleh seorang karyawan mini market. Tentu tidak semua pegawai mini market bertindak demikian, tapi cukup membuat saya berpikir soal ketiadaan produk antiseptic saat hari pertama social distancing diberlakukan. Walaupun sejujurnya, dalam skandal ini cara Awi memang agak kurang bersahabat di social media hingga memicu amarah paguyuban pegawai mini market se-Nusantara.

Karakter orang Indonesia tuh sebetulnya panjang akalnya dalam menghadapi kondisi seperti ini. Namun terkadang, sikap lebih ingat dengan perut sendiri pada sebagian orang, tanpa sadar seringkali melupakan etika, serta mematikan nurani. Inilah yang menyebabkan harga masker medis melonjak dengan harga tak masuk akal. Kalau ada yang menjual dengan harga reguler, eh..barangnya fiktif. Hal ini pun yang membuat pihak platform e-commerce kemudian menyeleksi ketat merchant-nya yang terindikasi penipuan. 

Baca juga: Bahaya Laten Iliterasi, Dan Teori Konspirasi : Catatan Kuncitara #4

Yang memiliki sisi buruk tak sedikit, namun yang masih punya hati untuk membantu sesama pun tak kalah banyak. Beberapa grup WA yang saya ikuti banyak yang bergerak secara kolektif mengordinir pengumpulan donasi untuk membantu saudara kita yang perekonomiannya kurang. Dukungan terhadap sesama pun tak melulu bersifat financial, tapi juga dapat berbentuk moril, atau sesederhana sebuah rekomendasi bisnis kawan yang satu dengan kawan lainnya.

Lama waktu kemungkinan krisis ini berlangsung tidak hanya menyakiti isi dompet, tapi juga dapat memukul kesehatan mental. Oleh karena itu, kehadiran kawan pun penting. 

Dari lapisan bawah, hingga ke atas, semuanya pun terdampak perekonomiannya. Hanya saja resistensi terhadap krisis yang berbeda, dan tentu cara untuk survival-nya pun berbeda. Namun kita selalu memiliki pilihan dalam bertahan hidup. Apakah akan menjadi sosok adaptif yang berjuang bersama kawan? Atau menjadi pribadi manipulatif yang memanfaatkan keadaan?


Entah istilahnya social distancing, ataupun physical distancing, mungkin ibu saya merupakan orang yang hingga saat ini kurang familiar dengan frasa tersebut, padahal keduanya teramat populer di masa menghadapi Corona ini.



Zaman sekarang memang semua orang dapat mengakses internet dengan mudah melalui perangkat gawai pribadinya, namun tidak demikian dengan ibu saya. Sejak terjun bekerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah sendiri satu dekade silam, saya sudah berusaha mengenalkan teknologi telepon genggam ini kepada ibu. Akan tetapi, ponsel-ponsel yang pernah saya berikan hanya teronggok di sudut lemari kaca ruang tengah. Ujung-ujungnya saya jual kembali dengan harga yang pasti sudah terjerembab jatuh dari harga belinya.

Oleh karena itulah, ibu adalah orang di rumah yang memiliki resiko paling besar (amit-amit) tertular Covid-19, karena tidak banyak terpapar rentetan informasi mengenai virus yang menyerang pernafasan tersebut. Apalagi walau sebetulnya tak banyak jalan ke mana-mana, ia cukup sering berinteraksi dengan banyak orang. Hal ini dikarenakan ibu berjualan aneka jajanan di muka rumah.

Saya cukup bersyukur dengan pemberlakuan work from home dari tempat saya bekerja. Itu artinya, saya memiliki lebih banyak waktu untuk memastikan orang tua di rumah setidaknya mengikuti protokol yang disarankan WHO lewat pemerintah.

Baca juga: Sebuah Upaya Untuk Tetap Waras : Catatan Kuncitara #1

Hadirkan Sesuatu yang Tidak Biasa
Beberapa hari jelang work from home, hal pertama yang saya lakukan adalah memesan sejumlah perlengkapan ‘tempur’ yang memadai via platform online. Karena pada awal pemberlakukan physical distancing, cukup sulit menemukan alat-alat ini di luar. Dua lusin masker kain, dan satu liter hand sanitizer pun tiba tak lama setelahnya.

Memang dianjurkan untuk menggunakan sabun dan air yang mengalir untuk mencuci tangan. Tapi saya ingin coba menghadirkan sedikit pressure kepada orang rumah, dengan menempatkan sesuatu yang tak biasa di tengah-tengah rumah. Kalau hanya dengan meletakkan sabun saja di kamar mandi, saya rasa mereka akan sering lupa untuk menggunakannya.

“Mah, mamah pami kapaksa ka pasar meningan dianter ku Irfan weh, ulah dugikeun ka naek angkot pokona mah, diantosan di luar,” begitu saya bilang ke ibu saya. Selain karena memang penggunaan alat transportasi umum sangat rentan dengan penularan, lagi-lagi saya ingin menghadirkan sebuah “tekanan” halus pada ibu dengan melakukan hal yang berbeda. Karena biasanya saya hanya mengantar pada saat diminta, itupun seringnya ibu hanya minta diantar, tidak ditunggu. Karena tau biasanya saya harus meneruskan bekerja.

Setiap terdengar suara langkahnya yang khas, yang seperti selalu tergesa-gesa saat berjalan keluar rumah membuka pintu pagar, saya selalu bergerak mengejar dan bertanya “mah, mau ke mana?” Dengan begini, malah lama-lama justru ibu akhirnya bisa menerapkan strategi stock management, agar tidak harus sering-sering ke pasar. Begitupun ketika saya tidak merasakan keberadaan adik ataupun bapak saat di rumah, selalu saya tanyakan kepada Ibu. Padahal sebelumnya, saya tidak pernah sebawel ini. Saya yakin pada akhirnya, hal tak biasa yang saya lakukan sedikit-banyak memberikan penekanan bahwa situasi yang terjadi sekarang memang seserius ini.

Baca juga: Seni Hidup Di Masa Pagebluk : Catatan Kuncitara #3

Memberikan Contoh
Lalu bagaimana soal barang-barang tempur Corona yang sudah dibeli, apakah langsung ibu saya gunakan? Tentuu sajaaa tidaaak, hahaha. Setidaknya pada awalnya. Sampai harus saya contohkan terlebih dahulu dengan sesering mungkin mengambil botol sanitizer, dan membasuh tangan dengan gerakan yang banyak dicontohkan di konten social media. Sengaja, hal itu sengaja saya lakukan lebih sering pada saat ada ibu saja. Kalau sedang tidak ada, karena sedang ke toilet atau ke warung, sengaja saya tunggu sampai beliau kembali, baru saya pakai sanitizer-nya.

Siasat memberikan contoh terbukti sangat efektif untuk mengajarkan ibu untuk menghadapi Corona, tanpa harus menggurui. Karena walau bagaimanapun, manusia itu punya habit untuk tanpa sadar mengikuti sikap dari orang yang ada di sekelilingnya. Kalau dulu waktu saya belajar dari workshop selling sih, istilahnya namanya mirroring. Ilmu lama terpakai juga kan, hehe.

Lingkungan yang Suportif
Kedua cara tadi mungkin tidak akan mudah, jikalau personil lainnya di rumah tidak melakukannya. Untungnya bapak dan adik saya cenderung mudah diedukasi karena memang kegiatannya sehari-hari masih terhubung dengan teknologi informasi dari telepon pintar.

Di samping keluarga, pemerintahan RT/RW yang menaungi Gg. Mastabir pun terbilang sangat aktif dalam menyosialiasikan terkait tindakan pencegahan dari lingkungan rumah. Mulai dari beberapa spanduk peringatan physical distancing di  beberapa titik, penyemprotan cairan disinfektan ke halaman rumah setiap seminggu sekali, serta imbauan langsung yang dilakukan door to door.


Memasuki minggu keempat pemberlakuan darurat Corona di Bandung, Alhamdulillah, sudah tak ada lagi kawanan pemuda yang nongkrong depan rumah, dan kini hampir seluruh tetangga yang melintas depan rumah, atau membeli jajanan ibu saya pun selalu mengenakan masker. Ibu pun kini memegang teguh aturan, kalau warungnya hanya buka sampai maghrib saja. Agar tidak memancing kerumunan katanya. Toh, Indomaret saja tutup lebih awal. Walaupun dampaknya, revenue penjualan usahanya ibu tentu jadi jauh menurun. Tapi, yak, memang betul-betul seluruh aktivitas ekonomi saat ini memang terdampak karena pandemi ini.

Hoax Buster
Berbeda dengan ibu, bapak cukup banyak mendapat asupan informasi mengenai Covid-19 dari whatsapp yang sebetulnya nggak banyak-banyak amat grupnya. Masih rentan terpapar hoax, tapi relatif masih mudah dibujuk. Saya terbilang agak segan untuk mengirimkan chat informasi atau apapun di grup keluarga besar. Tapi kali ini, urgensi saya untuk ikut campur sangat tinggi. Mereka orang-orang tercinta yang sangat saya khawatirkan terkena dampak dari wabah ini.

Angka positif, dan mortality rate yang tinggi dalam jangka waktu singkat, tentu sangat mencemaskan. Saya tidak ingin membayangkan salah satu dari mereka sampai terjerat virus mematikan tersebut. Walau ada yang bilang semua sudah ada yang atur. Tapi kehilangan itu tak akan pernah lewat jalan yang mudah.

Biasanya sih untuk mengatasi kesalahan informasi di grup keluarga, saya akan mencari berita pembanding yang dapat meng-counter sebuah postingan hoax. Beberapa media tergolong cukup terpercaya sebagai hoax buster. Lalu ada juga beberapa tokoh panutan para boomer, yang sering saya jadikan pendapatnya sebuah senjata ampuh. Tapi tetap, pendapatnya pun harus dicek terlebih dahulu sih. Siapa tau ternyata tidak sejalan. Saya selalu posting langsung konten/tautannya, tanpa menyertakan pendapat pribadi. Karena saya yakin mereka akan lebih dapat menghargai pendapat orang-orang ahli yang mereka hormati.

Baca juga: Bahaya Laten Iliterasi, Dan Teori Konspirasi : Catatan Kuncitara #4

Sejujurnya, angka-angka yang di­-update setiap harinya kini semakin lama sudah terasa biasa. Tak lagi menakutkan, tak lagi kemudian membuat panik, atau sampai terasa men-tackle mental. Tanpa bermaksud menganggap rendah kehilangan sebuah nyawa. Karena justru sebaliknya, seperti yang sudah kita bersama ketahui, angka ini trennya sangat terlihat masih akan terus menaikkan kurva positif, seperti kebanyakan negara-negara lainnya di dunia. Ini sudah bukan pertempuran satu malam, tapi pertempuran jangka panjang yang akan sangat melelahkan semua pihak. Makanya, hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaga dulu diri, dan orang-orang terdekat yang kita cintai. 

Kondisi mungkin akan berbeda dengan kawan-kawan yang hidup terpisah dari orang tua, dan kini tak bisa langsung bertatap muka. Tapi akan selalu ada jalan. Bisa dengan mengirimkan kebutuhan sehari-hari, hingga perlengkapan untuk melindungi diri. Tak lupa sering-sering juga menelpon untuk mengingatkan. Berikan sedikit 'tekanan', dengan melakukan banyak hal di luar kebiasaan. Ingat, masih ada sebuah kehidupan yang harus dijalankan setelah wabah ini usai.




Psikosomatik katanya, istilah untuk reaksi kecemasan karena overthinking mulai memengaruhi kondisi tubuh. Rasa-rasanya sih itu sudah terjadi pada diri saya sejak imbauan tentang social distancing mulai digaungkan. Memang kadang tiba-tiba saja tenggorokan mulai terasa gatal, yang kemudian diikuti dengan 1-2 batuk kecil yang cukup membuat orang-orang dalam radius 5 meter melirik tajam penuh curiga.


Mau bagaimanapun, ketika rutinitas hidup mulai dipaksa berubah seekstrim ini, pelan-pelan hal tersebut mulai mengganggu jalan pikiran. Kata-kata “pakai masker”, “cuci tangan sesering mungkin”, “jangan salaman”, “jangan berkumpul”, “jaga jarak minimal 2 meter”, “kalau salat bawa sajadah sendiri”, dan “jangan keluar rumah bila tidak perlu”, terus menerus terngiang di kepala. Ditambah pula dengan topik Corona non-stop yang beredar di chat group dan social media yang sungguh menambah perasaan parno. Kalau dibaca suka bikin panik, kalau tidak dibaca bikin penasaran. Menakutkan, tapi diam-diam dirindukan.

Walaupun begitu, kini saya jadi tahu alasan mengapa cukup banyak baby boomer santai-santai saja menghadapi pandemik Covid-19. Itu karena mereka tidak terpapar berita tentang ini separah saya, atau siapapun yang berada di generasi-generasi di bawahnya.

Ayah saya tahu Corona, ya dari TV, ataupun grup Whatsapp keluarga, tapi beliau tidak sampai sedikit-sedikit buka dan scroll-scroll lini masa twitter seperti yang saya lakukan. Padahal kalau dipikir-pikir, beda 10 menit saja tidak akan menambah sebuah perbedaan berita secara signifikan. Oleh karena itulah digital distancing adalah hal yang pertama mulai saya lakukan dalam beberapa hari ke belakang untuk tetap waras menjalani kehidupan.

Baca juga: Siasat Mengajarkan Ibu Menghadapi Corona : Catatan Kuncitara 2

Digital distancing
Digital Distancing memang manjur tenan, bikin hidup serasa kembali tanpa keberadaan Corona. Tiga jam melepaskan diri dari smartphone saja sudah cukup mengusir badai yang merundung isi kepala. Walaupun begitu, ada waktu-waktu khusus di mana saya harus membuka layar gawai untuk bekerja, yang sekaligus saja dimanfaatkan untuk meng-update berita soal si wabah bebedah. Bedanya dengan dulu, kini psikis saya rasanya tidak terasa sampai babak belur dihajar paranoid. Angka-angka positif dan Covid yang dari hari ke hari terus bertambah pun rasanya mulai menjadi hal lumrah, walaupun tentu bagi korban dan keluarganya, tak ada angka yang bisa menggantikan sebuah nyawa.

Dari tingginya exposure informasi soal Covid-19, saya pun mulai belajar mengambil sikap yang bisa menjernihkan kepanikan, setidaknya di dalam rumah, dan di beberapa group Whatsapp yang saya kelola.

Saya  tergolong warga Negara RI yang menganut pendapat bahwa jumlah real penderita Covid di Indonesia sudah berkali-kali lipat dari yang diumumkan Kemenkes pukul setengah empat sore setiap harinya. Hanya saja, mereka belum terdeteksi, dan mungkin beberapa di antaranya menjadi salah seorang yang sering saya lihat masih nangkring di pinggir jalanan Kota Bandung. Tanpa pengawasan. Tanpa perlindungan. Abai terhadap imbauan.

Memang betul angka penderita makin tinggi, dan sepertinya akan tetap terus naik hingga berminggu-minggu ke depan. Dan mungkin beberapa hari setelah tulisan ini dibuat, akan muncul titik merah di peta 1)Pikobar yang menunjukkan sudah ada penderita Covid dekat rumah. Tapi kalau dipikir-pikir, sebetulnya, hal utama yang perlu saya fokus lakukan adalah melindungi diri dan keluarga, dengan sebaik mungkin mengikuti saran pemerintah. Diam di rumah hingga darurat Corona ini yang ceunah diharapkan berakhir pada 29 Mei nanti, serta menjaga kebersihan, dan mengurangi interaksi fisik bila mengharuskan diri keluar dari kediaman.


Work From Home
Tentu sangat menyenangkan berada di rumah, tapi hanya jika sudah lelah bekerja, dan puas beraktivitas di luar ruang. Selebihnya, akan menjadi sangat membosankan dan penuh perjuangan. Ini kali pertama bagi saya work from home dengan tanggal akhir tanpa kepastian.

Buat saya yang senang merekam momen menarik di kota, ada banyak sekali kejadian unik yang menggoda. Namun tidak ada satu pun foto yang bisa menggantikan masa karantina ini bisa usai dengan segera. Tapi kalau memang terasa sudah sangat penat berat dan butuh kewarasan, pukul lima pagi, saya akan memacu revo fit kesayangan mengasah jalanan Kota Bandung yang sudah kering tak terjamah kemacetan. Tanpa tujuan. Tanpa turun dari kendaraan. Tanpa interaksi dengan manusia. Sekadar menghirup kesegaran udara pagi. Sekadar pengingat semangat bahwa akan ada hari di mana kehidupan lama yang hilang akan bisa kembali.

Di luar dugaan, kehidupan work from home ini terasa sangat intens dibanding apa yang ada di dalam bayangan. Mungkin karena untuk menjalani ini, saya benar-benar mengisolasi diri. Saya soalnya tipe orang yang gampang sekali terdistraksi. Bahkan diskusi kecil tetangga yang terdengar menembus dinding pun terkadang menjadi sebuah hal yang bisa menginterupsi konsentrasi.

Baca juga: Seni Hidup Di Masa Pagebluk : Catatan Kuncitara #3

Di luar bekerja untuk bisa mendapat rehat yang sejati, tentu menonton televisi atau terlalu banyak memainkan perangkat gawai dan mengotak-atik aplikasi bukan sebuah pilihan yang bisa mewaraskan diri. Berbuat sesuatu yang lain, yaa..bisa jadi opsi. Mulai dari menyelesaikan tumpukan buku yang dibeli tahun lalu yang sepertinya hampir basi, ataupun mencoba beberapa resep menu hits dunia maya yang membuat semua orang tiba-tiba saja menjadi master chef sehari. Aah..atau bisa juga dengan membuat beberapa konten visual, audio, maupun tulisan seperti ini. Karena buat saya, jujur saja, it helps! Sangat membantu menguraikan pikiran-pikiran yang membelit di benak.

Buat saya, melakukan sesuatu hal yang berbeda walaupun sedikit, itu bisa menjaga kesehatan mental. Entah sih dengan kawan-kawan lain. Karena kalau harus non-stop ngajentul film seri marathon di depan laptop, rasanya saya tak sanggup. Justru makin memicu ketidakwarasan. Yaa..kalau sehari melahap satu judul film mah masih cukup.

Di samping semua hal itu, tentunya saya jadi lebih banyak bicara dengan keluarga. Sebagai orang yang sudah terlalu cukup banyak tahu tentang bahaya Covid-19, saya menjadi orang yang kini jauh lebih bawel dibanding sebelumnya kepada anggota keluarga di rumah. Bahkan saya yang tergolong irit bicara di grup Whatsapp keluarga, kini menjadi semacam HOAX buster yang mau repot pelan-pelan meluruskan seliweran info yang datang tidak meyakinkan.

Baca juga: Bahaya Laten Iliterasi, Dan Teori Konspirasi : Catatan Kuncitara #4

Aah.. mungkin akan saya ceritakan selengkapnya nanti saja pekan depan di edisi Catatan Kuncitara berikutnya. Semoga seri catatan ini tidak sampai panjang-panjang. Karena berarti, pandemi dapat lebih cepat berakhir.

By the way, kata “kuncitara” ini saya ambil dari padanan kata dalam Bahasa Indonesia untuk lockdown, yang banyak digunakan di beberapa media. Walaupun kota tempat saya tinggal belum atau tidak menerapkan lockdown, tapi rasanya pilihan kata ”kuncitara” menarik untuk digunakan.

Stay safe, stay sane.
1)Aplikasi seputar info Covid-19 di Jawa Barat